“MENJANGKAU ORANG-ORANG PENTING”

 “MEMURIDKAN ORANG BERKUASA”

PENDAHULUAN

 

Keberanian murid-murid. Setiap orang Kristen sejati selalu memiliki kerinduan untuk melaksanakan amanat Kristus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Kudan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19; huruf miring ditambahkan). Frase jadikanlah…murid pada ayat ini berasal dari kata kerja dalam bahasa Grika (bahasa asli PB), μαθητεύω, mathēteuō, yang berarti mengajar (Strong; G3100); sebuah bentukan dari kata benda maskulin μαθητής, mathētēs, yang artinya murid (Strong; G3101).

 

Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) menggunakan kata pengikut sebagai pengganti murid, mungkin untuk menghindari kerancuan pengertian dan untuk membedakannya dari pelajar atau murid sekolah. Tetapi sebenarnya istilah pengikut digunakan juga pada bagian lain dari PB dengan makna yang berbeda, yaitu “pengikut Kristus” (1Kor. 11:1; huruf miring ditambahkan), di mana kata pengikut di sini berasal dari kata asli μιμητής, mimētēs, artinya peniru (imitator).

 

Kembali kepada amanat Yesus agar para pengikut-Nya menjalankan tugas pemuridan atas “semua bangsa” (=semua orang), ini berarti bahwa pemuridan mesti dilaksanakan terhadap siapa saja tanpa memandang rupa, dalam hal ini termasuk mereka yang berasal dari strata sosial tinggi atau kalangan atas, tidak terkecuali orang-orang berpangkat dan mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Masalahnya, apakah anda dan saya cukup punya nyali untuk mencoba menjadikan “orang-orang besar” itu sebagai murid Kristus? Atau, dalam pengertian yang lazim digunakan, apakah kita berani untuk menginjil kepada para petinggi dan penguasa itu? Pekerjaan pemuridan benar-benar merupakan sebuah tantangan yang besar bagi siapa pun.

 

“Murid-murid tidak diwarisi dengan keberanian dan keteguhan hati dari para syuhada itu sampai tiba anugerah seperti itu diperlukan. Pada waktu itulah janji Juruselamat itu digenapi. Sewaktu Petrus dan Yohanes bersaksi di depan majelis Sanhedrin, ‘heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus’ (Kis. 4:13)” [tiga kalimat pertama].

 

Barangkali kita memang harus belajar dari pengalaman murid-murid Yesus yang pertama, bagaimana mereka telah diurapi dengan keberanian dan hikmat dari surga sehingga mencengangkan banyak orang sekalipun murid-murid yang mula-mula itu hanyalah orang-orang biasa. Ketika seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan secara totalitas berkomitmen pada pekerjaan Tuhan, Roh Allah akan menjadikan seorang biasa mampu menjalankan pekerjaan yang luar biasa!

 

Minggu, 23 Februari

KEKUASAAN POLITIK DALAM PERSPEKTIF ALKITAB (Menghormati Kekuasaan)

 

Orang Kristen sebagai warganegara. Adalah dua hal yang berbeda antara taat kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang telah memilih kita menjadi umat-Nya (Yoh. 15:16; 1Tes. 1:4), dengan taat kepada pemerintah sebagai penguasa politik yang kita pilih dalam proses demokrasi. Namun, Alkitab tidak mempertentangkan antara keduanya. Kepada umat Kristen di Roma rasul Paulus menulis, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah ia melawan ketetapan Allah, dan siapa yang melakukannya akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Rm. 13:1-2; penempatan koma merupakan penyuntingan pribadi untuk pemahaman yang lebih baik).

 

Kata Grika yang diterjemahkan dengan pemerintah dalam Roma 13:1 adalah ἐξουσίαexousia, sebuah kata benda feminin yang dapat berarti kuasa (power), kewenangan (authority), atau juga kemampuan (ability), sebagaimana digunakan antara lain dalam Mat. 9:6, 8; Mrk. 3:15; dan Luk. 10:19 (Strong, G1849). Sedangkan frase “pemerintah yang di atasnya” (Grika: ἐξουσίαις ὑπερεχούσαις, exousias huperechousias) pada ayat tersebut di atas, menurut beberapa pakar penafsiran Alkitab, sebenarnya tidak selalu harus diartikan sebagai “pemerintah sipil” tetapi bisa saja yang dimaksudkan ialah “atasan yang berwenang” dalam berbagai aspek hubungan antar-manusia.

