Penciptaan dan Kejatuhan

February 9, 2013 - Loddy Lintong

PELAJARAN KE-VI; 9 Februari 2013
“PENCIPTAAN DAN KEJATUHAN”

Sabat Petang, 2 Februari
PENDAHULUAN

Tertipu itu tidak lucu. Sebuah kalimat olok-olok yang tercetak pada kaos oblong berbunyi: “It’s nice to be wrong” (Bersalah itu indah). Barangkali kesimpulan seperti ini–merasa bahwa berbuat salah itu adalah hal biasa–berangkat dari anggapan bahwa karena semua manusia rentan terhadap kesalahan maka bersalah bukanlah sesuatu yang memalukan. Bahkan, secara naluriah setiap orang memiliki apa yang disebut dalam ilmu psikologi sebagai “mekanisme pertahanan diri” di mana seorang yang dituding bersalah cenderung akan berkilah dengan menyodorkan alasan sebagai pembenaran atas kesalahannya.

Barangkali jika akibat dari sesuatu kesalahan hanya menimpa diri orang yang bersalah itu sendiri hal itu tidak perlu menjadi masalah. Namun ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh satu orang dapat berdampak buruk terhadap banyak orang, sudah barang tentu kesalahan itu bukan lagi sesuatu yang “indah.” Contohnya adalah kesalahan fatal oleh Hawa yang telah memetik dan memakan buah pohon pengetahuan tentang baik dan jahat yang dilarang Allah, lalu memberikannya kepada Adam yang juga ikut memakannya. Sebab gara-gara kesalahan itu seluruh bumi terkutuk, dan semua keturunan mereka harus memikul kutukan dosa itu–mati. Sama sekali tidak lucu!

Tatkala Allah bertanya kepada Adam, apakah dia telah memakan buah pohon terlarang itu, Adam memainkan mekanisme pertahanan dirinya dengan memproyeksikan Hawa sebagai pihak yang bersalah. “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12). Sewaktu Allah beralih kepada Hawa untuk pertanggungjawaban, perempuan itu juga menggunakan dalih yang sama. “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (ay. 13). Allah mengerti bahwa pasangan manusia pertama itu sudah tertipu oleh Iblis, “bapa segala dusta” (Yoh. 8:44). Tetapi salah tetap salah, dan kesalahan yang kita lakukan secara sadar tidak dapat ditimpakan begitu saja kepada pihak lain, sekalipun kesalahan itu adalah akibat penipuan iblis.

Setan adalah hal yang nyata, bukan tokoh mitologis seperti dianggap oleh sebagian orang. Setan ada di Taman Eden, bersembunyi dalam sosok seekor ular, dan sekarang pun dia ada di mana-mana dalam berbagai manifestasi yang amat terselubung. Setan bukanlah sosok imajiner yang dapat kita jadikan sebagai “keranjang sampah” untuk melemparkan setiap kesalahan yang kita buat, seperti yang dimainkan dalam pertunjukkan monolog The Flip Wilson Show (tayangan populer di stasiun TV NBC Amerika awal 1970-an) dengan pelawak kulit hitam Clerow Wilson, Jr. yang memerankan wanita lancang bernama Geraldine Jones dan terkenal dengan ungkapan, “The Devil made me do it!” (Setan yang bikin saya berbuat hal itu).

“Maunya itu dianggap lucu. Tetapi dunia kita, dan kejahatan di dalamnya, menunjukkan bahwa Setan bukanlah bahan tertawaan. Bagi sebagian orang, gagasan tentang Iblis adalah sebuah takhyul kuno tidak perlu dianggap serius. Namun Alkitab itu tegas: meskipun Setan adalah musuh yang sudah dikalahkan (Why. 12:12; 1Yoh. 3:8), dia ada di bumi ini, dan dia bertekad untuk mendatangkan sebanyak mungkin malapetaka dan kehancuran terhadap ciptaan Allah” [alinea kedua dan ketiga].

