Malapetaka dan penderitaan luar biasa akan menimpa mereka yang menerima tanda binatang

bk-bdw

By Joe Crews

I. SI BINATANG DAN LATAR BELAKANGNYA – Sebuah Peringatan Menakutkan
Peringatan penghakiman paling menakutkan tidak ditemukan dimanapun dalam Alkitab selain dalam Wahyu 14:9,10: “Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Tuhan, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.”

Gambaran ini begitu menarik perhatian dan tidak seperti semua ayat lain yang berhubungan dengan karakter Tuhan sehingga kita hampir berkecut hati dalam ketakutan. Tetapi ini menunjukkan dengan jelas pada sebuah masa di mana pengampunan Tuhan akan ditarik dari mereka yang berkeras hati menolak otoritas Surga. Ini akan menjadi sebuah tindakan yang tidak terbayangkan dari pihak Tuhan menyangkut hubungan-Nya dengan keluarga manusia. Selama hampir 6.000 tahun, penghakiman-Nya pada orang jahat bercampur dengan pengampunan. Tetapi sekarang ukuran pemberontakan telah mencapai sebuah titik yang membuatnya menjadi penting bagi Tuhan untuk turut campur tangan dan untuk memaparkan hasil mengerikan dari pemberontakan manusia terhadap pemerintahan Tuhan.

Di sini kita ingin tahu lebih mengenai dosa yang membawa tindakan ganjil Tuhan akan penghakiman maut ini. Perhatikan bahwa masalah akhirnya menyangkut kesetiaan yang palsu kepada kuasa si binatang yang seringkali disebutkan dalam nubuatan Alkitab. Pada akhirnya dunia terbagi menjadi dua poros besar, mereka yang menyembah Tuhan yang benar, dan mereka yang menyembah si binatang di Wahyu 13. Tetapi apakah masalah yang membawa kepada perpecahan besar orang-orang dunia ini? Setelah menggambarkan nasib dari para penyembah yang palsu dalam Wahyu 14:9-11, Yohanes menyatakan hal ini tepat di ayat selanjutnya: “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Tuhan dan iman kepada Yesus.” Kita melihat di sini perbedaan mencolok antara mereka yang mengikuti si binatang dan mereka yang mengikuti Anak Domba.

Tolong perhatikan masalahnya adalah seputar penurutan kepada perintah Tuhan. Mereka yang tidak mendapat tanda binatang digambarkan menurut pada perintah-perintah tersebut, dan sisanya mendapat murka Tuhan. Ini selaras sempurna dengan pernyataan Paulus dalam Roma 6:16, “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?”

Kesetiaan paling besar digambarkan dalam tindakan penurutan. Pada akhirnya mayoritas penghuni bumi akan menerima otoritas kuasa palsu anti-Kristus, dalam ketidaktaatan kepada hukum sepuluh perintah Tuhan. Setiap individu akan diharuskan memilih berada di pihak yang satu atau yang lain. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hidup dan mati ada di seputar keputusan akhir mengenai binatang di Wahyu 13.

Cukup anehnya, para ahli teologia modern mengabaikan pekabaran peringatan dari Wahyu 14, yang berhubungan dengan tanda binatang. Ketertarikan orang banyak dihancurkan oleh pengaruh para pendeta yang tidak memandang serius Firman kudus dari nubuatan Yohanes. Seringkali ini disimpulkan sebagai sebuah surat yang membingungkan, tidak penting, teraplikasi hanya pada sebuah masalah lokal pada jemaat mula-mula. Untuk beberapa alasan kitab Wahyu dianggap sebagai buku yang terkunci, daripada menyatakan kebenaran sebagaimana nama itu diberikan. Tetapi tolong catat janji yang diberikan bagi mereka yang menyelidiki kebenaran dari kitab yang luar biasa ini, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” (Wahyu 1:3).

Dua Kuasa yang Bertentangan
Meskipun puncak dari pertentangan besar ini terjadi di akhir sejarah manusia saat seluruh dunia terbagi dalam dua pihak bersebrangan, pertentangan antara Kristus dengan Setan telah terjadi hampir 6.000 tahun. Itu bermula di Surga dengan pemberontakan Lucifer terhadap pemerintahan Tuhan atas alam semesta. Kisah mengenai malaikat penuh pesona yang menginginkan posisi Tuhan dinyatakan lewat beberapa tulisan nubuatan Perjanjian Lama. Yesaya berkata sebagai referensi bagi makhluk mulia ini: “”Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Tuhan, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yesaya 14:12-14).

Benih dari pemberontakan egois dari seorang malaikat pemimpin tersebut tersebar begitu cepat mempengaruhi kesetiaan malaikat lainnya. Segera sepertiga penghuni Surga bergabung dalam pemberontakan Lucifer, dan pertentangan besar itu terjadi – sebuah pertentangan yang harus berlangsung selama 6.000 tahun, dan yang pada akhirnya akan meminta pengambilan keputusan dari setiap makhluk di surga dan di bumi.

Akibat langsung dari pertentangan itu adalah peperangan di Surga yang berujung pada pengusiran Lucifer dari hadirat Tuhan dan malaikat-malaikat yang setia. Yohanes menggambarkannya demikian: “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya” (Wahyu 12:7-9).

Tidak lagi malaikat yang terjatuh itu dikenal sebagai Lucifer yang artinya “bintang fajar,” tetapi Setan yang artinya “musuh.” Konflik tersebut sekarang berpindah dari Surga ke bumi ini. Di sinilah itu akan berlanjut sampai mencapai puncak dalam perpecahan penghuni bumi antara untuk menurut atau menentang perintah Tuhan. Seperti halnya pemberontakan dimulai dari ketidaksetiaan pada otoritas Tuhan, jadi itu juga akan berakhir oleh penyangkalan otoritas-Nya seperti dinyatakan dalam hukum pemerintahan-Nya.

Setan sudah berada di sini dengan para malaikat jahatnya semenjak dia diusir dari tempat terang tersebut. Dengan kelicikannya, dia telah bereksperimen dengan sarana yang dapat memenangkan dia melawan Tuhan dan rancangan-Nya bagi dunia. Lewat berbagai pendekatan licik, dia terus melanjutkan usahanya untuk menggulingkan otoritas Tuhan. Tujuan dari booklet ini adalah untuk memaparkan serangan besar-besaran yang telah dibuat oleh setan terhadap fondasi kebenaran.

Setiap generasi telah menyaksikan sebuah manifestasi baru kuasa kejahatan tersebut dalam pertentangannya yang tidak kenal lelah terhadap program Surga untuk menyelamatkan dunia. Bentuk final dari oposisi musuh adalah binatang di Wahyu 13. Kuasa palsu tersebut akan didirikan dalam konflik mematikan dengan perintah Tuhan. Seluruh dunia akan dipanggil untuk memilih pihak di mana mereka akan berdiri. Konfederasi jahat itu akan berkonsolidasi untuk lubang terakhirnya guna meminta kesetiaan para penghuni bumi. Masalahnya akan dengan jelas dinyatakan, dan tidak seorangpun dapat tetap netral. Penurutan pada Tuhan atau Setan, seperti dimanifestasikan oleh kuasa si binatang, akan menjadi dua pilihan yang terbuka bagi manusia.

Sebuah Masalah Hidup atau Mati
Sekarang dengan sedikit latar belakang pihak yang bersebrangan, mari kita melihat lebih dekat pada latar belakang Alkitabiah untuk perhelatan terakhir dalam pertikaian besar. Tolong dicatat bahwa binatang di Wahyu 13 melambangkan sebuah kuasa raksasa anti-Kristus yang mencoba menggantikan Tuhan sepenuhnya. Inilah gambaran dari kuasa itu dari bahasa dalam Wahyu 13:1-7: “Dan aku tinggal berdiri di pantai laut. (12:18) Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat. Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu. Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?” Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Tuhan, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga. Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.”

Kita tidak mungkin melewatkan pertentangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Tuhan dan para pengikut-Nya. Berikutnya pada pasal yang sama, kita baca bahwa kuasa binatang ini akan menjalankan pengaruhnya yang besar di bumi, sehingga dia akan menyebabkan manusia untuk menerima sebuah tanda pada dahi atau tangannya (Wahyu 13:16). Akhirnya mereka yang menerima tanda tersebut akan tertimpa murka mengerikan Tuhan sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 14:9,10. Murka Tuhan itu lebih lanjut dijabarkan dalam Wahyu 15:1 dalam perkataan ini, “Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka terakhir, karena dengan itu berakhirlah murka Tuhan.”

Hasil mengerikan dari malapetaka itu dan penderitaan luar biasa yang akan menimpa mereka yang menerima tanda binatang sepenuhnya dinyatakan dalam Wahyu pasal enam belas. Kita tidak akan membahas poin ini secara detil, tetapi mari kita mengingatkan diri sendiri sekali lagi bahwa masalah ini akan menyangkut hidup kekal atau kematian bagi semua orang. Betapa seriusnya kita seharusnya mencoba untuk memahami siapa yang dilambangkan dengan si binatang tersebut dan bagaimana kita dapat menghindari tanda itu! Tidak boleh ada hanya asal tebak ataupun spekulasi dalam subjek penting ini. Kita harus tahu pasti di mana letak bahayanya dan bagaimana untuk menghindarinya.

Rata-rata orang Kristen jarang mendengar mengenai kepentingan subjek ini. Ia tidak mengerti sedikitpun mengenai si binatang ataupun tandanya, meskipun nasibnya tergantung pada masalah ini. Banyak pengkhotbah mencoba membuat nyaman orang-orang dengan mengabaikan poin ini. Mereka berkata, “jangan kuatir masalah si binatang. Itu terlalu rumit untuk dipahami.” Dengarlah, akankah Tuhan memperingatkan kita mengenai bahaya mengerikan dari binatang ini – sebuah bahaya yang begitu mengerikan sehingga itu artinya hidup atau mati – lalu beritahukan pada kami bahwa mustahil untuk mengerti apa itu? Akankah Dia berkata kepada kita, “Kamu akan dicampakkan ke api apabila menerima tanda itu, tetapi Aku tidak akan memberitahu kamu apa itu – betapa tidak beruntungnya kamu apabila kamu menerimanya”? Tidak, Tuhan tidaklah demikian. Dia memperingatkan kita akan sebuah bahaya yang dapat dihindari. Kita dapat tahu bahwa kita aman dari si binatanga hanya jika kita tahu siapa si binatang itu. Kita hanya dapat tahu bahwa kita bebas dari tanda itu jika kita tahu apa tandanya.

Sebuah Binatang Perlambangan
Apakah mungkin untuk mengerti tanda binatang? Tanpa gagal, kita dapat tahu dan perlu untuk tahu. Tetapi pertama-tama kita perlu memahami identitas binatang yang dinubuatkan tersebut. Mari kita bangun bahwa binatang aneh gabungan ini tidak seharusnya dianggap literal. Tidak pernah ada orang pernah melihat seekor makhluk dengan tubuh seperti macan tutul, mulut seperti singa, dan kaki seperti beruang. Kitab nubuatan Alkitab biasanya berhubungan dengan model dan lambang-lambang. Binatang ini melambangkan sesuatu. Tetapi lambang apa itu? Tidak boleh hanya asal tebak di sini. Alkitab tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. Itu berfungsi sebagai komentar Ilahi sendiri dan menyediakan kunci untuk memahami nubuatan-nubuatan.

Yang Alkitab katakan mengenai si binatang ini adalah simbolik. Perhatikan airnya dari mana binatang ini muncul misalnya. Apa artinya itu? Baca dalam Wahyu 17:15, “Semua air yang telah kaulihat,… adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.” Tidak mungkin ada perbantahan mengenai hal ini. Tuhan dengan jelas menyatakan arti air secara nubuatan. Sekali simbol itu ditafsirkan dalam nubuatan apapun, peraturannya akan teraplikasi juga dalam nubuatan lainnya. Air selalu melambangkan orang dalam gambaran nubuatan Alkitabiah.

