MATI DALAM KRISTUS

September 19, 2012 - Alfred E. Boling

Oleh Alfred E. Boling

Kematiam merupakan peristiwa yang seumur dengan keberadaan manusia Tidak dapat di sangkal  bahwa kematian sangat akrab dengan semua mahlukh hidup  bahkan juga manusia. Karena begitu dekatnya  maka pastilah tak satu pun mahkluk hidup di dunia ini yang dapat menghindarkan diri daripadanya  termasuk manusia.

 

Arti  Kematian

 

Apa itu kematian? pertanyaan ini penting karena di  tengah  masyarakat tersebar pengertian yang bervariasi tentang hal ini.

 

Suatu  kelompok masyarakat mempunyai pemahaman bahwa  kematian  adalah suatu proses perpindahan dari duni ke punya. Menurut pemahaman ini, orang yang telah mati (meninggal), akan berpindah ke Puya, dan dari sana mereka akan memberkati keturunannya yang masih hidup di dunia.

 

Pemahaman yang lain lagi ialah bahwa tubuh adalah material yang berdosa, sementara “roh” adalah sesuatu yang bersifat suci.  Terjadinya kehidupan karena terpadunya kedua hal ini.  Namun “roh” yang adalah suci itu selalu berusaha untuk meningalkan tubuh yang adalah fana.  Kematian terjadi apabila terjadi perpisahan dari  kedua unsur yang berbeda sifat ini.  Tubuh tetap tinggal di dunia yang fana, sedangkan “roh” kembali ke alam baka.  Pemahaman seperti ini berkembang sangat kuat, bahkan telah menjadi semacam “pengertian” di kalangan orang Kristen sekalipun, sehingga tidak sedikit orang Kristen yang mempunyai pemahaman bahwa apabila seorang meninggal dunia, maka pada saat itu juga ia telah berada di Surga.  Sebagai bukti, seorang anak balita pernah bertanaya kepada ayahnya,  “Ayah, kemanakah  ibu, sehingga belum juga pulang?  Di manakah ibu berada sekarang?”  Sambil membelai dan menatap anaknya, ayah itu kemudian menjawab, “Nak, ibumu sekarang berada di Surga, ia telah bertemu dengan Tuhan.”  Jawaban ini diberikan karena ibu dari anak tersebut telah meninggal dunia.   Jawaban yang sama datang dari Ibu Lusi Kembuan dari surabaya, ketika diwawancarai oleh Metro TV pada tanggal 11 Januari 2007 sehubungan dengan hilangnya 17 (tujuh belas) anggota keluarganya dalam kecelakaan pesawat boing 737 milik Maskapi penerbangan Adam Air pada tanggal 1 Januari 2007, ia mengatakan bahwa “kami percaya bahwa mereka sudah berada di Surga.”

 

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah :  benarkah orang yang mati sudah berada di Surga?  Apakah yang Alkitab katakan tentang kematian?

 

 

Kematian Menurut Akitab.

 

Di dalam Alkitab, kata “mati” pertama kali ditemukan di dalam kitab Kejadian 2:17.  Ayat Alkitab itu berbunyi sebagai berikut:  “… semua pohon di dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yanbg jahat itu, jangan kamu makan buahnya, sebab pada saat engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 

Kata “mati” pada konteks ini erat hubungannya dengan ketidaksetiaan manusia terhadap perintah dan larangan Allah.  Alkitab menegaskan kepada kita bahwa setelah Adam dan Hawa memakan buah itu, mereka masih hidup dan berketurunan, dan kematian yang pertama baru terjadi ketika Habel, anak kedua  dari pasangan suami istri pertama di dunia ini dibunuh oleh kakaknya, Kain (Kejadian 4:8).  Tetapi bukankah Tuhan berfirman kepada mereka bahwa “… pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati?”

 

Kitab Kejadian 3:10-13 mencatat pengakuan nenek moyang manusia ini bahwa ketika mereka mengetahui bahwa Allah ada di dalam taman Eden, mereka menjadi takut karena telanjang, sebab mereka telah memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Tuhan untuk dimakan.