Pena inspirasi menulis: “Peperangan yang telah dimulai di surga itu tidak berakhir di situ. Pada waktu Setan terusir keluar, ikut terusir bersama dia sejumlah besar malaikat yang oleh cara berpikirnya yang menyesatkan telah dipimpinnya untuk memberontak terhadap Allah. Mereka sudah datang ke bumi ini, dan penipuan yang sama oleh mana Setan telah mengakibatkan kejatuhan malaikat-malaikat itu dia praktikkan atas Adam dan Hawa…Sampai hari kiamat akan ada peperangan antara antek-antek Setan dengan orang-orang yang menerima Kristus, mereka yang untuk siapa Dia sudah memberikan nyawa-Nya, agar mereka boleh memiliki kuasa untuk menaati hukum Allah. Pertentangan ini, sebagaimana diutarakan dalam Firman Allah, menyangkut kepentingan kita secara perorangan, dan terhadap hal itu kita sekarang harus perhatikan dengan sungguh-sungguh” (Ellen G. White, Review and Herald, 3 Mei 1906).

Minggu, 3 Februari
KALAH CERDIK (Ular Itu Lebih Lihay)

Manusia pertama tertipu. Tentu saja Setan tahu akan kecerdikan ular yang melebihi hewan-hewan lain, dan dia juga paham bahwa pasangan manusia pertama itu tahu perihal ular sebagai hewan paling cerdik. Itulah sebabnya ketika Hawa yang sedang berjalan sendirian dan berada di dekat “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” tidak terkejut ketika ular itu menyapanya. Setan memanfaatkan ular tersebut dengan cara menambahkan kelihayannya kepada kecerdikan binatang melata itu, dan sekonyong-konyong ular dapat mengeluarkan pendapat yang menjebak, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1).

Apa yang terjadi kemudian, sebagaimana kita tahu, ialah Hawa menanggapi si ular. “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (ay. 2, 3). Perhatikan keluguan Hawa dan kepeduliannya untuk mengoreksi perkataan ular itu. Dalam gaya bahasa sekarang ini, Hawa seperti berkata: “Oh, kamu salah, ular. Semua buah di taman ini boleh kami makan, tetapi buah pohon di mana kamu bertengger itu, Tuhan bilang jangan dimakan sebab nanti kamu mati.” Tampaknya Hawa tidak menyadari bahwa sebenarnya dia bukan sedang berhadapan dengan ular, tetapi dengan Setan yang menjadi “penumpang gelap” dalam diri ular itu.

Di kemudian hari, rasul Paulus menyatakan kekhawatirannya bahwa kesetiaan umat Tuhan yang lugu bakal terperdaya juga. “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (2Kor. 11:3; huruf miring ditambahkan). Perhatikan, Paulus menekankan pada penyesatan pikiran yang dapat menggoyahkan kesetiaan sejati seorang pengikut Kristus, “sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular” karena perempuan itu tidak menyadari bahwa yang dihadapinya ketika itu sesungguhya adalah mantan petinggi di surga. Banyak orang sekarang ini yang suka sekali terlibat dalam perdebatan tentang kebenaran Alkitab, merasa seakan-akan mereka sedang membela kebenaran firman Allah dengan orang lain, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang berhadapan dengan makhluk paling lihay yang sedang menyaru dalam diri orang lain, siapa pun dia.

“Kecerdikan ular itu terlihat dalam cara dia mengajukan godaannya. Dia tidak membuat serangan langsung tetapi berusaha melibatkan perempuan itu dalam percakapan. Perhatikan bahwa kata-kata ular itu mencakup setidaknya dua aspek problematik. Pertama, dia bertanya apakah Allah benar-benar membuat suatu pernyataan tertentu. Pada waktu yang sama, dia menyusun pertanyaannya untuk membangkitkan keraguan tentang kemurahan hati Allah…Dengan sengaja salah mengutip perintah Allah, si ular menjerat perempuan itu untuk membetulkan pernyataannya dan berhasil menarik dia ke dalam percakapan. Strategi ular itu sudah jelas ‘lihay’.” [alinea pertama: lima kalimat pertama dan dua kalimat terakhir; huruf miring ditambahkan].

