Menjaga Kesehatan Gigi

Oleh
Prof. Dr. Albert M. Hutapea, MPH, PhD, AIFM

Badan kesehatan sedunia (WHO) mencatat bahwa telah dikenal lebih dari 500 jenis penyakit serta kelainan gigi. Satu di antaranya yang paling banyak diderita manusia adalah gigi berlubang karena pembusukan. Walaupun penyakit ini yang paling umum, namun penyakit ini juga merupakan salah satu penyakit yang paling mudah dicegah.
Walaupun penyakit gigi tidak mengancam nyawa sebagaimana penyakit-penyakit lainnya, tetapi ada satu fakta yang membuatnya sama dengan yang lainnya, yaitu: pencegahannya lebih mudah daripada pengobatannya. Mencegah penyakit ini berarti menghemat jutaan jam kerja yang tersita setiap tahunnya untuk mengobati dan merawat gigi yang berlubang karena membusuk.
Di samping pergesekan yang membuatnya haus, serta kerusakan mekanis lainnya yang membuatnya pecah dan patah, maka ancaman utama lainnya terhadap kesehatan gigi adalah bakteri. Bakteri dapat menyebabkan pembusukan gigi. Mulut manusia adalah tempat yang ideal bagi pertumbuhan bakteri sebab hangat, gelap, basah, dan biasanya terdapat sisa-sisa makanan yang menjadi sumber makanan bagi bakteri tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa dengan alasan yang kurang jelas, air liur memiliki peran dalam pencegahan pembusukan gigi. Akan tetapi, tidak semua bagian dari gigi dan gusi dapat dijangkau oleh air liur. Anehnya, justru air liur itu sendiri dapat mengandung sampai jutaan bakteri dari pelbagai jenis.
Para pakar ilmu kesehatan gigi telah menghitung bahwa dalam setiap 30 gram air liur bisa terdapat sampai 22 milyar bakteri. Bahkan mulut yang sehat dan bersih sekalipun dapat mengandung lebih dari 10 jenis bakteri dan protosoa. Paling sedikitnya ada tiga jenis bakteri yang dapat menimbulkan pembusukan gigi.
Seperti makhluk hidup lainnya, bakteri pembusuk gigi juga mengeluarkan atau membuang limbah proses pencernaan. Limbah ini adalah asam kuat yang akhirnya mengikis email gigi lalu melubanginya. Email adalah lapisan terluar dari gigi dan merupakan zat yang paling keras dalam tubuh. Sekali proses pengikisan ini berhasil menembus email gigi, maka bakteri tersebut akan menyerang lapisan berikutnya yaitu dentin. Lalu, oleh karena 30% dari dentin adalah zat organik dibandingkan dengan 5% pada lapisan email, maka proses pembusukan pada lapisan ini akan berlangsung lebih cepat.
Jika proses pembusukan ini tidak dihentikan di sini, maka bakteri tersebut akan seterusnya masuk ke rongga gigi, dimana mereka akan berkembang biak dengan cepat lalu menimbulkan radang. Jika ini tidak ditanggulangi segera, maka bakteri tersebut akan menyebar melalui pembuluh darah ke organ-organ tubuh lainnya, lalu menimbulkan beberapa penyakit yang di antaranya adalah radang selaput tulang yang disebut osteomyelitis dan satu penyakit jantung yang berbahaya yang disebut endokarditis.
Jadi, sebenarnya pembusukan gigi dapat diakibatkan oleh proses pembiakan bakteri-bakteri pembusuk gigi dalam mulut yang berlangsung secara tidak disengaja. Sisa makanan yang kecil sekalipun cukup untuk menghidupi jutaan bakteri selama 24 jam atau lebih. Makanan yang paling disukai oleh bakteri adalah gula putih (gula pasir). Itulah sebabnya mengapa jajanan yang manis, apalagi yang dapat lengket di gigi, tidaklah baik bagi gigi. Ini bukan berarti bahwa gula adalah pantangan bagi mereka yang ingin memiliki gigi sehat. Makanan manis tidak telalu mengancam jika dimakan dengan makanan lainnya karena makanan itu akan mengencerkan gula tersebut lalu menyapu gula itu dari gigi sewaktu makanan tersebut ditelan.
Hal lain yang menyumbang kepada proses pembusukan gigi adalah pembentukan plak atau “jigong” yang mengeras. Plak adalah lapisan kotoran yang terdapat pada permukaan gigi yang belum dibersihkan. Lapisan ini terbentuk oleh sisa-sisa makanan yang tertinggal setelah setiap kali makan. Pada lapisan inilah bakteri-bakteri yang ada akan hidup dan berkembang biak. Proses ini terjadi setiap hari. Itulah sebabnya mengapa perlu menyikat gigi setiap hari. Jika tidak dibersihkan, maka lapisan plak ini akan bercampur dengan lendir serta sel-sel dari lapisan permukaan dalam mulut dan dengan garam-garam mineral yang ada, lalu lama-kelamaan membentuk karang gigi.
Yang terbaik adalah menyikat gigi setiap kali selesai makan, terutama sebelum tidur malam. Tetapi, seumpama tidak dapat menyikat gigi setelah makan, paling sedikit usahakanlah berkumur. Sisa-sisa makanan yang tertinggal pada gigi sepanjang malam sangat berbahaya. Jangan gunakan sikat gigi yang kasar sebab ini dapat melukai gusi. Gunakanlah pasta gigi yang mengandung fluor.
Riset yang baru-baru ini diadakan di University of Iowa menunjukkan bahwa waktu rata-rata yang ideal untuk menyikat gigi adalah 5 menit. Dengan menyikat gigi selama 2,5 menit, hanya 25% dari kotoran gigi yang terkorek.
Bukan hanya asam yang berasal dari bakteri yang dapat merusak enamel gigi, melainkan cuka dapur pun bisa. Itulah sebabnya masalah kerusakan gigi banyak ditemukan di kalangan masyarakat yang menyukai makanan yang asam karena banyak cuka.
Perubahan suhu gigi yang mendadak dan ekstrem atau sekitar 100C cukup berbahaya karena dapat meretakkan enamel gigi. Inilah sebabnya memakan atau meminum yang panas dan dingin sekaligus tidaklah menyehatkan bagi gigi.
Adalah bijaksana untuk mengunjungi dokter gigi 2 kali setahun untuk pembersihan dan pemeriksaan. Apa saja yang kita lakukan untuk memelihara gigi kita, akan menentukan tingkat kesehatannya. Gigi tidak pernah mati sendiri. Kita sendirilah yang membunuhnya.

-ALBERT M. HUTAPEA

Leave a Reply