PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA

March 28, 2013 - Ellen G. White

Martin Luther adalah seorang yang terkemuka dari orang orang yang terpanggil untuk memimpin gereja keluar dari kegelapan kepausan kepada terang iman yang lebih murni. Seorang yang bersemangat, rajin dan berserah, tidak mengenal rasa takut kecuali takut kepada Allah, yang mengakui tidak ada dasar iman keagamaan kecuali Alkitab. Luther adalah tokoh pada zamannya. Melalui dia Allah melakukan pekerjaan pekerjaan besar untuk pembaharuan gereja dan menerangi dunia.
Seperti pesuruh pesuruh Injil yang pertama, Luther muncul dari lapisan masyarakat miskin. Masa kecilnya dihabiskan di rumah sederhana seorang petani Jerman. Dengan pekerjaan sehari hari sebagai seorang pekerja tambang, ayahnya dapat menyekolahkannya. Ayahnya berniat agar Luther kelak menjadi seorang pengacara. Tetapi Allah bermaksud membuat dia menjadi seorang pembangun di kaabah Nya yang berkembang begitu lambat selama berabad abad. Kesukaran, penderitaan dan tindakan disiplin adalah sekolah dimana Yang Mahabijak mempersiapkan Luther bagi suatu misi penting dalam hidupnya.
Ayah Luther adalah seorang yang berpikiran kuat dan aktif, dan mempunyai tabiat yang teguh, jujur, tabah dan lurus. Ia setia kepada keyakinan tugasnya walau apapun akibatnya. Citarasanya yang sejati menuntunnya tidak percaya kepada sistem biara. Ia sangat tidak senang pada waktu Luther memasuki biara tanpa persetujuannya. Selama dua tahun hubungan mereka tidak baik karenanya, dan sesudah berdamai kembalipun pendirian ayahnya tetap sama.
Orang tua Luther sangat memperhatikan pendidikan dan pelatihan anak anaknya. Mereka berusaha mengajarkan pengetahuan akan Allah dan mempraktekkan kebijakan Kristen. Doa doa ayahnya sering dinaikkan didengar oleh anaknya, agar anaknya boleh mengingat nama Tuhan, dan pada suatu hari membantu memajukan kebenaran Nya. Setiap kesempatan untuk memupuk moral dan intelektual yang diberikan oleh kehidupan mereka yang keras kepada mereka untuk dinikmati, selalu dikembangkan oleh orangtua ini. Mereka berusaha dengan sungguh sungguh dan dengan sabar untuk mempersiapkan anak anak mereka bagi suatu kehidupan yang saleh dan berguna. Dengan keteguhan dan kekuatan tabiat kadang kadang mereka melatih terlalu keras. Tetapi Pembaharu itu sendiri, meskipun menyadari bahwa dalam berbagai hal mereka salah, menemukan dalam disiplinnya lebih banyak persetujuan daripada hukuman.
Di sekolah, dimana ia belajar pada masa mudanya, Luther diperlakukan dengan kasar dan bahkan dengan kejam. Orangtuanya sangat miskin, sehingga pada waktu ia bersekolah di kota lain, diharuskan mencari makan sendiri dengan menyanyi dari satu rumah ke rumah yang lain, dan sering ia harus menahan lapar. Pemikiran agama yang gelap dan penuh ketakhyulan yang merajalela membuat ia ketakutan. Ia berbaring pada waktu malam dengan hati yang sedih, memandang ke masa depan yang gelap dengan gemetar, dan dengan ketakutan yang terus menerus menganggap Allah itu sebagai hakim yang lalim yang tidak menaruh belas kasihan, seorang tiran jahat, daripada seorang Bapa Surgawi yang baik hati.
Namun, dibawah begitu banyak dan begitu besar yang membuat ia tawar hati, Luther terus berusaha maju menuju standar moral yang tinggi dan keungguluan intelektual yang menarik jiwanya. Ia haus akan pengetahuan, dan kesungguh sungguhan serta sifat praktis pikirannya menuntunnya menginginkan yang kuat dan berguna, daripada yang menyolok dan dangkal.
Pada usia 18 tahun, waktu ia memasuki universitas Erfurt, keadaannya sedikit lebih baik, dan hari depannya lebih cerah daripada tahun tahun sebelumnya. Orangtuanya, oleh karena berhemat dan rajin, telah mampu memberikan bantuan yang diperlukan. Dan pengaruh teman temannya yang bijaksana telah mengurangi pengaruh suram pendidikan sebelumnya. Ia mempelajari karya karya pengarang terbaik, dengan rajin mempelajari pikiran pikiran berbobot, dan membuat kebijaksanaan orang orang bijak itu menjadi kebijaksanaannya. Bahkan dibawah disiplin kasar guru gurunya sebelumnya, ia tetap menonjol. Dan dengan pengaruh pengaruh yang baik pikirannya berkembang dengan pesat. Ingatannya yang tajam, imaginasinya yang kreatif, daya pertimbangannya yang kuat, dan ketekunannya yang tak mengenal lelah, segera menempatkannya pada barisan depan teman temannya. Disiplin intelektual mematangkan pengertiannya, dan membangkitkan suatu kegiatan pikiran dan suatu ketajaman persepsi yang mempersiapkan dia bagi perjuangan hidup.
Perasaan takut akan Allah selalu tiggal dalam hati Luther, yang menyanggupkannya mempertahankan keteguhan tujuannya, dan merendahkan diri dihadapan Allah. Ia mempunyai rasa ketergantungan kepada pertolongan ilahi. Dan ia tidak pernah lupa memulai setiap hari dengan doa, sementara hatinya terus memohon tuntunan dan dukungan. Sering ia berkata, “Berdoa dengan baik adalah setengah pelajaran yang lebih baik.” D’Aubigne, “History of the Reformation of the Sixteenth Century,” b. 2, ch. 2.
Ketika sedang memeriksa buku buku di perpustakaan universitas pada suatu hari, Luther menemukan Alkitab dalam bahasa Latin. Belum pernah ia melihat buku seperti itu sebelumnya. Ia sama sekali tidak tahu keberadaan buku itu. Ia telah pernah mendengar bagian bagian dari Injil dan Surat surat Rasul, yang telah dibacakan kepada orang orang pada waktu kebaktian umum, dan ia berpikir bahwa itulah seluruh Alkitab itu. Sekarang, untuk pertama kalinya ia melihat seluruh firman itu. Dengan rasa kagum bercampur heran ia membalik halaman halaman kudus itu. Dengan denyut nadi yang lebih cepat dan jantung berdebar debar, ia membaca firman kehidupan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhenti sejenak ia berseru, “Oh, seandainya Allah memberikan buku seperti ini menjadi milikku sendiri!” Idem, b. 2, ch. 2. Malaikat malaikat Surga berada disampingnya dan sinar sinar terang dari takhta Allah menyatakan kekayaan kebenaran itu kepada pengertiannya. Sebelumnya ia selalu takut melanggar kehendak Allah. Tetapi sekarang ia mempunyai kesadaran yang mendalam mengenai keadaannya sebagai orang berdosa dan bergantung kepada Allah seperti belum pernah sebelumnya.
Suatu kerinduan yang sungguh sungguh untuk bebas dari dosa dan untuk memperoleh kedamaian dengan Allah, akhirnya menuntun dia memasuki sebuah biara, dan menyerahkan dirinya kepada kehidupan biara. Di sini ia diharuskan melakukan pekerjaan yang paling rendah, dan meminta minta dari rumah ke rumah. Pada waktu itu ia berada pada tingkat umur dimana penghormatan dan penghargaan sangat didambakan. Dan pekerjaan yang cocock untuk seorang hamba ini sangat melukai perasaan alamiahnya. Tetapi dengan tabah dan sabar ia tahankan pekerjaan yang merendahkan diri ini, sebab ia percaya bahwa hal itu diperlukan oleh dosa dosanya.