Semua rentan ditipu. Kita bisa saja berandai-andai: Kalau saja Hawa tidak berjalan sendirian dan Adam berada di sampingnya; kalau saja Hawa tidak menghampiri pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu; kalau saja Hawa tidak peduli dengan perkataan si ular tetapi segera berlalu dari situ; kalau saja Hawa sadar bahwa bukan ular yang sedang dia hadapi tetapi Setan; dan lain-lain. Namun satu hal harus disadari, bahwa situasi kita tidak lebih baik sekarang ini dibandingkan dengan situasi Hawa pada waktu itu, atau sebaliknya. Setan terlalu licik dan lihay untuk dapat ditaklukkan oleh manusia secerdas dan sesaleh apapun, dan bahwa semua orang rentan menjadi korban penipuan serta penyesatannya.

“Jelas, Setan sama sekali tidak kehilangan kelicikan atau penipuannya. Dia masih menggunakan strategi yang telah berhasil terhadap Hawa. Dia memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang Firman Allah dan maksud-maksud Allah, berharap untuk membangkitkan keraguan dan menarik kita ke dalam ‘percakapan.’ Kita harus waspada (1Ptr. 5:8) untuk melawan muslihat-muslihatnya” [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

“Naga yang besar itu dibuang ke luar! Dialah ular tua itu yang bernama Iblis atau Roh Jahat, yang menipu seluruh dunia” (Why. 12:9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Tetapi, bukan seperti waktu di Taman Eden ketika Setan memanfaatkan kecerdikan ular, pada zaman akhir ini dia akan menggunakan manusia yang akan tampil sebagai Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu bahkan mampu melakukan berbagai tanda ajaib dan mujizat, “sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24; Mrk. 13:22). Jadi, tidak ada seorang pun boleh menganggap enteng terhadap penyesatan Iblis. Namun kita juga bersyukur bahwa banyak dari antara umat Tuhan yang waspada dan mengandalkan kuasa Kristus akan menang. “Saudara-saudara kita sudah mengalahkan dia dengan darah Anak Domba itu, dan dengan berita benar dari Allah yang mereka kabarkan” (Why. 12:11, BIMK).

Apa yang kita pelajari tentang kelicikan ular dan Setan?
1. Hawa tidak menyadari bahwa ketika dia berbicara dengan ular di Taman Eden, yang kedengarannya bertanya dengan tulus, sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Setan yang hendak menipu dirinya. Keberhasilan Setan menarik Hawa ke dalam percakapan dengan dia adalah pangkal dari kejatuhannya.
2. Dengan pengetahuan Alkitab dan pemahaman teologia kita tidak menjadi jaminan bahwa anda dan saya akan lebih mampu untuk melawan penipuan Setan. “Bapa segala dusta” itu sudah menyesatkan seluruh dunia, dan dia semakin berpengalaman untuk menghadapi umat Tuhan yang paling setia sekalipun.
3. Pada permulaan dunia ini Setan menggunakan ular untuk menipu manusia, di zaman akhir ini dia gunakan manusia sebagai antek-anteknya. Selalu waspada dan andalkan kuasa Roh Kristus. Jauhilah “pohon pengetahuan baik dan jahat” itu dengan cara menjauhi godaan untuk berdebat tentang kebenaran Alkitab, dengan siapa saja dan dalam forum apa saja!

Senin, 4 Februari
BELAJAR DARI PENGALAMAN HAWA (Perempuan Itu dan Si Ular)

“Hiperkorek.” Dalam ilmu linguistik ada istilah “hypercorrect” (hiperkorek), yaitu kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh penerapan berlebihan dari suatu aturan tatabahasa atau penggunaan kata. Dalam bahasa Indonesia, contoh penggunaan kata yang tergolong hiperkorek (=membetulkan bentuk kata yang sudah benar sehingga menjadi salah), misalnya: utang (sudah benar) menjadi hutang (salah atau hiperkorek); saraf(sudah benar) jadi syaraf (hiperkorek). Katakanlah, hiperkorek adalah “gejala ekstremisasi” dalam ragam bahasa.

