“MEMAKNAI PENDERITAAN DALAM PEMURIDAN”

April 2, 2014 - Loddy Lintong

“HARGA DARI PEMURIDAN”

PENDAHULUAN

Risiko menjadi murid Kristus. Dalam iman Kristiani, masuk surga itu harus melalui jalan yang sempit. Yesus berkata, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat. 7:13-14). Bahkan, Yesus menyatakan bahwa kehilangan nyawa untuk sementara di dunia ini lebih baik daripada kehilangan nyawa untuk selama-lamanya. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 16:25-26).

Banyak orang beragama karena mendambakan hidup yang senang dan tenteram di dunia ini, berharap bahwa agama yang mereka anut sebagai jalan memperoleh ni’mat dunia-akhirat. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian, sebab hidup beragama berarti suatu kehidupan yang sarat dengan larangan, bahkan terkadang harus kehilangan nyawa karena agama. Bagi banyak orang, sulit untuk menerima bahwa agama akan mendatangkan penderitaan dan kematian. Itu sebabnya tidak banyak yang mau dan mampu menjadi orang Kristen yang serius, setia sampai akhir.

“Sepanjang sejarah jutaan orang tak dikenal dengan rela mengorbankan hidup mereka bagi Kristus. Mereka dipenjarakan, disiksa, bahkan dihukum mati. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dihina, dikucilkan dari keluarga, dan bertahan melewati penganiayaan karena agama ketimbang meninggalkan Kristus. Hanya Tuhan yang tahu beratnya penderitaan yang harus dihadapi oleh orang-orang-Nya yang setia…Pada akhirnya, kita tahu dengan pasti bahwa berapapun harga dari pemuridan itu, mengingat pahalanya yang penghabisan, harga itu cukup murah” [alinea pertama dan terakhir].

Menjadi murid Kristus bukan untuk orang yang pengecut, sebab pemuridan itu menuntut keberanian yang bukan alang-kepalang, kalau perlu sampai kehilangan nyawa. Seorang yang takut mati tidak pantas menjadi pengikut Kristus. Sebab bagaimana seseorang dapat menjadi seperti Yesus, dan meneladani kehidupan yang dijalani-Nya sampai ke kayu salib? Mengikut Yesus berarti siap untuk memikul salib-Nya sampai mati. “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25).

Minggu, 23 Maret

KOMITMEN SEBAGAI MURID KRISTUS (Menghitung Biaya: Prioritas Pertama)

Murid yang siap berkorban. Lazimnya, bila kita mendengar istilah “konflik horisontal” maka pikiran kita langsung membayangkan kerusuhan antar warga masyarakat sebagaimana yang kerap terjadi. Orang pun mulai mempergunjingkan soal “aktor intelektual” atau provokator di balik kerusuhan itu. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa seseorang yang memilih untuk menjadi pengikut Kristus tak dapat menghindari konflik horisontal dengan sesamanya. Yesus secara terang-terangan berkata, “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk. 12:51). Bahkan, pertentangan itu bisa timbul di dalam satu keluarga (ay. 52-53). Mengapa begitu? Karena di dalam satu rumah penghuninya bisa terbagi-bagi secara pribadi, ada yang percaya dan menerima Yesus tetapi ada yang tidak percaya dan menolak Dia.

Banyak orang Kristen yang sudah mengalami dimusuhi oleh orang lain, termasuk dari kaum keluarganya sendiri, gara-gara keputusannya untuk menjadi murid Kristus. Kehilangan teman dan saudara adalah bagian dari harga yang harus dibayar seseorang karena mengikut Yesus. Bahkan, Yesus berkata, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:26; huruf miring ditambahkan). Bagi mereka yang hanya membaca dan memahami ayat ini secara harfiah tentu akan timbul konflik batin dalam dirinya, seakan-akan agama Kristen mendorong perpecahan dalam keluarga. Kata Grika yang diterjemahkan dengan membenci dalam ayat ini adalah miseō, dan terjemahannya sudah sesuai. Kata yang sama digunakan juga untuk orang-orang yang “membenci” orang Kristen, seperti terdapat dalam Mat. 10:22; 24:9; Luk. 6:22. “Benci” adalah sebuah kata yang tajam dan kasar.