 

Dengan demikian maka “mati” yang dimaksudkan di dalam kitab Kejadian 2:17 mempunyai  makna ganda, yaitu, yang pertama ialah:  mati secara rohani, yaitu hilangnya kemuliaan Tuhan, atau citra Allah, yang menjadi pakaian mereka.  Hal ini merupakan pertanda putusnya hubungan mereka dengan Tuhan, Pencipta alam semesta.  Yang kedua ialah:  mati secara fisik, yaitu putusnya nafas dari raga, dan kematian yang pertama dialami oleh Habel.

 

Pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah, apapun bentuknya, adalah pemberontakan terhadap Allah, dan akibatnya ialah putusnya hubungan dengan Allah.  Jika hal ini terjadi, kematian adalah hal yang takterelakkan oleh manusia (Roma 3:23; 6:23).

 

Tujuan Penciptaan Manusia.

 

Pada mulanya Allah menciptakan manusia itu sempurna, suci, tanpa cacat dan cela.  Tujuan Allah menciptakn manusia agar supaya manusia memuliakan Tuhan.  Allah ingin bergaul dengan ciptaaa-Nya dalam keadaan suci, tanpa cela.  Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia  sesuai dengan gambar-Nya (Kejadian 1:27).  Berbeda dengan ciptaan yang lainnya, manusia dilengkapi dengan kecerdasan, dan dengan kecerdasan ini manusia dapat membuat keputusan secara sadar untuk berpihak kepada Allah, atau bahkan mungkin membuat keputusan yang bertentangan dengan kehendak-Nya.  Inilah yang disebut dengan kuasa memilih.  Atas dasar (prinsip) kuasa memilih ini, Allah kemudian memberikan rambu-rambu, yaitu rambu-rambu serta konsekwensinya, sebagai berikut:

 

Perintah : “Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas.

 

Larangan: “Tetapi pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu, jangan kamu makan buahnya.”

 

Konsekwensi:  “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 

Dengan rambu-rambu ini, Allah merencanakan suatu kehidupan yang kekal, suci, dan tanpa dosa.

 

Tetapi ketika Setan dihalau dari Surga dan datang ke bumi (Wahyu 12:7-9; Lukas 10:18), dengan menggunakan ular yang cerdik, ia memperdaya manusia dengan cara memutadbalikan firman Allah, dengan berkata:  “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi … pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4, 5).

 

Allah tidak permah merencanakan penderitaan bagi manusia.  Sebaliknya, rencana Allah agar manusia hidup suci,  tanpa dosa, dan selamanya memuliakan Allah.  Rencana ini menjadi rusak ketika Setan datang ke dunia dan memperdaya manusia serta  “menanamkan benih pemberontakan ketika ia menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang berarti ketidaksetiaan kepada Allah,”[1]  dan terjadilah kematian.

 

Keadaan Orang Mati.

 

Kisah kematian Habel telah merupakan penjelasan yang baik kepada kita tentang kematian, dan peristiwa itu kemudian menjadi arti yang lebih diterima oleh seluruh umat manusia, bahwa ketika manusia itu mati, ia tidak lagi bernapas, berinteraksi, dan berkreativitas.

 

Alkitab memberikan penjelasan yang lebih baik tentang keadaan orang mati, yaitu bahwa “… orang yang mati tidak tahu apa-apa, tidak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.  Baik kasih merek, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tiak ada bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari” (Pengkhotbah 9:5, 6).

 

Jika demikian, ke mana orang yang sudah mati itu pergi?  Ke Neraka, ke Puya, atau ke Surga, sebagaimana paham dari kebanyakan orang?            Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh orang-orang pada zaman rasul Petrus, dan pertanyaan itu dijawabnya dalam khotbahnya dengan berkata:  “Saudara-saudara, aku boleh berkata terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita.  Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini” (Kisah Para Rasul 2:29).  Hal yang sama dilakukan terhadap mayat Adam dan anak cucunya.

