PEMURIDAN DAN PENYEMBUHAN HOLISTIK

February 13, 2014 - Loddy Lintong

“MEMURIDKAN ORANG SAKIT”

Sabat Petang, 25 Januari

PENDAHULUAN

 

Melayani orang sakit. Tidak ada hal yang paling didambakan oleh orang yang sedang menderita sakit lebih dari kerinduannya untuk sembuh. Namun sementara kesembuhan itu membutuhkan waktu, seringkali suatu jangka waktu yang panjang, pasien juga perlu penghiburan dan dorongan semangat untuk sabar selama dalam proses penyembuhan. Penyakit seringan apapun selalu menimbulkan ketidaknyamanan pada si penderita dan kerepotan bagi keluarganya, tapi di dunia yang berdosa ini penyakit sering menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak dapat dihindarkan. Orang sakit selalu memerlukan pelayanan, tidak hanya layanan medis tapi juga layanan sosial. Lebih dari itu, seorang yang sedang sakit membutuhkan pelayanan doa demi kesembuhannya.

 

Yesus suka menjenguk orang yang menderita sakit supaya dapat menyembuhkannya, di antaranya adalah ibu mertua Petrus. “Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia” (Mat. 8:14-15). Tapi Yesus juga pernah sengaja berlama-lama untuk mengunjungi Lazarus yang sedang sakit dengan suatu maksud (Yoh. 11:5-6), dengan mengatakan: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ay. 4). Yesus datang ke rumah Maria dan Marta di kampung Betania setelah Lazarus, saudara laki-laki mereka, sudah dikubur empat hari lalu (ay. 17) tapi Yesus kemudian mengadakan mujizat membangkitkan Lazarus dari kuburnya (ay. 43-44).

 

“Selama pelayanan-Nya Yesus mencurahkan lebih banyak waktu menyembuhkan orang sakit ketimbang berkhotbah. Mujizat-mujizat-Nya menyaksikan tentang kebenaran firman-Nya, bahwa Ia datang bukan untuk membinasakan tetapi untuk menyelamatkan. Ke mana saja Ia pergi kabar tentang kemurahan-Nya mendahului Dia. Di mana saja Ia pernah lewat orang-orang yang telah menikmati belas kasihan-Nya bersukacita karena kesehatan dan mencoba kuasa-kuasa yang baru mereka temukan itu” [empat kalimat pertama].

 

Berbeda dari kesembuhan yang diperoleh melalui pengobatan dan tindakan medis dokter duniawi, penyembuhan yang Yesus berikan kepada manusia lebih dari sekadar kesejahteraan fisik untuk kehidupan sementara di dunia ini tetapi juga demi kehidupan di akhirat. Karena itu Yesus selalu mengaitkan penyembuhan dengan iman, seperti yang Ia katakan kepada penderita kusta yang kembali untuk berterimakasih sambil tersungkur di depan kaki-Nya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19). Kristus memberi kesembuhan duniawi dan keselamatan surgawi.

 

MINGGU, 26 Januari

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN (Mesias Sang Penyembuh)

 

Hubungan penyakit dengan dosa. Tentu saja, ada hubungan kasuistik antara penyakit dan dosa. Ketika dunia ini baru diciptakan segala sesuatu sempurna dan tidak ada penyakit apapun, sampai Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa oleh melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan di Taman Eden itu. Akibat dari “pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut” (Rm. 5:15), sebab “upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23). Secara umum kematian adalah akibat dari dosa, tapi secara pribadi penyakit bisa merupakan “produk samping” dari gaya hidup berdosa. Sebutlah di antaranya HIV/AIDS dan penyakit kelamin akibat perilaku seks serampangan, sirosis hati akibat kecanduan minuman beralkohol, penyakit saluran pernafasan maupun tuberkulosis paru akibat ketagihan merokok, obesitas dan pengerasan pembuluh arteri karena gelojoh, dan lain-lain. Tubuh kita adalah “bait Allah” tempat di mana Roh Allah tinggal, dan siapa merusak tubuhnya sendiri oleh gaya hidup yang berdosa akan dibinasakan oleh Tuhan (1Kor. 3:16-17).