Tentu saja Yesus tidak sedang mengajarkan balas-membalas, bahwa jika orang membenci kita karena Yesus maka demi Dia kita juga harus balas membenci mereka. Hal itu bertentangan dengan ajaran-Nya sendiri agar mengasihi musuh dan membalas kebaikan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita (Mat. 5:44; Luk. 6:27). Di sini Yesus sedang berbicara tentang kerelaan berkorban dan komitmen secara tuntas yang dituntut dari seorang murid Kristus. Seperti Ia katakan selanjutnya, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku…Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:27, 33; huruf miring ditambahkan).

Murid yang mengabdi sepenuhnya. Lukas pasal 14 mencatat dengan jelas dan tegas harga dari pemuridan Kristen, lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi. Pertama-tama Yesus menyingkapkan dua harga yang harus dibayar seorang murid Kristus, yakni meninggalkan keluarga (ay. 26) dan memikul salib (ay. 27). Menarik bahwa Yesus kemudian menyebutkan soal kalkulasi untuk dipertimbangkan oleh seseorang yang hendak mengikut Dia, pertama ibarat orang yang mau membangun menara pengawas di tengah ladang (ay. 28-30) dan kedua seperti raja yang hendak berperang (ay. 31-32). Yesus kemudian menambahkan harga yang ketiga, yaitu meninggalkan segala miliknya (ay. 33), dilanjutkan dengan sebuah ilustrasi tentang garam yang baik (ay. 34-35). Dalam perkataan lain, seorang yang memilih untuk mengikut Yesus harus siap untuk mengabdi sepenuhnya, kalau orang itu kehilangan pengabdiannya dia disamakan dengan garam yang kehilangan rasa asinnya sehingga tidak berharga.

“Maksud Yesus sederhana namun penuh maksud yang mendalam. Apabila keluarga yang didahulukan dan Kristus menjadi nomor dua, Yesus kehilangan kekuasaan-Nya. Melayani banyak tuan itu mustahil. Kristus tentu mendukung hubungan-hubungan keluarga yang kokoh. Akan tetapi hubungan-hubungan tersebut mendapatkan kekuatan dari dasar yang teguh. Dasar itu ialah mengasihi Allah tanpa pamrih, yang pertama dan terutama. Allah menolak setiap penghalang, gangguan, atau selingan. Pemuridan menuntut harga tertinggi: kesetiaan kepada Kristus yang seutuhnya” [alinea terakhir].

Berdasarkan ayat-ayat di atas, pengabdian seutuhnya dari seorang murid Kristus mencakup dua hal utama: pengorbanan total dan menempatkan Kristus yang terutama. Kedua hal tersebut harus ditunjukkan dalam hidup sehari-hari dan dalam semua aspek kehidupan. Urusan keluarga, pekerjaan, karir, pendidikan, cita-cita, kegemaran, dan lain-lain yang bersifat kepentingan diri sendiri harus ditempatkan di bawah pengabdian kepada Kristus.

Apa yang kita pelajari tentang “harga” menjadi murid Kristus?

1. Keputusan untuk menjadi murid Kristus hanya bisa dilakukan oleh seorang pemberani, kalau dia menyadari mahalnya harga yang harus dia bayar. Bukan sedikit orang-orang yang tidak siap untuk menerima risiko sebagai murid Kristus, lalu mundur teratur ketika berhadapan dengan cobaan.

2. Sebagai murid Kristus, anda dan saya memiliki salib masing-masing yang harus dipikul, mungkin dalam ukuran serta berat yang berbeda-beda. Salib bukanlah hiasan seperti yang dipakai banyak orang di dada, tetapi salib adalah beban yang harus dipikul di atas pundak.