Dalam percakapan antara Hawa dengan ular di Taman Eden kita juga menemukan semacam “gejala ekstremisasi” di pihak Hawa. Ketika ular (Setan) memancingnya dengan pemutar-balikkan fakta bahwa Tuhan mungkin melarang mereka untuk memakan buah dari semua pohon di taman itu, Hawa membantahnya dengan menambah larangan itu berdasarkan pendapat atau perasaannya sendiri. “Allah berfirman,” katanya, “Jangan kamu makan atau pun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej. 3:3). Ini merupakan gaya hiperkorek di pihak Hawa menyangkut perintah Tuhan itu. Atau barangkali Hawa bermaksud hendak mempertajam larangan itu, jangankan memakannya, menjamahnya saja tidak boleh. Padahal, seandainya dia sudah memetik buah dari pohon larangan itu tetapi tiba-tiba berubah pikiran lalu membuangnya dan tidak jadi memakannya, mestinya dia tidak berdosa.

“Oleh karena kita tidak tahu apa yang mendorong dia untuk mengatakan hal itu, paling baik ialah tidak berspekulasi tentang sebab-musababnya. Namun tidak diragukan: dengan berpikir bahwa dia tidak boleh meraba buah itu, akan berkurang kecenderungannya untuk memakannya, sebab dia tidak dapat memakan apa yang tidak dapat dia sentuh” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Tetapi dalam hal dosa, berniat saja itu sama dengan berbuat. Bukankah Yesus pernah berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (Mat. 5:21-22; huruf miring ditambahkan). Begitu juga, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (ay. 27-28; huruf miring ditambahkan).

“Betapa sering kita menghadapi hal yang sama dewasa ini: seseorang datang dengan pengajaran yang, meski tidak semuanya tapi kebanyakan, selaras dengan Kitabsuci? Hal-hal sedikit yang tidak selaras itulah yang dapat merusak segala yang lain. Kesalahan, sekalipun dicampur dengan kebenaran, tetap kesalahan” [alinea kedua].

Sikap atau hukum? Tatkala orang-orang Farisi dan ahli Taurat mencela murid-murid Yesus karena makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, dan dengan demikian melanggar aturan kesehatan yang secara tradisional dipelihara oleh orang Yahudi, Yesus menyergah dengan mengetengahkan pelanggaran mereka atas hukum moral yang kelima tentang menghormati orangtua. Menurut adat istiadat mereka, anak-anak dapat dibebaskan dari kewajiban “menghormati orangtua” untuk menyokong kehidupan ayah dan ibu mereka yang sudah tua kalau uang untuk itu sudah disumbangkan ke kaabah.

Apa yang Yesus tonjolkan di sini ialah soal “sikap” orang Yahudi yang munafik, mencari pembenaran atas pelanggaran mereka terhadap hukum Allah dengan cara berlindung pada adat istiadat dan tradisi. “Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri” (Mat. 15:6). Apalah artinya kelalaian membasuh tangan sebelum makan, dibandingkan dengan kelalaian menaati hukum Allah yang menuntut mereka untuk menghormati orang tua (hukum kelima)? Itu sama saja dengan membenarkan diri makan di restoran pada hari Sabat dengan memesan menu vegetaris, tetapi menyalahkan orang lain yang menghidangkan ikan dan daging untuk makan siang hari Sabat di rumahnya. Tentu saja yang terbaik ialah tidak masuk restoran pada hari Sabat dan makan makanan vegetaris di rumah sendiri, tetapi tanpa menuding orang-orang lain yang masih belum bertarak.

