Milenium dan Dunia Baru

January 1, 2013 - Loddy Lintong

Milenium. Seribu tahun adalah suatu jangka waktu yang disebutkan oleh penulis kitab Wahyu, rasul Yohanes, yang menerangkan tentang masa ketika Setan kelak akan dirantai. Tulis sang pewahyu, “Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari surga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya” (Why. 20:1-3; huruf miring ditambahkan).

Kata Grika yang diterjemahkan dengan seribu pada ayat ini ialah χίλιοι, chilioi, sebuah kata-keterangan yang berarti bilangan 1000. Jangka waktu seribu tahun ini menjadi lebih populer ketika kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, millennium, gabungan dari kata mille yang artinya seribu dan annus yang berarti tahun. Jadi, millennium, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia secara transliteral menjadi milenium, berarti “masa seribu tahun.” Milenium dalam Alkitab mengandung makna yang lebih dari sekadar sepenggal waktu, melainkan lebih daripada itu adalah satu masa kevakuman sejarah dunia tatkala Setan diberangus dari segala aktivitasnya. Bayangkanlah bumi ini tanpa ada satu pun Setan yang bergentayangan membuat ulah. Itulah periode yang dilihat oleh pewahyu dalam khayalnya yang akan terjadi sesudah kedatangan Yesus Kristus kedua kali, masa di mana dunia ini menjadi kosong melompong oleh sebab orang-orang saleh seluruhnya sudah diangkat ke surga dan duduk menghakimi bersama Yesus, sedangkan orang-orang jahat semuanya sudah mati bergelimpangan di bumi ini (ay. 4, 5).

Barangkali sebagian orang akan bertanya, Apakah milenium dan dirantainya Setan itu adalah harfiah? Kitab Wahyu memang mengandung hal-hal yang bersifat simbolik atau lambang, tetapi sebagian isinya bersifat literal atau dalam arti kata yang sebenarnya. Sejauh yang kita pelajari, masa seribu tahun di sini adalah suatu angka harfiah. Namun, jika seandainya masa seribu tahun itu juga hendak dihitung secara bilangan nubuatan, “bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (2Ptr. 3:8), sehingga lamanya masa itu menjadi 1000×1000 tahun atau satu juta tahun, bagi saya itu tidak menjadi soal sebab yang penting di sini bahwa selama masa itu Setan dalam keadaan “terikat.” Setan berada dalam keadaan dirantai oleh sebab dia tidak dapat lagi “menyesatkan bangsa-bangsa” (Why. 20:3) seperti yang dilakukannya selama ini. Sekarang pun Tuhan sedang “mengikat” Setan dengan cara “menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka…dengan belenggu abadi” (Yudas 6). Kalau Allah dapat membelenggu Setan sekarang ini, tentu Dia juga dapat merantai Setan-setan itu nanti!

“Allah ingin membawa umat manusia kembali kepada utopia yang sejak semula Dia telah ciptakan bagi kita…Inilah waktu yang kita sebut ‘milenium’ (untuk kata seribu). Permulaan dari milenium itu menandai dimulainya satu-satunya utopia yang manusia akan pernah kenal sejak Eden sebelum Kejatuhan manusia” [alinea pertama: kalimat terakhir; alinea terakhir].

Minggu, 23 Desember

MULAINYA MASA SERIBU TAHUN (Peristiwa-peristiwa Yang Menandai Milenium)

“Pasal Milenium.” Barangkali tidak keliru jika kita menyebut Wahyu 20 sebagai “pasal milenium” oleh karena inilah satu-satunya pasal di seluruh Alkitab yang berbicara tentang masa seribu tahun berkaitan dengan “pemenjaraan” Setan. Baiklah kita lihat isi setiap ayat dalam pasal ini (seluruhnya ada 15 ayat):

1 — Seorang malaikat turun dari surga membawa rantai dan anak kunci.

2 — Malaikat itu mengikat Setan selama 1000 tahun.

3 — Selama 1000 tahun itu Setan menganggur; tidak dapat menyesatkan manusia.

4 — Para syuhada dibangkitkan lalu memerintah bersama Yesus selama 1000 tahun.

5 — Kebangkitan pertama; orang-orang mati lainnya tidak dibangkitkan.

6 — Orang-orang yang dibangkitkan pertama akan luput dari kematian kedua.

7 — Setan akan dilepaskan pada akhir masa 1000 tahun.

8 — Kebangkitan kedua; Setan akan menyesatkan mereka yang jumlahnya sangat banyak.

9 — Setan memimpin penyerangan kota Yerusalem Baru bersama orang-orang itu; mereka kemudian dilahap api.

10 — Setan, binatang, dan nabi palsu itu dicampakkan ke dalam neraka.

11 — Kristus duduk di atas takhta putih; langit dan bumi lenyap.

12 — Penghakiman orang-orang mati.

13 — Orang-orang mati itu diserahkan oleh bumi dan laut untuk dihakimi.

