Penciptaan: BUMI SEBAGAI HABITAT MANUSIA

PENDAHULUAN

Evolusi teistik? Kalau anda seorang Kristen yang saleh dan kebetulan berprofesi sebagai guru fisika di sekolah negeri atau sekolah umum, bagaimana anda hendak mengajar tentang penciptaan? Apakah anda akan menggunakan konsep ilmu pengetahuan standar atau konsep alkitabiah? Untuk mengajarkannya menurut doktrin Alkitab pasti anda akan dipersalahkan dan ditegur bahkan kemungkinan bakal terkena skors, sedangkan untuk mengajarkannya berdasarkan teori standar dari buku pelajaran akan menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap hati nurani.

Banyak orang berpendapat bahwa untuk menghindari konflik ini maka pengajaran tentang penciptaan harus menggunakan pendekatan ganda, yaitu dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan sudut pandang kitab suci secara terpisah. Barangkali itu dapat dianggap sebagai gagasan yang arif. Tapi tampaknya, bagi sebagian orang, kontroversi ini–antara penciptaan alkitabiah bahwa Allah menciptakan “langit dan bumi” dalam enam hari dan penciptaan evolusioner dengan teori “Big Bang”–sudah menemukan solusi dalam apa yang disebut ajaran “evolusi teistik.” Dengan kata lain, doktrin Evolusi Teistik dianggap sebagai titik temu (middle ground) dari dua konsep penciptaan yang berlawanan tersebut.

Dalam menjelaskan tentang penciptaan, ada perbedaan antara “rumus ateis” dengan “rumus evolusi teistik.” Rumus ateis adalah: Penciptaan=Materi+Faktor-faktor Evolusi+Waktu yang sangat lama. Rumus evolusi teistik: Penciptaan=Materi+Faktor-faktor Evolusi+Waktu yang sangat lama+Tuhan. Berdasarkan konsep evolusi teistik, Allah memang adalah Pencipta yang telah merancang alam semesta ini, namun bukan dengan cara berfirman dan juga bukan dalam waktu enam hari harfiah seperti tertulis dalam Alkitab. Tetapi Allah hanya menetapkan desain umum dan hukum alam, kemudian membiarkan alam itu berkembang secara bertahap dan lamban selama waktu yang diperlukan hingga akhirnya sampai pada keadaannya sekarang. Dengan demikian kisah penciptaan yang tertulis dalam kitab Kejadian itu, menurut pandangan evolusi teistik, harus dimaknai secara metaforal atau pengkiasan.

Evolusi teistik juga bersifat total, dalam arti semua bagian dan segmen di alam semesta ini berkembang secara evolusioner atau berlangsung tahap demi tahap dengan sangat lambat. Termasuk evolusi astronomis (pembentukan galaksi dan sistem tatasurya), evolusi geologis (pembentukan Bumi), evolusi biologis (perkembangan kehidupan), dan lain-lainnya. Jadi, Allah hanya berperan di bagian awal saja dan tidak menentukan secara detil apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi membiarkan kepada alam itu sendiri yang menentukan apa yang akan muncul di kemudian hari.

“Ini adalah tema umum di kalangan mereka yang mendukung berbagai bentuk ‘evolusi teistik.’ Namun, gagasan demikian tidak sesuai dengan Kitabsuci atau dengan pemahaman kita tentang Penciptaan. Alam semesta tidak memiliki kehendak yang melekat pada dirinya sendiri. Penciptaan bukanlah sebuah entitas yang terpisah dari Allah, tapi sebaliknya adalah gelanggang yang Allah pilih di mana Dia dapat menyatakan kasih-Nya kepada makhluk-makhluk yang telah Dia ciptakan itu” [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

Suatu kali para mahasiswa datang kepada Albert Einstein dan berkata kepadanya bahwa mereka cenderung berpendapat bahwa Allah itu tidak ada. Sang profesor bertanya kepada mereka, “Sebagai satu kelas, berapa persen dari seluruh pengetahuan di dunia ini yang telah kalian miliki secara kolektif.” Para mahasiswa itu kemudian berembug sejenak lalu menjawab bahwa mereka yakin telah menguasai 5% dari semua pengetahuan yang ada. Einstein menganggap bahwa angka yang disebutkan itu terlalu boros, tapi dia berkata kepada mereka: “Apakah ada kemungkinan kalau Allah itu ada dalam 95% pengetahuan yang kalian tidak tahu?” Kita manusia seringkali terlalu percaya diri dengan pengetahuan yang kita miliki, seolah-olah kita sudah tahu segalanya, lalu dengan yakin membuat sesuatu kesimpulan berdasarkan pengetahuan yang sebenarnya masih terlalu sedikit itu.

Minggu, 6 Januari
AWAL PENCIPTAAN (Tidak Berbentuk dan Kosong)

Bumi kacau balau. Alkitab menyatakan, pada waktu baru diciptakan Bumi kita ini “belum berbentuk dan kosong” (Kej. 1:2). Dalam bahasa asli Perjanjian Lama anak kalimat ini tertulis וָבֹ֔הוּ תֹ֙הוּ֙, ṯōhū wāḇōhū. Entah mengapa kata ini–Tohu Wabohu–telah diangkat oleh sebuah kelompok band beraliran cadas (rock) bernama “KMFDM” dari kota Seattle, Washington, AS sebagai judul sebuah lagu dan sekaligus menjadi tajuk dari album mereka yang dirilis tahun 2007; istilah yang sama juga digunakan sebagai judul film seri yang ditayangkan di sebuah stasiun TV Austria. Mungkin lagu itu sebagai “protes sosial” terhadap keadaan dunia sekarang ini yang tidak menentu, dan sebagai judul film itu menggambarkan perilaku manusia yang semrawut. Pada awal penciptaannya kondisi fisik bumi ini yang kacau, menjelang akhir riwayatnya keadaan penghuni bumi ini yang kacau.