Setiap saat diwaktu senggangnya ia gunakan untuk belajar, sehingga mengurangi tidurnya, bahkan sebagian menghabiskan waktu untuk makan yang tidak mencukupi itu. Diatas segalanya yang lain, ia bersuka cita mempelajari firman Allah. Ia menemukan sebuah Alkitab yang dirantai ke dinding biara, dan untuk ini ia sering pergi ke situ. Sementara keyakinannya mengenai dosa semakin mendalam, ia mulai mencari pengampunan dan kedamaian atas usahanya sendiri. Ia menghidupkan suatu kehidupan yang ketat, dengan berpuasa, berjaga dan berdoa sepanjang malam, dan menyiksa diri untuk menundukkan keadaannya yang jahat, yang untuk ini kehidupan biara tidak dapat membebaskannya. Ia tidak menahankan pengorbanan, dengan harapan, mudah mudahan oleh itu ia memperoleh kesucian hati yang akan menyanggupkannya berdiri berkenan dihadapan Allah. “Sesungguhnya aku adalah seorang biarawan yang taat,” katanya kemudian, “dan mematuhi semua peraturan ordeku lebih ketat daripada yang dapat aku katakan. Jikalau pernah seorang biarawan memperoleh Surga oleh pekerjaannya sebagai biarawan, aku merasa pasti berhak untuk itu . . . . Jika pekerjaan itu diteruskan lebih lama lagi, pekerjaan penyiksaan diri itu akan menewaskan aku.” D’Aubigne, b. 2, ch. 3. Sebagai akibat disiplin yang menyakitkan, ia kehilangan kekuatannya, dan menderita pingsan kejang kejang, yang tidak pernah sembuh benar dari pengaruhnya. Tetapi dengan semua usahanya ini jiwanya yang menanggung beban tidak menemukan kelegaan. Akhirnya ia berada ditepi jurang keputus asaan.
Bilamana tampaknya semua sudah hilang bagi Luther, Allah memberikan seorang sahabat dan penolong baginya. Staupitz yang saleh membuka firman Allah kedalam pikiran Luther dan mengajaknya mengalihkan pandangannya dari dirinya sendiri, menghentikan merenungkan hukuman tanpa batas karena pelanggaran hukum Allah, dan memandang kepada Yesus, Juru Selamat yang mengampuni dosa itu. “Daripada menyiksa dirimu oleh karena dosa dosamu, jatuhkanlah dirimu ketangan Penebus. Percayalah kepada Nya, kepada kebenaran kehidupan Nya, kepada penebusan kematian Nya . . . . Dengarkanlah Anak Allah. Ia menjelma menjadi manusia untuk memberikan kepadamu jaminan perkenan ilahi.” “Kasihilah Dia yang telah lebih dahulu mengasihimu.” Idem, b. 2, ch. 4. Demikianlah pesuruh kemurahan itu berbicara. Kata katanya itu membawa kesan mendalam di pikiran Luther. Setelah bergumul dengan kesalahan kesalahan kesayangan lama, ia akhirnya mampu menerima kebenaran, dan kedamaianpun datang kepada jiwanya yang susah.
Luther ditahbiskan menjadi imam, dan telah dipanggil keluar dari biara menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Disini ia mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia mulai memberi ceramah mengenai Alkitab. Dan buku buku Mazmur, Injil, dan Surat Rasul rasul telah dibukakan kepada pengertian para pendengar yang bergembira. Staupitz, sahabatnya dan atasannya, mendorongnya untuk naik mimbar dan mengkhotbahkan firman Allah. Luther merasa ragu karena merasa dirinya tidak layak berbicara kepada orang orang sebagai ganti Kristus. Hanya setelah pergumulan yang lama dia menerima permintaan sahabat sahabatnya. Ia sudah mahir mengenai Alkitab, dan rakhmat Allah turun keatasnya. Kemampuannya berbicara memikat para pendengarnya, dan penyampaian kebenaran yang jelas dan dengan kuasa meyakinkan pengertian mereka, dan semangatnya yang berapi api menyentuh hati mereka.
Luther masih tetap menjadi anggota gereja kepausan yang sugguh sungguh, dan tidak pernah berpikir yang lain lain. Dengan pemeliharaan Allah ia telah dituntun untuk mengunjungi Roma. Ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, dan menginap di biara biara sepanjang perjalanan. Di salah satu biara di Italia ia dipenuhi keheranan melihat kekayaan, keindahan dan kemewahan yang disaksikannya. Para biarawan tinggal di apartemen yang megah, dengan pendapatan yang memuaskan, berpakaian yang paling mewah dan paling mahal, dan memakan makanan yang mewah. Dengan sangat ragu ragu, Luther membandingkan pemandangan ini dengan penyangkalan diri dan kesukaran yang dialaminya dalam hidupnya sendiri. Pikirannya menjadi bingung.
Akhirnya ia melihat dari kejauhan kota tujuh gunung itu. Dengan perasaan yang mendalam ia tersungkur ke tanah dan berseru, “Roma yang kudus, aku menghormatimu.” Ia memasuki kota itu, mengunjungi gereja gereja, mendengarkan cerita cerita dongeng yang diceritakan oleh para imam dan biarawan, dan menjalankan semua upacara yang diharuskan. Dimana mana ia melihat pemandangan yang memenuhinya dengan kekaguman dan ketakutan. Ia melihat bahwa kejahatan terjadi di semua tingkat pendeta. Ia mendengar lelucon yang tidak sepantasnya dari para pejabat tinggi gereja, dan dipenuhi dengan kengerian kenajisan mereka, bahkan pada waktu misa. Pada waktu ia berbaur dengan para biarawan dan penduduk, ia menemui pemborosan, pesta pora dan kebejatan. Berpaling ke tempat yang seharusnya suci, ia dapati kenajisan. “Tak seorangpun bisa membayangkan,” ia menulis, “dosa apa dan tindakan tak terpuji apa yang dilakukan di Roma. Mereka harus melihat dan mendengar sendiri supaya percaya. Dengan demikian mereka akan bisa berkata, ‘Jika ada neraka, Roma didirikan diatasnya: itu adalah suatu lobang yang dalam darimana keluar segala jenis dosa.'” D’Aubigne, b. 2, ch. 6.
Dengan dekrit yang baru, paus telah menjanjikan kesenangan kepada semua yang menaiki “Tangga Pilatus” dengan berlutut. Katanya tangga itu telah dituruni oleh Juru Selamat kita pada waktu meninggalkan pengadilan Roma, dan dengan ajaib telah dipindahkan dari Yerusalem ke Roma. Luther pada suatu hari menaiki tangga itu dengan sungguh sungguh, pada waktu mana ia tiba tiba mendengar satu suara bagaikan geledek yang berkata, “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17). Ia langsung berdiri dan segera meninggalkan tempat itu dengan malu dan ngeri. Ayat itu tidak pernah kehilangan kuasa atas jiwanya. Sejak waktu itu ia melihat lebih jelas dari sebelumnya pendapat yang keliru, yang mempercayai keselamatan diperoleh atas usaha manusia, dan pentingnya iman yang terus menerus kepada usaha Kristus. Matanya sekarang terbuka, dan tak akan pernah lagi tertutup, karena penipuan kepausan. Pada waktu ia memalingkan wajahnya dari Roma, hatinya juga ikut berpaling, dan sejak waktu itu jurang perpisahanpun semakin melebar, sampai akhirnya ia memutuskan semua hubungannya dengan gereja kepausan.
