MEMBENCI SAMA DENGAN MEMBUNUH

August 21, 2015 - John Maruli Situmorang

“Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia dan kamu tahu tidak ada seorang pembunuh yang memiliki hidup kekal di dalam dirinya” (1 Yohanes 3 : 15)

 

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi kita masih menyimpan kebencian terhadap sesama kita. Salah satu ciri orang yang hatinya bersih yaitu dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran hidup. Sejak kita percaya Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ada Roh Kudus dalam hati kita. Kemana pun aliran sungai mengalir, di sana muncul kehidupan, artinya orang yang hatinya bersih, kemana pun ia pergi orang lain akan merasakan air kehidupan. Orang lain yang letih lesu akan bersemangat kembali karena ada aliran air hidup dari orang itu. Ke mana pun orang itu melangkah, ada kesegaran pada orang yang mendengarnya.

 

Kebencian terhadap saudara sama artinya dengan pembunuh. Pemahaman nilai kasih sebagaimana biasa-biasa saja adalah kurang pas. Mengasihi saudara kita, adik kita, kakak kita, hela, simatua, sepupu keponakan dan lain sebagainya, karena mereka mengasihi kita. Itu baik. Tetapi akan berbeda apabila salah satu diantara mereka tidak menyenangkan kita atau keluarga kita. Terkadang sampai terungkap istilah bahasa Batak: ”Mardomu di tano na rara” artinya tidak memaafkan hingga kematian. padahal istilah tersebut sudah seharusnya lama terkubur setelah keKristenan ada di dalam hati, seketika kita menerima pengampunan dari Allah. Kenapa kebencian masih bisa terjadi?. Karena harga diri, gengsi, egoisme masih terlalu besar melekat di dalam jiwa ini dibandingkan kerendahan hati dan semangat mau mengampuni. Lebih sering jiwa ini menilai kita yang benar, yang paling benar, mereka tidak tahu diri. Kita lupa pada prinsip untuk saling mengampuni, saling memaafkan dan melupakan kejadian yang pernah menggores dan melukai hati. ”Forget and Forgive” merupakan kata kunci untuk menyelesaikannya sehingga tidak berlarut-larut sampai matahari tenggelam berulang kali. Dalihnya: ”Karena kamu tidak merasakannya”, begitulah pembelaan diri dan pembenaran terhadap apa yang dilakukannya.

 

Kita sering berkilah bahwa kitakan sudah ditebus, menjadi manusia baru dibasuh dalam darah Kristus. Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam gelap ke dalam terang. Tetapi apa menurut ayat Firman Tuhan: ”Barang siapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. (ay 14-15). Satu pernyataan yang sangat tegas mengenai kehidupan kekal. Kalau kita memahami akibat dari kebencian ini, terlalu ngeri bagi kita untuk membenci saudara kita, yaitu maut.

 

Kalau bukan Kristus yang bertahta di dalam hati ini, mana mungkin kita mampu untuk memaafkannya. Goresan yang menyakitkan itu terlalu dalam dan membekas sehingga sulit untuk melupakannya. Beban kebencian itu terlalu berat untuk dilupakan, belum sempat membalas dendam sudah mau dimaafkan, enak benerrr!!, bisik si Iblis. Satu hal yang patut kita ingat sebagai murid Kristus, dari 1 Petrus 2:23: Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Kenapa Ia tidak membalas? Karena Ia rendah hati. Ia menyerahkannya kepada Allah Bapa hakim yang adil itu. Tuhan Yesus memampukannya!!!.

I Yohanes 4:20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Surat I Yohanes ini ditulis oleh Rasul Yohanes yang merupakan rasul terakhir meninggal dan yang paling akhir menuliskan surat-suratnya (Wahyu).

 

Jika ada pertanyaan siapa yang tidak pernah membenci saudaranya?, apakah kita akan berani mengangkat tangan kita? Atau jangan-jangan kita menyembunyikan tangan karena kita tahu bahwa kita pernah atau bahkan sedang membenci seseorang. Kita selalu punya cukup atau bahkan banyak alasan bahwa kita punya hak untuk membenci seseorang. Mungkin kita akan mengatakan “loh dia itu menjengkelkan, atau dia itu orang yang nggak setia dan mau menang sendiri dan masih banyak yang lainnya lagi. Apapun alasan kita, apapun perbuatan seseorang terhadap kita Tuhan berfirman sesuai dengan I Yoh 4:20 yaitu: JIKA ENGKAU MENGASIHIKU MAKA KASIHILAH SAUDARAMU!!!, karena jika tidak kita adalah seorang pembual.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah adakah diantara kita adalah seorang pembunuh? Maka kita akan menjawab, “wah ya nggak ada lah, masak disini ada pembunuh”. Tetapi Firman Tuhan di I Yohanes 3 : 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya, menyatakan bahwa jika ada diantara kita yang MEMBENCI saudaranya, dengan alasan apapun juga maka kita adalah seorang PEMBUNUH, dan tidak memiliki jaminan hidup kekal.