Frase tohuwabohu yang berasal dari bahasa Ibrani ini, sebagaimana terdapat pada permulaan ayat tersebut di atas, kemudian diserap ke dalam beberapa bahasa dunia antara lain bahasa Prancis dan Jerman sebagai ungkapan yang berarti “keadaan kacau balau.” Alkitab bahasa Jawa menerjemahkan bagian pertama dari ayat tersebut, “bumi kaanané isih ora karu-karuwan, tur sepi banget” (keadaan bumi masih tidak karuan, dan sepi sekali)–Purwaning Dumadi 1:2. Versi bahasa Sunda berbunyi, “harita bumi teh teu puguh wangunna, kaayaanana kacida matak geueumanana” (waktu itu bumi tidak jelas bentuknya, keadaannya sangat menimbulkan keangkeran)–Kajadian 1:2. Demikianlah kondisi fisik dari planet kita ini di awal penciptaan–kacau balau, tidak karuan, tak berbentuk bahkan menakutkan. Tentu saja dalam keadaan seperti itu Bumi belum layak untuk menjadi tempat tinggal makhluk hidup apapun.

“Ayat-ayat selanjutnya menerangkan bagaimana Allah pertama kali membentuk dunia menjadi sebuah tempat yang dapat dihuni dan kemudian mengisinya dengan makhluk-makhluk hidup. Ayat tersebut tidak memberitahukan kepada kita kapan tepatnya bebatuan dan air di bumi terjadi, hanya bahwa dunia belum sesuai untuk kehidupan. Dunia ini menjadi cocok bagi makhluk-makhluk hidup hanya karena Allah bertindak untuk membuatnya demikian” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

“Gap theory.” Untuk apa Allah menciptakan Bumi? Kita menemukan jawaban atas pertanyaan penting ini dalam tulisan nabi Yesaya, “Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit–Dialah Allah–yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami” (Yes. 45:18; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “kosong” dalam ayat ini sama dengan kata yang digunakan dalam Kej. 1:2, yaitu תֹ֙הוּ֙, ṯōhū. Atas dasar perbandingan kedua ayat ini–Kej. 1:2 dan Yes. 45:18–muncul spekulasi bahwa periode tohu wabohu (bumi yang kacau dan kosong) ini adalah waktu terjadinya proses evolusi sebagaimana yang dimaksudkan oleh ilmu pengetahuan standar, suatu masa yang kemungkinan berlangsung selama milyaran tahun itu.

Berdasarkan spekulasi tersebut lahirlah apa yang disebut “gap theory” (=teori kesenjangan), sebuah teori yang dianggap dapat menjembatani doktrin penciptaan alkitabiah dengan konsep penciptaan menurut ilmu pengetahuan standar. Menurut teori ini, ada suatu “masa kesenjangan” antara ayat 2 dan ayat 3 dari Kejadian pasal 1, yaitu waktu antara Bumi yang sudah ada tapi masih kacau balau dengan waktu ketika Allah memulai minggu penciptaan itu. Lebih jauh lagi teori ini menyebutkan bahwa masa kesenjangan tersebut adalah masa ketika Setan masih menguasai bumi ini dan menghancur-luluhkannya, sebelum Allah kemudian bertindak untuk melaksanakan maksud-Nya agar bumi ini tidak dibiarkan kacau dan tetap kosong tetapi siap untuk dihuni makhluk-makhluk hidup yang direncanakan-Nya. Dengan kata lain, proses selanjutnya yang dimulai dari Kej. 1:3 dan seterusnya itu adalah re-creation (penciptaan kembali) oleh Allah.

“Teori kesenjangan” yang terkesan sangat dipaksakan itu pertama kali dicetuskan oleh Thomas Chalmers (1780-1847), seorang teolog Skotlandia cukup terkenal dan juga guru besar pada Universitas Edinburgh, yang memperkenalkannya melalui ceramah-ceramahnya dalam tahun 1814. Tampaknya dia sangat dipengaruhi oleh pendapat-pendapat dari Simon Bischop (1583-1643), seorang teolog Belanda yang juga populer dengan nama Simon Episcopius (nama Latinnya). Prof. Chalmers terkenal sebagai salah seorang penulis dari seri buku Bridgewater Treatises (8 jilid) yang membahas tentang hubungan antara ilmu pengetahuan alam dengan ajaran Alkitab mengenai penciptaan. “Gap Theory” (sering juga disebut Gap creationism) besutannya itu mendapat dukungan dari rekan-rekannya sesama ilmuwan seperti William Buckland, Charles Bell, William Kirby yang turut menyusun seri buku tersebut, dan juga sejumlah pakar lainnya. Penulis terkini yang turut mempopulerkan gagasan “second creative act” (tindakan penciptaan kedua) ini adalah G.H. Pember dengan bukunya Earth’s Earliest Ages (Abad-abad Paling Dini dari Bumi) terbitan New York, 1900 yang mengalami cetak ulang sampai edisi ke-15 tahun 1942, dan Arthur C. Custance lewat bukunya berjudul Without Form and Void (Tanpa Bentuk dan Kosong) terbitan Brookville, Canada, 1970.

“Ketika bumi pertama kali dihadirkan, itu belum cocok untuk kehidupan. Alkitab tidak mengatakan apa pun tentang periode waktu antara penciptaan mula-mula dari bebatuan dan air dengan penciptaan lingkungan dan makhluk-makhluk ciptaan. Beberapa ahli berpikir bahwa itu mungkin hanya sekejap; yang lainnya berpikir bahwa itu bisa saja setelah jangka waktu yang lama” [alinea kedua].

Pena inspirasi menulis: “Dalam membentuk dunia kita ini Allah tidak berhutang budi pada zat dan materi yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena ‘apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.’ Ibr. 11:3. Sebaliknya, segala hal, materi atau pun rohani, terdiri di hadapan Tuhan saat mendengar suara-Nya dan diciptakan untuk maksud-Nya sendiri. Langit dan semua tentaranya, bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, bukan saja hasil pekerjaan tangan-Nya, semua itu diadakan oleh nafas mulut-Nya” (Ellen G. White, Selected Messages, jld. 3, hlm. 312).