 

Yesus sendiri mengidentifikasikan penyakit dengan dosa, baik dosa orang itu sendiri maupun dosa masyarakat lingkungannya. Kepada orang lumpuh yang disembuhkannya di tepi kolam Betesda itu Yesus berpesan, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk” (Yoh. 5:14). Demikian juga kepada orang lumpuh lainnya yang terpaksa diturunkan dari atap untuk bisa disembuhkan oleh Yesus yang berada di dalam rumah yang penuh sesak itu, Ia berkata, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5). Bahkan, penyakit juga–dan yang ini jarang kita perhatikan!–bisa timbul akibat turut ambil bagian dalam perjamuan kudus secara “tidak layak” sehingga “ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” dan banyak “yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal” (1Kor. 11:27-30).

 

“Pada zaman dulu, penyakit dianggap sebagai akibat dari perbuatan dosa. (Bahkan sekarang pun siapa yang belum pernah–walau hanya sejenak–bertanya-tanya apakah penyakit, yang dialami sendiri ataupun orang yang dikasihi, itu terjadi sebagai hukuman atas dosa?) Dalam kitab Ayub teman-temannya beranggapan bahwa kesialannya, termasuk penyakit yang dideritanya, adalah akibat dari kesalahan-kesalahan yang tersembunyi; maksudnya ialah bahwa bagaimanapun dosanyalah yang menyebabkan keadaannya yang sulit itu” [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

 

Disembuhkan karena iman. Yesus adalah sumber keselamatan serta sumber kesembuhan, dan dalam pelayanan-Nya selama berada di dunia Ia seringkali menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati oleh sebab iman dari pasien itu sendiri maupun keluarganya. Yesus bukan saja menyembuhkan orang-orang yang sakit jasmani tetapi juga orang-orang yang kerohaniannya “sakit” akibat dosa, sebagaimana pernyataan-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat. 9:12-13). Matius pasal 9 adalah salah satu pasal yang sarat dengan mujizat yang dilakukan oleh Yesus untuk menyembuhkan orang-orang sakit maupun membangkitkan orang mati, dan iman di pihak manusia merupakan unsur paling penting dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus.

 

Kepada orang lumpuh di kampung-Nya Yesus berkata, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni… Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu” (ay. 2 dan 6). Selanjutnya, sebelum mendatangi rumah kepala rumah ibadah untuk membangkitkan anak perempuannya, Yesus yang terkesan dengan iman seorang perempuan pengidap penyakit perdarahan yang menjamah jubah-Nya itu berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 22). Iman sebagai hal yang penting dalam penyembuhan terungkap dalam dialog antara Yesus dengan dua orang buta yang mengikuti-Nya sambil mengiba-iba memohon penyembuhan. Sebelum mengadakan mujizat penyembuhan bagi mereka Yesus bertanya dulu, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Setelah mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya” barulah Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (ay. 28-29).

 

“Yesus mengakui bahwa missi-Nya adalah untuk mengkhotbahkan pembebasan dan untuk menyembuhkan orang-orang buta (Luk. 4:17-19). Ia menarik banyak orang melalui kuasa yang berasal dari kasih dan tabiat-Nya. Sebagian mengikuti Dia karena mereka mengagumi khotbah-Nya yang mudah dimengerti. Sebagian lagi menjadi murid-murid oleh sebab bagaimana Ia memperlakukan orang-orang miskin. Namun banyak yang mengikuti Kristus karena Ia telah menjamah dan menyembuhkan mereka dari kehancuran” [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang Yesus sebagai sumber penyembuhan?

1. Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa penyakit yang diderita seseorang adalah akibat dari dosanya atau dosa orangtuanya secara spesifik, namun secara umum dapat dipastikan bahwa dosa manusia berakibat langsung terhadap segala penyakit yang diderita manusia.

2. Missi kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini selain untuk mati bagi dosa manusia juga untuk menanggung “penyakit” kita dan memikul “kesengsaraan” kita, supaya “oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:3-5). Bahkan penyembuhan yang dilakukan-Nya berkaitan dengan missi ini (baca Mat. 8:16-17).

3. Yesus tidak saja memberi kesembuhan dari penyakit jasmani tapi juga membawa penyembuhan untuk penyakit rohani, yaitu keampunan dosa dan keselamatan jiwa. Bagi kedua hal ini, yaitu kesembuhan jasmani dan keampunan dosa, dasar utamanya adalah iman.