3. Pengabdian yang dituntut dari seorang murid Kristus tidak kurang dari pengabdian seutuhnya dan di atas segalanya. Mengikut Yesus adalah pilihan yang berisiko, sebuah pilihan yang mungkin akan memisahkan anda dari apa saja yang berpotensi untuk merintangi pemuridan anda.

Senin, 24 Maret

PENGORBANAN TAK TERHINDARKAN (Memikul Salib Kita)

Menderita seperti Kristus. Kekristenan bukan “angin surga” yang dapat kita hembuskan untuk membuat orang lain terlena, seolah-olah menjadi orang Kristen niscaya membuat jalan hidup kita senantiasa rata dan mulus. Memang, Yesus pernah berkata agar kita tidak khawatir dengan segala keperluan hidup kita (Mat. 6:25-34). Rasul Paulus juga menyatakan “jangan kuatir tentang apapun juga” oleh sebab Allah “akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:6, 19); dan rasul Petrus pun menandaskan “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr. 5:7). Tetapi sebagai pengikut Kristus anda dan saya menjadi pewaris bersama Dia, dan oleh karena itu “kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17).

Jadi, sesungguhnya penderitaan bersama Kristus adalah sebuah kehormatan dan kesempatan istimewa bagi murid Yesus. Ini masalah mindset (pola pikir) danmentality (mentalitas; cara berpikir) selaku orang Kristen. Sebagai anak-anak Allah, di dunia ini kita dipanggil untuk menderita karena iman, tetapi seperti halnya Paulus kita pun dapat berkata “bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18).

Pemuridan berarti menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Mengikut Yesus berarti bahwa anda siap mengalami penderitaan yang sama seperti Kristus alami. Karena itu, kita harus jujur dalam cara di mana kita menyampaikan pekabaran kita. Tentu saja kebenaran-kebenaran mulia tentang pembenaran oleh iman, pengampunan Kristus, kedatangan Yesus yang segera, keajaiban-keajaiban surga yang tiada bandingannya, dan kasih karunia Allah yang tak selayaknya itu harus diajarkan” [alinea pertama].

Menderita sebagai murid. Yesus tidak pernah menutup-nutupi dari murid-murid-Nya yang pertama tentang penderitaan yang bakal diderita-Nya (Mat. 16:21), dan Dia juga secara berterus terang menyatakan bahwa sebagai murid-murid mereka pun akan menderita (Luk. 21:12). Yesus menandaskan pula bahwa karena dunia membenci Dia maka kebencian itu berimbas kepada para pengikut-Nya (Yoh. 15:18-19). “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh. 16:1-2). Bukankah orang Kristen sudah sering dibenci dan dianiaya oleh orang-orang yang mengira bahwa dengan berbuat demikian mereka sedang menjalankan amanah Allah?

“Sebelum dibaptis, setiap calon baptisan harus memahami bahwa Kristus sendiri sudah menetapkan baginya sebuah salib, di mana tanpa itu mereka sama sekali tidak dapat menjadi murid-Nya. Apakah hal ini mengurangi sukacita pertobatan? Apakah dengan menjanjikan kepada mereka kehidupan tanpa kesusahan apapun yang tidak realisitk akan menambah sukacita ini? Pertobatan membebaskan orang-orang percaya dari beban dosa, bukan dari tanggungjawab kemuridan. Dengan memilih nama Kristus dan secara terbuka menyatakan pilihan itu melalui baptisan, setiap orang percaya seharusnya sadar bahwa pemuridan itu mengandung risiko” [alinea terakhir: lima kalimat pertama].

Sebagai orang Kristen kita mengenal baptisan dengan air sebagai pengakuan iman dan baptisan dengan Roh Kudus untuk pengudusan. Tetapi rasul Petrus juga menyebutkan tentang baptisan ketiga, yaitu baptisan dengan api untuk pemurnian iman. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Ptr. 1:6-7; huruf miring ditambahkan). Bahkan, sang rasul mengingatkan agar sebagai orang percaya “janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian…Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus” (1Ptr. 4:12-13).

Apa yang kita pelajari tentang keharusan memikul salib?

