“PEMURIDAN DAN PENUAIAN”

“TUAIAN DAN PARA PENUAI”

PENDAHULUAN

Menerapkan metode Kristus. Pekan lalu kita sudah mempelajari perihal pentingnya regenerasi dalam kepemimpinan demi kelangsungan program pemuridan. Tugas utama seorang pemimpin dalam pekerjaan Tuhan adalah memastikan bahwa pemuridan dapat berlangsung terus dengan mendidik serta melatih murid-murid yang baru dan menyiapkan jalan bagi mereka untuk menjadi pemimpin. Kesuksesan dalam pemuridan bukan berdasarkan ilmu dan metodologi temuan manusia, melainkan meniru keteladanan Yesus Kristus dalam pemuridan. Pekan ini kita masih berbicara soal pemuridan yang akan menjadi sebagai para penuai di ladang Tuhan.

“Prinsip-prinsip dan metodologi yang Yesus pakai harus tetap menjadi dasar rohani bagi persiapan orang Kristen sekarang ini…Dalam perkataan lain, teori-teori pengembangan kepemimpinan moderen jangan pernah menggantikan dasar yang Kristus sendiri telah letakkan…Penginjilan dan penggalangan murid yang sesungguhnya itu terpusat pada seputar (1) pengakuan akan keberdosaan kita, (2) penyesalan sejati yang tulus, (3) kepasrahan rohani tanpa pamrih, dan (4) tekanan yang tak tertahankan untuk menyebarluaskan pekabaran ilahi dari Allah kepada orang lain” [alinea pertama: kalimat terakhir; alinea kedua: kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Tentu saja pelajaran SS ini tidak bermaksud menafikan teori-teori dan metodologi moderen yang dikembangkan oleh kaum intelektual Kristen yang berdasarkan hikmat surgawi telah berusaha untuk menyediakan pedoman-pedoman berharga dalam penginjilan. Bagaimana pun gereja sudah terberkati dengan adanya orang-orang yang dengan tulus memikirkan cara-cara pendekatan yang berdayaguna (efisien) dan berhasilguna (efektif) untuk kemajuan pekerjaan Tuhan, namun pada akhirnya kuasa Roh dan metode alkitabiah adalah dasar utama dalam pemuridan.

Dunia terus berubah oleh karena pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, akibatnya manusia juga menjadi kian kritis cara berpikirnya dan meningkat penalarannya. Tidak ada sesuatu gaya dan pola pemuridan yang standar dan berlaku bagi setiap orang di semua tempat, maka modifikasi dalam penggalangan murid adalah hal yang wajar dan bijaksana. Namun demikian prinsip-prinsip dasar serta tujuan pokok dari pemuridan tidak pernah berubah dari zaman Yesus, zaman rasul-rasul, hingga zaman ini. Pemuridan adalah doktrin Kristus untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah.

Minggu, 16 Maret
MENARIK JIWA DENGAN KESAKSIAN (Roti Pengemis)

“Kami telah menemukan Mesias.” Cara bagaimana Yesus mendapatkan para pengikut-Nya yang pertama ditandai dengan kesaksian dari mulut ke mulut. Mula-mula adalah Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:2). Ketika pada keesokan harinya sedang bersama-sama dengan dua muridnya, yaitu Andreas dan Yohanes, Sang Pembaptis itu mengulangi kesaksiannya (Yoh. 1:35-36). Demi mendengar pernyataan yang sama dari guru mereka itu, Andreas dan Yohanes (belakangan dikenal sebagai “Yohanes Pewahyu”) serentak beranjak lalu mengikut Yesus (ay. 37). Andreas yang kemudian berjumpa dengan saudaranya, Simon Petrus, langsung bersaksi, “Kami telah menemukan Mesias” (ay. 41), lalu Petrus pun menerima ajakan Andreas (ay. 41). Filipus, seorang murid pertama lainnya, juga mengajak Natanael dengan mengatakan hal yang serupa, “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi…” (ay. 43). Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid Yesus yang pertama itu adalah pembelajar Kitabsuci yang tekun, mereka mengerti dengan istilah-istilah “Anak Domba Allah” dan “Mesias” sebagaimana tercatat dalam Taurat dan kitab para nabi itu.