Sekarang bagaimana dengan bagian aneh lainnya dari binatang kiamat ini? Melambangkan apa ini? Agar dapat mengerti si binatang, kita harus kembali ke kitab Daniel dalam Perjanjian Lama dan membandingkan Firman dengan Firman. Kitab Daniel dan Wahyu saling menjelaskan satu sama lain. Mereka sesuai seperti halnya tangan dan sarung tangannya. Perhatikanlah bahwa Daniel mendapat sebuah penglihatan yang sangat mirip dengan Yohanes. Digambarkan dalam Daniel 7:2,3: “Berkatalah Daniel, demikian: “Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar, dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.” Dia melihat air nubuatan itu seperti halnya Yohanes, tetapi Daniel melihat empat binatang muncul, tidak hanya satu.

Kita telah melihat bahwa air melambangkan orang banyak atau kerumunan, tetapi lambang dari apa binatang itu? Jawabannya ditemukan dalam ayat 17, “Binatang-binatang besar yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi;” Itu dia. Begitu jelasnya sehingga tidak seorangpun dapat mempertanyakan atau meragukannya! Tuhan berkata bahwa binatang dalam nubuatan melambangkan bangsa-bangsa. Seperti halnya kita ada elang Amerika dan beruang Rusia dalam kosakata politik modern kita, Tuhan telah menggunakan binatang dahulu kala untuk melambangkan negara-negara juga. Lalu agar lebih jelas, Tuhan menambahkan ini dalam ayat 23, “Binatang yang keempat itu ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi.” Kalau binatang keempat melambangkan kerajaan keempat dalam sejarah, maka tiga yang pertama pastilah melambangkan tiga kerajaan pertama.

Penjelasan ini menjadi lebih sederhana dan jelas bahwa hanya ada empat kerajaan dunia di bumi sejak zaman Daniel. Kerajaan ini sering dibahas dalam nubuatan Alkitab dan disebut-sebut namanya oleh beberapa orang yang membicarakan nubuatan Daniel. Merujuk pada Daniel 8:20,21 dan Daniel 11:2 misalnya. Dalam pasal kedua kitab Daniel, empat kerajaan yang sama dilambangkan dengan empat logam dalam patung besar Nebukadnezar. Empat kerajaan itu adalah Babel, Media-Persia, Yunani dan Romawi.

Empat Kerajaan dalam Sejarah.
Maukah Anda perhatikan lebih lagi binatang-binatang ini satu demi satu, seiring mereka muncul dalam penglihatan sang nabi? Yang pertama “rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali.” Daniel 7:4. Di sini kita punya gambaran kerajaan besar Babel (Yeremia 4:7), digambarkan dengan baik sebagai raja binatang. Salah satu yang bangsa yang terkaya dan terkuat yang pernah ada. Perhatikan binatang ini memiliki sayap. Sayap dipakai dalam terminologi nubuatan untuk melambangkan kecepatan (Yeremia 4:13). Dan sudah tentu Babel muncul sangat cepat untuk mencapai posisi sebagai pemimpin seluruh dunia.

Dari tahun 606 SM sampai 538 SM Babel memerintah. Tetapi sebuah perubahan terjadi. Daniel melihat binatang yang kedua, “rupanya seperti beruang; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya” (Daniel 7:5). Setelah Babel muncul Media Persia tahun 538 SM, kerajaan dunia yang kedua.

Beruang ini timpang satu sisi untuk melambangkan bahwa Persia lebih kuat dari Media. Dua kuasa ini bersekutu dalam mendominasi dunia. Tiga rusuk itu melambangkan tiga provinsi dari kerajaan itu – Babel, Lidia dan Mesir.

Lalu pada tahun 331 SM Media Persia ditaklukkan, dan kerajaan dunia yang ketiga muncul. Menurut nubuatan, “kepadanya diberikan kekuasaan” ayat 6. Itu “rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat” ayat 6. Anak sekolah manapun yang mempelajari pelajaran sejarahnya dengan baik akan tahu bahwa Yunani muncul sebagai pemimpin dunia berikutnya. Alexander Agung datang menyerang dari Barat menaklukkan dunia di bawah kakinya dengan sangat cepat. Empat sayap macan tutul tersebut menyatakan kecepatan luar biasa Alexander dalam menaklukkan bangsa-bangsa. Dalam delapan tahun, dia telah menguasai seluruh dunia dan duduk merenung karena tidak ada lagi dunia untuk ditaklukkan. Tetapi dia tidak dapat menaklukkan dirinya sendiri, dia mati muda usia tiga puluh tiga tahun dalam puncak kekuasaannya. Saat kematiannya kerajaannya terbagi di antara empat jendral pemimpinnya: Cassander, Lysimachus, Seleucus, dan Ptolemy. Empat kepala binatang itu melambangkan empat pecahan kerajaannya. Ini membawa kita ke tahun 168 SM dan keruntuhan kerajaan Yunani pada tahun itu. Sejauh ini setiap detil nubuatan telah tergenapi dengan tepat.

Binatang Keempat yang Mengerikan
Sekarang mari kita perhatikan munculnya binatang keempat, yang mana adalah “kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi” (ayat 23). Meskipun Daniel telah melihat binatang liar lainnya seperti yang digambarkan dalam tiga simbol nubuatan yang pertama, dia tidak pernah melihat apapun seperti binatang keempat yang mengerikan. Beginilah cara Alkitab menggambarkannya: “Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya;… lagipula ia bertanduk sepuluh” ayat 7.

Seperti yang telah kita pelajari, ini melambangkan kerajaan dunia yang keempat, yang mana adalah kerajaan besi Romawi. Kekuasaan kejamnya yang mendominasi bumi tercatat dalam halaman sejarah kuno, tetapi bangsa kuat ini juga akan terpecah, seperti diindikasikan ayat 24, “Kesepuluh tanduk itu ialah kesepuluh raja yang muncul dari kerajaan itu.” Tolong perhatikan inilah interpretasi Tuhan mengenai sepuluh tanduk dari hewan ini. Romawi akan terbagi menjadi sepuluh bagian.

Dengan menjejaki sejarah kita menemukan penggenapan tepatnya terjadi pada tahun 476 M. Suku barbar datang dari daerah Utara, dan membanjiri Eropa Barat, memecahnya menjadi sepuluh bagian. Bagian itu tentunya juga berhubungan dengan sepuluh jari kaki dari patung besar dalam Daniel 2.

Semua pelajar sejarah sangat akrab dengan nama-nama suku penakluk Eropa Barat pada tahun 476 Masehi. Mereka adalah Anglo-Saxons, Alemanni, Heruli, Vandals, Osthrogoths, Visigoths, Suevi, Lombards, Burgundians dan Franks. Tujuh dari suku itu masih ada sampai saat ini, berkembang menjadi negara-negara modern. Mereka masih ada di peta Eropa sebagai kuasa penting pada abad ke-20. Tiga dari mereka lenyap dari sejarah, seperti kita akan pelajari sesaat lagi.

Si Tanduk Kecil
Sekarang kita bersiap membaca ayat berikutnya dari nubuatan, dan mencari tahu arti si tanduk kecil dalam penglihatan Daniel. “Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong” ayat 8. Di sini kita harus sangat cermat. Kita tidak boleh membuat kesalahan mengidentifikasi kuasa si tanduk kecil, karena itu akan menjadi kuasa besar anti-Kristus dalam sejarah.

Untuk menghindari semua kesalahan identitas, akan lebih baik pertama-tama untuk memperhatikan sembilan karakteristik digambarkan dalam nubuatan itu sendiri. Ciri-ciri identitas ini akan memampukan kita untuk secara mutlak yakin akan penafsirannya. Kita tidak berani asal menebak atau berspekulasi mengenai identitas historis dari “si tanduk kecil” nubuatan ini.

Pertama si tanduk kecil muncul di antara sepuluh tanduk. Ini menempatkannya secara geografis di dataran Eropa Barat. Kedua, itu muncul setelah sepuluh tanduk ada, karena dia muncul “di antaranya” (ayat 8). Karena sepuluh tanduk itu muncul tahun 476 Masehi, si tanduk kecil harusnya mulai pemerintahannya setelah waktu itu. Yang ketiga, dia akan menyingkirkan tiga dari sepuluh suku seiring dia muncul. Ayat ke delapan menyatakan bahwa sebelum si tanduk kecil muncul ia menyebabkan “sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut.”

Keempat, si tanduk kecil itu akan punya “mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong” ayat 8. Ini menandakan bahwa seorang manusia akan menjadi pemimpin kuasa yang dilambangkan dengan si tanduk kecil. Yang kelima “dia berbeda dengan raja-raja (tanduk) yang dahulu” ayat 24. Ini artinya si tanduk kecil akan menjadi jenis kuasa yang berbeda dari kuasa politik murni kerajaan-kerajaan yang sebelumnya. Karakteristik yang keenam diungkapkan dalam bagian pertama ayat keduapuluh lima. “Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi.” Ayat yang lain berkata, “diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat” (Wahyu 13:5).

Dari poin ini mari kita lihat definisi hujat dalam Alkitab. Dalam Yohanes 10:30-33, Yesus hendak dirajam karena menyatakan Ia satu dengan Bapa. Orang-orang Yahudi yang hendak membunuh-Nya berkata, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Tuhan dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Tuhan.” Menurut ayat ini adalah sebuah hujat bagi seorang manusia untuk menyamakan diri dengan Tuhan.

Sekarang mari kita lihat definisi lain dari penghujatan. Yesus telah mengampuni dosa seseorang, dan ahli taurat berkata, “”Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Tuhan. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Tuhan sendiri?” (Markus 2:7). Jelas Yesus bukan seorang penghujat, karena Ia adalah Tuhan dan Dia mampu memberikan pengampunan. Tetapi bagi seorang manusia untuk menyatakan bahwa ia mempunyai hak tersebut itu akan menjadi sebuah penghujatan, menurut definisi Alkitab sendiri.

Sekarang kita sampai pada poin identitas yang ketujuh, yang juga ditemukan dalam ayat duapuluh lima, “dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.” Ini mengatakan pada kita bahwa si tanduk kecil adalah kuasa penganiaya. Ini akan memerangi umat Tuhan dan membunuhi mereka. Tanda yang kedelapan juga dinyatakan dalam ayat duapuluh lima, “ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum.” Tampaknya dalam permusuhan sengitnya dengan Tuhan di Surga, dengan menghujat Dia, kuasa ini juga mencoba merubah hukum sempurna Tuhan. Pergerakan si tanduk kecil ini hanya menjadi sebuah usaha. Tentunya manusia tidak akan pernah dapat merubah hukum moral Tuhan.

Memerintah Selama 1.260 Tahun
Yang kesembilan dan tanda identifikasi yang terakhir, dalam ayat dua puluh lima, mengatakan pada kita dengan tepat berapa lama tanduk kecil ini akan menjalankan kuasanya di bumi, “dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.” Di sini kita berhadapan dengan ekspresi yang aneh. Ini sebetulnya sebuah frase nubuatan yang dijelaskan oleh Alkitab sendiri. Dalam Wahyu 12:14, kita membaca perkataan menyangkut periode waktu yang sama, “Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.”

