“MEMURIDKAN ANAK-ANAK”

January 27, 2014 - Loddy Lintong

PENDAHULUAN

 

Warga cilik kerajaan surga. Program pemuridan yang mengabaikan kanak-kanak adalah usaha pemuridan yang cacad. Mengapa? Sebab Yesus sendiri melayani dan memberkati kanak-kanak. Bahkan, karena karakter mereka Yesus menjadikan kanak-kanak sebagai standar moral bagi calon-calon surga, “sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat. 19:14). Yesus mengasihi kanak-kanak, dan kanak-kanak pun menyayangi Yesus. Kanak-kanak adalah juga calon-calon warga surga, jangan-jangan malah kanak-kanak itu yang lebih rindu dan lebih siap untuk masuk surga ketimbang orang-orang dewasa. Jadi, janganlah sekali-kali mengabaikan kanak-kanak dalam pemuridan.

 

“Banyak gereja tampaknya kehilangan fakta penting ini dalam perencanaan penginjilan mereka, mengarahkan bagian terbesar dari sumberdaya mereka kepada orang dewasa. Murid-murid Kristus yang mula-mula pun kelihatannya meremehkan nilai pelayanan anak-anak. Yesus menolak sikap demikian dan menyediakan ruang bagi anak-anak, bahkan memberi prioritas kepada mereka” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

 

Dalam struktur organisasi Gereja MAHK pelayanan anak-anak mendapat tempat khusus dengan sistem pelayanan berjenjang, mulai dari tingkat pusat sedunia sampai kepada jemaat-jemaat setempat. Dalam situs Departemen Pelayanan Anak-anak dari Pimpinan Pusat Gereja MAHK Sedunia (Children Ministries Department of General Conference of Seventh-day Adventist Church) disebutkan falsafah yang mendasari pelayanan anak-anak: “Pelayanan Anak-anak adalah perihal mengembangkan iman anak-anak dari lahir sampai usia empat belas tahun. Sementara Sekolah Sabat menyediakan pendidikan agama sekali seminggu, Pelayanan Anak-anak melihat pada anak secara utuh dan berusaha menyediakan berbagai pelayanan yang akan menuntun anak-anak kepada Yesus dan memuridkan mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan Dia” (Sumber: http://www.gcchildmin.org/philosophy/index.html).

 

Pemuridan di kalangan anak-anak adalah bagian dari pelayanan Yesus, dan dengan demikian menjadi bagian pula dari perintah Yesus yang diamanatkan kepada kita. Pemuridan harus dimulai sejak usia sedini mungkin, bahkan program pemuridan adalah hal yang paling diperlukan oleh anak-anak usia dini pada zaman ini.

 

Minggu, 19 Januari

ANAK-ANAK JUGA MANUSIA (Keberuntungan Anak-anak Ibrani)

 

Ketika anak-anak dikorbankan. Mempersembahkan anak-anak sebagai kurban dalam peradaban purba adalah fakta sejarah. Hampir semua masyarakat purba mengenal upacara mengurbankan anak-anak kecil atau remaja, laki-laki maupun perempuan. Penggalian-penggalian arkeologis di berbagai tempat di dunia membuktikan sinyalemen ini, antara lain kebudayaan Aztec dan Inca di Amerika Selatan, kebudayaan Viking dan Celtic di Eropa, kebudayaan Kartage di Afrika, kebudayaan Fenisia di Laut Tengah, kebudayaan Mancuria, Hindus, dan Tibet di Asia. Bahkan antara tahun 2005-2010 lalu di Uganda, sebuah negara di Afrika, kedapatan masih mempraktikkan ritual mengurbankan anak-anak sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya bangsa di abad ke-21 yang masih menjalankan upacara keji ini.

 

Dalam tradisi bangsa Kanaan mengurbankan anak-anak adalah bagian penting dalam penyembahan dewa Molokh, dan peribadatan kekafiran ini seringkali mempengaruhi bangsa Israel yang mendiami negeri Kanaan. Manasye, raja ke-14 kerajaan Yehuda di selatan yang memerintah tahun 687-642 SM, dalam masa kemurtadannya kemungkinan juga telah mempersembahkan anak-anaknya sendiri kepada dewa Molokh (2Taw. 33:6). Perbuatan demikian jelas-jelas melawan perintah Allah kepada bangsa Israel untuk tidak mempersembahkan anak-anak mereka kepada Molokh (Im. 18:21), sebuah perintah yang disertai sangsi hukuman mati (Im. 20:1-5). Namun tampaknya bukan hanya Manasye yang berbuat itu, tapi juga raja-raja Yehuda lainnya seperti Salomo (1Raj. 11:7), Yosia (2Raj. 23:10), dan Zedekia, bahkan rakyat Yehuda dan Israel secara bersama-sama (Yer. 32:32-35).