 

Dikuburkan berarti dikembalikan kepada asalnya.  Alkitab mengatakan bahwa  “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikian manusia itu menjadi makluk hidup” (Kejadian 2:7).

 

Berdasarkan ayat Alkitab di atas, komposisi manusia terdiri dari:  debuh tanah dan napas hidup.  Debu tanah karena dibuat dari tanah, salah satu elemen bumi.  Itulah sebabnya ketika seorang meninggal dunia jazatnya dikuburkan, dikembalikan ke asalnya.  “Debu kembali menjadi tanah seperti semula”(Pengkhotbah 12:7).  Napas hidup berasal dari Allah, si pemberi hidup, karena Allah yang menghembuskan napas hidup ke dalam hidung Adam, maka kehidupanpun berawal.  Kuasa Allah nyata pada peristiwa ini. Bagaimana udara bisa masuk keluar melalui hidung manusia dan menjadi pemicu sistem kerja dalam tubuh, dan bagaimana ini bisa berakhir, sulit dijelaskan oleh para ahli .Ketika seorang meninggal, napas hidup itu hilang daripadanya . Sebagaimana nyala lilin hilang ketika ditiup, demikian hilangnya napas hidup, tidak seorangpun tahu . Tetapi Alkitab memberikan jawaban yang pasti  bahwa  “… roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya;  (Pengkhotbah  12:27. baca juga 3-22 ).

 

Kematian Sebagai Berkat.

 

Setelah mengaku perbuatan mereka bahwa mereka telah melanggar hukum Allah, yang adalah rambu-rambu, Allah menyampaikan  akibat langsung  dari pelanggaran kepada Adam, Hawa dan juga ular.  Kepada ular,   ia harus menjalar dengan perut, dan makanannya ialah debu tanah  (Kejadian 3:14).  Kepada Hawa, susah payah waktu mengandung  akan sangat banyak, dan dengan kesakitan akan melahirkan anak     (Kejadian 3:16) Kepada Adam,ia harus meningalkan taman Eden, dan mencari makanan di semak belukar dan tumbuhan padang. Dengan bekerja keras ia bisa mempertahankan kehidupan hingga akhir hayat  (Kejadian 3: 18,19 ).

 

Sebagai ganti dari pakaian kemuliaan yang telah hilang, mereka mengenakan pakaian dari kulit binatang.  Maka berfirmanlah Allah:  “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti … Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat, maka sekarang jangan sampai mereka mengulurkan tangan dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakakannya, sehinga ia hidup untuk selama-lamanya.Lalu Tuhan Allah mengusir diadari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana dia di ambil” (Kejadian 3:22, 23).  Dari ayat-ayat selanjutnya kita dapati bahwa Allah kemudian menempatkan beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala disebelah timur taman Eden, menjaga jalan kepohon kehidupan .

 

Ada apa dengan pohon kehidupan ? mengapa Allah harus menempatkan kerup untuk menjaga pohon itu, sementara manusia sudah dihalau keluar dari taman Eden.?

jawabannya ialah bahwah “Pohon kehidupan mempunyai khasiat untuk mengabadikan hidup, dan selama mereka  memakan  buahnya , mereka tidak dapat mati . Buahnya mencega kematian, dan daunya menopang kehidupan kekal.’’[2]  Rasul

Yohanes memberikan kesaksian yang sama tentang pohon kehidupan bahwa pohon kehidupan berbuah dua belas kali setahun. Daun pohon itu menyembuhkan bangsa –

bangsa (baca Wahyu 22:2 ) .

 

Adam dan istrinya telah mendapat kutukan dari Allah akibat pelanggaran, dan penderitaan demi penderitaan akan segera mereka alami.   Coba bayagkan bagaimana keadaan dunia sekarang ini ketika orang berdosa dengan berbagai jenis kejahatan, penderitaan, baik secara fisik, mental, dan ekonomi, sejak zaman Adam hingga sekarang  masih tetap hidup, dan terus bertahan hidup dalam penderitaan, karena terus memakan buah pohon kehidupan tersebut.  Jika hal itu terjadi, tentu Setan tidak dapat dipersalahkan ketika ia menuduh Allah bahwa Allah adalah kejam, karena menciptakan manusia dan membiarkan mereka menderita untuk zaman kekekalan.

