Negeri Belanda dan Skandinavia

April 14, 2013 - Ellen G. White

NEGERI BELANDA DAN SKANDINAVIA – 13
Di Negeri Belanda, kelaliman kepausan lekas menimbulkan protes. Tujuh ratus tahun sebelum zaman Luther, paus Roma, tanpa takut, dituduh oleh dua orang uskup, yang telah pernah dikirim sebagai duta ke Roma. Mereka telah mengetahui tabiat sebenarnya “Sri Paus” : Allah “telah menjadikan gereja permaisuri-Nya, isterinya, untuk menjadi pemelihara yang agung selama-lamanya bagi keluarganya, dengan maskawin yang tidak akan luntur atau binasa, dan memberikan kepadanya mahkota kekal dan tongkat kekuasaan, . . . yang kesemuanya memberikan keuntungan kepadamu seperti pencuri yang tercegat. Engkau menempatkan dirimu di kaabah seperti Allah; gantinya sebagai gembala engkau telah menjadi serigala kepada domba-domba ; . . . engkau membuat kami percaya bahwa engkau adalah uskup tertinggi, tetapi engkau bahkan bertindak bagaikan seorang lalim. . . . Yang sebenarnya engkau harus menjadi hamba kepada hamba-hamba seperti yang engkau katakan, namun engkau telah berusaha menjadi tuan segala tuan . . . . Engkau membuat perintah-perintah Allah jatuh kepada kehinaan . . . . Roh Kudus adalah pembangun semua gereja sejauh dunia masih terbentang. . . . Kota Allah kita, dimana kita menjadi warganya, meliputi seluruh alam semesta. Kota Allah itu lebih besar dari kota yang disebut nabi-nabi kudus Babylon yang berpura-pura bersifat ilahi, mengangkat dirinya ke langit dan menyombongkan diri bahwa hikmatnya kekal. Dan akhirnya, walaupun tanpa alasan, ia mengaku bahwa ia tidak pernah salah, atau tidak akan pernah salah.” — Brandt, “History of the Reformation in and about the Low Countries,” b. 1, p. 6.
Yang lain bangkit menggemakan protes ini dari abad ke abad. Dan guru-guru pada zaman itu, yang menjelajahi berbagai negeri dan dikenal dengan berbagai nama, memenghidupkan tabiat misionaris Vaudois, dan menyebarkan kemana-mana pengetahuan Injil itu, memasuki Negeri Belanda. Ajaran (doktrin) mereka menyebar dengan cepat. Alkitab Waldenses mereka terjemahkan dalam bentuk ayat-ayat kedalam bahasa Belanda. Mereka menyatakan “bahwa ada keuntungan besar di dalamnya. Tak ada lelucon, tidak ada cerita dongeng, tidak ada hal yang sepele, tidak ada kekurangan, tetapi semuanya adalah perkataan kebenaran. Memang benar, di sana sini ada kerak-kerak yang mengeras, tetapi sumsum dan manisnya apa yang baik dan suci dengan mudah bisa ditemukan di dalamnya.” — Brandt, b. 1, p. 14. Demikianlah dituliskan oleh sahabat-sahabat iman zaman kuno pada abad kedua belas.
Sekarang mulailah penganiayaan Romawi. Tetapi di tengah-tengah tumpukan kayu bakar dan penganiayaan, orang-orang percaya terus bertambah. Mereka dengan teguh menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya pedoman agama yang tidak bisa salah, dan bahwa “tak seorangpun harus dipaksa untuk mempercayainya, tetapi harus dimenangkan dengan khotbah.” — Martyn, Vol. II, p. 87.
