“PELAJARAN DARI KISAH YUNUS?”

Nama “Yunus” berarti “merpati”. Seharusnya, nama tersebut menggambarkan karakter orang yang tulus dan setia. Akan tetapi, ternyata nama tersebut bertolak belakang dengan karakter Yunus yang sebenarnya, yaitu seorang yang menyimpan kebencian dan berlaku tidak setia terhadap perintah Tuhan. Kitab ini sangat sedikit menyoroti tentang Niniwe, kota tempat Tuhan mengutus Yunus. Sebaliknya, dapat dikatakan bahwa kitab ini justru lebih banyak menyoroti ketidaktaatan nabi Allah dan kesabaran Allah kepada nabi-Nya.
Niniwe adalah ibu kota Asyur. Letaknya di timur laut Mesopotamia (sekarang Irak) di sungai Tigris. Nahum 2:10-3:4 menggambarkan kekejaman orang-orang Niniwe. Yafo adalah sebuah pelabuhan yang ramai, yang terletak di Laut Tengah. Tarsis (Spanyol) terletak di arah berlawanan dengan Niniwe. Yunus melayani pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II. Pada waktu itu, kerajaan Israel adalah kerajaan yang kuat dan siap menghadapi serbuan tentara Asyur yang menjadi musuh besar mereka. Kondisi politik seperti ini membuat Yunus sulit untuk mengerti mengapa Allah berusaha menyatakan kasih-Nya kepada Niniwe.

Adapun tujuan penulisan kitab ini adalah:
(1) untuk menunjukkan kepada Israel dan bangsa-bangsa lainnya betapa besarnya dan luasnya kasih sayang Allah yang bertindak menyelamatkan melalui pemberitaan tentang pertobatan;
(2) Untuk menekankan kuasa universal Allah atas perseorangan dan atas segenap bangsa.
(3) Untuk menggambarkan kegagalan bangsa Israel yang seharusnya menjadi berkat bagi bangsa lain dalam konteks panggilan misionari yang seharusnya mereka ingat. (Kejadian 12:1-3; Yesaya 42:6-7; Yesaya 49:6).

Dalam Perjanjian Baru (Matius 12:39-41), Tuhan Yesus menyamakan dirinya dengan Yunus. Tuhan Yesus bersabda, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus.”

Ayat Bacaan : Yunus 1:1-17
Kisah tentang Nabi Yunus merupakan salah satu cerita yang mungkin sering kita baca dan dengar. Sejak kanak-kanak saat kita di sekolah minggu sampai kita beranjak dewasa bahkan tua kita sudah berulang kali mendengarnya.Namun demikian isi Alkitab yang kita baca atau dengar tersebut pasti selalu memberikan sesuatu yang baru karena ketika kita sungguh-sungguh membaca atau mendengarkannya maka Roh Kudus akan memberikan inspirasi dan pewahyuan yang baru pada setiap kita. Oleh karena itu bergaulah dengan Alkitab melalui perenungan FirmanNya setiap hari agar hidup kita semakin berubah lebih baik lagi.

Beberapa Hal yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Yunus ini antara lain…

Jangan Mengingkari Janji Judul perikop dari ayat bacaan (yang di berikan Lembaga Alkitab Indonesia) bertuliskan “Yunus Mengingkari Panggilan Tuhan”. Yunus ingkar akan janjinya dengan ia tidak mentaati perintah Tuhan yang menyuruh ia pergi ke Niniwe (Yun 1:1-2) untuk mengingatkan kejahatan orang-orang Niniwe. Dalam bahasa aslinya kata Yunus berati Merpati (dove) gambaran perdamaian dan kesetiaan namun justru Yunus berlaku tidak setia dengan mengingkari janji panggilannya sebagai abdi Allah akibatnya Tuhan murka kepadanya.

 Tuhan setia dan tidak akan ingkar terhadap janji-Nya tetapi tidak terhadap orangnya, yaitu terhadap orang-orang yang tidak setia dan suka ingkar janji. Karena itu hendaklah engkau setia sampai mati (Why 2:10).
 Hati-hati terhadap janji, lebih baik tidak usah berjanji daripada tidak dapat menepatinya.
 Karena itu tepati janji kita, untuk tetap mengasihi Dia dengan tetap setia terhadap pelayanan yang Tuhan sudah percayakan melalui pemimpin.