14 — Kematian kedua; kerajaan maut dihempaskan ke dalam neraka.

15 — Orang-orang jahat yang dihakimi itu dibuang ke dalam neraka.

“Milenium, sebagai sebuah konsep, muncul dalam Wahyu 20 di mana hal itu disebutkan sebanyak enam kali di antara ayat 2-7. Untuk mengetahui masa seribu tahun itu, kedudukan dari Wahyu 20 ini di dalam keseluruhan rentetan kitab Wahyu harus ditentukan. Meskipun kitab ini tidak tidak mengikuti urutan waktu secara langsung, dalam hal ini tidak terlalu sukar untuk menentukan kapan milenium itu dimulai” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Permulaan milenium. Masa seribu tahun, atau milenium, adalah satu periode waktu yang sangat penting dalam sejarah manusia. Inilah masa transisi di antara zaman kefanaan dan zaman kekekalan, sebuah kurun waktu di dalam mana kejahatan dan kuasa kejahatan itu akan berakhir untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya masa seribu tahun ini menarik untuk dipelajari karena berkaitan langsung dengan nasib manusia, baik orang-orang yang selamat maupun yang binasa. Sekarang, pertanyaan yang paling relevan bagi kita ialah: Kapan milenium itu dimulai?

Dalam Wahyu 19 kita menemukan petunjuk bahwa Yohanes Pewahyu menyaksikan ada suatu kemeriahan besar di dalam surga seperti sedang menyiapkan satu peristiwa penting. Di tengah kesibukan persiapan itu terdengarlah suara dari takhta surga, “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia” (ay. 6, 7; huruf miring ditambahkan). Dalam PL, Israel disebut sebagai “istri” dari Allah (Hos. 2:18, 19; Yes. 54:5), tetapi bangsa itu sering tidak setia dan berselingkuh (Yehezkiel 16). Sedangkan dalam PB, Gereja itu dijuluki sebagai “tunangan” dari Kristus (2Kor. 11:2; Ef. 5:25-32). Dalam PB juga, Yesus Kristus sangat sering disebut sebagai “Anak Domba” (Yoh. 1:29, 36; 1Ptr. 1:19; dan di hampir seluruh kitab Wahyu). Dalam kitab Wahyu, Yerusalem Baru sebagai kota suci tempat tinggal umat tebusan, dijuluki “pengantin perempuan, mempelai Anak Domba” (Why. 21:9); dan pada pasal terakhir kita mendapat petunjuk bahwa pengantin perempuan itu merujuk kepada jemaat-jemaat, yaitu orang-orang yang telah menyambut Yesus, “bintang timur yang gilang-gemilang” (Why. 22:16, 17).

Berdasarkan ayat-ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang dimaksud dengan “perkawinan Anak Domba” tidak lain dari hari pertemuan antara Yesus Kristus dengan umat tebusan-Nya yang akan terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali. Kesibukan persiapan “perkawinan” itulah yang disaksikan oleh rasul Yohanes, dan yang kemudian berlanjut dengan turunnya Kristus bersama rombongan besar pasukan surgawi (Why. 21:11-14). Dalam penuturannya rasul Paulus berkata, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:16, 17). Milenium dimulai ketika Yesus Kristus datang kedua kali untuk menjemput umat tebusan-Nya, yaitu orang-orang saleh yang masih hidup maupun yang sudah mati dan dibangkitkan pada hari kedatangan-Nya itu. Jadi, awal dari milenium ditandai oleh dua peristiwa besar: kedatangan Yesus kedua kali dan kebangkitan orang mati.

“Tentu saja permulaan itu bertepatan dengan kedatangan Kristus kedua kali. Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan untuk bergabung dengan umat setia yang masih hidup, dan kedua kelompok itu akan diangkat ke surga. Orang-orang jahat yang masih hidup pada kedatangan Kristus kedua kali akan binasa oleh ‘cahaya kemuliaan-Nya’ (2Tes. 2:8). Dan bumi yang kosong ini akan menjadi penjara bagi Setan yang akan ‘terbelenggu’ selama 1000 tahun oleh rantai situasi” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Tubuh-tubuh yang telah berada di dalam kubur dengan membawa tanda-tanda penyakit dan kematian bangkit dalam kesehatan dan kebugaran yang kekal. Orang-orang saleh yang masih hidup diubahkan dalam seketika, dalam sekejap mata, lalu diangkat bersama orang-orang yang dibangkitkan dan bersama-sama mereka bertemu dengan Tuhan mereka di angkasa. Oh, betapa suatu pertemuan yang mulia! Sahabat-sahabat yang telah terpisah oleh kematian itu dipertemukan, dan tidak pernah lagi akan berpisah” (Ellen G. White, The Story of Redemption, hlm. 411, 412).

Apa yang kita pelajari tentang peristiwa-peristiwa yang menandai permulaan milenium?

