Amaran Tentang Babel dan Pertobatan

December 19, 2013 - Loddy Lintong

Sabat Petang, 7 Desember
PENDAHULUAN

Mengumandangkan Injil. Ayat inti pelajaran pekan ini mengetengahkan seruan malaikat pertama kepada semua penduduk Bumi untuk bertobat, sementara di tangannya memegang “Injil yang kekal.” Apa itu Injil? Dalam pengertian sempit Injil adalah terjemahan dari kata Grika, εὐαγγέλιον, euaggelion, yang arti harfiahnya ialah “kabar baik” (terdapat 76 kali dalam PB), dari kata dasar ἄγγελος, aggelos, yang berarti “utusan” atau juga “malaikat.” Dari akar kata yang sama pula muncul kata bentukan εὐαγγελίζω, euaggelizō, artinya “membawa kabar baik,” yang kemudian secara transliteral diterjemahkan menjadi “evangelis” (penginjil).

Dalam pengertian luas kita menemukan maknanya dalam tulisan rasul Paulus ini: “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1Kor. 15:1-4; huruf miring ditambahkan).

Jadi, “Injil” adalah “kabar baik,” dan kabar baik itu ialah bahwa Yesus Kristus sudah mati karena dosa-dosa manusia, dan dengan demikian oleh menerima Injil itu kita bisa diselamatkan. Injil mempunyai kuasa untuk menyelamatkan orang-orang yang “menerima dan berpegang teguh padanya.” Injil ini disebut “Injil Yesus Kristus” (Mrk. 1:1; 1Kor. 9:12; Rm. 1:9) dan “Injil kasih karunia Allah” (Kis. 20:24), yaitu “Injil Kerajaan Allah” (Mat. 4:23) atau “Injil Kerajaan Surga” (Mat. 9:35), yang juga disebut “Injil damai sejahtera” (Ef. 6:15) dan “Injil yang kekal” (Why. 14:6).

Bagi manusia, injil itu adalah kabar baik; bagi Allah, injil adalah pengorbanan. Di Taman Eden, Allah sendiri yang mencanangkan pengorbanan itu melalui suatu pertarungan permusuhan. Ketika nenek moyang manusia yang pertama, Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa akibat tertipu oleh ular yang merupakan personifikasi Setan, Allah berfirman kepada ular itu: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Nantinya permusuhan itu adalah antara Yesus Kristus (“keturunan” Hawa) dengan Iblis (“keturunan” ular), yang akan dimenangkan oleh Kristus oleh “meremukkan kepala” Iblis yang hanya bisa “meremukkan tumit” Kristus melalui penyaliban. Pernyataan Allah itu disebut “injil pertama” (proto-evangelium), dan injil yang sama itu akan terus berkumandang sebagaimana Yohanes saksikan berada di tangan malaikat pertama.

“Pekabaran malaikat yang pertama itu sesungguhnya adalah ‘injil kekal’ oleh karena itulah kebenaran yang sama yang para rasul khotbahkan ketika mereka mengatakan bahwa orang banyak harus ‘meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (Kis. 14:15; bandingkan dengan Kis. 4:24)” [alinea kedua: kalimat pertama].

Minggu, 8 Desember
PENGLIHATAN YOHANES DAN DANIEL (Masa Kekecewaan)

Malaikat yang lain. Kalangan penyelidik Alkitab memiliki pandangan berbeda dalam mengidentifikasikan “seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api” (Why. 10:1) ini. Sebagian mengatakan bahwa malaikat perkasa itu adalah Mikhael yang sosoknya mirip dengan gambaran dalam kitab Daniel (Dan. 12:1, 6-7), namun sebagian lagi menyebutnya sebagai Yesus Kristus sendiri berdasarkan uraian Yohanes (Why. 1:15-16). Memang deskripsi tentang “malaikat yang kuat” dalam kitab Daniel dan kitab Wahyu itu memiliki kesamaan, tetapi kita condong menganggap malaikat itu adalah Yesus Kristus.