 

“Selama berabad-abad yang panjang, banyak orang telah berusaha untuk memahami peran dan fungsi pemerintah dan bagaimana warganegara harus berhubungan dengan itu. Apakah yang memberikan pemerintah hak untuk memerintah? Apakah bentuk yang terbaik dari pemerintahan? Haruskah rakyat selalu menaati pemerintah mereka? Kalau tidak, mengapa? Ini hanya sebagian dari sejumlah pertanyaan yang kita masih geluti hingga hari ini” [alinea pertama].

 

Gereja tidak berpolitik praktis. Roma 13:1-7 telah menimbulkan berbagai penafsiran yang berbeda-beda di kalangan teolog Kristen perihal maksud sesungguhnya dari sang rasul. Bahkan ada sebuah pendapat ekstrem yang menyebutkan bahwa perikop ini adalah hasil interpolasi (sisipan) yang berasal dari “sumber” lain. Kalau benar Paulus menasihatkan hal itu, kata mereka, seharusnya pemerintah Romawi bersimpati kepadanya dan tidak menghukum dia secara kejam. Kenyataannya sang rasul mati dipancung oleh Kekaisaran Romawi. Pada tahun 67 TM kaisar Nero membumihanguskan kota Roma lalu dengan liciknya menuding orang-orang Kristen adalah pelakunya, lalu atas dasar itu menganiaya mereka dengan sangat kejam dan di luar batas peri kemanusiaan. Apakah rasul Paulus akan menganjurkan orang Kristen untuk patuh pada tirani yang jahat seperti itu, sebab mereka adalah pemerintah yang “ditetapkan oleh Allah”?

 

Pada malam ketika Allah menyingkapkan kepada Daniel perihal mimpi raja Nebukadnezar dan artinya, nabi itu berdoa sambil memuji Allah seperti ini: “Allah itu bijaksana dan perkasa, terpujilah Dia selama-lamanya! Dialah yang menetapkan musim dan masa, Dia menggulingkan dan melantik penguasa…” (Dan. 2:20-21, BIMK; huruf miring ditambahkan). Daniel berkata demikian setelah mengetahui bahwa Nebukadnezar dan kerajaan Babel tidak akan berkuasa selamanya, sebab Tuhan telah menetapkan satu masa bagi setiap kerajaan dan pemerintahan. Tidak semua pemerintah menjalankan pemerintahan dengan bijaksana, dan tidak semua penguasa bekerja semata-mata demi kesejahteraan rakyat, tetapi sebagai umat Kristen yang percaya kita akan menyerahkan kepada Tuhan untuk bertindak. Sebagai warganegara setiap orang Kristen memiliki hak konstitusional untuk berpolitik atas pilihan sendiri, tetapi sebagai gereja kita tidak melakukan kegiatan politik praktis.

 

Pena inspirasi menulis: “Kita tidak dituntut untuk menentang pemerintah. Perkataan kita, baik lisan maupun tulisan, harus dipertimbangkan masak-masak, kalau tidak kita akan tercatat sebagai orang yang menyuarakan apa yang kelihatannya bermusuhan dengan hukum dan aturan. Kita tidak boleh mengucapkan atau melakukan apapun yang secara tidak perlu akan menutup jalan kita. Kita harus maju dalam nama Kristus, membela kebenaran yang dipercayakan pada kita. Kalau manusia melarang kita melakukan pekerjaan ini, baru kita boleh berkata seperti rasul-rasul itu, ‘Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar’ (Kis. 4:19)” (Ellen G. White, The Acts of the Apostles, hlm. 69).

 

Apa yang kita pelajari tentang kekuasaan politik menurut Kitabsuci?

1. Sebagai pengikut Kristus, orang Kristen taat kepada Yesus selaku Pribadi; sebagai warganegara, kita tunduk kepada pemerintah selaku institusi. Kewarganegaraan kita bukan di dunia ini melainkan di surga (Flp. 3:20), maka ketaatan pada kekuasaan duniawi berhenti saat ketaatan pada kekuasaan surgawi menghendakinya.

2. Selama bermukim di Mesir bangsa Israel mengalami dua masa pemerintahan yang memperlakukan mereka dengan cara yang bertolak-belakang, Firaun di zaman Yusuf yang baik hati dan Firaun pada zaman Musa yang kejam. Dalam perspektif Roma 13:1-7, bagaimana anda melihatnya?

3. Allah tidak pernah sedetik pun melepaskan kendali-Nya atas alam semesta, termasuk atas peristiwa-peristiwa politik di dunia ini. Setiap pemerintahan di negara mana pun pasti berdampak langsung pada kehidupan umat Tuhan yang menjadi warga maupun yang hidup di negara itu. Allah mengendalikan naik-turunnya penguasa dunia.

 

Senin, 24 Februari

YESUS MENGUTAMAKAN JIWA MANUSIA (“Belum Pernahkah Kamu Baca…?”)