1. Milenium, atau masa seribu tahun, adalah periode waktu yang disebutkan dalam Wahyu pasal 20 akan terjadi kelak. Sementara berbagai peristiwa akan berlangsung selama masa seribu tahun itu, hal yang paling relevan bagi kita yang hidup sekarang ini ialah kapan permulaan dari masa itu.

2. Permulaan masa seribu tahun tersebut ditandai dengan dua peristiwa, yaitu kedatangan Yesus kedua kali dan kebangkitan orang mati. Meskipun semua orang yang sudah mati–orang jahat maupun orang saleh–akan dibangkitkan pada saat itu, namun setelah menyaksikan kedatangan Yesus itu semua orang jahat akan binasa sedangkan orang saleh diubahkan ke dalam kondisi yang tidak akan pernah mati lagi (kekal).

3. Peristiwa berikutnya ialah Yesus Kristus bersama rombongan-Nya akan kembali ke surga bersama-sama dengan umat tebusan-Nya yang sudah diubahkan kondisi mereka itu, mengenakan keadaan jasmani yang kekal untuk hidup selama-lamanya.

Senin, 24 Desember

KEJADIAN-KEJADIAN SELAMA MASA SERIBU TAHUN (Pada Pertengahan Milenium)

Para syuhada. Wahyu 20:4 mengatakan bahwa di surga ada takhta-takhta yang ditempati oleh umat tebusan, termasuk orang-orang yang telah mengalami mati syahid (syuhada atau martir) di bumi ini, yaitu mereka yang dengan berani melawan perintah penguasa dunia dengan tidak menyembah “binatang itu dan patungnya” serta tidak menerima tandanya baik di dahi (secara sukarela dan sadar) atau di tangan (secara terpaksa). Sebagian pembelajar Alkitab berpendapat bahwa arti dari “telah dipenggal kepalanya” itu bermakna harfiah maupun kiasan, yaitu umat Tuhan yang telah mengalami penganiayaan dan penderitaan fisik demi mempertahankan kebenaran dan tidak mau tunduk kepada kuasa kepausan pada zaman kegelapan di abad pertengahan maupun di akhir zaman. Mereka disebutkan secara khusus dalam penglihatan Pewahyu oleh karena keberanian dan jiwa patriotisme mereka dalam membela kebenaran Kristus.

Kata asli yang diterjemahkan dengan jiwa-jiwa dalam ayat ini adalah ψυχή, psychē, yang sebagai kata-benda dipakai untuk menyebutkan salah satu unsur dalam diri manusia di samping fisik dan mental, tapi kata ini juga digunakan untuk menerangkan kehidupan atau makhluk hidup. Jadi, penggunaan kata “jiwa-jiwa” oleh Yohanes Pewahyu di sini merujuk kepada orang-orang yang hidup kembali dari kematian secara fisik. Mereka inilah yang dilukiskan sebagai “orang-orang lain di Tiatira” yang tidak mau mengikuti dan mempelajari ilmu-ilmu Setan (Why. 2:24-28), dan sebagai “jemaat Filadelfia” yang tidak mau menggabungkan diri dengan orang-orang dari jemaah iblis (Why. 3:7-12).

“Sebagai umat Masehi Advent Hari Ketujuh, kita memahami bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuh yang baka dan sadar. Sebaliknya, ayat ini menggambarkan orang-orang yang telah melewati pengalaman penganiayaan seperti diutarakan dalam Wahyu 12:17-13:18. Pada Kedatangan yang Kedua (di waktu mana kebangkitan pertama itu terjadi) jiwa-jiwa yang dianiaya ini akan kembali hidup dan setelah kebangkitan bertakhta di surga bersama Kristus (bandingkan dengan 1Tes. 4:15-17)” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Penghakiman orang jahat. Milenium adalah masa penghakiman atas orang-orang jahat dan malaikat-malaikat jahat di mana orang-orang benar yang semasa hidup mereka di dunia ini telah teraniaya karena kebenaran itu akan bertindak sebagai para hakim. Inilah kegenapan dari apa yang disebutkan oleh rasul Paulus tentang “orang-orang kudus akan menghakimi dunia” bahkan “menghakimi malaikat-malaikat” (1Kor. 6:2, 3). Orang-orang benar itu, menurut Yohanes Pewahyu, “akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya” (Why. 20:6).

Pena inspirasi menulis: “Selama seribu tahun, antara kebangkitan pertama dan kedua, penghakiman orang-orang jahat terjadi. Rasul Paulus menyebut penghakiman ini sebagai satu peristiwa menyusul kedatangan yang kedua. ‘Janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.’ 1Kor. 4:5. Daniel menyatakan bahwa apabila Yang Lanjut Usianya itu datang, ‘keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.’ Dan. 7:22. Pada waktu ini orang-orang benar bertakhta sebagai raja-raja dan imam-imam bagi Allah” (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 660).