Sejak dari awalnya proses pemuridan itu berlangsung melalui kesaksian demi kesaksian, di mana orang-orang yang sebelumnya telah mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya itu bersaksi kepada orang-orang lain dan dengan cara itu memuridkan mereka. Kesaksian serupa telah dilakukan juga oleh perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di Sumur Yakub (Yoh. 4:28-30). Bahkan, seperti kata Yesus sendiri, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh. 15:26; huruf miring ditambahkan), sedangkan murid-murid akan juga bersaksi oleh sebab mereka itu “dari semula bersama-sama” dengan Yesus (ay. 27). Dengan sama-sama bersaksi tentang Yesus, murid-murid sebagai unsur manusia bekerjasama dengan Roh Kudus sebagai unsur ilahi dalam memenangan jiwa-jiwa bagi Kristus.

“Meskipun Yesus sendiri harus kembali ke surga, Roh Kudus telah ditugaskan untuk menyediakan keakraban rohani yang murid-murid sudah dinikmati dalam kehadiran-Nya…Didampingi oleh Roh, murid-murid Kristus juga akan bersaksi tentang pelayanan Yesus. Allah tentu sudah menugaskan para malaikat, tanpa bantuan manusia, untuk menyiarkan injil. Gantinya, Ia memilih untuk menunjuk manusia yang berdosa, bersalah, dan tidak dapat diduga itu bagi panggilan yang suci ini” [alinea pertama: kalimat ketiga dan tiga kalimat terakhir].

Penginjilan dari mulut ke mulut. Adalah Daniel Thambyrajah Niles (1908-1970), seorang pendeta Metodis asal Srilanka, yang mengatakan bahwa “Kekristenan itu seperti seorang pengemis yang memberitahukan kepada pengemis lain di mana dia menemukan roti.” Mantan petinggi di Dewan Gereja-gereja Sedunia (menjabat sebagai sekretaris eksekutif Departemen Penginjilan, 1953) yang kaya pengalaman dalam penginjilan itu mungkin terinspirasi oleh para pengemis jalanan yang disaksikannya di negara-negara miskin. Kalau kita perhatikan, kaum pengemis memiliki rasa kesetiakawanan yang cukup kuat di kalangan mereka. Jika salah satu dari mereka mendapat roti (atau makanan apa saja), biasanya dia akan memberitahukan kepada teman-temannya di mana dia mendapatkannya.

Prinsip yang sama berlaku di antara para pengikut Kristus yang tidak bisa tinggal diam untuk memberitahukan kepada orang-orang lain pengalamannya menjadi murid Yesus. Seperti kata Petrus dan Yohanes di hadapan persidangan pemimpin agama Yahudi yang hendak membungkam mereka, “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis. 4:20). Dengarkan apa kata nabi Yeremia tentang usahanya yang sia-sia untuk berhenti menyampaikan pekabaran Tuhan, “Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,’ maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup” (Yer. 20:9; huruf miring ditambahkan).

“Berapa banyak dari saluran-saluran pilihan Allah–para pemimpin yang produktif dalam penginjilan, administrasi, dan kepemimpinan–telah diperkenalkan kepada Kristus oleh murid-murid yang setia yang jatidiri mereka, secara manusiawi, sudah lama dilupakan? Walaupun mereka ini bukanlah orang-orang yang terkemuka, pikirkanlah bagaimana pekerjaan Tuhan bisa menjadi timpang kalau saja mereka tidak dengan setia bersaksi tentang Yesus” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang pentingnya bersaksi dalam pemuridan?
1. Pemuridan hanya dapat berlangsung kalau semua murid Yesus dari zaman ke zaman menjalankan fungsi mereka sebagai saksi-saksi bagi Yesus. Anda tidak perlu menjadi seorang penginjil hebat atau penceramah ulung, tetapi cukup dengan menceritakan kepada orang lain pengalaman anda menjadi murid Kristus.
2. Seperti pengemis yang gembira mendapatkan roti akan memberitahukan kepada teman-temannya dari mana roti itu diperoleh, demikianlah seorang murid Kristus yang bahagia akan menggebu-gebu untuk bersaksi tentang Yesus. Artinya, jika anda tidak bersemangat untuk bersaksi menandakan bahwa kehidupan Kristiani anda tidak memuaskan.
3. Bersaksi bagi Yesus bukan untuk mencari nama atau mendulang pujian, melainkan harus karena terdorong oleh desakan yang timbul dari dalam diri sendiri yang sulit dibendung. Banyak saksi-saksi Kristus yang telah berjasa membesarkan pekerjaan Tuhan yang tidak banyak diketahui orang, tapi Yesus mengenal mereka.