 

Legalisme kaum Farisi. Pada zaman Yesus, orang-orang Farisi tergolong kelompok elit karena pengetahuan agama mereka, yang bersama orang-orang dari kelompok Saduki (sering dijuluki “kasta imam-imam”) membentuk majelis Sanhedrin terdiri atas 71 orang yang bertanggungjawab dalam menafsirkan dan menerapkan hukum agama dan hukum sipil bangsa Yahudi. Meskipun kedua partai ini kelihatannya berada satu “front” dalam menentang Yesus, dua kelompok ini mempunyai perbedaan yang sangat mendasar dan tak terjembatani. Kaum Saduki memelihara Hukum Musa atau Torah sebagai “Hukum Tertulis” yang diterapkan secara harfiah, sedangkan kaum Farisi selain memelihara Torah juga menggunakan ajaran-ajaran yang merupakan tafsir dari Torah, sebagai “Hukum Lisan” yang sekarang dikenal dengan Talmud. Sementara kaum Saduki yang lebih fokus pada upacara-upacara agama di Bait Suci bubar setelah Kaabah Kedua dihancurkan pada tahun 70 TM, kaum Farisi terus bertahan dan mengalami regenerasi selama berabad-abad. Agama Yudaisme yang ada sekarang dianggap sebagai penjelmaan dari ajaran-ajaran Farisi yang bersifat legalistik.

 

Berdasarkan hukum lisan yang sarat dengan penafsiran atas Torah, Hukum Musa itu telah diperluas sedemikian rupa sehingga lebih sebagai beban gantinya sebagai pedoman hidup keagamaan, termasuk penerapan hukum keempat dari Sepuluh Perintah tentang pengudusan Sabat hari ketujuh. Orang-orang Farisi telah menambahkan satu daftar panjang mengenai apa yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan pada hari Sabat. Maka ketika pada suatu hari Sabat orang-orang Farisi yang sengaja memata-matai Yesus dan murid-murid-Nya itu memergoki murid-murid sambil berjalan memetik bulir-bulir gandum dan memakannya karena lapar, langsung saja orang-orang Farisi itu mencela. “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (Mrk. 2:24). Memetik gandum milik orang lain tanpa menggunakan sabit, yang berarti hanya mengambil sedikit sekadar untuk mengisi perut menahan lapar, diperbolehkan menurut Hukum Musa (Ul. 23:25). Tetapi orang-orang Farisi itu mempersalahkan murid-murid bukan terhadapapa yang mereka lakukan (memetik gandum), tapi kapan mereka melakukan hal itu (hari Sabat).

 

Atas tuduhan itu Yesus menjawab, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” (ay. 25-26). Cerita yang Yesus maksudkan ialah peristiwa ketika Daud bersama pengikutnya yang kelaparan dalam pelarian sewaktu dikejar-kejar oleh tentara Saul yang tercatat dalam 1 Samuel 21:1-6.

 

“Adalah menarik bahwa, dalam berurusan dengan orang-orang ini, Yesus merujuk kepada sumber Kitabsuci dan bahkan riwayat suci yang tentu sudah menjamah hati pemimpin-pemimpin agama itu. Yesus memikat mereka kepada apa yang seharusnya menjadi kesamaan di antara mereka. Misalnya, Ia mengutip Alkitab ketika Ia berbicara tentang pentingnya kemurahan daripada tatacara agama. Dengan begitu Ia berusaha membawa pemimpin-pemimpin itu kepada makna yang lebih dalam dari hukum yang mereka akui begitu sungguh-sungguh dihargai dan dijunjung” [alinea ketiga].

 

Jiwa manusia lebih penting. Pada suatu hari Sabat yang lain, di halaman Bait Suci, orang-orang Farisi melihat Yesus hendak menyembuhkan seorang yang lumpuh sebelah tangan. Menyadari bahwa diri-Nya sedang dimata-matai, Yesus lalu memanggil orang itu dan menempatkannya di tengah-tengah banyak orang yang mulai datang berkerumun. “Menurut agama, kita boleh berbuat apa pada hari Sabat? Berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membunuh” tanya Yesus. (Mrk. 3:4, BIMK). Karena tidak ada dari orang-orang Farisi itu yang menjawab, mungkin karena takut dipermalukan di depan umum, Yesus kemudian menyembuhkan orang itu. Orang-orang Farisi yang merasa dikalahkan dengan telak itu kemudian bubar dan berunding untuk membunuh Yesus.