 

Senin, 27 Januari

KESEMBUHAN SEUTUHNYA (Menyembuhkan Tubuh)

 

Hubungan tubuh dan jiwa. Adalah Plato (429-347 SM) yang mengajarkan tentang keterpisahan antara tubuh (só̱ma) dan jiwa (psūkhē) sebagai dua entitas yang berbeda, yaitu dikenal dengan teori dualisme. Menurut filsuf Yunani purba tersebut, jiwa itu abadi dan sudah ada sebelum tubuh terbentuk tapi kemudian masuk ke dalam tubuh yang fana dan tidak sempurna dalam sosok seorang manusia, dan selama seseorang hidup maka jiwa tersebut “terpenjara” dan baru akan bebas pada saat orang itu meninggal dunia ketika tubuhnya “melepaskan” jiwanya. Sedangkan Aristotel (384-322 SM), ilmuwan dan filsuf Yunani lainnya, meskipun selama 20 tahun menjadi murid Plato tapi dalam hal ini tidak sependapat dengan gurunya itu. Aristotel mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa merupakan dua substansi yang tak terpisahkan sebagai bagian dari manusia yang seutuhnya. Dengan demikian, menurut guru privat Alexander Yang Agung ini, semua yang dirasakan oleh jiwa itu dalam cara tertentu berpengaruh pada tubuh.

 

Dalam dunia kedokteran dikenal apa yang disebut “penyakit psikosomatik,” yakni ketidakseimbangan rohani (tekanan batin maupun gangguan emosional) yang menimbulkan gejala-gejala sakit pada tubuh ataupun memperburuk penyakit jasmani yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa 60-70 persen penyakit lambung disebabkan oleh gangguan psikologis seperti depresi, marah, frustrasi, dendam, dan sebagainya. Gangguan kejiwaan juga bertanggungjawab atas memburuknya penyakit asma, saluran pernafasan, bahkan penyakit jantung. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa penyakit psikosomatik terjadi bilamana emosi negatif mempengaruhi sistem otonom tubuh, sistem hormonal dan sistem kekebalan tubuh. Seorang dokter yang memiliki pandangan dikotomis antara jiwa dan raga akan sulit melakukan diagnosis yang tepat terhadap gangguan-gangguan fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan tersebut.

 

“Tubuh, pikiran, dan jiwa hanyalah aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian atau keberadaan manusia, bukan entitas-entitas yang berdiri sendiri. Karena itu, apapun yang mempengaruhi tubuh mempengaruhi pikiran dan jiwa, yaitu aspek-aspek pribadi yang saling berkaitan. Maka, bilamana Kristus menyembuhkan, Ia tidak semata-mata membasmi penyakit kanker atau menyembuhkan penyakit jantung; Ia mengubah pengalaman fisik, mental, dan rohani manusia” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

 

Pendekatan holistik. Alkitab mengatakan bahwa Yesus menjadikan pelayanan penyembuhan penyakit sebagai bagian dari penginjilan yang dilakukan-Nya. Ia menyembuhkan segala macam penyakit dan kesusahan manusia, bukan saja atas orang-orang di negeri-Nya sendiri tapi juga dari negeri tetangga. “Di Galilea, Yesus berkeliling di seluruh negeri dan mengajar di rumah-rumah ibadat. Ia memberitakan Kabar Baik bahwa Allah akan memerintah. Dan Ia juga menyembuhkan orang-orang yang sakit dan cacat.Kabar tentang Yesus itu tersebar di seluruh negeri Siria, sehingga banyak orang datang kepada-Nya. Mereka membawa orang-orang yang menderita segala macam penyakit dan kesusahan. Orang-orang yang kemasukan roh jahat, yang sakit ayan, dan yang lumpuh,semuanya disembuhkan oleh Yesus” (Mat. 4:23-24, BIMK; huruf miring ditambahkan).

 

Dunia kedokteran juga mengenal istilah “pengobatan holistik” (holistic medicine) dalam proses penyembuhan, yaitu berfokus pada bagaimana unsur-unsur jasmani, pikirani, rohani dan emosi seseorang yang saling kait-mengait dapat bersinergi untuk menopang dan memelihara kesehatan seseorang. Kalau ada salah satu dari unsur-unsur ini yang tidak sehat maka hal itu diyakini akan mempengaruhi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Jadi, pengobatan holistik adalah cara pengobatan melalui pendekatan menyeluruh terhadap kondisi kesehatan seseorang yang seutuhnya.

