“PEMURIDAN, MENDIDIK PEMIMPIN MASA DEPAN”

March 14, 2014 - Loddy Lintong

“MEMURIDKAN PARA PEMIMPIN”

Sabat Petang, 8 Maret

PENDAHULUAN

 

Regenerasi dalam pemuridan. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya bahwa pemuridan dalam Kekristenan merupakan program berkelanjutan dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi, karena itu pemuridan harus mengalami regenerasi tanpa putus. Pemuridan adalah jiwa dari Kekristenan; apabila pemuridan itu berhenti maka Kekristenan juga akan berhenti. Yesus Kristus tentu tidak menghendaki hal itu terjadi, dan Dia menyediakan segala sumberdaya yang dibutuhkan oleh murid-murid-Nya yang pertama untuk melanjutkan pemuridan pada generasi berikutnya–dan begitu seterusnya.

 

“Sementara mengajar dan melatih itu jelas berkaitan, mengajar biasanya juga berarti membagikan pengetahuan, sedangkan melatih memberi kesan pembentukan atau menyanggupkan lewat praktik dan disiplin…Persiapan murid-murid bagi kepemimpinan mencakup menerima pengetahuan, tetapi pertumbuhan rohani adalah yang terutama. Mereka memerlukan pengalaman dalam hal-hal tentang Allah, iman, kesulitan, penyucian, dan penyangkalan diri, bersama-sama dengan pengertian intelektual tentang doktrin dan teologi. Pengetahuan saja tidak cukup untuk persiapan menghadapi tantangan-tantangan yang keras di kemudian hari. Yesus memberikan kedua-duanya kepada mereka” [alinea pertama: kalimat terakhir; dan alinea kedua].

 

Pemimpin itu datang dan pergi; tidak ada pemimpin yang terus-menerus memimpin. Pergantian pemimpin dapat terjadi secara alami karena usia maupun kodrat manusiawi, atau juga karena sistem yang berlaku. Orang-orang yang tadinya dipimpin bisa berpeluang untuk ganti memimpin, dan orang-orang yang dulu memimpin harus memberi kesempatan kepada yang lain untuk mengambil alih kepemimpinan. Sementara tongkat estafet kepemimpinan terus berpindah tangan, pekerjaan pemuridan terus bergulir. Pemimpin yang baik adalah juga guru yang baik, maka proses transfer-of-know-how (peralihan kecakapan teknis) mesti berlangsung dengan sukses. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris pengganti atau penerus itu disebut successor.

 

Adalah hal yang alamiah jika di satu pihak para calon pemimpin harus belajar dari mereka yang sedang memimpin, dan di pihak lain para pemimpin harus bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada generasi penerus yang akan menggantikan mereka, sebab dulu pun para pemimpin itu adalah murid-murid yang belajar dari pendahulu mereka. Melalui sistem mekanisme seperti itu maka dalam proses pemuridan yang berkelanjutan menjadi pemimpin berarti menjadi pelatih atau pendidik. Seorang pemimpin yang tidak mau melatih orang lain untuk jadi pemimpin selayaknya berhenti sebagai pemimpin, dan orang yang tidak mau belajar dari pemimpin tidak layak jadi pemimpin.

 

Minggu, 9 Maret

MEMINTA PETUNJUK ILAHI (Kepemimpinan Mulai di Sini)

 

Berawal dari kelompok kecil. Sekitar tiga dekade lalu gereja kita pernah menerapkan tahun penginjilan dengan semboyan “God’s Widening Circle” (Lingkaran Allah yang Makin Meluas). Inilah teknik pemuridan yang berhasilguna (efektif), di mana pemuridan dimulai dengan kelompok yang kecil kemudian setiap anggota dari kelompok kecil itu membentuk kelompoknya sendiri, demikian selanjutnya sehingga kian lama kian meluas. Dengan demikian tingkat pertumbuhan murid meningkat dalam pola deret ukur–1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, dan seterusnya; dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan berdasarkan deret hitung yang lambat–1 menjadi 2, 2 menjadi 3, 3 menjadi 4, dan seterusnya.