Sekembalinya dari Roma, Luther menerima gelar Doctor of Divinity dari Universitas Wittenberg. Sekarang ia bebas membaktikan dirinya kepada Alkitab yang dicintainya, seperti belum pernah sebelumnya. Ia telah bernazar untuk mempelajari dengan teliti firman Allah dan dengan setia akan mengkhotbahkannya seumur hidupnya, bukan kata kata dan ajaran ajaran para paus. Ia bukan lagi sekedar biarawan atau guru besar, tetapi juga bentara dan pejabat yang berwenang Alkitab. Ia telah dipanggil sebagai gembala untuk memberi makan kawanan domba Allah, yang telah lapar dan haus akan kebenaran. Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima ajaran lain selain yang berdasarkan otoritas Alkitab yang suci. Kata kata ini menghantam dasar supremasi kepausan. Kata kata ini mengandung prinsip vital Pembaharuan (Reformasi).
Luther melihat bahayanya meninggikan teori teori manusia di atas firman Allah. Tanpa gentar ia menyerang ketidak percayaan pada agama yang spekulatif dari para dosen, dan menentang filsafat dan teologi yang telah begitu lama mempunyai pengaruh menguasai orang orang. Ia mencela pelayanan yang seperti itu sebagai bukan saja tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Dan ia mencoba mengalihkan pikiran pendengarnya dari argumentasi yang tidak benar dengan tujuan menipu dari para ahli filsafat dan ahli teologi, kepada kebenaran kekal yang diletakkan oleh para nabi dan para rasul.
Begitu berbahaya pekabaran yang dibawanya kepada para pendengar yang rindu dan yang lapar akan kata katanya. Belum pernah pengajaran seperti itu mereka dengar sebelumnya. Berita kesukaan mengenai kasih Juru Selamat, jaminan pengampunan dan kedamaian melalui penebusan darah Nya, memberikan sukacita dan mengilhamkan suatu pengharapan kekal didalam hati mereka. Di Wittenberg satu terang sudah dinyalakan yang sinarnya harus meluas sampai ke hujung bumi, dan yang terangnya bertambah menjelang akhir zaman.
Akan tetapi terang dan kegelapan tidak bisa berbaur. Antara kebenaran dan kesalahan ada pertentangan yang tidak bisa dihilangkan. Untuk meninggikan dan mempertahankan yang satu kita harus melawan dan membuangkan yang lain. Juru Selamat kita sendiri berkata, “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34). Luther berkata beberapa tahun setelah Pembaharuan, “Allah tidak menuntun aku, Ia mendorong aku kedepan. Ia membawa aku. Aku bukan tuan atas diriku. Aku rindu hidup dengan tenang, tetapi aku telah dilemparkan ke tengah tengah keributan dan revolusi.” D’Aubigne, b. 5, ch. 2. Sekarang ia hampir terbujuk memasuki pertarungan.
Gereja Roma telah membuat rahmat Allah menjadi barang dagangan. Meja meja penukaran uang (Matius 21:12) disediakan disamping mezbah mezbah, dan udara dipenuhi hiruk pikuk teriakan para penjual dan para pembeli. Oleh karena kebutuhan dana yang besar untuk mendirikan gereja St. Petrus di Roma, surat surat pengampunan dosa telah dijual secara terbuka atas persetujuan paus. Dengan hasil kejahatan sebuah kaabah akan didirikan, tempat berbakti kepada Allah batu penjuru telah diletakkan dengan upah kejahatan dan kekjaman! Tetapi cara yang digunakan untuk memperbesar kuasa dan kekayaan Roma telah menimbulkan pukulan yang mematikan kepada kekuasaannya dan kepada kebesarannya sendiri. Inilah yang membangkitkan musuh kepausan yang paling bertekad melawan dan yang paling sukses, yang menimbulkan peperangan yang menggoncangkan istana kepausan, dan yang telah mendesak mahkota bertingkat tiga itu dari kepala paus.
Petugas resmi yang ditunjuk melaksanakan penjualan surat pengampunan dosa itu di Jerman Tetzel namanya telah dipersalahkan melakukan kejahatan terhadap masyarakat dan terhadap hukum Allah. Tetapi ia tidak dihukum atas kejahatannya itu, sebaliknya ia dipekerjakan untuk memajukan proyek mencari keuntungan paus ini. Dengan kelancangan yang sangat ia mengulangi kepalsuan yang menyolok dan menghubungkan cerita cerita dongeng untuk menipu orang orang bodoh, orang orang yang mudah percaya dan yang percaya kepada takhyul. Seandainya mereka mempunyai firman Tuhan, mereka tidak akan tertipu seperti itu. Alkitab dihindarkan dari orang orang agar mereka tetap dibawah kekuasaan kepausan, dan agar kekayaan dan kekuasaan para pemimpinnya terus berkembang. Lihat Gieseler, Ecclesiastical History,” Period IV, sec. 1, par. 5.
Pada waktu Tetzel memasuki kota, seorang pesuruh mendahului dia dan mengumumkan, “Rahmat Allah dan bapa kudus sekarang berada di pintu gerbang Anda.” D’Aubigne, b. 3, ch. 1. Dan orang orang menyambut penipu yang penuh hujat itu, seolah olah ia adalah Allah Sendiri yang datang dari Surga kepada mereka. Perdagangan keji telah dilakukan di gereja, dan Tetzel naik ke mimbar dan mengacung acungkan surat pengampunan dosa itu sambil mengatakan bahwa itulah pemberian yang paling berharga dari Allah. Ia mengatakan bahwa dengan jasa surat pengampunannya itu semua dosa yang akan dilakukan oleh pembeli sesudah ini akan diampuni dan bahwa “pertobatanpun tidak diperlukan.” Idem, b. 3, ch. 1. Lebih dari itu, ia juga memastikan kepada para pendengarnya bahwa surat pengampunan ini bukan saja berkuasa menyelamatkan yang hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Pada saat uang itu jatuh ke dasar kotaknya, maka jiwa untuk siapa uang itu dibayarkan, akan lolos dari api penyiksaan (purgatori) dan masuk ke Surga. Lihat Hagenbach, “History of the Reformation,” Vol. I, p. 96.
Pada waktu Simon Magus mau membeli dari rasul rasul kuasa untuk melakukan mujizat, Petrus menjawabnya, “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang” (Kisah 8:20). Tetapi tawaran Tetzel itu disambut oleh ribuan orang yang ingin. Keselamatan yang dapat dibeli dengan uang lebih mudah didapatkan daripada keselamatan yng menuntut pertobatan, iman dan usaha yang rajin untuk menolak dan mengalahkan dosa. (Lihat Lampiran).
Pengajaran mengenai surat pengampunan dosa telah ditentang oleh kaum terpelajar dan oleh orang orang saleh di dalam Gereja Roma. Dan banyak yang tidak percaya kepura puraan atau kemunafikan yang bertentangan dengan akal sehat dan nubuatan itu. Tak seorangpun pejabat tinggi gereja yang berani bersuara menentang perdagangan jahat ini. Tetapi pikiran orang orang telah menjadi terganggu dan gelisah, dan banyak orang yang bertanya mengapa Allah tidak bekerja dengan cara lain untuk menucikan gereja Nya.
Luther, meskipun masih pengikut paus yang paling jujur, telah dipenuhi kengerian terhadap perdagangan surat pengampunan dosa yang penuh dengan kesombongan dan hujat itu. Banyak anggota jemaatnya telah membeli surat pengampunan itu, dan mereka segera datang kepada gembala jemaatnya mengakui dosa dosa mereka, dan mengharapkan pengampunan, bukan karena mereka sudah bertobat dan menginginkan pembaharuan, tetapi atas dasar surat pengampunan itu. Luther menolak memberi pengampunan, dan mengamarkan mereka bahwa kecuali mereka bertobat dan membaharui kehidupan mereka, mereka akan binasa dalam dosa dosanya. Dalam kebingungan yang sangat, mereka pergi ke Tetzel dengan keluhan bahwa gembala jemaat mereka telah menolak sertifikat pengampunan dosa. Dan sebagian dengan tegas meminta supaya uangnya dikembalikan. Tetzel sangat marah. Ia mengucapkan kutukan yang paling ngeri, dan menyuruh menyalakan api alun alun kota, dan menyatakan bahwa ia telah menerima perintah dari paus untuk membunuh semua bida’ah yang berusaha melawan surat pengampunan dosa yang mahakudus itu. D’Aubigne, b. 3, ch. 4.