 

“Yesus menyembuhkan lebih dari sekadar tubuh saja. Kristus selalu menyembuhkan orang-orang seutuhnya. Pendekatan holistik-Nya mengakui bahwa kesehatan jasmani tidak dapat dipisahkan dari kesehatan rohani. Melalui penyembuhan fisik Ia mempengaruhi transformasi rohani. Pada tingkatan yang lebih luas, itulah tujuan sepenuhnya” [alinea terakhir: lima kalimat pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang metode penyembuhan yang menyeluruh dari Kristus?

1. Manusia yang seutuhnya terdiri atas aspek-aspek jasmani, rohani, dan pikirani yang seimbang. Jiwa (rohani) dan raga (jasmani) adalah dua unsur dalam diri manusia yang saling mempengaruhi secara khusus, di mana bila salah satu terganggu yang lainnya ikut merasakan akibatnya.

2. Seseorang disebut sehat bukan karena dia tidak sakit, tetapi karena ketiga aspek dalam dirinya itu berada dalam kondisi yang nyaman dan kesejahteraannya seimbang. Penyakit yang dimanifestasikan sebagai gangguan pada tubuh seringkali merupakan gejala dari terganggunya kesejahteraan dan kenyamanan dua aspek lainnya.

3. Dalam tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap manusia ketika Ia berada di dunia ini selalu menyentuh dua aspek utama seseorang, kesembuhan jasmani dan rohani. Yesus bukan hanya ingin menyembuhkan manusia dari penyakit, tapi juga menyelamatkan manusia dari kebinasaan jiwa.

 

Selasa, 28 Januari

KESEHATAN LAHIR-BATIN (Menyembuhkan Pikiran dan Tubuh)

 

Disembuhkan untuk diselamatkan. Konsep pemuridan Kristen bertujuan menjadikan sebanyak mungkin orang, kecil-besar, tua-muda, pria-wanita, menjadi pengikut-pengikut atau murid-murid Kristus. Menjadi pengikut atau murid Kristus berarti mengamalkan suatu kehidupan serupa dengan Kristus yang lemah-lembut, rendah hati, ramah-tamah, peduli terhadap sesama, suka menolong tanpa pilih buluh, dan rela berkorban. Pemuridan adalah sebuah pandangan yang aktif dan pro-aktif, selalu mencari dan tidak bersifat menunggu di tempat. Itulah sebabnya Yesus Kristus tidak pernah tinggal lama di satu tempat, tetapi terus bepergian dari satu kampung ke kampung yang lain sampai semua wilayah yang dapat dijangkau bisa dicapai. Pemuridan Kristen adalah untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini dan mempersiapkan banyak orang bagi kerajaan surga (Mat. 4:23; Mrk. 4:30-32; Luk. 4:43-44).

 

Salah satu cara efektif untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia ini seperti yang dilakukan Yesus ialah dengan melayani manusia dalam kebutuhan-kebutuhan dasar mereka, antara lain melalui penyembuhan penyakit. Kesehatan adalah keperluan hakiki manusia, dan kesembuhan merupakan kebutuhan mendesak dari orang sakit. Itulah sebabnya Yesus Kristus selama masa kehidupan sebagai orang dewasa di dunia ini sangat giat menyembuhkan orang-orang sakit di sela-sela waktu-Nya untuk menginjil dan mengajar. Yesus juga mengaruniakan kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit dan mengusir roh jahat kepada murid-murid-Nya yang mula-mula (Mat. 10:1; Luk. 9:1). Pada zaman Yesus, manusia disembuhkan untuk diselamatkan.

 

“Melalui penyembuhan jasmani dan pemulihan pikirani, Yesus menjadikan murid-murid. Seringkali pasien-pasien Kristus menderita penyakit pikirani dan jasmani. Penyembuhan jasmani itu sendiri tidak pernah menjadi sasaran akhir. Tujuan penghabisan selamanya adalah pemuridan. Penyembuhan bisa saja menghasilkan tambahan dua puluh, lima puluh, atau mungkin tujuh puluh lima tahun yang berkualitas. Pemuridan menawarkan hidup yangkekal bersama Kristus” [alinea pertama].

 

Kegalauan batin dan gangguan jasmani. Pada ulasan dalam pelajaran kemarin (Senin, 27 januari) kita telah membahas tentang penyakit psikosomatik, yaitu gejala-gejala gangguan fisik yang dipicu oleh masalah pikiran dan jiwa. Seseorang yang mengalami kegalauan batin sudah terbukti secara ilmiah akan menimbulkan berbagai masalah pada kesehatan lahiriah, sebab jiwa dan raga adalah dua aspek yang tak terpisahkan dalam diri kita sebagai manusia seutuhnya. Kesehatan yang sempurna adalah meliputi kesembuhan pikiran, hati dan jiwa sebagai sumber dari gangguan jasmani.

