Membaca Alkitab Aman—Iman—Amin

Dianalisis oleh
Pdt. Hotma Saor Parasian Silitonga, MA, MTh, PhD.

Membaca Alkitab sebagai ”Tulisan yang diilhamkan Tuhan” (2 Timotius 3:16) patutlah dilakukan dengan mata ”Iman” (Ibrani 11:1-3). Alkitab sebagai ”[Perkataan Nubuat] tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama [Tuhan]” (2 Peterus 1:20-21). Berdasarkan realita ini, Model Lukas 1:1-4—SELIDIK ALKITAB patutlah digunakan dalam membaca Alkitab. Oleh sebab itu, ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Wahyu 2:7,11,17,29; 3:6,13,22). Singkatnya, jikalau Anda mau AMAN dalam membaca Alkitab, Anda patut miliki IMAN, dengan demikian ”Apa yang Tuhan Firmankan,” sambutlah dengan berkata: AMIN.

Kata kunci: Membaca, Mendengar, Menurut

Reading The Bible
Safe—Faith—Amen

Abstract

Reading the Bible as “Holy Scriptures—given by inspiration of God” (2 Timothy 3:16) should be done “By Faith” (Hebrews 11:1-3). The Bible as “[The Word of] prophecy of the scripture is [not to be read by] any private interpretation. For the prophecy came not in old time by the will of man: but holy men of God spake as they were moved by the Holy Spirit” (2 Peter 1:20-21). Based on this reality, The Model of Luke 1:1-4—SEARCH THE SCRIPTURES should be done in reading the Bible. Thus, “He that has an ear, let him hear what the Spirit says unto the churches” (Revelation 2:7,11,17,29; 3:6,13,22). In short, if you want to have a SAFE reading of the Bible, you should have FAITH, so that what the Lord says in the Bible, just response by saying AMEN.

Key words: Reading, Hearing, Living

Pendahuluan

”Sola Scriptura—Sola Gracia—Sola Fide” (Hanya Alkitab—Hanya Anugerah—Hanya Iman) adalah semboyan mutlak para reformis di abad pertengahan manakala ”Kebenaran Alkitab” sedang berada dalam suasana gerhana (Hasel, 1980: 13-41). Reformis Martin Luther berkata: ”Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Alkitab [sebagai Firman Tuhan], saya tidak dapat berbuat yang lain” (White, 1999: 167). Semangat inilah yang membara di hati para reformis, sehingga pergerakannya disebut ”Protestan.” Kontribusi penting para reformis dalam pergerakan Protestan adalah ”Kembali ke Laptop Alkitab” (Back to the Bible—the Basic Principle of Life).
Salah satu teks penting yang perlu dipahami adalah Wahyu 1:3 dimana teks ini adalah salah satu dari 7 ucapan bahagia di kitab Wahyu (Wahyu 1:3; 14:13; 16:15; 19:9; 20:6; 22:7,14). Wahyu 1:3 menyatakan: “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya.” Tiga kata kerja yang tampil adalah: ”Membacakan, mendengarkan dan menuruti.” Ketiga kata kerja ini memiliki satu kesatuan pengertian terhadap ”Alkitab sebagai Perkataan Nubuat.” Kabar baik melalui teks ini adalah bahwa siapa saja yang membaca Alkitab pasti BAHAGIA.
Berdasarkan latar belakang ini, sebuah identifikasi permasalahan ditulis. ”Bagaimanakah seseorang dapat AMAN dalam arti BERBAHAGIA bila membaca Alkitab tanpa pertolongan siapapun, namun bersemboyan ”Sola Scriptura—Hanya Alkitab Saja” sebagaimana yang para reformis pergerakan Protestan lakukan? Maksud dan tujuan penulisan artikel ini adalah agar para pembaca Alkitab aebagai ”anak-anak Tuhan” (Roma 8:14) dapat hidup AMAN—IMAN—AMIN dalam dunia yang penuh kekacauan. ”Roh Kudus sajalah Guru dan Pemimpin Kebenaran” (Yohanes 14:26; 16:13).

