Mendua Hati

dua

Yakobus 1:8
“Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”

Dulu ada seorang bocah Yahudi bertanya kepada ayahnya, “Mengapa kita harus menyangkal iman kita sebagai orang Yahudi dan mengikuti kebaktian Lutheran di Jerman ini?”

Ayahnya menjawab, “Anakku, kita harus meninggalkan kepercayaan kita supaya orang-orang di sini menerima kita dan mau membantu usaha kita!”

Bocah itu tidak pernah dapat melupakan kekecewaannya dan rasa pahit yang dia rasakan mendengar jawaban ayahnya itu. Kepercayaannya kepada ayahnya dan agamanya berantakan.

Kemudian bocah itu meninggalkan Jerman dan pergi ke Inggris untuk sekolah di British Museum di mana dia membentuk filsafat hidupnya. Dengan penyelidikan yang intensif dan sungguh-sungguh, dia menulis sebuah buku yang telah merubah dunia, dengan judul “The Communist Manifesto.” Kemudian oleh pengaruh buku itu sepertiga dunia ini jatuh di bawah ideology yang terkenal dengan Marxist-Lenist.

Nama bocah itu adalah Karl Marx. Dia mempengaruhi jutaan orang dengan ajarannya selama 70 tahun yang membuat orang banyak di penjara dan membingungkan banyak jiwa. Kini sistem atau ajaran itu sudah hancur tapi setelah menelan banyak korban. Pengaruh kemunafikan ayahnya telah berakibat sangat buruk. Hati yang teguh diperlukan dalam hidup ini.
Ada tiga peristiwa yang terpisah tetapi konteksnya hampir sama. Peristiwa yang satu dihadapi oleh Yosua di Sikem di mana dia mengumpulkan bangsa Israel (Yosua 24:13-16), dan peristiwa yang satu lagi adalah peristiwa yang dihadapi oleh Elia yang terdapat dalam 1 Raja-raja 18:21, dan satu lagi yang dihadapi Yakobus, yang terdapat dalam Yakobus 4:8.

1 Raja-raja 18:21, “Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun.”
Yakobus 4:8, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”

Dari zaman dahulu, sebutlah zaman perjanjian lama, hingga zaman perjanjian baru, bila kita memperhatikan ayat-ayat yang kita sudah bacakan kita bisa menarik benang merah bahwa ternyata sikap mendua hati itu sudah sangat kental dan menjadi satu masalah besar yang dihadapi oleh nabi-nabi dan rasul-rasul. Sikap mendua hati itu bahkan telah menimbulkan perpecahan di antara umat-umat Tuhan pada masing-masing keadaan di atas tadi.

Kalau bangsa Israel menjawab Yosua, “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! (Yosua 24:16), yang dihadapi Elia adalah rakyat yang lebih keras kepala dan tidak menjawab Elia. Elia menghadapi satu umat yang tidak mau melakukan pilihan yang tegas dan jelas. Dan ketidaktegasan dalam pilihan sering menimbulkan perpecahan. Kenapa? Karena posisi yang tidak jelas adalah posisi yang sering dicurigai. Maka untuk tidak dicurigai dan menimbulkan perpecahan, ambil sikap yang tegas dan jelas!

Dalam hidup, kita sering bahkan mungkin setiap hari kita dihadapkan pada situasi memilih dan mengambil keputusan atas pilihan-pilihan yang ada. Ada pilihan-pilihan yang relatif mudah dan ada juga pilihan-pilihan yang sulit, bahkan mungkin kita dihadapkan pada pilihan si malakama. Apa pun situasinya, apa pun kondisinya, kita harus mengambil keputusan.

Namun ada jenis manusia yang tidak mau mengambil keputusan dengan alasan-alasan sebagai berikut:

• Tidak tahu atau belum cukup data atau informasi untuk mengambil keputusan.
• Ada orang yang dia suka yang kelihatannya akan tersinggung bila dia mengambil pilihan yang berbeda dengan orang tersebut. (Takut mengambil keputusan yang salah/berbeda dari banyak orang).
• Dia ingin kelihatan objectif. Orang ini salah menganalogikan objectif dengan netral, yang akhirnya membuat dia berada di posisi abu-abu.
• Dia ingin diterima di semua pihak.
• Takut disalahkan dan diolok-olok.
• Beranggapan bahwa tidak menentukan pilihan atau kepututsan juga adalah pilihan.

Empat/lima alasan terakhir adalah alasan dari orang yang disebutkan dalam ayat inti kita yang “tidak akan tenang dalam hiudpnya.”

Takut mengambil keputusan yang salah. Ini adalah phobia yang sering menghantui manusia yang dalam hidupnya selalu terobsesi ingin disenangi semua orang. Pada hal adalah hal yang mustahil kita disenangi oleh semua (100%) manusia.

Orang yang takut mengambil keputusan adalah orang yang tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya. Oleh karena langkah pertama dari keberhasilan adalah mengambil keputusan. Bisa saja kita mengambil keputusan yang salah tetapi masih lebih baik memperbaiki keputusan yang salah dari pada tidak ada yang mau diperbaiki karena memang tidak pernah ada sikap/keputusan yang di ambil. Anda bisa saja telah membaca 100 buku tentang cara berenang, tetapi buku itu tidak akan membuat anda mengambang di atas air.

Para pemimpin harus TEGAS dan BERTANGGUNGJAWAB dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Maukah Anda hidup tenang? Jangan mendua hati!

Selamat Sabat!

-SAMUEL PANDIANGAN

Leave a Reply