 

Ini membuat saya teringat pada seorang dokter missionaris di Rumah Sakit Advent Bandung pada dasawarsa 1970-an yang bijak dan rohani. Bilamana menghadapi seorang pasien dengan berbagai keluhan fisiologis, dan berbagai pengobatan serta terapi sudah dilakukan tetapi tidak membawa hasil, dokter ini akan melepaskan stetoskopnya dan menutup berkas-berkas rekam medis di atas meja praktiknya, lalu dengan tatapan kebapakan yang simpatik bertanya kepada pasien itu: “Apakah anda mau berbagi dengan saya masalah pribadi yang telah memberatkan hati anda?” Sebagaimana diceritakan oleh perawat wanita yang menjadi asisten pendamping, dokter tua ini akan memberi konsultasi yang bersifat menenteramkan batin dan atas kesediaan pasien itu lalu berdoa bersama.

 

“Penyakit jasmani kadang-kadang disebabkan oleh rangsangan pikiran. Hubungan antara pikiran dan tubuh dikukuhkan oleh ilmu kedokteran. Kecemasan cenderung menyebabkan masalah lambung. Kekhawatiran mengakibatkan gangguan tidur. Amarah yang tidak terkendali menjadi faktor penyakit jantung. Mengajar orang tentang prinsip-prinsip kesehatan pikiran harus menyoroti pentingnya percaya kepada Tuhan, dan secara alamiah akan menuntun mereka kepada komitmen rohani pribadi dan pemuridan seutuhnya” [alinea kedua].

 

Apa yang kita pelajari tentang penyembuhan pikiran dan tubuh?

1. Menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani adalah hal pokok dalam konsep pemuridan Kristen. Seorang yang mengalami tekanan batin dapat membuat tubuhnya sakit, begitu juga sebaliknya. Acapkali pula penyakit fisik yang parah dan tak kunjung sembuh berdampak buruk pada ketenangan jiwa dan keseimbangan berpikir.

2. Penyembuhan menyeluruh diperlukan untuk kesehatan menyeluruh dengan pendekatan holistik. Kesehatan seutuhnya juga membutuhkan usaha seutuhnya serta komitmen menyeluruh dari para pelaksana pemuridan, suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih.

3. Kondisi lahir dan batin seseorang dapat menjadi pintu masuk (entry point) bagi program pemuridan jika dilakukan secara bijaksana dan tanpa memberi kesan memanfaatkan situasi. Pemuridan Kristen bertujuan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan orang lain.

 

Rabu, 29 Januari

PENGHARAPAN MASA DEPAN (Kebangkitan dan Kehidupan)

 

Apa yang Yesus tawarkan? Kemajuan teknologi informasi telah membuat Bumi ini terasa semakin kecil dengan mendekatkan orang-orang dari berbagai tempat yang dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer menjadi seperti tetangga dekat ketika berinteraksi lewat dunia maya (cyberspace), misalnya melalui jejaring-jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, selain ratusan situs jejaring sosial lainnya. Menurut sebuah sumber, sampai dengan Januari 2014 ini Facebook sudah memiliki lebih dari 1,23 milyar pengguna aktif, dan Twitter separuhnya. Fitur yang ingin saya sorot tentang kedua media sosial paling populer ini bukan jumlah teman (Friends) yang anda miliki, tapi banyaknya Followers yang membuntuti setiap postingan anda. Konon, ada beberapa selebriti dan politikus di tanah air yang memiliki “Pembuntut” di akun Twitter mereka hingga mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Pertanyaannya, apa yang ditawarkan oleh orang-orang terkenal itu di laman mereka sehingga selalu dinantikan oleh banyak orang? Informasi penting dan berharga, atau sekadar kicauan pendapat yang dangkal dan curahan isi hati tak bernilai?

 

Yesus Kristus menarik para pengikut yang terus bertambah banyak bukan karena popularitas atau janji-janji kosong, melainkan karena pelayanan yang nyata serta tawaran penyelesaian yang simpatik terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Lebih dari sekadar kebutuhan dasar manusia sehari-hari, Yesus bahkan menawarkan pengampunan dosa dan keselamatan abadi. Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini Sang Juruselamat telah melayani rakyat kecil maupun pemuka masyarakat dengan keperluan-keperluan jasmani maupun rohani mereka, menawarkan kebahagiaan surga dan hidup kekal kepada setiap orang yang menyambut-Nya.