Konsep “penghakiman” dalam Alkitab menurut doktrin Gereja Advent adalah meliputi dua tahap: pertama, penghakiman pemeriksaan atas umat Tuhan (1844 hingga kedatangan Yesus kedua kali) di mana Yesus Kristus bertindak sebagai Imam Besar dan sekaligus Pengantara kita; kedua, penghakiman atas orang jahat yang berlangsung dalam masa seribu tahun itu. “Tahap ketiga dari penghakiman terakhir adalah fase pelaksanaan, yang merupakan bagian dari peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir masa seribu tahun” [alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang peristiwa yang terjadi selama milenium?

1. Milenium, atau masa seribu tahun dalam kitab Wahyu 20, adalah periode penghakiman khususnya atas orang-orang jahat, penguasa-penguasa dunia yang jahat, dan malaikat-malaikat jahat. Dalam proses penghakiman ini Yesus Kristus akan bertindak sebagai Hakim yang adil dan “dibantu” oleh umat tebusan-Nya yang selamat.

2. Satu kelompok umat Tuhan yang disebut secara khusus oleh Pewahyu adalah “jiwa-jiwa” para shyuhada, yaitu orang-orang yang mati teraniaya karena mempertahankan kebenaran dan tidak mau tunduk kepada “binatang dan patungnya” maupun orang-orang benar yang dibunuh karena menolak menerima “ajaran-ajaran Setan” namun sudah dibangkitkan kembali dan diselamatkan.

3. Doktrin Gereja Advent memahami konsep penghakiman dalam Alkitab sebagai proses yang berlangsung dalam dua kurun waktu berbeda dan diadakan terhadap dua kelompok manusia berbeda, yaitu penghakiman atas orang-orang percaya (tahun 1844 sampai kedatangan Yesus kedua kali) dan atas orang-orang jahat (selama milenium). Penghakiman tahap ketiga adalah eksekusi pehukuman atas orang jahat di akhir milenium.

Selasa, 25 Desember

SEUSAI MASA SERIBU TAHUN (Peristiwa-peristiwa Pada Akhir Milenium)

Setan dilepaskan. Sebagaimana diutarakan pada bagian Pendahuluan pelajaran pekan ini, setelah umat tebusan diangkat ke surga bersama rombongan Yesus Kristus yang datang menjemput, dan sementara itu orang-orang jahat yang telah dibinasakan oleh cahaya kemuliaan-Nya berserakan tak bernyawa di atas bumi, dunia ini berada dalam keadaan lengang selama seribu tahun. Keadaan ini digambarkan sebagai terbelenggunya Setan berbubung dia dan malaikat-malaikatnya yang jahat itu akan menganggur dan tidak mempunyai kesibukan untuk menyesatkan bangsa-bangsa. Seusainya periode seribu tahun itu, Setan “akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya” (Why. 20:3). Sebab pada akhir milenium, tatkala “kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga” (Why 21:2), maka orang-orang jahat yang binasa tersebut dibangkitkan kembali sesudah “berakhir masa seribu tahun” (Why. 20:3, 5) itu sehingga Setan seakan “dilepaskan dari penjaranya” (ay. 7).

Kenyataan bahwa pada waktu orang jahat semuanya mati sehingga Setan kesepian tinggal sendiri di dunia ini, membuktikan bahwa Setan tidak memiliki kuasa apapun untuk membangkitkan manusia meskipun mereka itu adalah orang-orangnya sendiri. Kebangkitan orang mati hanya terjadi pada kedatangan Yesus kedua kali di awal milenium dan pada waktu turunnya kota suci Yerusalem Baru di akhir milenium, dan hal ini membuktikan bahwa kuasa kebangkitan itu hanya ada di tangan Yesus Kristus yang sudah menang atas maut (Why. 1:18; 1Kor. 15:55).

Gog dan Magog. Pewahyu menyebut bangsa-bangsa dari keempat penjuru bumi, yaitu orang-orang jahat yang bangkit di akhir masa seribu tahun itu, sebagai “Gog dan Magog” (Why. 20:8). Sebagai nama orang, Magog adalah cucu dari Nuh (Kej. 10:2); sebagai bangsa Gog dan Magog adalah raja-raja agung negeri Mesekh dan Tubal (Yeh. 38:2), yakni pasukan berkuda yang besar dan kuat dari utara Israel yang telah datang menyerang umat Tuhan itu ketika mereka hidup “aman tenteram” atau sedang tidak siap untuk berperang (ay. 14-16). Akibatnya, Tuhan menghukum mereka dengan kekejutan oleh mendatangkan “api dan hujan belerang ke atasnya dan ke atas tentaranya” serta bangsa-bangsa lain yang menyertainya (ay. 21-23). Begitu dahsyatnya pembalasan Allah, dan demikian banyaknya pasukan penyerang yang mati itu, sehingga untuk menguburkan mayat-mayat mereka orang Israel memerlukan waktu sampai tujuh bulan lamanya (Yeh. 39:11-15).