Sekarang mari kita baca ayat enamnya, yang menggambarkan peristiwa yang sama. Alih-alih berkata “ satu masa, dua masa dan setengah masa,” dikatakan di sana, “seribu dua ratus enam puluh hari.” Demikian kita dapat melihat bahwa dua periode waktu tersebut adalah jelas sama. Dengan membandingkan ayat Firman, bahwa satu masa adalah satu tahun dalam nubuatan Alkitab, dua masa adalah dua tahun, dan setengah masa adalah setengah tahun. Ini memberikan pada kita secara total 3 ½ masa, atau 3 ½ tahun yang secara tepat sama dengan 1.260 hari. Kita tentunya menggunakan tahun Alkitab selama 360 hari.

Kita sekarang siap untuk mengaplikasikan prinsip besar lainnya dalam interpretasi nubuatan. Mohon perhatikan bahwa untuk mengaplikasikan nubuatan waktu, Tuhan menggunakan satu hari untuk melambangkan satu tahun. Dalam Yehezkiel 4:6 kita melihat aturan ini, “Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun.” Dukungan lain untuk ini ditemukan dalam Bilangan 14:34. Cara perhitungan waktu ini harus selalu diaplikasikan dalam pembelajaran nubuatan Alkitab. Ini artinya bahwa kuasa si tanduk kecil akan memerintah selama 1.260 tahun, bukan literal 1.260 hari.

Sebuah Penggenapan yang Tepat
Kita punya di hadapan kita daftar sembilan karakteristik, yang diambil dari Daniel pasal tujuh saat menggambarkan kuasa si tanduk kecil. Hanya ada satu kuasa dalam sejarah yang menggenapi semua gambaran yang dijabarkan di sini. Dengan kata lain, Tuhan menutup setiap pilihan lainnya, dan memaksa kita pada satu-satunya kesimpulan yang mungkin: gereja Katolik saja yang menggenapi semua poin identitas yang diberikan dalam Daniel 7.

Mari kita lihat secara singkat dan perhatikan bagaimana dengan jelas ini digambarkan. Pertama-tama, kepausan memang muncul di dataran Eropa Barat, di pusat daerah kerajaan Romawi pagan – di kota Roma sendiri. Yang kedua, itu muncul setelah tahun 476 Masehi. Itu muncul pada tahun 538 Masehi bahwa sebuah titah dari kaisar Justinian berlaku yang memberikan kuasa mutlak bagi gereja Roma. Ini adalah fakta sejarah yang dapat diverifikasi oleh sumber otoritas sejarah manapun.

Yang ketiga, saat kepausan muncul itu ditentang oleh tiga suku yang muncul setelah keruntuhan kekaisaran Romawi. Vandal, Ostrogoth dan Heruli adalah kuasa Arian yang secara lantang menentang munculnya gereja Katolik. Pasukan Romawi masuk untuk mencabut dan secara sepenuhnya menghancurkan ketiga suku tersebut. Suku ketiga yang terakhir hancur tepat tahun 538 Masehi, di mana titah Justinian berlaku.

Keempat, gereja Katolik memang mempunyai seorang manusia sebagai pemimpin sistem tersebut. Yang kelima, kepausan memang sebuah kuasa yang berbeda dari kerajaan politik sebelumnya. Itu adalah sebuah sistem politik-agama tidak seperti apapun yang pernah ada sebelumnya di dunia.

Sekarang mari kita lihat karakteristik keenam – mengucapkan perkataan menentang dan menghujat Yang Maha Tinggi. Apakah kepausan memenuhi gambaran ini? Kita hanya perlu diingatkan bahwa gereja Katolik telah memberi atribut bagi dirinya sendiri kuasa untuk mengampuni dosa. Untuk perkataan yang menentang Yang Maha Tinggi, izinkan saya mengutip sebuah artikel oleh F. Lucii Feraris, yang ada dalam buku Prompta Bibliotheca Canonica Juridica Moralis Theologica. Buku ini dicetak di Roma dan didukung oleh ensiklopedia Katolik. Perhatikan pernyataan ini: “Paus mempunyai kemuliaan yang sangat tinggi dan begitu dihormati, sehingga dia bukan sekedar manusia biasa, tetapi seakan Tuhan dan wakil dari Tuhan. Paus seakan Tuhan di muka bumi, pemimpin raja-raja, punya kuasa penuh.” Volume VI, hal. 2529. Ini hanyalah beberapa perkataan yang Alkitab definisikan sebagai hujat. Demikianlah kepausan memenuhi tanda identitas sebagai kuasa si tanduk kecil.

Beralih ke poin identitas yang ketujuh, kita menemukan bahwa sejarah mendukung nubuatan menyangkut penganiayaan kepausan. Setiap orang yang punya pengetahuan tentang abad pertengahan akrab dengan fakta bahwa jutaan orang disiksa dan dibunuh oleh inkuisisi Katolik. Dari sebuah buku yang ditulis oleh kardinal Katolik, yang juga menyatakan dukungan kepada gereja, kita dapati, “Gereja Katolik … punya ketakutan akan darah. Akan tetapi saat berhadapan dengan bidaah … dia beralih kepada pemaksaan, sampai penghukuman korporat, sampai ke penyiksaan. Dia membentuk pengadilan seperti halnya inkuisisi. Dia memakai hukum negara untuk mendukungnya,… Khususnya saat dia melakukannya pada abad ke-16 berhubungan dengan Protestantisme. … Di Perancis, saat pemerintahan Francis I dan Henry II, di Inggris pada pemerintahan Mary Tudor, dia menyiksa pada bidat.” Dari the Catholic Church, The Renaissance and Protestantism, hal. 182-184.

Kita dapat mendapatkan banyak pernyataan seperti ini dari sejarawan baik dari pihak Katolik maupun Protestan, yang menggambarkan siksaan yang mengerikan sebagai wewenang kepausan terhadap kaum Protestan. Demikian kita dapat melihat penggenapan penuh deskripsi si tanduk kecil ini.

Tanda kedelapan, seperti diberikan dalam ayat dua puluh lima, mengenai usaha untuk merubah hukum Tuhan. Apakah ini teraplikasi bagi kepausan? Mohon catat hal ini: Gereja Katolik telah menyingkirkan perintah kedua dari buku pengajarannya dan katekisme, karena perintah itu melarang penyembahan berhala. Perintah kesepuluh lalu dibagi sehingga mereka masih tetap mempunyai sepuluh perintah. Jadi dua perintah menentang irihati dan tidak ada yang menentang penyembahan berhala. Dengan cara ini kepausan telah berusaha merubah hukum, tetapi tidak berhasil. Hukum Tuhan tidak dapat dirubah.

Akhirnya kita sampai ke tanda pengenal yang kesembilan, yang mengatakan kepada kita berapa lama tepatnya kepausan ini akan menjalankan kuasanya di bumi. Kita menemukan bahwa itu adalah untuk periode 1.260 tahun. Apakah ini sesuai menurut catatan sejarah? Ingat bagaimana kita telah mencatat bagaimana kepausan memulai kuasanya, lewat perintah Justinian tahun 538 Masehi. Dengan menambahkan 1.260 tahun dari tahun ini, kita dibawa ke tahun 1798. Tepat pada tahun itu Berthier seorang jendral Perancis dengan pasukannya memasuki kota Roma dan menyeret paus dari takhtanya. Dia diasingkan dan semua kepemilikan gereja disita.

Pemerintah Perancis mengumumkan bahwa tidak akan ada lagi uskup Roma lainnya. Sejauh dunia ini tahu dan dengan penampakan luar lainnya gereja Katolik sudah mati. Setelah tepat 1.260 tahun, menggenapi nubuatan, dia kehilangan kuasa dunianya. Demikianlah poin terakhir digenapi dengan jelas oleh kepausan dan hanya oleh dia saja.

Si Binatang dan Si Tanduk Kecil Identik
Anda mungkin bertanya-tanya apa hubungannya ini dengan binatang di Wahyu 13. Kita sekarang siap untuk mengidentifikasi binatang aneh gabungan yang digambarkan dalam kitab Wahyu. Mari kita baca deskripsi binatang itu sekali lagi, yang punya badan seperti macan tutul, kaki beruang, dan mulut seperti singa. “Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat” ayat 5. Mohon perhatikan bahwa binatang ini melakukan tepat hal yang sama dengan tanduk kecil Daniel. Ayat lima melanjutkan, “kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya.” Berapa lama empat puluh dua bulan? Tepat 1.260 hari nubuatan atau tahun – sama seperti 3 ½ masa dalam nubuatan Daniel.

Mengenai si binatang, kita baca lebih lanjut, “Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka” ayat 7. Binatang ini juga sebuah kuasa penganiaya. Dengan kata lain, binatang di Wahyu 13 adalah kuasa yang sama dengan si tanduk kecil. Keduanya adalah lambang untuk kepausan. Ini adalah ilustrasi grafis Tuhan, seiring ia muncul untuk menjalankan kuasa sewenang-wenangnya di Bumi selama 1.260 tahun.

Kesamaan lebih lanjut ditemukan dengan membaca Wahyu 13:3, “Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu.” Seperti yang sudah kita bangun, luka mematikan itu diberikan tahun 1798 saat pasukan Perancis membawa paus ke pengasingan. Tetapi luka itu akan sembuh, dan akhirnya seluruh dunia akan memberikan kesetiaannya kepada kepausan lagi. Nubuatan itu telah tergenapi sangat jelas sekali di hadapan kita.

Adalah di tahun 1929 saat Mussolini mengeksekusi concordat 1929 dengan paus, mengembalikan harta yang telah disita dari gereja. Pada saat itu paus sekali lagi dikembalikan menjadi raja, dan kota Vatikan dibentuk sebagai kuasa politik independen. Dari masa itu sampai saat ini, kekuatan kepausan telah berkembang dengan luar biasa.

Saat ini hampir semua negara di dunia punya wakil politik di kota Vatikan. Pengaruh luar biasa dari kepausan dalam hubungan dunia terbukti dalam berita utama surat kabar saat ini. Hampir semua perkataan paus diberitakan sampai ujung bumi, dan jutaan orang melihat kuasa kepausan sebagai pengaruh terbesar dalam politik saat ini. Ya, luka itu sedang pulih dan dunia semakin terpana untuk mengikuti si binatang.

II. SI NAGA DAN SI WANITA
Sampai titik ini kita siap mengajukan pertanyaan lain mengenai pemberian kuasa ini kepada si binatang. Dari mana dia memperoleh kuasa untuk memimpin dunia selama 1.260 tahun dan menganiyaya jutaan orang karena iman mereka? Jawabannya ditemukan dalam Wahyu 13:2, “Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar.” Perhatikan bahwa kuasa itu datang dari si naga. Tapi siapakah si naga ini? Wahyu 12:7-9, “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”

Naga ini tentunya setan sendiri. Tetapi kapan Setan menipu seluruh dunia? Saat dia diusir dari Surga, hanya ada dua orang di bumi, dan mereka mewakili seluruh dunia. Dengan menipu Adam dan Hawa di taman Eden, Setan menyesatkan seluruh dunia dan menjadi pemilik sementara Bumi. Pertikaian besar antara kebaikan dan kejahatan yang dimulai di Surga, sekarang berpindah ke planet ini.

Sebuah Nubuatan Pertentangan
Setelah kejatuhan dalam dosa Tuhan mengumumkan sebuah kutukan pada setiap pihak yang mengambil bagian pada pelanggaran itu. Dalam Kejadian 3:15, kita membaca kutukan yang diberikan kepada iblis atau si naga. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Inilah nubuatan pertikaian panjang yang akan ada antara si naga dan si wanita, dan antara keturunan si naga dan keturunan si wanita.