Apa yang kita pelajari tentang keadaan Bumi pada awal penciptaan?
1. Dari semula Allah telah merencanakan untuk menciptakan planet ini untuk kita tempati, dan untuk itu Dia lebih dulu menyiapkannya agar layak dihuni. Bumi ini dalam keadaan “kacau balau dan kosong” sebelum Allah membentuknya untuk menjadi habitat manusia dan makhluk-makhluk ciptaan lainnya.
2. Manusia berusaha untuk memahami proses penciptaan ini, tetapi dengan kemampuan berpikir yang telah jauh merosot akibat dosa kita tidak sanggup untuk menguak rahasia penciptaan berdasarkan logika. Jika kita memaksakannya maka yang muncul adalah teori-teori spekulatif yang semakin membingungkan saja.
3. Penciptaan yang disebutkan dalam Alkitab hanya bisa dan harus diterima oleh iman, bukan untuk dipahami dengan akal. Kemahakuasaan Allah yang tidak terikat pada hukum alam dan logika manusia itu terlalu tinggi untuk dapat dijangkau oleh pikiran manusia yang tunduk pada hukum alam dan dikendalikan oleh logika berpikir.

Senin, 7 Januari
TERANG DARI ALLAH (Jadilah Terang)

Terang hakiki. Kita tidak mempunyai informasi apapun mengenai bagaimana Allah menjadikan bumi ini, kecuali pernyataan bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Waktu bumi pertama kali diciptakan keadaannya masih “belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya” (ay. 2). Baru pada proses penciptaan selanjutnya Alkitab memberitahukan bagaimana itu dilaksanakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi” (ay. 3). Lebih jauh lagi dikatakan bahwa Allah memisahkan terang itu dari gelap (ay. 4), dan bersamaan dengan itu terjadilah pemisahan antara siang dan malam (ay. 5).

Ada dua hal yang dapat kita pahami dari kejadian ini: (1) terjadinya terang tidak serta-merta melenyapkan gelap secara total, sebab Allah masih harus memisahkan di antara keduanya; (2) berdasarkan pemisahan antara siang dan malam itulah Allah menciptakan hari. Artinya, selain menghadirkan terang itu sebagai suatu benda, pada saat yang sama Tuhan juga menciptakan waktu. Belakangan, pada hari keempat Allah menciptakan “benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam…menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun” (ay. 14; huruf miring ditambahkan). Benda-benda penerang yang kemudian kita kenal sebagai matahari dan bulan itu dijadikan “untuk menguasaisiang dan…untuk menguasai malam” (ay. 16; huruf miring ditambahkan). Ayat-ayat ini memiliki makna astronomis seperti yang kemudian ditemukan oleh ilmu pengetahuan, di mana hari, bulan, dan tahun dapat dihitung berdasarkan pergerakan benda-benda langit tersebut.

“Hal lain ialah bahwa Allah memisahkan terang dari gelap. Baik terang dan gelap berada di bawah kendali Allah, dan tak ada bedanya kedua hal itu terhadap aktivitas dan pengetahuan-Nya (baca Mzm. 139:12). Allah menamai bagian waktu dari terang dan gelap itu, menyebutnya ‘siang’ dan ‘malam.’ Allah berhak memberi nama pada periode-periode waktu tersebut oleh sebab Dia adalah Pencipta waktu. Sebagai Penguasa atas waktu, Allah tidak dibatasi oleh waktu. Sebaliknya, waktu bergantung pada Allah” [alinea keempat].

Terang yang Allah ciptakan pada hari pertama itu bukan sekadar subtansi fisik tapi juga mengandung aspek supra alami, mungkin terang asli itu serupa dengan sumber terang yang akan menerangi dunia baru nanti (Why. 22:5). Terang yang diciptakan pada hari pertama itu adalah terang hakiki yang bersumber dari Allah, berbeda dari terang yang dipancarkan oleh cahaya matahari dan bulan yang berfungsi sebagai sumber energi vital untuk menopang kehidupan, sehingga terang yang dihasilkan oleh kedua benda angkasa itu lebih merupakan “produk sampingan” yang juga bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup di bumi ini. Demikian pula, gelap yang ada di hari pertama penciptaan itu adalah gelap hakiki yang bersumber dari Allah, bukan gelap karena ketiadaan terang atau sebuah kondisi hampa cahaya. Allah dapat menciptakan gelap demikian seperti yang sudah dilakukan-Nya terhadap bangsa Mesir pada zaman Musa, yang begitu pekatnya “sehingga orang dapat meraba gelap itu” (Kel. 10:21), suatu kegelapan total yang tak dapat ditembus oleh cahaya apapun, tetapi gelap itu tidak menimpa tempat kediaman orang Israel (ay. 23).

Allah dan terang. Sesungguhnya Allah tak dapat dipisahkan dari terang, sebab Allah itu sendiri adalah terang yang hakiki. Bahkan, sumber terang dari Allah itu tidak terbatas hanya secara fisik saja, tapi terang-Nya juga mengandung kuasa rohani. “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’ Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6).

“Juga, terang adalah salah satu ciri yang menyertai hadirat Allah. Kita tidak perlu menduga bahwa terang itu telah diciptakan pada hari pertama Penciptaan, sebab Allah sudah ada sebelum bumi ini dijadikan dan kehadiran-Nya sering dikaitkan dengan terang (1Yoh. 1:5; Why. 22:5). Pada Penciptaan, terang itu diperkenalkan kepada planet yang sebelumnya gelap gulita” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Manusia dalam kebodohan dan kegelapan moralnya harus memiliki terang, terang rohani; karena dunia tidak mengenal Allah, dan Dia harus dinyatakan kepada pengertian mereka. Kebenaran memandang ke bawah dari surga dan tidak melihat pemantulan citranya; sebab awan tebal kegelapan dan kesuraman moral membungkus dunia ini, dan hanya Tuhan Yesus saja sanggup menguak awan itu: oleh karena Dia adalah Terang dunia. Oleh kehadiran-Nya Dia dapat mengusir bayang-bayang kesuraman yang Setan sudah tempatkan di antara manusia dan Allah. Kegelapan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat atas manusia” (Ellen G. White, Fundamentals of Christian Education, hlm. 177).

