Pemisahan Luther dari Roma

February 8, 2013 - Ellen G. White

Kemenangan Akhir :

Pemisahan Diri Luther dari Roma
Oleh: Ellen G. White

Luther ditahbiskan menjadi imam, dan telah dipanggil keluar dari biara menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Disini ia mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia mulai memberi ceramah mengenai Alkitab. Dan buku buku Mazmur, Injil, dan Surat Rasul rasul telah dibukakan kepada pengertian para pendengar yang bergembira. Staupitz, sahabatnya dan atasannya, mendorongnya untuk naik mimbar dan mengkhotbahkan firman Allah. Luther merasa ragu karena merasa dirinya tidak layak berbicara kepada orang orang sebagai ganti Kristus. Hanya setelah pergumulan yang lama dia menerima permintaan sahabat sahabatnya. Ia sudah mahir mengenai Alkitab, dan rakhmat Allah turun keatasnya. Kemampuannya berbicara memikat para pendengarnya, dan penyampaian kebenaran yang jelas dan dengan kuasa meyakinkan pengertian mereka, dan semangatnya yang berapi api menyentuh hati mereka.

Luther masih tetap menjadi anggota gereja kepausan yang sugguh sungguh, dan tidak pernah berpikir yang lain lain. Dengan pemeliharaan Allah ia telah dituntun untuk mengunjungi Roma. Ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, dan menginap di biara biara sepanjang perjalanan. Di salah satu biara di Italia ia dipenuhi keheranan melihat kekayaan, keindahan dan kemewahan yang disaksikannya. Para biarawan tinggal di apartemen yang megah, dengan pendapatan yang memuaskan, berpakaian yang paling mewah dan paling mahal, dan memakan makanan yang mewah. Dengan sangat ragu ragu, Luther membandingkan pemandangan ini dengan penyangkalan diri dan kesukaran yang dialaminya dalam hidupnya sendiri. Pikirannya menjadi bingung.

Akhirnya ia melihat dari kejauhan kota tujuh gunung itu. Dengan perasaan yang mendalam ia tersungkur ke tanah dan berseru, “Roma yang kudus, aku menghormatimu.” Ia memasuki kota itu, mengunjungi gereja gereja, mendengarkan cerita cerita dongeng yang diceritakan oleh para imam dan biarawan, dan menjalankan semua upacara yang diharuskan. Dimana mana ia melihat pemandangan yang memenuhinya dengan kekaguman dan ketakutan. Ia melihat bahwa kejahatan terjadi di semua tingkat pendeta. Ia mendengar lelucon yang tidak sepantasnya dari para pejabat tinggi gereja, dan dipenuhi dengan kengerian kenajisan mereka, bahkan pada waktu misa. Pada waktu ia berbaur dengan para biarawan dan penduduk, ia menemui pemborosan, pesta pora dan kebejatan. Berpaling ke tempat yang seharusnya suci, ia dapati kenajisan. “Tak seorangpun bisa membayangkan,” ia menulis, “dosa apa dan tindakan tak terpuji apa yang dilakukan di Roma. Mereka harus melihat dan mendengar sendiri supaya percaya. Dengan demikian mereka akan bisa berkata, ‘Jika ada neraka, Roma didirikan diatasnya: itu adalah suatu lobang yang dalam darimana keluar segala jenis dosa.'” D’Aubigne, b. 2, ch. 6.

Dengan dekrit yang baru, paus telah menjanjikan kesenangan kepada semua yang menaiki “Tangga Pilatus” dengan berlutut. Katanya tangga itu telah dituruni oleh Juru Selamat kita pada waktu meninggalkan pengadilan Roma, dan dengan ajaib telah dipindahkan dari Yerusalem ke Roma. Luther pada suatu hari menaiki tangga itu dengan sungguh sungguh, pada waktu mana ia tiba tiba mendengar satu suara bagaikan geledek yang berkata, “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17). Ia langsung berdiri dan segera meninggalkan tempat itu dengan malu dan ngeri. Ayat itu tidak pernah kehilangan kuasa atas jiwanya. Sejak waktu itu ia melihat lebih jelas dari sebelumnya pendapat yang keliru, yang mempercayai keselamatan diperoleh atas usaha manusia, dan pentingnya iman yang terus menerus kepada usaha Kristus. Matanya sekarang terbuka, dan tak akan pernah lagi tertutup, karena penipuan kepausan. Pada waktu ia memalingkan wajahnya dari Roma, hatinya juga ikut berpaling, dan sejak waktu itu jurang perpisahanpun semakin melebar, sampai akhirnya ia memutuskan semua hubungannya dengan gereja kepausan.