Tetapi merujuk siapakah si wanita dalam nubuatan ini? Seorang wanita dalam nubuatan Alkitab selalu melambangkan gereja. Dalam Yeremia 6:2 kita baca, “Adakah puteri Sion sama seperti padang yang paling disukai.” Siapakah Sion? Yesaya 51:16, “dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umat-Ku!” Jadi pertikaian itu terus berlanjut setelah peristiwa Eden. Selalu ada dua pihak dari dulu sampai sekarang. Naga dan pengikutnya berhadapan dengan Tuhan dan pengikut-Nya. Kebenaran versus kesalahan, dan Setan versus gereja-Nya.

Dua Pihak
Setan dan Tuhan saling berhadapan untuk kendali hidup setiap manusia. Bahkan dalam anak-anak Adam kedua pihak itu digambarkan. Kain ada pada pihak si naga dan ingin menggantikan jalan yang Tuhan perintahkan dengan jalannya sendiri. Habel berada di pihak Tuhan dan begitu benar sehingga Kain membunuh dia. Apakah Anda ingat Tuhan memberitahu mereka berdua untuk membawa seekor anak domba, tetapi Kain mengganti apa yang Tuhan telah perintahkan untuk persembahan dengan buah atau sayuran. Dia mencoba atau membuat sebuah tiruan untuk kebenaran mutlak Tuhan.

Lewat keturunan Kain bumi menjadi begitu rusak sehingga Tuhan akhirnya harus membinasakannya dengan air bah. Tetapi setelah itu kedua pihak tersebut muncul lagi. Pengikut si naga terkonsentrasi di Babel dan mencoba menyangkal Tuhan dengan membangun sebuah menara tinggi untuk mencapai langit. Rencana itu gagal tentunya, dan daerah menara Babel tersebut menjadi kerajaan Babel, yang pada tahun 606 SM mulai memerintah sebagai kerajaan dunia yang pertama.

Selama tahun-tahun awal kebingungan itu Tuhan memanggil Abraham keluar dari Babel dan mengirim dia ke Kanaan. Abraham bertumbuh di Mesopotamia sana, dekat tempat di mana menara Babel itu coba dibangun, dan di mana kerajaan Babel berkembang. Rencana Tuhan selalu melibatkan sebuah panggilan untuk memisahkan diri dari kebingungan yang penuh kepalsuan.

Naga dan Penyembahan Matahari
Secara singkat mari kita lihat sejarah dari sisi si naga. Kota Babel adalah ibukota si naga pertama kali di bumi. Sebuah sistem agama kafir berkembang di sana dalam bentuk penyembahan matahari. Itu adalah penyembahan berhala yang penuh hujat, dipenuhi imoralitas, upacara yang tidak senonoh dan ritual yang merusak. Tetapi segera para pengikut si naga bertikai sendiri dan Media-Persia berkuasa. Tetapi itu masih menjadi markas si naga. Penyembahan baal berlanjut mendominasi seperti halnya di kerajaan sebelumnya. Lalu Yunani mengambil alih dan dia juga tunduk pada penyembahan matahari kafir yang sama. Akhirnya Romawi mulai memerintah dunia. Tetapi tidak ada perubahan dalam agama. Mithras atau penyembahan matahari adalah agama universal kekaisaran Romawi kafir. Dari Babel sampai Romawi, si naga memegang kendali lewat penyembahan matahari kekafiran.

Tetapi saat peemerintahan Romawi, sebuah hal dahsyat terjadi! Adalah waktunya bagi keturunan si wanita untuk muncul. Ingat nubuatan yang berkata mengenai permusuhan antara keturunan si perempuan dan keturunan si naga. Keturunan si perempuan muncul di masa pemerintahan Romawi Mari kita baca tentang ini dalam Wahyu 12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” Jangan lupa bahwa seorang perempuan dalam nubuatan melambangkan sebuah gereja. Seorang perempuan yang suci melambangkan gereja yang benar, tetapi seorang perempuan pelacur melambangkan sebuah sistem keagamaan yang palsu.

Keturunan si Perempuan
Wanita berselubungkan matahari dalam Wahyu dua belas melambangkan gereja yang benar, gereja apostolik dengan doktrinnya yang murni. Dua belas bintang di kepalanya adalah kedua belas rasul. “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Tuhan dan ke takhta-Nya” (Wahyu 12:2-5). Jadi sekarang siapakah Anak laki-lakinya ini? Hanya ada satu Anak laki-laki yang ditakdirkan untuk memimpin semua bangsa dan yang akhirnya diangkat ke takhta Tuhan. Tidak lain yaitu Yesus Kristus. Tetapi siapa yang coba membunuh Yesus segera setelah Dia dilahirkan? Anda menjawab “Herodes, raja boneka Romawi.” Demikianlah hal itu terjadi. Herodes mencoba membunuh semua bayi laki-laki di Yudea untuk membunuh Kristus.

Kerajaan Romawi lalu dilambangkan dalam nubuatan Alkitab dengan naga merah yang sama seperti halnya iblis sendiri. Karena Setan bekerja dengan erat dengan negara tersebut untuk menghancurkan Yesus, Romawi kafir dilambangkan dengan simbol nubuatan yang sama seperti halnya si iblis. Tetapi Herodes tidak berhasil dalam usahanya untuk menghancurkan Anak laki-laki tersebut. Maria dan Yusuf pergi ke Mesir dan lolos dari titah mengerikan itu. Tindakan maut Setan untuk menghancurkan Yesus di kayu salib dimentahkan hari Minggu paginya saat Yang disalibkan itu membongkar belenggu kematian lewat kebangkitan-Nya. Empat puluh hari kemudian Dia naik ke Surga sebagai penggenapan sempurna Firman nubuatan.

Saat si naga menyadari bahwa dia tidak mampu menghancurkan Kristus, dia memalingkan kemarahannya kepada jemaat mula-mula. Menurut Wahyu 12:13, “Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.” Pada waktu ini hanya sekelompok kecil umat Kristen di seluruh dunia, dan Setan merasa dia dapat membinasakan secara sepenuhnya mereka lewat penganiayaan. Ribuan umat Kristen menjadi martir di bawah penganiayaan yang mengerikan dari kaisar Romawi yang kejam. Tetapi injil terus bertumbuh dan menyebar. Darah para martir seakan menjadi benih gereja. Saat seorang meninggal, seratus orang muncul menggantikan tempatnya. Paulus mengkhotbahkan injilnya tepat di pintu gerbang Roma. Naga tua itu menjadi kuatir. Sekaranglah waktunya bagi keturunan si naga untuk muncul.

Keturunan si Naga
Selama berabad-abad Setan mencoba untuk menghancurkan umat Tuhan lewat oposisi keras dari Babel, Media-Persia, Yunani, dan Romawi. Lewat kekerasan dan penganiayaan, dia telah gagal untuk melenyapkan kebenaran. Jadi apa yang dia tidak dapat lakukan dengan kekerasan, si naga sekarang mencobanya dengan strategi dan penipuan. Dia akan mengorganisir sistem agama palsunya sendiri. Dia akan membawa ajaran dan filosofi kekafiran dari kerajaan kuno Babel, Media-Persia, Yunani dan Romawi, dan menggabungkannya dengan ajaran Kekristenan. Demikianlah dia mencoba menghancurkan jutaan orang lewat penyesatan.

Dalam bentuk apa keturunan si naga muncul? Itu disajikan sebagai kuasa binatang dalam Wahyu 13. Sangat penting kenapa si binatang dibuat bagian badannya dari singa, macan tutul, beruang dan binatang yang susah digambarkan dalam Daniel 7. Ilustrasi gambaran Tuhan untuk kepausan menyatakan bahwa dia didirikan dari semua bagian kerajaan kafir kuno tersebut. Secara khusus dia dapat kekuatannya dari bangsa Romawi kafir. Menurut Wahyu 13:2, naga tersebut memberikan kepada binatang tersebut kekuatan, takhta, dan kekuasaannya yang besar. Kita telah mempelajari bahwa si naga sesungguhnya melambangkan kerajaan Romawi kafir, seperti halnya iblis sendiri.

Apakah Romawi kafir sesungguhnya memberikan kekuasaannya kepada kepausan? Faktanya adalah pada tahun 330 Masehi, kaisar Romawi Konstantin memberikan seluruh kota Roma kepada paus sebagai pusat kekuasaannya. Sejarah memakai hampir semua perkataan nubuatan untuk menggambarkannya. Saya akan mengutip dari sebuah sumber Katolik dan satu buku sejarah untuk poin ini: “Saat Kekaisaran Romawi menjadi Kristen, dan damai dijanjikan kepada gereja, kaisar menyerahkan kota Roma kepada paus, untuk menjadi takhta kekuasaan dari wakil Kristus, yang akan memerintah di sana terbebas dari semua wewenang manusia sampai akhir masa, sampai akhir waktu.” dari Papal Rights and Privileges, hal.13,14.

“Perpindahan ibukota kerajaan dari Roma ke Konstantinopel pada tahun 330 Masehi meninggalkan gereja barat tersebut praktis terbebas dari kuasa kekaisaran untuk mengembangkan bentuk organisasinya sendiri. Uskup Roma di tempat kaisar, sekarang adalah orang nomor satu di Barat, dan segera menjadi pemimpin politik juga spiritual.” dari The Rise of the Medieval Church, hal.168. Betapa jelasnya pernyataan ini menunjukkan bahwa kepausan memperoleh takhta dan kuasanya dari Romawi kafir! Tetapi dari mana Romawi mendapatkannya? Dari Yunani. Dan dari mana Yunani mendapatkan kekuasaannya? Dari Media-Persia. Dan dari mana Media-Persia mendapatkannya? Dari Babel. Dan dari mana Babel mendapatkannya? Dari si naga. Jadi kita mulai memahami kenapa Tuhan memberikan peringatan menakutkan semacam itu terhadap kuasa si binatang. Si naga sebenarnya dibelakang semuanya.

Kepalsuan dalam Busana Kekafiran
Mari kita renungkan sejenak bagaimana ajaran kafir dapat menemukan jalan dalam sistem agama palsu yang Setan perkenalkan. Karena sebuah tanda dari kuasa si naga adalah untuk memalsukan dan menggantikan, kita akan melihat dalam sistem politik dan agama ini operasi neraka terbaik yang Setan lakukan. Seperti halnya kasus Kain, sebuah pengganti dibuat sedemikian rupa untuk menggantikan perintah Tuhan. Banyak peninggalan penyembahan matahari diselaraskan dengan status Kekristenan. Sebuah set doktrin palsu ditambahkan sehingga kepausan dapat memperoleh prestise di mata orang-orang kafir pada waktu itu. Berhala paganisme ditinggalkan, tetapi berhala Petrus, Maria dan para orang kudus datang menggantikan tempat mereka.

Sebagai sebuah contoh bagaimana konsep paganisme masuk dalam gereja, perhatikan misalnya Natal. Apakah Anda tahu dari mana perayaan Natal berasal? Natal, sebagai sebuah festival sudah ada jauh sebelum Yesus lahir ke dunia. 25 Desember sebenarnya dirayakan ratusan tahun sebelum Kristus lahir. Paganisme menyembah matahari, dan mereka memperhatikan bahwa di bulan Desember hari menjadi semakin pendek dan matahari seakan menjadi semakin jauh dari mereka. Takut matahari akan meninggalkan mereka, mereka mempersembahkan doa dan korban. Lalu pada tanggal 25 Desember, untuk pertama kalinya mereka melihat matahari seakan mendekat kembali. Jadi orang-orang mengatakan, “matahari dilahirkan kembali untuk kita.” Mereka peringati 25 Desember sebagai hari ulang tahun matahari atau dewa matahari. Itu menjadi perayaan besar keagamaan bagi mereka.

