Melihat dari Kaca yang Buram

PELAJARAN KE-VII; 16 Februari 2013
“MELIHAT DARI KACA YANG BURAM”

Sabat Petang, 9 Februari
PENDAHULUAN

Teologia alam. William Paley (1743-1805) adalah seorang filsuf Kristen berkebangsaan Inggris yang terkenal dengan kegigihannya membela eksistensi Allah melalui argumentasi teologis berdasarkan desain dan tujuan penciptaan bumi dan alam semesta. Paley tersohor dengan karya tulisnya berjudul Natural Theology (1802) yang berpendapat bahwa pengenalan manusia akan Allah sebagai Pencipta dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap alam, dengan mempelajari tujuan atau penyebab akhir dari penciptaan bumi dan manusia.

Argumentasi ini didasarkan pada sebuah doktrin yang disebut teleologi (dari kata Yunani τέλος, telos, yang berartiakhir, tujuan atau maksud), yaitu “sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan” (lihat Wikipedia Indonesia). Dalam perspektif filosofis-religius, teleologi ialah mempelajari gejala-gejala desain dan keteraturan proses pada alam karena adanya suatu tujuan akhir yang merujuk kepada maksud penciptaan. Menariknya, buku Natural Theology itu adalah bacaan kesayangan yang paling mengesankan bagi Charles Darwin, pencetus teori evolusi, ketika menjadi mahasiswa strata satu di Christ’s College, Inggris.

“Namun, Paley kemungkinan telah berlebihan dalam beberapa hal, karena dia gagal memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh dosa dan Kejatuhan terhadap alam, tetapi secara umum argumentasinya tidak pernah disanggah–terlepas dari banyaknya dan gencarnya gugatan yang sebaliknya!” [alinea pertama: kalimat terakhir].

Sepintas lalu pandangan dalam buku Teologi Alam dengan konsep teleologi tersebut mirip dengan pernyataan pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2-3). Tetapi, sekalipun alam bisa bercerita kepada manusia tentang keberadaan Sang Pencipta dan kuasa ilahi yang menciptakan dan mengencalikan alam semesta, kondisi alam sekarang ini sudah sangat jauh merosot dibandingkan pada waktu diciptakan pertama kalinya dan sebelum dirusak oleh dosa.

Anda tidak dapat menilai kehebatan sesungguhnya dari seorang atlet maraton pemenang medali emas Olimpiade tiga puluh atau empat puluh tahun lalu dengan memperhatikan dia berlari sekarang ketika si atlet sudah menjadi uzur; kita pun tidak bisa menghargai kepiawaian seorang pelukis kawakan berdasarkan lukisan-lukisannya yang cacat dan lapuk karena kesalahan kolektornya yang tidak telaten mengurus lukisan-lukisan itu. Begitu juga, kita tidak dapat menakar kuasa penciptaan Allah yang sesungguhnya dengan mengamati daun-daun yang menjadi kering dan jatuh terkulai ke tanah disentuh angin, dan kita juga tidak dapat mengukur kedahsyatan kuasa Allah berdasarkan kemampuan berpikir kita yang sudah jauh merosot dan dengan cara berpikir yang sudah menyeleweng. Dosa yang telah menyebabkan semua itu, maka kita tidak mungkin membuat kesimpulan yang tepat perihal kuasa penciptaan Allah berdasarkan kondisi dari karya ciptaan-Nya yang sudah dirusak oleh dosa.

Sekalipun demikian, meskipun dosa sudah merusak kecemerlangan bumi dan segala isinya, tidak pernah sesaat pun Allah kehilangan kepemilikan-Nya atas bumi ini dengan segala isinya. Atas pilihan manusia, dan karena Allah menghargai hak kebebasan memilih manusia itu, Setan dibiarkan untuk mengacak-acak bumi ini. Namun Setan tidak pernah memiliki planet ini apalagi alam semesta, dan Allah tetap memegang kendali.

Pena inspirasi menulis: “Hendaknya jangan seorang pun memelihara angan-angan bahwa Tuhan Allah surgawi dan pemilik bumi ini tidak mempunyai hukum untuk mengendalikan dan memerintah milik-Nya…Kita berkewajiban untuk diatur oleh kehendak-Nya, untuk mengakui Dia sebagai Penguasa kita yang tertinggi. Kita berkewajiban untuk sepakat dengan seluruh rencana dan rancangan-Nya” (Ellen G. White, Review and Herald, 9 Maret 1897).