Hal yang menarik di sini ialah tentang suara dari ketujuh guruh itu yang tidak boleh ditulis oleh Yohanes sekalipun sang rasul tentu mengerti apa yang didengarnya sehingga ingin mencatatnya. Kepadanya diperintahkan, “Materaikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!” (ay. 4). Ada dua hal yang tidak tersingkap sehubungan dengan kemunculan malaikat lain ini: pertama, isi gulungan kitab kecil yang ada di tangannya, walaupun itu sudah terbuka; kedua, perkataan yang diucapkannya, walaupun Yohanes mendengarnya. Apakah ada persamaan atau hubungan antara isi “kitab kecil” dan “suara ketujuh guruh” itu, kita tidak mengetahuinya. Tetapi pada prinsipnya, perintah kepada Yohanes agar tidak mengungkapkan apa yang didengarnya itu serupa dengan perintah kepada Daniel untuk membiarkan tersembunyi apa yang dilihatnya tentang nubuatan masa 1260 tahun dan kesudahannya, sampai peristiwa itu terjadi (Dan. 12:9).

“Kitab Daniel haruslah dimateraikan sampai akhir zaman. Kemudian itu akan dibuka sehingga banyak orang akan beroleh pengetahuan dari padanya (Dan. 12:4-9). Bilamana periode 1260 tahun yang dinubuatkan itu berakhir, tibalah waktunya membuka kitab itu untuk selanjutnya diketahui. Hal ini dilambangkan oleh kitab yang terbuka di tangan malaikat dalam Wahyu 10. Sejak saat itu nubuatan-nubuatan Daniel pasti dimengerti dengan lebih baik” [alinea kedua].

Pengalaman pahit. Dalam Wahyu pasal 8 dan 9 kita membaca tentang tujuh malaikat yang masing-masing memegang sangkakala (terompet), dan ketika satu demi satu sangkakala itu ditiup maka terjadilah malapetaka di atas Bumi secara berurutan hingga pada sangkakala keenam. Memasuki pasal 10, gantinya menulis tentang malaikat yang ketujuh meniupkan sangkakalanya dan bencana yang menyusul, Yohanes mengemukakan perihal “seorang malaikat lain” sehingga kemunculannya adalah peristiwa selingan sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Malaikat yang lain itu kemudian menandaskan, “Tidak akan ada penundaan lagi! Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi” (Why. 10:6-7). Jadi jelas, peristiwa yang dinubuatkan itu akan terjadi sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, dan malaikat lain itu muncul untuk menarik perhatian atas pengumumannya perihal apa yang bakal terjadi bersamaan dengan bunyi sangkakala ketujuh oleh malaikat yang ketujuh atau terakhir itu.

Sehabis malaikat yang lain itu berkata demikian, suara dari surga kembali terdengar kepada Yohanes Pewahyu untuk mengambil gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat tersebut (ay. 8). Sambil memberikan gulungan kitab kepada sang rasul, malaikat itu berpesan: “Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu” (ay. 9). Dan Yohanes melakukannya persis seperti apa yang disuruh, memakan kitab itu yang memang di mulut “terasa manis seperti madu” tetapi kemudian perutnya “menjadi pahit rasanya” (ay. 10). Kita teringat akan pengalaman yang sama dialami oleh nabi Yehezkiel yang disuruh agar “memakan gulungan kitab” serupa itu (Yeh. 3:1-3). Tentu saja maksudnya “memakan” gulungan kitab tersebut ialah mencerna dan memahami pekabaran yang terdapat di dalamnya. Dalam kasus Yehezkiel, pekabaran itu harus disampaikan kepada bangsa Israel (Yeh. 3:4); dalam kasus Yohanes Pewahyu, pekabaran itu harus diberitakan “kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja” (Why. 10:11).

