MENUNTUN DENGAN GAGAH BERANI, TAPI TIDAK TURUT MENIKMATI KEJAYAAN

June 16, 2017 - Renungan

Oleh: Ilham Syahrif

Firman Tuhan berkata:

Ulangan 34:4 (TB) Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”

Ketika kami kuliah di UNKLAB, malam minggu adalah malam istimewa karena boleh menikmati pemandangan pantai di Boulevard kota Manado. Saat itu pertokoan yang paling top hanyalah Jumbo Swalayan, Ramayana dan Roberta Fashion store. Semua berada di seputaran Stasiun 45. Lalu kemudian Matahari Departemen Store dan Multimart pun buka. Wow, sungguh malam yang sangat pendek untuk menjajaki semua tempat-tempat itu. Walaupun tidak punya uang jajan, asal ada untuk transport, dunia terasa begitu cerah. Masalah makan bisa titip teman sekamar atau mampir kerumah teman di mana saja ada ajakan. Malu? Selama konsumsi terjamin, segala tugas siap dilaksanakan. Sungguh masa-masa yang tak terlupakan.

Tapi yang paling istimewa adalah saat pulang ke kampus. Mobil angkot sudah berjejer di depan Gedung Juang dengan seorang Kenek yang dengan semangat tinggi berseru “Ae…Ae…Ae…”, “Kuang ip”, “ancung angka”…! Maksudnya adalah “Air…Air…Air…” untuk singkatan Airmadidi dimana UNKLAB berada. Kuang Ip artinya Kurang VIP atau bangku yang tersisa adalah sepotong papan yang diletakkan diantara dua jok mobil pada bagian tengah angkot. Sedangkan Ancung angka adalah langsung berangkat. Hal ini terjadi karena si Iwan mengalami kekurangan dalam berkata-kata. Ketika ankot telah penuh, maka sopir memberikan tip khusus untuk si Iwan dan mulai bergerak menuju Airmadidi. Iwan, sang kenek tinggal ditempat sambil berseru-seru lagi untuk angkot berikutnya hingga semua angkot meninggalkan pangkalan. Iwan tidak pernah ikut naik angkot itu ketujuan yang disuarakannya. Tugasnya berakhir saat semua penumpang telah terlayani. Lalu dia pulang kerumahnya sambil menumpang angkot ke arah lainnya.

Melihat pelayanan Musa, dengan akhir yang tragis, dapatkah Musa disamakan dengan si Iwan yang bekerja sebagai KENEK ANGKOT?

Menurut arti namanya Musa adalah Ditarik dari Air (Kel 2:10) Dan dalam kepemimpinannya, peristiwa besar termasyur yang pernah dibuatnya adalah mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir dengan membelah Laut Teberau (Kel 14:21-26) Musa dan seluruh orang Israel masuk dan keluar dari air itu demi sebuah tanah perjanjian yang telah ditetapkan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa tidak pernah ada seorang pemimpin yang setangguh dan sebesar Musa yang memimpin dengan hati lembut (Bil 12:3).

Berulang kali kesabarannya diuji oleh kekerasan tengkuk bangsa Israel dan bahkan upaya kudeta dari orang-orang terdekatnya (Bil 12:1-2). Persungutan bangsa Israel dan pemberontakan mereka terhadap Allah melalui penyembahan terhadap anak lembu emas (Kel 32:18-24). Musa bahkan berjuang untuk memperoleh pengampunan bagi bangsa Israel demi menjaga kehormatan Tuhan (Kel 32:11-14).

Tapi apakah yang diterima Musa sebagai upahnya? Dia hanya boleh melihat tanah perjanjian itu dari atas gunung Nebo (Ul 34:1).

KENEK? Saya mau katakan bukan. MUSA mengalami hal itu karena Allah memang menginginkannya demikian. Alasan yang diberikan dalam Ul 32:51 adalah catatan dosa yang dilakukan Musa sehingga menjadi penghalang baginya untuk masuk tanah Kanaan. Apakah Allah lupa pengorbanan dan keteguhan Musa dalam melaksanakan tanggung jawab? Tentu saja tidak demikian. Allah menetapkan sebuah standar untuk para pewaris perjanjianNya. Sebuah ukuran kesempurnaan ( Why 21:17) yang wajib dimiliki oleh semua orang yang telah di tarik keluar dari Air (Baptisan). Musa menyadari bahwa pelanggaran sekecil apapun dapat menggagalkannya untuk mencapai tanah perjanjian sejati (Mark 9:4). Bukankah sejak hari bangkitnya hingga saat ini Musa telah berada di Sorga? Ternyata, ada hal penting yang perlu dimengerti oleh setiap umat Allah mengenai peristiwa ini.

Roh Nubuat mencatat dalam buku The Story of Redemption, hal. 174.:

Kristus berkata kepada Setan bahwa Dia tahu kalau Musa telah dengan rendah hati bertobatdari satu dosa ini (Musa berseru kepada Tuhan dengan keputus asaan terhadap bangsa Israel mengingkari perjanjian Allah dengannya dalam Kel 32:14) sehingga tidak ada satu nodapun tersisa pada karakternya sehingga namanya dalam catatan buku kehidupan sorgawi akan tetap tidak ternoda.

Jika memang Musa telah diampuni, lalu kenapa tidak diijinkan memasuki tanah Kanaan? Upah pengorbanan dan penderitaan Musa adalah Sorga sebagai Tanah Perjanjian Sejati. Pengampunan Kristus membuatnya tidak pantas untuk Kanaan duniawi. Tapi bangsa Israel membutuhkannya untuk membersihkan dan memoles tabiat mereka bagi Allah. Mereka harus belajar bergantung pada kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus. Itulah alasan mengapa Musa dan Elia harus menemui Yesus di atas bukit perubahan (Mat 17:3) sebab kemenangan mereka bergantung penuh pada kemenangan Yesus.
Lebih jauh Pena Inspirasi mengungkapkan latar belakang mengapa harus Musa disamping Elia yang dikirim menemui Yesus adalah:
Gantinya memilih para malaikat untuk bercakap-cakap dengan putraNya, Allah memilih mereka yang memiliki pengalaman dalam pencobaan dan kesengsaraan didunia.
(Early Writings, 163).

Puji Tuhan… Meskipun manusia melihat bahwa Musa adalah seorang Pejuang dan Pemimpin gagah berani tapi tidak dapat menikmati kejayaannya, firman Tuhan berkata lain. Musa menikmati hasil dedikasi dan kepercayaannya kepada Allah melalui Kristus untuk menikmati Tanah Perjanjian Sejati yaitu Sorga. Karena kebergantungannya pada pengorbanan dan penurutan Yesus, maka Musa kedapatan TIDAK BERNODA!

Haruskah kita mengalah dalam perjuangan iman ini?🤔🤔🤔

✋Tidan Akan Pernah🤚

🙏🏼🎷🏆Selamat Hari Sabat🏆🎷🙏🏼

🔥Salam FULL SPIRIT🔥
👏Berkarya bagi TUHAN👏
💪Berguna bagi BANGSA💪

Leave a Reply