Hanya paganisme yang merayakan hari tersebut sampai akhirnya sistem kepausan yang penuh kepalsuan terbentuk. Akhirnya saat itu hari tersebut diadopsi oleh kepausan, dan disebut hari kelahiran Sang Putra (SON), alih-alih perayaan ulang tahun Matahari (SUN). Dr. Gilbert Murray, M.A., Litt., LL.D., F.B.A., professor Yunani di universitas Oxford menulis demikian: “Mitraisme punya banyak pengikut, sehingga itu dapat memaksakan dunia Kristen hari Minggunya (Sunday) menggantikan Sabtu (Sabat); adalah hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember yang dirayakan sebagai hari kelahiran Yesus.” History of Christianity in the Light of Modern Knowledge, Chapter III; cited in Religion and Philosophy, hal. 73,74. New York: 1929.

Sebenarnya kita tidak pernah tahu tanggal kelahiran Kristus. Sebagaimana Anda dapat lihat, pengadopsian 25 Desember murni berdasarkan perayaan kafir atas festival penyembahan matahari. Tolong catat betapa mudahnya sebuah institusi pagan dapat menyelip masuk dalam gereja Kristen dan bahkan dapat tertransfer kepada Protestantisme.

Bagaimana dengan Easter (Paskah)? Itu adalah perayaan Kristen lainnya yang cukup terkenal dalam gereja-gereja modern. Akan tetapi itu juga dirayakan paganisme jauh sebelum kebangkitan Kristus. Semua kelompok Kristen mengetahui bahwa Minggu Paskah sering kali selisih lima mingguan dari tahun ini ke tahun berikutnya. Hanya sedikit yang tahu bahwa itu ditentukan oleh pergerakkan benda-benda langit. Easter selalu jatuh hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama waktu matahari melewati khatulistiwa.

Orang-orang pagan dahulu menyadari bahwa segala sesuatunya seakan lahir baru di awal musim semi, segera setelah matahari melewati khatulistiwa. Jadi mereka menentukan sebuah hari di musim semi untuk menghormati dewi reproduksi. Hari itu didedikasikan untuk Isthar, dewi reproduksi, karena hidup yang baru dan pertumbuhan di alam. Kata Easter tersebut diambil langsung dari transliterasi nama dewi Isthar, yang penyembahannya dikenang lewat adopsi Easter (Paskah).

Sering kali orang Kristen awam bertanya-tanya apa hubungannya kelinci dan telur paskah dengan kebangkitan Kristus. Sudah barangtentu mereka tidak berhubungan. Orang-orang pagan tersebut memilih kelinci sebagai simbol harinya Isthar karena itu reproduser yang subur. Telur juga dipilih karena itu lambang kesuburan. Di antara orang kafir, hari itu berhubungan dengan praktek yang paling tidak senonoh.

Selama periode waktu di mana kepausan berkembang, hari Isthar diadopsi oleh gereja dan disebut Easter (Paskah). Bahkan simbolnya, kelinci dan telur, dipakai untuk mengenang asal-usul pagannya. Contoh-contoh ini diberikan hanya untuk sekedar menunjukkan betapa mudahnya iblis dapat memasukkan ide-ide pagan dalam gereja. Seiring kepausan berkembang, itu terbuka untuk menerima tradisi-tradisi yang tidak Alkitabiah yang menandai dengan jelas sebagai kuasa palsu sebenarnya yang digambarkan oleh Tuhan dalam Wahyu 13.

Pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita pada titik ini: Apakah kita sungguh mengikuti Alkitab dalam semua ajaran kita? Kalau tradisi dan kebiasaan kafir begitu mudahnya menyusup dalam gereja, bagaimana dengan ajaran lainnya? Hal-hal yang disebutkan sejauh ini belum bertentangan dengan perintah langsung Tuhan. Kita tidak punya perintah mengenai merayakan kelahiran atau kebangkitan Kristus. Kita dapat mengenang kelahiran dan kebangkitan-Nya kapanpun dan pada hari apapun dalam satu tahun. Pada bab berikutnya kita akan menemukan, meskipun ajaran lainnya yang diperkenalkan yang menyerang langsung pusat agama Alkitab. Kita tidak begitu perhatian, kecuali untuk hal-hal yang bertentangan dengan perintah yang jelas dari Tuhan.

Kuasa yang berkembang dari kepausan melanjutkan programnya dengan memalsukan beberapa kebenaran penting yang terkandung dalam Firman Tuhan. Sekiranya mata kita boleh dibukakan untuk mengenali hal-hal palsu ini dan untuk tetap setia pada kebenaran pasti dalam bentuk originalnya.

III. BILANGAN DAN TANDA BINATANG
Dua dari aspek terpenting dari kuasa si binatang dikemukakan dalam Wahyu 13: “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam” (Wahyu 13:16-18). Sejauh ini dalam pembelajaran kita, kita telah membahas sembilan tanda identifikasi dari kuasa si binatang dan aplikasinya pada kepausan. Di sini kita akan menambahkan poin kesepuluh pada daftar kita dengan menjelaskan angka namanya.

Menurut Wahyu 13:17, bilangan namanya juga adalah bilangan seorang manusia. Tidak diragukan lagi ini merujuk pada orang yang menjadi kepala kuasa si binatang. Metode kuno untuk mendapati angka dari sebuah nama adalah dengan mengambil nilai numerik dari setiap huruf dan menjumlahkannya. Kalau kita ingin mengaplikasikan tes ini pada kepausan, kita harus mendapatkan nama resmi dari paus, yang mana adalah kepala gereja. Kalau ini adalah bilangan seorang manusia, maka alamiahnya ini adalah orang yang menjadi kepala organisasi.

Adalah menarik untuk dicatat bahwa ada sebuah title resmi Latin untuk paus, sebuah title yang diberikan oleh gereja sendiri. Julukan ini ditemukan secara berulang dalam publikasi Roma. Tetapi dalam koran mingguan Katolik, Our Sunday Visitor pada April 1915, kita mendapati pernyataan menarik bahwa julukan resmi tersebut tertulis pada topi paus. Inilah kutipan aktualnya: “Kata-kata yang tertulis pada topi paus adalah ini: Vicarius Filii Dei, yang mana adalah frase Latin untuk ‘wakil Putra Tuhan.’ Katolik memegang pandangan bahwa gereja yang mana adalah komunitas yang terlihat harus memiliki seorang kepala yang nampak, Kristus sebelum kenaikan-Nya ke Surga menunjuk St. Petrus sebagai wakil-Nya. Dari sinilah uskup Roma sebagai kepala gereja, diberi title, ‘wakil Kristus.’” Pada saat itu topi paus belum tertulis julukan Latin tersebut, tetapi perkataan itu muncul dalam perayaan pelantikan tiap paus yang baru.

Jadi dengan nama resmi paus ini di tangan, kita dapat melanjutkan dengan mengaplikasikan tes dari Alkitab. Bagaimana kita mendapatkan bilangan namanya? Dengan memperoleh nilai numerik dari angka Romawi dari title Vicarius Filii Dei, kita akan sampai pada angka mutlak 666. Perhatikan bagaimana itu dilakukan sebagaimana setiap huruf diberikan nilai numeriknya:

Seseorang mungkin memandang ini sebagai sebuah kebetulan. Kita bisa menyebut itu mungkin terjadi demikian kalau kita hanya bergantung pada tanda identitas ini. Tetapi kenyataannya ini adalah tanda kesepuluh dari daftar panjang karakteristik yang Alkitab pakai untuk mengidentifikasi kuasa si binatang. Ini hanya menambahkan bobot dan kekuatan pada yang telah dikatakan dalam mengaplikasikannya pada kuasa kepausan. Ini adalah bukti penjuru sehubungan dengan tanda-tanda lainnya yang dinyatakan dengan jelas dalam Alkitab.

Tanda itu – Sebuah Kepalsuan Ulung
Sekarang kita siap mempertimbangkan puncak kepalsuan sehubungan dengan kuasa si binatang. Kita telah mempelajari bahwa kuasa ini memalsukan banyak kebenaran besar Tuhan. Ini adalah sebuah kombinasi dari pemikiran paganisme dengan ajaran kekristenan yang membuat sebuah kebingungan besar, tepat disebut sebagai “Babel” dalam Alkitab.

Sebagian dari kepalsuan itu mungkin terdaftar sebagai berikut: tradisi menggantikan posisi Firman Tuhan, paus menggantikan Roh Kudus, baptisan percik menggantikan baptisan selam, transubstansiasi menggantikan komuni, hukum manusia menggantikan hukum Tuhan, api penyucian menggantikan kematian, tanda binatang menggantikan materai Tuhan.

Di sinilah kita khususnya memperhatikan mengenai tanda binatang. Dalam Wahyu 14:9,10, kita baca, “Jikalau seorang menyembah binatang… dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Tuhan, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Ini masalah hidup dan mati. Kita harus tahu dengan tepat apa tanda ini dan bagaimana kita dapat menghindarinya.

Pertama-tama kita harus perhatikan bahwa tanda itu selalu bertentangan dengan materai Tuhan. Dalam Wahyu 7:2,3, kita pelajari bahwa materai Tuhan ditempatkan di dahi, seperti halnya tanda binatang ditempatkan di dahi. Dua hal itu tampak selalu dalam pertentangan langsung satu sama lain. Keduanya diterima di dahi. Sekarang kita tanyakan, “Apa materai itu?” Kalau kita dapat bangun poin ini, itu akan membantu kita untuk mengidentifikasi tandanya.

Materai Tuhan
Sebuah materai adalah sesuatu yang berhubungan dengan masalah hukum. Dokumen resmi selalu dicap dengan materai (cap) organisasi pemerintah terkait. Setiap pemerintah punya materai (cap) untuk dibubuhi pada dokumen sah. Tujuannya adalah untuk menunjukkan otoritas di balik dokumen tersebut. Ini juga ada pada hukum negara. Setiap hukum yang baru ada sebuah materai (cap) untuk menunjukkan bahwa ada kuasa dan otoritas untuk mendukung hukum tersebut.

Perhatikan bahwa rata-rata tiap cap mempunyai tiga keterangan di dalamnya. Itu biasanya mencantumkan nama otoritasnya, kantor atau jabatan yang memberi otoritas, dan wilayah yang mana dia berkuasa. Stempel presiden Amerika mempunyai perkataan sebagai berikut: Barrack Obama, President, United States of America. Saat stempel itu dicapkan pada sebuah hukum atau dokumen resmi, itu menunjukkan bahwa otoritas presiden mendukung deklarasi tersebut.

Apakah materai (cap) Tuhan juga berhubungan dengan hukum-Nya? Jika demikian, bagaimana dan di mana itu dibubuhkan? Mari baca Yesaya 8:16 (terjemahan literal KJV), “Ikatlah kesaksian ini, materaikan taurat ini di antara murid-murid-Ku.” Pada kenyataannya hukum-Nya dimateraikan di antara murid-murid Tuhan. Tetapi di mana hukum itu ditempatkan pada mereka yang setia? Jawabannya ditemukan dalam Ibrani 10:16, “”Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka.”

Demikianlah materai Tuhan ditempatkan pada murid-murid-Nya. Itu dituliskan dalam pikiran mereka atau secara simbolis pada dahi mereka. Ulangan 6:6,8 membuatnya menjadi lebih jelas: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu.” Hukum Tuhan seperti Anda ketahui harus dilakukan baik oleh perbuatan dan dalam pikiran. Itu dibicarakan seakan diaplikasikan pada tangan dan dahi.