 

Kalau pada peradaban purba mengobankan anak-anak adalah karena tujuan penyembahan (motif keagamaan), pada zaman moderen ini mengorbankan anak-anak lebih karena tujuan eksploitasi (motif ekonomi). Bagi masyarakat yang kurang mampu anak-anak sering dijadikan sebagai tenaga kerja, sedangkan bagi masyarakat mampu anak-anak kerap dijadikan sebagai bahan reputasi dan gengsi orangtua mereka. Apapun alasannya, pengeksploitasian anak pada hakikatnya adalah “mengorbankan” anak-anak, suatu hal yang tidak berterima di hadapan Tuhan.

 

“Pengorbanan anak sebagai hal menyenangkan ilah telah diterima oleh banyak budaya. Kalau tidak, nilai anak-anak sering diukur dengan kontribusi ekonomis mereka bagi masyarakat. Produktivitas kerja, bukan nilai hakiki, menentukan hubungan mereka dengan dunia orang dewasa. Menyedihkan untuk dikatakan, namun sebagian dari sikap demikian ini, khususnya ketika dikaitkan dengan nilai ekonomi, ditemukan dalam dunia dewasa ini sekalipun. Sesungguhnya, hari kemurkaan itu akan datang” [alinea pertama: lima kalimat terakhir].

 

Harkat anak-anak. Kitabsuci mengatakan bahwa anak-anak merupakan anugerah dan pusaka Allah (Mzm. 127:3-5; 128:4-6). Anak-anak adalah titipan Allah kepada orangtua mereka untuk diajar tentang perintah Tuhan (Ul. 6:6-7) dan dididik (Ams. 22:6), sebab mereka akan menjadi murid-murid Tuhan sendiri (Yes. 54:13). Beberapa di antara tokoh-tokoh Alkitab adalah anak-anak yang lahir atas permintaan ibu mereka kepada Tuhan dengan cara paksa, seperti Yusuf (Kej. 30:22-24) dan Samuel (1Sam. 1:11, 27), menunjukkan bahwa dari zaman dulu orangtua sangat mendambakan anak-anak dan dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Namun sementara anak-anak adalah karunia Tuhan, orangtua berkewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anak mereka sesuai dengan jalan Tuhan. Anak-anak bukanlah aset untuk dimanfaatkan demi kepentingan orangtua, tapi anak-anak adalah tanggungjawab yang dipercayakan Allah kepada orangtua mereka.

 

“Pendidikan, hak kesulungan, dan banyak praktik-praktik budaya lainnya yang jelas menunjukkan betapa bernilainya anak-anak dalam kebudayaan Ibrani purba. Tidak mengherankan, Kristus memperluas kedudukan anak-anak yang sudah terangkat itu, dibandingkan dengan budaya di sekitarnya, kepada standar yang baru. Lagi pula, anak-anak adalah makhluk manusia, dan kematian Kristus adalah bagi semua orang berapapun usia mereka–suatu hal yang tidak boleh kita lupakan” [alinea terakhir].

 

Peradaban moderen menghargai harkat anak-anak, antara lain dengan mengakui serta menjamin hak-hak anak. Pada rapat paripurna PBB tanggal 20 November 1989 telah disahkan apa yang disebut “Konvensi Anak-anak” di mana Indonesia menjadi salah satu negara penandatangan. Dalam konvensi ini antara lain ditegaskan, “Dalam semua tindakan yang menyangkut anak-anak, baik yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau swasta, pengadilan, penguasa-penguasa pemerintahan atau badan-badan legislatif, kepentingan terbaik dari anak-anak harus menjadi pertimbangan utama” (Pasal 3, ayat 1). Selain itu, “Negara-negara Peserta akan menghormati tanggungjawab, hak dan kewajiban orangtua…untuk memberi, dengan cara yang sesuai dengan kemampuan yang berkembang dari anak itu, arahan dan bimbingan yang tepat dalam pelaksanaan hak-hak anak yang diakui dalam Konvensi yang sekarang ini” (Pasal 5).