Dalam bahasa Grika, bahasa asli kitab Wahyu, kata Γώγ, Gōg, berarti gunung; sedangkan Μαγώγ, Magōg, artinya menaungi dari atas. Kedua kata ini merujuk kepada negeri dari utara atau bangsa-bangsa yang pernah menyerang Israel tersebut tidak lama setelah umat Allah itu mendiami negeri perjanjian Kanaan. Dan meskipun Gog dan Magog dalam kitab Wahyu tidak mempunyai hubungan darah atau pertalian kekerabatan dengan Gog dan Magog dalam kitab Yehezkiel, secara konotatif penggunaan nama-nama itu mengisyaratkan sikap permusuhan terhadap Allah dan umat-Nya. Sebagian komentator Alkitab menganggap penggunaan kedua nama ini sebagai pengkiasan karakteristik; sama seperti julukan “setan” atau “ular” terhadap seseorang yang dianggap memiliki ciri tabiat serupa Setan atau mempunyai sifat seperti ular, meskipun dia itu manusia.

“Frase ‘Gog dan Magog’ digunakan secara kiasan, sama seperti dalam Yehezkiel 38:2, untuk menerangkan orang-orang yang digunakan Setan akan berhasil dalam penipuan–yakni orang-orang jahat dari segala zaman. Kumpulan orang banyak inilah yang Setan akan hasut untuk berusaha merobohkan kota Allah. Wahyu 20:9 menyebutkan bahwa kota itu, Yerusalem Baru, pada waktu itu sudah akan turun dari surga ke bumi (kemungkinan bersama Kristus), dan Setan beserta bala tentaranya akan maju menyerangnya” [alinea pertama: kalimat ketiga hingga kelima].

Penghakiman dan eksekusi orang jahat. Kitab Wahyu tidak ditulis sebagai sebuah buku sejarah yang kejadian-kejadiannya diketengahkan dalam penuturan secara kronologis atau berdasarkan urutan waktu dan peristiwa. Jadi, sekalipun penghakiman orang jahat disebutkan sesudah uraian tentang turunnya Yerusalem Baru dan pengepungan orang jahat terhadap kota itu, sesungguhnya penghakiman dan vonis terhadap orang jahat sudah ditentukan sebelumnya. Turunnya Yerusalem Baru yang sudah dihuni oleh umat Allah itu terjadi sesudah masa seribu tahun berakhir, dan bersamaan dengan itu adalah eksekusi vonis atas orang jahat yang akan mengalami “kematian kedua” dengan cara “dilemparkan ke dalam lautan api” (Why. 20:14, 15).

“Selama masa seribu tahun orang-orang kudus turut serta dalam suatu musyarawah penghakiman yang mengkaji-ulang kasus-kasus orang yang tidak selamat dari bumi ini dan malaikat-malaikat berdosa. Penghakiman ini adalah bukti yang penting mengingat sifat kesemestaan dari masalah dosa. Jalannya pemberontakan dosa telah menjadi sasaran kepedulian dan perhatian di dunia-dunia lain (Ayub 1 dan 2; Ef. 3:10). Keseluruhan dosa harus ditangani sedemikian rupa agar hati dan pikiran segenap alam semesta puas dengan perlakuan dan penyelesaiannya, khususnya menyangkut tabiat Allah” [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang peristiwa-peristiwa di akhir milenium?

1. Akhir masa seribu tahun ditandai dengan turunnya kota Yerusalem Baru dari surga ke bumi ini. Pada saat itu orang-orang jahat yang dalam keadaan mati di dunia ini selama milenium itu akan dibangkitkan untuk dibinasakan selama-lamanya. Ketika orang jahat bangkit itulah Setan seakan terlepas dari rasa kesepian yang telah memenjarakannya.

2. Begitu mayat-mayat orang jahat yang tadinya bergelimpangan itu hidup kembali, Setan langsung menghasut mereka untuk mengepung dan menyerang kota Allah yang sedang turun. Keberingasan orang-orang jahat itu disamakan dengan “Gog dan Magog,” yakni raja-raja dan bangsa-bangsa yang menyerbu Israel sebagaimana disebutkan dalam Yehezkiel 38-39.

3. Tentu saja usaha Setan dan orang jahat itu sia-sia, dan sebaliknya mereka semua binasa dibuang ke dalam lautan api. Inilah eksekusi dari vonis yang sudah ditentukan atas mereka dalam penghakiman kedua yang berlangsung selama masa milenium itu. Hukuman atas mereka itu juga sekaligus menandai pemusnahan dosa dari alam semesta ini untuk selamanya.