“Kita percaya, uraian nubuatan ini telah digenapi dalam pergerakan Miller yang muncul dalam paruh pertama abad kesembilan belas di tengah minat besar di seluruh dunia pada peristiwa-peristiwa zaman akhir. Hal itu juga menggambarkan kekecewaan yang pahit dari mereka yang memahami bahwa nubuatan-nubuatan jangka panjang dalam kitab Daniel merujuk kepada zaman mereka, tetapi tidak seperti apa yang mereka pikirkan semula. Nubuatan ‘2300 petang dan pagi’ tidak memberi tanda kedatangan Kristus tetapi gantinya adalah dimulainya tahap penghakiman agung dari Daniel 7” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kekecewaan yang disebutkan dalam Wahyu 10?
1. Kemunculan “malaikat yang lain” di antara sangkakala keenam dan ketujuh, menandakan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya atau sebelum malapetaka terakhir atas bumi ini. Kehadiran malaikat yang lain itu untuk menarik perhatian manusia kepada bunyi sangkakala ketujuh.
2. Pemateraian perkataan “ketujuh guruh” yang didengar oleh Yohanes itu adalah pertanda bahwa pekabaran yang didengarnya itu bukan untuk zamannya, tetapi untuk manusia yang hidup pada zaman akhir. Satu-satunya petunjuk ialah bahwa pekabaran (nubuatan) itu manis untuk diketahui tapi pahit untuk dialami.
3. Kita memahami nubuatan dalam Wahyu 10 ini sebagai peristiwa kekecewaan tahun 1844 tatkala para pengikut William Miller, yaitu umat Kristen yang percaya bahwa kedatangan Yesus Kristus kedua kali akan terjadi pada waktu itu, mengalami kekecewaan besar akibat melesetnya perhitungan mereka.

Senin, 9 Desember
AMARAN UNTUK SEMUA (Takutlah Akan Allah)

Kenapa takut? Setelah bertutur tentang kelompok 144.000, yaitu “orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi” dan yang “ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu” (Why. 14:4), Yohanes Pewahyu kemudian beralih kepada penuturan tentang tiga malaikat yang muncul susul-menyusul di langit. Malaikat yang pertama, sembari memegang “Injil yang kekal” untuk diberitakan kepada semua penduduk bumi (ay. 6), berseru dengan nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (ay. 7). Kata asli untuk takut di sini adalah φοβέω, phobeō, sebuah kata kerja yang berarti “ketakutan sehingga membuat seseorang lari terbirit-birit” atau “takut yang menimbulkan rasa hormat dan takzim.” Dalam konteks ini adalah rasa takut yang kedua oleh sebab berkaitan dengan “saat penghakiman.”

Apa hubungannya antara “rasa takut” (=rasa hormat/takzim) kepada Allah itu dengan “Injil yang kekal” di tangan malaikat pertama itu? Seperti telah kita pelajari, injil ialah kabar baik bahwa Yesus Kristus sudah datang ke dunia ini dan mati untuk manusia berdosa, dan dengan demikian sudah “memperdamaikan” kita manusia dengan Allah. Tetapi belum semua orang mau diperdamaikan dengan Allah oleh mengakui kematian penebusan Kristus, dan sebagian orang yang sudah menerima Kristus pun masih melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang mengingkari pengakuan mereka akan Yesus. Kita dapat menyimpulkan bahwa Injil abadi yang berada di tangan malaikat pertama ketika mengamarkan dunia akan penghakiman Allah yang segera tiba itu menunjukkan bahwa sekalipun penghakiman pasti datang namun selama “injil” itu masih berlaku maka pengampunan masih tersedia, baik bagi orang-orang yang belum menerima Yesus maupun yang sudah menerima-Nya, asalkan mereka mau bertobat. Bertobat artinya berubah perilaku (dari kemurtadan kepada kekudusan), atau berubah sikap (dari penolakan dan ketidakpercayaan kepada pengakuan dan keyakinan akan Kristus).

“Mereka yang takut akan Allah adalah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya (Why. 11:18). Takut akan Allah berarti menghormati Dia (Why. 14:7), memuji Dia (Why. 19:5), menaati Dia (Why. 14:12), dan memuliakan nama-Nya (Why. 15:4). Takut akan Allah dalam pekanbaran malaikat pertama adalah juga mengakui Allah sebagai Hakim dan sebagai Pencipta, oleh sebab itu menyerukan kita untuk menyembah Dia” [alinea kesatu: tiga kalimat terakhir].

“Pintu kasihan” adalah kemurahan Allah. Sementara kasih Allah itu tidak mengenal batas, kemurahan hati-Nya ada batasnya. Kemurahan Allah itu–kita juga mengenalnya sebagai “pintu kasihan”–adalah kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Ide tentang “pintu kasihan” (door of mercy) tampaknya didasarkan pada amaran Kristus, “Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang” (Luk. 13:25). Pemakaian istilah ini juga berdasarkan ide dari cerita lima gadis yang bodoh dalam Matius 25:7-13 dan kisah bahtera Nuh dalam Kejadian 7. Intinya, pintu kasihan berkaitan dengan masa kemurahan Allah atas manusia.