Tanda Otoritas Tuhan
Kita mau mencari dalam hukum Tuhan guna melihat bagian mana sebetulnya yang adalah materai Tuhan. Tetapi pertama-tama mari kita lihat apa yang menjadi kuasa dan otoritas Tuhan. Presiden menjalankan otoritasnya lewat jabatannya sebagai presiden. Tuhan menyatakan kuasa-Nya berdasarkan posisinya sebagai Sang Pencipta alam semesta. Perhatikan kata-kata yang ditemukan dalam Yeremia 10:10-12, “Tetapi TUHAN adalah Tuhan yang benar, Dialah Tuhan yang hidup dan Raja yang kekal… Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: ‘Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini.’ Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya.” Sekali lagi dalam Mazmur 96:5, “Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit.” Perhatikan lagi ayat-ayat yang ditemukan dalam Yesaya 40:25,26: “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.”

Kita diberi kesan bahwa hal besar yang membedakan Tuhan yang sejati adalah kuasa penciptaan-Nya. Dia mendasarkan pernyataan otoritas-Nya sebagai Tuhan yang benar dan satu-satunya atas kuasa-Nya untuk menciptakan. Tetapi apakah tanda atau peringatan akan penciptaan-Nya? Kejadian 2:2,3 memberikan jawabannya: “Ketika Tuhan pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Tuhan memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” Sabat adalah tanda dari kuasa penciptaan-Nya yang membedakan Dia dengan ilah palsu lainnya.

Materai dalam Hukum
Kita sekarang siap untuk menyelidiki hukum Tuhan guna menentukan apa sebenarnya materai otoritas-Nya. Ingatlah bahwa materai harus mengandung nama, jabatan dan wilayah kekuasaan. Satu-persatu kita pelajari dekalog sepuluh perintah. Secara bertahap semuanya tereliminasi, kecuali satu. Tiga syarat dari sebuah materai (cap) hanya ditemukan pada sebuah perintah yang mempunyai nama, jabatan dan wilayah otoritas Tuhan.

Tepat di pusat hukum adalah tanda dari kuasa penciptaan-Nya, dan perhatikanlah dalam perintah keempat tersebut kita juga mendapatkan tiga komponen dari materai (cap). “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; (nama)… Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan (jabatan – Pencipta) langit dan bumi (wilayah kekuasaan), laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Keluaran 20:8-11). Dengan kata lain, Sabat adalah materai Tuhan – tanda dari Dia satu-satunya yang dapat menciptakan dan berhak memerintah bumi. Dan untuk membuat hukum-Nya menjadi sah, Dia telah menempatkan materai-Nya, menunjukkan bahwa Dia yang berdiri di belakang setiap perintah dalam hukum-Nya.

Anda mungkin bertanya-tanya, “Apakah Sabat sungguh materai Tuhan?” Mari kita lihat Yehezkiel 20:12, “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan (tanda) di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.” Di sini Sabat disebut sebagai “peringatan (tanda)” Tuhan. Bukankah itu sama dengan materai? Roma 4:11 menyatakan bahwa “materai” dan “tanda” adalah hal yang sama, dipakai saling tukar dalam Firman. “Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.”

Materai Tuhan dan Tanda Binatang Berkompetisi
Mari kita lihat apa hubungan antara materai Tuhan dan tanda binatang. Keduanya saling berkompetisi. Dalam Wahyu 14:9,10, pekabaran malaikat ketiga menggambarkan mereka yang menerima tanda binatang: “Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Tuhan, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.”

Dalam ayat 12 kita punya kelompok lainnya yang diidentifikasi dengan perkataan ini, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.” Dengan kata lain, mereka yang menuruti perintah Tuhan tidak menerima tanda binatang, dan mereka yang menerima tanda binatang tidak menuruti perintah Tuhan. Sepuluh perintah , dalam materai Tuhan berkompetisi dengan tanda binatang. Materai itu adalah Sabat, maka dari itu Sabat berlawanan dengan tanda binatang itu. Lalu apa tanda binatang itu?

Sebuah Upaya untuk Merubah
Untuk menjawab pertanyaan ini kita diarahkan kembali pada Daniel 7:25, di mana kepausan digambarkan sebagai sebuah kuasa yang “berusaha untuk mengubah hukum dan waktu.” Kita telah membahas bagaimana perintah kedua telah disingkirkan dan perintah kesepuluh dibagi dua dalam katekisme kepausan. Tetapi bagaimana dengan “waktu” yang disebutkan dalam ayat tersebut? Di mana dalam hukum yang menyebutkan mengenai waktu satu-satunya? Itu ada dalam perintah keempat. Apakah kepausan berusaha untuk mengganti Sabat, satu-satunya waktu yang dirancang oleh hukum Tuhan? Ya itu terjadi, dan dilakukan dengan cara yang menarik.

Paganisme punya sebuah sistem agama berdasarkan penyembahan matahari. Hari kudus mereka adalah hari pertama mingguan, yang mereka sebut Sun-day untuk menghormati dewa matahari (sun god). Hari minggu dipelihara oleh orang-orang pagan berbeda dengan pemeliharaan Sabat oleh umat Kristen. Tetapi pada masa pemerintahan kaisar Roma Konstantin, sesuatu yang signifikan terjadi. Konstantin menyatakan perubahannya menganut Kristen dan membuka pintu gereja bagi semua pengikut kafirnya.

Agar dapat memperoleh kuasa, prestise, dan lebih banyak orang masuk dalam gereja, dia menerima banyak kebiasaan penyembahan matahari orang-orang pagan. Banyak kompromi-kompromi ini terjadi, seperti Natal dan Easter. Tradisi lainnya adalah pemeliharaan hari Minggu. Tampaknya lebih nyaman membiarkan orang-orang pagan memelihara hari perbaktian mereka sendiri pada hari Minggu dan meminta umat Kristen untuk bergabung di dalamnya. Jadi sebenarnya Konstantin membuat hukum pertama mengenai pemeliharaan hari Minggu menggantikan Sabat. Badan kepausan menguatkan hukum itu sampai itu menjadi berakar kuat dalam Kekristenan dan di dunia.

Kesaksian Sejarah
Berpaling sekarang kepada para saksi sejarah sekuler, Anda dapat membaca faktanya untuk diri Anda sendiri. Setiap pernyataan didefinisikan dengan jelas dalam catatan sejarah. Dari Encyclopedia Britannica dalam artikel “hari Minggu” kita baca: “Adalah Konstantin yang pertama kali membuat sebuah hukum untuk pemeliharaan hari Minggu dengan benar, dan yang… menetapkan bahwa itu harus dirayakan secara rutin di seluruh kerajaan Romawi.” Inilah perkataan Dr. Gilbert Murray, M.A., D. Litt., L.L.D., F.B.A., Professor bahasa Yunani di universitas Oxford: “Jadi karena Mithras adalah ‘Matahari yang tidak terkalahkan,’ dan matahari adalah ‘bintang megah,’ agama mencari seorang raja yang dapat menjadi wakil Mithras di muka bumi. … Kaisar Romawi tampaknya dengan jelas terindikasi sebagai raja yang sejati. Berbeda sekali dengan Kekristenan, Mithras mengakui kaisar sebagai pembawa karunia ilahi dan penganutnya memenuhi pasukan militer dan pegawai sipil. …Itu punya penerimaan yang besar sehingga itu mampu menanamkan pada dunia Kekristenan hari Minggunya menggantikan hari Sabat, hari ulang tahun mataharinya sebagai hari kelahiran Yesus.” Dari History of Christianity in the Light of Modern Knowledge.

Dr. William Frederick menyatakan kebenaran sejarah yang sama: “Orang-orang bangsa lain adalah umat penyembah berhala yang menyembah matahari, dan hari Minggu adalah hari mereka yang paling kudus. Jadi agar dapat menjangkau orang-orang dalam ladang yang baru ini, seakan terlihat alami, juga perlu, untuk membuat hari Minggu hari peristirahatan bagi gereja. Pada masa ini, adalah penting bagi gereja antara untuk mengadopsi hari bangsa-bangsa lain, atau memanggil bangsa lain untuk merubah hari mereka. Untuk merubah hari bangsa lain akan menjadi sebuah serangan dan batu sandungan bagi mereka. Gereja secara alaminya dapat menjangkau mereka dengan lebih baik lewat pemeliharaan hari mereka.” Dari Sunday and Christian Sabbath, hal. 169,170.

North British Review memberikan alasan berikut kenapa umat Kristen mengadopsi hari Minggu kekafiran: “Hari itu adalah hari matahari bagi sesama mereka yang kafir dan orang satu bangsa mereka, dan patriotisme memanfaatkan itu dengan senang hati untuk menyatukannya segera dengan hari Tuhan dan Sabat mereka. … Gereja mula-mula itu pada kenyataannya menutup diri untuk pengadopsian hari Minggu, – sampai akhirnya itu menjadi berakar dan kokoh, sehingga akhirnya terlambat untuk membuat perubahan lainnya.” Dari Volume XVIII, hal.409.

Persetujuan Katolik
Karena nubuatan Daniel menyatakan bahwa kepausan akan “berusaha mengubah waktu dan hukum,” mari kita Tanya pada dia sendiri apakah dia berhubungan dengan perubahan Sabat ini. Kita ingin adil bagi semua orang, dan mendapatkan kesaksian otentik dari semuanya. Beberapa kutipan berikutnya diambil dari otoritas Katolik terkenal yang mengekspresikan dengan jelas pengakuan kepausan akan upaya untuk mengadakan perubahan tersebut. Dari Catholic Encyclopedia, vol. IV, hal.153: “Gereja … setelah merubah hari peristirahatan dari Sabat Yahudi atau hari ketujuh mingguan ke hari pertama, membuat perintah ketiga merujuk kepada hari Minggu sebagai hari kudus Tuhan.”

Salvation History and Commandments, hal.294, edisi 1963, oleh Rev. Leo. J. Trese dan John J. Castlelot, S.S. menggambarkannya dalam perkataan ini: “Tidak ada yang dikatakan dalam Alkitab mengenai perubahan hari Tuhan dari hari Sabtu ke hari Minggu. Kita hanya tahu perubahan ini berasal dari tradisi gereja – sebuah fakta yang diwariskan pada kita dari dulu oleh suara gereja. Itulah kenapa kita mendapati sikap yang tidak logis dari banyak non-Katolik, yang mengatakan bahwa mereka tidak akan mempercayai apapun, kecuali mereka dapat menemukannya dalam Alkitab dan tetap memelihara hari Minggu sebagai hari Tuhan berdasarkan pernyataan gereja Katolik.”

Seorang penulis Katolik terkenal lainnya memberikan penjelasan ini atas perubahan tersebut: “Gereja Katolik mentransfer pemeliharaan hari ketujuh pada hari pertama mingguan. …Gereja Katolik menganggapnya lebih sesuai untuk menetapkan hari ini, daripada hari Sabtu, hari perayaan umat Kristen.” Ini dari Catholicism edisi 1959, John Walsh, S.J., hal.325.

Sebuah katekismus oleh Killgallen dan Weber yang berjudul Hidup dalam Kristus – Instruksi dalam iman Katolik menjelaskan demikian: “Kenapa gereja merubah hari Tuhan dari Sabat ke hari Minggu? Gereja menggunakan kuasa mengikat dan melepas yang Kristus berikan pada paus, merubah hari Tuhan menjadi hari Minggu.” Hal. 243.

Sebuah Doctrinal Katekisme rev. Stephen Keenan mengatakan demikian: “Question – Apakah Anda punya cara lain membuktikan bahwa gereja punya kuasa untuk menginstitusikan hukum hari raya? Jawaban – Apabila dia tidak memiliki kuasa tersebut, dia tidak akan dapat melakukannya yang mana semua ahli agama modern setuju dengannya, dia tidak dapat menggantikannya dari pemeliharaan hari Sabtu, hari ketujuh, ke pemeliharaan hari Minggu, hari pertama mingguan, sebuah perubahan yang mana tidak berlandaskan otoritas Firman.” Tolong perhatikan kata “menggantikan,” sebuah frase yang kita dapati lagi dan lagi untuk menggambarkan aktivitas dari kuasa ini.