Terhadap mereka itu Yesus berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ay. 8-9). Jadi, ini adalah soal sikap ketaatan terhadap hukum Allah dan kedewasaan rohani sebagai umat Tuhan. Kita harus menuruti hukum Allah secara sempurna dan pas, tidak berlebihan dengan maksud agar secara luar terlihat lebih baik dari orang lain. Allah tidak suka manusia menambah apa yang difirmankan-Nya, dan di sisi lain manusia memang tidak berhak melakukan hal itu. “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini” (Why. 22:18).

“Masalah dengan dosa bukanlah kurangnya aturan tetapi hati yang keji. Bahkan dalam masyarakat sekuler kita sering mendengar seruan untuk menambah lagi hukum terhadap kejahatan padahal sudah ada undang-undang yang cukup memadai. Kita tidak perlu undang-undang yang baru seperti halnya kita membutuhkan hati yang baru” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang tanggapan Hawa terhadap ucapan ular di Taman Eden?
1. Hawa telah terpancing untuk menanggapi perkataan ular itu, berusaha untuk “membetulkan” ucapannya tentang perintah Allah, tanpa menyadari bahwa dia sedang digiring masuk perangkap. Acapkali kita juga terlalu bersemangat membela “kebenaran” yang kita pegang, tapi belakangan justeru ikut terseret keluar.
2. Perintah Allah harus ditaati dengan sempurna, tetapi bukan dengan melebih-lebihkan menurut pendapat kita sendiri. Penurutan harus dilakukan dalam sikap yang benar, selaras dengan apa yang dimaksud Tuhan. Sekalipun kita berhasil dalam menurut dengan sempurna, tetapi kita tidak diselamatkan oleh penurutan melainkan oleh kasih karunia Allah.
3. “Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri? Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?” (Pkh. 7:16, 17).

Selasa, 5 Februari
TUTUP PINTU TERHADAP KERAGUAN (Tertipu oleh Bukti)

Terpengaruh dan hilang. Berapa sering kita menyaksikan orang-orang yang semula kelihatan begitu militan membela doktrin yang benar, tapi belakangan berbalik meragukannya? Masalahnya adalah mereka membuka pintu pada keragu-raguan yang berasal dari luar, lalu terpengaruh dan hilang. Hawa adalah korban pertama di antara manusia yang jatuh ke dalam dosa oleh karena membiarkan dirinya dipengaruhi untuk meragukan firman Allah.
Ular itu berkata, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4, 5; huruf miring ditambahkan).

Perhatikan bahwa janji palsu yang Setan tawarkan kepada Hawa sesungguhnya merupakan cerminan dari ambisi si penipu itu sendiri. Dialah yang “hendak menyamai Yang Maha Tinggi” (Yes. 14:14) tatkala dirinya masih sebagai Lusifer, tetapi dia gagal dan diusir ke luar dari surga. Sekarang, di Taman Eden dia menipu Hawa, mengatakan bahwa dengan memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu dia “akan menjadi seperti Allah.” Kenyataannya, sebagaimana kita tahu, Hawa pun mengalami nasib yang sama seperti Lusifer, terusir keluar dari Taman Eden. Tujuan Setan dari dulu hingga sekarang tetap sama: karena dirinya sudah pasti binasa, manusia juga harus binasa bersama dia.

Alkitab memberitahukan kepada kita betapa “rayuan gombal” Iblis itu sangat mengesankan di hati Hawa, sebab apa yang terjadi kemudian perempuan itu tiba-tiba menjadi sangat tertarik pada buah pohon pengetahuan tentang baik dan jahat yang dilarang itu. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kej. 3:6; huruf miring ditambahkan).