Ajaran Luther mendapat tanah subur di Negeri Belanda. Orang-orang yang sungguh-sungguh dan setia bangkit untuk mengkhotbahkan Injil. Dari salah satu propinsi Negeri Belanda muncullah Menno Simons. Seorang Katolik Roma yang terdidik, dan yang diurapi kepada keimamatan, ia sama sekali masih buta mengenai Alkitab, dan ia tidak akan membacanya, karena takut tertipu menjadi bida’ah. Pada waktu keragu-raguan mengenai doktrin penjelmaan roti dan air anggur menjadi daging dan darah Kristus (“transubstantiation”) mengganggu pikirannya, ia menganggapnya sebagai godaan Setan, dan oleh doa dan pengakuan ia berusaha membebaskan diri dari gangguan itu, tetapi sia-sia. Dengan hidup boros ia berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya yang mengganggunya. Namun tanpa hasil apa-apa. Setelah beberapa waktu lamanya ia dituntun untuk mempelajari buku Perjanjian Baru. Dan buku ini bersama-sama dengan tulisan-tulisan Luther membuat ia menerima iman yang diperbaharui. Segera sesudah itu ia menyaksikan di kampung yang berdekatan pemenggalan kepala seseorang yang dihukum mati oleh karena dibaptiskan ulang. Hal ini menuntunnya mempelajari mengenai baptisan bayi. Ia sama sekali tidak menemukan bukti-bukti di dalam Alkitab mengenai hal ini, tetapi menemukan bahwa pertobatan dan imanlah sebagai syarat untuk menerima baptisan.
Menno mengundurkan diri dari Gereja Roma, dan membaktikan hidupnya kepada pengajaran kebenaran yang telah diterimanya. Suatu golongan orang-orang fanatik telah bangkit, baik di Negeri Belanda maupun di Jerman, yang menganjurkan ajaran-ajaran yang tidak masuk akal dan yang menghasut, melanggar hukum dan kesopanan, dan menimbulkan kekerasan dan pemberontakan serta huruhara. Menno melihat akibat yang mengerikan yang diakibatkan oleh gerakan ini, dan dengan keras ia menentang ajaran-ajaran yang salah dan rencana-rencana liar golongan fanatik itu. Namun, banyak orang yang telah disesatkan oleh kaum fanatik ini, telah meninggalkan ajaran-ajaran sesatnya. Masih ada tinggal beberapa keturunan orang Kristen purba, buah-buah dari pengajaran Waldenses. Menno bekerja dengan bersemangat dan berhasil di antara golongan-golongan ini. Selama dua puluh lima tahun ia bersama isterinya dan anak-anaknya mengembara menanggung kesulitan besar, pengucilan, dan sering yang membahayakan nyawanya. Ia menjelajahi Negeri Belanda dan Jerman bagian Utara, terutama bekerja di antara golongan-golongan rakyat biasa, namun berusaha menyebar-luaskan pengaruhnya. Secara alamiah ia pandai berbicara. Meskipun mempunyai pendidikan yang terbatas, ia mempunyai integritas yang tidak goyang, mempunyai kerendahan hati dan tabiat yang lemah lembut, dan seorang yang tulus dan saleh yang sungguh-sungguh, sehingga nyata dalam hidupnya semua jaran-ajaran yang diajarkannya, dan membawa rasa keyakinan orang orang banyak. Pengikut-pengikutnya tersebar, berpencar dimana-mana, dan ditindas. Mereka sangat menderita oleh karena disamakan dengan pengikut-pengikut Munster yang fanatik. Tetapi banyak sekali yang bertobat atas usahanya.
Doktrin yang dibaharui itu lebih banyak diterima di Negeri Belanda daripada dimanapun. Di beberapa negara pengikut-pengikutnya mengalami penganiayaan yang mengerikan. Di Jerman, Charles V telah melarang Pembaharuan, dan dengan gembira membunuh pengikut-pengikutnya di tiang pembakaran. Tetapi para pangeran berdiri sebagai penghalang melawan kelalimannya. Di Negeri Belanda kuasanya lebih besar lagi, dan dekrit penganiayaan dikeluarkan susul menyusul dengan cepat. Membaca Alkitab, mendengarkannya atau mengajarkannya, atau bahkan berbicara mengenai itu akan mendatangkan hukuman mati di atas tiang pembakaran. Berdoa kepada Allah di tempat tersembunyi, tidak menyembah patung, atau menyanyikan nyanyian Mazmur juga bisa dihukum mati. Bahkan mereka yang menyangkal kesalahannya juga dipersalahkan. Jika laki-laki, dibunuh dengan pedang, dan jika wanita, dikubur hidup-hidup. Ribuan orang binasa dibawah pemerintahan Charles dan Philip II.
