Nuklir Perdamaian dan Agama

nu

Dalam politik segala sesuatu mungkin. Bukankah politik dan ekonomi adalah kembar dan filsafat yang berlaku adalah the goal justifies the means? Tujuan menghalalkan segala cara. Minggu ini dunia dikejutkan oleh kesediaan Korea Utara untuk melepaskan Laura Ling dan Euna Lee, dua orang wartawan AS yang ditahan lebih dari 4 bulan karena memasuki wilayah Korut tanpa izin. Mereka dijatuhi hukuman 12 tahun kerja berat. Pada saat yang bersamaan ketegangan semakin meningkat antara AS dengan Korut sehubungan dengan peluncuran rudal nuklir Korut yang dituduh sebagai tindakan provokatif dan dapat mengganggu keamanan wilayah. Di tengah memuncaknya upaya AS untuk semakin mengucilkan Korut, tiba-tiba mantan Presiden AS Bill Clinton muncul di Pyongyang pada hari Senin siang yang lalu, bertemu dan dijamu makan malam oleh Pemimpin Korut Kim Jong-Il. Kurang dari 24 jam kemudian breaking news muncul di media utama dunia memberitahukan bahwa Bill Clinton telah lepas landas dari Pyongyang dengan membawa pulang Ling dan Lee.
Kita terkejut, tetapi berita yang menyenangkan, bukan? Tentu saja. Lalu, kapan perang? Bukankah sudah saling mengancam? Korut sendiri mengatakan akan balik menyerang jika diserang. Banyak pihak melihat tindakan cari gara-gara Korut mempunyai dua tujuan. Pertama, untuk kepentingan politik dalam negeri; meningkatkan kebanggaan nasional bagi rakyat yang terkucilkan dari masyarakat dunia (karena pemerintahannya yang represif dan tertutup). Kedua, untuk mencari perhatian dunia, khususnya AS, agar bersedia bernegosiasi dengan memberikan imbalan (uang), bagi para pemimpinnya. Jika diamati dari ketegangan demi ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia, jarang terjadi perang hanya karena gengsi. Harus ada nilai komersil yang sedang dikejar dan diperjuangkan, dan itu sudah diamarkan oleh 2 Timotius 3:2 bahwa pada hari-hari terakhir manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Secara komersil AS tidak mendapat keuntungan apa-apa dari menyerang Korut; tidak ada yang mau diambil dari Korut. Itu yang harus diingat. Berbeda dengan menguasai Afghanistan atau Irak. Ada minyak di sana dan wilayahnya strategis untuk menguasai wilayah yang menyimpan setengah dari cadangan minyak dunia. Lagi pula isu nuklir Korut dapat menjadi alasan AS untuk tetap menempatkan tentaranya di Korea Selatan dan Jepang, untuk menangkal Rusia dan Cina.
Akan halnya Iran, hal ini lebih menarik bagi AS ketimbang Korut. Karena adanya faktor minyak (baca: uang), yang dikuasai oleh negara-negara yang mayoritas beragama Islam (baca: agama), industri persenjataan (baca: uang), dan Israel (baca: agama) yang dimanfaatkan dan saling memanfaatkan (antara AS dan Israel). Para pemimpin negara selalu mengatakan bahwa pertikaian Israel dan Palestina bukan masalah agama. Tetapi kenyataannya bahwa sering kesepakatan yang telah dirancang sulit direalisasikan karena adanya elemen-elemen radikal di kedua belah pihak yang melihat persoalan tersebut dari sudut agama.
Bagaimana tidak, karena masing-masing merujuk kepada sumber yang berbeda. Sebagai contoh, Israel tidak bisa melepaskan dirinya dari pemikiran bahwa tanah Israel sekarang (bahkan sebagian wilayah Yordania) adalah diberikan oleh Tuhan ketika mereka keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan. Sementara itu Yerusalem adalah kota yang didirikan oleh raja Daud, yang namanya diabadikan sebagai nama bendera Israel (the star of David). Itu sebabnya Israel tidak keberatan melepaskan Semenanjung Sinai yang direbutnya pada Perang Enam Hari tahun 1967 kepada Mesir karena itu tidak termasuk dalam wilayah yang diberikan kepada bani Israel.
Perdamaian Hanya Di Atas Kertas
Terbunuhnya Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Yitzhak Rabin merupakan bukti yang sangat jelas bahwa persoalan Israel dan Dunia Arab dianggap sebagai masalah agama bagi kelompok tertentu. Anwar Sadat dibunuh dalam satu parade militer di Kairo oleh tentaranya sendiri, seorang jihad Islam, pada tahun 1981 karena dia menandatangani Perjanjian Camp David dengan Israel pada tahun 1978. Yitzhak Rabin dibunuh pada tahun 1995 oleh seorang aktivis sayap kanan Israel yang tidak menyetujui Perjanjian Oslo yang ditandatanganinya bersama Yasser Arafat pada tahun 1993. Yang ironis adalah bahwa kedua tokoh perdamaian tersebut, Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin, adalah penerima hadiah Nobel Perdamaian atas usahanya. Tetapi tidak semua yang baik akan disetujui oleh semua orang, karena memang ada kekuatan di belakang layar yang tidak menginginkan perdamaian. Bagi mereka perdamaian berarti kehilangan rejeki dan uang.
Yang membuat ini semua menjadi menarik adalah karena the invicible hands (kekuatan besar di belakang layar) yang mempunyai jaringan global dan mengontrol hampir semua kegiatan di dunia ini tidak mau juga kalau terjadi perang besar. Karena tujuan mereka bukan untuk menguasai dunia yang hancur dan porak poranda. Kalau terjadi Perang Dunia III, akan banyak kerugian dan harta yang hilang, sebagian adalah milik dari kekuatan-kekuatan besar di belakang layar tersebut. Yang perlu dilakukan adalah menciptakan berbagai ketegangan dan perang yang menimbulkan perpecahan dan kebingungan sehingga bisnis tetap jalan. Mereka menggunakan teori “confuse and conquer” yang merupakan perpanjangan dari teori “devide et impera” ala Belanda dulu. Ciptakan kebingungan, orang saling tuduh dan mengancam, lalu mereka datang untuk mempersatukan. Dengan demikian kalau sudah hampir ada persatuan, maka harus ada yang dibunuh sehingga semuanya hanya bagus di atas kertas. Dengan demikian juga, jangan pernah berpikir bahwa upaya-upaya besar perdamaian yang sedang dilaksanakan saat ini akan berujung pada perdamaian. Selain bertentangan dengan amaran Alkitab berarti kita juga tidak belajar dari pengalaman. Matius 24:7 berkata: “Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.”
Hah, kalau begitu bagaimana dengan batas waktu yang diberikan oleh Presiden AS Barack Obama kepada Iran bahwa mereka harus merespon usul Obama mengenai penghentian program nuklirnya bulan September ini? Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, kalaupun terjadi. Itu hanyalah bagian dari “sandiwara tujuh babak” dunia menjelang akhir sejarahnya. Yang harus diingat adalah bahwa banyak dari para pelaku sejarah dan pemimpin dunia yang terlibat dalam berbagai peristiwa belum tentu menyadari atau tahu persis bahwa dirinya masuk dalam perangkap. Jarang seorang bekerja sendiri. Sekalipun dia seorang diktator biasanya masih ada orang-orang dekatnya yang membantu, yang sangat mungkin sebagian dari mereka merupakan bagian dari konspirasi besar yang ingin menguasai dunia. Mereka ada di mana-mana dan akan mengusahakan untuk membentuk satu dunia baru dengan satu pemerintahan (one world government). Kita umumnya sudah tahu siapa di belakang semua ini. Yang perlu diingat adalah bahwa manusia hanya bisa mengusahakan tetapi jika Tuhan tidak berkenan maka tidak ada yang manusia dapat dilakukan. Sejarah Alkitab menunjukkan banyak raja-raja besar dunia merencanakan sesuatu tetapi gagal karena Tuhan mencegah.
Sebagai umat Tuhan apa yang harus kita cermati dan lakukan? Kita perlu mengamati perkembangan dunia sehingga dapat mempersiapkan diri juga. Ini bagian dari prinsip ora et labora, berjaga dan berdoa. Kita perlu mengikuti perkembangan yang terjadi di dalam keempat aspek kehidupan manusia yang akan menggenapi nubuatan seperti:
 Badani
Perang yang berkecamuk dan kehancuran ekonomi tidak terlepas dari kecintaan manusia akan uang. (Matius 24:7; 2Timotius 3:2) Kerakusan manusia telah menyebabkan terganggunya keseimbangan alam yang menimbulkan berjenis-jenis penyakit baru yang menyebar dengan cepat dan mengancam kesehatan dan keselamatan manusia.