Rabu, 26 Desember

JANJI YANG DIGENAPI (Dunia Baru)

Langit dan bumi baru. Setelah masa seribu tahun itu usai, Yohanes Pewahyu kemudian menyaksikan sesuatu perubahan. “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi” (Why. 21:1; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan baru pada ayat ini adalah καινός, kainos, sebuah kata-sifat yang mengandung dua makna: bentuk dan substansi. Dalam bahasa Grika (bahasa asli PB), ada kata lain di samping kainos yang juga berarti baru. Kita menemukannya dalam Matius 9:17, “Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya” (huruf miring ditambahkan). Di sini, predikat baru yang digunakan untuk anggur itu menggunakan kata νέος, neos, kata-sifat yang berarti dilahirkan baru seperti untuk “bayi”; sedangkan predikat baru untuk kantong menggunakan kata kainos seperti pada ayat pertama Wahyu pasal 21 itu.

Langit dan bumi yang baru seperti disaksikan oleh Yohanes Pewahyu itu adalah kegenapan dari janji Allah seperti dicatat dalam kitab Yesaya, “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati” (Yes. 65:17; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan baru pada ayat ini adalah חָדָשׁ, khädäsh, sebuah kata-sifat yang mengandung makna sesuatu hal yang baru atau masih segar seperti juga digunakan antara lain dalam Kel. 1:8 (raja baru) dan Im. 23:16 (sajian yang baru). Janji tersebut telah disebutkan juga oleh rasul Petrus, rekan Yohanes Pewahyu sebagai sesama murid Yesus, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran” (2Ptr. 3:13; huruf miring ditambahkan). Di sini rasul Petrus juga menggunakan kata-sifat kainos untuk menerangkan langit dan bumi baru yang dimaksudkannya.

“Kata [kainos] yang diterjemahkan sebagai ‘baru’ dalam Wahyu 21:1 menekankan pada sesuatu yang baru dalam bentuk atau kualitas gantinya baru seperti dalam suatu peristiwa ‘baru’ dalam hal waktu. Maksud Allah dalam kisah Penciptaan pada kitab Kejadian belum terealisasikan sampai janji untuk menjadikan segala sesuatu baru itu digenapi pada dunia yang baru” [alinea kedua: dua kalimat pertama].

Kota Yerusalem Baru. Selain langit dan bumi yang baru, Yohanes Pewahyu juga bertutur tentang kota Yerusalem Baru sebagaimana yang disaksikannya. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (Why. 21:2; huruf miring ditambahkan). Inilah kota yang digambarkan oleh rasul Paulus sebagai “perempuan yang merdeka” (Gal. 4:26), dan oleh penulis kitab Ibrani disebut sebagai “kota Allah yang hidup” (Ibr. 12:22). Kota Yerusalem Baru ini telah dinubuatkan dengan uraian secara fisik yang sangat spektakuler dalam kitab Yehezkiel 40-48, dan dalam bahasa Ibrani disebut יְהוָה שָׁמָּה, Jehovah-shammah, yaitu “kota di mana Allah ada.” Sebagian komentator Alkitab menganggap kota Yerusalem Baru sebagai sesuatu yang bersifat simbolik, melambangkan umat tebusan, dan karenanya itu tidak akan turun ke dunia ini secara fisik. Tetapi kesaksian Yohanes Pewahyu adalah jelas perihal Yerusalem Baru kota Allah itu: εἶδον καταβαίνουσαν ἐκ τοῦ οὐρανοῦ, ἀπὸ τοῦ θεοῦ, eidon katabainousan ek tou ouranou apo tou Theou, “aku melihat turun dari surga, dari Allah.”

“Satu hal sudah jelas: kita sedang membicarakan tentang satu tempat dalam arti kata sesungguhnya dan bersifat fisik. Paham kekafiran tentang hal yang bersifat fisik itu buruk dan hal hal yang bersifat roh itu baik, sekali lagi ditolak oleh Kitabsuci…Sebaliknya, penggambaran dalam kitab Wahyu, betapapun sulit untuk dipahami bagi kita (yang hanya tahu tentang satu dunia yang telah berdosa), adalah kenyataan abadi yang menunggu kita. Betapa suatu pengharapan yang kita miliki, khususnya jika dibandingkan dengan mereka yang percaya bahwa kematian adalah akhir dari segalanya” [alinea terakhir: dua kalimat pertama, dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Kita sedang berada dalam perjalanan pulang. Dia yang sangat mengasihi kita sehingga mau mati bagi kita sudah membangun sebuah kota bagi kita. Yerusalem Baru adalah tempat perhentian kita. Tidak akan ada lagi kesusahan di kota Allah. Tiada tangisan dukacita, tiada tangisan kepiluan karena pengharapan yang hancur dan kasih sayang yang terkubur akan pernah lagi terdengar. Segera pakaian kemalangan akan digantikan dengan jubah pesta perkawinan. Segera kita akan menyaksikan pemahkotaan Raja kita. Orang-orang yang kehidupannya telah terbungkus dengan Kristus, mereka yang di dunia ini sudah memenangkan peperangan iman dengan baik, akan bersinar dengan kemuliaan Sang Penebus di dalam kerajaan Allah” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 9, hlm. 287).