 

Apa yang kita pelajari tentang nilai anak-anak pada pemandangan Tuhan?

1. Allah menanamkan dalam kebudayaan Israel purba (orang Ibrani) untuk menghargai anak-anak sebagai berkat dan anugerah, di antaranya dengan membakukan “hak kesulungan” untuk setiap anak laki-laki tertua. Meskipun hak tersebut tidak berlaku bagi kita, tapi tuntutan Allah akan penghargaan terhadap anak-anak tidak berubah.

2. Mengorbankan anak, dalam cara apapun dan dengan motif apapun, adalah tindakan pengkhianatan terhadap hak-hak anak dan menjadi kekejian bagi Tuhan. Anak-anak adalah milik Allah yang dititipkan dalam pengasuhan orangtua, segala bentuk pengeksploitasian anak pada dasarnya adalah pengingkaran terhadap mandat Allah.

3. Tidak ada satu pun anak yang minta dilahirkan; anak lahir dari aktivitas biologis orangtua dan kehendak Allah. Setiap orangtua bertanggungjawab untuk membesarkan, memelihara, dan mendidik anak-anak mereka. Allah akan memberkati setiap orangtua yang bertanggungjawab dengan menyediakan sumberdaya yang diperlukan.

 

Senin, 20 Januari

YESUS SEBAGAI ANAK BIASA (Masa Kanak-kanak Yesus)

 

Bertumbuh secara normal. Masa kanak-kanak dan masa remaja Yesus Kristus telah menjadi bahan spekulasi banyak orang karena Alkitab sangat sedikit menulis tentang hal itu. Satu-satunya informasi tentang kehidupan Yesus sebelum Dia berusia 30 tahun–selain waktu kelahiran-Nya–adalah saat Yesus berumur 12 tahun ikut bersama Yusuf dan Maria ke Yerusalem dalam ziarah tahunan yang diwajibkan bagi orang Yahudi, mungkin sekaligus untuk persiapan bar mitzvah, sebuah upacara tradisional bagi anak laki-laki Yahudi yang mencapai umur 13 tahun sebagai tanda memasuki masa “kedewasaan rohani” di mana seorang anak dianggap sudah cukup dewasa untuk menaati semua hukum agama (bagi anak perempuan pada usia 12 tahun, disebut bat mizvah). Sesudah kisah tentang kunjungan ziarah tahunan itu, dengan peristiwa Yesus mengajar di kaabah Yerusalem, selanjutnya kita tidak menemukan informasi apapun sampai Yesus muncul lagi ketika Dia dibaptis dan memulai pelayanan-Nya.

 

Bahwa Yesus sebagai kanak-kanak dan remaja cukup dikenal di kampungnya terbukti ketika orang-orang mengungkapkan keheranannya terhadap kecakapan Yesus mengajar dan mengadakan mujizat. Kata mereka, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” (Mat. 13:54-56). Mereka tertegun karena selama ini Yesus yang mereka kenal sebagai anak tukang kayu, yang mungkin tidak banyak bicara, tiba-tiba sekarang tampil begitu fasih dalam pengetahuan agama. Karena mengenal siapa Yesus itulah maka mereka tidak mau mendengar pengajaran-Nya (ay. 57-58). Lumrah dan khas, bukan?

 

“Sekiranya Yesus melewatkan masa kanak-kanak dan hadir di planet Bumi ini sebagai seorang yang sudah dewasa, berbagai pertanyaan serius mungkin akan timbul sehubungan dengan kemampuan-Nya menyesuaikan diri dengan anak-anak. Akan tetapi Kristus bertumbuh-kembang seperti layaknya semua anak-anak, tidak ada tahap-tahap pengembangan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan kematangan yang terlewatkan. Ia mengerti godaan-godaan masa remaja. Ia mengalami kecenderungan untuk berbuat salah dan kegelisahan masa kanak-kanak” [alinea pertama: empat kalimat pertama].