 Pikiran
Banyak ilmuwan tidak lagi mempercayai dan memerlukan Tuhan dan lebih mengandalkan kepintarannya. Merasa pintar bukan hanya dalam ilmu pengetahuan alam, tetapi dalam hal ilmu pengetahuan agama sehingga akhirnya timbul guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu. (2Petrus 2:1-2).

 Rohani
Moral di akhir zaman ini sudah sama dengan zaman Sodom dan Gomorah. San Fransisco yang dikenal sebagai ibukota gay sedunia mencatat sekitar 10% penduduknya adalah gay. (Kejadian 19:1-29 & Yudah ay.7).

 Sosial
Jurang antara miskin dan kaya semakin melebar dan ketidakpedulian akan sesama semakin tinggi. Sementara PBB mengeluarkan data-data mengenai angka kemiskinan yang terus bertambah di dunia, majalah seperti Forbes sibuk menelusuri dan menerbitkan daftar orang-orang terkaya di dunia yang uangnya semakin besar. Tidak heran kalau Roh Nubuat mengamarkan bahwa salah satu kesulitan besar di akhir zaman akan datang dari pemogokan buruh yang merasa diperlakukan tidak adil. Waktunya akan segera datang bilamana kekuasaan serikat-serikat buruh akan sangat menekan – 2SM 141 (1904).
C
ontoh di atas hanyalah sebagian kecil dari berbagai bukti yang telah kita lihat di sekitar kita yang menunjukkan bahwa dunia sudah akan segera berakhir. Yang perlu kita tanyakan kepada diri kita adalah apakah kita peduli dengan tanda-tanda itu dan apakah kita telah melakukan persiapan untuk menghadapinya? Ada banyak kesulitan dan bahaya yang mengancam yang tidak bisa kita hadapi sendiri. Tetapi kita mendapat janji dan kepastian akan satu perlindungan dari Tuhan. Mungkin saja ada musuh yang merencanakan sesuatu bagi umat Tuhan, seperti pada zaman Ester, tetapi jika umat-Nya bersatu dan hanya mengandalkan Tuhan, bukan diri sendiri, maka Tuhan akan bertindak. Mazmur 37:5 – Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindak.

-BONAR PANJAITAN

sumber: wao 7 agus 09

Leave a Reply