PEMBAHASAN KHUSUS

Aman Membaca Alkitab

Wahyu 1:3 patut dibaca sebagai berikut: ”Berbahagialah ia yang membacakan [yaitu bagi] mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, [yang artinya secara realistis adalah] menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya.” Singkatnya adalah memiliki pengalaman hidup yang AMAN. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kata ”aman,” sebagai berikut: ”bebas dari bahaya,” ”bebas dari gangguan,” terlindung,” ”pasti,” ”tidak meragukan,” ”tenteram,” tidak merasa takut atau khawatir” (KBBI, 1995, s.v. ”aman”). Bila dipadukan definisi KBBI dalam membaca Wahyu 1:3, penerapannya adalah sebagai berikut: Membaca Alkitab sebagai ”Perkataan Nubuat yang dihasilkan oleh ilham Tuhan” (2 Timotius 3:16; 2 Peterus 1:20-21), pasti akan berbahagia dalam arti aman—bebas dari bahaya pengajar palsu, bebas dari gangguan pemikiran duniawi, terlindung dari ajaran sesat, memiliki kepastian hidup dalam arti tidak pernah meragukan Tuhan sebagai pengarang Alkitab, sehingga hidupnya tenteram dan tidak pernah merasa tahut atau khawatir. Megapa demikian? 1 Yohanes 4:17-19 menegaskan: ”Dalam hal inilah kasih [Tuhan] sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”

Satu-satunya Mazmur yang menggambarkan keberadaan Alkitab adalah Mazmur 119. Mazmur ini boleh disebut Mazmur Alkitab. Terdiri atas 176 ayat. Setiap 8 ayat mulai dari ayat satu menggunakan abjad Ibrani sebagai awal teks itu dalam Alkitab Ibrani. Abjad Ibrani adalah 22. Jadi 22 kali 8 adalah 176 ayat. Di setiap ayat kosep Alkitab ditampilkan. Mazmur 119:1 mendata: ”Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat [YHWH].” Sebutan Taurat YHWH adalah sebutan umum untuk Alkitab sebagai Firman Tuhan. Mazmur itu diawali dengan kata ”Berbahagia” (Mazmur 119:1-2). Hal ini menegaskan sesuai Wahyu 1:3 bahwa siapa yang membaca Alkitab PASTILAH AMAN. Mazmur 119:105 menjelaskannya: ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku yaitu terang bagi jalanku.” Selanjutnya, Mazmur 119:9-11 ”Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, [hendaknya] aku tidak dibiarkan menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau.” Singkatnya, ”Aman membaca Alkitab yaitu BERBAHAGIA.”

Iman Membaca Alkitab

Kata kerja kedua setelah “membaca” di Wahyu 1:3 agar “Berbahagia” adalah “Mendengar.” Mendengar yang dimaksudkan adalah memperhatikan. Kitab Wahyu 2 dan 3 mendata 7 kali ungkapan “Barangsiapa bertelinga hendaklah mendengar apa kata Roh kepada Jemaat” (Wahyu 1:3; 14:13; 16:15; 19:9; 20:6; 22:7,14). Ungkapan ini pasti hubungannya kepada Firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab sebagai ”Perkataan Nubuat.” Wahyu 21:5; 22:6 menyatakan bahwa ”Perkataan Nubuat di dalam Alkitabi ini adalah tepat dan benar.” Itulah sebabnya Wahyu 1:3 dari satu segi dapat dibaca ”Berbahagialah mereka yang mendengar dalam arti memperhatikan Alkitab.” Mazmur 78:1-2 dalam sebuah pepatah berkata: ”Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala” (Alkitab, Terjemahan Baru). Alkitab: Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan secara dinamis: ”Dengarlah ajaranku, hai bangsaku, perhatikanlah kata-kataku. Aku mau mengucapkan pepatah dan perumpamaan, dan menerangkan teka-teki zaman dahulu.”