Apa yang kita pelajari tentang penglihatan Yohanes Pewahyu seusai masa seribu tahun itu?

1. Sebagaimana disaksikan oleh Yohanes Pewahyu, setelah masa seribu tahun berakhir langit dan bumi yang baru akan muncul. Hal ini dipahami sebagai rekondisi atau “peremajaan” dari langit dan bumi yang lama dan tercemar dosa sehingga menjadi langit dan bumi yang diperbarui, dipulihkan kepada keadaannya seperti pada waktu baru diciptakan.

2. Selain langit dan bumi, Pewahyu juga menyaksikan Yerusalem Baru yang turun dari surga ke bumi yang telah diperbarui ini. Inilah kota suci yang di dalamnya terdapat umat tebusan Allah yang sudah diselamatkan, orang-orang yang telah diampuni dosa-dosanya melalui kematian penebusan Kristus dan yang sudah dibela kasusnya dalam penghakiman pemeriksaan.

3. Langit dan bumi yang baru, beserta kota Yerusalem Baru, merupakan ujud dari janji Allah kepada umat-Nya dari segala zaman. Jadi, kita tidak akan tinggal selamanya di surga, tetapi kita akan kembali mendiami planet Bumi ini setelah diperbarui dan dipulihkan kondisinya.

Kamis, 27 Desember

KEKEKALAN DAN KEBARUAN (Kehidupan Dalam Dunia Baru)

Allah bersama kita. Hidup di dunia yang baru, tanpa kematian dan kesusahan-kesusahan seperti yang kita saksikan dan alami sekarang, itu saja sudah merupakan suatu kehidupan yang tak terbayangkan betapa menyenangkannya. Tapi seakan itu belum cukup, kesenangan kita masih dilengkapi lagi dengan kehadiran Allah sendiri di tengah-tengah kita. Suatu kehidupan yang aman tenteram, tidak ada sama sekali tanda-tanda kesusahan dalam bentuk apapun, hidup bahagia untuk selama-lamanya, dan yang paling penting lagi adalah hidup bersama Allah kita. Kesempurnaan hidup seperti apa lagi yang anda harapkan?

Yohanes Pewahyu mencatat, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu'” (Why. 21:3, 4; huruf miring ditambahkan). Frase kemah Allah di sini (Grika: σκηνὴ τοῦ θεοῦ, skēnē tou theou) merujuk kepada Kemah Suci (Ibrani: מִקְדָּשׁ, miqdash) yang dibangun Musa sewaktu memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang belantara sebagaimana tercatat dalam kitab Keluaran dan Bilangan di Perjanjian Lama. Sebagaimana Kemah Suci di padang gurun itu melambangkan kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel, demikianlah Kemah Allah itu menandakan kehadiran Allah di tengah umat-Nya di dunia baru nanti. Anak kalimat “Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” pada ayat di atas serupa dengan perkataan Allah kepada Musa, “supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8); dan anak kalimat “mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka” pada ayat di atas paralel dengan kata-kata Allah sendiri, “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka” (Kel. 29:45).

“Mungkin tidak ada penglihatan lain yang menakjubkan di seluruh Alkitab yang sebanding dengan apa yang Yohanes Pewahyu uraikan di sini; bumi yang baru bukan hanya akan menjadi rumah bagi makhluk manusia tapi juga bagi Allah. Sang Pencipta alam semesta yang suci dan tak terpahami itu akan memberkati komunitas yang ditebus itu dengan kehadiran-Nya. Tentu saja Allah akan selamanya berbeda dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tapi di dunia baru keterpisahan antara Allah dengan manusia yang diakibatkan oleh dosa itu akan dihapus” [alinea pertama].

Manusia, makhluk yang mulia. Dalam ketakjubannya yang mencengangkan, raja Daud bersenandung: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm. 8:5, 6). Fakta bahwa manusia telah diciptakan “menurut gambar [citra] Allah” (Kej. 1:27) menunjukkan bahwa memang sejak asalnya kita manusia adalah makhluk ciptaan paling mulia yang menghuni Bumi ini, tetapi dosa telah membuat kita “kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Tetapi nanti, pada kedatangan Yesus kedua kali, kita yang percaya kepada-Nya dan tetap setia mempertahankan iman kita itu akan dipulihkan kepada keadaan semula seperti ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Dengan keadaan seperti itu kita akan diangkat ke surga untuk tinggal selama milenium, dan kemudian kembali ke Bumi yang kelak akan dibarui ini untuk hidup selama-lamanya bersama-sama dengan Dia.