 

Dalam peristiwa pertama, Yesus telah menandaskan kepada kaum pemimpin Yahudi itu, dalam hal ini adalah orang-orang Farisi, bahwa “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27). Dengan berkata demikian bukan berarti Yesus menafikan Sepuluh Perintah demi sesuatu perbuatan kebajikan, tetapi Ia ingin menekankan bahwa kebutuhan manusia lebih penting dari aturan-aturan keagamaan. Hukum Allah tetap penting dan wajib dijunjung setinggi-tingginya, tetapi Allah lebih mengutamakan jiwa manusia. Hukum tidak dapat menyelamatkan manusia, hanya kasih karunia melalui Yesus Kristus yang bisa menyelamatkan. Yesus Kristus adalah “Tuhan atas hari Sabat” (Mrk. 2:28), bahkan Ia adalah Pencipta hukum hari Sabat bersama hukum-hukum yang lain itu, maka Yesus yang lebih tahu dengan persis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat.

 

“Sayangnya, sebagian dari orang-orang yang paling berkuasa dan berpengaruh dengan siapa Yesus berhadapan itu adalah para pemimpin agama pada zaman-Nya, banyak dari mereka itu yang secara terang-terangan bermusuhan dengan Dia. Namun, meskipun dalam pertemuan-Nya dengan mereka, Yesus selalu berusaha untuk menyelamatkan. Dia tidak berusaha untuk berargumentasi; Ia mengusahakan keselamatan semua orang, bahkan atas orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh itu yang pada akhirnya menghukum Dia sampai mati” [alinea pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang cara Yesus menghadapi golongan elit Yahudi itu?

1. Dengan menambahkan aturan-aturan terhadap Hukum Sabat, berdasarkan penafsiran mereka sendiri, orang-orang Farisi sebenarnya telah melanggar ketentuan Allah untuk tidak boleh menambahi maupun mengurangi perintah Allah (Ul. 4:2; 12:32). Menafsirkan Firman Tuhan dalam arti menyimpulkan itu tidak sama dengan menambahkan.

2. Seringkali para pemimpin merasa seperti orang yang paling tahu serta paling benar, dan apa yang mereka ucapkan tak boleh dibantah atau dikritik. Tetapi kedudukan dan jabatan tidak serta-merta menjadikan seseorang lebih unggul dari orang lain dalam segala hal.

3. Salah itu manusiawi, selama pemimpin itu masih manusia dia tetap rawan untuk berbuat salah. Namun pemimpin yang menyadari (atau diberitahu) akan kesalahannya tapi tidak berusaha memperbaiki kesalahan itu, berarti dia telah melakukan dua kesalahan sekaligus.

 

Selasa, 25 Februari

IMAN ORANG KAFIR (Sang Perwira)

 

Iman yang mengejutkan. Seorang perwira tentara Romawi sudah tentu adalah orang kafir (non-Yahudi), tetapi rasa kemanusiaannya lebih tinggi dari orang Yahudi. Bayangkan saja, dia menaruh iba terhadap hambanya yang tiba-tiba jatuh sakit sampai tidak dapat bangun dari tempat tidur. Meskipun secara hukum Romawi majikan dapat memperlakukan apa saja pada hambanya, bahkan membunuhnya jika perlu, perwira ini mau bersusah-susah meminta pertolongan dari Yesus agar menyembuhkan hambanya itu. Bukan itu saja, tetapi sang perwira itu percaya bahwa hanya dengan satu kata yang keluar dari mulut Yesus sudah bisa menyembuhkannya. Yesus kagum atas imannya lalu berkata, “Bukan main orang ini. Di antara orang Israel pun belum pernah Aku menemukan iman sebesar ini!” (Mat. 8:10, BIMK). Benar, sesuai perkataan Yesus, hamba itu sembuh seperti yang diyakini oleh sang perwira (ay. 13).

 

Penuturan Lukas perihal kejadian ini mungkin lebih lengkap dan lebih menarik. Perwira tentara Romawi yang bertugas di wilayah Kapernaum itu mungkin sudah mendengar cerita-cerita tentang bagaimana Yesus mengadakan mujizat-mujizat untuk menyembuhkan banyak orang sakit bahkan membangkitkan orang mati. Maka ketika dia mendapat info bahwa Yesus sudah memasuki wilayahnya–mungkin dari prajurit intelijennya, karena selaku komandan pasukan dia tentu bertanggungjawab atas keamanan wilayah setempat–perwira itu langsung menyuruh para pemimpin Yahudi untuk menemui Yesus. “Perwira ini layak ditolong oleh Bapak, sebab dia mengasihi bangsa kita dan sudah membangun rumah ibadat untuk kami,” kata mereka kepada Yesus (Luk. 7:3-5, BIMK). Yesus langsung menanggapi dan menuju ke rumah sang perwira, tetapi begitu sudah mendekati rumahnya perwira itu mengutus teman-temannya untuk menyongsong Yesus dengan pesan, “Tak usah Bapak bersusah-susah ke rumah saya. Saya tidak patut menerima Bapak di rumah saya. Itu sebabnya saya sendiri tidak berani menghadap Bapak. Jadi, beri saja perintah supaya pelayan saya sembuh” (ay. 6-7, BIMK; huruf miring ditambahkan).