 

iapa sih yang memiliki potensi paling besar untuk menyakiti kita? Dan jawabannya adalah orang yang terdekat dalam hidup kita, suami-istri, orang tua-anak, menantu-mertua dll. Ingat bahwa mereka inilah yang paling besar peluangnya untuk menyakiti, menghianati, mengecewakan kita, tetapi apakah ini dapat dijadikan alasan kita untuk tidak mengasihi? Sekali-kali tidak. Sebab jika kita mengasihi Allah maka kita akan mengasihi setiap orang  apapun keadaannya, apapun kelakuannya dan apapun kekurangannya. Teladan ini telah diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus yang karena kasih-Nya atas kita, walaupun kita yang oleh karena pelanggaran dan dosa telah menyakiti-Nya, Tuhan tetap mengambil keputusan di  taman Gestmani untuk meminum cawan yang pahit dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita. Oleh karena itu setiap kita yang mengatakan bahwa Tuhan, “aku mengasihi-Mu” haruslah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

 

1.       Hidup berbuat baik kepada siapapun.

 

Matius 5: 44-47 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

 

Roma 12: 17-21 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

 

Perintah Tuhan itu sungguh dasyat, yaitu kasihilah sesamamu manusia bahkan kasihilah musuhmu (orang yang menyakiti, menganiaya, melukai) doakan dan berkatilah. Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita itu baik, tetapi itu standard dunia, dan itu tidak memenuhi standard yang ditetapkan oleh-Nya. Jika kita mau memenuhi standard Allah maka lakukan perintah-Nya, kasihilah siapapun, bagaimanapun keadaannya dan apapun perbuatannya, karena kita memandang kasih Allah.  Mungkin akan ada yang berkata, “kamu ini kok bego banget sih, da dikibulin tetep saja baik”. Jangan pernah pedulikan itu karena pembalasan bukanlah bagian kita tetapi biarlah itu menjadi bagian Allah, bagian kita adalah selalu dan selalu dan selalu berbuat kasih. Kita belajar dari kehidupan Yusuf. Ketika ia disakiti oleh saudara-saudaranya, dipukul, dijual menjadi budak, terpenjara, teraniaya, Yusuf punya seribu alasan untuk menjadi marah, benci dan dendam. Tetapi Yusuf tidak pernah punya niatan untuk membalas, tidak pernah membiarkan kepahitan menggerogoti hatinya, yang ia punya adalah kasih. Dan ketika ia naik, Yusuf sama sekali tidak membalas yang dilakukannya adalah memberkati dan memelihara kehidupan mereka. KALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN !.

 

2.       Menerima Setiap Orang Apa Adanya

 

Yohanes 8 : 10-11 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Cukup banyak Teladan yang Tuhan berikan buat kita, dalam hal menerima setiap orang apa adanya yaitu:

  • Ketika Tuhan Yesus dihadapkan pada satu kasus, dimana didapati perempuan yang berzinah, Tuhan hanya mengatakan siapapun yang berasa tidak pernah berdosa, silakan melempari pertama kali. Dan ternyata tidak seorangpun yang melempari bahkan semuanya mundur dan meninggalkan perempuan itu. Tuhan tidak menghukum tetapi memberikan pengampunan. Tuhan mengajarkan kita untuk menerima setiap orang apa adanya, tidak ada manusia yang sempurna, kitapun tidak sempurna.
  • Anak Bungsu yang meminta uang warisan, padahal Bapanya belum meninggal, setelah itu berfoya-foya. Setelah habis semuanya, sadar dan ingin pulang kerumah Bapanya. Bapanya yang melihat dari kejauhan tidak lagi mengingat segala apa yang telah dilakukan oleh anaknya. Bapanya menerimanya, memeluknya, dan tetap mengasihinya dengan kasih Bapa.

Jika kita mengasihi Allah, maka kita akan mengasihi setiap orang  apa adanya dan penerimaan kita akan membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupannya.

 

3.       Kata-kata yang penuh Kasih

 

Kolose 4:5 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

 

Ketika kita sedang jatuh cinta, setiap kata yang keluar dari bibir kita adalah kata-kata yang penuh kasih. Demikianlah juga hendaknya kehidupan kita terhadap setiap orang, yaitu setiap kata yang kita sampaikan adalah kata-kata yang penuh kasih, bukan kata-kata yang memojokkan, menyinggung ataupun menyakitkan. Setiap kata yang keluar dari bibir kita itu menggambarkan bagaimana keadaan hati kita, apakah penuh kasih ataukah penuh kebencian. Perkataan itu bagaikan pisau yang tajam, sekali kita menancapkan/melukai orang lain, kita dapat meminta maaf (menarik pisau itu lagi) tetapi tetap akan meninggalkan bekas dihatinya. Bijaksanalah dalam berkata-kata, karena setiap orang yang mampu mengendalikan perkataannya (lidahnya) adalah orang-orang yang sempurna dihadapan Allah. Yakobus 3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

4.       Mengampuni Dosa

 

Matius 18: 21-22 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Terkadang kita akan bertanya seperti Petrus, sampai berapa kali saya musti mengampuni orang yang  menyakiti saya? Tuhan tegaskan bahwa bukan sekali, dua kali atau tujuh kali, tetapi berkali-kali. Ingat dosa kita yang begitu besar telah diampuni oleh Allah, masakan kita yang hanya manusia ini merasa lebih tinggi dari  Allah sehingga kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.

 

Dalam Markus 11: 25-26 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.) dan Matius 6 :14-15 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”. Tuhan menyatakan bahwa jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain terlebih dahulu, Allahpun tidak akan mengampuni pelanggaran kita.

Mazmur 37:4 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Kasihilah seorang akan yang lain seperti Yesus mengasihi jemaat, dan itulah bukti kasih kita kepada Tuhan yang paling nyata.

 
Salam, John

 

› tags: benci / bunuh /

Leave a Reply