 

Tetapi penderitan bukanlah rencana Allah bagi manusia; dan bahwa Allah kita adalah Allah yang maha Pengasih dan maha Penyayang. Ia memberikan kutuk kepada manusia, tetapi pada saat yang sama mengubahnya menjadi berkat, dan  hal itu ialah kematian, ya! kematian adalah suatu berkt.”    Betapa tidak, walaupun Setan, melalui kuasa spiritismenya, berupaya meyakinkan umat manusia bahwa Allah itu kejam, sehubungan dengan kematian yang harus dialami oleh manusia, namun sesungguhnya kematian adalah meruapakan berkat, karena penderitaan yang dialami oleh setiap prisbadi harus berakhir melalui kematian, sehingga dunia ini tidak penuh dengan penderitaan dan kejahatan.

 

Demikianlah akhir dari kehidupan manusia di dunia ini berawal, yaitu pelangaran terhadap perintah dan larangan Allah itu terjadi.  “Sebab  … oleh satu pelangaran semua orang beroleh pehukuman …” (Roma 5:19), namun bukan manusia yang dihukum, tetapi seluruh dunia, sebagaimana bunyi firman Tuhan:  “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri.  Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemurunya yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang diam di atasnya akan hilang lenyap.  Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kami harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan memperceapat kedatangan hari Allah.  Pada hari itu langit akan binasa dengan dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya” (2 Petrus 3:10-12).

 

Namun kematian bukanlah akhir dari segalanya.  Sebagaimana rencana Allah menciptakan manusia, yaitu agar manusia hidup suci tanpa dosa dalam kemuliaan Tuhan, maka Allah atelah menyediakan sarana untuk mana manusia boleh kembali kepada keadaan semula, yaitu keadaan tanpa dosa sebagaimana sebelum berdosa, dan sarana itu dikenal sebagai Karya Keselamatan.  Apakah karya keselamatan itu, dan apa saja sarannya?

 

Rencna Penebusan

 

Suatu hal yang perlu diketahui ialah bahwa walaupun manusia sudah melanggar ketetapan Allah dan berdosa terhadap-Nya, namun Ia masih tetap pada rencana-Nya semula, yaitu agar manusia hidup dalam satu keadaan yang suci dan bergaul bebas dengan Dia.  Hal ini benar karena ketika menyampaikan dampak dari pelanggaran tersebut yang akan segera dialami oleh Adam,  Hawa, serta ular, sehubungan dengan pelanggaran masing-masing,  kepada mereka Allah menyampaikan reancana penebusan melalui Yesus Kristus, dan keselamatan melalui Dia.  Rencana tersebut berbunyi sebagai berikut:  “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya;  keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).  Ini adalah rencana untuk mengalahkan Setan sekaligus menebus mereka yang telah berdosa.

 

Rencana penebusan ini bukanlah suatu hal yang baru terpikirkan dan baru dirancang setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.  “Kehadiran Yesus sebagai domba tebusan bukanlah suatu rencana dalam keadaan darurat yang diperkenalkan untuk biaya takterduga dari apa yang telah terjadi, melainkan adalah bahagian dari rencana kekal Allah.”

 

Yesus telah dipilih untuk menjdi kekudusan dan kemiliaan manusia sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4; 1 Petrus 1:20; 1Korentus 2:7),  “dan dalam rapat dewan surga, waktu untuk peristiwa ini telah ditentukan.”

 

Rencana penebusan ini kemudian digenapi ketika   “… Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia  4:4, 5).