 

Demikianlah mula-mula Yesus memilih 12 murid-Nya yang pertama. Ada orang yang berkata bahwa Yudas Iskariot tidak dipilih Tuhan, tapi dia melamar sendiri. Ini bertentangan dengan fakta Alkitab sebagaimana dapat kita baca dalam Lukas 6:13, 16. Sebelum memilih mereka, Yesus pergi menyendiri ke bukit “untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (ay. 12). Setelah berkomunikasi sepanjang malam dengan Bapa surgawi-Nya, baru keesokan harinya Yesus “memilih dari antara mereka” dua belas orang (ay. 13). Kita tidak tahu berapa jumlah “mereka” di sini dari mana Yesus menetapkan pilihan-Nya, tetapi yang pasti Yudas Iskariot termasuk yang lolos seleksi. Apakah Yesus tidak tahu sebelumnya bahwa Yudas pada akhirnya akan berkhianat?

 

“Siapa yang harus Ia pilih? Berapa banyak yang harus Ia pilih? Tidak disangsikan bahwa murid-murid Yesus jumlahnya ratusan. Haruskah setiap orang menjalani pendidikan masal? Kristus mengerti bahwa kepemimpinan dibina secara efektif dalam kelompok-kelompok kecil, bukan dalam produksi masal melalui ceramah atau kuliah. Jumlah yang terbatas akan terpilih untuk kelas tamatan sekolah Kristus yang mula-mula” [alinea pertama: enam kalimat terakhir].

 

Berdoa sebelum membuat keputusan. Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa sebelum memilih dua belas murid-Nya yang pertama Yesus perlu berdoa lebih dulu kepada Bapa surgawi-Nya, dan tidak menggunakan kuasa-Nya yang tak terbatas itu? Untuk memahami hal ini kita perlu mengetahui arti berdoa bagi Yesus. Secara teologis, katakanlah begitu, setidaknya ada tiga alasan mengapa Yesus perlu berdoa. Pertama, ketika menjelma jadi manusia biasa dan mengenakan kemanusiawian membungkus keilahian-Nya, Yesus perlu berdoa sebagai seorang Anak Manusia. Kedua, sebagai salah satu dari Tritunggal ilahi Yesus perlu terus menjalin komunikasi dengan dua anggota Tritunggal lainnya. Ketiga, Yesus berdoa untuk memberi contoh kepada murid-murid dan semua pengikut-Nya.

 

Pemilihan dua belas murid yang pertama tampaknya merupakan sebuah keputusan maha penting sehingga Yesus perlu berdoa “sepanjang malam” (Luk. 6:12, BIMK). Kata Grika yang diterjemahkan dengan sepanjang malam dalam ayat ini, atau semalam-malaman (TB), ialah dianyktereuō, istilah satu-satunya dalam PB (Strong, G1273). Kata ini merupakan kata bentukan yang berasal dari dua kata dasar, dia (=seluruh; seantero) dan nyx (=malam). Berbeda dengan doa Yesus di Taman Getsemane pada malam sebelum ditangkap di mana Ia beberapa kali berhenti untuk mendatangi Petrus, Yakobus dan Yohanes yang jatuh tertidur (Mat. 26:40, 42-43), ketika berdoa di Bukit Zaitun itu Yesus berdoa tanpa jedah. Inilah doa yang tidak berkeputusan dalam arti kata yang sebenarnya.

 

“Memilih secara efektif menuntut hikmat yang lebih besar. Yesus menghampiri Bapa semawi-Nya melalui doa untuk mendapatkan hikmat ini. Demikian juga, doa harus mendahului pemilihan calon-calon pemimpin dalam pemuridan di abad kedua puluh satu. Karena Kristus tampaknya percaya bahwa Ia memerlukan doa yang ekstensif demi memperoleh hikmat, lebih-lebih lagi umat Kristen masa kini harus memohon hikmat ilahi bilamana memilih orang-orang yang dipercayakan dengan tugas mengawasi kemajuan Perintah Agung itu” [alinea kedua].

 

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana Yesus memilih dua belas murid-Nya?