“Dengan berpikir: bahwa Allah yang menciptakan segalanya itu bukan saja mati bagi kita tetapi akan tinggal dengan kita untuk selamanya! Pada titik tertentu, oleh karena keterbatasan dari pikiran kita yang berdosa, kita harus berhenti berusaha memikirkan mengenai hal ini secara rasional, dan sebaliknya sambil tersungkur di atas lutut kita dan memuji Dia yang bukan saja telah menciptakan kita tetapi juga menebus kita dan sekarang berjanji untuk hidup bersama kita sepanjang masa kekekalan” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Dan tahun-tahun kekekalan itu, sambil bergulir akan membawa penyataan-penyataan yang semakin kaya dan kian mulia mengenai Allah dan Kristus. Sementara pengetahuan bertambah, demikian pula kasih, penghormatan, dan kebahagiaan itu meningkat. Semakin manusia belajar tentang Allah, akan bertambah besar pemujaan mereka pada tabiat-Nya…Di sana setiap kemampuan akan dikembangkan, setiap kesanggupan ditingkatkan. Usaha-usaha yang terbesar akan terlaksana, cita-cita yang paling agung akan tercapai, ambisi-ambisi yang paling tinggi terwujud. Dan masih akan ada puncak-puncak baru untuk dilintasi, keajaiban-keajaiban baru untuk dikagumi, kebenaran-kebenaran baru untuk dipahami, obyek-obyek yang segar menuntut keberdayaan tubuh dan pikiran dan jiwa” (Ellen G. White, The Adventist Home, hlm. 548, 549).

Apa yang kita pelajari tentang kehidupan di dunia baru?

1. Di dunia baru kita akan hidup untuk selama-lamanya, tanpa kesusahan apalagi penyakit dan kematian. Tetapi bukan itu saja, di dunia baru kita bahkan akan tinggal bersama-sama dengan Allah. Hal itu sudah pernah ditunjukan-Nya kepada sekelompok manusia, yaitu di tengah bangsa Israel di padang gurun maupun di negeri Kanaan, meski tidak berlangsung seterusnya akibat pengkhianatan mereka.

2. Sejak semula Allah ingin tinggal bersama manusia yang diciptakan-Nya, seperti yang pernah dialami oleh Adam dan Hawa di rumah alami mereka, Taman Eden. Sangat disayangkan bahwa masa bahagia itu tidak berlangsung lama dan mereka terusir akibat dosa. Di dunia baru kita akan menikmati suasana Taman Eden itu kembali, kali ini untuk selama-lamanya.

3. Kehidupan di dunia baru akan semakin menyenangkan oleh karena di sana kita bakal mempelajari banyak hal mengenai Allah sendiri dan tentang Kristus yang telah menyelamatkan kita, khususnya perihal kasih-Nya yang sekarang ini tak terjangkau oleh pikiran kita yang sudah merosot akibat dosa. Di dunia baru kita akan memiliki daya berpikir yang sempurna kembali untuk memahami segala misteri keilahian.

Jumat, 28 Desember

PENUTUP

Rumah masa depan. Hampir setiap orang sekarang ini memikirkan tentang rumah masa depannya. Banyak orang yang telah mengorbankan waktu dan tenaga bahkan kesehatannya, bekerja membanting-tulang demi memastikan bahwa mereka kelak akan hidup tenteram di masa tua serta memiliki tempat tinggal senyaman mungkin. Tidak sedikit orang yang meskipun telah berjuang sekuat tenaga namun cita-cita untuk memiliki rumah masa depan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Ironisnya lagi, baik mereka yang telah berusaha keras dan berhasil, maupun orang-orang yang sudah berjuang keras tapi tidak berhasil, pada akhirnya hanya memperoleh “rumah masa depan” yang sama: sepetak tanah sempit yang ditandai batu nisan!

Bagi orang-orang percaya, umat tebusan Allah, rumah masa depan kita telah tersedia di kota Yerusalem Baru yang arsiteknya adalah Allah sendiri–dan ke kota itulah tujuan kita. Kehidupan kita di dunia ini sekarang adalah peluang yang diberikan Allah untuk dimanfaatkan demi memastikan satu tempat tinggal di kota Allah tersebut, karena itu janganlah sia-siakan kesempatan ini. Sebab kalau bukan untuk memperoleh rumah di surga itu, alangkah sialnya dan sia-sianya hidup anda, betapapun kehidupan anda saat ini bergelimang harta kekayaan. Sesungguhnya, apa yang disediakan Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia adalah sesuatu “yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1Kor. 2:9).

“Suatu ketakutan bahwa warisan yang akan datang itu tampak terlalu materialistik telah menuntun banyak orang untuk memandang dari segi rohani kebenaran-kebenaran yang membawa kita untuk melihatnya sebagai tempat tinggal kita. Kristus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Dia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka di rumah Bapa. Mereka yang menerima pengajaran-pengajaran firman Allah sama sekali tidak akan bersikap masa bodoh mengenai tempat tinggal semawi…” [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

“Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin” (Why. 22:20, 21).

(Oleh Loddy Lintong/California, 26 Desember 2012)

Leave a Reply