1. Tidak ada mahkota tanpa salib; seorang yang tidak mau memikul salibnya tidak bisa berharap akan mendapat mahkota. Yesus memperoleh seluruh kuasa-Nya dan memerintah bersama Bapa setelah Ia sendiri memikul salib yang ditentukan bagi-Nya oleh Bapa (Luk. 24:26; Kis. 3:18; Ibr. 10:12; 12:2).

2. Penderitaan adalah bagian dari pemuridan Kristen yang tak terhindarkan, dan para penggalang murid (disciple-makers) harus secara jujur dan terbuka mengajarkannya kepada calon-calon murid Kristus. Kata Yesus, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).

3. Allah membiarkan murid-murid Kristus mengalami penderitaan hidup untuk melatih dan memurnikan iman kita. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29).

Selasa, 25 Maret

FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM PEMURIDAN (Sambutan Terhadap Disiplin)

Pemuridan dalam perspektif olahragawan. Menarik mencermati bagaimana rasul Paulus mengibaratkan pemuridan itu dengan dunia olahraga di mana seorang murid Kristus adalah seperti atlet, pelari dan petinju, yang berkompetisi untuk menjadi juara. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1Kor. 9:24; huruf miring ditambahkan).

Di sini rasul menekankan tentang perlunya kebulatan tekad untuk berhasil. Lalu dia menambahkan, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (ay. 25; huruf miring ditambahkan). Pada bagian ini dia bertutur soal penyangkalan diri. “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapiaku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (ay. 26-27; huruf miring ditambahkan). Dalam hal ini Paulus menyinggung soal sasaran akhir dan persiapan.

“Perhatikan contoh atlet yang Paulus gunakan dalam beberapa ayat untuk hari ini. Tidak ada atlet yang berkomplot untuk berlari lebih lambat, melompat lebih rendah, atau melempar lebih dekat. Juga tidak ada orang percaya yang boleh menoleh ke belakang, khususnya apabila yang dipertaruhkan dalam perlombaan adalah sesuatu yang baka sebagai lawan dari hadiah apapun yang bisa dimenangkan seorang pelari duniawi sebagai hasil dari usahanya dan latihannya yang tekun” [alinea ketiga].

Pemuridan dan tujuan akhir. Bertutur tentang ketahanan mental dalam pemuridan, penulis kitab Ibrani mendorong kita untuk “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita…dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman…Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa…Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu…supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:1-4; huruf miring ditambahkan). Ini berarti murid Yesus harus fokus pada tujuan dan memelihara ketekunan.

Rasul Petrus menyimpulkan, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 1:10-11; huruf miring ditambahkan). Murid Yesus harus serius supaya pada akhirnya memperoleh pahala.

Pada akhirnya, pemuridan adalah soal keselamatan. Sebagaimana dalam olahraga tujuan akhirnya ialah untuk piala atau medali kejuaraan, demikian pula dalam pemuridan tujuan akhirnya adalah untuk mahkota keselamatan. Bedanya, dalam olahraga tidak semua yang ikut berlomba mendapat kemenangan, dalam pemuridan semua yang mencapai garis akhir akan mendapat pahala. Karena itu kita semua dapat mencontoh dari tekad Paulus yang berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:13-14).

Apa yang kita pelajari tentang kedisiplinan seorang murid Kristus?

1. Dalam dunia olahraga ada yang disebut “olahraga rekreasi” sebagai hobi atau untuk kesehatan, ada yang disebut “olahraga prestasi” yang serius dan profesional. Dalam pemuridan tidak ada yang bisa menjadi murid Kristus just for fun, tapi semua harus “dengan segenap hati” (Rm. 6:17; Ef. 6:6).

2. Dalam pemuridan Kristen dituntut adanya kebulatan tekad, penyangkalan diri, persiapan diri, fokus, dan ketekunan. Sebab dalam pemuridan sasaran utamanya adalah pahala keselamatan, yaitu hidup kekal bersama Kristus. Kedisiplinan dalam pemuridan adalah hal yang tak bisa ditawar.