 

Kristus yang adalah Pencipta segalanya (Yohanes 1:3), namun Ia rela membayar upah dosa manusia, dan dalam pengertian ini, Dia adalah “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29, 36).   Ia rela menjadi sama dengan manusia yang adalah ciptaan-Nya, dan bahkan menjadi hamba untuk melayani manusia  (Filipi 2:5-7), dan sebagaimana manusia, Ia merasa lapar (Matius 4:2),merasa haus (Yohanes 19:28), merasa letih (Yohanes 4:6), namun tidak berdosa (Ibrani 4:15).  Dalam keadaan seperti ini, seluruh kejahatan dan dosa kita sekalian ditimpahkan kepada-Nya (Yesaya 53:8;  2 Korentus 5:21), dan Ia bahkan rela “kena kutuk” karena kita (Galatia 3:13).

 

Sebelum disalibkan mati untuk menebus manusia dari dosa, Ia berjalan dari satu kampung ke kampung yang lain untuk menawarkan keselamatan yang dibawa-Nya, melalui mengajar, memberi amaran, membuat mujizat, serta menunjukkan belas kasihan kepada  mereka yang hidup pada zaman itu, dan bahkan kepada mereka yang hidup di sertiap zaman.

 

Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia membayar hukuman kematian untuk dosa-dosa kita, sehingga pengampunan dapat menjadi milik kita, dan bukan hanya kita, tetapi semua orang dari seluruh bangsa di bumi, yang menerima darah-Nya dengan iman.  Inilah alasannya mengapa   “… Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya (yaitu kita, semua manusia) supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibrani 2:17).

 

Kita percaya bahwa setelah mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkit pada hari yang ketiga, Yesus kini berada di surga.  Sesuai dengan janji-Nya Ia akan datang menjemput kita (Yohanes 14:1-3).

 

Yesus Kristus Dan Kematian

 

Ketika itu Lazarus sedang sakit.  Yesus tidak berada di Betania.  Di antara Yesus dan Lazarus serta kedua saudarinya, Maria dan Martha,  telah terjalin kasih persaudaraan yang yang akrab.  Oleh karena sakitnya bertambah parah, diutuslah kurir untuk menyampaikan pesan kepada Yesus.  Berita tiba kepada Yesus ialah:  “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit” (Yohanes 11:3).   Sambutan Yesus terhadap berita itu ialah, “Penyakit itu tidak akan membawa kepada kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ayat 4).  Stelah mendengar berita itu, Yesus masih tinggal dua hari lagi, kemudian Ia mengajak para murid-Nya menuju ke rumah duka.  Bagi Yesus, kematian Lazarus hanyalah tidur, dan Ia pergi untuk membngunkan Lazarus dari tidurnya (ayat 11).  Dari Alkitab kita memperoleh catatan bahwa ketika Yesus tiba, Lazarus sudah empat hari berada di dalam kubur (ayat 17).

 

Ketika mendengar bahwa Yesus sudah tiba, Martha pergi mendapatkan-Nya, sementara Maria tinggal melayani banyak orang yang datang melayat dan memberikan simpati karena duka yang dialami oleh mereka.  Dengan rasa duka yang dakam Martha menyapa Yesus dan berkata kepada-Nya:  “Tuhan, sekiranaya Engkau berada di sini, saudaraku pasti tidak mati.  Tetapi sekarangpun aku tahu,  bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu  segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (ayat 22).  Yesus kemudian memberikan jaminan kepada Martha dengan berkata, “saudaramu akan bangkit” (ayat 23).

 

Sebagai seorang yang percaya kepada Yesus serta percaya kepada kebangkitan orang mati, Martha kemudian menanggapi pernyataan Yesus dengan berkata:  “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman (ayat 24).  Yesus menanggapi argumentasi Martha dengan berkata:  “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa yang percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup yang percaya kepada-Ku tidak akan mati untuk selama-lamanya” (ayat 25, 26).

 

Mendengar kata-kata Juruelamat itu, Martha berlari menemui Maria, saudarinya,  mengajaknya untuk bertemu dengan Yesus.  Ketika Maria beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju tempat Yesus berada, orang banyak menyangka bahwa Maria akan pergi meratap di kuburan Lazarus, maka merekapun berduyun-duyun mengikutinya (ayat 31).  Setibanya di tempat yesus berada, tersungkurlah Maria di kaki Yesus sambil berkata:  “Tuhan, sekiranya Engkau berada di  sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 32).

