Pemisahan Diri Luther dari Roma

March 17, 2013 - Ellen G. White

Kemenangan Akhir :

Pemisahan Diri Luther dari Roma
Oleh: Ellen G. White

Lanjutan …..
Roma bertekad membinasakan Luther, tetapi Allahlah pelindungnya dan pertahanannya. Doktrin doktrinnya telah terdengar dimana mana, “di gubuk gubuk dan biara biara, . . . di kastel kastel para bangsawan, di universitas universitas, dan di istana raja raja.” Dan para bangsawan telah bangkit untuk mendukung usaha usahanya disegala bidang. Idem, b. 6, ch. 2.
Kira kira pada waktu inilah Luther, setelah membaca tulisan tulisan Huss, mendapati bahwa kebenaran besar pembenaran oleh iman, yang ia sendiri berusaha tinggikan dan ajarkan, telah dianut oleh pembaharu Bohemia. “Kami semua,” kata Luther, “Paul, Augustine dan saya sendiri, telah menjadi pengikut Huss tanpa mengetahuinya!” “Allah pasti akan datang melawat dunia ini,” lanjutnya, “bahwa kebenaran itu telah dikhotbahkan kepada dunia ini seabad yang lalu, dan membakarnya.” Wylie, b. 6, ch. 1.
Dalam suatu himbauan kepada kaisar dan para bangsawan Jerman atas nama Pembaharuan Kekristenan, Luther menuliskan mengenai paus, “Adalah suatu yang mengerikan memandang seseorang yang menamakan dirinya sendiri wakil Kristus, yang memperagakan keindahan dan kemuliaan yang tak seorang kaisarpun dapat menyamainya. Apakah ini yang dikatakan seperti Yesus yang malang atau seperti Petrus yang hina? Dia, mereka katakan adalah Tuan dunia ini! Tetapi Kristus, yang diwakilinya dengan menyombongkannya, telah berkata, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini.’ Dapatkah kekuasaan wakil melebihi kekuasaan atasannya yang diwakilinya?” D’Aubigne, b. 6, ch. 3.
Mengenai beberapa universitas ia menulis, “Aku merasa sangat khawatir bahwa universitas universitas akan menjadi pintu pintu neraka, kecuali mereka dengan rajin menerangkan Alkitab, dan mengukirkannya didalam hati para pemuda. Saya tidak menasihati seorangpun untuk menempatkan anaknya di sekolah yang tidak meninggikan Alkitab. Setiap lembaga pendidikan dimana orang orang tidak diisi dengan firman Allah akan korup.” Idem, b. 6, ch. 3.
Himbauan ini segera beredar ke seluruh Jerman, dan memberikan suatu pengaruh kuat kepada orang orang. Seluruh bangsa itu telah digerakkan, dan orang banyak bangkit berkumpul dibawah panji panji pembaharuan. Penentang penentang Luther, didorong oleh keinginan untuk membalas, memohon kepada paus agar mengambil tindakan terhadapnya. Dengan segera dikeluarkan dekrit yang melarang dan mengharamkan doktrin doktrin Luther. Diberikan waktu enam puluh hari kepada Pembaharu dengan pengikut pengikutnya, sesudah itu, jika mereka tidak menarik kembali pernyataannya, semua mereka akan dikucilkan dari gereja.
Keadaan itu adalah suatu kemelut yang mengerikan bagi Pembaharuan. Selama berabad abad keputusan pengucilan Roma telah menakutkan raja raja yang berkuasa sekalipun. Keputusan seperti itu telah membuat kerajaan yang kuat mengalami bencana dan kehancuran. Mereka yang dijatuhi hukuman pengucilan, pada umumnya dipenuhi ketakutan dan kengerian. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan dengan sesamanya, dan diperlakukan sebagai orang terbuang yang tidak dilindungi oleh undang undang, dan akan diburu untuk dibinasakan. Luther tidak buta terhadap topan yang akan menimpanya, tetapi ia tetap teguh, percaya kepada Kristus yang akan menjadi penopangnya dan perisainya. Dengan iman dan keberanian untuk mati syahid atau menjadi syuhada ia menulis, “Apa yang akan terjadi aku tidak tahu, atau aku tidak perduli untuk mengetahuinya . . . . Biarlah pukulan itu menghantam kemana ia mau menghantam, aku tidak takut. Tidak sehelai daunpun yang jatuh tanpa kehendak Bapa kita. Betapa Dia lebih memeliharakan kita! Adalah suatu perkara enteng untuk mati demi Firman itu, karena Firman yang telah menjadi daging itu Sendiri juga telah mati. Jikalau kita mati bersama Dia, kita akan hidup bersama Dia. Dan melalui apa yang Dia telah lalui sebelum kita, kita akan berada dimana Dia ada dan tinggal bersama Dia selama lamanya.” Idem, b. 6, ch. 9 (3d London ed., Walther, 1840).
Pada waktu surat keputusan paus sampai kepada Luther, ia berkata, “Saya menganggapnya remeh dan menentang itu sebagai palsu, selaku seorang yang beriman kepada Tuhan . . . . Kristus Sendirilah yang dipersalahkan dalam hal ini . . . . Saya bersukacita menanggung derita seperti itu kalau alasan alasannya baik. Saya telah merasakan kebebasan yang besar di dalam hati saya, sebab akhirnya saya tahu bahwa paus adalah antikristus, dan bahwa takhtanya adalah takhta Setan sendiri.” D’Aubigne, b. 6, ch. 9.