Apa yang kita pelajari tentang terang yang Allah ciptakan di awal Penciptaan?
1. Terang yang Allah hadirkan di hari pertama penciptaan adalah terang hakiki yang berasal dari Diri-Nya sendiri, dan terang itu kemudian dipisahkan dari kegelapan. Hanya terang yang bersumber dari Allah dapat menembus kegelapan hakiki.
2. Dengan menghadirkan dan memisahkan antara terang dan gelap itu Allah menciptakan waktu, satu periode yang dinamai-Nya “hari.” Jadi, Allah bukan saja menciptakan ruang yang bernama “langit dan bumi” tapi Dia juga menciptakan waktu, dan sebagai Pencipta ruang dan waktu Allah tidak dibatasi oleh kedua hal tersebut.
3. Terang adalah bagian dari jatidiri Allah, dan terang Allah ini berkuasa bukan saja untuk menerangi lingkungan tapi juga menerangi ruang-ruang di dalam hati dan pikiran manusia. Tuhan adalah terang dunia, dalam pengertian fisik maupun rohani.

Selasa, 8 Januari
LANGIT SEBAGAI BATAS (Langit Diciptakan)

Selimut bumi. Kitab Kejadian melanjutkan penuturannya tentang Penciptaan dengan mengatakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.’ Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua” (Kej. 1:6-8; huruf miring ditambahkan). Kata asli (Ibrani) yang diterjemahkan dengan cakrawala di sini adalah רָקִיעַ, raqiya, sebuah kata-benda maskulin yang secara harfiah berarti permukaan terluar.

Dalam pemahaman kita tentang langit, itu terdiri atas tiga bagian: langit pertama di mana terdapat atmosfir yang melingkupi bumi kita ini; langit kedua adalah angkasa luar di mana terdapat berbagai benda-benda langit seperti matahari, bulan, bintang-bintang, galaksi; langit ketiga adalah surga atau tempat di mana Allah bertakhta dan tempat tinggal malaikat-malaikat suci. Cakrawala adalah atmosfir yang membungkus planet kita ini seperti sebuah selimut raksasa dengan ketebalan antara 350-800 Km dari permukaan bumi, tergantung pada aktivitas matahari, namun hanya sebagian kecil saja dari ketebalan atmosfir ini yang secara langsung bermanfaat untuk menopang kehidupan di bumi sedang selebihnya adalah gas yang tidak menopang kehidupan. Tapi meskipun sebagian besar dari ketebalan atmosfir atau langit pertama ini tidak menopang kehidupan di bumi, namun lapisan yang lebih tebal itu berfungsi sebagai pelindung kehidupan di bumi dari ancaman materi-materi luar angkasa seperti bebatuan dan serpihan-serpihan yang kerap disebut “sampah ruang angkasa”(space junk) yang bertubi-tubi menghantam planet kita ini.

Langit pertama. Kita menyebut lapisan atmosfir sebagai langit pertama ini terbagi ke dalam lima lapisan. Lapisan pertama disebut “troposfir” yang ketebalannya adalah sekitar 9 Km di bagian kutub dan 17 Km di bagian katulistiwa (sering disebut sebagai lapisan udara), yaitu bagian yang sangat penting dalam menopang kehidupan di bumi untuk pernafasan dan proses fotosintesis, dengan kandungan gas utama adalah nitrogen (78%) dan oksigen (21%) serta argon dan karbon dioksida dalam jumlah sangat kecil. Troposfir juga dikenal sebagai Zona Cuaca oleh karena apa yang terjadi pada lapisan ini mempengaruhi keadaan cuaca di permukaan bumi, sebuah kajian ilmu yang disebut meteorologi. Lapisan kedua adalah “stratosfir” yang langsung menyambung dari puncak troposfir ke atas hingga setebal 51 Km dari permukaan bumi. Pada bagian stratosfir inilah terdapat apa yang kita kenal sebagai lapisan ozon yang berfungsi menyaring sejumlah besar radiasi ultraviolet dari sinar matahari agar tidak menembus troposfir dan membahayakan makhluk hidup. Lapisan ketiga disebut “mesosfir” yang berada langsung di atas lapisan troposfir sampai mencapai 80-85 Km dari permukaan bumi, dengan suhu paling dingin sekitar -85°C. Lapisan keempat disebut “termosfir”dengan suhu yang semakin panas hingga dapat mencapai 1500°C, dan pada lapisan inilah wahana Stasiun Ruang Angkasa Internasional berorbit pada ketinggian 320-380 Km. Lapisan terluar dari atmosfir bumi disebut “eksosfir” yang kandungan intinya adalah gas hidrogen dan helium. Secara bersama-sama kelima lapisan atmosfir ini, yang kita sebut langit pertama, berfungsi untuk menopang kehidupan dan sekaligus melindungi kehidupan di bumi. Kecuali eksosfir yang berupa partikel-partikel bebas, keempat lapisan pertama tetap berada pada tempatnya dan tidak pernah bertukar posisi oleh sebab semuanya tunduk pada hukum gravitasi bumi.

“Atmosfir tampaknya menjadi bagian dari ‘langit’ yang telah dibentuk pada hari kedua Penciptaan. Atmosfir menyediakan metode untuk menggerakkan air ke atas; air bisa menguap dan memasuki atmosfir di mana itu dapat diangkut ke suatu tempat di bumi. Kemudian air itu dapat dibawa kembali ke permukaan bumi, baik melalui kabut seperti diuraikan dalam Kejadian 2:6 atau sebagai hujan” [alinea kedua].

Langit kedua. Bagian di angkasa luar yang memisahkan bumi kita ini dengan surga di mana Allah bertakhta adalah ruang angkasa di mana terdapat bintang-bintang dan tatasurya. Ini adalah bagian yang sangat sangat luas sekali sebab diisi oleh lebih dari 170 milyar galaksi, kemungkinan besar lebih banyak lagi. Galaksi adalah sebuah entitas ruang angkasa yang ukurannya bermacam-macam, mulai dari “galaksi kerdil” yang hanya memiliki 10 juta bintang sampai yang berukuran raksasa dengan 100 trilyun bintang (10 juta kali). Galaksi kita sendiri, yang dinamai galaksi “Bintang Susu”(Milky Way), memiliki sekitar 200 milyar bintang, matahari adalah salah satunya. Jarak antara satu galaksi dengan galaksi lainnya bisa sampai sekitar 32.000.000.000.000.000.000 Km (32 juta trilyun Km). Galaksi Andromeda, tetangga kita yang terdekat, itu saja berjarak lebih dari 19 juta trilyun Km. Hebatnya lagi, seluruh penghuni jagad raya ini terus bergerak tetapi terikat pada orbit masing-masing sehingga tidak sampai bertabrakan. Beberapa kali kita mendengar tentang perkiraan para ahli yang “meramalkan” tubrukan antara Bumi dengan benda-benda ruang angkasa yang katanya akan menjadi kiamat bagi dunia kita ini, tetapi tak satu pun menjadi kenyataan.