Senin, 17 Maret
MENUNGGU PETUNJUK ROH KUDUS (Ketika Yesus Mendorong Kesabaran)

Memahami halangan dalam penginjilan. Meskipun Yesus sudah mengamanatkan kepada para murid yang mula-mula itu tentang tugas mereka untuk menjadi saksi-saksi-Nya, mereka tidak harus bersaksi secara terburu-buru sebelum diperlenngkapi oleh kuasa Roh Kudus. “Kalianlah saksi-saksi dari semuanya itu. Dan Aku sendiri akan mengirim kepadamu apa yang sudah dijanjikan oleh Bapa. Tetapi kalian harus tetap menunggu di kota ini sampai kuasa dari Allah meliputi kalian,” katanya (Luk. 24:48-49, BIMK; huruf miring ditambahkan). Bahkan dalam pengalaman Paulus dan Silas, ketika mereka hendak masuk ke wilayah Asia di sebelah timur (yaitu Asia Kecil, sekarang Turki) untuk bersaksi di tempat itu, Roh Kudus menahan langkah mereka (Kis. 16:6-7). Lalu mereka berencana untuk masuk ke daerah Bitinia (salah satu provinsi di Asia Kecil), tapi kembali Roh mencegah mereka. Mengapa? Karena Tuhan mempunyai prioritas lain bagi mereka, yaitu menginjil ke wilayah Masedonia (Eropa) di sebelah barat (ay. 9-10).

“Rasul Paulus telah menyusun rencana-rencana ambisius untuk memasuki Bitinia, tetapi Paulus yang berkemauan keras itu pun peka terhadap tuntunan Allah dan menerima gantinya menolak campur tangan Roh. Sang rasul bersedia menerima arahan Roh yang malah mengutus dia ke Makedonia. Banyak sekali mujizat yang menyertai usahanya di sana. Kalau saja Paulus langsung menuruti rencana-rencananya, missi di Eropa sudah terhenti tanpa batas waktu” [alinea terakhir].

Jadi, “kesabaran” yang dimaksud di sini adalah mengesampingkan ambisi pribadi dalam penginjilan dan tunduk kepada arahan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, pemuridan tidak mengenal batasan golongan dan kelompok etnis sebab perintah Yesus ialah “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19), namun demikian kita harus peka terhadap bisikan Roh yang mengarahkan kita ke mana usaha pemuridan itu harus diprioritaskan. Semangat penginjilan di pihak manusia mesti diselaraskan dengan kehendak ilahi demi mencapai sasaran terbaik pada waktu yang terbaik.

Panggilan dari Makedonia. Alkitab mencatat bahwa dua kali Paulus dan Silas berusaha memasuki wilayah Asia Kecil untuk menginjil, tetapi tidak dijelaskan bagaimana caranya Roh Kudus menghalangi usaha mereka itu. Kita meyakini bahwa anak kalimat “Roh Yesus menghalangi mereka” (Kis. 16:7) adalah kata-kata yang diilhamkan oleh Roh Kudus kepada Lukas selaku penulis kitab Kisah Para Rasul, itu bukan kesimpulan dari Lukas sendiri. Tentu saja semula Paulus dan Silas tidak menyadari bahwa rintangan memasuki wilayah Asia Kecil itu adalah kehendak Allah, kalau tidak mereka tidak akan mencoba sampai dua kali. Pada malam hari ketika Paulus mendapat mimpi tentang seorang Makedonia yang berdiri memanggil mereka, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami” (ay. 9), barulah Paulus mengerti “bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana” (ay. 10).