1. Meskipun Yesus sudah berdoa sepanjang malam sebelum memilih dua belas murid untuk menjadi “kelompok inti” dalam memulai pemuridan, salah seorang dari mereka ternyata berkhianat. Tapi pengkhianatan Yudas Iskariot bukan kegagalan doa Yesus, itu adalah pilihan Yudas sendiri.

2. Kepemimpinan dalam pekerjaan Tuhan tidak dimulai di bangku kuliah pendidikan teologia atau seminari, dan tidak juga dimulai di ruang tertutup komite pemilih, tetapi itu dimulai dari doa. Pertanyaannya, berapa lama waktu yang kita gunakan untuk berdoa sebelum menentukan pilihan kita?

3. Pemuridan adalah warisan Kristus kepada para pengikut-Nya di dunia ini untuk sepanjang zaman. Dan sebagaimana Ia telah mendoakan murid-murid yang pertama itu (baca Yohanes 17), demikianlah Ia juga mendoakan murid-murid-Nya pada zaman ini (ay. 20).

 

Senin, 10 Maret

MEMAHAMI DAN MENGALAMI PEMURIDAN (Pengetahuan dan Pengalaman: Bag. 1)

 

Alih pengetahuan. Dalam teori berorganisasi, alih pengetahuan merupakan masalah praktis mengalihkan pengetahuan dari satu bagian dalam organisasi ke bagian yang lain yang bertujuan untuk kegunaan di masa yang akan datang. Lebih jauh lagi, definisi alih pengetahuan ialah peniruan secara metodik tentang sesuatu keahlian dan pengetahuan teknis dengan cara non-verbal (tidak dalam bentuk kata-kata) melainkan dalam bentuk praktik, dari seorang yang profesional di bidangnya kepada orang lain yang sedang belajar. Itu adalah sebuah upaya untuk menanamkan kepada diri orang lain sesuatu kecakapan yang tepat kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat.

 

Namun dalam hal pemuridan keberhasilan alih pengetahuan (knowledge transfer) itu tidak semata-mata bergantung pada kecakapan atau ketrampilan saja, melainkan melibatkan pula kuasa ilahi. Seseorang bisa saja membaca dan menghafal seluruh diktat berisi bahan kuliah perihal pemuridan dari seorang pakar tertentu, lengkap dengan segala teori dan kajian ilmiah dari sebuah studi empiris, tetapi tanpa ikut campur kuasa Roh Kudus maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya untuk digunakan oleh Allah dan diperlengkapi oleh Roh Kudus bisa jauh lebih berhasil dalam pemuridan ketimbang mereka yang mengandalkan pengetahuan formal. Alih pengetahuan yang paling efektif dalam hal pemuridan ialah belajar dari Kristus sendiri melalui Firman Tuhan.

 

“Pengetahuan Alkitab yang digabungkan bersama-sama dengan Roh Ilahi dari Allah membentuk perpaduan rohani yang mengubah pribadi-pribadi maupun masyarakat. Penggalang murid harus berusaha untuk kedua hal ini dalam iman dan penyelidikan” [alinea kedua].

 

Pengetahuan yang diamalkan. Seorang murid Kristus yang baik akan selalu haus akan pengetahuan firman Tuhan, tetapi seorang murid Kristus yang bijaksana akan selalu mau mengamalkan pengetahuan itu. Pengamalan pengetahuan Kitabsuci pada hakikatnya adalah mengalami pengetahuan itu. Pengetahuan firman Tuhan memperkaya kerohanian seseorang, tetapi pengalaman dengan firman Tuhan itu akan mempertajam imannya. Seseorang tidak mungkin mengalami pengalaman rohani kalau dia tidak memiliki pengetahuan rohani. Logikanya, bagaimana dia tahu kalau itu adalah pengalaman rohani sedangkan dia tidak mengerti apa itu pengetahuan rohani? Anda akan mengerti bahwa bersabar ketika dicaci itu menandakan kematangan rohani kalau anda tahu bahwa panjang sabar adalah salah satu dari buah-buah roh, bukan?