Minggu, 10 Februari
ALLAH MENGKLAIM MILIK-NYA (Bumi Adalah Milik Tuhan)

Dasar kepemilikan. Kita sudah pelajari bahwa kita manusia adalah milik Allah karena dua alasan: penciptaan dan penebusan. Bukan saja manusia, tetapi juga bumi ini. “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1); “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (Yes. 43:1); “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah–dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor. 6:19-20).

Banyak orang berpikir bahwa ayat-ayat di atas hanya berlaku bagi orang Kristen atau mereka yang percaya kepada Tuhan, tapi tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak beragama atau tidak menyembah Allah yang benar. Tetapi faktanya tidaklah demikian, Allah mengklaim pemilikan-Nya atas “bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Buktinya, Allah mencurahkan hujan dan memberikan sinar matahari yang menopang kehidupan seluruh penghuni planet ini. Logika hukumnya, hanya pemilik yang dapat mengklaim kepemilikannya atas sesuatu obyek, sedangkan obyek itu sendiri tidak bisa mengklaim bahwa dirinya adalah milik si anu atau bukan. Manusia adalah milik Allah oleh karena “manusia diciptakan oleh Allah” dan dibuat “menurut rupa Allah” (Kej. 5:1). Hanya apabila seorang manusia berubah menjadi kera atau kerbau, dan dengan demikian tidak lagi memiliki rupa Allah, maka dia dapat menyangkal kepemilikan Allah atas dirinya.

Pena inspirasi menulis: “Bumi ini adalah lumbung Tuhan, dari mana kita terus mengambil. Dia telah menyediakan buah-buahan dan biji-bijian serta sayur-sayuran untuk makanan kita. Bagi kita Dia membuat matahari bersinar dan hujan turun. Segenap keluarga umat manusia, baik maupun jahat, terus-menerus mengambil dari lumbung Allah” (Ellen G. White, Review and Herald, 17 Desember 1901).

Selain atas dasar penciptaan dan penebusan, kepemilikan Allah atas manusia adalah juga karena kita memperoleh makanan dan minuman yang dihasilkan oleh bumi ini. Bahkan, oksigen yang sangat vital bagi kehidupan kita hirup dari atmosfir yang menyelimuti bumi ini. Kalau bukan karena sumber-sumber alami untuk menopang kehidupan yang disediakan Allah di bumi ini tak seorang manusia pun dapat bertahan hidup.

“Tidak hanya dunia yang menjadi milik Allah, Dia juga mengklaim kepemilikan atas setiap makhluk di bumi. Tidak ada makhluk lain (setidaknya yang kita tahu) mempunyai kuasa untuk menciptakan kehidupan. Allah adalah satu-satunya Pencipta, dan dengan demikian adalah pemilik pokok dari setiap makhluk. Kita semua bergantung sepenuhnya pada Allah untuk keberadaan kita. Kita tidak dapat memberikan apa-apa kepada Allah kecuali kesetiaan kita; segala sesuatu yang lain di bumi ini sudah menjadi milik-Nya” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang kepemilikan Allah atas bumi ini dan segala isinya?
1. Allah mengklaim sebagai pemilik bumi ini dan segala isinya atas dasar penciptaan dan penebusan. Allah telah menciptakan manusia menurut citra dan rupa Allah, dan citra itu tidak pernah diambil dari manusia. Selama citra Allah melekat pada diri kita, mau tak mau kita adalah milik Dia.
2. Sekalipun bumi ini sudah dikutuk dan manusia sudah mendurhaka kepada-Nya, Allah tidak pernah menghentikan suplai makanan yang dihasilkan oleh bumi ini, dan kita pun tiada henti-hentinya menikmatinya. Selain makanan dan minuman, manusia juga menghirup udara supaya bisa terus bernafas dan hidup.
3. Menyangkal kepemilikan Allah dan menolak eksistensi Sang Pencipta sambil terus-menerus menikmati sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh bumi ciptaan-Nya, itu sama saja dengan seorang anak yang tidak mengakui orangtuanya tapi sementara itu dia tetap tinggal di rumah orangtuanya dan makan dari makanan yang disediakan oleh orangtuanya.