Sekembalinya dari Roma, Luther menerima gelar Doctor of Divinity dari Universitas Wittenberg. Sekarang ia bebas membaktikan dirinya kepada Alkitab yang dicintainya, seperti belum pernah sebelumnya. Ia telah bernazar untuk mempelajari dengan teliti firman Allah dan dengan setia akan mengkhotbahkannya seumur hidupnya, bukan kata kata dan ajaran ajaran para paus. Ia bukan lagi sekedar biarawan atau guru besar, tetapi juga bentara dan pejabat yang berwenang Alkitab. Ia telah dipanggil sebagai gembala untuk memberi makan kawanan domba Allah, yang telah lapar dan haus akan kebenaran. Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima ajaran lain selain yang berdasarkan otoritas Alkitab yang suci. Kata kata ini menghantam dasar supremasi kepausan. Kata kata ini mengandung prinsip vital Pembaharuan (Reformasi).

Luther melihat bahayanya meninggikan teori teori manusia di atas firman Allah. Tanpa gentar ia menyerang ketidak percayaan pada agama yang spekulatif dari para dosen, dan menentang filsafat dan teologi yang telah begitu lama mempunyai pengaruh menguasai orang orang. Ia mencela pelayanan yang seperti itu sebagai bukan saja tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Dan ia mencoba mengalihkan pikiran pendengarnya dari argumentasi yang tidak benar dengan tujuan menipu dari para ahli filsafat dan ahli teologi, kepada kebenaran kekal yang diletakkan oleh para nabi dan para rasul.

Begitu berbahaya pekabaran yang dibawanya kepada para pendengar yang rindu dan yang lapar akan kata katanya. Belum pernah pengajaran seperti itu mereka dengar sebelumnya. Berita kesukaan mengenai kasih Juru Selamat, jaminan pengampunan dan kedamaian melalui penebusan darah Nya, memberikan sukacita dan mengilhamkan suatu pengharapan kekal didalam hati mereka. Di Wittenberg satu terang sudah dinyalakan yang sinarnya harus meluas sampai ke hujung bumi, dan yang terangnya bertambah menjelang akhir zaman.

Akan tetapi terang dan kegelapan tidak bisa berbaur. Antara kebenaran dan kesalahan ada pertentangan yang tidak bisa dihilangkan. Untuk meninggikan dan mempertahankan yang satu kita harus melawan dan membuangkan yang lain. Juru Selamat kita sendiri berkata, “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34). Luther berkata beberapa tahun setelah Pembaharuan, “Allah tidak menuntun aku, Ia mendorong aku kedepan. Ia membawa aku. Aku bukan tuan atas diriku. Aku rindu hidup dengan tenang, tetapi aku telah dilemparkan ke tengah tengah keributan dan revolusi.” D’Aubigne, b. 5, ch. 2. Sekarang ia hampir terbujuk memasuki pertarungan.

Gereja Roma telah membuat rahmat Allah menjadi barang dagangan. Meja meja penukaran uang (Matius 21:12) disediakan disamping mezbah mezbah, dan udara dipenuhi hiruk pikuk teriakan para penjual dan para pembeli. Oleh karena kebutuhan dana yang besar untuk mendirikan gereja St. Petrus di Roma, surat surat pengampunan dosa telah dijual secara terbuka atas persetujuan paus. Dengan hasil kejahatan sebuah kaabah akan didirikan, tempat berbakti kepada Allah batu penjuru telah diletakkan dengan upah kejahatan dan kekjaman! Tetapi cara yang digunakan untuk memperbesar kuasa dan kekayaan Roma telah menimbulkan pukulan yang mematikan kepada kekuasaannya dan kepada kebesarannya sendiri. Inilah yang membangkitkan musuh kepausan yang paling bertekad melawan dan yang paling sukses, yang menimbulkan peperangan yang menggoncangkan istana kepausan, dan yang telah mendesak mahkota bertingkat tiga itu dari kepala paus.

› tags: martin luther /

Leave a Reply