Jangan Lari dari Tuhan Tuhan memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe untuk mengingatkan kejahatan orang-orang di sana tetapi Yunus malah pergi ke Tarsis ia ingin Tuhan langsung menghukum saja orang-orang Niniwe yang jahat itu, gak usah di peringatkan lagi. Kebencianya terhadap orang-orang Niniwe membuat Yunus lari dari Tuhan (Yun 1:3-4), menjauh dari hadapan Tuhan.

 Manusia tidak bisa lari dari Tuhan karena Tuhan maha hadir (Mzm 139:7-12)
 Kita akan rugi dan membayar mahal jika coba lari dari Tuhan
 Jangan lari dari tugas dan tanggung jawab pelayanan hanya karena tidak suka terhadap pelayanan yang ada atau tidak suka terhadap seseorang.
 Tuhan murka terhadap orang yang lari dari tanggung jawab (Yun 1:4).

Jangan tertidur! Sungguh aneh.. dalam keadaan terjadi angin ribut dan gelombang besar bahkan badai besar tersebut hampir menenggelamkan kapal yang ia tumpangi, Yunus malah tertidur dengan nyenyak (Yun 1:6). Saat ini banyak dari orang-orang percaya sama seperti Yunus gelombang dan badai hidup hampir menengelamkan iman kita atau iman keluarga kita, iman saudara-saudara kita tetapi kita tenang-tenang saja. Gelombang aniaya melanda sebagian gereja-gereja di Indonesia kita tidak perduli, masa bodoh, kita tertidur dengan nyenyak.

Saat ini Gereja harus bangun dari tidur, lihat keadaan sekelilingmu dan tunjukan keperdulian terhadap sesama, Jangan bersikap masa bodoh.

 Jangan Berseru & Berdoa hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk saudara seiman yang sedang menglami kesukaran dan aniaya sebagai bentuk keperdulian kita.
 Belajarlah berseru kepada Tuhan bukan kepada manusia (Pendeta/Gembala/Pastor, dll), agar tetap sadar dan connect dengan Tuhan.

Berani Berkorban. Salah satu sikap yang baik dari Yunus adalah berani berkorban, dalam keadaan keos (chaos, kacau) Yunus berani tampil dan mengakui bahwa angin ribut dan badai tersebut terjadi karena dirinya, karena ia lari dari Tuhan dan ia berani mengorbankan dirinya untuk di campakkan ke dalam laut (Yun 1:12) agar laut menjadi reda tidak menyerang mereka lagi.

 Untuk ikut Yesus setiap kita harus berani berkorban dengan menyangkal diri dan pikul salib.
 Jika berkata mau Hidup di dalam KASIH berarti harus juga berani BERKORBAN

Sadar lalu Berseru kepada Tuhan. Setelah di telan ikan besar dan tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya maka sadarlah Yunus atas segala kesalahan yang telah ia perbuat lalu berdoalah Yunus kepada Tuhan (Yun 2:1) dan berjanji akan membayar apa yang pernah ia nazar-kan. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat(Yun 2:10) Masalahpun selesai.

 Yunus berani mengoreksi dirinya dan mengakui kesalahannya, setiap kita seharusnya juga seperti itu dari pada suka mengoreksi dan menyalahkan orang lain lebih baik koreksi diri sendiri.
 Dalam keadaan sulit kita seharusnya berdoa, berseru memanggil nama Yesus jangan panggil yang lain (dukun, renternir, suami, tetangga, dll).
 Selalu ada jalan keluar bagi orang yang mau berseru memanggil nama Tuhan.
 Ketika berseru memanggil nama Tuhan pada akhirnya persoalan pasti selesai.

JANGAN PERNAH LARI DARI TUHAN SEPERTI YUNUS LAKUKAN, KITA AKAN RUGI DAN MEMBAYAR MAHAL JIKA NEKAT MENCOBANYA.

LH dan Bobby Pattiruhu

Leave a Reply