3. Terkadang dalam pemuridan Allah memberlakukan “ganjaran” sebagai latihan ketahanan iman yang meskipun “pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita.” Tetapi di kemudian hari “ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:11).

Rabu, 26 Maret

UNTUNG-RUGI DALAM PEMURIDAN (Perbandingan Harga)

Pemuridan sebagai investasi. Seperti kita pelajari sebelumnya, Yesus membandingkan pilihan untuk menjadi pengikut-Nya ibarat merancang pembangunan menara (Luk. 14:28) dan rencana berperang (ay. 31), di mana untuk kedua-duanya memerlukan pertimbangan dan perhitungan yang cermat (lihat pelajaran hari Minggu). Pengarang pelajaran ini menyamakan pemuridan Kristen seperti sebuah investasi dalam sebuah bisnis yang membutuhkan kalkulasi. Apakah menjadi murid Kristus itu dalam jangka panjang akan menguntungkan, dan lebih penting lagi apakah seseorang memiliki cukup stamina untuk menjalani masa pemuridan sampai mencapai garis akhir? Dapatkah kita kelak berkata seperti rasul Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7)?

Barangkali gagasan yang menyamakan niat menjadi murid Yesus dengan rencana bisnis merupakan ide yang ekstrem bagi sebagian orang, bahkan bisa dianggap sebagai pemikiran yang mencampur-adukkan nilai kerohanian dengan keduniawian. Namun, meskipun pemuridan Kristen adalah masalah rohani menyangkut kehidupan yang akan datang, menjadi murid Kristus itu memang mengandung konsekuensi jasmani yang nyata dalam kehidupan sekarang ini. Pahala pemuridan itu akan diterima nanti, tetapi pemuridan itu harus dijalani sekarang.

“Pahala dari pemuridan mungkin juga diukur melalui perbandingan harga. Harga-harga tersebut bisa termasuk penderitaan emosi, penolakan sosial, siksaan fisik, kerugian keuangan, pemenjaraan, bahkan kematian itu sendiri. Setiap orang yang menjalankan pemuridan pertama-tama harus mempertimbangkan dengan cermat investasi yang diperlukan” [alinea kedua].

Kerugian sementara, keuntungan abadi. Yesus mengutarakan gagasan yang ekstrem ketika mengatakan,

“Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua” (Mat. 18:8-9). Tentu saja perkataan ini tidak untuk dipahami secara harfiah, sebab di sini Yesus sedang berbicara tentang kerelaan untuk kehilangan hal-hal yang fana demi mendapatkan hal-hal yang baka. Tidak ada orang yang masuk surga dengan tangan atau kaki buntung dan bermata satu, semua orang yang selamat akan masuk surga dengan kesempurnaan fisik yang diubahkan dalam sekejap mata (1Kor. 15:52).

Petrus yang berbicara mewakili rekan-rekannya sesama murid Yesus melontarkan pernyataan yang menyiratkan tuntutan yang bersifat kompensasi ketika dia berkata, “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau” (Luk. 18:28). Yesus yang penuh pengertian itu menanggapinya dengan menyodorkan suatu janji, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (ay. 29-30). Ucapan ini juga bukan untuk dipahami secara harfiah, bahwa murid Yesus yang kehilangan harta benda dan keluarga akan beroleh ganti rugi berlipat kali ganda, dan yang kehilangan istri juga akan mendapat penggantian istri yang berlipat ganda. Yesus sedang berbicara tentang keuntungan yang berlipat kali ganda dari kerugian yang dialami karena menjadi murid-Nya, sebuah kompensasi berupa kebahagiaan batin yang berpuncak pada hidup yang kekal.