Hanya Pencipta yang kuasanya maha dahsyat seperti Allah kita saja yang dapat merancang alam semesta dengan hukum-hukum alam yang presisionis dan stabil seperti ini sehingga kehidupan di Bumi ciptaan-Nya tetap terpelihara. Alam semesta memiliki kekuatan gravitasi yang tepat sekali, tidak terlalu besar sehingga bintang-bintang bisa menjadi terlampau panas dan terbakar, dan tidak terlalu kecil sehingga menjadi terlalu dingin dan menyebabkan tidak adanya panas serta cahaya; benda-benda ruang angkasa memiliki kecepatan jelajah dan jarak jelajah yang sangat tepat dan stabil sehingga tidak menimbulkan gangguan alam yang membahayakan kehidupan di Bumi, dan sebagainya. Bahkan dosa yang telah merusak kehidupan di atas Bumi itu pun tidak berpengaruh pada kestabilan dan ketepatan hukum gaya tarik bumi serta hukum-hukum alam lainnya yang dapat membuat kehidupan di dunia ini menjadi kacau balau. Kasih Allah terlalu besar untuk membiarkan kebodohan manusia memusnahkan kehidupan mereka sendiri–terkecuali Allah dalam hikmat-Nya sesekali membiarkan hal itu terjadi untuk menjadi peringatan!

“Allah menamai cakrawala, menandakan kedaulatan-Nya atas cakrawala itu. Tindakan penamaan menyiratkan bahwa Allah berdaulat atas ruang. Ruang tidak membatasi tindakan Allah dengan cara apapun, sebab Dia yang menciptakan dan mengaturnya. Sama seperti penerangan dunia di hari pertama, penciptaan cakrawala diselesaikan sebelum akhir hari kedua, sebuah periode petang dan pagi lainnya” [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan langit?
1. Langit, bersama-sama dengan Bumi, adalah bagian dari Penciptaan. Langit tampaknya memiliki hubungan yang erat dengan bumi, dalam arti bahwa bumi ini tidak dapat dihuni oleh manusia (maksud dari penciptaan bumi) kalau tidak diciptakan juga langit. Kalau merujuk kepada langit yang pertama, yaitu cakrawala atau atmosfir, kita mengerti perlunya langit itu.
2. Jika langit yang diciptakan pada hari kedua itu juga meliputi langit lapisan kedua, yakni ruang angkasa yang dihuni oleh galaksi-galaksi dan bintang-bintang, maka kita dapat menyimpulkan bahwa penciptaan planet Bumi beserta manusia dan makhluk-makhluk lainnya sebagai penghuni planet ini adalah yang menjadi dasar dari penciptaan alam semesta.
3. Allah sebagai Pencipta alam semesta berdaulat atas seluruh ciptaan-Nya. Allah juga yang menciptakan ruang dan waktu, maka ruang dan waktu tidak dapat membatasi maksud dan tindakan-Nya. Allah dapat berbuat apa saja tanpa dukungan atau pun eksistensi awal dari ruang dan waktu. Hanya manusia yang mutlak membutuhkan ruang dan waktu untuk dapat beraktivitas.

Rabu, 9 Januari
MENYIAPKAN LINGKUNGAN HIDUP (Tempat Untuk Tinggal)

Bukan kebetulan. Karena bumi ini diciptakan Allah “bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami” (Yes. 45:18), maka bumi harus dapat menopang kehidupan, atau yang kita sebut sebagai lingkungan hidup. Setelah membungkus planet ini dengan atmosfir yang dapat menopang dan sekaligus melindungi kehidupan, sebagai habitat yang cocok bagi manusia sebagai tujuan utama penciptaan, kemudian Allah memisahkan antara daratan dengan lautan. Manusia dan sebagian besar makhluk ciptaan lainnya dikodratkan untuk hidup di darat, dan sebagian lagi makhluk ciptaan hidup di air atau laut.

“Sebelumnya, bumi ditutupi dengan air. Untuk menyediakan ruang hidup bagi manusia yang direncanakan Allah untuk diciptakan, Ia mengubah permukaan bumi untuk menghasilkan cekungan yang menampung air dan membentuk lautan, sehingga muncullah daratan. Ini menyangkut pemisahan ketiga dari bentuk fisik bumi. (Pemisahan pertama adalah antara terang dan gelap; pemisahan kedua antara air di atas dan air bawah; dan pemisahan ketiga antara tanah kering dan lautan)” [alinea pertama].

Pengaturan ini mustahil terjadi secara kebetulan tanpa sesuatu kuasa yang merancang semua ini. Jadi, konsep bahwa alam semesta ini telah terjadi secara kebetulan itu hanya bisa menjelaskan probabilitas statistik tentang suatu kejadian, namun “kebetulan” itu sendiri tidak dapat berbuat sesuatu. Sama seperti melakukan undian (toss) dalam sebuah pertandingan sepakbola, dengan cara melemparkan sekeping uang logam untuk menentukan tim mana yang akan menendang bola pertama. Apakah uang logam itu akan jatuh dengan sisi depan atau sisi belakang yang menghadap ke atas kemungkinannya sama besar, yaitu 50%. “Kebetulan” tidak dapat menentukan sisi mana yang akan jatuh dalam posisi menghadap ke atas, tapi hanya dapat menjelaskan probabilitas yang besarnya sama. Faktor-faktor yang menentukan di sini adalah arus dan tekanan udara saat uang logam itu dilempar ke atas, ketinggian lemparan, dan pada titik mana uang logam itu ditangkap ketika jatuh kembali ke bawah. “Kebetulan” hanya bisa memperkirakan besarnya peluang antara sisi depan dan sisi belakang untuk menghadap ke atas saat uang logam itu ditangkap.