 

“Pengalaman tanpa pengetahuan menjadi semacam peluru kendali berkekuatan penuh tetapi tanpa arah. Sebaliknya, pengetahuan tanpa pengalaman menjadi tak bernyawa dan seringkali legalistik. Pemimpin-pemimpin Kristen yang sejati memahami perlunya menumbuhkan kedua unsur ini, bukan saja dalam diri mereka tapi juga dalam diri orang-orang yang mereka jadikan murid” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

 

Pena inspirasi menulis: “Kita dapat melihat pentingnya memiliki iman yang sejati, karena itulah kuasa motif dari kehidupan dan tindakan orang Kristen; tetapi perasaan itu bukan iman, emosi itu bukan iman. Kita harus membawa usaha dan pemikiran serta emosi kita kepada ujian firman, maka iman sejati akan secara mendalam dipengaruhi oleh suara Allah dan akan bertindak sesuai dengan itu” (Ellen G. White, The Bible Echo, 11 Juni 1894).

 

Apa yang kita pelajari tentang pentingnya pengetahuan dan pengalaman?

1. Pengetahuan tentang Kitabsuci adalah bagian pokok dari pemuridan, sebab menjadi murid Kristus berarti pembelajar Alkitab yang tekun. Melalui pendalaman Alkitab kita memperoleh pengetahuan rohani, dengan membagikan pengetahuan rohani itu kita mempertajam pengetahuan tersebut.

2. Seperti sebuah bendungan akan jebol jika airnya terus bertambah tetapi tidak ada pembuangan, demikianlah orang yang hanya terus mengisi pikiran dengan pengetahuan Firman Tuhan tanpa membagikannya kepada orang lain juga akan menimbulkan pengetahuan alkitabiahnya meluap tanpa kendali.

3. Pengetahuan rohani dan pengalaman rohani merupakan dua hal yang saling melengkapi dan meneguhkan iman seorang murid Kristus. Mengamalkan isi Alkitab adalah cara paling efektif untuk merasakan pengalaman rohani dalam kehidupan nyata. Belajar dan amalkan adalah dua unsur utama dalam pemuridan.

 

Selasa, 11 Maret

PERPADUAN YANG SEMPURNA (Pengetahuan dan Pengalaman: Bag. 2)

 

Pentingnya pengetahuan. Khotbah Yesus dalam Lukas pasal 6 yang sering disebut sebagai “Khotbah di Tanah Datar” ini isinya mirip dengan sebagian dari “Khotbah di Atas Bukit” dalam Matius pasal 5, yaitu mengandung “Kata-kata Bahagia” (The Beautitudes). Namun, meskipun dalam hal materi isi memiliki kesamaan tetapi kedua khotbah tersebut tampaknya disampaikan di tempat yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dan di hadapan pendengar yang sebagian besar berbeda. Jangan lupa bahwa Yesus Kristus adalah seorang “pengkhotbah keliling” sehingga pengajaran yang sama bisa diutarakan kembali pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Kalau dalam Khotbah di Atas Bukit (Matius 5) Yesus mengucapkan 8 kata-kata Berbahagia, maka dalam Khotbah di Tanah Datar (Lukas 6) Yesus hanya menyebutkan 4 di antaranya.

 

Hal lain yang menarik pada Khotbah di Tanah Datar dalam injil Lukas–yang membuatnya berbeda dari Khotbah Di Atas Bukit dalam injil Matius–ialah adanya bagian-bagian dengan kata “Celakalah” yang kontradiktif dengan kata “Berbahagialah.” Contohnya:“Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk. 6:21; huruf miring ditambahkan) yang berlawanan dengan “Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis” (ay. 25; huruf miring ditambahkan). Dalam khotbah ini Yesus sedang mengungkapkan sebuah “pengetahuan” kepada murid-murid maupun para pengikut-Nya yang mendengarkan.