“Tidak diragukan bahwa harga dari mengikut Yesus bisa sangat mahal, mungkin hal paling mahal yang seseorang bisa lakukan. Sesungguhnya, kita harus pertanyakan realitas dari iman kita dan komitmen kita kalau mengikut Kristus tidak dengan membayar mahal, bahkan bisa saja segalanya…Tetapi satu hal sudah pasti: apapun yang kita peroleh dalam hidup ini, apapun yang kita capai, apapun yang kita hasilkan untuk diri kita, itu hanya sementara. Itu adalah sesuatu yang tidak abadi. Itu akan lenyap, dan lenyap untuk selamanya” [alinea ketiga dan keempat].

Apa yang kita pelajari tentang kalkulasi untuk menjadi murid Kristus?

1. Pemuridan adalah sebuah “bisnis rohani” yang menuntut kalkulasi untung-rugi. Seorang pengusaha yang cermat tidak begitu saja membuka usaha tanpa memperhitungkan kemampuan modal dan potensi keuntungan dari bisnis itu. Calon murid Kristus juga harus menyadari besarnya “harga” yang harus dibayarnya.

2. Sesungguhnya, tidak ada harga yang terlalu mahal untuk kita tanggung sebagai murid Kristus apabila kita memandang kepada hidup kekal yang kelak kita peroleh sebagai pahala. Pemuridan akan membuat seseorang kehilangan hal-hal yang fana, tetapi semua itu akan digantikan dengan hal-hal yang baka.

3. Menjadi orang Kristen, yaitu murid Yesus atau pengikut Kristus, memang hanya bisa dijalani dengan mengandalkan iman. Seseorang bisa saja sangat menggebu-gebu dan merasa yakin akan kemampuannya menjalani pemuridan, tetapi hanya dengan bergantung pada Tuhan dia akan mencapai garis akhir.

Kamis, 27 Maret

JANJI MASA DEPAN (Sebuah Kebangkitan yang Lebih Baik)

Bukan sekarang, tapi nanti. Banyak tokoh-tokoh Alkitab yang oleh iman telah membuat hidup mereka sukses gilang-gemilang, dan luput dari segala marabahaya yang mengancam hidup mereka. Penulis kitab Ibrani mengaku bahwa dia “akan kekurangan waktu” untuk membeberkan semua kisah itu (Ibr. 11:32). Namun, tidak sedikit pula orang-orang percaya yang oleh hikmat Allah yang tak terduga itu telah dibiarkan untuk menjalani penderitaan hidup dan mengalami siksaan luar biasa hingga kehilangan nyawa, tetapi “mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik” (ay. 39).

Sebagian dari kita mungkin telah menikmati kehidupan yang indah dan nyaman atas karunia Tuhan, tetapi sebagian lagi dibiarkan untuk mengalami kehidupan yang pahit dan sengsara atas kehendak Tuhan. Atau, sebagian hidup kita begitu menyenangkan, tapi sebagian lagi amat memberatkan. Kita tidak pernah memahami sepenuhnya jalan-jalan hidup kita ke mana Allah sedang membawa kita untuk menempuhnya. Mengapa janji berkat dan pemeliharaan Tuhan tidak dirasakan dalam hidup kita sekarang ini? “Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita…” (ay. 40). Atas dasar pemahaman ini, seorang murid Kristus sejati tidak akan menjadi tawar hati, bahkan “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita…dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan…” (Ibr. 12:1-2).

“Kita mengikut Kristus sebab kita memiliki janji, pengharapan, penebusan, hidup baru di dunia baru yang tanpa dosa, penderitaan, dan kematian. Pada waktu yang sama, oleh karena kita sudah diberikan pengharapan ini, janji ini–yang dipastikan oleh kehidupan, kematian, kebangkitan, dan pelayanan keimamatan agung Yesus–kita berusaha untuk membawa orang lain kepada pengharapan yang sama, janji yang sama” [alinea kedua: kalimat kedua dan ketiga].

Tuaian menunggu para penuai. Pemuridan tidak saja mendapatkan murid-murid yang baru bagi Kristus, tapi lebih penting lagi adalah juga melahirkan penuai-penuai. Adalah suatu kenyataan bahwa tidak semua murid memiliki keberhasilan yang sama dalam penuaian, tetapi setiap murid harus menjadi seorang penuai. Gereja bisa saja memiliki jumlah pendeta yang (dianggap) berlebihan, tetapi ladang Tuhan yang terus bertumbuh sejatinya tidak pernah kelebihan penuai.