Allah sumber kehidupan. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya dalam ulasan SS ini, dan juga seperti yang kita semua sudah pelajari di sekolah, bahwa sinar matahari adalah energi vital yang menunjang kehidupan di muka bumi ini. Bahkan, ilmu pengetahuan mengajarkan kita untuk percaya dan membawa kita kepada kesimpulan bahwa tanpa energi dari sinar matahari maka kehidupan di bumi ini akan mati. Tapi coba perhatikan bahwa pada hari ketiga dalam minggu penciptaan itu Allah sudah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji sebelum ada matahari yang baru akan diciptakan pada hari berikutnya, atau hari keempat. Dengan kata lain, umur tumbuhan lebih tua daripada umur matahari. Kalau penciptaan tidak terjadi selama masa enam hari dalam arti harfiah, tetapi berlangsung sangat lamban sampai trilyunan tahun, apa jadinya dengan kehidupan dari pohon biji-bijian dan tumbuhan berbiji yang sudah bertumbuh sebelum matahari ada?

Perhatikan juga bahwa tumbuhan itu tidak dimulai dengan biji sebagai benih, tapi langsung sudah menjadi pohon-pohon yang cukup dewasa untuk mengeluarkan tunas-tunas dan berbuah. Baru pada proses regenerasi di kemudian hari yang mengikuti siklus pertumbuhan yang dimulai dengan biji dan tunas, tapi pada awalnya tumbuhan itu sudah ada sempurna. Inilah kehidupan pertama di atas muka bumi ini sebelum jenis-jenis kehidupan lainnya menyusul kemudian, dan itu sudah muncul sebelum ada matahari sebagai sumber energi alamiah yang menopang kehidupan. Hal ini bisa terjadi karena Allah sendiri adalah Sumber kehidupan sejati, dan bilamana Dia menghendaki suatu kehidupan untuk eksis di sebuah tempat dan pada suatu waktu, itu pasti terjadi tidak peduli apakah lingkungan alam sekitarnya dapat menopang kehidupannya atau tidak. Alkitab menyatakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.’ Dan jadilah demikian” (Kej. 1:11; huruf miring ditambahkan).

“Ayat itu tidak menyebutkan berapa banyak jenis tumbuhan berbeda yang diciptakan, tetapi mengindikasikan bahwa pada mulanya sudah ada beraneka-ragam tumbuhan. Bahkan, dari apa yang kita lihat sekarang ini, kita mengetahui bahwa pasti ada keragaman yang luar biasa dari bentuk-bentuk kehidupan ini. Kitabsuci juga jelas mengatakan bahwa di sini tidak ada leluhur tunggal dari mana semua tumbuhan itu berkembang; sebaliknya, sejak dari awal sudah ada suatu keanekaragaman hayati. Konsep tentang suatu leluhur tunggal dari tanaman, yang merupakan dasar bagi biologi evolusioner, adalah bertentangan dengan catatan Alkitab” [alinea terakhir: empat kalimat terakhir].

Fakta bahwa Allah telah menciptakan bumi ini untuk menjadi sebuah lingkungan hidup yang sesuai dan sanggup untuk menopang kehidupan itu menunjukkan kekuasaan-Nya yang besar sebagai Pencipta dan Sumber kehidupan. Barangkali nasihat dari pena inspirasi berikut ini berguna khususnya bagi mereka yang hidup dari bercocok-tanam: “Kita tidak boleh bimbang dan kecewa akan hal-hal jasmani yang menunjukkan kegagalan, kita juga tidak boleh putus asa oleh keterlambatan. Kita harus mengerjakan tanah itu dengan gembira, penuh harap dan bersyukur, percaya bahwa tanah menyimpan persediaan yang kaya bagi pekerja yang tekun untuk mengumpulkannya, lebih kaya daripada emas dan perak…Dengan pengolahan tanah yang sesuai dan cerdik, tanah akan mengeluarkan perbendaharaannya demi keuntungan manusia…Allah menciptakan biji sebagaimana Ia menjadikan bumi, yaitu oleh firman ilahi. Kita harus menggunakan kemampuan akal budi kita dalam mengolah tanah, dan percaya kepada firman Allah yang sudah menciptakan buah-buah dari tanah untuk keperluan manusia” (Ellen G. White, Testimonies to Ministers, hlm. 243).

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana Allah menciptakan kehidupan dan lingkungan hidup?
1. Bumi ini tercipta bukan secara kebetulan, tetapi Allah yang merancangnya untuk menjadi sebagai wahana lingkungan hidup yang sempurna bagi manusia. Bahkan meski pun dosa sudah masuk dan merusak planet ini kita masih dapat menyaksikan sisa-sisa keajaiban penciptaan bumi ini.
2. Keanekaragaman hayati adalah konsep yang digunakan Allah saat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi, dan keanekaragaman itu sudah ada sejak permulaan. Berbagai spesies tumbuhan baru yang muncul di kemudian hari, baik akibat mutasi genetik maupun tuntutan penyesuaian lingkungan, hanya menunjukkan betapa dahsyatnya desain penciptaan ilahi itu.
3. Terciptanya tumbuhan di bumi sebelum ada sinar matahari sebagai sumber energi yang menopang kehidupan membuktikan bahwa Allah adalah Sumber kehidupan sejati, dan bahwa kehidupan yang bersumber dari Allah tidak tergantung pada kondisi alam lingkungan yang sesuai atau tidak. Allah juga dapat mengubah kondisi sebuah tempat menjadi suatu lingkungan hidup yang menopang kehidupan di mana umat-Nya berada.

Kamis, 10 Januari
FIRMAN ALLAH ADALAH TERANG (Firman Allah Yang Mahakuasa)

Terang ilahi. Firman Allah adalah sumber terang, baik sebagai benda (sinar) atau pun secara rohani (ilham). Di masa penciptaan terang ilahi menghasilkan sinar yang menerangi bumi ini secara fisik, di masa pertobatan terang ilahi itu dapat menghasilkan cahaya rohani yang menerangi pikiran dan hati manusia. “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11).

Tanpa firman Allah–dalam hal ini adalah Alkitab–manusia tidak mempunyai penerangan apapun, baik tentang kejadian-kejadian yang bersifat fisik maupun perubahan-perubahan dalam diri manusia secara rohani. Dalam hal penciptaan, misalnya, kita memperoleh informasi yang jelas tentang bagaimana Allah menciptakan alam semesta oleh firman-Nya, “sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3). Bahkan, kita juga mengetahui bahwa “oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu…tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman” (2Ptr. 3:5, 7).