Selanjutnya, Roma 10:17 menyatakan, ”Jadi, iman timbul dari pendengaran, yang artinya: pendengaran oleh Firman Kristus [Perkataan Nubuat—Yohanes 15:26-27; 2 Peterus 1:19-21). Atas dasar ini, Berbahagialah mereka yang mendengarkan Alkitab. Teks dalam Wahyu 1:3 berarti: ”Berbahagialah mereka yang beriman terhadap Alkitab sebagai Firman Kristus yaitu Perkataan Nubuat.” Perlu dipahami berdasarkan ilmu bahasa di Alkitab orang Ibrani, kata percaya atau iman berdasarkan Kejadian 15:6 dan juga Habakuk 2:4 adalah aman (Holladay, 1971, s.v. “aman”). Abraham disebut sebagai orang yang beriman di Kejadian 15:6 karena Kejadian 26:5 menyatakan: “Abraham telah mendengarkan firman-Ku dalam arti memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” Itulah sebabnya, Abraham disebut sebagai “Sahabat Tuhan” (2 Tawarikh 20:7; Yakobus 2:23). Jadi, Habakuk 2:4 menegaskan bahwa “Orang benar akan hidup karena percayanya—IMAN,” adalah karena mereka “Mendengarkan Tuhan berfirman.”
Mazmur 119:160 dan Yohanes 17:17 menegaskan bahwa ”Alkitab sebagai Firman Tuhan adalah Kebenaran.” Alkitab sebagai Buku Tuhan adalah Firman Tuhan. Ilmu yang terdapat didalamnya disebut ”Hikmat yaitu Rahasia Tuhan” (1 Korintus 2:7-8) adalah hasil pemikiran Tuhan (Roma 11:33-36). 2 Timotius 3:15 menyatakan bahwa ”Hikmat yang dimaksudkan adalah ilmu keselamatan melalui Yesus Kristus sebagai ”Jalan—Kebenaran—kehidupan” (Yohanes 14:6). Karena Yunus 2:9 menyatakan bahwa ”Keselamatan adalah dari YHWH (Keluaran 3:14—”Aku adalah Aku.” Mazmur 90:1-2—Yang Hidup Abadi).
Yohanes 6:28-29 menyatakan: “Apakah yang harus [manusia] perbuat, supaya [manusia] mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan?” Jawab Yesus Kristus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Tuhan, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Tuhan.” Singkatnya, milki IMAN. Itu sebabnya, Lukas 18:8 mendata: ”Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Membaca Alkitab dengan iman adalah budaya hidup. Karena ”Orang Benar akan hidup oleh imannya” (Roma 1:17: Galatia 3:10; Ibrani 10:35-39). Ibrani 11:1-3 menjelaskan: ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”
Kata iman di dalam Alkitab menggambarkan sebuah hubungan akrab—karib—kerabat. Ini adalah iman yang aktif. Galatia 5:6 menjelaskan: ”Iman yang bekerja oleh kasih.” Galatia 5:22-23 mendata ”iman” sebagai salah satu manifestasi ”Buah Roh,” yaitu ”kesetiaan atau faith [iman]” (King James Version). Iman adalah pemberian Tuhan. Hidup ini juga adalah pemberian Tuhan—Sola Gracia—Sola Fide (Efesus 2:8-10). Berdasarkan Roma 6:23, Hidup Surga adalah ”Anugerah Tuhan,” sedangkan hidup neraka yaitu maut abadi adalah ”upah dalam arti hasil kerja usaha pribadi.” Hidup Surga atau hidup neraka adalah pilihan perorangan yang patut dimulai sekarang (Silitonga, 2008: 5 Oktober). Singkatnya, Membaca Alkitab dengan Iman, agar BERBAHAGIA.