 

“Di sini mawas diri yang jujur itu berguna. Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sudah menjadi puas diri dan sekadar mengemban doktrin-doktrin yang benar gantinya mengalami iman yang hidup? Apakah orang-orang yang baru percaya dan kurang sempurna itu memperlihatkan iman yang lebih mendalam ketimbang mereka yang dibesarkan dalam Kekristenan? Apakah keuntungan-keuntungan rohani kita sudah menyebabkan kebergantungan pada diri sendiri? Apakah peluang-peluang rohani telah berlalu tanpa disadari?” [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

 

Menginjili penguasa. Mungkin sebagian dari kita agak kecewa mengapa perwira tentara Romawi itu mencegah Yesus masuk ke rumahnya. Bagi Yesus sendiri tidak masalah untuk masuk ke rumah orang kafir (non-Yahudi), sebab pantangan itu hanya tradisi manusia, bukan perintah atau kebijakan Tuhan. Apalagi Yesus mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan itu, sebab Ia sudah mendapat rekomendasi tentang kebaikan sang perwira melalui para pemimpin Yahudi yang bersahabat dengan dia. Tentu kali ini Yesus tidak akan dicela oleh para pemimpin Yahudi itu sekiranya Dia jadi bertamu ke rumah seorang kafir. Namun perhatikan, Yesus tidak memaksakan diri tetapi menghargai permintaan perwira itu walaupun Dia memang sedang menuju ke rumahnya dan sudah hampir sampai. Yesus tidak ingin perwira Romawi itu merasa tidak nyaman dan dianggap menyalahi tatakrama Yahudi. Sikap saling menghormati dan menghargai perasaan orang lain adalah salah satu kunci kesuksesan dalam pemuridan.

 

Saya mempunyai berbagai pengalaman menarik dalam kesempatan mengenal dan bergaul dengan pejabat-pejabat publik, eksekutif dan legislatif, melalui bisnis yang saya tekuni di Jakarta belasan tahun silam. Dalam beberapa kesempatan obrolan santai kami sering bertukar pikiran soal agama, termasuk dengan mereka yang tidak seiman. Terkadang ada rasa canggung, tapi perasaan itu segera sirna manakala mereka memperlihatkan antusiasme untuk mengenal lebih jauh agama yang saya anut dan apa bedanya dengan agama lain yang sealiran. Suatu kali pada hari Jumat malam, tidak lama setelah kami selesai mengadakan kebaktian keluarga menyambut hari Sabat, telepon di rumah berdering. Istri saya yang menjawab telpon itu menjadi sedikit “resah” setelah mengetahui penelpon yang ingin berbicara dengan saya adalah seorang yang dikenalnya memangku jabatan cukup penting. Dia menelpon ke rumah karena ponsel saya sudah dimatikan. Mau tak mau saya harus menerima panggilan telpon itu, dan anda tahu apa tujuannya menelpon saya? Inilah yang dia katakan: “Pak Loddy, sekarang sudah hari Sabat ‘kan? Apa saya boleh mengucapkan Selamat Hari Sabat?” Tidak ada pembicaraan apapun soal bisnis seperti yang saya khawatirkan, dan setelah sedikit basa-basi dia pun pamit dan menutup telpon.

 

Tentu terlalu naif kalau langsung “ge-er” (“gede rasa” ) hanya karena ada kenalan yang tidak seiman tiba-tiba mengucapkan “Selamat Sabat” pada kita, dan terlampau berlebihan untuk merasa bahwa kita sudah berhasil memuridkannya. Namun jangan pula mengecilkan kuasa Roh Allah yang bekerja di hati semua manusia, tak terkecuali para pejabat publik dan penguasa yang sehari-hari sibuk dengan urusan-urusan negara yang “lebih penting.” Jangan pernah menganggap sepele bibit-bibit kebenaran dan iman yang kita tabur, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana Roh Allah bekerja saat kita sendiri sudah lupa pemuridan yang pernah kita lakukan. “Siapa pun bisa menikmati pengalaman perwira itu. Cerita ini mendorong mereka yang menginjil di antara orang-orang yang menduduki jabatan penguasa. Berapa banyak ‘perwira’ yang ada di abad ke-21 ini? Semoga iman mereka mengilhami dan menguatkan iman kita” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang iman sang perwira tentara Romawi?