Kardinal Gibbons dalam bukunya Question Box, hal.179 membuat pengakuan mengejutkan ini: “Kalau Alkitab adalah satu-satunya panduan untuk umat Kristen, maka Advent Hari Ketujuh benar dalam pemeliharaan hari Sabtu bersama dengan orang Yahudi. …Bukankah aneh bahwa mereka yang menjadikan Alkitab sebagai pengajar mereka satu-satunya mengikuti dalam hal ini tradisi gereja Katolik?”

Rev. John A. O’Brien dalam buku Understanding the Catholic Faith, hal. 13, edisi 1955, menyatakan: “Alkitab tidak mengandung semua ajaran agama Katolik, tidak juga memformulasikan semua tugas anggotanya. Ambilah sebagai contoh pemeliharaan hari Minggu, hadir pada jam perbaktian, dan absen dari perhambaan pekerjaan pada hari itu. Ini adalah sebuah masalah yang sesama Protestan tekankan bertahun-tahun lalu; tetapi tidak ada dalam Alkitab di manapun hari Minggu ditetapkan sebagai hari Tuhan; hari yang disebutkan adalah hari Sabat, hari terakhir mingguan. Gereja mula-mula, menyadari otoritasnya untuk mengajar dalam nama Kristus, dengan sesukanya mengubah hari itu menjadi hari Minggu.”

Salah satu tantangan terbesar pernah dilemparkan pada wajah Protestantisme adalah sebuah pernyataan oleh father Enright, Presiden perguruan tinggi Redemptorist di Amerika: “Adalah gereja Katolik yang kudus yang merubah hari peristirahatan dari hari Sabtu ke hari Minggu, hari pertama mingguan. Dan itu tidak hanya mengundang semua untuk memelihara hari Minggu, tetapi juga mendorong setiap orang untuk bekerja pada hari ketujuh di bawah kutuk. Umat Protestan … menyatakan penghargaan besar pada Alkitab, tetapi dengan kesungguhan mereka memelihara hari Minggu, mereka mengakui kuasa gereja Katolik. Alkitab berkata, ‘Ingatlah hari Sabat dan jaga kekudusannya.’ Tetapi gereja Katolik mengatakan, ‘TIDAK, pelihara hari pertama mingguan’ dan perhatikanlah seluruh peradaban dunia tunduk dalam penurutan hormatnya pada perintah gereja Katolik yang kudus.”

Anda harus menjawab tantangan itu! Siapa yang mau Anda turuti? Perhatikanlah perkataan oleh C.F. Thomas, konselir kardinal Gibbons, menjawab sebuah surat mengenai perubahan hari Sabat: “Tentunya gereja Katolik mengakui bahwa perubahan itu adalah tindakannya. Dan tindakan itu adalah tanda dari kuasa dan otoritas gerejanya dalam masalah keagamaan.” Dengan demikian masalahnya jadi jelas – Tuhan mengatakan bahwa Dialah Tuhan yang benar: Dia telah memberikan Sabat sebagai sebuah materai dari otoritas-Nya sebagai Pencipta semuanya. Dengan memelihara hari Sabat, kita mengakui otoritas-Nya sebagai Tuhan yang sejati. Tetapi gereja Katolik muncul dan berkata dengan pengaruhnya: “tidak jangan pelihara Sabat, pelihara hari pertama mingguan. Kita telah merubahnya, dan perubahan itu adalah tanda kuasa kita untuk mengesampingkan hukum dan otoritas Tuhan.”

Tanda binatang itu adalah hari Minggu, Sabat yang palsu, yang mana kuasa si binatang mencoba dikenali sebagai sebuah otoritas yang lebih besar daripada Sang Pencipta sendiri. Tanda atau materai otoritas Tuhan (Sabat) digantikan oleh tanda buatan kepausan (hari Minggu) yang diakuinya sebagai otoritasnya. Oh, sekiranya dunia akan melihat dengan jelas masalah besar yang ada di hadapan kita saat ini! Kepada siapa kita akan menurut – kepada Tuhan atau kepada si binatang? Saat kita memahami masalahnya kita harus membuat sebuah keputusan besar antara untuk memelihara Sabat yang benar dan mengakui otoritas Tuhan, atau menerima Sabat yang palsu dan mengakui otoritas gereja Katolik. Kita pada akhirnya akan menerima salah satu, materai Tuhan atau tanda binatang. Hanya ada dua pihak – Tuhan dan si naga, kebenaran dan kesalahan, Alkitab dan tradisi.

Sebuah buku yang diterbitkan tahun 1956 berjudul ‘The Faith of Millions’ dan saat ini tersedia dari toko buku Katolik sebagai buku pegangan agama Katolik mengandung pernyataan menarik ini pada hal. 473: “Tetapi karena hari Sabtu bukannya hari Minggu yang disebutkan dalam Alkitab, bukankah mengherankan bahwa non-Katolik yang mengakui bahwa agama mereka secara langsung dari Alkitab dan bukannya dari gereja memelihara hari Minggu daripada hari Sabtu? Sudah barang tentu, itu tidak konsisten; tetapi perubahan ini dibuat sekitar lima belas abad sebelum Protestantisme lahir, dan pada saat itu kebiasaan ini telah diadopsi secara universal. Mereka melanjutkan tradisi tersebut, meskipun itu ada berdasarkan otoritas gereja Katolik dan bukan pada ayat jelas dalam Alkitab. Pemeliharaan itu tetap ada sebagai sebuah pengingat dari ibu gereja dari mana pecahan non-Katolik ada – seperti seorang anak kabur dari rumah, tetapi masih membawa dalam sakunya sebuah foto dari ibunya atau untaian rambutnya.”

Sudah lama kardinal Gibbons menyimpulkan masalah yang menghadapi setiap individu dalam pertanyaan mengenai hari Sabat: “Pemikiran dan kesadaran mengharuskan penerimaan satu atau yang lainnya dari alternatif ini: antara menerima Protestantisme dan pemeliharaan kekudusan hari Sabtu, atau Katolik dan pemeliharaan kekudusan hari Minggu. Kompromi adalah mustahil.” Catholic Mirror, 23 Desember 1893.

Persetujuan Prostestan
Mungkin Anda bertanya-tanya apa yang badan Protestan pikirkan mengenai hal-hal yang sedang kita bahas ini. Mereka akan bicara untuk dirinya sendiri. Inilah beberapa pengakuan jelas dari gereja-gereja tersebut atas pentanyaan mengenai hari Sabat. Semua pernyataan diambil dari juru bicara yang paling berotoritas. Inilah kutipan dari Dr. Edward T. Hiscox penulis manual gereja Baptis: “Ada dan masih ada sebuah perintah untuk memelihara kekudusan hari Sabat, tetapi hari Sabat itu bukanlah hari Minggu. Akan dikatakan, akan tetapi dan dengan perayaan kemenangan hari Sabat itu telah ditransfer dari hari ketujuh ke hari pertama mingguan. … Di manakah catatan mengenai perubahan itu dapat ditemukan? Bukan dalam Perjanjian Baru – tentu bukan. … Tentu saya cukup tahu bahwa hari Minggu masuk dalam sejarah jemaat mula-mula sebagai sebuah hari keagamaan, seperti kita pelajari dari para pendahulu Kristen, dan sumber lainnya. Tetapi sungguh sesuatu yang menyedihkan itu datang berlabel tanda paganisme, dan dibaptis dengan nama dewa matahari, saat diadopsi dan disetujui oleh kemurtadan kepausan, dan diturunkan sebagai warisan suci bagi Protestantisme!” (dari sebuah catatan di hadapan konferens pendeta di New York, 13 November 1893.) Pemimpin besar gereja baptis meringkaskan dengan sebuah perkataan singkat semua yang dinyatakan dalam booklet ini.

Kristen Presbyterian di Work mengatakan demikian: “Beberapa mencoba mendasari pemeliharaan hari Minggu atas perintah para rasul, yang mana para rasul tidak pernah memberikan perintah dalam hal itu sama sekali. …Kebenarannya adalah segera setelah kita terpanggil oleh litera scripta (tulisan literal) dari Alkitab, para pemelihara Sabat mempunyai argumen terbaik.” Ed. 19 April 1883. Methodist Theological Compendium menyatakan: “Adalah benar tidak ada perintah positif untuk baptisan bayi… juga tidak ada perintah manapun untuk memelihara kekudusan hari pertama mingguan.”

Dr. W.R. Dale (Congregational) dalam The Ten Commandments, hal.106,107, berkata: “Adalah cukup jelas bahwa betapa teguhnya atau berbaktinya kita memelihara hari Minggu, kita tidaklah memelihara hari Sabat. Sabat berdiri atas sebuah perintah khusus ilahi. Kami dapat mengakui tidak pernah ada perintah seperti itu untuk pemeliharaan hari Minggu. … Tidak ada satu barispun dalam Perjanjian Baru yang menyatakan kita dapat hukuman dengan melanggar pemeliharaan hari Minggu yang dikatakan kudus.”

Posisi gereja Lutheran seperti diungkapkan dalam Augsburg Confession of Faith menyatakan: “Pemeliharaan hari Tuhan (Minggu) tidak didasarkan perintah manapun dari Tuhan, tetapi otoritas dari gereja.” Juru bicara Episkopal Neander menuliskan dalam the History of the Christian Religion and Church, hal. 186: “Perayaan hari Minggu, seperti halnya perayaan yang lain selalu hanya cetusan manusia, dan itu jauh dari kepentingan para rasul untuk mencetuskan sebuah perintah ilahi dalam hal ini, jauh berbeda dengan mereka dan dari jemaat apostolic mula-mula untuk mentransfer hukum Sabat ke hari Minggu.”

Dalam Ten Rules for Living, oleh Clovis G. Chappell kita baca: “Kita harus selalu ingat bahwa Sabat adalah pemberian Tuhan bagi manusia, Kita menyadari tentunya bahwa Sabat kita tidaklah sama dengan Sabat yang dipelihara oleh orang Yahudi. Sabat mereka adalah hari ketujuh mingguan, sementara Sabat kita adalah hari pertama. Alasan kenapa kita memelihara Sabat hari pertama daripada hari ketujuh tidak berdasarkan kepada perintah positif manapun. Seseorang akan menyelidiki kitab suci dengan sia-sia untuk mencari otoritas merubah hari ketujuh ke hari pertama. Kristen mula-mula mulai berbakti pada hari pertama karena Yesus bangkit dari antara orang mati pada hari itu. Seiring lewatnya waktu hari perbaktian ini dibuat menjadi sebuah hari peristirahatan juga, sebuah hari libur legal. Ini terjadi pada tahun 321. Sabat Kristen kita dengan demikian bukanlah sebuah masalah perintah yang meyakinkan.” Halaman 61.

Tanda Binatang Dipaksakan
Kami dapat memberikan lusinan pernyataan dari banyak sumber denominasi lain, tetapi ruang tidak mengizinkan. Apa jawaban Anda atas hal ini? Dengan jelas kita telah melihat bahwa Tuhan menubuatkan kemunculan sebuah kuasa yang akan berusaha mengganti Sabat; sejarah mencatatkan bahwa kuasa itu mencoba merubah; kuasa itu sendiri mengakui bahwa dia mencoba merubahnya; dan kaum Protestan mengakui perubahan itu telah dibuat. Berapa yang akan memihak pada kebenaran Alkitab?