Sekarang Luther memulai pekerjaannya dengan berani sebagai pejuang kebenaran. Suaranya terdengar dari atas mimbar memberikan amaran yang sungguh sungguh dan khidmat. Ditunjukkannya dihadapan orang orang sifat pelanggaran dasar, dan mengajarkan kepada mereka bahwa adalah tidak mungkin bagi manusia, atas usahanya sendiri, mengurangi kesalahannya atau menghindari hukumannya. Tidak ada yang lain kecuali pertobatan kepada Allah dan iman kepada Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan orang berdosa. Rahmat Kristus tidak dapat dibeli, itu adalah pemberian cuma cuma. Ia menasihati orang orang supaya jangan membeli surat pengampunan dosa, tetapi memandang dengan iman kepada Penebus yang sudah disalibkan itu. Ia menghubungkan pengalamannya yang menyakitkan yang dengan sia sia mencari kehinaan diri dan pengampunan untuk mendapatkan keselamatan. Ia juga meyakinkan pendengarnya bahwa barulah setelah ia melihat ke luar dari dirinya dan percaya pada Kristus, ia menemukan kedamaian dan sukacita.
Pada waktu Tetzel meneruskan perdagangan dan kepura puraannya yang tidak percaya kepada Tuhan, Luther memutuskan untuk memprotes dengan lebih efektif terhadap penyalah gunaan ini. Suatu kesempatan segera didapatkan. Gereja kastel Wittenberg, yang mempunyai beberapa benda benda kuno yang dianggap bernilai agama, yang pada hari hari besar tertentu dipamerkan kepada umum, memberikan pengampunan penuh kepada semua orang yang berkunjung ke gereja itu dan yang membuat pengakuan dosa. Sebagai mana biasanya pada hari hari seperti itu, banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Salah satu kesempatan yang paling penting ini, festival “Semua orang kudus,” yang sudah hampir tiba.
Pada hari sebelum fetival itu, Luther, bersama sama dengan orang banyak yang pergi ke gereja, memakukan di pintu gereja selembar kertas yang berisi 95 dalil atau tesis yang menentang ajaran surat pengampunan dosa. Ia menyatakan kesediaannya untuk mempertahankan dalil atau tesis ini besoknya di universitas, terhadap semua yang merasa diserang.
Dalil dalilnya itu menarik perhatian umum. Mereka membaca, dan membaca ulang dalil itu, dan mengulanginya di segala penjuru. Suatu kegemparan besar terjadi di universitas dan seluruh kota itu. Dengan tesis ini telah ditunjukkan bahwa kuasa untuk memberikan pengampunan dosa dan penghapusan hukuman tidak pernah diberikan kepada paus atau seseorang yang lain. Seluruh rencana itu adalah lelucon belaka, suatu kecerdikan untuk memeras uang oleh bermain melalui ketakhyulan orang orang suatu alat Setan untuk membinasakan jiwa orang orang yang mau percaya kepada dusta kepura puraannya. Juga dengan jelas ditunjukkan bahwa Kristus adalah harta gereja yang paling berharga, dan bahwa rahmat Allah yang dinyatakannya, diberikan dengan cuma cuma kepada semua orang yang mencarinya oleh pertobatan dan iman.
Tesis Luther menantang perbincangan, tetapi tak seorangpun berani menerima tantangan itu. Pertanyaan pertanyaan yang dihadapkannya telah tersebar ke seluruh Jerman hanya dalam beberapa hari saja. Dalam beberapa minggu telah terdengar ke selurh dunia Kekritenan. Banyak dari pengikut agama Roma yang setia, yang telah melihat dan menyesali kejahatan keji yang merajalela di gereja tetapi tidak tahu cara menghentikannya, membaca dalil itu dengan sukacita besar, menganggap dalil itu sebagai suara Allah. Mereka merasa bahwa tangan Tuhan yang penuh rahmat telah menghentikan arus kebejatan moral yang cepat membengkak itu yang telah dikeluarkan dari Roma. Para pangeran dan para pejabat tinggi gereja bersukacita secara diam diam karena sebuah rintangan telah diberlakukan terhadap kuasa yang congkak itu, yang telah menghilangkan hak naik banding atas keputusan keputusannya.
Tetapi orang orang banyak yang mencintai dosa dan ketakhyulan telah ketakutan pada waktu kepura puraan yang telah menenangkan ketakutan mereka telah hilang. Para pendeta yang banyak tipu muslihatnya berhenti sementara dalam melakukan kejahatan mereka, dan melihat pendapatan mereka dalam bahaya, telah menjadi marah dan berlomba untuk mempertahankan kepura puraan mereka. Sang Pembaharu menghadapi para penuduh yang gigih. Sebagian menuduh dia bertindak gegabah dan menurut dorongan hati saja. Yang lain menuduhnya berprasangka dan congkak, menyatakan bahwa ia tidak dipimpin oleh Allah, tetapi bertindak atas kesombongan dan penonjolan diri. “Siapa yang tidak tahu,” katanya, “bahwa seseorang jarang mengemukakan ide baru tanpa kelihatan sombong dan tanpa dituduh menimbulkan pertengkaran? . . . . Mengapa Kristus dan para syuhada dibunuh? Oleh karena mereka tampaknya seperti penghina yang sombong kepada kebijaksanaan masa itu, dan oleh sebab mereka memajukan hal hal baru tanpa terlebih dahulu, dengan rendah hati, meminta nasihat orang orang bijaksana sebelumnya.”
Sekali lagi ia nyatakan, “Apa saja yang saya lakukan akan saya lakukan, bukan oleh kepintaran manusia, tetapi nasihat Allah. Jika pekerjaan itu datangnya dari Allah, siapakah yang dapat menghentikannya? Jikalau tidak dari Allh, siapakah yang sanggup meneruskannya? Bukan kehendakku, atau kehendak mereka atau kehendak kami. Tetapi kehendak Mu, O, Bapa yang kudus, yang di dalam Surga.” Idem, b. 3, ch. 6.
Meskipun Luther telah digerakkan oleh Roh Allah untuk memulai pekerjaannya, ia tidak mengerjakannya tanpa pertentangan hebat. Celaan celaan musuh musuhnya, penyelewengan tujuan tujuannya, dan pencerminan ketidak adilan dan bahaya atas tabiat dan motifnya, dilancarkan kepadanya seperti banjir yang sedang melanda, dan semuanya bukan tanpa pengaruh. Ia merasa percaya diri bahwa para pemimpin orang orang baik dalam gereja maupun di sekolah sekolah akan dengan senang bersatu dengan dia dalam usaha usaha pembaharuan. Kata kata dorongan dari mereka yang berada pada kedudukan yang tinggi, telah mengilhaminya dengan sukacita dan pengharapan. Ia telah mengantisipasi bahwa hari yang lebih cerah akan terbit di dalam gereja. Tetapi kata kata dorongan telah berubah menjadi celaan dan kutukan. Banyak pejabat pejabat tinggi, baik gereja maupun negara telah diyakinkan oleh kebenaran tesisnya itu; tetapi mereka segera melihat bahwa penerimaan kebenaran ini akan melibatkan perubahan besar. Memberi penerangan kepada rakyat dan mengadakan pembaharuan pada orang orang jelas jelas merendahkan kekuasaan Roma, menghentikan arus kekayaan mengalir ke perbendaharaan Roma, dan dengan demikian mengurangi perbuatan melampaui batas, dan kemewahan para pemimpin kepausan. Lebih jauh, mengajar orang berpikir dan bertindak sebagai makhluk yang bertanggungjawab, memandang kepada Kristus satu satunya jalan keselamatan, akan meruntuhkan tahta paus, yang akhirnya menghancurkan kekuasaannya. Atas alasan alasan ini mereka menolak pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka oleh Allah, dan mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dan kebenaran oleh perlawanan terhadap orang yang telah dikirimnya menerangi mereka.