 

“Pengetahuan rohani sangat diperlukan bagi transformasi rohani…Roh Kudus yang sebelumnya dibangunkan melecut hati nurani untuk menerima kebenaran-kebenaran ini. Pemuridan tidak sempurna tanpa pengalaman, tetapi pengalaman harus diarahkan oleh pengetahuan” [alinea pertama: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

 

Pentingnya pengalaman. Dalam Khotbah di Tanah Datar itu Yesus mengucapkan sebuah tamzil: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya” (ay. 39-40; huruf miring ditambahkan). Apa yang dimaksudkan Yesus di sini ialah bahwa murid-murid yang terdahulu harus menjadi guru-guru bagi murid-murid yang baru untuk mengajar dan membimbing, sebab murid-murid yang terdahulu itu selain memiliki pengetahuan mereka juga memiliki pengalaman untuk dibagikan. Hal yang penting di sinilah adalah supaya mereka yang kaya akan pengetahuan dan pengalaman mau bermurah hati untuk membagikan apa yang mereka punyai itu kepada orang-orang yang menjadi sebagai “murid” yang datang belajar dari mereka.

 

Bilamana pola ini terus berlangsung maka pada gilirannya nanti murid-murid yang baru akan bertindak sebagai guru-guru bagi murid-murid yang datang kemudian, dan dalam hal ini mereka yang tadinya murid “yang telah tamat pelajarannya” akan menjadi sebagai guru menggantikan tempat guru-guru mereka terdahulu. Bahkan, seperti yang terjadi dalam dunia pendidikan di manapun, murid-murid bisa lebih maju dari guru-guru mereka oleh karena beberapa faktor seperti kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi lagi, lingkungan belajar yang lebih maju, dan juga tingkat kecerdasan. Bukan itu saja, mereka yang dulunya murid malah bisa mencapai jabatan-jabatan yang lebih tinggi dan peran-peran yang lebih besar dari guru mereka dulu.

 

“Allah mengharapkan orang-orang percaya yang berpengalaman tidak menahan apapun, dan dengan sabar membimbing orang-orang yang baru bertobat ke dalam pemahaman dan pengetahuan yang terus bertambah akan kebenaran-kebenaran Kekristenan yang ajaib dan mengubah kehidupan–khususnya kebenaran masa kini tentang pekabaran tiga malaikat…Pada akhirnya, perpaduan antara pengetahuan dan pengalaman yang menghasilkan kasih yang tidak mementingkan diri akan menjadi kekuatan paling ampuh untuk dimiliki oleh setiap penggalang murid” [alinea ketiga, kalimat terakhir; dan alinea terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang pengalaman rohani yang melengkapi pengetahuan rohani?

1. Pengetahuan dan pengalaman adalah dua faktor penting yang menjadi kunci kesuksesan pemuridan. Pengetahuan dapat dipelajari dan dialihkan, tetapi pengalaman harus dijalani sendiri oleh yang bersangkutan. Meskipun begitu, pengalaman juga dapat dibagikan untuk membuat orang lain lebih siap menjalani pengalamannya sendiri.

2. Pemuridan mengandung dinamika yang membuat seorang murid Kristus menjadi giat dan bersemangat dalam menjalani kehidupan rohaninya. Pemuridan yang dinamis juga akan menciptakan suasana “alih pengetahuan” yang positif dan nyaman bagi generasi berikutnya.

3. Kekristenan sebagai ilmu teologia harus dipelajari di bangku sekolah, tetapi Kekristenan sebagai “pengetahuan rohani” dapat diperoleh melalui pembelajaran dan pendalaman langsung dari Firman Tuhan. Namun bagaimana pun caranya kita mengenal Kekristenan, hal itu tidak ada artinya tanpa “pengalaman rohani” secara pribadi.

 

Rabu, 12 Maret

DIBIMBING OLEH ROH KUDUS (Para Pemimpin Mula-mula)

 

Mengajar yang tidak terpelajar. Berdasarkan tradisi Yahudi, anak-anak harus didik tentang Torah (Hukum Musa) dan hukum-hukum agama lainnya sampai berusia 12 tahun. Selain itu, mereka juga dididik oleh orangtua masing-masing dalam hal baca-tulis dan pengetahuan umum dasar. Ini semacam “wajib belajar” yang harus mereka dapatkan di rumah. Jadi, murid-murid Yesus bukanlah orang-orang yang buta huruf atau sama sekali tidak berpendidikan. Memang, kalau dibandingkan dengan orang-orang Farisi dan anggota Sanhedrin yang mengenyam pendidikan lanjutan, murid-murid itu mereka anggap “tidak terpelajar” (Kis. 4:13). Bukan murid-murid saja yang mereka anggap tidak terpelajar, mereka juga memberi penilaian yang sama terhadap Yesus sendiri (Yoh. 7:15). Sama seperti situasi kita sekarang ini, dengan adanya kebijakan pemerintah Wajib Belajar 9 tahun banyak orang telah mengenyam pendidikan sampai tamat SMP, tetapi kita sering menganggap orang-orang yang hanya lulusan SMP bahkan SMA pun adalah orang-orang yang “tidak berpendidikan” sebab sudah semakin banyak sarjana di negeri kita.

