Mencari Gereja Yang Sempurna

 

Tahun delapan puluhan kami sekeluarga pindah dari daerah ke kota metropolitan dan tak tersangka-sangka  bertemu dengan seorang teman lama.  Itu adalah bulan ketiga kami resmi menjadi warga di tempat yang baru, dan, setelah berkunjung ke beberapa gereja, kami telah bergabung dengan kumpulan di Cawang, lebih kurang dua kilometer dari rumah kami.  Very convenient.

Teman saya itu juga belum ada setahun kembali ke tanah air sesudah studi upgrade di negeri jauh.  Hasilnya ia sudah menemukan pekerjaan yang membikin saya sangat kagum.   Meskipun teman, dulu saya memanggil dia “sir,” seorang pemimpin, administrator dan guru yang punya banyak pengetahuan dan keahlian.

Jadi, sekarang sudah jadi anggota di gereja mana, begitu saya tanya teman itu.  Ternyata dia masih berkelana dari satu gereja ke gereja lain, belum menentukan satu home church.  Dia sekeluarga berusaha tidak mengunjungi satu gereja dua sabat berturut-turut, dan dia selalu pakai kemeja batik, tidak pernah jas, ia jelaskan lebih lanjut.  Dengan begitu, katanya, dia tidak perlu kuatir akan diminta ambil bagian di atas mimbar karena banyak pengurus gereja  juga pernah panggil dia “sir” dulu.  Mengapa rupanya, saya pingin tahu.  Lalu keluarlah uneg-uneg dari sir yang saya sangat segani ini.

Teman saya kecewa melihat gereja penuh dengan orang-orang yang menurut penilaiannya tidak bertobat—lalu menjadi pemimpin-pemimpin di jemaat.   Masa orang-orang buta dituntun oleh orang buta juga, argumentasinya.   Kita di gereja seperti menonton panggung komedi, orang-orang yang naik-turun mimbar itu (hampir) semuanya hipokrit, tandasnya.   Di gereja sok alim, tapi coba lihat habis tutup Sabat dan sepanjang minggu—coba lihat kehidupan mereka.    Dan, kalau pemimpinnya begitu, apalagi yang dipimpin.  “Saya masih mencari gereja yang orang-orangnya tulus mau cari Tuhan dan keselamatan.”  Kata-kata akhirnya terasa menegur saya yang sudah pilih gereja tanpa periksa.

Terus-terang, saya pilih gereja yang bercacat-cela karena saya ini penuh cacat-cela.  Tapi saya ingin selamat, saya perlu kendaraan untuk mendapat keselamatan, dan yang ada cuma kendaraan yang bercacat-cela ini.  Tapi saya baca, waktu berkunjung ke gereja di Yerusalem, Yesus mencela para pemimpin, pengurus dan guru yang tinggi hati, munafik, bodoh dan buta yang bersembunyi dibalik ka’abah kudus dan megah (Matius 23).   Namun Ia memuji orang yang membawa persembahan ke ka’abah (Markus 12:41-43), berarti Ia mendukung ka’abah atau gereja meskipun penuh cacat cela.

Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan companionship, pergaulan dan persahabatan.  Perkumpulan gereja merupakan jawaban atas kebutuhan ini;  jawaban atas kebutuhan yang dianjurkan oleh Tuhan yang tahu keperluan manusia ciptaan-Nya.  Allah tidak saja bersabda, “Tidak baik manusia itu seorang diri…,” tapi juga, “…berkembang biak dan penuhilah bumi.”  Disini tersimpan pengertian fellowship atau persekutuan.  Bukan sendiri, tapi dalam kelompok.  Sampai hewanpun mengerti pentingnya kelompok.  Dalam kelompok ada kekuatan, rasa aman, dan rasa kepemilikan.  Bukan kawanan yang liar dan buas, tapi yang diatur menurut petunjuk Tuhan.  “Dengan sopan dan teratur,” 1 Korintus 14:40.  Kumpulan yang memiliki kebenaran Tuhan dan anggota-anggotanya diikat satu dengan yang lain oleh kasih Kristus.  Di mana semua anggota belajar dan bertumbuh dan saling mendukung.

Di tempat-tempat tertentu terdapat konsentrasi banyak anggota-anggota gereja dan dengan sendirinya banyak terdapat gereja dan kumpulan, kadang-kadang begitu banyak sehingga anggota boleh memilih di jemaat mana ia akan bergabung sesuai selera.   Letak geografis secara alamiah menjadi penentu jemaat mana yang akan dipilih seseorang—gereja terdekat.   Tapi keanekaragaman sifat, kepribadian, latar belakang, sikap dan persepsi tidak jarang memberi warna pada pandangan pribadi seseorang.  Selama tujuan kita bergereja yaitu mencari persekutuan yang akan membawa kepada keselamatan itu menjadi kriteria utama dalam memilih gereja, konfrontasi dapat ditekan.  Selama kasih ada dalam hati dan diekspresikan dalam kata-kata dan tindakan, gereja akan benar-benar menjadi benteng perlindungan dan tempat di mana umat Allah dipersiapkan bagi surga.  Namun apabila atmosfir kasih digantikan oleh sentimen pribadi, ambisi, tidak toleran dan bigotry (merasa diri atau kelompok lebih dari orang atau kelompok lain) maka gereja akan gagal menjadi saluran berkat Allah.  Lalu akan terdengar segala macam keluhan, kritikan dan dakwaan.  Gereja A pemimpinnya tidak becus.  Gereja B dikuasai oleh keluarga itu.  Gereja C terus-menerus berantam.  Gereja D keuangannya tidak beres.  Gereja E ada dinasti sudah puluhan tahun.  Dll, dll.