“Tuaian sudah masak; jutaan orang menunggu panggilan kepada pemuridan. Kita sudah diberkati bukan saja dengan injil, tapi injil dalam konteks ‘kebenaran masa kini’–pekabaran tiga malaikat dalam Wahyu 14, yaitu pekabaran amaran Allah yang terakhir bagi dunia ini…Apa yang hendak kita lakukan dengan kebenaran-kebenaran yang sangat kita cintai ini? Maka, kita bertanya: di manakah para penuai? Mana mereka yang bersedia datang mendampingi Kristus dan turut serta menanggung risiko-risiko? Akankah anda menerima undangan Tuhan, bukan saja untuk menjadi seorang murid tapi mencari murid-murid, apapun akibatnya terhadap diri anda?” [dua alinea terakhir].

Tujuan utama pemuridan ialah mengumpulkan tuaian berupa jiwa-jiwa yang sebanyak-banyaknya untuk disiapkan bagi kedatangan Yesus kedua kali, baik untuk mereka yang masih hidup pada saat mulia itu, maupun bagi mereka yang sudah mati untuk dibangkitkan dalam kebangkitan pertama. “Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya” (Why. 20:6).

Apa yang kita pelajari tentang pemuridan dan kebangkitan pertama?

1. Sementara janji Allah untuk memelihara umat-Nya selagi hidup di dunia ini adalah janji yang pasti, ada kalanya Ia membiarkan sebagian anak-anak-Nya menderita di dalam iman. Allah tentu peduli pada kesejahteraan dan keselamatan umat-Nya saat ini, tapi Ia lebih peduli lagi pada keselamatan mereka di akhirat nanti.

2. Bila Yesus datang kedua kali umat percaya yang masih hidup akan diubahkan kepada kesempurnaan dan yang sudah mati akan dibangkitkan lalu diubahkan kepada keadaan yang sempurna dan baka. Tidak seorang pun bisa memilih di kelompok mana dia termasuk, tapi semua dapat memilih untuk selamat atau tidak.

3. Pemuridan berkaitan erat dengan penuaian jiwa-jiwa. Pemuridan Kristen adalah usaha murid mencari murid dalam konteks penuaian jiwa. Pemuridan membebaskan manusia dari rasa takut akan kematian, oleh sebab kematian seorang murid Kristus akan berakhir dengan kebangkitan yang pertama untuk keselamatan.

Jumat, 28 Maret

PENUTUP

Hukuman atas orang jahat. Allah mungkin membiarkan sebagian orang jahat–mereka yang memusuhi dan menganiaya murid-murid Kristus–menikmati hidup yang senang di dunia ini, sebagaimana Dia membiarkan umat-Nya menderita di tangan mereka, untuk sementara waktu. Tetapi saatnya akan tiba bilamana Tuhan akan membalas segala perbuatan manusia, kebinasaan bagi orang jahat dan keselamatan buat orang benar.

“Orang jahat menerima balasan mereka di bumi. Amsal 11:31. Mereka ‘akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan semesta alam.’ Maleakhi 4:1. Sebagian dibinasakan dalam sekejap, sedangkan yang lain menderita berhari-hari lamanya. Semua dihukum ‘menurut perbuatan mereka'” [alinea kedua].

Segala sesuatu dalam dunia di mana anda dan saya hidup sekarang ini semuanya hanya sementara, apakah itu kesenangan maupun kesusahan. Bahkan kematian yang dialami semua manusia di dunia inipun hanya bersifat sementara, sebab pada akhirnya setiap orang yang pernah hidup di planet ini akan dibangkitkan–sebagian untuk hidup kekal dan sebagian untuk kematian abadi. Bilamana itu terjadi, segala penderitaan murid-murid Yesus yang setia akan lenyap dari ingatan.

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor. 4:17-18).

Leave a Reply