“Namun demikian, selama kemurahan masih tersedia, Allah selalu ingin mendorong orang yang hilang itu kepada pertobatan, dan takut akan Allah dapat menjadi pendorong untuk mulai mencari Dia (baca Why. 11:13). Walaupun pada akhirnya suatu hubungan yang menyelamatkan dengan Allah itu didasarkan atas kasih, terkadang manusia memerlukan suatu takaran rasa takut yang tepat untuk membuka mata mereka. Dan kalau yang dibutuhkan untuk menarik perhatian mereka adalah sebuah amaran, mengapa tidak?” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Pekabaran itu sendiri memancarkan terang soal waktu bilamana pergerakan ini akan terjadi. Telah dinyatakan bahwa itu merupakan bagian dari ‘injil yang kekal’ dan itu mengumumkan pembukaan penghakiman. Kabar keselamatan sudah dikhotbahkan sepanjang zaman, tapi pekabaran ini adalah bagian dari injil yang dapat dikumandangkan hanya pada hari-hari terakhir, sebab hanya dengan demikian benarlah bahwa saat penghakiman sudah tiba” (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 356).

Apa yang kita pelajari tentang pekabaran malaikat pertama dalam Wahyu 14?
1. “Takut akan Allah” adalah pekabaran malaikat yang pertama itu. Rasa takut kepada Allah ini harus didorong oleh rasa hormat dan ketakjuban yang dimanifestasikan dengan memuliakan Dia. Rasa takut seperti inilah yang dikehendaki Allah dari umat-Nya.
2. Rasa takut akan Allah ini juga berkaitan dengan penghakiman yang akan tiba. Amaran untuk “takut akan Allah” yang dikaitkan dengan penghakiman bukan hal baru yang muncul di zaman PB, tapi sudah ada sejak PL. Jauh sebelumnya raja Salomo telah mengingatkan manusia tentang hal ini (Pkh. 12:13-14).
3. Amaran untuk bertobat selalu berdampingan dengan Injil, kalau tidak ada Injil maka pertobatan tidak relevan lagi. Sebab pertobatan masih berguna selama kemurahan Allah masih ada, atau selama “pintu kasihan” masih terbuka. Masalahnya, seseorang tidak pernah tahu kapan “pintu kasihan” secara pribadi bagi dirinya tertutup.

Selasa, 10 Desember
KETIKA SETAN MARAH (Kemarahan Bangsa-bangsa)

Penghakiman pemeriksaan. Pada pelajaran terdahulu kita sudah belajar mengenai penghakiman pra-kedatangan Yesus Kristus kedua kali (lihat Pelajaran IX; 30 November), yaitu proses yang berlangsung di surga untuk memeriksa catatan hidup umat Tuhan, disebut juga dengan istilah “penghakiman pemeriksaan” (investigative judgment). Penghakiman surgawi ini didasarkan pada tulisan Daniel pasal 7, berlangsung sesudah masa nubuatan “2300 petang dan pagi” (Dan. 8:14), yang dalam penghitungan interpretatif kita dimulai pada tahun 1844. Kita menemukan nubuatan tentang penghakiman ini dalam kitab Wahyu, yaitu dalam amaran yang diserukan oleh malaikat pertama, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya…” (Why. 14:7).

Penghakiman pra-kedatangan kedua, seperti telah kita pelajari sebelumnya, berlangsung sejak berakhirnya masa nubuatan 2300 hari (tahun 1844) sampai kedatangan Yesus kedua kali. Penghakiman (atau “seleksi”) ini diperlukan untuk menentukan siapa saja orang-orang yang akan diselamatkan pada kedatangan Yesus kedua kali, mulai dari zaman Adam dan Hawa hingga saat kedatangan-Nya, yaitu mereka yang sudah mati maupun yang masih hidup untuk diubahkan dalam sekejap mata dari keadaan yang fana kepada keadaan yang baka (1Kor. 15:51-52). Jadi, pada kedatangan Yesus kedua kali nanti tidak akan ada lagi penghakiman, melainkan waktu itu adalah saat untuk eksekusi keputusan dari penghakiman pemeriksaan tersebut.