Kumpulan yang mengikuti petunjuk Tuhan pun tidak luput dari kekurangan dan cacat cela.  Dalam kelompok ada macam-macam anggota: yang serius dan yang main-main, yang giat bekerja dan yang masa bodoh, yang membangun dan yang merusak.   Di organisasi manapun selalu ada dua golongan orang atau anggota, yaitu yang tergolong assets dan yang liabilities – menopang atau menggerogot.

Masaalah penting adalah bagaimana kita tahu kita ini masuk di golongan yang mana.   Kalau kita giat membantu dan berpartisipasi hanya untuk kepentingan Tuhan dan organisasi, bersyukurlah kepada Tuhan karena kita adalah penopang.  Tapi kalau kita giat berusaha untuk Tuhan dan organisasi dan juga untuk sesuatu kepentingan tertentu, baik kita berhenti sebentar dan periksa diri.  Mungkin persepsi dan orientasi pelayanan kita perlu di “tune up” kalau bukan dirombak sama sekali.

Ada juga orang yang tidak tahu perannya dalam perkumpulan itu bagaimana macamnya.   Tidak tahu timur-barat, dan tidak ambil pusing.  Saudara-saudara seperti ini juga perlu diajak memeriksa diri.  Pepatah lama berikut ada kebenarannya:

 He who knows that he knows not – is humble, teach him; He who knows not that he knows – is asleep, awake him; He who knows not that he knows not – is a fool, avoid him;         He who knows that he knows – is wise, follow Him.

Kita memerlukan lebih banyak saudara-saudara yang mengerti dan sadar akan kepercayaan dan misi kita.  Mengerti dan sadar dan dengan berani menyatakan itu kepada orang lain.

Gereja yang benar dan sempurna itu, sampai ke mana mesti ku cari?   Manakah gereja yang Tuhan kehendaki untuk saya?   Gereja Tuhan yang letaknya terdekat dengan kita, yang memberitakan kebenaran dan amanat Tuhan sepenuhnya, itulah gereja yang Tuhan peruntukkan bagi saya dan anda.   Hentikanlah usaha mencari gereja yang sempurna.    Ingat, kalau anda terus mencari, lalu akhirnya berhasil menemukan gereja yang sempurna, jangan bergabung dengan gereja itu.   Mengapa?  Karena pada saat anda bergabung di situ, gereja itu akan menjadi tidak sempurna.

Mencari gereja yang baik adalah hal yang wajar, tapi janganlah itu menjadi obsesi.  Gereja Tuhan adalah sekolah untuk orang-orang yang perlu belajar.  Itu adalah rumah sakit untuk orang-orang yang sakit rohani dan perlu penyembuhan dari Tuhan.   Itu juga adalah rumah pengasihan bagi orang-orang yang perlu karunia keampunan dari dosa.   Dan orang-orang itu adalah kita semua.  Baiklah kita tinggal dalam persekutuan sesama umat percaya.  Kita saling membutuhkan satu dengan yang lain.  “Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri,” Roma 14:7.

Dan, bagaimanapun baik atau buruknya gereja Tuhan di mana kita menjadi anggota, yakinlah bahwa gereja yang bercacat-cela itupun dapat dipakai Yesus untuk memberikan perlindungan, pertumbuhan dan perdamaian bagi umat yang tulus.  Don’t curse the darkness, light a candle—Jangan marah melihat kegelapan, pasanglah lilin.

– Jack C. Kussoy

1 thought on “Mencari Gereja Yang Sempurna

  1. Benar,,, gereja akan selalu dipakai Tuhan, tapi sampai kapan? Benar,,, gereja yang penuh kekurangan dan cela Tuhan juga akan pakai, tapi apakah ini sebagai suatu maaf? Perlu kita ingat, bahwa Yesus pun akhirnya menolak ‘bangsa Israel’, bahkan nantinya kita pun akan ‘dimuntahkan’ pleh Nya bila kita tetap tidak sempurna, hendaklah kita sempurna sama seperti Bapa adalah sempurna adanya.
    Ketika Yesus mencela para pemimpin Yahudi, dan memuji orang yang membawa persembahan apakah benar bahwa Yesus mendukung kemunafikan (cacat) di kaabah? Mari kita pikirkan lebih dalam maksud Tuhan.

Leave a Reply