Pada suatu waktu seluruh anggota suatu keluarga dibawa kehadapan pemeriksa, dituduh menghindari upacara misa, dan berbakti di rumah. Pada pemeriksaan ini, yang biasanya dilakukan dengan rahasia, anak yang paling muda menjawab, “Kami bertelut berdoa, kiranya Allah menerangi pikiran kami dan mengampuni dosa-dosa kami. Kami berdoa bagi pemerintah kami, kiranya pemerintahannya makmur, sejahtera dan hidupnya berbahagia. Kami berdoa bagi hakim-hakim kami, semoga Allah melindunginya.” — Wylie, b. 18, ch. 6. Sebagian dari para hakim yang mendengarnya sangat terkesan, namun sang ayah dan seorang dari anak-anaknya dihukum mati di tiang pembakaran.
Kemarahan para penganiaya diimbangi iman para syuhada. Bukan hanya para lelaki, tetapi jga perempuan cantik yang lemah lembut dan wanita-wanita muda menunjukkan keberanian yang pantang mundur. “Para isteri berdiri di samping tiang pembakaran suaminya, dan sementara suami menahan api yang membakarnya, mereka membisikkan kata-kata penghiburan, atau menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memberi semangat.” “Wanita-wanita muda memasuki lubang kubur mereka seolah-olah mereka memasuki kamar mereka pada waktu mau tidur malam, atau pergi ke tempat pembakaran dengan memakai pakaian terbagusnya seolah-olah mereka mau pergi ke pesta pernikahannya.” — Wylie, b. 18, ch. 6.
Seperti pada waktu kekafiran berusaha membinasakan Injil, darah orang-orang Kristen itu menjadi benih kabar Injil.” — Lihat Tertullian’s “Apology,” par. 50. Penganiayaan menambah jumlah orang-orang yang bersaksi bagi kebenaran. Tahun demi tahun raja semakin gusar oleh tekad orang-orang yang tak terdundukkan itu, lalu berusaha meningkatkan usaha-usaha kejamnya, tetapi hasilnya sia-sia. Di bawah William dari Orange, akhirnya Revolusi membawa kebebasan beribadat kepada Allah bagi Negeri Belanda.
Di pegunungan Piedmont, di dataran Perancis dan pantai-pantai Negeri Belanda, kemajuan pekabaran Injil ditandai dengan pertumpahan-pertumpahan darah murid-murid Injil. Tetapi di negeri-negeri di sebelah Utara, Injil itu masuk dengan aman. Mahasiswa-mahasiswa dari Wittenberg, yang kembali ke kampung halamannya, membawa iman yang dibaharui itu ke Skandinavia. Penerbitan tulisan-tulisan Luther juga menyebarkan terang kebenaran itu. Orang-orang Utara yang sederhana dan keras berbalik dari kebejatan, kemegahan dan ketakhyulan Roma, dan menyambut kemurnian, kesederhanaan dan kebenaran yang memberi kehidupan Alkitab.
Tausen, “Sang Pembaharu Denmark,” adalah anak seorang petani. Sejak kecil ia sudah menunjukkan intelektual yang keras. Ia haus akan pendidikan, tetapi keinginannya ini tidak bisa terpenuhi oleh karena keadaan orang tuanya. Kemudian ia memasuki sebuah biara. Di sini, kemurnian hidupnya bersama-sama dengan kemajuannya dan kesetiaannya menjadikannya disenangi oleh atasannya. Ujian menunjukkan bahwa ia mempunyai bakat yang menjanjikan pelayanan yang baik bagi gereja di masa yang akan datang. Diputuskan untuk menyekolahkannya di salah satu universitas di Jerman atau di Nederland. Pemuda ini diizinkan memilih sendiri sekolah yang ia sukai dengan satu syarat, bahwa ia tidak boleh pergi ke Wittenberg. Sarjana-sarjana gereja tidak boleh dipengaruhi dengan racun bida’ah. Demikianlah kata para biarawan itu.
Tausen pergi ke Cologne, yang kemudian, sebagaimana sekarang, menjadi salah satu benteng pertahanan Romanisme. Di sini ia segera muak dengan ilmu mistik para pengajar. Kira-kira pada waktu yang sama ia mendapat tulisan-tulisan Luther. Ia membacanya dengan kagum dan dengan senang. Dan dengan kerinduan yang besar ingin menikmati pengajaran pribadi Pembaharu itu. Tetapi dengan berbuat demikian ia harus siap menanggung risiko melawan atasan biaranya, dan kehilangan dukungannya. Ia segera membuat keputusan. Dan tidak lama sesudah itu ia mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Wittenberg.