Senin, 11 Februari
TERKUTUK AKIBAT DOSA MANUSIA (Satu Dunia yang Telah Jatuh)

Bumi yang sudah berubah. Secara substansial bumi yang Allah jadikan pada minggu penciptaan masih tetap seperti ini, tidak menciut atau pun bertambah besar. Namun secara situasional banyak hal telah berubah antara bumi saat diciptakan pertama kalinya dengan bumi yang kita lihat sekarang. Keadaan makhluk-makhluk yang mendiaminya, kondisi lingkungan hidupnya, dan interaksi di antara penghuninya sudah sangat berubah. Meskipun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kelihatannya telah membuat kehidupan manusia jauh lebih nyaman sekarang ini ketimbang pada zaman purba dahulu, bukan berarti kenikmatan dan kebahagiaan hidup zaman sekarang lebih baik daripada zaman dulu. Begitu juga, suasana kehidupan di Taman Eden sebelum ada dosa sudah tentu jauh lebih membahagiakan bagi manusia, sekalipun mereka belum mengenal teknologi apapun.

Sebagian orang mungkin membayangkan, alangkah tidak menyenangkannya hidup manusia seratus tahun lalu ketika belum ada komputer, internet, telpon genggam, mobil, dan perangkat-perangkat teknologi lain. Dalam batas-batas tertentu pemikiran seperti itu ada benarnya. Tapi pertanyaannya, apakah manusia yang hidup seratus tahun lampau itu memang membutuhkan teknologi seperti yang kita miliki sekarang? Belum tentu. Kalau kiamat belum tiba, barangkali empat atau lima generasi dari sekarang kehidupan manusia sudah jauh berbeda dari sekarang, dan cucu-cicit kita kelak akan berpikir betapa kunonya manusia yang hidup di tahun 2013 “dulu” itu dibandingkan dengan zaman mereka yang mungkin kemajuan iptek pada waktu itu sudah menyediakan jasa penerbangan ke bulan dan Mars atau pesiar ke angkasa luar. Pertanyaannya, apakah kita sekarang memang membutuhkan pelesir seperti itu? Belum tentu.

Bumi yang terkutuk. Vonis Allah atas dosa manusia berdampak pula pada bumi ini. Allah berfirman, “Karena perbuatanmu itu, terkutuklah tanah. Engkau harus bekerja keras seumur hidupmu agar tanah ini bisa menghasilkan cukup makanan bagimu. Semak dan duri akan dihasilkan tanah ini bagimu, dan tumbuh-tumbuhan liar akan menjadi makananmu” (Kej. 3:17-18, BIMK). Kata asli yang diterjemahkan dengan tanah dalam ayat 17 adalah אֲדָמָה, ‘adamah, yang berarti juga bumi seperti digunakan dalam Kej. 1:25 dan 6:7, 20. Sebelum dikutuk, bumi hanya mengeluarkan hasil yang baik, setelah dikutuk bumi masih mengeluarkan hasil yang baik juga, tetapi sekarang ditambah dengan duri dan onak yang seringkali bertumbuh lebih cepat dari buah-buahan yang lezat dan bunga-bunga yang indah. Potensi tanah untuk menghasilkan panen yang baik juga berkurang (Kej. 4:12), itu pun setelah manusia mengolahnya dengan susah payah (Kej. 5:29).

“Kutuk atas tanah karena Adam pasti mencakup hortikultura (dunia pertanian), karena hasilnya termasuk bertumbuhnya duri dan onak. Dampaknya ialah bahwa seluruh Ciptaan terpengaruh oleh kutukan akibat dosa” [alinea kedua: dua kalimat pertama].

Bahkan, kutukan terbesar dan paling fenomenal ialah ketika Allah menghancurkan seluruh bumi ini dan membinasakan hampir semua ciptaan yang hidup di atasnya, dengan hanya menyisakan delapan orang dari seluruh manusia yang hidup pada masa itu ditambah dengan satu pasang binatang-binatang yang haram dan tujuh pasang binatang-binatang yang halal dari segala jenis fauna yang ada sejak penciptaan (Kej. 7:1-3). Penghancuran ini terpaksa dilakukan Allah oleh karena manusia semakin bertambah jahat sehingga memilukan hati Tuhan (Kej. 6:5-7).