 

“Demikianlah, Yesus menyediakan tiga peragaan terkenal untuk melawan orang-orang yang tidak percaya, membeberkan kepalsuan-kepalsuan, dan memuaskan para pencari kebenaran sejati. Anak perempuan Yairus, anak lelaki seorang janda, dan akhirnya Lazarus yang membuktikan bahwa tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan ini adalah asli. Penyakit dan kecelakaan mungkin pada awalnya menang, tetapi hidup kekal pada akhirnya akan menaklukkannya. Kesembuhan tidak akan terjadi setiap kali diminta, tetapi kehidupan abadi terjamin bagi semua orang yang menjadikan Yesus sebagai Juruselamat mereka” [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

 

Hidup kekal dijanjikan. Seseorang pernah berkata: Kematian itu bukanlah lawan dari kehidupan, tapi kematian adalah bagian dari kehidupan. Dalam pengertian tertentu pendapat ini benar, yaitu apabila kita menyadari bahwa kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan berdosa yang akan berujung pada kematian. Salah satu ayat Alkitab yang populer di kalangan orang Kristen ialah Roma 6:23, yang menyatakan bahwa “upah dosa ialah maut.” Namun kita terlalu terpaku dan berhenti pada kalimat pertama itu saja, lupa bahwa apa yang sebenarnya lebih penting dari pernyataan rasul Paulus itu terdapat pada kalimat berikutnya, “tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Kalau anda dan saya telah menyambut Yesus Kristus berarti kita sudah menerima karunia hidup kekal dari Allah, dan hidup kekal itu jauh lebih penting daripada kematian.

 

Itulah sebabnya dalam suratnya kepada umat percaya di Korintus, rasul yang sama berkata: “Sebab kami tahu bahwa kalau rumah–yakni tubuh–yang kita diami di dunia ini dibongkar, Allah akan menyediakan bagi kita sebuah rumah di surga, yang dibuat oleh Allah sendiri dan yang tahan selama-lamanya. Di dalam rumah yang sekarang ini, kita mengeluh sebab kita rindu sekali tinggal di dalam rumah kita yang di surga itu. Rumah itulah tubuh kita yang baru. Selama kita tinggal di dalam rumah yang dari dunia ini, kita mengeluh karena beban kita berat. Bukannya karena kita ingin lepas dari tubuh kita yang dari dunia ini, tetapi karena kita ingin mengenakan tubuh yang dari surga itu, supaya tubuh kita yang bisa mati ini dikuasai oleh yang hidup” (2Kor. 5:1-4, BIMK).

 

Pada zaman Yesus dan rasul-rasul pun tidak semua orang yang sakit mendapat kesempatan untuk menerima mujizat penyembuhan, apalagi kita yang hidup pada zaman ini. “Namun apa yang kita miliki adalah sesuatu yang bahkan jauh lebih baik dari suatu mujizat penyembuhan, dan itu ialah janji kebangkitan untuk hidup kekal pada akhir zaman bilamana Yesus akan datang dan ‘orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan, dan mereka akan memegang pemerintahan itu sampai selama-lamanya, bahkan kekal selama-lamanya’ (Dan. 7:18)” [alinea terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang tawaran kebangkitan dan hidup kekal dari Kristus?

1. Menjadi pengikut orang-orang terkenal dan berkuasa boleh jadi dapat mendatangkan keuntungan, sedangkan menjadi pengikut Kristus seringkali mendatangkan kesengsaraan. Tetapi sementara menjadi pengikut manusia hanya berakhir di kubur, menjadi pengikut Kristus akan berujung pada hidup kekal.

2. Bagi orang yang tidak percaya, kelahiran adalah awal perjalanan menuju kematian; bagi orang percaya, kematian adalah awal perjalanan menuju hidup kekal. Walaupun kesembuhan dari penyakit jasmani tidak selalu kita nikmati, namun sebagai umat percaya kita yakin akan menikmati hidup kekal tanpa penyakit.

3. Kematian tentu adalah sesuatu yang menakutkan bagi banyak orang, tapi tidak bagi orang saleh dan beriman. Seperti kata rasul Paulus, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Bagi umat Tuhan kematian bukan persoalan, tetapi kebangkitan keberapa kita tergolong, pertama atau kedua?