Dengan kata lain, zaman di mana anda dan saya hidup sekarang adalah masa penghakiman pemeriksaan itu, dan sementara penghakiman itu berlangsung seruan pertobatan terus bergema sampai “pintu kasihan” ditutup secara umum ataupun secara perorangan. Dalam terang inilah maka saya yakin bahwa setiap orang yang sudah meninggal dunia berarti nasibnya telah ditentukan, selamat ataupun tidak, dan berarti pintu kasihan bagi dirinya pribadi sudah ditutup. “Sementara seruan terakhir dalam Wahyu 14:6-12 itu dikumandangkan, pintu kasihan masih terbuka oleh sebab manusia masih sedang dipanggil untuk berpaling dari Babel dan menyembah Allah yang benar” [alinea kedua].

Alasan kemarahan Setan. Setan tahu tentang penghakiman pemeriksaan yang tengah berlangsung di surga, dan dia tentu juga tahu bahwa banyak sekali orang berdosa yang akan diselamatkan sebagai hasil dari pelayanan Kristus selaku Pembela dalam penghakiman itu, atau sebagai hasil pelayanan keimamatan Kristus selaku Imam Besar Agung pada “Hari Pendamaian Eskatologis” seperti yang kita sudah pelajari. Setan sama sekali tidak suka kalau ada seorang pun manusia berdosa yang diselamatkan, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keputusan Allah Yang Mahakuasa. Sebagai pelampiasannya maka Setan membalaskan amarahnya kepada para pengikut Kristus yang akan diselamatkan itu dengan segala cara (Why. 12:17), termasuk menggerakkan bangsa-bangsa (Why. 11:18) dan terutama dengan menggunakan kuasa “patung binatang” itu (Why. 13:5-7).

Tetapi Allah tidak membiarkan kesewenang-wenangan Setan dan orang jahat itu tanpa pembalasan. Sementara Allah “mengizinkan” perbuatan keji itu berlaku pada umat-Nya, sebagaimana Allah mengizinkan Setan menyengsarakan Ayub untuk menguji kesetiaan hamba-Nya itu, Allah juga merancang suatu tindakan ganjaran terhadap orang jahat menjelang kedatangan Yesus kedua kali. Ganjaran itu baru merupakan rasa pendahuluan dari hukuman pamungkas yang akan dilaksanakan sesudah masa seribu tahun berdasarkan keputusan “penghakiman hukuman” (punishment judgment).

“Wahyu 11:17-18 memberikan ikhtisar singkat perihal penghakiman Allah. Itu dimulai di surga dan diteruskan di bumi ketika Allah menghancurkan kuasa-kuasa jahat yang merusak umat manusia (Why. 19:2). Murka Allah berpangkal di Bait Suci surgawi dan dicurahkan dalam tujuh malapetaka (Wahyu 15-18)” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kemarahan Setan dan bangsa-bangsa atas umat Allah?
1. Sementara Setan menghendaki semua manusia binasa, Allah menginginkan semua orang selamat. Penghakiman pemeriksaan, yang di dalamnya terdapat “Hari Pendamaian” eskatologis, adalah cara Allah dalam memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan selamat berdasarkan kemurahan-Nya.
2. Setan tidak menyukai ide penebusan manusia berdosa sebagai manifestasi dari rencana keselamatan Allah, tapi tentu saja dia tidak dalam posisi untuk setuju atau tidak setuju. Rencana keselamatan adalah ide orisinal ilahi dan hak prerogatif Allah berdasarkan kemahakuasaan-Nya yang mutlak.
3. Kemarahan bangsa-bangsa pada zaman akhir hakikatnya adalah amarah Setan terhadap Yesus yang dilampiaskannya kepada para pengikut Kristus. Setan adalah “aktor intelektual” di balik setiap penganiayaan yang menimpa umat Tuhan dan hamba-hamba Tuhan di mana saja. Setan adalah musuh utama Injil.

Rabu, 11 Desember
PERIBADATAN YANG BENAR (Menyembah Pencipta)

Siapa yang anda sembah? Ambisi Setan untuk disembah terungkap ketika dia mencobai Yesus. Setelah gagal dengan dua usaha sebelumnya, iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi untuk memperlihatkan seluruh kerajaan di dunia ini dengan segala kemegahannya (Mat. 4:8). Lalu dia berkata kepada Yesus, “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku” (ay. 9). Setan mau menggoda Yesus dengan kekuasaan dan harta dunia oleh sebab dia tahu bahwa ketika hidup di dunia Anak Allah itu sedang mengenakan sifat kemanusiaan-Nya, sebab kalau tidak Setan akan terlalu bodoh dan konyol mau menawarkan kepada Penguasa alam semesta itu bumi yang kecil ini sebagai imbalan untuk menyembahnya. Dalam kemanusiaan-Nya Yesus dengan tegas berkata kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (ay. 10).

