Pemisahan Diri Luther dari Roma

Buku Kemenangan Akhir
Oleh: Ellen G. White

Lanjutan …..

Meskipun Luther telah digerakkan oleh Roh Allah untuk memulai pekerjaannya, ia tidak mengerjakannya tanpa pertentangan hebat. Celaan celaan musuh musuhnya, penyelewengan tujuan tujuannya, dan pencerminan ketidak adilan dan bahaya atas tabiat dan motifnya, dilancarkan kepadanya seperti banjir yang sedang melanda, dan semuanya bukan tanpa pengaruh. Ia merasa percaya diri bahwa para pemimpin orang orang baik dalam gereja maupun di sekolah sekolah akan dengan senang bersatu dengan dia dalam usaha usaha pembaharuan. Kata kata dorongan dari mereka yang berada pada kedudukan yang tinggi, telah mengilhaminya dengan sukacita dan pengharapan. Ia telah mengantisipasi bahwa hari yang lebih cerah akan terbit di dalam gereja. Tetapi kata kata dorongan telah berubah menjadi celaan dan kutukan. Banyak pejabat pejabat tinggi, baik gereja maupun negara telah diyakinkan oleh kebenaran tesisnya itu; tetapi mereka segera melihat bahwa penerimaan kebenaran ini akan melibatkan perubahan besar. Memberi penerangan kepada rakyat dan mengadakan pembaharuan pada orang orang jelas jelas merendahkan kekuasaan Roma, menghentikan arus kekayaan mengalir ke perbendaharaan Roma, dan dengan demikian mengurangi perbuatan melampaui batas, dan kemewahan para pemimpin kepausan. Lebih jauh, mengajar orang berpikir dan bertindak sebagai makhluk yang bertanggungjawab, memandang kepada Kristus satu satunya jalan keselamatan, akan meruntuhkan tahta paus, yang akhirnya menghancurkan kekuasaannya. Atas alasan alasan ini mereka menolak pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka oleh Allah, dan mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dan kebenaran oleh perlawanan terhadap orang yang telah dikirimnya menerangi mereka.
Luther gemetar pada waktu dia memandang dirinya seorang melawan orang yang paling berkuasa di dunia. Kadang kadang ia ragu ragu apakah ia benar benar dipimpin oleh Allah untuk melawan otoritas gereja. “Siapakah aku,” ia menulis, “menentang keagungan paus, yang dihadapannya . . . raja raja dunia ini dan seluruh dunia gemetar? . . . Tak seorangpun yang tahu betapa hatiku menderita selama dua tahun pertama ini, dan kedalam kemurungan dan keputusasaan aku tenggelam.” Idem, b. 3, ch. 6. Tetapi ia tidak dibiarkan tawar hati. Bilamana dukungan manusia gagal, ia hanya melihat kepada Allah saja, dan mengetahui bahwa ia dapat bersandar dengan aman di atas tangan Yang Mahakuasa itu.
Luther menulis kepada seorang sahabat Pembaharuan, “Kita tidak dapat mengerti Alkitab itu baik oleh mempelajarinya atau oleh kepintaran. Tugas pertamamu ialah memulai dengan berdoa. Mintalah agar Tuhan memberikan kepadamu, oleh kemurahannya yang besar, pengertian yang benar tentang firman Nya. Tidak ada penafsir firman Allah yang lain selain Pengarang firman itu sendiri, sebagaimana Ia sendiri katakan, ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Janganlah mengharapkan sesuatu dari usahamu sendiri, dari pengertianmu sendiri. Percayalah kepada Tuhan saja dan kepada pengaruh Roh Nya. Percayalah kepada perkataan ini dari seorang yang sudah berpengalaman.” Idem, b. 3, ch. 7. Inilah satu pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang merasa dipanggil oleh Allah untuk menyajikan satu satunya kebenaran itu kepada orang lain pada masa ini. Kebenaran itu akan membangkitkan rasa permusuhan Setan dan orang orang yang menyukai cerita cerita dongeng yang telah dirancangnya. Dalam pertentangan dengan kuasa kejahatan, ada suatu keperluan yang lebih penting dari pada sekedar kekuatan intelek dan akal budi manusia.
Bilamana musuh menarik perhatian kepada adat dan tradisi, atau tuntutan dan kekuasaan paus, Luther menghadapinya dengan Alkitab, dan satu satunya Alkitab. Inilah argumentasi yang tidak dapat dijawab oleh mereka. Oleh sebab itu budak budak formalisme dan ketakhyulan berteriak menuntut darahnya, sama seperti orang orang Yahudi berteriak menuntut darah Kristus. “Dia seorang bida’ah,” teriak orang orang fanatik Roma itu. “Adalah suatu pengkhianatanbesar terhadap gereja membiarkan seorang bida’ah hidup lebih dari sejam. Dirikanlah segera tiang gantungan baginya!” Idem, b. 3, ch. 9. Akan tetapi Luther tidak jatuh menjadi mangsa keganasan mereka. Allah mempunyai pekerjaan yang akan dikerjakannya, dan malaikat malaikat Allah telah dikirimkan untuk melindunginya. Namun begitu, banyak orang yang telah menerima terang yang berharga itu dari Luther, telah menjadi sasaran murka Setan, dan demi kebenaran tanpa takut menderita siksaan dan kematian.
Pengajaran Luther menarik perhatian orang orang cerdik pandai diseluruh Jerman. Dari khotbah khotbahnya keluarlah sinar sinar terang yang membangunkan dan menerangi beribu ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme mati yang telah lama dianut gereja. Setiap hari orang orang mulai tidak percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang. Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther, bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang orang. Dimana mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian. Dimana mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya selama berabad abad. Mata orang orang yang begitu lama ditujukan kepada upacara upacara manusia dan pengantara duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus yang disalibkan itu.
Perhatian orang orang yang semakin meluas ini menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther dipanggil menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida’ah. Perintah itu membuat teman temannya sangat merasa takut. Mereka mengerti benar bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.
Permohonan itu akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu. Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa Luther telah dinyatakan sebagai bida’ah. Oleh sebab itu utusan itu ditugaskan untuk “menuntut dan menahan Luther dengan segera.” Jikalau ia tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu diberi kuasa untuk “mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang berhubungan dengan dia.” Idem, b. 4, ch. 2. Lebih jauh paus memberi petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai keakar akarnya bala sampar bida’ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat negara kecuali kaisar, yang melalaikan penangkapan Luther dan pengikut pengikutnya, dan menyerahkannya kepada pembalasan Roma.
Disinilah diperagakan roh kepausan yang sebenarnya. Sedikitpun tak terdapat prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida’ah, dan pada hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini dilakukan oleh bapa kudus, satu satunya penguasa tertinggi dan mutlak di dalam gereja maupun negara.
Pada waktu ini, pada saat Luther begitu membuthkan simpati dan nasihat dari sahabat sahabat sejatinya, pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan pengetahuannya dan kemahirannya berbicara digabung dengan kesucian dan ketulusan tabiatnya, Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya sama menonjolnya dengan kelemah lembutan watak dan tabiatnya. Tidak lama kemudian ia menjadi murid Injil yang sungguh sungguh dan sahabat Luther yang paling terpercaya. Kelemah lembutannya, keberhati hatiannya dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.
Telah ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang Pembaharu berjalan kaki ke kota itu. Ketakutan yang serius memenuhi orang orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya. Inilah ucapannya, “Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka, semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . . Mereka telah menghancurkan kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal, ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat.” Idem, b. 4, ch. 4.

Leave a Reply