Makedonia adalah sebuah wilayah di sebelah utara Yunani yang terletak di bagian tenggara benua Eropa, dan pada abad pertama termasuk daerah jajahan kekaisaran Romawi. Masuknya pekabaran injil di Makedonia memulai era pemuridan di benua Eropa yang telah mengubah peta penginjilan dunia di zaman rasul-rasul. Jemaat-jemaat penting yang kemudian ditahbiskan oleh Paulus di tempat ini adalah Filipi dan Tesalonika, serta Korintus di bagian selatan.

“Yesus mengerti bahwa kecuali murid-murid juga mengalami kebergantungan ini, kemajuan kerajaan itu telah berada dalam keadaan bahaya yang serius. Sebaliknya, kalau mereka mempelajari pelajaran ini sejak awal, masa depan pelayanan mereka akan ditentukan demi pencapaian surgawi. Karena itu perintah-Nya adalah Tunggu…Kristus menghendaki umat percaya zaman moderen menguasai pelajaran itu juga. Orang-orang Kristen yang berniat baik tetapi percaya diri apabila tidak bersedia menunggu dengan sabar tuntunan Roh dapat mempermalukan diri mereka sendiri dan kerajaan Allah” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir; alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang nasihat untuk bersabar dalam menjalankan penginjilan?
1. Kapankah anda merasa bahwa usaha penginjilan anda yang sudah direncanakan dengan baik seperti terhalang? Mungkin Tuhan mempunyai maksud lain yang berbeda dari rencana anda itu, seperti yang dialami oleh Paulus dan Silas. Jangan putus asa, tapi mintalah petunjuk Roh Tuhan.
2. Meskipun penginjilan adalah perintah Tuhan, kita tidak dapat melaksanakannya dengan kemampuan sendiri. Perlu kesabaran untuk menunggu Roh Kudus memperlengkapi diri anda dan mengarahkan langkah anda. Halangan dalam penginjilan sering diizinkan Tuhan terjadi sebagai suatu tanda.
3. Pada zaman ini “panggilan dari Makedonia” masih akan terus bergema terhadap kita kalau rencana penginjilan kita tidak selaras dengan rencana ilahi. Setiap murid Kristus harus peka terhadap “wilayah Makedonia” ataupun “orang Makedonia” agar sesuatu tempat atau seseorang tidak terlewatkan dari usaha pemuridan kita.

Selasa, 18 Maret
MEMAHAMI KEWENANGAN DARI KRISTUS (Menjalankan Kewenangan)

Tentang “mengikat atau melepaskan” dan “pengampunan dosa.” Ketika Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat. 16:18-19; huruf miring ditambahkan), bukan berarti bahwa Petrus diberi kewenangan untuk menentukan seseorang boleh masuk surga atau tidak seperti yang mungkin pernah anda dengar. “Kunci kerajaan surga” yang dimaksud di sini adalah “jalan masuk ke surga” yaitu melalui pemuridan. Sedangkan ungkapan “terikat dan terlepas” (Grika: deō dan lyō; Ibrani: ‘asar dan hittir) merujuk kepada istilah yang lazim digunakan oleh rabi-rabi (guru-guru agama Yahudi), bahwa mereka berwenang untuk menyatakan “apa yang dilarang” dan “apa yang tidak dilarang” menurut hukum agama. Tetapi Yesus memberikan otoritas itu kepada Petrus dan murid-murid yang lain.

Kristus juga memberi kewenangan istimewa lainnya kepada murid-murid yang pertama. Pada hari Minggu malam setelah Yesus dibangkitkan, Ia mendatangi tempat di mana murid-murid dan para pengikut-Nya sedang berkumpul. Kepada mereka Yesus berkata, “Terimalah Roh Allah. Kalau kalian mengampuni dosa seseorang, Allah juga mengampuninya. Kalau kalian tidak mengampuni dosa seseorang, Allah juga tidak mengampuninya” (Yoh. 20:22-23, BIMK). Selama berabad-abad Gereja tertentu telah menggunakan ayat ini untuk menjadi dasar dari otoritas penghapusan dosa yang mereka jalankan. Tetapi Petrus sendiri menyatakan, “Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya” (Kis. 10:42-43; huruf miring ditambahkan).