“Alkitab mengajarkan bahwa Allah mencipta dari yang tidak ada (ex nihilo), oleh kuasa firman-Nya dan tanpa konflik atau perlawanan dalam bentuk apapun. Di kalangan orang-orang zaman purba, pandangan penciptaan ini adalah khas bangsa Ibrani. Hampir semua kisah penciptaan yang non-alkitabiah bertutur tentang konflik dan kekerasan dalam penciptaan” [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Alkitab atau mitologi. Dr. L. James Gibson, penyusun pelajaran SS triwulan ini, sangat tepat ketika dia berkata: “Penciptaan adalah kebenaran mendasar dari Kitabsuci. Semua ajaran alkitabiah lainnya–Penjelmaan, Salib, dan Kedatangan kedua kali–didasarkan atas kebenaran bahwa dunia kita ini telah diciptakan oleh Tuhan” (lihat prakata dalam buku Pelajaran SS, hlm. 3, berjudul Pada Awal Mulanya, alinea ketiga). Kalau seseorang tidak percaya pada penciptaan dalam tempo enam hari harfiah sebagaimana dinyatakan dalam kitab Kejadian pasal 1, maka pengajaran-pengajaran apapun di seluruh Alkitab itu menjadi tidak berguna bagi orang itu. Kalau anda tidak percaya pada lembar pertama dari isi Alkitab yang menyatakan bahwa Allah yang menjadikan langit dan bumi adalah Pencipta yang maha kuasa, dan bahwa dengan kuasa-Nya yang mutlak dan tak terbatas itu Ia dapat menciptakan apa saja dari keadaan yang hampa, maka lembaran-lembaran selanjutnya dari Alkitab itu tidak penting lagi bagi anda. Saya merasa sangat dikuatkan dan bersyukur dapat mengikuti penjelasan tambahan dari Dr. Gibson, direktur Lembaga Penelitian Geo-Sains, Universitas Loma Linda, yang telah diundang oleh jemaat Azure Hills untuk berbagi pandangan-pandangannya pada hari Sabat pekan lalu.

Tanpa Alkitab, rasa ingin tahu manusia tentang asal-usul langit dan bumi hanya akan menemukan kepuasannya dalam mitologi atau dongeng-dongeng yang bahkan jauh lebih aneh dan muskil daripada kisah penciptaan yang tersurat dalam Alkitab. Misalnya menurut riwayat Enuma Elish yang bertutur tentang dongeng penciptaan langit dan bumi sesuai legenda bangsa Mesopotamia (Babilonia) purba dengan tokoh pasangan Apsu, dewa air tawar, dan istrinya Tiamat, dewi air asin. Konon, pasangan ini melahirkan Kishar dan Anshar, dewa-dewa yang melambangkan perbatasan antara langit dan bumi (horison), yang selanjutnya melahirkan Anu dan kemudian Ea, “anak-anak para dewa” yang suka berbuat onar dan berisik sehingga menimbulkan niat bagi Apsu untuk memusnahkan cucu dan buyut biang kerok ini. Ea yang mengetahui niat itu berkomplot dengan istrinya, Damkina, lalu membunuh Apsu dan menyembunyikan mayatnya. Damkina kemudian melahirkan Marduk, dewa musim semi yang melambangkan sinar matahari dan hujan, dan juga dewa pelindung kota Babel. Tiamat yang akhirnya tahu perihal kematian suaminya lalu berniat membalas dendam, dengan menciptakan 11 monster untuk melaksanakan niatnya, dipimpin oleh Kingu, suaminya yang baru. Dari peperangan antar-dewa inilah kemudian tercipta langit dan bumi. Aneh? Tapi itulah yang tertulis pada ukiran tanah liat (Tablet I) dari abad ke-12 SM yang ditemukan dalam suatu penggalian situs purbakala. (Baca selanjutnya di—>http://www.cresourcei.org/enumaelish.html)

Masih ada lagi mitos bangsa Cina dengan tokoh Pan Gu yang konon terbangun dari tidur panjangnya selama 18 ribu tahun gara-gara merasa sesak nafas karena rupanya dia telah tertidur di dalam sebuah telur hitam raksasa. Dengan sekuat tenaganya dia berusaha memecahkan kulit telur itu sehingga terbelah dua, bagian atas kemudian membentuk langit dan bagian bawah membentuk bumi, sementara Pan Gu tetap berdiri di tengah, kepalanya melekat di bagian atas dan kakinya di bagian bawah tanpa bisa terlepas. Kedua belahan kulit telur itu mulai bertumbuh-kembang dengan kecepatan 10 kaki per hari, dan badan Pan Gu turut bertumbuh bersama itu. Sesudah periode 18 ribu tahun yang kedua, jarak antara bagian atas yang telah membentuk langit dengan bagian bawah yang sudah berubah jadi bumi adalah 9 juta li dengan Pan Gu tetap di sana sebagai pilar yang memisahkan langit dan bumi. Akhirnya Pan Gu pun mati, nafasnya berubah jadi angin dan awan, suaranya berubah jadi guntur. Matanya yang satu jadi matahari, dan satunya lagi jadi bulan. Badan dan tungkainya berubah jadi lima gunung besar, dan darahnya jadi air yang menggelora. Urat-urat nadinya jadi jalan-jalan raya, otot-ototnya jadi tanah yang subur. Bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya di langit adalah berasal dari rambut kepala dan janggutnya, bunga-bunga dan pepohonan berasal dari kulit dan bulu-bulu sekujur badannya. Meskipun tubuhnya sudah mati tapi emosinya tidak, jadi bila Pan Gu merasa senang maka matahari akan bersinar cerah, tapi jika sedang susah atau marah awan-awan gelap akan berkumpul menutupi langit.

Itu baru dua cerita dongeng perihal terciptanya langit dan bumi, masih ada puluhan bahkan ratusan legenda yang dapat kita gali dan sajikan sekiranya perlu. Tapi yang pasti mitologi terciptanya alam semesta akan kian menarik dan lucu, bahkan semakin menggila dan menggelikan untuk diikuti. Mengapa kita akan bertambah geli membaca dongeng-dongeng seperti itu? Oleh sebab kita sudah mengetahui melalui Alkitab bahwa penciptaan langit dan bumi sesungguhnya adalah melalui kuasa Allah yang ajaib, semuanya tercipta selama kurun waktu enam hari dalam arti kata yang sebenarnya. Bilamana anda percaya pada penuturan Alkitab tentang penciptaan alam semesta, maka semua usaha manusia untuk mereka-reka asal-usul terjadinya langit dan bumi akan selalu menjadi hal yang terasa menggelikan.