Sekembalinya ke Denmark, kembali ia pergi ke biaranya. Tak seorangpun yang menduga bahwa ia adalah pengikut Lutheranisme. Ia tidak membukakan rahasianya, tetapi berusaha menuntun orang-orang kepada iman yang lebih murni dan kehidupan yang lebih suci tanpa menimbulkan prasangka buruk teman-temannya. Ia membuka Alkitab, dan menjelaskan artinya yang sebenarnya; dan akhirnya mengajarkan Kristus kepada mereka sebagai kebenaran bagi orang-orang berdosa, dan satu-satunya harapan keselamatan. Kepala biara sangat marah kepadanya. Ia telah mengharapkannya sebagai seorang pembela Roma yang berani. Ia segera dipindahkan dari biaranya ke biara yang lain, dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan dengan pengawasan ketat.
Para pengawalnya yang baru ketakutan karena beberapa biarawan segera menyatakan mereka bertobat kepada Protestantisme. Melalui terali-terali ruang tahanannya Tausen berkomunikasi kepada teman-temannya mengenai pengetahuan kebenaran.
Seandainya para pater Denmark cakap dalam perencanaan gereja mengenai penanganan para bida’ah, maka suara Tausen tidak akan pernah lagi kedengaran.Tetapi sebagai gantinya mengirim dia kedalam penjara di bawah tanah, mereka mengeluarkannya dari biara. Sekarang mereka menjadi tidak berdaya. Dekrit kerajaan baru saja dikeluarkan, yang memberi perlindungan kepada guru-guru doktrin baru. Tausen mulai berkhotbah. Gereja-gereja terbuka baginya, dan orang-orangpun berduyun-duyun datang mendengarkannya. Yang lain juga mengkhotbahkan firman Allah. Alkitab Perjanjian Baru yang diterjemahkan kedalam bahasa Denmark, diedarkan secara luas. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengikut paus untuk menghancurkan pekerjaan itu, justru meluaskannya. Tidak berapa lama kemudian Denmark menyatakan menerima iman yang dibaharui itu.
Juga di Swedia, para pemuda yang telah meminum air dari sumur Wittenberg membawa air hidup itu ke negeri mereka dan memberikannya kepada orang-orang di negerinya. Dua orang pemimpin Pembaharuan Swedia, Olaf dan Laurentius Petri, anak-anak seorang pandai besi dari Orebro, belajar dari Luther dan Melanchthon. Dan kebenaran yang mereka telah plajari, mereka ajarkan dengan rajin. Sebagaimana Pembaharu besar itu, Olaf membangunkan orang-orang oleh semangatnya dan kemahirannya berbicara, sementara Lurentius, seperti Melanchthon, adalah orang yang terpelajar, penuh pikiran dan tenang. Keduanya adalah orang-orang saleh yang giat, yang mempunyai pencapaian teologi yang tinggi, dan yang mempunyai keberanian yang sangat, dalam memajukan kebenaran. Oposisi para pengikut paus tidak berkurang. Imam-imam Katolik menggerakkan orang-orang bodoh dan penganut ketakhyulan. Olaf Petri sering diserang oleh orang banyak, dan dalam beberapa kejadian hampir-hampir tidak dapat menyelamatkan jiwanya. Akan tetapi para Pembaharu itu sebenarnya disukai dan dilindungi oleh raja.
Dibawah kekuasaan Gereja Roma, rakyat tenggelam dalam kemiskinan, dan dihempas oleh penindasan. Mereka buta akan Alkitab, dan agama mereka hanya sekedar tanda-tanda dan upacara-upacara yang tidak membawa terang ke dalam pikiran. Mereka kembali kepada kepercayaan ketakhyulan dan praktek-praktek kekafiran nenek moyang mereka. Bangsa ini terbagi kedalam dua bagian yang bersaing satu sma lain. Dan permusuhan mereka itu menambah penderitaan semua orang. Raja bermaksud untuk mengadakan pembaharuan di dalam negara dan gereja, dan ia menyambut para pembantu yang berkemampuan ini dalam melawan Roma.