“Sebagaimana Bapa menugaskan Yesus, demikianlah Kristus menugaskan murid-murid-Nya. Melalui Roh, Bapa menanamkan kuasa ilahi pada Kristus. Melalui Roh, Yesus juga menanamkan pada murid-murid-Nya kuasa ilahi yang sepadan dengan penugasan mereka di bumi ini. Tidak seorang pun pengikut yang perlu khawatir bahsa Kristus menyepelekan mereka. Setiap kecakapan, talenta, kemampuan, dan kekuatan yang diperlukan sudah diberikan” [alinea ketiga].

Kewenangan murid-murid zaman ini. Pertanyaan yang menarik ialah: Kalau Yesus telah memberi kewenangan kepada murid-murid-Nya yang pertama dulu, apakah ada juga kewenangan untuk murid-murid-Nya pada zaman ini, dan dalam hal apa? Sebagai pengikut Kristus zaman ini, kita adalah murid-murid Yesus juga. Kewenangan yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya yang pertama dulu itu juga berlaku pada kita, khususnya kewenangan untuk menjalankan pemuridan melalui penginjilan. Seperti kata Yohanes Pembaptis, “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” (Yoh. 3:34).

“Keteladanan Yesus berbicara nyaring di sini. Jika ada seseorang yang pernah memiliki hak untuk menahan kewenangan dan mendiktekan tingkah laku, tentunya itu Kristus. Sebaliknya Ia memberikan kewenangan kepada orang lain, menugaskan mereka untuk bekerja tanpa kehadiran-Nya di mana satu-satunya pengaruh-Nya adalah petunjuk dan keteladanan-Nya lalu mengutus mereka untuk melayani dan bersaksi” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Roh Kudus sudah turun ke atas orang-orang yang mengasihi Kristus. Dengan ini mereka akan disanggupkan, di dalam dan melalui kemuliaan Kepala mereka, untuk menerima setiap anugerah yang perlu demi memenuhi missi mereka. Pemberi hidup itu memegang dalam tangan-Nya bukan saja kunci maut, melainkan seluruh kekayaan surga. Segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya, dan dengan mengambil tempat-Nya di pengadilan surgawi Ia dapat membagikan berkat-berkat ini kepada semua orang yang menerima Dia” (Ellen G. White, The Bible Echo, 22 Mei 1899).

Apa yang kita pelajari tentang kewenangan yang Kristus berikan kepada pengikut-Nya?
1. Kewenangan yang Kristus berikan kepada murid-murid-Nya lebih bersifat penugasan ketimbang sebagai hak prerogatif yang bersifat menghakimi orang lain. Sebagai murid Kristus, kita tidak berhak untuk membenarkan ataupun mempersalahkan, tapi kita berhak untuk mendoakan orang lain.
2. Sebagaimana Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk menyiapkan jalan keselamatkan bagi manusia, demikianlah Yesus Kristus juga mengutus murid-murid-Nya untuk menunjukkan jalan keselamatan itu kepada orang-orang lain, dan untuk itu mereka diberi kuasa oleh Roh Kudus.
3. Dengan cara yang sama Yesus Kristus juga menugaskan kita untuk menyampaikan kabar selamat ini kepada orang-orang lain yang dapat kita jangkau, dan dengan cara yang sama pula kuasa Roh Kudus itu diberikan kepada anda dan saya untuk menyanggupkan kita melaksanakan tugas itu.