“Setan berhasil menarik Hawa ke dalam percakapan dan membangkitkan keraguan perihal apa yang Allah katakan dan mengapa. Sekarang dia memberitahu Hawa bahwa Allah tidak mengatakan yang sebenarnya dan memberikan penjelasan akan motif Allah di balik larangan-Nya bagi mereka memakan buah itu. Menurut Setan, Allah sedang menahan sesuatu yang baik untuk membuat Adam dan Hawa tetap berada di bawah potensi mereka yang sempurna” [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Titik terlemah. Sebagian orang mereka-reka apa sebabnya Adam juga begitu mudah terpengaruh, dan menyayangkan mengapa dia tidak memperlihatkan sikap yang kritis terhadap perbuatan istrinya memakan buah larangan itu, sebaliknya malah menunjukkan kedunguan seperti kerbau yang dicucuk hidung. Tetapi itu menurut pendapat kita setelah membaca kisah itu dan mengetahui akibat-akibat selanjutnya. Anda dan saya tidak berada di sana, selain itu Adam dan Hawa adalah manusia dalam kesempurnaan penciptaan Allah, mereka pun hidup di lingkungan Taman Eden dalam suasana yang suci. Tentu saja kita tidak bisa begitu saja menghakimi nenek moyang kita yang pertama itu.

Tetapi yang pasti ialah bahwa Setan selalu menyerang pada titik terlemah, dan tampaknya Hawa adalah titik yang lebih lemah itu. Meskipun perempuan itu mungkin hanyalah “sasaran antara” bagi Setan–sasaran utamanya adalah Adam–tetapi dengan mengalahkan Hawa, si penipu itu sudah berhasil separuh jalan untuk mengalahkan sasaran utamanya. Kenyataannya, Adam menyerah “tanpa perlawanan” sama sekali. Tragis, bahwa Hawa yang adalah korban penggodaan sekarang dirinya pun menjadi penggoda terhadap suaminya sendiri. Setan tidak perlu bekerja keras menggoda Adam, tetapi dengan liciknya dia telah menggunakan Hawa sebagai kaki-tangannya untuk melaksanakan tujuannya menjatuhkan sasaran utamanya. Karena kejatuhan Adam, seluruh umat manusia jadi berdosa (Rm. 5:12). Lihatlah betapa dahsyatnya akibat berantai dari satu perbuatan pelanggaran. Karena itu, “janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Ef. 4:27).

Rasul Paulus mengatakan bahwa “bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda” (1Tim. 2:14). Faktanya memang begitu, Adam bukanlah korban penggodaan; Adam melanggar secara sadar, oleh sebab itu dosanya lebih besar dari istrinya. “Seberapa sering perilaku semacam itu terlihat sekarang ini? Betapa mudahnya kita bisa tergoda oleh apa yang orang lain katakan dan lakukan, tanpa memperhatikan betapa bertentangannya perkataan dan tindakan mereka terhadap Firman Allah. Adam mendengarkan Hawa gantinya Allah, dan selanjutnya adalah mimpi buruk yang dikenal sebagai sejarah manusia (baca Rm. 5:12-21)” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Hawa yang tertipu oleh bukti?
1. Kesalahan utama Hawa ialah tergoda untuk melibatkan diri dalam perbincangan dengan ular (Setan), dan selanjutnya dirinya berhasil dipengaruhi untuk meragukan perkataan Allah. Perhatiannya beralih kepada buah-buah pohon pengetahuan baik dan jahat itu, kali ini dengan pikiran yang sudah diracuni.
2. Setan yang lihay selalu menyerang titik terlemah, dia sudah berhasil di Taman Eden dan dia akan terus mengulangi strategi itu sekarang. Waspadailah titik terlemah anda–siapa atau apa itu.
3. Jangan pernah membuka pintu terhadap keraguan; apabila anda menjadi ragu terhadap firman Tuhan maka kemungkinan yang lebih buruk jadi terbuka lebar. Adam dapat dengan mudah mengabaikan perintah Allah oleh sebab dia begitu gampang menuruti perkataan Hawa.

Rabu, 6 Februari
SOLUSI TERHADAP DOSA (Kasih Karunia dan Penghakiman di Eden: Bagian Satu)

“Di manakah engkau?” Allah biasa mengunjungi Adam dan Hawa di Taman Eden secara pribadi untuk bercengkerama dengan kedua insan manusia ciptaan-Nya itu, tetapi kunjungan kali ini suasananya sungguh berbeda. Dia telah memperhatikan apa yang baru saja terjadi di bawah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu ketika Hawa bercakap-cakap dengan ular, dan Dia pun menyaksikan dari surga bagaimana Adam yang pasrah menerima buah larangan itu lalu memakannya tanpa ragu. Allah bisa saja datang lebih cepat sehingga mencegah pasangan tersebut melakukan dosa yang besar itu, namun Allah menghormati hak kebebasan memilih manusia.