Di hadapan raja dan orang-orang terkemuka Swedia, Olaf Petri dengan kemampuan besar mempertahnkan ajaran-ajaran iman yang diperbaharui itu melawan jago-jago Romawi. Ia menyatakan bahwa pengajaran para Pater (Padri) diterima hanya kalau itu sesuai dengan Alkitab. Bahwa doktrin-doktrin penting mengenai iman disajikan di dalam Alkitab dengan cara yang jelas dan sederhana, sehingga semua orang bisa mengerti. Kristus berkata, “Ajaranku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.” ( Yohanes 7:16). Dan Rasul Paulus menyatakan bahwa kalau ia memberitakan Injil yang lain selain dari yang ia sudah terima, terkutuklah dia (Galatia 1:8). “Jadi, bagaimana sekarang,” kata Pembaharu itu, “orang-orang lain harus menganggap menampilkan dogma dengan sesuka hati, dan memberlakukannya sebagai sesuatu yang perlu bagi keselamatan?” — Wylie, b. 10, ch. 4. Ia menunjukkan bahwa dekrit gereja tidak berwenang jikalau bertentangan dengan perinta-perintah Allah, dan mempertahankan prinsip-prinsip Protestan yang utama, bahwa “hanya Alkitab saja satu-satunya” peraturan dan ukuran iman dan perbuatan.
Kontes ini, walaupun dilakukan dengan keadaan yang samar-samar, menunjukkan kepada kita “jenis orang-orang yang membentuk lapisan dan barisan prajurit para Pembaharu. Mereka tidak buta huruf, tidak pendukung sesuatu sekte, dan bukan penentang-penentang yang suka ribut — jauh dari itu. Mereka adalah orang-orang yang telah mempelajari firman Allah, dan mengetahui benar bagaimana menggunakan senjata yang diberikan oleh Alkitab. Dalam hal pengetahuan, mereka telah mendahului zamannya. Bilamana kita memusatkan perhatian kita kepada pusat-pusat mengagumkan seperti Wittenberg dan Zurich, dan kepada nama-nama seperti Luther dan Melanchthon, Zwingle dan Oecolampadius, kita cenderung mengetahui bahwa mereka-mereka inilah pemimpin pergerakan itu, dan sewajarnyalah kita mengharapkan adanya kuasa luar biasa dan kemahiran yang luas pada mereka. Tetapi tidak demikian dengan bawahan mereka. Baiklah kita memandang kepada gedung kesenian yang tidak terkenal di Swedia, dengan nama-nama sederhana Olaf dan Laurentius Petri — mulai dari guru-guru sampai kepada murid-murid — apakah yang kita dapati? . . . . Para sarjana dan pakar-pakar teologia. Orang-orang yang telah menguasai seluruh sistem kebenaran Injil, dan yang telah memperoleh kemenangan dengan mudah atas orang-orang yang pandai memutar-balikkan argumentasi di sekolah-sekolah dan pemuka-pemuka Roma.” — Wylie, b. 10, ch. 4.
Sebagai akibat dari perdebatan ini, raja Swedia menerima iman Protestan, dan tidak lama kemudian majelis nasional menyatakan dukungannya. Alkitab Perjanjian Baru diterjenahkan ke dalam bahasa Swedia oleh Olaf Petri, dan raja ingin kedua bersaudara itu menerjemahkan seluruh Alkitab. Dengan demikian untuk pertama kalinya rakyat Swedia menerima firman Allah dalam bahasa mereka sendiri. Dewan Perwakilan Rakyat memerintahkan agar diseluruh kerajaan itu para pendeta menerangkan Alkitab, dan agar anak-anak di sekolah-sekolah di ajar untuk membaca Alkitab.
Dengan tetap dan pasti kegelapan kebodohan dan ketakhyulan diusir oleh terang Injil. Bangsa itu mengalami kemajuan dan kebesaran yang belum pernah dialami sebelumnya, setelah dibebaskan dari penindasan Romawi. Swedia menjadi salah satu benteng pertahanan Protestanisme. Seabad kemudian, pada waktu bahaya yang paling sengit, bangsa yang kecil dan lemah ini — satu-satunya di Eropa yang berani memberikan pertolongan — membantu melepaskan Jerman dari Perang Tigapuluh Tahun yang sengit. Tampaknya semua negara Eropa bagian Utara akan kembali berada di bawah kelaliman Roma. Tentara Swedialah yang menyanggupkan Jerman untuk mengalahkan kepausan, untuk memenangkan toleransi bagi kaum Protestan — pengikut-pengikut Calvin maupun Luther — dan mengembalikan kebebasan hati nurani Pembaharuan.

Leave a Reply