Rabu, 19 Maret
MENGGARAP LADANG TUHAN (Pekerja-pekerja Untuk Penuaian)

Tuaian sudah masak. Bagi anda yang memiliki pengalaman bertani, atau setidaknya gemar bercocok-tanam di halaman rumah sekadar rekreasi, tentu pernah merasakan betapa senangnya memanen hasil dari kebun sendiri. Tanaman itu bisa berupa sayur-sayuran, buah-buahan, atau juga bunga-bungaan. Apa yang membuat anda bergairah untuk memetik hasil tanaman itu? Ya, tentu saja, ketika melihat tanaman itu sudah matang dan siap dipetik. Ada jenis-jenis buah yang menguning, memerah, atau menghitam sebagai tanda siap dituai, sementara untuk jenis-jenis sayuran yang telah cukup tua untuk dipanen juga akan memperlihatkan tanda-tanda tertentu. Tetapi, apa jadinya dengan hasil tanaman yang tidak dipanen, karena anda terlampau sibuk? Kalau pada hari-hari ini anda berkunjung ke kota Redlands dan Loma Linda di California Selatan, tempat yang terkenal sebagai penghasil buah jeruk berbagai jenis, anda bisa menyaksikan buah-buah jeruk yang jatuh berserakkan di bawah pohon karena terlalu matang dan belum sempat dipanen. Membusuk.

Ketika hidup di dunia ini Yesus pernah merasa sedih karena melihat orang-orang yang “terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36), sehingga Dia berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (ay. 37-38). Dari zaman Yesus hidup di dunia sampai sekarang ini ladang Tuhan selalu sarat dengan tuaian yang siap untuk dipanen, dan selalu kekurangan penuai-penuai untuk memanennya. Parahnya lagi, banyak murid-murid Kristus yang tidak dapat melihat saratnya tuaian dan kurangnya penuai.

“Tuaian rohani berlimpah, tetapi para penuainya langka. Tanah hati sudah siap, bibit rohani sudah ditanam; bertunas, sarat berembun, sinar matahari berlimpah mendorong pertumbuhan yang luar biasa. Jiwa-jiwa yang sudah masak menanti penuaian, tetapi di manakah para penuai itu? Dengan menggunakan gambaran kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti, Yesus berusaha untuk membangkitkan semangat yang menjalar” [alinea pertama].

Jangkauan ke luar dan ke dalam. Benar, ladang Tuhan bukan hanya di luar gereja tapi juga di dalam gereja. Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata, “Kamulah ladang Allah, bangunan Allah” (1Kor. 3:9). Artinya, penuaian di dalam jemaat itu sama pentingnya dengan penuaian di luar jemaat. Pemuridan tidak berhenti setelah seseorang dibaptis dan menjadi bagian dari “bangunan Allah.” Namun, pemuridan di dalam jemaat harus lebih bertujuan menyiapkan penuai-penuai pergi keluar dan memanen jiwa-jiwa baru untuk dibawa masuk ke dalam lumbung Tuhan. Jemaat yang tidak menghasilkan penuai-penuai adalah jemaat yang tidak bertumbuh untuk melaksanakan prinsip pemuridan yang berkelanjutan, murid menghasilkan murid.

“Terkadang orang-orang Kristen mengidamkan persekutuan mereka dengan orang-orang percaya lainnya dan berkelompok, tanpa peduli melewatkan para pencari dunia yang telah masak bagi penuaian. Mungkin tidak menyadari pertanggungjawaban ilahi mereka terhadap jiwa-jiwa yang sedang binasa itu, mereka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan gereja, tanggungjawab sebagai warganegara, perawatan bangunan, dan proyek-proyek bermanfaat lainnya yang diabdikan untuk memelihara status quo” [alinea kedua: dua kalimat pertama].

Sebagai apa anda terpanggil? Bersediakah anda meninggalkan “zona kenyamanan” (comfort zone) anda, lalu pergi keluar untuk mencari jiwa? Para penuai selalu diperlukan untuk pergi ke ladang-ladang yang sudah siap dituai, mungkin ke tempat yang tidak pernah dijangkau sebelumnya. Kalau karena sesuatu alasan yang patut kita tidak bisa pergi ke sana, setidaknya kita bisa berdoa kepada Tuhan sebagai “yang empunya tuaian” agar mengutus para penuai yang bersedia untuk pergi.