Namun, perintah Roma itu bukan tanpa akibat. Untuk memaksakan penurutan kepada perintah itu digunakanlah pedang, penyiksaan dan penjara. Orang orang yang lemah dan yang percaya kepada takhyul gemetar menghadapi dekrit paus itu. Dan sementara banyak yang bersimpati kepada Luther, banyak juga yang merasa hidup itu terlalu mahal untuk dikorbankan demi pembaharuan. Segala sesuatu tampaknya seolah olah menyatakan bahwa pekerjaan Pembaharu itu sudah mau terhenti.
Akan tetapi Luther tetap tidak takut. Roma telah melemparkan lembing kutukannya melawan dia. Dan dunia melihatnya, tanpa ragu ragu bahwa ia akan binasa atau dipaksa menyerah. Tetapi dengan kuasa yang dahsyat ia balik melemparkan lembing kutukan kepada paus, dan dengan terbuka ia menyatakan ketetapan hatinya untuk meninggalkan kepausan selama lamanya. Dihadapan kerumunan para mahasiswa, para doktor dan masyarakat dari segala lapisan Luther membakar surat keputusan paus itu, bersama buku undang undang serta surat surat keputusan dan tulisan tulisan lain yang mendukung kekuasaan kepausan. “Musuh musuhku telah merusakkan maksud maksud kebenaran didalam pikiran orang orang awam dan merusakkan jiwa jiwa mereka dengan membakar buku buku saya, dan sebagai gantinya, saya juga membakar buku buku mereka. Perjuangan yang sungguh sungguh baru saja mulai. Sampai sekarang saya bermain main dengan paus. Saya memulai pekerjaan ini dalam nama Allah, dan akan berakhir tanpa saya, dan oleh kuasa Nya.” Idem, b. 6, ch.10
Terhadap celaan musuh musuhnya yang mengejeknya dengan kelemahan pekerjaannya, Luther menjawab, “Siapa yang mengetahui kalau kalau Allah tidak memilih dan memanggil saya, dan kalau mereka tidak harus merasa takut, bukankah dengan menghina saya mereka menghina Allah Sendiri? Musa sendirian pada waktu keberangkatan dari Mesir. Elia sendirian pada waktu pemerintahan Raja Ahab. Nabi Yesaya sendirian di Yerusalem. Nabi Yehezkiel sendirian di Babilon . . . . Allah tidak pernah memilih sebagai seorang nabi oleh karena ia seorang imam besar atau orang orang penting lainnya; tetapi biasanya Dia memilih orang orang yang rendah dan hina, bahkan pada suatu kali gembala Amos. Pada setiap zaman, orang orang kudus harus menegur orang orang besar, raja raja, para pangeran, para imam dan para cerdik cendekiawan, dengan mempertaruhkan nyawa mereka . . . . Saya tidak mengatakan bahwa saya ini adalah nabi. Tetapi saya katakan bahwa mereka harus merasa takut sebab saya sendirian, sementara mereka banyak. Saya merasa yakin dalam hal ini, bahwa firman Allah ada bersama saya, dan bukan bersama mereka.” Idem, b. 6, ch. 10.
Keputusan Luther untuk memisahkan diri dari gereja bukan tanpa pergumulan sengit dalam dirinya sendiri. Kira kira pada saat inilah Luther menulis, “Saya merasa semakin sulit setiap hari untuk melepaskan keengganan yang telah meresap dalam diri sejak masa kanak kanak.Oh, betapa sakitnya, walaupun Alkitab ada disamping saya untuk membenarkan kepada diri saya, bahwa saya harus berani berdiri sendirian menghadapi paus, dan menganggapnya sebagai antikristus! Betapa hatiku menderita seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Berapa kali saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan pertanyaan yang sering terdengar keluar dari bibir para pengikut kepausan, ‘Apakah hanya Anda sendiri yang bijaksana? Apakah semua orang lain itu salah? Bagaimana jadinya, jika yang salah itu adalah Anda sendiri, dan yang terlibat dalam kesalahanmu itu begitu banyak jiwa, yang akan binasa selama lamanya? Begitulah saya berjuang melawan diri saya sendiri dan melawan Setan, sampai Kristus, melalui firman Nya yang tidak pernah salah, menguatkan hatiku melawan keragu raguan itu.” Martyn, “Life and Times of Luther,” pp. 372 373.
Paus telah mengancam Luther dengan pengucilan jika ia tidak menarik kembali pernyataannya, dan ancaman itu sekarang sudah dilaksanakan. Surat keputusan yang baru menyusul, menyatakan pemisahan diri Pembaharu itu dari Gereja Roma, dan menyatakannya sebagai yang dikutuk oleh Surga; termasuk dalam pengutukan ini semua orang yang menerima ajarannya. Pertentangan besarpun telah dimulai dengan sepenuhnya.

Leave a Reply