 

Kamis, 30 Januari

MUJIZAT PENYEMBUHAN DARI ZAMAN KE ZAMAN (Warisan Penyembuhan Kristus)

 

Penyembuhan di zaman rasul-rasul. Kehidupan dan peribadatan Gereja yang mula-mula ditandai dengan berbagai mujizat penyembuhan dan karunia-karunia Roh Kudus sebagaimana disebutkan dalam 1Korintus 12, khususnya yang berlangsung selama abad pertama sesudah Kristus. Banyak ahli teologia yang berpendapat bahwa semua tanda ajaib itu diperlukan dalam rangka menarik perhatian masyarakat kafir penyembah berhala yang menyukai tanda ajaib itu kepada Kekristenan, tetapi sesudah itu mujizat tidak diperlukan lagi.

 

“Murid-murid abad pertama menyaksikan langsung janji Kristus untuk melihat ‘hal-hal yang lebih besar daripada hal-hal ini’ digenapi (Yoh. 1:50, bandingkan dengan Yoh. 5:20; 14:12). Mujizat penyembuhan dan kebangkitan mengikuti pelayanan-pelayanan Kekristenan yang mula-mula dari murid-murid paling terkemuka: Petrus dan Paulus. Peristiwa-peristiwa ini secara mencolok digambarkan dalam pertumbuhan gereja mula-mula. Hadirat Allah yang kekal, ditandai oleh mujizat penyembuhan, mempengaruhi ribuan pemimpin agama untuk menerima Kristus. Seringkali jemaat mereka mengikuti” [alinea pertama].

 

Apakah Tuhan masih mengadakan mujizat melalui hamba-hamba-Nya pada akhir zaman ini? Kalau anda mengajukan pertanyaan ini kepada golongan Kristen beraliran kharismatik pasti anda akan mendapat jawaban tegas yang mengiyakan. Tetapi sementara kita harus berhati-hati dalam menilai mujizat penyembuhan dan tanda ajaib sebagai bukti hadirat dan kuasa Allah (baca Mat. 7:22-23; Mat. 24:24), kita juga tidak boleh menjadi orang Kristen yang skeptis terhadap kuasa dari karunia Roh Kudus yang masih terus bekerja sejak zaman rasul-rasul hingga sekarang (baca Kis. 2:17-18). Janganlah kita mengambil posisi sebagai “kaum Farisi” moderen yang karena tidak percaya lalu menghakimi orang lain (baca Mat. 21:22-23; Kis. 4:5-7).

 

Kuasa penyembuhan pada zaman ini. Penyakit tidak akan pernah hilang dari dunia yang berdosa ini, karena itu orang sakit akan selalu ada di sekitar kita. Bahkan dengan semakin seringnya terjadi anomali cuaca akibat faktor-faktor aktivitas manusia yang berdampak buruk pada kondisi alam, di samping pola hidup manusia itu sendiri yang menyebabkan kemerosotan kualitas hidup, jenis-jenis penyakit pun berkembang dan meluas. Banyak penyakit yang sudah lama merajalela tapi belum ditemukan obat yang paten dan terapi yang manjur untuk benar-benar menyembuhkannya, sebutlah misalnya kanker dan HIV/AIDS. Dalam keadaan ini, apakah kita akan berserah pada nasib atau bergantung pada kuasa penyembuhan ilahi?

 

Sebagai gereja kita lazim menerapkan praktik meminyaki orang yang sakit parah dan sekarat, mengikuti nasihat rasul Yakobus: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan” (Yak. 5:14). Prosedur ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kedua belas murid Yesus yang pertama ketika mereka menjalani praktikum penginjilan di lapangan (baca Mrk. 6:12-13). Tapi yang lebih sering kita lakukan–dan kerap terkesan sekadar rutinitas yang bersifat formalitas ketimbang sebagai suatu permohonan yang khusuk–ialah melalui doa syafaat pada acara khotbah ketika orang yang memimpin doa bertelut membaca nama-nama yang perlu didoakan dari secarik kertas di tangannya. Meskipun Tuhan mendengar setiap doa umat-Nya, tapi mungkin untuk memperoleh penyembuhan ilahi bagi saudara-saudara kita yang menderita sakit perlu dilayangkan doa syafaat yang lebih tekun, khidmat, dan terus-menerus.