Apa yang kita pelajari tentang tuaian yang berlimpah dan kurangnya penuai?
1. Berbeda dari keadaan murid-murid yang pertama ketika ladang Tuhan baru mulai dibuka, sehingga mereka harus pergi berpencar untuk menuai, pada zaman ini ladang kita ada di sekeliling kita. Anda tidak perlu pergi menuai di “ladang orang” untuk melaksanakan tugas penuaian.
2. Mengenali tanaman yang siap dipanen tentu lebih mudah karena adanya tanda-tanda fisik, dibandingkan mengenali jiwa yang siap dituai. Tetapi dengan bantuan Roh Kudus dan kepekaan kita, sebenarnya kita bisa mengetahui jiwa-jiwa yang sudah cukup matang untuk dituai.
3. Sementara kegiatan di dalam gereja itu penting, kita tidak dapat menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak melakukan penuaian di luar jemaat. Jangkauan ke luar dan ke dalam itu sama penting dalam program pemuridan dan penuaian.

Kamis, 20 Maret
CARI DAN SELAMATKAN (Hilang dan Ditemukan)

Terfokus pada orang berdosa. Tidak sukar mencari orang berdosa di dunia ini, sebab “semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:23); yang sulit adalah menemukan orang berdosa untuk diselamatkan. Tatkala Yesus melihat Petrus dan Andreas sedang menjala ikan di pesisir danau Galilea, Ia memanggil mereka dengan berkata: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk. 1:17). Sebagaimana dalam menjala ikan seorang nelayan tidak bisa memilih ikan mana yang ingin ditangkapnya, demikian pula dalam “menjala” manusia kita tidak dapat memilih jiwa-jiwa seperti apa saja yang menjadi sasaran. Setiap jiwa berharga bagi Tuhan, apapun latar belakangnya.

“Melalui pengajaran dan keteladanan pribadi Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk bergaul dengnan orang-orang berdosa, bahkan orang-orang yang memiliki nama jelek seperti para pelacur dan pemungut cukai. Bagaimana lagi mereka akan memuridkan seluruh dunia? Pengajaran-Nya seringkali terfokus pada orang-orang berdosa ini. Penyebutan-Nya terhadap mereka sebagai ‘yang hilang’ menunjukkan betapa berbelaskasihannya Yesus itu” [alinea pertama: empat kalimat pertama].

Untuk menemukan jiwa-jiwa yang “hilang” itu dengan sendirinya menjadikan anda dan saya sebagai “pencari” jiwa. Sebagai pencari kita berada di pihak yang aktif, sedangkan jiwa-jiwa itu di pihak yang pasif karena hanya bisa menunggu. Selaku pencari jiwa yang serius acapkali kita dituntut untuk proaktif dan menerapkan gaya “jemput bola” demi menemukan jiwa-jiwa itu. Dalam beberapa kasus seorang pencari jiwa bahkan harus lebih agresif jika harus merebut jiwa itu dari tangan iblis.

Mencari dengan perasaan kasih. Saya pernah kehilangan bagasi dalam suatu penerbangan domestik ke Jakarta yang membuat saya harus menunggu selama beberapa hari dengan perasaan harap-harap cemas. Bukan saja karena ada beberapa barang berharga di dalam kopor yang “nyasar” itu, tapi lebih penting lagi karena di dalamnya terdapat oleh-oleh istimewa yang tidak begitu gampang didapat. Ketika bagasi itu kemudian diantar ke rumah dalam keadaan utuh, baru saya merasa lega. Bukan itu saja, tapi hal ini membuat saya jadi begitu menghargai bagian pelayanan “Lost and Found” dari perusahaan penerbangan itu. Namun, di lain waktu saya juga pernah kehilangan sebuah kamera SLR produk terbaru yang tertinggal di kabin penumpang, dan tidak pernah kembali. Dua pengalaman dengan akhir dan perasaan yang berbeda.