Bukan saja mitos-mitos tentang penciptaan akan terdengar menggelikan, tapi juga teori-teori yang berlandaskan ilmu pengetahuan sekalipun akan terkesan sangat dibuat-buat. Kisah penciptaan dalam Kitabsuci hanya bisa diterima oleh iman, dan iman adalah sisi yang selalu berseberangan dengan akal manusia. “Jadi, bagaimana pun juga Kejadian 1:1-2:15 tidak dapat diselaraskan dengan teori evolusi moderen, yang pada intinya menentang penuturan Alkitab tentang Penciptaan” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Firman Allah yang maha kuasa?
1. Alkitab mencatat bahwa langit dan bumi, beserta penghuni di kedua ruang yang berbeda itu, telah diciptakan melalui Firman Allah. Firman itu telah berperan utama dalam masa penciptaan, dan Firman yang sama itu juga berperan dalam penciptaan-ulang manusia. Melalui Firman-Nya, Allah melaksanakan seluruh niat yang ada dalam hati-Nya, termasuk penebusan makhluk ciptaan-Nya.
2. Allah mengetahui bahwa manusia akan selalu bertanya-tanya tentang asal-usul keberadaan dirinya dan bumi tempat tinggalnya, itulah sebabnya Dia telah memberitahukannya melalui kitab Kejadian dengan cara yang sangat sederhana untuk bisa dimengerti dan diterima oleh iman. Penciptaan adalah doktrin utama dalam Alkitab, jika seseorang percaya pada doktrin penciptaan ini maka yang lain-lain akan lebih mudah diterima.
3. Doktrin penciptaan dalam Alkitab yang berasal dari ilham Allah terlalu tinggi untuk bisa dimengerti berdasarkan rumus-rumus ilmu pengetahuan moderen hasil penemuan manusia fana. Ilmu pengetahuan moderen dapat menemukan rujukannya dalam Alkitab, tapi Alkitab tidak membutuhkan rujukan ilmu pengetahuan moderen apapun.

Jumat, 11 Januari
PENUTUP

Keindahan dirusak dan dipulihkan. Allah itu sempurna, dan segala perbuatan-Nya selalu memantulkan sifat-Nya yang sempurna itu. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakannya dalam kesempurnaan; tatkala menciptakan manusia, Ia juga menciptakan mereka menurut kesempurnaan citra-Nya. Setiap hari sepanjang minggu penciptaan itu selalu ditutup dengan evaluasi menurut standar-Nya sendiri, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej. 1:10, 12, 18, 21, 25, 31). Dalam bahasa Ibrani, baik di sini adalah טוֹב, ṭōwḇ, sebuah kata-sifat yang juga berarti cocok dan menyenangkan. Pendek kata, apa yang Allah ciptakan itu cocok dengan maksud-Nya dan menyenangkan hati-Nya.

Tampaknya bukan hanya Allah saja yang bersukacita atas pekerjaan penciptaan bumi ini, tapi juga “bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai” (Ay. 38:7). Meskipun gaya bahasa dalam kitab Ayub kaya akan langgam-langgam puitis, isinya mengandung pula pernyataan-pernyataan faktual perihal penciptaan. Frase “semua anak Allah” dalam ayat ini sama dengan “anak-anak Allah” seperti dimaksudkan di awal kitab tersebut (1:6), yaitu merujuk kepada makhluk-makhluk ruang angkasa di luar Bumi kita ini. Sebagian komentator Alkitab menyebut mereka ini adalah penduduk surga, yang lainnya meyakini bahwa mereka adalah penghuni dunia-dunia lain di alam semesta. Pastinya, bumi kita ini bukanlah yang pertama diciptakan, tapi sebelumnya sudah ada ciptaan-ciptaan lain yang mendahului planet bahkan tatasurya kita.

“Tatkala bumi ini keluar dari tangan Penciptanya, keadaannya sangat indah sekali. Permukaannya dihiasi dengan gunung-gunung, bukit-bukit, dan lembah-lembah, diselingi dengan sungai-sungai yang menakjubkan dan danau-danau yang elok; namun bukit-bukit dan gunung-gunung itu tidak curam dan kasar atau penuh dengan tebing-tebing yang terjal dan mengerikan seperti keadaannya sekarang; tepi-tepi batu karang yang tajam dan kasar itu terpendam di bawah tanah yang subur, sehingga di mana-mana tumbuh pepohonan yang hijau dan segar…Seluruh permukaan ditutupi keindahan yang mengalahkan taman-taman bunga dari istana yang paling megah. Malaikat-malaikat menikmati pemandangan itu dengan kesenangan, dan bersukacita dengan pekerjaan Allah yang ajaib itu” [alinea kedua: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Sangat disayangkan bahwa kesempurnaan penciptaan itu telah dirusak dengan masuknya dosa ke bumi kita ini. Sekalipun demikian, Allah yang penuh kasih itu masih membiarkan sisa-sisa dari keelokan penciptaan-Nya untuk kita saksikan pada hari ini. Anda boleh mencari majalah-majalah sejenis National Geographic yang menampilkan foto-foto otentik pemandangan dari berbagai belahan Bumi, atau berselancar di dunia maya untuk mencari gambar-gambar panorama dari negeri mana saja di dunia ini, dan anda tidak akan pernah kehilangan rasa kagum terhadap keindahan alam yang masih tersisa di planet kita ini. Atau, setiap kali anda menemukan sisa-sisa keindahan penciptaan Allah di sekitar anda yang menimbulkan kekaguman, jika keadaan memungkinkan biasakanlah untuk berhenti sejenak dan membayangkan betapa jauh lebih indah keadaan dunia ini di waktu penciptaannya, sambil menyadari bahwa keadaan itu akan dipulihkan ketika bumi kita ini diperbarui kembali.

“Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya…Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Why. 22:5, 7).

(Oleh Loddy Lintong/California, 10 Januari 2013)

Leave a Reply