Menghadapi Benturan

January 30, 2014 - Maxwel Kapitan

Gereja  adalah kumpulan orang-orang dengan tiga tipe: Pertama, sudah bertobat;  
kedua, sedang dituntun untuk bertobat; ketiga, belum bertobat. Makanya  tak
heran bila kita sering menemui orang-orang yang rajin ke gereja  sudah puluhan
tahun, namun kehidupannya tidak berubah.Dari dulu sampai sekarang tetap sama, sifat  kedagingannya masih kuat mengakar
di dalam dirinya. Makanya tak heran di  gereja pun, masih suka kita temui orang
yang suka menggossip, saling  menjatuhkan, saling merendahkan, saling sikut
menyikut bahkan dosa  perzinahan tetap dilakukan di atas mimbar.

Gereja  adalah sebuah wadah untuk mempersatukan dan menyamakan visi orang-orang
di dalamnya dan kemudian bergerak maju untuk mewujudkan visi tersebut  menjadi
nyata. Proses penyatuan ini yang tidak mudah, karena orang-orang  yang terlibat
di dalamnya berasal dari berbagai macam latar belakang  yang berbeda (bahasa,
gaya bahasa, pendidikan, keluarga, kebiasaan,  karakter, pengalaman masa lalu,
kebudayaan, sosial, denominasi, etc).

Perbedaan-perbedaan  inilah yang seringkali menjadi pemicu terjadi perpecahan
dan kubu-kubu  di dalam gereja. Dan ini membuat gereja tetap kerdil dan tidak
bergerak  maju untuk mencapai visi Kerajaan Allah di muka bumi ini. Gereja
menjadi  sibuk mengurus dirinya sendiri, sibuk dengan masalah intern yang tidak
ada habis-habisnya dan menutup mata terhadap kebutuhan dunia yang sedang
menunggu peran serta gereja sebagai wakil Allah di muka bumi ini.

Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Salah  persepsi, salah pendapat, disalah mengerti, adalah hal yang wajar untuk
mencapai kesepakatan, asalkan disikapi dengan kedewasaan. Namun menjadi  sesuatu
yang tidak wajar bila kesalahpahaman itu disikapi dengan emosi  dan membawa ego
masing-masing. Permusuhan, pertengkaran dan peperangan  terjadi saat sebuah
masalah dihadapi dengan emosi dan panas hati.

Pertengkaran  dapat dihindari saat kita menghadapinya dengan kepala dingin dan
dengan  pengertian bahwa setiap orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda.
Setiap orang adalah unik dan tidak ada yang sama. Tuhan hanya  menciptakan 1
orang, anak kembar pun memiliki karakter yang berbeda,  tidak ada yang sama.

Sebelum mengambil  keputusan, belajarlah bertanya kepada Roh Kudus, apa yang Dia
mau kita  lakukan atas kasus ini. Bila Roh Kudus berkata kita harus “DIAM”
diamlah. Bila Roh Kudus berkata kita harus “MENGALAH” mengalahlah.  Sekalipun
menurut kita, itu adalah perendahan harga diri dan tidak adil.  Namun bila
menurut Roh Kudus itu adalah layak bagi kita, lakukanlah!

Ukuran  layak atau tidak layak, adil atau tidak adil, bukan ukuran manusia yang
kita pakai tapi ukuran Tuhan yang kita pakai. Bila, ukuran Tuhan yang  kita
pakai, maka kita akan mendapatkan tolak ukur dan cara pandang yang  benar.

Tuhan bisa memakai orang-orang di  sekitar kita entah itu pasangan, anak, klien,
tetangga, bahkan musuh  kita, untuk merendahkan kita dan menghancurkan ego kita.
Dengan tujuan  untuk mendidik kita untuk tidak lagi menjadi sombong, merasa diri
mampu  dan mengosongkan diri kita sama seperti hamba.
Seorang hamba  sudah tidak memiliki lagi hak untuk membela diri dan membenarkan
diri,  dia sama seperti domba yang kelu yang dibawa ke pembantaian. Hingga pada
saat kita tidak berdaya, kita benar-benar menggantungkan seluruh  pengharapan
kepada Tuhan satu-satunya sebagai penolong.

Justru  melalui gesekan itu, kita akan semakin didewasakan dan semakin
disempurnakan. Tanpa melalui gesekan, tanpa melalui masalah, karakter  Kristus
tidak akan pernah muncul dalam kehidupan kita.

Sebuah  statement diucapkan gembala saya “Di muka bumi ini tidak ada gereja
yang sempurna. Bila ada yang sempurna, ayo kita tutup gereja ini dan  pindah
ramai-ramai ke gereja tersebut. Jangan hanya menjadi orang-orang  pandai
berbicara dan berkomentar, tapi ayo lakukan yang terbaik untuk  kemuliaan
Tuhan.”

Statemen ini menjadi kekuatan  bagi saya saat mengalami benturan dan kecewa
dengan saudara seiman atau  dengan sistem gereja yang ada sekarang. Dalam
pikiran, mulut dan hati  saya berkata “Ini adalah pelajaran pendewasaan. Tidak
ada manusia yang  sempurna, bila aku memandang manusia pasti akan kecewa, jika
masa depan  aku ditentukan oleh perkataan mereka, aku akan hancur. Aku harus
menaruh  pengharapan hanya kepada Yesus. Dengan memandang Yesus, aku tetap kuat.
Tidak ada manusia yang sempurna, dan semua sedang disempurnakan  termasuk aku.”

Saudaraku, di manapun kita  berada, kita pasti akan bertemu dengan manusia, dan
gesekan itu pasti  terjadi. Mulai dari hal-hal sepele sampai hal besar, bisa
terjadi.  Gesekan demi gesekan yang dibiarkan terjadi akan menimbulkan luka, dan
bila luka itu dibiarkan membesar maka luka itu akan menimbulkan nanah  dan
menjadi borok. Bila borok itu sudah sedemikian parah, tindakan  amputasi lah
yang harus dilakukan, supaya tidak mengkhamirkan anggota  tubuh yang lain.

Iiiiihhhh.. membayangkannya saja, sudah seram……

Bagaimana cara menghadapi benturan dengan sesama?
1. Rendahkan dirimu di hadapan Allah
2. Tanya Roh Kudus bagaimana menghadapi masalah/kasus/orang ini
3. Gunakan cara pandang Allah dalam memandang manusia
4. Kasihi dengan kasih Alalh yang tanpa syarat
5. Tetap bersikap manis dan lepaskan pengampunan
6. Mengucap syukur, karena ini adalah latihan pendewasaan karakter anda

Saudaraku,  jangan sampai Tuhan menutup pintu pertobatan, hanya karena kedegilan
hati kita. Selama Tuhan memberikan waktu, ambillah kesempatan ini, dan  mintalah
Yesus untuk membantu anda membersihkan luka-luka itu sampai  tuntas, Biarkan
diri-Nya menyiramkan minyak dan anggur yang baru atas  luka-luka anda dan
membebatnya dengan kasih yang tanpa batas. Pemulihan  itu pasti terjadi atas
dirimu! (Liesye Herlyna)

Leave a Reply