 

Melihat Maria menangis tersedu-sedu, dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersamanya, Yesus sangat terharu dan merasa sedih.  Sang Guru lantas bertanya kepada Maria,  serta banyak orang yang berada di sekitar-Nya:  “Di manakah dia kamu baringkan?”  Ketika Maria dan orang banyak itu mengajak-Nya untuk melihat kubur Lazarus, mereka dapati Yesus meneteskan air mata duka  (ayat 33-35).

 

Tiba di kubur, Yesus menyuruh mengangkat batu penutup kuburan, tetapi Martha berupaya mencegah hal itu dengan berkata:  “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39).  Batu kemudian diangkat.  Setelah memohon restu Surga, denga suara keras Yesus memanggil orang mati itu dengan berkata:  “Lazarus, mari keluar” (ayat 43).  Orang yang telah empat hari mati itu berjalan keluar dengan keadaan tertutup kain.

 

Kisah Lazarus merupakan contoh terbaik tentang mati dalam Kristus.  Bagi Yesus Kristus, kematian Lazarus hanyalah tidur, dan benar bahwa Yesus kemudian pergi untuk membangunkan dia dari tidurnya.  Setiap orang yang mengaku mengenal Kirstus dan bergaul akrab dengan-Nya sebagaimana Lazarus, kematian mereka hanyalah nerupakan tidur.  Tetapi bagaimana mungkin kita bisa bergaul akrab dengan Dia sementara Dia tidak lagi hidup secara fisik di dunia ini?

 

Adalah benar bahwa secara fisik kita tidak dapat  melihat Dia, tetapis secara rohani kita percaya bahwa Dia menyertai kita (Matius 28:20), dan bahwa melalui firman-Nya yang tertulis, Alkitab, kita dapat mengetahui cara menjalin hubungan dan bergaul akrab dengan Dia.  Betapa pentingnya bergaul akrab dengan Yesus, karena hanya dengan cara demikian kita bisa bersahabat dengan Dia.  Sebagai sahabat, tentu kita akan dengan senang hati melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita(Yohanes 15:14).  Sehubungan dengan hal ini Yesus berkata:  “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:  Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga (Matius 7:21).   Yesus kemudian melanjutkan perkataan-Nya:  “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku:  Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku berterus terang kepada mereka dan berkata:  Aku tidak pernah mengenal kamu!  Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22, 23).   Yesus ingin mengatakan bahwa walaupun ada orang yang merasa mempunyai karunia untuk membuat banyak mujizat, mengusir Setan, atau bahkan bernubuat dengan menggunakan nama Yesus, tetapi mengabaikan perintah dan larangan Allah Bapa, mereka itu adalah pembuat kejahatan dan tidak dikenal oeh Yesus.  Mengapa? orang-orang seperti ini hanya baik secara moral tetapi tidak benar secara rohani.

 

Pada konteks ini Yesus tidak memberikan syarat ‘selamat oleh penurutan,’ atau lebih jelasnya, menurut Perintah Allah baru memperoleh keselamatan.   Namun sebaliknya, karena kita telah diselamatkan oleh Yesus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib maka kita wajib menempatkan diri kita pada sisi penurutan.

 

Yang mengakibatkan hilangnya kemuliaan Allah dari manusia pertama di atas bumi yang diikuti dengan kematian fisik ialah oleh karena mereka tidak menempatkan diri mereka ada sisi penurutan kepada kehendak Allah.  Alkitab mengatakan kepada kita bahwa jika kita mengaku mengenal Yesus tetapi tidak menempatkan diri pada sisi penurutan, kita tidak layak bagi Dia.   Ingat bahwa Setan juga mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus, hanya saja tidak menempatkan dirinya pada sisi penurutan pada kehendak Allah (baca Kisah 16:16-18; Yakobus 2:19). Hal inilah yang membuat Setan menjadi musuh Allah.

 

Sehubungan dengan penurutan, rasul Yohanes menulis:  “Barang siapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.  Tetapi barang siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia” (1 Yohanes 2:4, 5).