1. Sebesar apakah iman yang anda dan saya miliki sekarang? Apakah iman kita sekarang cukup besar untuk dapat membuat Tuhan terkaget-kaget, ataukah Tuhan terperangah oleh sebab setelah bertahun-tahun menjadi murid-Nya tapi iman kita masih belum sebesar biji sesawi?

2. Iman mungkin adalah masalah pokok di akhir zaman. Yesus sendiri pernah menyangsikan apabila Ia datang “adakah Ia akan mendapati iman di bumi” (Luk. 18:8). Lebih memalukan lagi jika iman orang-orang “kafir” lebih besar dari iman umat Tuhan, seperti perwira Romawi itu.

3. Menjalankan pemuridan (=penginjilan) juga membutuhkan iman yang cukup. Iman akan membuat kita lebih percaya diri untuk memberitakan Injil kepada setiap orang, rakyat biasa maupun penguasa dan orang berpangkat. Iman yang berasal dari Allah dapat bersemai di setiap hati manusia.

 

Rabu, 26 Februari

BERSAKSI DALAM DIAM (Hari Penghakiman)

 

Yesus di pengadilan. Pengadilan Yesus dimulai segera setelah Ia ditangkap di Taman Getsemane pada hari Rabu tengah malam, menjelang subuh hari Kamis. Berdasarkan sistem hukum Yahudi masa itu proses peradilan Yesus Kristus cacat hukum karena beberapa alasan, antara lain: 1. Dilarang mengadili seseorang selama masa perayaan, termasuk Paskah; 2. Pengadilan harus dimulai dan diakhiri pada siang hari; 3. Vonis hanya boleh diputuskan di ruang sidang resmi, bukan di rumah imam besar; 4. Hanya vonis bebas yang boleh diputuskan pada hari yang sama, sedangkan vonis berupa hukuman harus dilakukan setelah jedah paling sedikit satu hari, dan eksekusi menunggu waktu setidaknya tiga hari; 5. Vonis harus diputuskan dalam sidang paripurna Majelis Sanhedrin berjumlah 71 orang dengan sistem satu anggota satu suara, bukan secara kolektif dan aklamasi. Belum lagi soal penangkapan-Nya yang tidak disertai tuduhan resmi dan tanpa perintah penangkapan pihak berwenang, ketersediaan saksi-saksi yang sah, pembela yang mendampingi, dan sebagainya yang semuanya diatur dalam hukum Yahudi. Mungkin kalau pada waktu itu sudah dikenal lembaga pra-peradilan, Yesus Kristus harus dibebaskan demi hukum.

 

Tetapi Yesus menjalani semua proses tersebut tanpa bersungut, malah menggunakan kesempatan itu untuk bersaksi kepada para penguasa yang mengadilinya tanpa mempersoalkan keabsahan peradilan itu. Yesus menjalani enam sesi pengadilan, tiga pengadilan agama di hadapan mantan imam besar Hanas, imam besar Kayafas, dan majelis Sanhedrin serta tiga pengadilan sipil di hadapan Pilatus, Herodes, dan kembali lagi ke Pilatus. Di hadapan para petinggi itu Yesus berkali-kali berusaha menyadarkan mereka perihal siapa Dia sesungguhnya. Penginjilan tidak selalu harus dalam bentuk khotbah atau penyajian doktrin melalui KKR yang gegap gempita, tetapi penginjilan dapat dilakukan dengan membagikan kepada mereka apa yang kita percaya dan mengapa kita percaya. Bahkan, Yesus tetap bersaksi dalam kebisuan-Nya di ruang pengadilan.

 

“Sejak penangkapan hingga penyaliban, Kristus bersaksi di hadapan orang-orang paling berkuasa di negeri itu: raja, gubernur, imam-imam. Pribadi demi pribadi Ia mencermati mereka yang mabuk dengan kekuasaan duniawi. Kelihatannya mereka bisa menguasai Dia. Serdadu-serdadu menyeret Yesus antara ruang-ruang peradilan mereka, majelis-majelis mereka, istana-istana mereka, dan gedung-gedung pengadilan mereka, tidak menyadari bahwa sebenarnya ini adalah dunia-Nya.” [alinea pertama: kalimat kedua hingga kelima].

 

Bersaksi sampai mati. Yesus melaksanakan tugas pemuridan hingga pada hari kematian-Nya di kayu salib ketika salah seorang penyamun yang disalibkan bersama Dia tergerak hati untuk percaya. Selama berabad-abad setelah kematian-Nya jutaan orang berhasil ditobatkan dan menjadi pengikut-Nya, jauh lebih banyak dari jumlah orang yang bertobat selama tiga setengah tahun Dia melayani di dunia ini. Pekerjaan pemuridan telah dimulai oleh Yesus sendiri, tetapi pekerjaan itu akan diselesaikan oleh murid-murid-Nya dari zaman ke zaman secara berkelanjutan.