Pemberontakan Lusifer di surga, yang berakibat dicampakkannya dia ke bumi ini sebagai iblis, berpangkal pada hasratnya untuk disejajarkan dengan Allah dan disembah (Yes. 14:13-14). Pemberontakan yang gagal itu tampaknya tidak menyurutkan ambisi Setan untuk disembah, karena itu dia lalu mendirikan kekuasaannya di dunia ini, berharap bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa akan menjadi rakyat dan pengikutnya. Itulah sebabnya Setan marah ketika ada sebagian manusia berdosa yang mengingkari kekuasannya dan menyembah Allah Pencipta. Dia menipu manusia dan menggunakan “patung” sebagai bonekanya untuk memperoleh penyembahan manusia. Anda dan saya tak dapat menghindari pilihan untuk memutuskan siapa yang anda sembah, penguasa sementara atas dunia ini atau Pencipta dan Pemilik sesungguhnya atas bumi ini.

“Allah memanggil umat manusia untuk menyembah Khalik (Why. 14:7). Mereka yang tidak menyembah ‘patung binatang itu’ berisiko kehilangan hidup mereka yang sementara (Why. 13:15; baca juga Daniel 3), sedangkan mereka yang menyembah patung itu kehilangan hidup yang kekal (Why. 14:9-11)” [alinea kesatu: dua kalimat terakhir].

Peribadatan dan penciptaan. Allah menghendaki umat-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan tekun berdasarkan iman. Yohanes Pewahyu menulis, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus” (Why. 14:12). Versi BIMK menerjemahkan ayat ini begini: “Dalam hal ini umat Allah yang taat kepada perintah-perintah Allah dan setia kepada Yesus, perlu menjadi tabah” (Why. 14:12; huruf miring ditambahkan). Peribadatan yang benar harus berdasarkan perintah Allah (=Hukum Allah), dan harus dijalankan dengan setia dan tabah (=komitmen penuh).

Peribadatan kita tak dapat tidak merupakan pengakuan kita terhadap kuasa yang kita akui, sebab penyembahan tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan. Peribadatan kita juga terkait dengan pengakuan ataupun penolakan kita akan kuasa penciptaan Allah, jika kita menyembah Allah berarti kita mengakui Dia adalah Pencipta alam semesta, dan kalau kita tidak menyembah Allah berarti kita tidak mengakui kuasa penciptaan-Nya. Penyembahan tak dapat dipisahkan dari pengakuan penciptaan, dan mengakui penciptaan Allah berarti menerima Sabat hari ketujuh sebagai hari perhentian dan ibadah. Tidak ada kompromi atau jalan tengah dalam beribadah.

“Bagian kalimat yang menggambarkan Allah telah ‘menjadikan langit dan bumi dan laut’ menyentuh hukum Sabat (Kel. 20:11). Sabat adalah isu pokok dalam pertentangan mengenai perintah Allah. Tidak seperti perintah yang lain, hari peribadatan yang ditetapkan itu cocok untuk menjadi ujian kesetiaan karena hal itu tidak dapat disimpulkan oleh pemikiran yang logis. Kita memelihara hukum itu sebab Allah telah memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu. Penciptaan juga bergandengan tangan dengan penghakiman” [alinea kelima: lima kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang penyembahan dan penciptaan?
1. Sejak semula setan itu “gila kekuasaan” dan “gila hormat” sehingga telah mendorongnya untuk memberontak terhadap Allah di surga. Bahkan kejatuhannya tidak membuat ambisi itu sirna, maka diapun membangun kerajaannya di bumi ini. Setiap ambisi kekuasaan dan kehormatan bersumber dari genetika iblis.
2. Peribadatan adalah sebuah pilihan pribadi, dan pilihan itu berhubungan langsung dengan pengakuan ataupun penolakan terhadap kuasa penciptaan Allah. Peribadatan yang benar berarti mengakui Allah sebagai Pencipta, dan ditunjukkan dengan pemeliharaan hukum Sabat hari ketujuh sesuai perintah Allah.
3. Menyembah Allah merupakan komitmen yang harus dijalankan dengan setia dan tabah, sebab tantangan terhadap peribadatan kepada Allah sangat besar bahkan terkadang menuntut nyawa. Hanya orang-orang yang bersedia mati demi memelihara Hukum Allah berhak atas pahala hidup kekal (Mat. 10:39; Yoh. 12:25).