 

Namun Yesus tidak menjadikan pendidikan formal sebagai kualifikasi utama untuk memilih murid-murid-Nya yang pertama, tetapi Ia memilih orang-orang yang mau dididik. Pemuridan tidak menuntut orang-orang yang terpelajar, melainkan orang-orang yang mau diajar. Kepribadian yang mau diajar itu adalah soal mentalitas dan pilihan pribadi.

 

“Kristus tidak memilih kaum Sanhedrin yang terpelajar atau fasih lidah. Melewatkan guru-guru yang munafik tersebut, Pekerja Utama itu memilih orang-orang yang rendah hati dan tidak terpelajar untuk mengumandangkan kebenaran-kebenaran yang harus menggerakan dunia. Orang-orang ini Ia maksudkan untuk dilatih dan dididik sebagai pemimpin-pemimpin dari gereja-Nya. Pada gilirannya mereka harus mendidik orang-orang lain dan mengutus mereka dengan pekabaran injil” [alinea pertama: kalimat kedua hingga kelima].

 

Menyiapkan pemimpin masa depan. Tatkala memilih kedua belas murid-Nya yang pertama, Yesus bermaksud hendak menyiapkan mereka untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Kepemimpinan dalam pekerjaan injil haruslah terdiri dari pribadi-pribadi yang mau belajar dan diajar, orang-orang yang memiliki banyak kekurangan dan kesalahan tetapi mau belajar dari kekurangan dan kesalahan mereka. Sedangkan orang-orang yang merasa terpelajar cenderung merasa diri mereka lebih tahu dan tidak memerlukan pembelajaran apapun, bahkan cenderung untuk bersikap menggurui terhadap orang lain.

 

Ketika memilih murid-murid yang pertama Yesus sedang mencari orang-orang yang akan menggantikan diri-Nya bilamana Ia akan kembali ke surga, yaitu orang-orang yang dapat dipercaya untuk melanjutkan pembangunan Kerajaan Allah yang sedang didirikan-Nya di bumi ini. Yesus tidak membutuhkan orang-orang yang sudah terdidik oleh dunia, tetapi yang Ia perlukan adalah orang-orang yang mau dibimbing oleh Roh Kudus untuk diubahkan menjadi manusia-manusia yang diperbarui.

 

“Yesus bukannya menentang golongan berpendidikan dan terpelajar; Dia sendiri pada usia sangat muda (Luk. 2:46-47) sudah memperlihatkan banyak pengetahuan. Hanya saja begitu sering orang-orang yang paling berpendidikan, paling kaya, dan paling berkuasa tidak siap untuk merendahkan diri dalam cara di mana seseorang, khususnya seorang pemimpin, itu perlukan supaya Tuhan dapat menggunakan mereka. Tentu saja tidak selalu begitu; Tuhan juga menggunakan orang-orang seperti itu (ingat Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea; baca Kis. 6:7). Apa yang dimaksudkan ialah bahwa sangat sering mereka yang bertipe demikian itu cenderung untuk tidak terbuka bagi tuntunan Roh Kudus” [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang alasan Yesus memilih murid-murid pertama yang tidak terpelajar?

1. Murid-murid Yesus yang pertama bukan orang-orang terpelajar, tapi mereka juga bukan orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. Hanya saja Yesus tidak berpatokan pada kualifikasi duniawi dalam menentukan pilihan-Nya, melainkan berdasarkan pada kepribadian yang mau diajar dan dididik.