 

Masa pertumbuhan akhlak. Sekalipun kelahiran-Nya terjadi sebagai suatu keajaiban, Yesus sebagai kanak-kanak bukanlah seorang “anak ajaib” dalam pengertian seperti anak yang “super” dan berbeda dari teman-teman-Nya. Dapat dipastikan bahwa masa pertumbuhan Yesus hingga mencapai usia dewasa berlangsung dalam tahap-tahap yang normal dan wajar, termasuk dalam pertumbuhan akhlak dan akal budi. Kecerdasan emosi maupun kecerdasan psikologis Yesus tidak bertumbuh sendiri secara otomatis, orangtua-Nya harus menjalankan kewajiban mereka sebagai umumnya orangtua bangsa Ibrani untuk mendidik dan melatih Yesus selama masa kanak-kanak hingga remaja. Kepiawaian Yesus dalam hal doktrin agama adalah hasil dari perpaduan pengajaran orangtua-Nya dan kesungguh-sungguhan Yesus sendiri untuk belajar dengan tekun.

 

Satu-satunya ayat dalam Alkitab yang menyinggung soal pertumbuhan kecerdasan emosi dan kecerdasan psikologis Yesus selepas usia 12 tahun adalah dalam injil Lukas: “Yesus makin bertambah besar dan bertambah bijaksana, serta dikasihi oleh Allah dan disukai oleh manusia” (Luk. 2:52, BIMK). Sebelumnya penulis yang sama telah memberi pernyataan tentang pertumbuhan Yesus secara fisik selama dua belas tahun pertama, “Anak itu bertambah besar dan kuat. Ia bijaksana sekali dan sangat dikasihi oleh Allah” (ay. 40, BIMK).

 

“Menurut ayat-ayat tersebut, Yesus memperoleh kebijaksanaan. Allah menganugerahkan kasih karunia pada-Nya. Dari perjumpaan pada masa kanak-kanak Kristus di kaabah selama kunjungan Paskah kita dapat melihat bahwa Yesus memiliki hikmat kitabsuci yang mendalam. Guru-guru agama sangat terkesan dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban Yesus…Allah sudah tentu menggunakan berbagai pengalaman masa kanak-kanak untuk membentuk tabiat tanpa cela yang menakjubkan itu” [alinea ketiga; alinea keempat: kalimat pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang masa kanak-kanak Yesus?

1. Penjelmaan Anak Allah dalam sosok Yesus Kristus adalah penjelmaan totalitas sejak lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, sampai usia dewasa. Kemanusiawian Yesus tidak berbeda dari orang-orang sekampung-Nya: bertumbuh, bergaul, membantu orangtua, belajar agama, dan sebagainya.

2. Di Nazaret, kampung halaman Yesus, masyarakat mengenal Dia sebagai seorang yang saleh dan suka bergaul. Itulah sebabnya Ia “makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk. 2:52, TB). Yesus membuktikan bahwa sebagai remaja menjadi “anak gaul” dan sekaligus “anak saleh” bukan hal yang mustahil.

3. Tampaknya Yesus telah menerima pendidikan agama dan pendidikan moral dari orangtua duniawi-Nya, yakni Yusuf dan Maria, dalam takaran yang proporsional dan porsi yang cukup. Yesus bertumbuh secara normal dan wajar, bukan sebagai seorang “anak karbitan” yang dipaksa bertumbuh karena ambisi orangtua.

 

Selasa, 21 Januari

KEPEDULIAN PADA ANAK-ANAK (Menyembuhkan Anak-anak)

 

Merasakan kekhawatiran orangtua. Yesus tidak pernah menjadi orangtua, tetapi Ia mempunyai orangtua di dunia ini. Tentu saja Yesus mengerti kekhawatiran orangtua terhadap keadaan anak-anak mereka. Bukankah Ia sendiri pernah menyaksikan kekhawatiran ibu dan ayahnya karena kehilangan diri-Nya selama tiga hari dalam perjalanan pulang setelah merayakan Paskah, lalu bergegas kembali ke Yerusalem? Saat menemukan Yesus sedang mengajar di dalam kaabah, ibu-Nya menegur Dia, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk. 2:48).

 

Ketika para orangtua dari anak-anak yang sakit parah, dirasuk roh jahat, maupun yang sudah mati itu datang menemui Yesus untuk meminta pertolongan, Ia dapat merasakan kecemasan, kepanikan, bahkan keputusasaan mereka. Namun, meskipun Yesus tentu ingin memenuhi kerinduan para orangtua itu menyangkut keadaan anak mereka, Ia juga ingin menanamkan suatu nilai rohani yang penting: iman. Maka ketika orangtua dari anak tunggal yang tersiksa oleh roh jahat datang kepada Yesus dan mengadu bahwa murid-murid-Nya tidak berhasil mengusir roh jahat itu, Yesus tidak menegur murid-murid melainkan mencela ketidakpercayaan orang banyak termasuk orangtua anak itu. Kata-Nya kepada mereka, “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” (Luk. 9:41). Bukankah sebelumnya Yesus sudah memberi kekuatan dan kuasa kepada murid-murid-Nya “untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit”? (ay. 1).

