Mengapa wanita Kristen tidak menutupi kepalanya sesuai anjuran Paulus?

8d_thomson_albania_sm

Paulus menulis bahwa perempuan harus menutupi kepala mereka di gereja (1 Kor 11:. 2-16). Mengapa kita tidak mempraktekan hal itu?
Sulit untuk menafsirkan pasal ini, terutama karena kita tidak memiliki informasi lengkap tentang topik ini seperti yang dimiliki pembaca orisinal pada saat itu. Para ahli telah menulis banyak tentang hal ini dan latar belakang sosio-historisnya, tetapi tetap saja ada yang tidak setuju. Sebuah analisis yang cermat dari ayat-ayat ini membutuhkan ruang lebih banyak dari yang saya miliki saat ini. Jadi informasi yang saya berikan akan memberikan kontribusi terhadap jawaban masalah ini sekaligus merangsang Anda untuk melakukan penelitian dan analisis Anda sendiri.
Orang Advent secara tradisional memaknai apa yang Alkitab katakan sesuai yang tertulis, kecuali konteksnya menunjukkan hal lain. Dalam beberapa kasus suatu bagian Alkitab dapat mengarahkan topik yang relevansinya berlaku hanya untuk pembaca orisinal, seperti, misalnya, melepas sandal ketika seseorang mendekati Tuhan (Kel 3: 5), sebuah tanda keseganan dan rasa hormat. Ada beberapa tempat di dunia ini di mana Anda harus melepas sepatu Anda sebelum memasuki gereja Advent. Tapi di dunia Barat kita menunjukkan rasa hormat dengan cara yang berbeda. Kami menafsirkan nasihat Paulus menyangkut penutup kepala wanita sebagai masalah budaya. Berikut ini beberapa alasannya.
1. Berbagai pandangan dalam Alkitab: Bahwa topik mengenakan penutup kepala berhubungan dengan budaya didorong oleh fakta bahwa selama periode alkitab, praktek ini bervariasi. Pada periode kepemimpinan Bapa (Abraham, Isak, Yakub, dll), pelacur menutupi wajah mereka dengan cadar (Kej 38:14, 15). Menariknya, hukum Asyur Tengah (abad kedua belas SM) tidak mengizinkan pelacur memakai kerudung. Dikemudian hari, kita melihat beberapa wanita di Israel mengenakan kerudung panjang selama ritual upacara upacara suci (Yeh 13: 17-21). Seorang pengantin perempuan menutupi wajahnya sebelum pernikahan, sebagai tanda kesopanan. Beberapa ayat-ayat Alkitab menunjukkan bahwa kerudung pernikahan adalah kerudung hiasan ornamental (S. dari Sol 4:. 1, 3; 6: 7). Sebuah kerudung yang menutupi seluruh wajah-seperti yang kita temukan hari ini di dunia Islam-mungkin tidak dikenal di Israel. Lebih umum adalah kain ditempatkan pada kepala, yang dalam beberapa kasus adalah tanda merasa diri hina atau sedang berkabung, seperti yang dilukiskan oleh wanita yang digambarkan dalam ukiran batu Sanherib, yang memakai nya pada saat berjalan meninggalkan kota Lakhis ketika kota itu jatuh. Daud juga menutupi kepalanya pada saat berkabung (2 Sam. 15:30). Tidak ada hukum Perjanjian Lama yang mewajibkan perempuan atau laki-laki untuk memakai penutup kepala; praktek sosial itu hanya diterima sesuai keadaan.
2. Maksud dari Praktek Budaya ini: Paulus tidak membahas tentang cadar yang menutupi wajah seorang wanita, tapi kain yang ditempatkan di kepala selama ibadah. Penggunaan penutup kepala perempuan itu biasa dalam masyarakat Yunani dan Romawi. Studi yang dibuat tentang praktek Romawi mengungkapkan bahwa pelacur dilarang memakainya dan bahwa baik perempuan dan laki-laki menutupi kepala mereka selama ibadah sebagai tanda hormat dan kesalehan. Bahkan, kain itu bagian dari jubah Yunani, bukan bagian yang terpisah. kebudayaan Yunani tidak mewajibkan pria untuk menutupi kepala mereka dalam ibadah. Itu juga terjadi pada orang Yahudi. Dalam budaya Romawi penutup kepala perempuan adalah simbol dari nilai-nilai moral yang tinggi, pelestarian feminitas, dan komitmen untuk suami; memakainya membawa hormat untuk suami dan keluarga.
3. Alasan Nasehat Paulus: Paulus sedang mempromosikan pada kalangan umat Kristen praktik sosial yang berkaitan dengan pakaian yang cocok. Nilai-nilai dasar yang ditunjukkan oleh penutup kepala, sepadan dengan pekabaran Kristen, dan menolak praktek ini bisa mendiskreditkan gereja. Pendekatan yang bijaksana adalah untuk terus melakukan apa yang dilakukan oleh wanita Kristen sebelum mereka menjadi Kristen, untuk menunjukkan bahwa agama Kristen mendukung nilai-nilai masyarakat yang tinggi dan bukan untuk korupsi moral. Tapi tidak semua wanita Romawi menutupi kepala mereka; wanita kaya lebih liberal secara sosial, dan ada kemungkinan bahwa beberapa dari mereka menjadi Kristen dan tidak menutupi kepala mereka dalam ibadah. Paulus barangkali sedang berusaha untuk memperbaiki sikap ini untuk melindungi integritas dari komunitas orang percaya.
Fakta bahwa menutupi kepala adalah masalah budaya tidak berarti bahwa apa yang Paulus tulis tidak berarti bagi kita. Nilai yang ia coba tanamkan dalam orang percaya, harus kita pertahankan dan diwujudkan dengan cara yang tepat. Nilai-nilai seperti kerendahan hati, membawa kehormatan untuk keluarga kita dalam cara kita berpakaian dan bertindak, dan melestarikan perbedaan seksual (spesifitas gender) dalam penampilan dan sikap kita, tidak bisa ditentukan oleh budaya.
Penulis: Ángel Manuel Rodríguez