2. Yesus tidak mengandalkan prestasi akademis seorang murid demi keberhasilan menjadikannya sebagai pendidik murid-murid untuk generasi berikutnya. Sejarah membuktikan bahwa banyak orang terpelajar yang gagal dalam pekerjaan injil, dan banyak orang tidak terpelajar yang berhasil.

3. Fakta bahwa Yesus perlu berdoa semalam-malaman sebelum memilih kedua belas murid pertama menunjukkan bahwa Dia tidak menentukan sendiri pilihan-Nya, tetapi berkonsultasi dulu dengan Allah Bapa. Jadi, penetapan murid-murid Yesus yang pertama itu adalah juga atas perkenan Bapa.

 

Kamis, 13 Maret

BELAJAR DARI KRISTUS (Apa yang Yesus Tinggalkan)

 

Kesuksesan pemuridan pertama. Fakta bahwa Kekristenan dapat bertahan dan berkembang luas selama dua ribu tahun membuktikan bahwa pemuridan yang pertama itu berhasil dengan sukses. Padahal dalam perjalanannya Kekristenan telah mengalami perlawanan dan tantangan dahsyat berkali-kali, baik secara global maupun lokal. Bahkan murid-murid yang pertama itu harus mati sebagai syuhada, tetapi gereja Kristus terus bertumbuh tanpa dapat dihalangi. Pemuridan terus berlangsung dari generasi ke generasi, murid-murid Kristus tidak pernah berhenti bertambah.

 

Kesuksesan pemuridan pertama terekam dalam kitab Kisah Para Rasul sebagai sebuah laporan perkembangan pekerjaan injil yang dicatat oleh Lukas untuk seorang tokoh bernama Teofilus (namanya berarti “kekasih Tuhan” atau “sahabat Allah”) yang tampaknya memiliki rasa ingin tahu yang besar perihal Kekristenan (Kis. 1:1; Luk. 1:1, 3). Sebagaimana yang dapat kita baca, murid-murid Yesus yang pertama itu telah memuridkan lagi orang-orang lain yang kemudian menjadi penerus dari para rasul itu. Tetapi prestasi pemuridan yang sangat menonjol adalah rasul Paulus yang meski tidak termasuk di antara 12 murid pertama namun sangat sukses.

 

“Generasi-generasi masa depan bersaksi tentang kesuksesan dari usaha-usaha sebelumnya. Manakala usaha-usaha itu membuahkan hasil-hasil yang abadi, prinsip-prinsip pokok dari prestasi-prestasi itu haruslah dipelajari dan diulangi. Apakah metode penggalangan murid dari Kristus itu menimbulkan hasil-hasil yang mencolok? Tentu saja begitu. Hal itu telah mengubah dunia ini” [alinea pertama; alinea kedua: dua kalimat pertama].

 

Pemuridan adalah bersaksi. Kepada murid-murid itu Yesus berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8; huruf miring ditambahkan). Tujuan pemuridan yang Yesus adakan pada akhirnya adalah menyiapkan murid-murid itu untuk bersaksi mengenai Kristus kepada dunia. Hal menjadi saksi ini juga dirasa penting oleh murid-murid itu sendiri, sehingga mereka mencari orang-orang yang dapat bersaksi tentang Kristus (baca ay. 21-23). Bersaksi bagi Kristus adalah prinsip utama dalam pemuridan.

 

“Yesus mendirikan kerajaan-Nya dan mencontohkan prinsip-prinsip yang akan melestarikan pertumbuhannya. Memelopori jalan melalui kegelapan menuju fajar, Kristus memilih pemimpin-pemimpin yang kelemahan-kelemahannya ditudungi oleh kekuatan-Nya karena mereka sepenuhnya bergantung pada-Nya. Meskipun dianggap enteng oleh para pemimpin agama dan kurang terpelajar, mereka lebih unggul dari orang-orang Farisi dalam hal: kepolosan, kerendahan hati, kebergantungan, dan keaslian. Betapa pentingnya agar kita semua, apapun kedudukan kita di gereja, untuk memperlihatkan sifat-sifat demikian” [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

 