 

“Demikian juga, para pengikut Kristus abad kedua puluh satu harus menyadari bahwa sementara mereka bersaksi untuk mendapatkan murid-murid, hasilnya seringkali tampak sangat berbeda dari apa yang mereka harapkan dan doakan. Keberhasilan yang terukur mungkin tidak selalu menyertai usaha mereka. Hal ini jangan mengecewakan mereka ataupun menghalangi pekerjaan bersaksi selanjutnya. Murid yang sejati adalah, seperti Kristus sendiri, setia sampai mati, bukan setia sampai kecewa.” [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

 

Pena inspirasi menulis: “Tetapi Yesus berdiri dengan tenang di hadapan penguasa yang angkuh bagaikan seorang yang tidak dapat melihat ataupun mendengar. Herodes berkali-kali mengemukakan dalilnya kepada Yesus, dan menegaskan kembali fakta bahwa dia memiliki kekuasaan untuk membebaskan ataupun menghukum-Nya. Bahkan dia berani sesumbar tentang hukuman yang dia jatuhkan pada Yohanes dengan maksud untuk menegur Dia. Terhadap semua itu Yesus tidak menjawab baik dengan perkataan maupun airmuka” (Ellen G. White, risalah Redemption or the Suffering of Christ, His Trial and Crucifixion, hlm. 56).

 

Apa yang kita pelajari tentang kesaksian Yesus Kristus di ruang pengadilan?

1. Pengadilan mestinya adalah forum di mana keadilan ditegakkan dan kebenaran dinyatakan, tetapi dalam kasus Yesus Kristus pengadilan hanyalah menjadi alat pembunuhan. Banyak murid Kristus di seluruh dunia telah mengalami nasib yang sama dengan Yesus tatkala mereka dihukum secara tidak adil karena iman mereka.

2. Yesus sudah mencontohkan bahwa dalam situasi yang menekan dan sulit bersaksi dapat dilakukan dalam diam. Seperti Yesus, bersaksi dan pemuridan bisa dilaksanakan melalui khotbah dalam tingkah laku dan kesantunan. Kebenaran bukan untuk dikhotbahkan, tapi dihidupkan.

3. Bersaksi dan pemuridan adalah usaha sepanjang hayat secara pribadi, bukan sebagai profesi. Murid Kristus yang sejati tidak berhenti bersaksi karena pensiun dari pekerjaan injil, atau karena kekecewaan. Bersaksi bagi Kristus bisa berlangsung terus sampai ajal tiba.

 

Kamis, 27 Februari

PENGINJILAN DI ZAMAN RASUL-RASUL (Ledakan Awal)

 

Pemuridan dan penganiayaan. Sejak awal pekerjaan pemuridan selalu dibayang-bayangi oleh penganiayaan, baik oleh pemuka-pemuka Yahudi di Yerusalem dan Yudea maupun oleh penguasa-penguasa kafir di luar wilayah Israel. Kekristenan adalah “wabah” yang tak terbendung oleh sebab Injil memiliki kekuatan seperti dinamit yang dapat meruntuhkan tembok-tembok kekafiran. Pada zaman rasul-rasul Kekristenan bertumbuh dalam kecepatan yang mengagumkan, tapi itu bukan tanpa harga yang mahal berupa nyawa rasul-rasul dan para penginjil lainnya.

 

“Murid-murid Kristus yang paling awal dengan penuh semangat memajukan injil di seluruh dunia yang beradab. Rumah-rumah, sinagog-sinagog, stadion umum, ruang-ruang pengadilan, dan istana-istana raja menjadi panggung untuk memproklamirkan kerajaan surga. Akan tetapi Yesus menubuatkan adanya penangkapan-penangkapan, pengadilan-pengadilan, dan dihadapkan pada penguasa yang bermusuhan bagi murid-murid itu (Mat. 10:16-20). Sayangnya, orang-orang yang sudah jenuh dengan kekuasaan duniawi itu paling lambat untuk menerima Kristus.” [alinea pertama].