“Air Bah itu merusak sistem pengairan yang Allah telah tetapkan pada Penciptaan, mengeruk tanah dari beberapa bagian bumi dan menimbunnya di bagian lain. Sekarang pun hujan terus-menerus menggerus tanah, menghilangkan kesuburannya sehingga makin mengurangi hasil panen. Allah dengan murah hati berjanji tidak akan mengutuki bumi ini lagi, tetapi tanah yang kita warisi sangat jauh berbeda dari tanah yang subur dan produktif yang Allah ciptakan pada mulanya” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang keadaan dunia setelah jatuh ke dalam dosa?
1. Sekalipun masih menyimpan sisa-sisa keindahannya, keadaan bumi kita sekarang ini jauh berubah dari keadaan aslinya ketika baru diciptakan. Ilmu pengetahuan dan teknologi boleh berkembang dengan pesat, tetapi hal itu tidak dapat mengembalikan kondisi yang nyaman dan menyenangkan seperti sebelum ada dosa.
2. Dosa yang dilakukan manusia pertama (Adam dan Hawa) di Taman Eden telah mengakibatkan kutukan Allah atas bumi dan seluruh habitatnya. Tanah, sumber kekayaan alam abadi demi menopang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, sekarang menghasilkan tumbuhan yang merusak dan jadi semakin sukar diolah.
3. Karena dosa kian bertambah dan manusia semakin jahat, kutukan pertama itu ditambah lagi dengan penghancuran dan pembinasaan habitat hidup oleh bencana air bah yang memporak-perandakan bumi kita ini sehingga menjadi sama sekali berbeda dari keadaannya semula.

Selasa, 12 Februari
TERGADAI KARENA DOSA (Penguasa Dunia Ini)

Kekuasaan sementara dan terbatas. Adalah suatu kenyataan bahwa setelah kejatuhan nenek moyang pertama manusia ke dalam dosa, dunia kita ini dikuasai oleh Setan secara de facto. Itulah sebabnya Setan, yang merasa dirinya sebagai penguasa dunia, dengan lancang telah menawarkan untuk memberikan seluruh dunia ini kepada Kristus ketika dia mencobai Anak Allah itu (Mat. 4:8, 9). Padahal Setan menguasai dunia ini bukan untuk dipeliharanya, melainkan justeru untuk menghancurkannya. Karena dia tahu bahwa kekuasaannya hanya untuk sementara dan terbatas, sebab sekali kelak bumi dan isinya akan diambil kembali oleh Sang Pencipta untuk diperbarui kembali bilamana penghakiman Allah telah selesai dan Ia akan menegakkan kembali keadilan.

Untuk sementara ini Setan masih menguasai dunia ini. Namun dalam beberapa kesempatan Yesus menyebutkan tentang nasib akhir dari kekuasaan Setan atas dunia ini. Kata-Nya, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yoh. 12:31); “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (14:30); “…karena penguasa dunia ini telah dihukum” (16:11; huruf miring ditambahkan).

“Meskipun kekalahannya telah dipastikan sesudah Salib, dia tidak akan menyerah dengan tenang atau lembut. Kemarahannya dan kuasa perusaknya, sekalipun dibatasi sampai tingkat tertentu oleh Allah dengan cara-cara yang kita tentu tidak mengerti sekarang ini, jangan sekali-kali dianggap remeh. Kita juga tidak boleh lupa bahwa betapa pun masalah-masalah bisa datang kepada kita secara tersamar, pokok pertempuran hanya bermuara kepada dua kekuatan: Kristus dan Setan” [alinea pertama: kalimat ketiga hingga kelima].

Penggoda manusia. Tampaknya, setelah berhasil menggoda Adam dan Hawa sehingga nenek moyang pertama manusia itu jatuh ke dalam dosa, dan dengan demikian “merebut kekuasaan” atas dunia ini dari tangan Adam, Setan menjadi terlalu percaya diri akan kemampuannya untuk menggoda manusia. Buktinya, ketika terbuka peluang untuk menggoda Ayub yang dikenalnya sebagai seorang anak Tuhan yang sangat setia itu, Setan langsung bergegas untuk beraksi (Ay. 1:12). Kita semua tahu apa yang dilakukannya terhadap Ayub, dan bagaimana akhir dari kisah itu.