 

“Dalam semua cerita ini satu kesamaan sangat mencolok ialah bahwa, dalam setiap kasus, orangtua yang putus asa itu datang kepada Yesus mencari pertolongan bagi seorang anak. Orangtua mana yang tidak terpengaruh? Orangtua mana yang belum pernah merasakan kepedihan, kesedihan, ketakutan, dan langsung merasa ngeri apabila seorang anak sakit parah atau bahkan sedang sekarat? Bagi mereka yang sudah mengalaminya, tidak ada hal lain yang lebih buruk” [alinea pertama].

 

Ketika orangtua kehilangan anak. Sesungguhnya, tidak ada orangtua yang siap kehilangan anak akibat kematian, sekalipun dalam kasus-kasus di mana kematian mungkin sudah diantisipasi semisal akibat sesuatu penyakit. Kalau boleh memilih, mungkin banyak orangtua yang siap untuk menggantikan kematian anaknya. Dalam satu dunia yang sempurna, siklus kehidupan memang seharusnya berlangsung normal bilamana generasi yang lebih tua meninggal lebih dulu baru kemudian orang-orang dari generasi yang lebih muda. Tetapi anda dan saya tidak hidup dalam dunia yang sempurna, dan kematian selalu tampil sebagai sosok yang misterius dan tak terduga. Banyak kali bahkan doa-doa kita kehilangan daya untuk mencegah suatu kematian.

 

Seseorang pernah berkata, “Apabila orangtua yang meninggal, anda kehilangan masa lalu; apabila anak yang meninggal, anda kehilangan masa depan.” Anak, atau anak-anak, memang selalu dikaitkan dengan masa depan. Semakin besar ambisi orangtua terhadap masa depan anaknya, semakin berat pula kesedihan yang harus ditanggung kalau anak itu meninggal dunia. Namun orangtua bisa saja kehilangan harapan pada masa depan anaknya bukan akibat kematian secara fisik saja tapi juga karena “kematian” moral dan rohani dari anak itu. Dengan demikian orangtua yang saleh tidak cukup hanya mendoakan kesehatan dan keselamatan fisik anak-anak mereka saja, tapi juga mendoakan kesejahteraan moral dan kerohanian mereka. Mendoakan anak yang sakit jasmani sama pentingnya dengan mendoakan anak yang sakit rohani. Bahkan, dalam banyak kasus, lebih mudah bagi orangtua untuk merelakan anaknya meninggal dunia asalkan jiwanya selamat.

 

“Meratapi kematian fisik dan menyaksikan pembusukan rohani mungkin sama-sama menyakitkan. Berapa banyak orangtua yang menderita atas anak-anak yang dikuasai oleh kecanduan narkoba, pornografi, atau sikap ketidakpedulian masa remaja? Apapun penderitaan itu, kita harus belajar untuk percaya kepada Tuhan serta kebaikan dan kasih-Nya, bahkan ketika keadaan tidak menghasilkan kebahagiaan seperti pada cerita-cerita Alkitab tersebut di atas” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang anak-anak yang disembuhkan oleh Yesus, dibandingkan dengan anak-anak kita sekarang?

1. Semasa hidup-Nya di atas dunia ini Yesus menyembuhkan anak-anak yang sakit dan menderita karena kepedulian orangtua mereka, tapi banyak juga anak-anak lain yang tidak beruntung mendapat pelayanan Yesus. Zaman sekarang pun banyak anak-anak yang bernasib malang akibat ketidakpedulian orangtua mereka.

2. Orangtua yang bertanggungjawab atas kesejahteraan anak tentu menaruh perhatian pada semua aspek kehidupan anak-anak mereka, semata-mata demi kepentingan anak itu sendiri. Yesus menolong anak-anak karena Ia melihat mereka juga adalah calon-calon warga surga.

3. Sementara menangisi kematian anak adalah hal yang manusiawi, orang Kristen tidak akan bersedih kelewat batas. “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1Tes. 4:13).