 

“Jelaslah kesehatan merupakan kepedulian yang terus-menerus dan pelayanan penyembuhan adalah fungsi yang terus-menerus dari gereja Kristus. Penyembuhan tercatat di antara karunia-karunia rohani. Petunjuk-petunjuk untuk menjalankan karunia penyembuhan Allah kepada mereka yang menderita sakit tercatat dalam Kitabsuci. Karunia-karunia ini menguntungkan umat percaya hingga kedatangan Kristus kedua kali bilamana hadirat-Nya secara pribadi akan membuat itu semua tidak diperlukan” [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

 

Apa yang kita pelajari tentang mujizat penyembuhan zaman dulu dan kini?

1. Mujizat penyembuhan sudah menjadi bagian dari pekerjaan penginjilan Kristus, dan sesudah kenaikan-Nya ke surga hal itu dilanjutkan oleh murid-murid-Nya yang pertama. Yesus tidak pernah berubah pikiran dan mencabut kebijakan-Nya untuk menggunakan mujizat di mana perlu demi kepentingan pekerjaan-Nya.

2. Setan juga dapat melakukan mujizat penyembuhan melalui agen-agennya untuk meniru kuasa ilahi demi menipu manusia. Tapi sementara kita harus waspada terhadap tipuan itu, kita juga harus berhati-hati agar tidak begitu saja menghakimi hanya karena “mereka” yang mengadakannya, bukan kita (baca Mrk. 9:38-40).

3. Penyembuhan ilahi adalah warisan Kristus kepada murid-murid-Nya sepanjang zaman, bahkan berbagai mujizat akan lebih gencar diadakan menjelang kedatangan-Nya kedua kali (Kis. 2:19-20). Mujizat penyembuhan sering ditentukan oleh kadar keyakinan orang yang didoakan maupun yang mendoakan. Jadi, percayalah.

 

Jumat, 31 Januari

PENUTUP

 

Kesembuhan rohani mendahului kesembuhan jasmani. Sebagaimana penyakit jasmani seringkali disebabkan oleh adanya penyakit rohani, maka penyembuhan jasmani acapkali harus didahului dengan penyembuhan rohani. Pengobatan yang jitu adalah pengobatan yang terfokus pada penyebab penyakit, bukan pada gejala-gejala penyakit yang timbul. Namun banyak dokter yang baik mengobatinya sekaligus, penyebab penyakit dan gejalanya diobati secara bersamaan karena biasanya yang membuat pasien menderita adalah akibat dari gejala-gejala penyakit itu. Yesus Kristus, Tabib surgawi itu, juga melakukan hal yang sama ketika Ia menyembuhkan penyakit jasmani seseorang dan pada waktu yang sama mengampuni dosa orang itu yang menjadi penyebab dari penderitaannya.

 

“Orang lumpuh itu menemukan dalam Kristus penyembuhan bagi jiwa maupun tubuhnya. Dia memerlukan kesehatan jiwa sebelum dia bisa menghargai kesehatan tubuh. Sebelum penyakit jasmani dapat disembuhkan, Kristus harus mendatangkan kelegaan pada pikiran, dan membersihkan jiwa dari dosa. Pelajaran ini tidak boleh diabaikan” [alinea pertama: empat kalimat pertama].

 

Masuknya dosa ke Bumi ini telah mengakibatkan kemerosotan secara menyeluruh, terhadap alam maupun makhluk-makhluk hidup penghuninya. Kemerosotan atas kehidupan manusia juga bersifat menyeluruh, yaitu kemerosotan yang meliputi kondisi jasmani, rohani, pikirani, dan akhlak. Kita pun merindukan pemulihan seutuhnya kepada keadaan semula waktu manusia baru diciptakan Allah di Taman Eden, dan itulah yang dijanjikan Yesus kepada semua umat-Nya yang setia bilamana Ia datang–sebentar lagi!

 

“Tetapi kita adalah warga negara surga. Dari situlah juga Raja Penyelamat kita, Tuhan Yesus Kristus, akan datang. Dialah yang kita nanti-nantikan dengan rindu. Tubuh kita yang lemah dan dapat hancur ini, akan diubah oleh Kristus menjadi seperti tubuh-Nya sendiri yang mulia. Ia dapat melakukan itu karena Ia memiliki kuasa untuk menaklukkan segala sesuatu” (Flp. 3:20-21, BIMK).

 

Leave a Reply