“Dalam kitab Ayub, sebagian selubung yang menyembunyikan realitas pertentangan besar itu disingkapkan, dan kita dapat melihat bahwa Setan memang mempunyai kemampuan untuk mengakibatkan kerusakan besar di dunia alamiah. Apa pun yang dimaksudkan dengan ungkapan ‘penguasa dunia ini,’ jelas bahwa dalam peran ini Setan masih memiliki suatu pengaruh yang kuat dan merusak di bumi ini” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Setan, dengan seluruh kuasanya yang mengagumkan, telah menempatkan dirinya di antara manusia dan hukum Allah, sehingga melalui kepalsuan dan cara berpikirnya yang menyesatkan dia bisa mengilhami manusia dengan pemberontakan yang sama terhadap Allah dan hukum-Nya sebagaimana yang menggerakkan dirinya. Mereka yang tidak dapat dia tipu, dia benci. Dia menyalahtafsirkan perkataan dan tindakan mereka, dan menyebabkan dunia menganiaya dan menghancurkan, supaya bumi tidak akan menahan jiwa yang tidak sepaham dengan penguasa dunia ini dan pemerintahan kegelapannya. Sejarah menunjukkan fakta bahwa tidak seorang pun dapat melayani Allah tanpa bertentangan dengan kuasa-kuasa jahat yang bersatu” (Ellen G. White, Signs of the Times, 14 November 1895).

Apa yang kita pelajari tentang kekuasaan Setan atas dunia ini?
1. Setan “merebut kekuasaan” atas dunia ini dari tangan Adam yang ditaklukkannya melalui penggodaan. Sejak saat itu dia terus memerintah dunia ini dengan penipuan dan kebengisannya. Tetapi “penguasa dunia” tersebut hanya menguasai dunia ini untuk sementara dan terbatas oleh sebab nasib akhirnya sudah ditentukan.
2. Keberhasilan Setan menggoda dan menyesatkan pasangan manusia pertama di Taman Eden itu membuat dia yakin akan kemampuan penyesatannya. Dia menggoda Ayub atas izin Allah, tetapi gagal. Dia juga berusaha menggoda Kristus tapi dikalahkan.
3. Namun sifat dan kuasa penggodaan Setan tidak selalu gagal. Dia telah berhasil menipu dan menyesatkan sangat banyak orang dari zaman ke zaman, bahkan menjelang akhir riwayat dunia ini dia akan mengerahkan seluruh kuasanya “karena ia tahu, waktunya sudah singkat” (Why. 12:12).

Rabu, 13 Februari
KECERDASAN MANUSIA DAN HIKMAT ILAHI (“Hikmat” Dunia)

Pengetahuan dan kecerdasan. Pengetahuan tidak serupa dengan pengertian, dan kecerdasan tidak identik dengan hikmat. Orang yang berpengetahuan luas belum tentu memiliki pengertian dalam segala hal, dan orang yang cerdas bukan berarti dia lebih berhikmat ketimbang orang yang kurang cerdas. Hal ini terutama menyangkut pemahaman akan hal-hal yang bersifat rohani dan hikmat ilahi.

Apa itu kecerdasan? Kecerdasan adalah kemampuan kognitif seseorang yang meliputi (1) penyerapan pengetahuan [mempelajari dan memahami], (2) penerapan pengetahuan [memanfaatkan pengetahuan untuk pemecahan masalah], dan (3) penalaran abstrak [membuat ikhtisar/menyimpulkan]. Dalam kehidupan praktis sehari-hari ada serangkaian paradigma untuk mengukur kecerdasan seseorang. Antara lain adalah kemampuan-kemampuan untuk memahami suatu gagasan, mengadakan pertimbangan, memikirkan jalan keluar dari suatu kebuntuan, melakukan evaluasi dan penilaian, membuat kesimpulan dalam rangka pengambilan keputusan, sampai kepada kemampuan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Pendek kata, kecerdasan adalah kemampuan berpikir seseorang yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam ilmu psikologi tingkat kecerdasan seseorang diukur dengan perangkat psikometri yang lazim dikenal sebagai tes IQ (intelligence quotient). “Quotient” sama artinya dengan rasio, atau “hasil bagi.” Aslinya, pengukuran tingkat kecerdasan menggunakan rumus IQ=MA/CA x 100. “MA” ialah mental age (umur psikologis), dan “CA” adalah chronological age (umur kronologis/usia sebenarnya). Dengan kata lain, tingkat kecerdasan ialah hasil bagi dari umur psikologis dengan umur kronologis dikalikan 100. Apa yang dimaksud dengan “umur kronologis” adalah kemampuan berpikir seseorang secara individual berbanding kemampuan berpikir rata-rata di kelompoknya. Tes ini ditemukan dan digunakan tahun 1905 oleh dua pakar ilmu jiwa Prancis, Alfred Binet dan Theopile Simon, untuk mengetahui tingkat penyerapan pengetahuan siswa-siswa di Prancis. Belakangan, di tahun 1916, seorang pakar psikologi pendidikan Amerika bernama Lewis Terman dari Universitas Stanford menyempurnakan rumus tersebut dan melahirkan apa yang dikenal sekarang ini sebagai “Tes Stanford-Binet.”