“Di manakah engkau?” terdengar suara Allah memanggil Adam dan Hawa (Kej. 3:9). Tentu saja Allah tahu bahwa pasangan manusia itu tengah bersembunyi di balik kerimbunan pepohonan. Dapatkah kita membayangkan getaran emosi dalam nada suara Allah saat menyerukan kata-kata itu? Allah bisa saja langsung menghardik Adam dan Hawa di tempat persembunyian mereka atas perbuatan keji itu, tetapi gantinya Ia datang sebagai Bapa semawi yang penuh kasih hendak menemui anak-anak-Nya yang telah berdosa. Pertanyaan “Di manakah engkau?” mengandung suatu panggilan untuk datang mengakui kesalahan dan memohon ampun atas dosa mereka. Allah tahu di mana pasangan tersebut berada saat itu, tetapi Ia juga tahu bahwa sekarang sudah ada jurang yang dalam memisahkan Diri-Nya dengan manusia, jurang yang hanya Dia sendiri dapat dan akan menjembataninya.

Injil pertama. Hari itu adalah hari sangat bersejarah bagi manusia sepanjang zaman, suatu hari di mana nasib segenap umat manusia ditentukan. Setelah sebelumnya Adam dan Hawa berdosa oleh memakan buah larangan, selanjutnya pada hari itu juga Allah melakukan penghakiman para pelaku dosa dan sekaligus solusi atas dosa. Hari itu Allah menghakimi dan menjatuhkan hukuman berturut-turut terhadap ular (Kej. 3:14), lalu Setan (ay. 15), kemudian Adam dan Hawa beserta keturunan mereka (ay. 16-19).

Allah bersabda, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Dalam teologi Kristen ayat ini disebut sebagai protoevangelium (=Injil pertama), karena perkataan Allah itu mencanangkan kabar baik bagi manusia bahwa salah seorang keturunan Hawa kelak akan “meremukkan kepala” ular yang merupakan personifikasi dari Setan. Inilah untuk pertama kalinya Allah mengumumkan kasih karunia yang disediakan-Nya bagi manusia berdosa supaya memperoleh keselamatan.

“Pikirkanlah dalam-dalam dampak dari apa yang terjadi di sini. Pernyataan deklaratif Allah yang pertama kepada dunia yang sudah jatuh pada kenyataannya adalah sebuah kutukan terhadap Setan, bukan manusia. Sesungguhnya, bahkan dalam kutukan terhadap Setan itu Allah memberikan kepada umat manusia pengharapan dan janji akan injil (ay. 15). Sementara Dia menyatakan ajal Setan, Dia mengumumkan pengharapan umat manusia. Terlepas dari dosa mereka, Tuhan langsung mengungkapkan kepada Adam dan Hawa janji penebusan itu” [alinea pertama].

Kegenapan janji itu terjadi ketika Anak Allah sendiri turun ke dunia ini dan “menyatakan Diri-Nya dalam rupa manusia” (1Tim. 3:16), lahir di kandang Betlehem dari perawan Maria, untuk kemudian menjalani kematian penebusan dosa di salib Golgota sebagai “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Penyiksaan dan kematian yang dialami Yesus merupakan patukan yang “meremukkan tumit” Hawa, tetapi kebangkitan Yesus dari kubur-Nya di hari ketiga adalah kemenangan atas maut (1Kor. 15:54-57), yang oleh kasih karunia Allah mengalami maut itu bagi semua manusia (Ibr. 2:9), dan oleh kemenangan itu Dia “meremukkan kepala” Setan.