Paul wrote that women should cover their heads in church (1 Cor. 11:2-16). Why do we not enforce that mandate?
The passage you refer to is difficult to interpret, mainly because we are not as well-informed about the topic as Paul’s original readers were. Scholars have written much about this passage and its sociohistorical background, but still they disagree. A careful analysis of the verses requires much more space than I have here. So the information I provide will contribute to an answer and stimulate you to do your own research and analysis of the text.
Adventists have traditionally taken what the Bible says at face value, unless its context suggests otherwise. In some cases a biblical passage may be addressing a topic of relevance only to the original readers, such as, for instance, removing one’s sandals when approaching God (Ex. 3:5), a sign of reverence and respect. There are places in the world where you have to remove your shoes before entering an Adventist church. But in the Western world we show reverence in different ways. We interpret Paul’s counsel on female head covering as a cultural issue. Here are some reasons.
1. Variety of Views in the Bible: That the topic of wearing a veil is a cultural matter is suggested by the fact that during the biblical period the practice varied. In the time of the patriarchs prostitutes covered their face with a veil (Gen. 38:14, 15). Interestingly, Middle Assyrian laws (twelfth century B.C.) did not allow prostitutes to wear a veil. Much later we find some women in Israel wearing a long veil during magical or divinatory rites (Eze. 13:17-21). A bride covered her face before her wedding as a sign of modesty. Some biblical passages suggest that the wedding veil was an ornamental diaphanous veil (S. of Sol. 4:1, 3; 6:7). A veil that covered the whole face- as we find today in the Islamic world-was probably unknown in Israel. More common was the shawl placed on the head, which in some cases was a sign of humiliation and mourning, as suggested by the women depicted in the stone engravings of Sennacherib, wearing them while leaving the city of Lachish after its fall. David also covered his head in mourning (2 Sam. 15:30). No Old Testament law required women or men to wear a head covering; the social practice was simply accepted as appropriate.
2. Purpose of the Cultural Practice: Paul is not discussing the veil that covered the face of a woman, but a shawl placed on the head during worship. The use of a female head covering was common in Greek and Roman societies. Studies made about the Roman practice reveal that prostitutes were forbidden to wear one and that both women and men covered their heads during worship as a sign of reverence and piety. In fact, the shawl was part of the Greek robe, not a separate piece. Greek culture did not require men to cover their heads in worship. That was also the case among Jews. In Roman culture the female head covering was a symbol of high moral values, preservation of femininity, and commitment to the husband; wearing it brought honor to the husband and the family.
3. Reason for Paul’s Counsel: Paul was promoting among Christians a social practice related to proper attire. The basic values represented by the head covering were compatible with the Christian message, and rejecting the practice could have brought discredit to the church. The wise approach was to continue to do what was practiced by Christian women before they became Christians, in order to demonstrate that Christianity supported society’s high values and not moral corruption. But not all Roman women covered their heads; wealthy women were somewhat socially liberated, and it is possible that some of them became Christians and did not cover their heads in worship. Paul would have been trying to correct that attitude to protect the integrity of the community of believers.
The fact that covering the head was a cultural issue does not mean that what Paul wrote is meaningless for us. The values he was attempting to inculcate in believers are to be preserved by us and embodied in other ways. Values such as modesty, bringing honor to our families in the way we dress and act, and preserving sexual differences (gender specificity) in our appearance and demeanor are not culturally determined.

Leave a Reply