Luther gemetar pada waktu dia memandang dirinya seorang melawan orang yang paling berkuasa di dunia. Kadang kadang ia ragu ragu apakah ia benar benar dipimpin oleh Allah untuk melawan otoritas gereja. “Siapakah aku,” ia menulis, “menentang keagungan paus, yang dihadapannya . . . raja raja dunia ini dan seluruh dunia gemetar? . . . Tak seorangpun yang tahu betapa hatiku menderita selama dua tahun pertama ini, dan kedalam kemurungan dan keputusasaan aku tenggelam.” Idem, b. 3, ch. 6. Tetapi ia tidak dibiarkan tawar hati. Bilamana dukungan manusia gagal, ia hanya melihat kepada Allah saja, dan mengetahui bahwa ia dapat bersandar dengan aman di atas tangan Yang Mahakuasa itu.
Luther menulis kepada seorang sahabat Pembaharuan, “Kita tidak dapat mengerti Alkitab itu baik oleh mempelajarinya atau oleh kepintaran. Tugas pertamamu ialah memulai dengan berdoa. Mintalah agar Tuhan memberikan kepadamu, oleh kemurahannya yang besar, pengertian yang benar tentang firman Nya. Tidak ada penafsir firman Allah yang lain selain Pengarang firman itu sendiri, sebagaimana Ia sendiri katakan, ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Janganlah mengharapkan sesuatu dari usahamu sendiri, dari pengertianmu sendiri. Percayalah kepada Tuhan saja dan kepada pengaruh Roh Nya. Percayalah kepada perkataan ini dari seorang yang sudah berpengalaman.” Idem, b. 3, ch. 7. Inilah satu pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang merasa dipanggil oleh Allah untuk menyajikan satu satunya kebenaran itu kepada orang lain pada masa ini. Kebenaran itu akan membangkitkan rasa permusuhan Setan dan orang orang yang menyukai cerita cerita dongeng yang telah dirancangnya. Dalam pertentangan dengan kuasa kejahatan, ada suatu keperluan yang lebih penting dari pada sekedar kekuatan intelek dan akal budi manusia.
Bilamana musuh menarik perhatian kepada adat dan tradisi, atau tuntutan dan kekuasaan paus, Luther menghadapinya dengan Alkitab, dan satu satunya Alkitab. Inilah argumentasi yang tidak dapat dijawab oleh mereka. Oleh sebab itu budak budak formalisme dan ketakhyulan berteriak menuntut darahnya, sama seperti orang orang Yahudi berteriak menuntut darah Kristus. “Dia seorang bida’ah,” teriak orang orang fanatik Roma itu. “Adalah suatu pengkhianatanbesar terhadap gereja membiarkan seorang bida’ah hidup lebih dari sejam. Dirikanlah segera tiang gantungan baginya!” Idem, b. 3, ch. 9. Akan tetapi Luther tidak jatuh menjadi mangsa keganasan mereka. Allah mempunyai pekerjaan yang akan dikerjakannya, dan malaikat malaikat Allah telah dikirimkan untuk melindunginya. Namun begitu, banyak orang yang telah menerima terang yang berharga itu dari Luther, telah menjadi sasaran murka Setan, dan demi kebenaran tanpa takut menderita siksaan dan kematian.
Pengajaran Luther menarik perhatian orang orang cerdik pandai diseluruh Jerman. Dari khotbah khotbahnya keluarlah sinar sinar terang yang membangunkan dan menerangi beribu ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme mati yang telah lama dianut gereja. Setiap hari orang orang mulai tidak percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang. Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther, bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang orang. Dimana mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian. Dimana mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya selama berabad abad. Mata orang orang yang begitu lama ditujukan kepada upacara upacara manusia dan pengantara duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus yang disalibkan itu.
Perhatian orang orang yang semakin meluas ini menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther dipanggil menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida’ah. Perintah itu membuat teman temannya sangat merasa takut. Mereka mengerti benar bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.
Permohonan itu akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu. Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa Luther telah dinyatakan sebagai bida’ah. Oleh sebab itu utusan itu ditugaskan untuk “menuntut dan menahan Luther dengan segera.” Jikalau ia tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu diberi kuasa untuk “mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang berhubungan dengan dia.” Idem, b. 4, ch. 2. Lebih jauh paus memberi petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai keakar akarnya bala sampar bida’ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat negara kecuali kaisar, yang melalaikan penangkapan Luther dan pengikut pengikutnya, dan menyerahkannya kepada pembalasan Roma.
Disinilah diperagakan roh kepausan yang sebenarnya. Sedikitpun tak terdapat prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida’ah, dan pada hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini dilakukan oleh bapa kudus, satu satunya penguasa tertinggi dan mutlak di dalam gereja maupun negara.
Pada waktu ini, pada saat Luther begitu membuthkan simpati dan nasihat dari sahabat sahabat sejatinya, pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan pengetahuannya dan kemahirannya berbicara digabung dengan kesucian dan ketulusan tabiatnya, Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya sama menonjolnya dengan kelemah lembutan watak dan tabiatnya. Tidak lama kemudian ia menjadi murid Injil yang sungguh sungguh dan sahabat Luther yang paling terpercaya. Kelemah lembutannya, keberhati hatiannya dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.
Telah ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang Pembaharu berjalan kaki ke kota itu. Ketakutan yang serius memenuhi orang orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya. Inilah ucapannya, “Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka, semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . . Mereka telah menghancurkan kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal, ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat.” Idem, b. 4, ch. 4.
Berita mengenai tibanya Luther di Augsburg memberikan rasa puas kepada utusan paus. Orang bida’ah yang menyusahkan ini, yang telah membangkitkan perhatian seluruh dunia, tampaknya sekarang sudah berada dalam kekuasaan Roma, dan utusan paus itu telah menetapkan agar ia tidak boleh lolos. Sang Pembaharu itu tidak mempunyai surat jalan jaminan keselamatan. Sahabat sahabatnya mendesak dia agar jangan menemui utusan paus itu tanpa surat jalan jaminan keselamatan. Dan mereka sendiri berusaha mendapatkannya dari kaisar. Utusan paus bermaksud untuk memaksa Luther, jika mungkin mundur dari keyakinannya, atau jika gagal dalam hal ini, meneruskannya ke Rom untuk mendapat nasib yang sama seperti Huss dan Jerome. Itulah sebabnya melalui agen agennya ia berusaha mengajak Luther menghadap tanpa surat jalan jaminan keselamatan, dengan mempercayai belas kasihan utusan paus. Ajakan ini sama sekali ditolak oleh sang Pembaharu itu. Ia tidak akan menghadap utusan paus sebelum ia menerima dokumen yang menjanjika kepadanya perlindungan kaisar.
Menurut kebijakan yang diambil, para penguasa Roma telah memutuskan untuk berusaha menundukkan Luther dengan tampak seolah olah lembut. Utusan paus dalam wawancara dengannya menunjukkan seolah olah sangat bersahabat. Tetapi ia mendesak agar secara implisit tunduk kepada kekuasaan gereja, dan mengalah tanpa argumentasi atau pertanyaan. Utusan paus itu belum memperhitungkan dengan benar tabiat orang yang dihadapinya. Sebagai jawaban, Luther menyatakan rasa hormatnya kepada gereja, kerinduannya kepada kebenaran, kesediaannya menjawab semua keberatan keberatan terhadap apa yang telah diajarkannya, dan menyerahkan ajarannya itu untuk dinilai oleh universitas universitas terkemuka tertentu. Tetapi pada waktu yang sama ia memprotes sikap kardinal, utusan paus, yang meminta ia mundur tanpa membuktikan dia bersalah.