“Sebagai manusia, kita telah mendapatkan banyak sekali pengetahuan dan informasi, khususnya dalam dua ratus tahun terakhir ini. Namun, pengetahuan dan informasi tidaklah sama dengan ‘hikmat.’ Kita juga sudah memperoleh pemahaman yang jauh lebih besar perihal dunia alamiah lebih dari yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita. Akan tetapi, ‘pemahaman yang lebih besar’ itu juga tidak sama dengan hikmat” [alinea pertama].

Hikmat ilahi. Terlepas dari kemampuan berpikir dan kecerdasan manusia yang terus bertambah dan meningkat, pemikiran sekuler manusiawi acapkali sulit untuk dapat memahami hikmat ilahi terutama yang berkaitan dengan penebusan dosa dan keselamatan. Buktinya, dari zaman rasul-rasul hingga sekarang jauh lebih banyak orang yang menolak kebenaran salib daripada yang menerima. Dasar dari penolakan ini ialah karena orang banyak itu tidak memahami pengorbanan Kristus di kayu salib itu, padahal salib berkaitan dengan keselamatan jiwa mereka. Itulah sebabnya rasul Paulus berkata, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor. 1:18).

Seperti telah kita pelajari terdahulu, salib adalah kegenapan “injil pertama” (protoevangelium) yang dicanangkan oleh Allah sendiri di Taman Eden segera setelah kejatuhan manusia (Kej. 3:15). Nah, kalau seseorang tidak percaya tentang doktrin penciptaan yang diutarakan dalam kitab Kejadian pasal 1 dan 2, bagaimana dia akan percaya pada doktrin tentang injil atau salib Kristus itu? Mustahil, bukan? Jadi, di sinilah kita melihat relevansi antara doktrin penciptaan dengan kasih karunia Allah (=diselamatkan oleh iman). Seseorang yang hanya terpaku serta mengandalkan pengetahuan sekuler dan kecerdasan berpikirnya tidak mungkin bisa menerima hikmat ilahi.

Karena itu, mengutip Yesaya 29:14, rasul Paulus menegaskan: “Sebab dalam Alkitab, Allah berkata, ‘Kebijaksanaan orang arif akan Kukacaukan, dan pengertian orang-orang berilmu akan Kulenyapkan.’ Nah, apa gunanya orang-orang arif itu? Apa gunanya mereka yang berilmu? Apa gunanya ahli-ahli pikir dunia ini? Allah sudah menunjukkan bahwa kebijaksanaan dunia ini adalah omong kosong belaka! Karena bagaimanapun pandainya manusia, ia tidak dapat mengenal Allah melalui kepandaiannya sendiri. Tetapi justru karena Allah bijaksana, maka Ia berkenan menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya melalui berita yang kami wartakan yang dianggap omong kosong oleh dunia” (1Kor. 1:19-21, BIMK). Itulah sebabnya sang rasul lebih jauh mengamarkan: “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1Kor. 3:18, 19).