Amin Membaca Alkitab

Kata kerja yang ketiga dalam ”Membaca Alkitab” berdasarkan Wahyu 1:3 agar ”Berbahagia,” adalah ”menuruti.” Tindakan ”menuruti” yang dimaksudkan dalam hal ini adalah sebuah ”budaya hidup.” KBBI mendefinisikan “budaya” sebagai “pikiran” atau “akal budi.” Berbicara tentang “budi,” KBBI menyatakan sebagai “Alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.” Kata “budi” dihubungkan juga dengan “tabiat atau akhlak,” “perbuatan baik atau kebaikan” “daya upaya,” dan juga “akal.” Dengan demikian, “budaya” bisa terdiri atas dua kata, yaitu “budi” dan “daya.” Pengertian “daya” adalah “kemampuan” ataupun “kekuatan” dan “tenaga.” Singkatnya, “budaya” bukanlah sekedar satu tindakan yang berlangsung, sekali seminggu, atau sekali sebulan, atau sekali se-kwartal, ataupun sekali setahun. Yang disebut budaya adalah sesuatu yang berlangsung se-umur hidup alias selagi hayat di kandung badan. Ada sebuah peribahasa yang berbunyi sebagai berikut: “Sebuah TINDAKAN yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah KEBIASAAN. Sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah TABIAT. Akhirnya, sebuah tabiat yang berlangsung berulang-ulang se-umur hidup, akan menjadi apa yang disebut NASIB (Batra, 2002:53). INILAH YANG DISEBUT DENGAN BUDAYA HIDUP ATAU LIFE STYLE. Mrmbaca Alkitab erat hubungannya dengan kebudayaan (Siahaan dan Aitonam, 2004:1-5; Harun, 2004:6-16; Bolton, 2004:17-29).
Mazmur 1:1-2 menyatakan bagaimana “Membaca Alkitab sebagai budaya hidup.” Pemazmur berkata: “Berbahagialah orang yang . . . berjalan . . . berdiri . . . duduk dalam [arti memiliki budaya hidup Surgawi], yaitu yang kesukaannya ialah Taurat YHWH, [sehingga ia selalu] merenungkan Taurat itu siang dan malam [terus menerus seumur hidup].” Bagaimana hasilnya? Mazmur 1:3 menyatakan, bahwa ”[Orang seperti ini adalah] seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Inilah yang disebut ”Hikmat Surgawi yaitu pohon kehidupan” atau ”Ilmu keselamatan melalui Yesus Kristus” (Kejadian 2:16; Amsal 3:13-18; Yakobus 3:13-18; 1 Korintus 2:7-9; 2 Timotius 3:15; Wahyu 22:2). Yohanes 14:15 dan 15:14 meneguhkan bahwa ”Sahabat Tuhan adalah yang mengasihi dalam arti menuruti Firman Tuhan.” Sama seperti Abraham—Sahabat Tuhan yang ” mendengarkan firman [Tuhan] dalam arti memelihara kewajibannya [dalam menuruti] Tuhan, yaitu [menuruti] segala perintah, ketetapan dan hukum [Tuhan].”
Contoh nyata sebagai ”Model Amin Membaca Alkitab” adalah Lukas. Lukas 1:1-4 adalah budaya hidup ”Membaca Alkitab” yang adalah ”Kebenaran” (Mazmur 119:160; Yohanes 17:17). Lukas menulis: Teofilus [Sahabar Tuhan] yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui dengan sepenuhnya [epiginosko], bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar—memiliki kepastian yaitu keadaan yang aman [asphaelia]” (Sutanto, 2004, PBIK, jilid 1:292; jilid 2:126, 299). Inilah juga yang Lukas tulis tentang ”Orang-orang Berea yang memiliki budaya hidup yang baik.” Kisah 17:11 mendata: ”Orang-orang Yahudi di kota [Berea] lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima Firman [LOGOS] itu dengan segala kerelaan hati, karena setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Sutanto, 2004, PBIK, jilid 1:731). Kata ”Firman” dalam teks ini sama dengan ”Firman” di Yohanes 1:1-3,14 (Sutanto, 2004, PBIK, jilid 2:489-493). Salah satu nama lain dari ”Sang Firman yang telah menjadi manusia” (Yohanes 1:14) adalah ”Sang Amin—Saksi yang Setia dan Benar” (Wahyu 3:14, Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Masa Kini). Dengan demikian, Lukas dan juga orang Berea memiliki kepastian yang aman dalam membaca Alkitab yang isinya adalah ”Firman” dan juga ”Sang Amin.” Singkatnya, mereka meng-AMIN-kan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Lukas dan orang Berea benar-benar ”menuruti atau melakukan Firman Tuhan,” karena hal itu adalah budaya hidupnya. Ibrani 4:12 merangkum: ”The Word of God is living and active. [Firman Tuhan itu dihidupkan dalam arti aktif seumur hidup]” (Alkitab: New International Version).
Contoh Alkitabiah yang realistis tentang penerapan Wahyu 1:3 yang ditulis oleh Yohanes Kekasih tentang ”Membaca Alkitab: AMAN—IMAN—AMIN” adalah Yohanes Kekasih sendiri. 1 Yohanes 1:1-4 mendata: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dengan demikian, persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Itulah sebabnya, semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna [BAHAGIA].”
Kesimpulan

S
ebagai kesimpulan akhir, identifikasi masalah dan maksud tujuan penulisan artikel ini di pendahuluan berdasarkan Wahyu 1:3 sudah terjawab. Wahyu 1:3 patut dibaca sebagai berikut: Berbahagialah dalam arti AMAN bilamana seseorang MEMBACA ALKITAB oleh tuntunan Tuhan, dengan demikian ia pasti MENDENGAR SUARA TUHAN dalam arti mengerti yaitu memiliki IMAN, yang tidak lain adalah budaya hidupnya, karena ia MENURUTI DALAM ARTI MENG-AMIN-KAN Firman Tuhan seumur hidupnya. Berdasarkan realita ini, sebagai orang yang beriman, masing-masing patut memiliki TANGGUNG JAWAB PRIBADI YAITU SOLA SCRIPTURA sebagai berikut:

S-ebagai tugas utama dan tertinggi bagi umat Sang Raja Sorga yang menjadi makhluk ciptaan-Nya yang mulia menurut peta-Nya yaitu memiliki kuasa berpikir dan berbuat, maka
O-rang itu patut melakukan pilihannya sendiri demi kemuliaan Sang Raja Sorga, sehingga demi kebutuhan hidupnya, dia harus mempelajari dari Alkitab apa kebenaran itu.
L-alu seterusnya akan menghidupkan terang kebenaran Sang Raja Sorga dengan mengamalkannya kepada sesama manusia sambil memberanikan mereka untuk mengikuti teladan Sang Raja Sorga dalam menghadapi tantangan dunia.
A-nda sebagai umat Sang Raja Sorga yang berada di lingkungan dunia yang penuh dengan ajaran menyesatkan ini patutlah tetap mempertahankan ALKITAB DAN HANYA ALKITAB SAJA (yaitu SOLA SCRIPTURA) sebagai ukuran setiap pengajaran dan dasar seluruh pembaharuan hidup.
S-emua pendapat orang-orang terpelajar, kesimpulan-kesimpulan ilmu pengetahuan, undang-undang ataupun keputusan majelis-majelis agama yang tentunya sangat banyak dan
C-erdik bahkan sangat sering berlawanan dengan prinsip Alkitab–-TIDAK SATUPUN patut dipandang ataupun digunakan sebagai bahan kutipan untuk melawan iman agama yang didasarkan atas PRINSIP KEBENARAN ALKITAB.
R-ahasia pengajaran Sang Raja Sorga yang mau diselidiki hendaknya selalu meminta penjelasan dari DIA secara langsung dan harus didukung oleh sebutan: DEMIKIANLAH FIRMAN SANG RAJA SORGA atau ALKITAB BERKATA atau ADA TERTULIS. Lain dari prinsip ini, tidak dapat diterima oleh Sang Raja Sorga.
I-tulah sebabnya, dari hari ke hari umat Sang Raja Sorga harus mempelajari Alkitab dengan rajin melalui tuntunan Roh Kudus sebagai pengarang Alkitab, yang disebut Roh Kebenaran serta juga Roh Nubuat.
P-ertimbangkanlah setiap buah pikiran yang ada di dalam Alkitab itu dengan cara membandingkan ayat dan kitab yang satu dengan yang lainnya secara cermat, seksama dan tuntas.
T-entunya, berkat bantuan Sang Raja Sorga—SOLA GRATIA, umat-Nya haruslah membentuk suatu pendapat yang sudah diyakini berdasarkan Alkitab bagi dirinya sendiri.
U-ntuk kepentingan masing-masing secara perorangan, ia patut memberi pertanggung-jawaban bagi dirinya sendiri di hadapan Sang Raja Sorga—SOLA FIDE.
R-ahmat Sang Raja Sorga—SOLA GRATIA akan selalu menuntun putusan Anda selama hayat dikandung badan.
A-khirnya, kiranya Sang Raja Sorga Yang Mahapengasih dan Mahakuasa pasti selalu menuntun Anda sampai tiba saatnya suasana MARANATA yang bahagia. IHILAH YANG MEMBUAT ANDA AMAN—ANDA PERLU BERIMAN—APA YANG RAJA SURGA KATAKAN AMINKAN SAJA (Silitonga, 2007: 17-18 disadur dari White, 1999: 624-634).

Referensi atau Daftar Kepustakaan

Alkitab. Terjemahan Baru. 1974. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Alkitab: Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Masa Kini. 1985. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Bible. King James Version. Iowa: World Bible Publishers.

Bible. New International Version. 1984. International Bible Society.

Bolton, R. 2004. ”Aspek-aspek Bahasa dan Budaya dalam Penerjemahan.” Forum Biblika. Jurnal Ilmiah Populer, No. 17.

Brata, Promod. 2002. Simple Ways To Become A Professional Secretary. New Delhi: Goodword Press.

Harun, N. 2004. “Tafsir Alkitab dalam Konteks Budaya Indonesia.” Forum Biblika. Jurnal Ilmiah Populer, No. 17.

Hasel, Gerhard F. 1980. Understanding the Living Word of God. Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association.

Holladay, William L. 1971. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of yhe Old Testament. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 1995. Jakarta: Balai Pustaka.

Siahaan, T dan S. O. Aitonam. 2004. ”Budaya Sebagai Sebuah Teks Terbuka.” Forum Biblika. Jurnal Ilmiah Populer, No. 17.

Silitonga, H. S. P. 2007. Pelajaran Pendalaman Alkitab: Dari Eden Diciptakan Sampai ke Eden Dipulihkan. Bandung: Universitas Advent Indonesia.

_____. 2008. “Hidup Surga, Anugerah Tuhan.” Mimbar Agama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di TVRI Nasional pada tanggal 5 Oktober, jam 14.00—14.30 WIB.

Sutanto, Hasan. 2004. Perjanjian Baru Interlinear Yunani—Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK), 2 jilid. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

White, Ellen G. Kemenangan Akhir. Bandung: Indonesia Publishing House, 1999.

Leave a Reply