Respons satu satunya ialah, “Mundur, mundur!” Pembaharu itu menunjukkan bahwa posisinya didukung oleh Alkitab, dan dengan tegas ia katakan bahwa tidak dapat menyangkal kebenaran itu. Utusan paus, yang tidak sanggup menjawab arguen argumen Luther, menghujaninya dengan celaan, cemoohan, dan rayuan, yang diselingi dengan kutipan kutipan dari tradisi dan sebutan sebutan para pater tanpa memberi kesempatan kepada Pembaharu itu untuk berbicara. Setelah melihat bahwa konferensi itu akan berakhir dengan kegagalan jika diteruskan, akhirnya Luther mendapat izin yang terpaksa untuk memberikan jawabannya secara tertulis.
“Dengan berbuat demikian,” katanya dalam suratnya kepada seorang sahabatnya, “yang tertindas mendapat keuntungan ganda. Pertama, apa yang ditulis itu dapat diserahkan untuk dipertimbangkan oleh orang lain, dan yang kedua, seseorang mempunyai kesempatan untuk mengatasi rasa takut terhadap seseorang yang angkuh, pengocehan dan lalim, yang kalau tidak bisa dikalahkan dengan bahasa yang sombong dan meninggi.” Martyn, “The Life and Times of Luther,” pp. 271, 272.
Pada wawancara berikutnya, Luther menyatakan pandangannya dengan jelas, singkat dan berbobot, yang didukung sepenuhnya dengan kutipan kutipan dari Alkitab. Setelah membacakan tulisannya dengan nyaring, Luther menyerahkannya kepada kardinal, utusan paus itu. Namun utusan paus menganggap rendah tulisan itu dan mengesampingkannya, dan mengatakan bahwa tulisan itu adalah kumpulan dari kata kata yang tidak berguna dan kutipan kutipan yang tidak relevan. Luther tersinggung, benar benar bangkit dan menghadapi pejabat tinggi gereja, utusan paus yang nakal itu dengan dasarnya sendiri, tradisi dan ajaran ajaran gereja dan berhasil mengalahkan asumsinya.
Bilamana kardinal, utusan paus, melihat bahwa pendapat Luther itu tidak bisa dijawab, ia sama sekali tidak dapat lagi mengendalikan dirinya, dan dengan geramnya ia berteriak, “Mundur! atau saya akan kirim engkau ke Roma, meghadap para hakim yang ditugaskan menangani masalahmu. Saya akan mengucilkan engkau dengan semua partisanmu, dan semua yang pada suatu waktu akan membantumu, dan akan mengusir mereka keluar dari gereja.” Dan akhirnya ia mengatakan dengan nada sombong dan marah, “Mundur, atau engkau tidak akan kembali lagi.” D’Aubigne, b. 4, ch. 8 (London ed.).
Sang Pembaharu dengan segera meninggalkan tempat itu bersama sahabat sahabatnya. Dengan demikian menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan mundur dari ajaran ajarannya. Bukanlah ini yang dimaksudkan oleh kardinal. Ia telah menyombongkan diri bahwa dengan kekuasaan ia membuat Luther menyerah. Sekarang ia ditinggalkan bersama para pendukungnya, saling melihat satu sama lain dengan sangat kecewa melihat kegagalan yang tidak diharapkan sebelumnya.
Usaha usaha Luther pada waktu ini bukannya tidak berhasil baik. Para hadirin di mahkamah itu berkesempatan membandingkan kedua orang itu, dan menilai roh yang dinyatakan kedua mereka, serta kekuatan dan kebenaran posisi mereka masing masing. Sangat bertolak belakang! Pembaharu itu sederhana, rendah hati, teguh, berdiri dengan kekuatan Allah, kebenaran berada dipihaknya. Kardinal, utusan paus, merasa diri penting, bersifat menguasai, sombong, tidak bisa bermusyawarah, tanpa satu argumentasi dari Alkitab, namun dengan keras berteriak, “Mundur! atau dikirim ke Roma untuk dihukum.”
Meskipun Luther telah memperoleh surat jalan jaminan keselamatan, para penguasa Roma telah berkomplot untuk menangkapnya dan memenjarakannya. Sahabat sahabatnya mengataka kepada Luther bahwa tidak ada gunanya ia tinggal lebih lama dikota itu, ia harus segera kembali ke Wittenberg, dan ia harus sangat berhati hati menyembunyikan maksudnya. Ia meninggalkan Augsburg sebelum fajar menyingsing dengan menunggang kuda, ditemani oleh seorang penunjuk jalan yang disediakan oleh pejabat kota. Dengan harap harap cemas, dengan diam diam ia menyusuri jalan jalan kota yang gelap dan sepi. Musuh musuhnya, dengan berjaga jaga dan dengan kejam telah berkomplot untuk membinasakannya. Apakah ia bisa meloloskan diri dari perangkap yang dipasang baginya? Saat itu adalah saat yang menegangkan dan saat untuk berdoa dengan sungguh sungguh. Mereka tiba di suatu gerbang di tembok kota. Gerbang itu terbuka baginya, dan bersama penunjuk jalannya melewatinya tanpa halangan. Setelah selamat tiba diluar kota, pelarian itu segera melanjutkan perjalanannya, dan sebelum utusan paus mengetahui kepergian Luther ia sudah jauh berada diluar jangkauan para penuduhnya. Setan bersama kaki tangannya telah dikalahkan. Orang yang mereka sangka sudah berada dalam kekuasaannya telah tiada, seperti burung lepas dari jerat pemburu.
Mendengar kaburnya Luther, utusan paus sangat kaget dan marah. Ia telah mengharapkan akan memperoleh penghargaan atas kebijaksanaannya dan keteguhannya dalam menangani pengganggu gereja itu. Tetapi pengharapannya telah pupus semua dan sangat mengecewakannya. Ia menyatakan kegeramannya dalam satu surat kepada Frederick, penguasa Saxony, dengan keras ia mencela Luther dan meminta agar Frederick mengirimkan Pembaharu itu ke Roma atau ia akan diusir dan dibuang dari Saxony.
Sebagai pembelaannya, Luther meminta agar utusan paus atau paus sendiri menunjukkan kepadanya kesalahannya dari Alkitab, dan berjanji dalam cara yang paling khidmat akan mencela ajaran ajarannya jika ajaran ajaran itu bertentangan dengan firman Allah. Dan ia menyatakan rasa syukurnya kepada Allah karena ia telah dianggap pantas untuk menderita oleh karena Nya.
Penguasa Saxony belum begitu banyak mengetahui tentang ajaran pembaharuan, tetapi ia sangat terkesan oleh keterus terangan, kuasa dan jelasnya kata kata Luther. Frederick berketetapan untuk menjadi pelindung Luther sampai sang Pembaharu itu terbukti bersalah. Dalam jawabannya kepada tuntutan utusan paus ia menulis, ” ‘Oleh karena Doktor Martin Luther telah menghadap Anda di Augsburg, seharusnya Anda sudah merasa puas. Kami tidak mengharapkan bahwa Anda membuat dia mundur dari keyakinannya tanpa meyakinkannya tentang kesalahannya. Tak seorangpun kaum terpelajar di negeri kami yang memberitahukan kepada saya bahwa ajaran Luther itu tidak menghormati Tuhan atau tidak beriman, anti Kristen, atau bida’ah.’ Disamping itu, pangeran menolak mengirimkannya ke Roma, atau mengusirnya dari negaranya.” D’Aubigne, b. 4, ch. 10.