“Ada begitu banyak dalam pemikiran manusia yang menantang Firman Allah. Apakah itu soal kebangkitan Yesus, penciptaan itu sendiri, atau mujizat apapun, ‘hikmat’ manusia (sekalipun ditopang dengan ‘fakta-fakta’ ilmu pengetahuan) harus dianggap ‘kebodohan’ apabila itu bertentangan dengan Firman Tuhan” [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang “hikmat” dunia ini dibandingkan dengan hikmat Allah?
1. Mempelajari ilmu pengetahuan adalah kewajiban setiap orang, tetapi mendewakan ilmu pengetahuan adalah kebodohan. Seseorang yang terlalu mengidolakan ilmu condong untuk membanggakan kepintarannya, dan orang yang merasa diri pintar dan cerdas cenderung meremehkan hikmat ilahi.
2. Kecerdasan berpikir dan pengetahuan duniawi itu penting, tetapi bukan itulah segalanya. Sebab kepintaran dan ilmu pengetahuan sekuler hanya berguna selama hidup di dunia ini saja, sedangkan hikmat ilahi bermanfaat untuk beroleh kehidupan di akhirat.
3. Rasul Paulus mengamarkan agar kita jangan menipu diri sendiri dengan menyombongkan pengetahuan duniawi yang kita miliki. Lebih baik disebut “bodoh” oleh dunia asalkan beroleh keselamatan, daripada dianggap “pintar” oleh dunia tetapi akhirnya binasa.

Kamis, 14 Februari
MENGAGUMI SANG PENCIPTA (Melalui Mata Iman)

Melihat lewat wahyu. Keagungan Allah tergambar dalam alam ciptaan-Nya. Semakin banyak yang kita ketahui mengenai alam semesta, semakin terkagum-kagum kita akan kebesaran Allah sebagai Pencipta. Raja Daud, sang pemazmur, mengungkapkan kekagumannya itu dalam syairnya: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan…Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:2, 10).

Pemujaan kepada Allah itu didasarkan pada pengamatannya terhadap alam ciptaan, sekalipun dia hanya bisa melihat alam secara terbatas dengan mata telanjang. Bayangkanlah kalau sekiranya Daud hidup pada zaman ini dengan ilmu pengetahuan fisika dan teknologi digital yang sedemikian maju sehingga dia dapat menyaksikan pemandangan luar angkasa yang memperlihatkan planet, tatasurya, dan gugusan bintang yang begitu nyata keindahannya melalui teleskop yang canggih. Sedangkan hanya memandang melalui mata iman saja pemazmur ini sudah begitu terkagum-kagum. Kita percaya bahwa Allah telah mengilhami Daud dengan hikmat-Nya untuk dapat melihat lebih jauh dan lebih luas daripada mata jasmaninya.

“Hanya dalam seratus tahun terakhir ini kita benar-benar mulai memahami luasnya alam semesta dibandingkan dengan kerdilnya tubuh kita. Orang bahkan tidak bisa membayangkan seseorang seperti Daud dapat memiliki sesuatu ide tentang seberapa besar “langit” itu, kalau bukan dari wahyu ilahi. Jika dia saja kagum pada zaman dulu itu, betapa kita seharusnya jauh lebih kagum lagi karena mengetahui bahwa, terlepas dari ukuran alam semesta ini, Allah mengasihi kita dengan sebuah kasih yang kita bahkan tidak bisa memahaminya?” [alinea pertama].

Berita dari langit. Ada sebuah ungkapan populer di kalangan muda-mudi setengah abad lampau, “Pandanglah bulan, di situ aku.” Kata-kata ini biasanya terukir secara mencolok di luar garis tepi surat cinta antara dua sejoli yang tinggal berjauhan, di mana satu-satunya komunikasi yang diandalkan adalah surat-menyurat karena waktu itu belum dikenal dan terbayangkan apa yang namanya telepon seluler, sms, komputer, internet–apalagi media sosial semacam Facebook. Makna dari kata-kata itu ialah pasangan-pasangan yang sedang memadu kasih, namun terkendala jarak yang jauh, boleh sekadar melepas rindu dengan bertemu pandang di bulan saat purnama! Aduhai!

Tatkala pemazmur mengangkat pena dan menulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2, 3), dia bukan sedang melepas rindu pada kekasihnya nun jauh di mata. Namun romantisme Daud sangat terasa di sini, ketika dia menuangkan rasa kagum pada Sang Pencipta saat memandang langit yang bertaburan bintang di malam hari. “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi,” lanjutnya (ay. 4, 5).