Pena inspirasi menulis: “Mengapa sejarah pekerjaan dari murid-murid itu, sementara mereka bekerja dengan semangat yang suci, dijiwai dan disemangati oleh Roh Kudus telah dicatat, kalau bukan supaya dari catatan ini umat Tuhan zaman ini memperoleh inspirasi untuk bekerja dengan tekun bagi Dia? Apa yang Tuhan sudah lakukan bagi umat-Nya pada masa itu sangatlah penting, dan terlebih lagi Ia akan melakukan itu bagi umat-Nya pada masa ini. Semua yang telah dilakukan para rasul itu harus dilakukan oleh setiap anggota gereja zaman ini. Dan kita harus bekerja jauh lebih bersemangat lagi, didampingi oleh Roh Kudus dalam takaran yang jauh lebih besar lagi, sementara bertambahnya kejahatan menuntut seruan yang lebih tegas lagi kepada pertobatan” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 7, hlm. 33).

 

Apa yang kita pelajari tentang teladan pemuridan yang Yesus tinggalkan?

1. Kesuksesan para rasul dalam pemuridan dan penginjilan tidak terlepas dari keberhasilan Yesus mendidik serta mengajar mereka untuk menjadi murid-murid yang berhasil. Keteladan Yesus dalam hal pemuridan merupakan warisan penting bagi semua murid-murid Yesus sepanjang zaman.

2. Murid yang handal adalah juga saksi yang handal, sebab menjadi murid Yesus artinya bersaksi bagi Dia. Pemuridan pada hakikatnya adalah menggalang murid-murid baru dan kemudian membekali mereka dengan kemampuan untuk menggalang murid-murid lain di kemudian hari.

3. Selain berisi kebenaran tabiat Allah dan rencana keselamatan, Alkitab juga mengandung catatan-catatan dari keberhasilan penginjilan dan pemuridan. Manusia dapat saja mengikhtiarkan metode-metode canggih dalam pemuridan untuk dipelajari sebagai ilmu, tetapi metode warisan Kristus tidak pernah akan usang.

 

Jumat, 14 Maret

PENUTUP

 

Jangan kehilangan fokus. Pemuridan sejati adalah juga mendidik orang-orang untuk mewakili Kristus melalui kehidupan mereka sehari-hari. Sebagai murid Kristus, anda dan saya tak dapat tidak mesti memperlihatkan ciri-ciri tabiat yang serupa dengan Kristus. Tujuan pemuridan Kristen bukan untuk menelorkan orang-orang yang mahir dalam pengetahuan Alkitab dan jago berdebat, melainkan untuk menghasilkan murid-murid yang rendah hati tetapi oleh kuasa Roh Kudus giat dan berani bersaksi tentang Yesus Kristus kepada dunia.

 

“Di seluruh bidang pekerjaan Kristus ada jiwa-jiwa yang telah disadarkan akan kebutuhan mereka, serta lapar dan dahaga akan kebenaran. Waktunya sudah tiba untuk mengirim berita tentang kasih-Nya kepada semua hati yang rindu ini. Kepada semua mereka murid-murid harus pergi sebagai wakil-wakil-Nya” [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

 

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak murid-murid Kristus di zaman akhir yang pada mulanya begitu bersemangat dan pantang menyerah dalam bersaksi bagi Dia, entah kenapa tiba-tiba menjadi lesu dan lama-kelamaan hilang dari peredaran dan lenyap dari pendengaran kita. Banyak faktor yang telah mengakibatkan kemunduran ini, tapi mungkin mereka itu sudah kehilangan fokus berhubung dengan berbagai hal yang mengganggu atau menawarkan hati mereka. “Tidak ada yang boleh dibiarkan membelokkan pikiran mereka dari pekerjaan mereka yang besar ini, atau dalam sesuatu cara membangkitkan perlawanan dan menutup pintu untuk pekerjaan selanjutnya” [alinea kedua: kalimat terakhir].

 

Pemuridan yang berhasilguna tidak hanya sekadar menambah banyaknya murid-murid Kristus yang baru, tetapi juga mempertahankan dan menyelamatkan murid-murid yang lama!

 

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Why. 2:10).

Leave a Reply