 

Penganiayaan terhadap umat Kristen merebak sejalan dengan meluasnya Kekristenan, khususnya di masa kebesaran kekaisaran Romawi. Mengapa penguasa Romawi sangat membenci Kekristenan dan orang Kristen? Perlu diketahui bahwa agama adalah hal yang terutama dalam kebudayaan Romawi untuk mendorong persatuan masyarakat dan kesetiaan pada negara, sebuah sikap hidup orang Romawi yang disebutpietas (ketakwaan). Sementara itu Kekristenan di mata para budayawan bukan sebagai ketakwaan tapi ketakhyulan. Tacitus, sejarahwan Romawi abad pertama yang juga seorang senator, menyebut Kekristenan sebagai “takhyul yang mematikan.” Kekristenan dianggap membahayakan peradaban Romawi yang sangat dibanggakan itu.

 

Dampak kebangkitan Kristus. Agama Kristen yang mengajarkan kebangkitan sesudah kematian, serta penebusan dosa melalui kematian Kristus, bagi masyarakat dengan peradaban yang sudah maju dianggap sebagai tidak realistik dan sulit diterima akal. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus dengan segera mendobrak kesangsian banyak orang dan membuka mata mereka. Iman Kristiani bukan “pepesan kosong” yang tak berharga, melainkan sebuah pengharapan yang nyata.

 

“Ketika Kristus secara pribadi menaklukkan maut, yang mempertegas pekabaran-Nya, ribuan orang yang ragu-ragu melompat masuk ke dalam kerajaan itu. Mereka secara rahasia sudah mengikut Dia. Hati mereka telah menyambut undangan-Nya. Faktor-faktor budaya, keamanan pekerjaan, dan tekanan keluarga menghambat sambutan mereka secara terbuka. Kebangkitan Kristus menghancurkan pagar, memaksa untuk mengambil keputusan.” [alinea kedua: lima kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang penginjilan dan penganiayaan di zaman rasul-rasul?

1. Kekristenan tidak pernah bebas dari penganiayaan, dari dulu sampai sekarang. Maka, menjadi orang Kristen adalah suatu tindakan keberanian. Kata Yesus, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 16:25).

2. Kekristenan adalah soal keselamatan di akhirat, bukan di dunia ini. Menjadi orang Kristen berarti rela mengorbankan hidup di dunia ini demi hidup kekal di surga dan selanjutnya di dunia baru. Tidak ada hal yang terlalu mahal untuk diserahkan demi memperoleh kehidupan abadi bersama Kristus.

3. Orang Kristen tidak disukai oleh dunia sebab mereka bukan berasal dari dunia ini. Yesus berkata, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:19).

 

Jumat, 28 Februari

PENUTUP

 

Pemikiran sekuler. Orang-orang dengan pemikiran sekuler adalah mereka yang kehidupannya terfokus pada hal-hal duniawi dan kebendaan. Mungkin mereka itu bukan orang-orang yang anti agama atau ateis, hanya saja hidup mereka tidak memusingkan soal agama tetapi lebih mengutamakan materialisme. Sepintas lalu orang-orang yang berpandangan sekuler itu seakan “lebih realistis” ketimbang orang-orang yang berpandangan agamis yang hidup mengandalkan iman. Menginjili kaum sekularis seperti itu seringkali membutuhkan cara pendekatan yang khusus, bukan dengan cara-cara yang biasa. Meskipun cara berpikir mereka sangat duniawi, pemuridan di kalangan orang-orang ini adalah sebuah keniscayaan.

 

“Bukan oleh jamahan biasa dan secara kebetulan maka jiwa-jiwa yang kaya, mencintai dunia dan pemuja dunia itu ditarik kepada Kristus. Seringkali orang-orang ini paling sulit didekati. Usaha perorangan harus diadakan untuk mereka oleh pria dan wanita yang dipenuhi dengan semangat utusan injil, yaitu mereka yang tidak akan gagal atau pun patah semangat” [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

 

Dua orang ibu yang sama-sama bersuamikan evangelis dan tinggal bertetangga pada suatu hari terlibat dalam percakapan yang bersifat “curhat” (curahan isi hati). Bukan kesederhanaan hidup mereka yang jadi topik pembicaraan, tetapi hasil penginjilan suami masing-masing. Sambil menjahit tambalan celana panjang milik suami mereka masing-masing, ibu yang sedang menisik bagian bokong celana suaminya mengeluh karena hasil kerja suaminya tidak sesukses suami tetangganya itu. Lalu, dengan nada memberi semangat, ibu yang lain itu menanggapi: “Ibu, rahasianya terletak pada apa yang sedang kita lakukan sekarang. Ibu sedang menambal bagian belakang celana suami ibu yang sobek, sedangkan saya menambal bagian lutut dari celana suami saya. Mungkin suami ibu terlalu banyak duduk, dibandingkan dengan suami saya yang banyak berdoa sampai lutut celananya sobek…”

 

“Dengan kuasa Allah yang giat bekerja di dalam diri kita, Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan” (Ef. 3:20, BIMK).

Leave a Reply