Penguasa Saxony melihat bahwa ada kemerosotan umum moral di masyarakat. Suatu pekerjaan besar pembaharuan diperlukan. Pengaturan yang rumit dan mahal untuk mencegah dan menghukum kejahatan tidak akan diperlukan jika orang orang mengakui dan menuruti tuntutan Allah dan suara hati nuraninya. Ia melihat bahwa Luther berusaha untuk mencapai tujuan ini, dan secara rahasia ia bersukacita bahwa pengaruh yang lebih baik sedang terasa di dalam gereja.
Ia juga melihat bahwa sebagai seorang profesor di universitas, Luther adalah seorang yang sukses. Baru setahun berlalu setelah Luther menempelkan tesisnya di gereja kastel, sudah ada penurunan kunjungan peziarah ke gereja itu pada pesta hari raya Seluruh Orang Kudus. Roma telah kekurangan kelompok orang yang datang berbakti dan kekurangan persembahan. Tetapi tempat mereka ini telah diisi oleh kelompok lain, yang datang ke Wittenberg, bukan menjadi peziarah untuk mengagumi benda benda bersejarah, tetapi menjadi pelajar pelajar yang memenuhi ruangan ruangan belajar. Tulisan tulisan Luther telah membangkitkan minat baru terhadap Alkitab, bukan hanya dari seluruh bagian Jerman, tetapi juga dari negara negara lain. Mereka berduyun duyun memasuki universitas. Para pemuda yang pertama kali datang ke Wittenberg, “mengangkat tangan mereka ke atas dan memuji Allah yang telah menyebabkan terang kebenaran bersinar dari kota ini, seperti dari Sion pada zaman dahulu, darimana terang itu tersebar bahkan ke negeri negeri yang jauh.” D’Aubigne, b. 6, ch. 10.
Sampai kini Luther baru sebagian bertobat dari kesalahan kesalahan Romanisme. Tetapi sementara ia membandingkan Tulisan tulisan Kudus dengan dekrit kepausan dan undang undang, ia menjadi sangat keran. “Saya sedang membaca,” ia menulis, “dekrit para paus, dan . . . saya tidak tahu apakah paus itu sendiri antikristus atau rasulnya. Kristus sangat disalah gambarkan dan disalibkan didalamnya.” Idem, b. 5, ch. 1. Namun sampai saat ini tidak ada pikirannya untuk memisahkan diri dari persekutuannya
Tulisan tulisan dan doktrin Pembaharu itu telah meluas kesetiap bangsa didunia Kekristenan. Pekerjaan itu meluas ke Swis dan ke Negeri Belanda. Salinan tulisan tulisannya terdapat juga di Perancis dan Spanyol. Di Inggeris pengajaran Luther diterima sebagai firman kehidupan. Juga ke Belgia dan ke Italia kebenaran itu telah meluas. Beribu ribu bangkit dari tidur mereka yang bagaikan orang mati itu, kepada kesukaan dan pengharapan suatu kehidupan beriman.
Roma menjadi semakin jengkel oleh serangan serangan Luther. Dan telah dinyatakan oleh beberapa lawan lawannya yang fanatik, bahkan oleh para doktor di universitas universitas Katolik, bahwa siapa yang membunuh biarawan pemberontak itu tidak berdosa. Pada suatu hari seorang asing, dengan pistol disembunyikan dibalik jubahnya, mendekati Pembaharu itu, dan bertanya mengapa ia berjalan sendirian seperti itu. Luther menjawab, “Aku berada didalam tangan Tuhan. Ia adalah kekuatanku dan perisaiku. Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang terhadap aku?” Idem, b. 6, ch. 2. Setelah mendengar perkataan ini orang asing itu menjadi pucat pasi dan melarikan diri, seperti dari hadapan malaikat malaikat Surga.
Roma bertekad membinasakan Luther, tetapi Allahlah pelindungnya dan pertahanannya. Doktrin doktrinnya telah terdengar dimana mana, “di gubuk gubuk dan biara biara, . . . di kastel kastel para bangsawan, di universitas universitas, dan di istana raja raja.” Dan para bangsawan telah bangkit untuk mendukung usaha usahanya disegala bidang. Idem, b. 6, ch. 2.
Kira kira pada waktu inilah Luther, setelah membaca tulisan tulisan Huss, mendapati bahwa kebenaran besar pembenaran oleh iman, yang ia sendiri berusaha tinggikan dan ajarkan, telah dianut oleh pembaharu Bohemia. “Kami semua,” kata Luther, “Paul, Augustine dan saya sendiri, telah menjadi pengikut Huss tanpa mengetahuinya!” “Allah pasti akan datang melawat dunia ini,” lanjutnya, “bahwa kebenaran itu telah dikhotbahkan kepada dunia ini seabad yang lalu, dan membakarnya.” Wylie, b. 6, ch. 1.
Dalam suatu himbauan kepada kaisar dan para bangsawan Jerman atas nama Pembaharuan Kekristenan, Luther menuliskan mengenai paus, “Adalah suatu yang mengerikan memandang seseorang yang menamakan dirinya sendiri wakil Kristus, yang memperagakan keindahan dan kemuliaan yang tak seorang kaisarpun dapat menyamainya. Apakah ini yang dikatakan seperti Yesus yang malang atau seperti Petrus yang hina? Dia, mereka katakan adalah Tuan dunia ini! Tetapi Kristus, yang diwakilinya dengan menyombongkannya, telah berkata, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini.’ Dapatkah kekuasaan wakil melebihi kekuasaan atasannya yang diwakilinya?” D’Aubigne, b. 6, ch. 3.
Mengenai beberapa universitas ia menulis, “Aku merasa sangat khawatir bahwa universitas universitas akan menjadi pintu pintu neraka, kecuali mereka dengan rajin menerangkan Alkitab, dan mengukirkannya didalam hati para pemuda. Saya tidak menasihati seorangpun untuk menempatkan anaknya di sekolah yang tidak meninggikan Alkitab. Setiap lembaga pendidikan dimana orang orang tidak diisi dengan firman Allah akan korup.” Idem, b. 6, ch. 3.
Himbauan ini segera beredar ke seluruh Jerman, dan memberikan suatu pengaruh kuat kepada orang orang. Seluruh bangsa itu telah digerakkan, dan orang banyak bangkit berkumpul dibawah panji panji pembaharuan. Penentang penentang Luther, didorong oleh keinginan untuk membalas, memohon kepada paus agar mengambil tindakan terhadapnya. Dengan segera dikeluarkan dekrit yang melarang dan mengharamkan doktrin doktrin Luther. Diberikan waktu enam puluh hari kepada Pembaharu dengan pengikut pengikutnya, sesudah itu, jika mereka tidak menarik kembali pernyataannya, semua mereka akan dikucilkan dari gereja.
Keadaan itu adalah suatu kemelut yang mengerikan bagi Pembaharuan. Selama berabad abad keputusan pengucilan Roma telah menakutkan raja raja yang berkuasa sekalipun. Keputusan seperti itu telah membuat kerajaan yang kuat mengalami bencana dan kehancuran. Mereka yang dijatuhi hukuman pengucilan, pada umumnya dipenuhi ketakutan dan kengerian. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan dengan sesamanya, dan diperlakukan sebagai orang terbuang yang tidak dilindungi oleh undang undang, dan akan diburu untuk dibinasakan. Luther tidak buta terhadap topan yang akan menimpanya, tetapi ia tetap teguh, percaya kepada Kristus yang akan menjadi penopangnya dan perisainya. Dengan iman dan keberanian untuk mati syahid atau menjadi syuhada ia menulis, “Apa yang akan terjadi aku tidak tahu, atau aku tidak perduli untuk mengetahuinya . . . . Biarlah pukulan itu menghantam kemana ia mau menghantam, aku tidak takut. Tidak sehelai daunpun yang jatuh tanpa kehendak Bapa kita. Betapa Dia lebih memeliharakan kita! Adalah suatu perkara enteng untuk mati demi Firman itu, karena Firman yang telah menjadi daging itu Sendiri juga telah mati. Jikalau kita mati bersama Dia, kita akan hidup bersama Dia. Dan melalui apa yang Dia telah lalui sebelum kita, kita akan berada dimana Dia ada dan tinggal bersama Dia selama lamanya.” Idem, b. 6, ch. 9 (3d London ed., Walther, 1840).