 

Rabu, 22 Januari

KEJAHATAN TERHADAP ANAK-ANAK (Sebuah Amaran Mengerikan)

 

Menghargai kepolosan kanak-kanak. Setelah mencela kota-kota yang penduduknya tidak mau bertobat meski sudah mendengar kabar keselamatan, Yesus kemudian berdoa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Mat. 11:25-26; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan “orang kecil” dalam ayat ini adalahνήπιος, nēpios, sebuah kata sifat yang bisa berarti anak kecil atau juga tidak terpelajar (Strong, G3516). Meskipun Alkitab versi King James menerjemahkan kata ini dengan babes (“kanak-kanak” atau “orang yang kurang berpengalaman”), secara kontekstual maksud sebenarnya adalah “orang-orang yang tidak terpelajar” seperti digunakan oleh Alkitab versi BIMK.

 

Salah satu sifat khas anak-anak kecil, yang membuat mereka berbeda dari orang dewasa, ialah kepolosan. Karena sifat mereka yang polos maka anak-anak tidak bisa berbohong. Yesus menyukai keluguan dan kepolosan kanak-kanak oleh sebab Ia menghargai ketulusan hati. Itulah sebabnya Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga…Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga…Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat. 18:3, 10, 14; huruf miring ditambahkan).

 

“Terdapat kemurnian yang unik dalam diri anak-anak yang Yesus sering tonjolkan ketika menggambarkan kerajaan-Nya. Bagaimanapun ketulusan, kerendahan hati, kebergantungan, dan kemurnian mereka mencakup esensi dari kehidupan Kristiani. Betapa kita semua harus mendambakan kebersahajaan dan kepercayaan seperti itu dalam menghidupkan iman kita” [alinea pertama].

 

Perlindungan anak. Melindungi anak-anak adalah kewajiban semua orang dewasa, dan perlindungan itu bersifat komprehensif. Anak-anak tidak saja harus dilindungi dari keadaan berbahaya yang dapat mengancam hidupnya atau mencelakakan dirinya, tapi juga dilindungi hak-haknya sebagai anak. Perlindungan hak anak sudah menjadi kepedulian dunia internasional, dan sebuah negara akan dianggap terbelakang jika tidak turut merespon masalah ini. Sekarang ini kita memiliki dua lembaga nasional yang menggeluti masalah perlindungan anak. Pertama adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (disingkat KPAI) yang pembentukannya melalui Keppres No. 77 Tahun 2003 berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebuah lembaga yang dibiayai negara melalui APBN dan bertanggungjawab kepada presiden; kedua adalah Komisi Nasional Perlindungan Anak (disingkat Komnas PA) yang pembentukannya berdasarkan Surat Akta Notaris sebagai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), didirikan tahun 1988 dan dibiayai oleh para donatur.

 

Gereja MAHK juga menaruh perhatian terhadap isu perlindungan anak. Melalui lembaga yang disebut Adventist Risk Management (ARM) telah disusun apa yang disebut Rencana Perlindungan Anak yang bertujuan untuk menyediakan pelatihan dan pemberdayaan para pemimpin jemaat demi menjadikan gereja sebagai tempat yang aman bagi anak-anak serta melindungi anak-anak dari berbagai bentuk pelecehan. Sebagaimana kita tahu, gereja kita menyediakan berbagai program untuk anak-anak dan remaja di mana para relawan dari kalangan orang-orang dewasa terlibat sebagai instruktur ataupun pembimbing, antara lain Pathfinder Club, Acara Pembangunan Tabiat Anak (APTA), Pelayanan Anak-anak, di samping Sekolah Sabat Anak-anak. Dalam rapat General Conference di Atlanta tahun 2010 lalu para delegasi yang berkumpul dari segenap penjuru dunia telah menyetujui sebuah keputusan untuk menambah satu kalimat khusus dalam Buku Peraturan Jemaat (d/h Peraturan Sidang) yang mensyaratkan agar para guru dan pembina program-program bagi anak-anak tersebut “harus memenuhi standar dan tuntutan gereja, misalnya penelitian latar belakang atau sertifikasi.” (Sumber: http://news.adventist.org/all-news/news/go/2012-02-21/safe-churches-a-priority-for-adventist-risk-management/).