Kamis, 12 Desember
PEKABARAN MALAIKAT KETIGA (“Kesabaran” Orang-orang Kudus)

Mengidentifikasi “Babel.” Pekabaran malaikat kedua dan ketiga boleh dikatakan merupakan satu kesatuan, atau satu pekabaran yang dibagi dua. Malaikat kedua mengabarkan tentang keruntuhan “Babel,” dan malaikat ketiga mengamarkan perihal murka Allah yang akan menimpa orang-orang yang menyembah “binatang” dan “patungnya” itu (Why. 14:8-10). Disebut sebagai satu kesatuan pekabaran oleh sebab yang disebut “Babel” oleh malaikat kedua itu adalah yang disebut sebagai “patung” oleh malaikat ketiga. Sekarang, siapa atau apakah Babel itu?

“Dalam kitab Wahyu, si sundal Babel adalah sebuah kekuasaan agama-politik yang menentang Allah dan umat-Nya, dan dengan demikian berupaya untuk mengendalikan dunia. Wahyu 13:15-17 menggambarkan ‘krisis Babel’ ketika kuasa-kuasa binatang dari Wahyu 13 menggabungkan kekuatan untuk menganiaya umat Allah yang sisa. Jadi, Babel adalah lambang dari persekutuan gereja-gereja murtad zaman akhir bersama dengan kekuatan-kekuatan politik dunia yang jahat” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Pekabaran malaikat kedua tentang keruntuhan Babel, “kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya” (Why. 14:8), dan suara dari surga yang menyerukan kepada umat Allah agar keluar dari Babel supaya tidak ikut “mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya jangan turut ditimpa oleh malapetaka-malapetakanya” (Why. 18:4), sesungguhnya merupakan pekabaran ulangan dari apa yang pernah disampaikan oleh nabi Yeremia. Nabi itu menyerukan: “Larilah dari tengah-tengah Babel, hendaklah setiap orang menyelamatkan nyawanya, supaya kamu jangan tertumpas karena kesalahannya! Sebab inilah waktu pembalasan bagi Tuhan; Ia membayar ganjaran kepadanya. Babel tadinya seperti piala emas di tangan Tuhan yang memabukkan seluruh bumi. Bangsa-bangsa minum dari anggurnya, itulah sebabnya bangsa-bangsa menjadi gila. Tiba-tiba Babel jatuh dan pecah, ratapilah dia!” (Yer. 51:6-8).

Babel moderen. Sementara Babel dalam kitab Daniel pasal 2 dan 7 merujuk kepada sebuah kerajaan Neo-Babylon yang berkuasa pada tahun 626-539 SM, “Babel” dalam kitab Wahyu pasal 14, 17 dan 18 merujuk kepada sebuah sistem agama dan politik yang secara teritorial kecil tapi hegemoni politiknya sampai ke seluruh dunia. “Babel” dari kitab Wahyu inilah yang dilambangkan oleh sebuah “tanduk kecil” yang muncul di kepala binatang keempat dalam kitab Daniel pasal 7, yang kerap disebut “Babel moderen” karena kemunculannya baru pada tahun 508 dan mendapat pengakuan politik pada tahun 538 (Lihat pelajaran pekan lalu: Senin, 2 Desember). “Babel moderen” ini tidak lain dari Kepausan atau Vatikan yang menyebut dirinya sebagai “Takhta Suci” yang telah mengubah Sepuluh Perintah Allah, khususnya Hukum Keempat tentang Sabat hari ketujuh sebagai hari perhentian dan perbaktian menjadi hari Minggu yang adalah hari pertama dalam pekan.

Amaran malaikat ketiga itu mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam peribadatan palsu yang diperkenalkan oleh “Babel moderen” dan dengan demikian mereka “menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya” (Why. 14:9), ialah supaya orang banyak tidak akan “minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murkanya” (ay. 10). Sebaliknya, agar orang banyak mencontoh pada “ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus” (ay. 12).