“Banyak orang menatap ke atas pada bintang-bintang di malam hari dan mengakui kebesaran Allah dan kekerdilan manusia lalu memuji Allah atas pemeliharaan-Nya…Namun, biarpun begitu kuatnya pernyataan dan kesaksian dari dunia ciptaan, penyataan itu tidaklah lengkap, terutama karena akibat-akibat dari Kejatuhan dan kutukan yang menyertainya” [alinea kedua: kalimat pertama; alinea ketiga: kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Dunia ini, yang dipenuhi dengan kesenangan dan kecintaan akan kepelesiran, senantiasa haus akan minat yang baru. Dan betapa sedikitnya waktu dan pikiran yang diberikan kepada Pencipta langit dan bumi. Allah menyerukan kepada makhluk ciptaan-Nya agar mengalihkan perhatian mereka dari kebingungan dan kekacauan di sekeliling mereka lalu mengagumi pekerjaan tangan-Nya. Benda-benda langit layak untuk direnungkan. Allah sudah menciptakan mereka demi kepentingan manusia, dan sementara kita mempelajari pekerjaan-Nya, malaikat-malaikat Allah akan berada di samping kita untuk menerangi pikiran kita” (Ellen G. White, Sons and Daughters of God, hlm. 110).

Apa yang kita pelajari tentang memandang alam ciptaan ini lewat mata iman?
1. Daud, raja dan pemazmur terkemuka, jelas adalah seorang pengagum alam. Pengamatannya yang serius dan intensif pada ruang angkasa di malam hari, sekalipun hanya dengan mata telanjang, telah melahirkan kekagumannya akan ciptaan Allah yang memberinya ide untuk menggoreskan puisi pemujaannya.
2. Alam selalu menjadi sumber inspirasi bagi para seniman untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai media sesuai dengan bakat dan minat kesenimanannya. Banyak pelukis realis kawakan yang menghasilkan karya-karya besar mereka dengan tema alam.
3. Sebagai umat Tuhan, kita ditantang agar menyisihkan waktu mengamati keindahan alam untuk mengenang penciptaan dan merenungkan kasih Allah melalui ciptaan-Nya. Mengagumi alam juga akan melahirkan rasa tanggungjawab untuk melestarikan alam.

Jumat, 15 Februari
PENUTUP

Keterbatasan pikiran manusia. Sekali lagi, dosa telah menggerus kemampuan berpikir manusia secara sangat signifikan. Meskipun kita tidak mempunyai data dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan tentang presentase kemunduran daya pikir manusia sekarang ini dibandingkan dengan Adam dan Hawa ketika belum berdosa, tetapi Alkitab menyiratkan bahwa kemunduran itu ada dan presentasenya besar sekali.

Orang boleh berpikir bahwa manusia zaman moderen ini lebih cerdas dari manusia zaman purba, tetapi faktanya banyak karya manusia zaman purba yang belum mengenal teknologi canggih namun tidak tertandingi oleh manusia moderen dengan kemampuan iptek yang sangat maju. Sebut saja Candi Borobudur yang dibangun abad ke-9. Monumen sejarah yang didirikan zaman dinasti Syailendra, dengan arsiteknya Gunadharma, itu didirikan di atas bukit pada ketinggian 265 meter di atas permukaan laut yang menghabiskan sekitar 55.000 meter kubik batu andesit ketika orang belum mengenal traktor, buldozer, derek, dan alat-alat berat lainnya. Begitu pula Tembok Cina dengan panjang keseluruhan 21.196 Km yang melintasi bukit-bukit dan jurang terjal, dibangun sejak abad ke-7 SM. Ini sekadar contoh bahwa manusia zaman dulu memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki manusia moderen.

Ilmu pengetahuan memang bertambah dengan cepatnya, dan banyak penemuan-penemuan iptek yang baru dan luar biasa. Bukan semata-mata karena pertumbuhan kecerdasan manusia sekarang ini jauh lebih pesat daripada di masa lalu, tetapi karena Tuhan berkenan memberikannya. Sayangnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya untuk lebih membawa kita kepada pengenalan akan Allah justeru seringkali diselewengkan untuk meragukan kuasa Allah. “Saya telah diamarkan [1890] bahwa untuk selanjutnya kita akan mempunyai pertarungan yang terus-menerus. Ilmu pengetahuan dan agama akan ditempatkan saling berlawanan, karena manusia yang terbatas tidak memahami kekuasaan dan kebesaran Allah” [dua kalimat pertama].

“Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan” (Ay. 5:12, 13).

(Oleh Loddy Lintong/California, 14 Februari 2013)

Leave a Reply