 

“Dalam tindakan-tindakan kejahatan yang dingin, mengerikan, dan sangat kejam atas anak-anak–khususnya selama kegiatan-kegiatan yang disponsori gereja–dapat merusak kepercayaan seorang anak terhadap gereja dan biasanya juga terhadap Tuhan dari gereja itu. Murka seperti apa yang seharusnya secara adil menanti mereka yang melakukan tindakan-tindakan itu serta orang-orang yang melindungi para pelakunya. Kristus dan pekabaran-Nya membangkitkan kepercayaan dan keyakinan. Seberapa beranikah organisasi manusia berkompromi dengan iman yang tulus seperti anak-anak itu oleh kurangnya kewaspadaan?” [alinea terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang peringatan soal perlindungan anak-anak?

1. Keluguan kanak-kanak terkadang muncul dalam celetukan-celetukan yang bagi orang dewasa terdengar menggelikan, tapi kepolosan sebagai ciri alamiah anak-anak kecil itu tidak boleh dianggap enteng. Allah meninggikan orang-orang yang berhati polos karena hal itu menandakan kemurnian pikiran dan ketulusan hati.

2. Banyak orang dewasa yang memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari keluguan anak-anak di bawah umur, bahkan sering sampai menjurus kepada tindak kejahatan yang serius pada kanak-kanak. Setiap orang dewasa memikul tanggungjawab moral untuk melindungi anak dari segala jenis pelecehan dan eksploitasi.

3. Perlindungan anak adalah bukti dari masyarakat yang beradab, sebaliknya pelecehan anak adalah bukti dari kebiadaban. Sementara negara dan gereja beserta organisasi dan lembaga kemasyarakatan bertekad melindungi hak anak, Allah lebih peduli lagi pada keselamatan jiwa anak-anak itu.

 

Kamis, 23 Januari

DISKRIMINASI TERHADAP ANAK-ANAK (Membiarkan Anak-anak Kecil)

 

Jangan larang mereka. Yesus berada di dalam sebuah rumah di Yudea dan sedang menerangkan tentang masalah perkawinan dan perceraian kepada murid-murid-Nya, yang tampaknya belum puas dengan penjelasan Yesus sebelumnya kepada orang-orang Farisi, ketika sekonyong-konyong sekelompok anak-anak yang masih kecil muncul di pintu ingin bertemu dengan Dia. “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu” (Mrk. 10:13). Kata Grika yang diterjemahkan dengan membawa dalam ayat ini adalah προσφέρω, prospherō, sebuah katakerja dengan pengertian yang luas dan bisa juga berarti mempersembahkan seperti yang digunakan dalam Matius 2:11 dan 5:23-24. Jadi, tampaknya para orangtua dari anak-anak kecil itu sudah menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan semacam acara baby dedication (penyerahan bayi) seperti yang sering kita adakan di gereja.

 

Tetapi murid-murid yang merasa diskusi mereka diinterupsi lalu mencegah sambil marah-marah. Namun Yesus balik memarahi murid-murid-Nya, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”(Mrk. 10:14-15; huruf miring ditambahkan). Di sini Yesus bukan saja menyambut anak-anak karena mereka masih kecil dan lucu-lucu, tetapi Dia juga menghargai sikap “seperti seorang anak kecil” dalam menyambut surga atau keselamatan.

 

“Bayangkanlah diabaikan oleh orang-orang dewasa yang galak hanya untuk dipeluk oleh Yesus yang berkepribadian penyayang dan penuh perhatian. Tidak heran kalau anak-anak kecil itu memeluk Dia. Dalam cerita ini kita telah diberikan contoh yang tak ternilai perihal bagaimana anak-anak kecil harus diperlakukan oleh mereka yang mengaku sebagai pelaksana pemuridan” [alinea kedua].

 

Keberanian anak kecil. Menarik bahwa ketika anak-anak kecil itu dimarahi oleh murid-murid Yesus dengan cara yang kasar mereka tidak langsung berhamburan keluar sambil menangis ketakutan. Mungkin ada di antara mereka yang sudah siap untuk kabur namun urung tatkala mendengar suara Yesus dan perkataan-Nya yang bersifat membela serta melindungi hak mereka, atau juga karena kerinduan anak-anak kecil itu pada Yesus cukup besar untuk mengalahkan rasa takut mereka. Anak-anak kecil itu ingin tahu bagaimana rasanya dipeluk Yesus dan mereka juga rindu untuk memeluk Guru yang baik hati itu.