“Seperti yang kita lihat kemarin, Wahyu 14:12 dengan jelas menggambarkan tentang kesetiaan umat Allah yang sisa. ‘Ketabahan’ atau ‘kesabaran’ orang-orang kudus tidak banyak menerangkan soal daya tahan pasif dari aktivitas yang bersifat permusuhan, tapi sebaliknya ketekunan menantikan Kristus. Umat percaya tidak hanya menaati perintah Allah, tapi juga mewartakannya kepada dunia” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang “kesabaran” orang-orang kudus dan “Babel moderen”?
1. Babel dalam kitab Daniel adalah sebuah kekuatan militer dan politik, sedangkan “Babel” dalam kitab Wahyu adalah sebuah kekuatan agama dan politik. Persamaannya adalah pada sifat keduanya yang sombong, perbedaannya ialah pada sistem. Babel pertama sebagai kerajaan dengan wilayah kekuasaan yang luas, “Babel” kedua sebagai badan agama dengan pengaruh yang luas.
2. Amaran untuk “keluar dari Babel” (Gereja Katolik Roma) karena sistem agama dari “Babel moderen” ini adalah palsu, bukan melakukan penyembahan yang benar tetapi melawan Hukum Allah. Sistem peribadatan yang mengingkari perintah Allah ini merupakan “persundalan rohani” yang dibenci Allah.
3. “Ketekunan orang-orang kudus” dari Wahyu 14:12 bukan berbicara tentang ketabahan umat Allah dalam menghadapi penganiayaan oleh “Babel moderen” yang adalah anti-Kristus, melainkan lebih kepada ketekunan dalam iman dan dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus.

Jumat, 13 Desember
PENUTUP

Kebenaran Sabat. Isu keagamaan yang terpenting bakal mencuat menjelang kedatangan Yesus kedua kali, yang akan dilontarkan oleh “Babel moderen” dengan dukungan kekuatan politik dunia, ialah soal Hukum Keempat. Manusia akan terbagi ke dalam dua kelompok besar karena masalah hari perbaktian, yaitu antara Sabat hari ketujuh atau “Sabat” hari pertama, Sabtu atau Minggu. Konspirasi politik dan agama akan terjadi untuk memaksakan pemeliharaan hari Minggu sebagai “hari Sabat” kepada setiap orang, sehingga mau tak mau anda dan saya mesti menentukan pilihan. Memilih hari Minggu sebagai “Sabat” akan menyelamatkan nyawa di dunia ini tetapi kehilangan hidup kekal, sedangkan memilih hari Sabtu sebagai Sabat yang benar mungkin akan menyebabkan kehilangan nyawa di dunia ini tapi pasti beroleh hidup kekal di akhirat.

“Pemberitaan pekabaran malaikat ketiga menuntut penyajian tentang kebenaran Hari Sabat. Kebenaran ini, dengan hal-hal lain yang termasuk dalam pekabaran tersebut, harus dikumandangkan; tetapi pusat perhatian yang besar, yakni Yesus Kristus, tidak boleh ditinggalkan. Di salib Kristus itulah rahmat dan kebenaran bertemu, serta keadilan dan damai sejahtera bercium-ciuman” [alinea kedua: kalimat kedua hingga keempat].

Sebagai umat Tuhan yang menjunjung tinggi Hukum Allah, kita harus berani menyuarakan kebenaran Sabat hari ketujuh sebagai hari perhentian dan perbaktian. Nama “Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh” itu sendiri sudah mengusung dua pilar doktrin alkitabiah: Sabat (Hari Ketujuh) dan kedatangan Yesus Kristus kedua kali (Advent). Sementara kita menjunjung tinggi kebenaran Sabat hari ketujuh, kita juga mengumandangkan pekabaran tentang kedatangan Yesus kedua kali yang sudah di ambang pintu. Sebagai sebuah gereja, missi kita adalah mengamarkan dunia tentang Pekabaran Tiga Malaikat dalam kitab Wahyu sebagai dasar pekabaran kita yang pada intinya adalah amaran pertobatan sehubungan dengan kemurahan Allah selagi pintu kasihan masih terbuka.

“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Rm. 2:4).

Leave a Reply