 

Menempatkan diri pada sisi penurutan akan kehendak Bapa adalah merupakan cara hidup Yesus, sehingga Surga berkenan kepada-Nya. Jika kita menempatkan diri kita pada sisi penurutan akan kehendak-Nya, maka kasih Allah sempurna di dalam kita, dan Allah memandang kita seolah-olah tidak pernah berbuat salah.

 

Jika hubungan persahabatan kita dengan Kristus sudah akrab seperti ini, apa yang harus kita takuti?  Bagi kita kematian hanyalah tidur, ya! tidur dalam menjalani penantian kedatangan Kristus.  Bila Sang Penebus itu datang, Ia akan membangunkan semua umat tebusan dari tidur dan membawa mereka ke negeri perjanjian, ke dalam Rumah Bapa-Nya.

 

Kebangkitan Orang Mati

 

Rasul Paulus berkata:  “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, Tuhan sendiri akan turun dari Surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup yang masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan  mereka  dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.  Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tesalonika 4:16, 17).

 

Pernyataan ini benar, karena demikianlah rencana Allah bagi manusia, yaitu bahwa Yesus akan membangkitkan umat-Nya pada akhir zaman (Yohanes 11:23-26).

Pernyaan ini sekaligus membantah anggapan bahwa orang mati itu sudah berada di Surga.  Jika adalah benar bahwa orang mati sudah berada di Surga,  sebagaimana pemahaman kebanyakan orang, tentu adalah tidak benar dan tidak masuk akal  jika Yesus akan datang pada kali yang kedua untuk menjemput umat-Nya, termasuk membangkitkan mereka yang sudah mati.

 

Kematian terjadi oleh karena pemberontakan manusia terhadap Allah melalui ketidaktaatan terhadap perintah dan larangan Tuhan, yaitu hukum-Nya.  Hal inilah yang mengakibatkan hilangnya citra Allah.

 

Jika kita mengaku percaya kepada Yesus, berarti kita telah menempatkan diri pada sisi penurutan, sebagaimana Yesus, menempatkan diri pada sisi penurutan akan perintah Allah.  Dengan menempatkan diri pada sisi penurutan terhadap kehendak Allah maka kita telah berdamai, atau “didamaikan dengan Allah” (2 Korintus 15:20).  Dalam hal  ini, yang telah mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan yang masih hidup akan “diubah dalam sekejap mata” (2 Korintus 15:51, 52) dan mengenakan suatu keadaan “yang tidak dapat binasa” (2 Korintus 15:53).  “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati mengenakan yang tidak dapat mati” (2 Korintus 15:54), barulah akan diangkat ke Surga, kerajaan kekal yang dijanjikan-Nya kepada kita, dan hidup selama-lamanya dengan Tuhan.

 

Demikianlah rencana Allah untuk memulihkan manusia dari dosa akan terwujud,  saat mana umat manusia yang telah ditebus akan akan hidup bersama dengan Pencipta, Penebus, dan Juruselamat mereka, bergaul, berceangkrama, serta berbicara muka dengan muka.  Betapa suatu kabar baik yang sangat menyenangkan.

 

Inilah inti pengharapan Kristen, inilah kebenaran keselamatan, kebenaran tentang jaminan kehidupan jika mati dalam kepercayaan kepada Yesus.

 

Tentu anda ingin menikmati kehidupan indah dan abadi ini kan?  Untuk itu percayalah kepada Yesus dan tempatkanlah diri anda sisi penurutan, ya! penurutan akan kehendak Allah, termasuk perintah dan larangan-Nya.

 

Ingat bahwa kita dibenarkan melaui iman kita kepada Yesus, tetapi kita akan dihakimi berdasarkan perbuatan kita, dan segala kwalitas dan aktivitas rohani kita harus serasi dengan standar Tuhan, yaitu perintah dan larangan-Nya.

 

Kiranya anda memperoleh berkat rohani ayang melimpah dari tulisan yang sangat sederhana ini, a m i n.

› tags: Kristus / mati /

Leave a Reply