 

“Pada anak-anak yang dibawa untuk berhubungan dengan Dia, Yesus melihat pria dan wanita yang harus menjadi pewaris kasih karunia-Nya dan rakyat dari kerajaan-Nya, dan sebagian dari mereka akan menjadi syuhada karena nama-Nya. Ia tahu bahwa anak-anak ini akan mendengarkan Dia dan jauh lebih siap untuk menerima Dia sebagai Penebus mereka ketimbang orang-orang dewasa yang kebanyakan berpengalaman duniawi dan berhati keras” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang pembelaan Kristus terhadap anak-anak kecil?

1. Yesus membenci diskriminasi, termasuk terhadap anak-anak kecil. Ia ingin agar anak-anak juga mendapat pelayanan seperti halnya orang-orang dewasa. Dalam hal keselamatan jiwa, orang-orang dewasa tidak lebih penting dari anak-anak yang masih kecil.

2. Pernahkah anda memperhatikan anak-anak kecil mendapat hadiah? Mereka sangat bergairah dan gembira. Sikap seperti inilah yang Yesus inginkan dari manusia ketika mereka menerima anugerah keselamatan. Sayangnya, tidak semua orang yang kelihatannya bersemangat untuk masuk surga.

3. Ketika Yesus mempersilakan mereka masuk, sambil menegur keras murid-murid yang berusaha menghalau mereka, anak-anak kecil itu langsung bergegas ke pangkuan Yesus. Anak-anak mungkin lemah secara fisik karena masih kecil, tetapi tekad mereka seringkali lebih kuat dari orang dewasa.

 

Jumat, 24 Januari

PENUTUP

 

Injil dan perkembangan kognitif anak. Salah seorang psikolog yang gagasan-gagasannya telah mempengaruhi dunia psikologi moderen adalah Jean Piaget (1896-1980), seorang pakar psikologi perkembangan dan filsuf asal Swiss yang terkenal dengan teorinya tentang Tahap Perkembangan Kognitif yang disusun berdasarkan rangkaian penelitian epistemologis yang dilakukannya, sebuah kajian ilmiah yang kini lebih dikenal sebagai “epistemologi genetik.” Menurut teorinya, ada empat tahap perkembangan kognitif anak:

 

1. Tahap sensor-motorik (usia lahir sampai 2 tahun) di mana pengetahuan sang bayi tentang dunia hanya terbatas pada persepsi sensor dan aktivitas motoriknya sendiri. Pada tahap ini sang bayi memperoleh pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman sensorik dengan mempermainkan benda-benda.

2. Tahap pra-operasional (usia 2 hingga 6 tahun) di mana seorang anak belajar menggunakan bahasa, tapi belum mampu memahami logika yang konkret dan belum sanggup menangkap pandangan orang lain. Pada tahap ini anak-anak belajar melalui permainan pura-pura.

3. Tahap operasional konkret (usia 7 hingga 11 tahun) di mana anak mulai memahami penggunaan pikiran. Biasanya seorang anak sudah mulai berpikir logis tentang peristiwa-peristiwa yang konkret, tapi masih sukar untuk mengerti konsep-konsep abstrak atau hipotetik (pengandaian). Pada tahap ini kemampuan logika anak masih sangat kaku.

4. Tahap operasional formal (usia 12 tahun ke atas) di mana anak yang sudah remaja itu mulai mengembangkan kemampuan berpikir tentang konsep-konsep yang abstrak, dan mulai menumbuhkan kecakapan-kecakapan seperti berpikir logis, menggunakan pertimbangan deduktif, dan mengadakan perencanaan yang sistematis.

 

Berdasarkan pembagian tahap-tahap perkembangan kognitif (kemampuan berpikir atau pengertian) tersebut di atas kita mungkin dapat menyusun pendekatan-pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk mengajar tentang injil kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka.

 

“Anak-anak kecil dapat menjadi orang-orang Kristen, mendapat pengalaman sesuai dengan umur mereka. Mereka perlu dididik dalam perkara-perkara rohani, dan orangtua harus memberi mereka setiap kesempatan agar mereka bisa membentuk tabiat yang serupa dengan tabiat Kristus…Para ibu dan ayah harus memandang anak-anak mereka sebagai anggota keluarga Tuhan yang lebih muda, menyerahkan mereka untuk dididik bagi surga” [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat pertama].

 

“Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!” (Mzm. 144:12).

Leave a Reply