Dunia ini dengan cepat mendekati masa di mana Sabat Tuhan akan menjadi sebuah tes besar penurutan. Pernyataannya akan ditempatkan di hadapan seluruh penghuni bumi. Pada waktu itu saat permasalahannya jelas dinyatakan, pribadi demi pribadi akan menerima materai Tuhan atau tanda binatang. Kitab Wahyu menggambarkan pengumuman final dari pemerintahan dunia ini yang akan mencoba memaksakan tanda itu pada seluruh penghuni bumi. “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya” (Wahyu 13:16).

Sudah jelas bahwa saat ini belum ada yang menerima tanda binatang sampai itu dipaksakan lewat undang-undang legislatif pemerintahan manusia. Barulah Sabat yang benar dan palsu (Minggu) akan begitu dinyatakan sehingga tidak ada orang yang terlewat tanpa mengambil sebuah keputusan – sebuah keputusan untuk tetap memelihara Sabat dengan pikiran dan tangan, atau untuk tunduk pada Sabat palsu dari kepausan. Dalam bab berikutnya Anda akan mempelajari identitas negara yang akan mempengaruhi dunia untuk menerima Sabat palsu, dan akan mencoba memaksakan tanda kesetiaan kepada kepausan itu.

IV. AMERIKA SERIKAT DALAM NUBUATAN
Orang manapun akan bangga menjadi orang Amerika. Tentunya tidak ada tempat di muka bumi di mana kebebasan sungguh dinikmati seperti hanya di Amerika Serikat. Apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa demikian? Ada sebuah alasan untuk munculnya demokrasi di belahan bumi ini. Bukanlah sebuah kebetulan Amerika adalah ibukota kebebasan di dunia. Sebenarnya kuasa binatang di Wahyu 13 punya banyak hubungan dengan munculnya Amerika.

Anda mungkin bertanya, “Bagaimana kuasa kepausan bertanggung jawab untuk munculnya Amerika Serikat?” Itu adalah karena penganiayaan kuasa si binatang di Eropa sehingga Amerika Serikat muncul. Para pendahulu yang mengungsi untuk lari dari penganiayaan agama dari kepausan, mundur ke dunia baru benua Amerika di mana mereka dapat mengikuti kesadaran mereka untuk beribadah.

Mari kita dapatkan gambaran sekarang dari halaman nubuatan dalam Firman Tuhan. Sepuluh ayat pertama dalam Wahyu 13 menggambarkan kemunculan kuasa kepausan. Kita telah mempelajari nubuatan ini secara detil. Ayat 10 ditutup dengan gambaran penangkapan paus pada tahun 1798: “Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus.” Lalu segera Yohanes melihat seekor binatang kedua dalam penglihatannya yang dia gambarkan dalam ayat berikutnya. “Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga” (Wahyu 13:11). Mari kita dengan seksama mengidentifikasi binatang kedua ini. Ada beberapa poin yang akan menyatakan identitas kuasa ini.

Pertama-tama itu dikatakan “keluar” seiring binatang pertama menerima luka mematikannya. Karena binatang pertama (kepausan) menerima lukanya pada tahun 1798 saat jendral Berthier menangkap paus, kita harusnya melihat binatang kedua muncul pada saat itu. Ini artinya sekitar tahun 1798 kuasa ini akan muncul ke dunia. Yang kedua binatang kedua ini akan “keluar dari dalam bumi.” Ini berbeda dari yang pertama yang keluar dari air. Kita temukan dalam Wahyu 17:15 bahwa air melambangkan orang banyak dan bangsa-bangsa. Binatang yang kedua keluar dari dalam bumi adalah menggambarkan sebuah bangsa yang muncul pada suatu daerah di dunia di mana tidak ada peradaban atau kerumunan padat populasi sebelumnya. Tidak adanya air menunjukkan jarangnya orang.

Yang ketiga, bangsa ini memiliki dua tanduk seperti anak domba, dan ia tidak memiliki mahkota seperti halnya binatang pertama. Itu muncul penuh damai seperti seekor anak domba, dan tidak adanya mahkota menunjukkan tidak adanya raja yang menjadi kepalanya. Itu bukanlah sebuah kerajaan atau kediktatoran. Segala sesuatu mengenai binatang ini menandakan sebuah demokrasi yang penuh perdamaian.

Binatang Kedua Diidentifikasi
Kita sekarang siap untuk mengidentifikasi binatang yang kedua ini. Tidak diragukan lagi mengenai identitasnya. Hanya ada satu negara dalam sejarah yang memenuhi deskripsi ini. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang “keluar” pada tahun 1798, Undang-undangnya keluar tahun 1791. Juga pada tahun 1798 lah Amerika pertama kali diakui oleh sebuah kuasa dunia. Sejarawan mencatat bahwa ada sesuatu yang luar biasa dan bukanlah kebetulan dalam kemunculan negara ini.

Dengan menggenapi secara tepat nubuatan negara ini muncul di dunia baru, di mana tidak pernah ada peradaban. Itu muncul dengan penuh perdamaian, demokratis, dan mendirikan dirinya pada dua prinsip besar dari Protestantisme dan Republik. Gereja dan pemerintah agar terpisah. Para pendahulu kita telah melihat cukup banyak kejahatan dari gabungan pemerintahan dan gereja.

Mari kita baca sebuah pernyataan dari John Wesley, seorang pelajar Alkitab yang mengagumkan, dan arsitek dari gereja Methodist. Menulis pada tahun 1754 dalam kitab Perjanjian Barunya dengan catatan penjelasan setelah mengaplikasikan binatang pertama dalam Wahyu 13 kepada kepausan, dia berkata: “Binatang yang lain… Dia belumlah muncul, meskipun kemunculannya mungkin tidak lama lagi, karena dia harusnya muncul di akhir empat puluh dua bulan berkuasanya binatang yang pertama.” Hal.457. Perhatikanlah, Wesley sedang menyelidiki sebuah negara yang akan muncul dalam waktu yang dekat yang akan menggenapi gambaran nubuatan. Hanya Amerika Serikat yang dapat menggenapi penyelidikannya.

Mungkin baik kalau kita boleh berhenti di sini dalam pembelajaran kita, tetapi kita tidaklah berbuat hal yang benar kalau kita tidak membaca sisa nubuatannya. Ayat 11 dan 12 melanjutkan: “Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga. Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh.” Dengan kata lain masanya akan tiba di mana Amerika Serikat akan merubah citarasa damai dan demokratisnya. Di bawah beberapa pengaruh, itu akan mulai memaksakan penyembahan, “Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh. Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya” (Wahyu 13:14-17).

Sebuah negara berbicara lewat hukumnya. Mungkin terlihat luar biasa bagi kita seiring kita membaca hal-hal ini saat ini, bahwa Amerika Serikat akan terbujuk untuk membuat undang-undang agama, dan coba memaksa orang-orang untuk berbakti dengan cara tertentu, tetapi nubuatan belum pernah gagal. Dia akan membuat sebuah patung bagi kepausan atau mengembangkan sebuah sistem yang menyerupai kuasa tersebut. Gereja dan pemerintahan akan bersatu untuk memaksakan hukum agama dan dengan demikian mirip menyerupai sistem kepausan.

Menurut nubuatan Amerika pada akhirnya akan menginisiatif pemaksaan tanda binatang. Apa artinya ini? Apa tandanya? Berdasarkan yang Firman Tuhan telah tunjukkan kepada kita itu adalah Sabat palsu yang diinisiatifkan oleh kuasa si binatang. Pemeliharaan hari Minggu daripada Sabat Alkitab diakui sebagai tanda kesetiaan kepada gereja Katolik oleh para imam dan pemimpinnya sendiri. Akankah Amerika Serikat kemudian akan mencoba memaksakan pemeliharaan hari Minggu? Itulah tepatnya yang dinubuatkan, dan itulah tepatnya apa yang terbentuk saat ini dalam politik Amerika.

Tidak peduli seberapa besar kita dapat percaya sesuatu yang lain, saudara kita di Amerika akan mulai memakai pengaruhnya untuk mendorong pemeliharaan hari Minggu. Fondasinya bahkan sudah diletakkan. Saat ini banyak negara bagian di Amerika punya hukum hari Minggu semacam itu sebagai peraturan. Pada beberapa tempat hukum agama ini telah memberikan kesusahan ekonomi bagi para pemelihara Sabat. Beberapa kota besar telah mendesak adanya boikot bagi mereka yang menolak memelihara hari Minggu. Nubuatan dalam Wahyu 13:17 mengindikasikan bahwa sanksi ekonomi akan dipraktekkan, “dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu.”

Dekatnya Hukum Hari Minggu
Mahkamah Agung Amerika Serikat telah mengeluarkan peraturan bahwa hukum hari Minggu bukanlah tidak sesuai undang-undang atau mendiskriminasi. Ini membuka jalan bagi semua kebingungan saat ini, aturan-aturan negara bagian setempat yang bertentangan akan digantikan oleh sebuah hukum nasional yang akan menstandarkan pemaksaan hari Minggu di seluruh Amerika. Dengan langkah luar biasa yang diambil demi kendali federal akan kebebasan individu, langkah untuk mengatur hari persembahan ini tidak akan terlihat drastis pada saat itu ditetapkan.

Perhatikan ini dengan baik: Perkembangan ini sudah di ujung horizon. Mereka yang menolak menerima hari palsu peribadatan akan menghadapi denda, boikot, hukuman penjara, dan akhirnya ancaman kematian. Saat pertanyaan Sabat akhirnya ditetapkah sebagai hal nasional, orang-orang akan dipaksa memihak antara satu atau yang lainnya. Setiap orang haruslah membuat sebuah keputusan. Tanda binatang kemudian akan ditempatkan pada semua orang yang memilih untuk tidak menuruti perintah Tuhan untuk memelihara kekudusan hari Sabat. Dengan menerima tanda kesetiaan kepada kepausan (hari Minggu), mereka menolak tanda yang Tuhan nyatakan sebagai tanda otoritas-Nya – Sabat hari ketujuh.

Keputusan
Seseorang mungkin mengajukan pertanyaan, “Apa hubungan semua ini dengan saya?” Itu adalah sebuah pertanyaan yang penting, dan jawabannya jauh lebih penting. Keselamatan kekal kalian tergantung pada keputusan kalian sekarang. Anda tidaklah dapat menghindari implikasi penyingkapan ini mengenai penurutan terhadap perintah Sabat. Bukan sebuah pertanyaan mengenai kenyamanan atau ketidaknyamanan. Kita berurusan dengan hukum sepuluh perintah yang ditulis oleh Tuhan sendiri. Melanggar salah satu perintah ini adalah perbuatan dosa, dan tidak ada pendosa yang dengan sengaja akan diselamatkan. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yakobus 4:17).

Dengan cepat dunia berkonfederasi di bawah dua panji. Waktu sudah hampir habis. Pertikaian akbar ini memasuki tahapan akhirnya. Sementara oikumene menarik sebuah blok denominasi-denominasi dalam sebuah kemah bebas, yang berdasarkan terutama pada ketidaktaatan pada hukum kudus Sabat Tuhan, sebuah kelompok lagi digambarkan sebagai mereka yang “menuruti perintah Tuhan dan iman kepada Yesus” (Wahyu 14:12). Seiring ujian ini lebih mengemuka, setiap individu harus memilih antara untuk menuruti Tuhan atau manusia, untuk mengikuti perintah Tuhan atau tradisi, untuk memelihara Sabat yang benar atau Sabat yang palsu, untuk menerima materai Tuhan atau tanda binatang. Sekaranglah waktunya untuk memutuskan masalah ini. “Diberkatilah mereka yang menaati perintah-perintah-Nya, sehingga Mereka akan memperoleh hak atas pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” (Wahyu 22:14 – terjemahan literal KJV).

Leave a Reply