Kehilangan barang adalah hal biasa dalam hidup kita, tetapi kehilangan jiwa-jiwa sangat menyusahkan perasaan Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus jiwa-jiwa itu. “Di seluruh injil, Yesus mendorong umat percaya untuk menjadi pencari-pencari. Ia ingin kita agar mengasihi dan menjangkau ke luar pada mereka yang hilang, tidak peduli orang-orang seperti apa mereka itu atau kehidupan macam apa yang mereka jalani” [alinea ketiga]. Dari tiga perumpamaan Yesus yang tercatat dalam injil Lukas pasal 15–tentang domba, uang dirham, dan anak yang hilang–kita menemukan ungkapan emosional ilahi sehubungan dengan ditemukannya kembali jiwa-jiwa yang hilang. Ada suatu sukacita besar di surga bilamana satu jiwa yang tersesat dibawa pulang ke rumah Bapa. Yesus berkata, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (ay. 10).

Pena inspirasi menulis: “Semua sumberdaya surga berada di bawah perintah mereka yang berusaha menyelamatkan yang hilang. Malaikat-malaikat akan menolong anda menjangkau orang yang paling bersikap masabodo dan paling mengeraskan hati. Dan bilamana satu orang dibawa kembali kepada Allah, segenap surga bersukacita; para malaikat serafim dan kerub memainkan kecapi emas mereka dan bernyanyi memuji Allah dan Anak Domba karena belas kasihan dan kebaikan penuh kasih terhadap anak-anak manusia” (Ellen G. White, Christ’s Object Lessons, hlm. 197).

Apa yang kita pelajari tentang menemukan yang hilang?
1. Kitabsuci menyamakan orang-orang yang hidup dalam dosa dan akan binasa itu sebagai jiwa-jiwa yang hilang. Ada yang seperti domba sesat terbawa arus keduniawian, ada yang seperti uang dirham tidak tahu kalau dirinya hilang dan tak bisa pulang sendiri, ada yang murtad seperti anak bungsu yang tinggalkan rumah.
2. Ada suatu perbedaan besar antara mencari jiwa-jiwa sekadar menjalankan perintah Yesus dengan mencari jiwa-jiwa karena rasa prihatin terhadap jiwa-jiwa itu. Seorang pencari jiwa sejati menginjil karena mengasihi jiwa-jiwa itu agar tidak binasa, dan untuk itu mereka siap untuk berkorban.
3. Terkadang sukacita di surga lebih gegap-gempita menyambut satu jiwa yang bertobat, dibandingkan dengan kegembiraan di antara murid-murid Kristus sendiri. Membayangkan segenap surga bergembira atas satu jiwa yang bertobat seharusnya menjadi pemicu untuk mencari lebih banyak jiwa lagi.

Jumat, 21 Maret
PENUTUP

Belajar dari murid-murid pertama. Kita mempelajari pengalaman murid-murid Yesus yang mula-mula dalam usaha menyelamatkan jiwa-jiwa bukan sekadar menjadi bahan informasi belaka, tetapi pengalaman mendetil itu disusun untuk menjadi sumber inspirasi dalam pekerjaan penginjilan untuk zaman ini. Murid-murid yang pertama itu berhasil dalam penginjilan sebab mereka telah menyiapkan diri dengan serius untuk pekerjaan itu, memperlengkapi diri dengan kuasa ilahi, dan bekerja tanpa pamrih serta bersedia untuk berkorban.

“Murid-murid merasakan kebutuhan rohani mereka dan berseru kepada Tuhan untuk pengurapan minyak kudus yang melayakkan mereka bagi pekerjaan penyelamatan jiwa-jiwa. Mereka tidak meminta berkat hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka diberati dengan beban penyelamatan jiwa-jiwa” [tiga kalimat pertama].

Setiap orang harus mendengar Kabar Baik tentang keselamatan oleh percaya, dan untuk itu tugas anda dan saya untuk menyampaikan kabar keselamatan itu kepada orang-orang lain dengan siapa kita berinteraksi setiap hari. Mungkin kita harus mengubah cara pandang kita terhadap orang lain: rekan bisnis sebagai jiwa-jiwa untuk diselamatkan; teman bergaul sebagai jiwa-jiwa yang harus diselamatkan; rekan sekerja sebagai jiwa-jiwa yang akan diselamatkan.

“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rm. 10:13-14).

Leave a Reply