Pada waktu surat keputusan paus sampai kepada Luther, ia berkata, “Saya menganggapnya remeh dan menentang itu sebagai palsu, selaku seorang yang beriman kepada Tuhan . . . . Kristus Sendirilah yang dipersalahkan dalam hal ini . . . . Saya bersukacita menanggung derita seperti itu kalau alasan alasannya baik. Saya telah merasakan kebebasan yang besar di dalam hati saya, sebab akhirnya saya tahu bahwa paus adalah antikristus, dan bahwa takhtanya adalah takhta Setan sendiri.” D’Aubigne, b. 6, ch. 9.
Namun, perintah Roma itu bukan tanpa akibat. Untuk memaksakan penurutan kepada perintah itu digunakanlah pedang, penyiksaan dan penjara. Orang orang yang lemah dan yang percaya kepada takhyul gemetar menghadapi dekrit paus itu. Dan sementara banyak yang bersimpati kepada Luther, banyak juga yang merasa hidup itu terlalu mahal untuk dikorbankan demi pembaharuan. Segala sesuatu tampaknya seolah olah menyatakan bahwa pekerjaan Pembaharu itu sudah mau terhenti.
Akan tetapi Luther tetap tidak takut. Roma telah melemparkan lembing kutukannya melawan dia. Dan dunia melihatnya, tanpa ragu ragu bahwa ia akan binasa atau dipaksa menyerah. Tetapi dengan kuasa yang dahsyat ia balik melemparkan lembing kutukan kepada paus, dan dengan terbuka ia menyatakan ketetapan hatinya untuk meninggalkan kepausan selama lamanya. Dihadapan kerumunan para mahasiswa, para doktor dan masyarakat dari segala lapisan Luther membakar surat keputusan paus itu, bersama buku undang undang serta surat surat keputusan dan tulisan tulisan lain yang mendukung kekuasaan kepausan. “Musuh musuhku telah merusakkan maksud maksud kebenaran didalam pikiran orang orang awam dan merusakkan jiwa jiwa mereka dengan membakar buku buku saya, dan sebagai gantinya, saya juga membakar buku buku mereka. Perjuangan yang sungguh sungguh baru saja mulai. Sampai sekarang saya bermain main dengan paus. Saya memulai pekerjaan ini dalam nama Allah, dan akan berakhir tanpa saya, dan oleh kuasa Nya.” Idem, b. 6, ch.10
Terhadap celaan musuh musuhnya yang mengejeknya dengan kelemahan pekerjaannya, Luther menjawab, “Siapa yang mengetahui kalau kalau Allah tidak memilih dan memanggil saya, dan kalau mereka tidak harus merasa takut, bukankah dengan menghina saya mereka menghina Allah Sendiri? Musa sendirian pada waktu keberangkatan dari Mesir. Elia sendirian pada waktu pemerintahan Raja Ahab. Nabi Yesaya sendirian di Yerusalem. Nabi Yehezkiel sendirian di Babilon . . . . Allah tidak pernah memilih sebagai seorang nabi oleh karena ia seorang imam besar atau orang orang penting lainnya; tetapi biasanya Dia memilih orang orang yang rendah dan hina, bahkan pada suatu kali gembala Amos. Pada setiap zaman, orang orang kudus harus menegur orang orang besar, raja raja, para pangeran, para imam dan para cerdik cendekiawan, dengan mempertaruhkan nyawa mereka . . . . Saya tidak mengatakan bahwa saya ini adalah nabi. Tetapi saya katakan bahwa mereka harus merasa takut sebab saya sendirian, sementara mereka banyak. Saya merasa yakin dalam hal ini, bahwa firman Allah ada bersama saya, dan bukan bersama mereka.” Idem, b. 6, ch. 10.
Keputusan Luther untuk memisahkan diri dari gereja bukan tanpa pergumulan sengit dalam dirinya sendiri. Kira kira pada saat inilah Luther menulis, “Saya merasa semakin sulit setiap hari untuk melepaskan keengganan yang telah meresap dalam diri sejak masa kanak kanak.Oh, betapa sakitnya, walaupun Alkitab ada disamping saya untuk membenarkan kepada diri saya, bahwa saya harus berani berdiri sendirian menghadapi paus, dan menganggapnya sebagai antikristus! Betapa hatiku menderita seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Berapa kali saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan pertanyaan yang sering terdengar keluar dari bibir para pengikut kepausan, ‘Apakah hanya Anda sendiri yang bijaksana? Apakah semua orang lain itu salah? Bagaimana jadinya, jika yang salah itu adalah Anda sendiri, dan yang terlibat dalam kesalahanmu itu begitu banyak jiwa, yang akan binasa selama lamanya? Begitulah saya berjuang melawan diri saya sendiri dan melawan Setan, sampai Kristus, melalui firman Nya yang tidak pernah salah, menguatkan hatiku melawan keragu raguan itu.” Martyn, “Life and Times of Luther,” pp. 372 373.
Paus telah mengancam Luther dengan pengucilan jika ia tidak menarik kembali pernyataannya, dan ancaman itu sekarang sudah dilaksanakan. Surat keputusan yang baru menyusul, menyatakan pemisahan diri Pembaharu itu dari Gereja Roma, dan menyatakannya sebagai yang dikutuk oleh Surga; termasuk dalam pengutukan ini semua orang yang menerima ajarannya. Pertentangan besarpun telah dimulai dengan sepenuhnya.
Perlawanan adalah salah satu yang Allah gunakan untuk menyatakan kebenaran yang khusus sesuai dengan zamannya. Ada kebenaran masa kini pada zaman Luther, suatu kebenaran yang pada waktu itu mempunyai kepentingan khusus. Ada kebenaran masa kini bagi jemaat sekarang. Dia yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan nasihat kehendak Nya, telah berkenan menempatkan orang orang dalam berbagai keadaan, dan menyerahkan kepada mereka tugas tugas yang khusus kepada zaman dimana mereka hidup dan kepada keadaan keadaan dimana mereka ditempatkan. Jikalau mereka menghargai terang yang diberikan kepada mereka, maka pandangan yang lebih luas tentang kebenaran akan dibukakan kepada mereka. Tetapi kebenaran itu tidak lebih dirindukan oleh kebanyakan orang sekarang ini daripada oleh para pengikut paus yang menentang Luther. Atas sifat yang sama, menerima teori teori dan tradisi tradisi manusia sebagai gantinya menerima firman Allah, sebagaimana pada zaman zaman terdahulu. Mereka yang menyatakan kebenaran itu sekarang ini janganlah mengharapkan akan diterima dengan senang hati melebihi para pembaharu yang terdahulu. Pertentangan yang besar antara kebenaran dengan kesalahan, antara Kristus dengan Setan, akan semakin bertambah hebat menjelang penutupan sejarah dunia.
Jesus berkata kepada murid murid Nya, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia ini, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia ini, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidak lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu” ( Yohanes 15:19,20). Sebaliknya Tuhan kita menyatakan dengan jelas, “Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi nabi palsu.” (Lukas 6:26). Roh dunia ini tidak lebih selaras dengan roh Kristus sekarang ini daripada zaman dahulu. Dan mereka mengkhotbahkan firman Allah dalam kemurniannya sekarang tidak akan diterima dengan lebih baik sekarang ini seperti juga dahulu. Bentuk bentuk perlawanan kepada kebenaran itu bisa berubah. Permusuhan mungkin kurang terbuka karena lebih halus. Tetapi antagonisme yang sama akan terjadi, dan akan dinyatakan pada akhir zaman.

Leave a Reply