Pena inspirasi menulis: “Kalau saja Setan dapat menyentuh Kepala itu dengan godaan-godaannya yang palsu, niscaya seluruh umat manusia akan hilang; tetapi Tuhan telah mengumumkan maksud dan rencana dari rahasia kasih karunia itu, menyatakan bahwa Kristus pasti meremukkan ular itu di bawah kaki-Nya” (Ellen G. White, The Messenger, 7 Juni 1893).

Apa yang kita pelajari tentang kasih karunia dan penghakiman di Taman Eden?
1. Alkitab menuturkan bahwa pada hari di mana Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa Allah langsung turun dari surga secara pribadi untuk menemui pasangan manusia itu. Ini bukan kunjungan rutin yang biasa dilakukan-Nya seperti pada hari-hari sebelumnya; ini adalah perlawatan istimewa.
2. Kedatangan Allah pada hari paling bersejarah itu adalah untuk melakukan penghakiman atas semua pihak yang terlibat dan bersalah; kedatangan-Nya itu juga sekaligus untuk mencanangkan Injil bagi manusia, yaitu Kabar Baik tentang kasih karunia Allah sebagai solusi atas dosa manusia.
3. Penjelmaan Anak Allah yang lahir sebagai manusia di bumi ini dalam sosok Yesus Kristus adalah kegenapan janji kasih karunia itu. Kematian Kristus sebagai Anak Domba Allah itu ibarat patukan ular pada tumit Hawa, tetapi kemenangan-Nya atas maut ibarat injakan kaki yang meremukkan kepala ular itu.

Kamis, 7 Februari
JANJI PENEBUSAN DAN KEKUATAN (Kasih Karunia dan Penghakiman di Eden: Bagian 2)

Penghakiman dan injil. Ketika Allah turun ke Taman Eden tidak lama setelah pasangan manusia pertama itu berdosa–melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat–Dia langsung mengadakan proses investigasi, menanyai pihak-pihak yang terlibat dalam perbuatan dosa itu. Allah memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada Adam (Kej. 3:11), lalu kepada Hawa (ay. 13). Pemeriksaan itu bukan dalam rangka pengumpulan fakta karena Allah sudah mengetahui semuanya, melainkan untuk memperoleh pengakuan dari para pelaku. Terhadap ular–personifikasi Setan–Allah tidak bertanya apa-apa (meskipun ular itu bisa berbicara!), tetapi langsung menjatuhkan vonis (ay. 14). Ular dihukum oleh sebab dirinya telah diperalat oleh Setan, dan hukuman itu sesungguhnya menegaskan sikap Allah terhadap siapa saja yang menjadi alat Setan, disadari atau tidak!

Tindakan Allah selanjutnya adalah memvonis Setan. Tidak ada tanya-jawab antara Tuhan dengan Setan, seperti juga dengan ular itu, sebab tidak ada yang perlu diajarkan kepada mereka. Allah “mengadakan permusuhan” antara manusia dengan Setan, sekaligus menentukan nasib akhir dari Setan (ay. 15). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan permusuhan dalam ayat ini adalah ??????, ‘eybah, sebuah kata benda feminin yang berarti juga kebencian. Jadi, dari awal memang Allah sudah menaruh rasa permusuhan dan kebencian antara Setan dengan manusia, meski di kemudian hari dari zaman ke zaman ada saja orang-orang yang “bersahabat” dengan Setan dalam berbagai manifestasi dan dengan berbagai motivasi tanpa menyadari bahwa pada akhirnya mereka bakal menjadi korban.

Dan sebagaimana yang kita pelajari kemarin, dalam permusuhan itu Setan akan “meremukkan tumit” keturunan Hawa tetapi keturunan perempuan itu akan “meremukkan kepala” Setan atau mengalahkannya dengan tuntas. Vonis yang mengandung makna nubuatan dalam ayat ini merupakan “kabar baik” atau Injil bagi umat manusia sepanjang zaman (baca pelajaran hari Rabu, 6 Februari). Tumit adalah bagian tubuh yang mudah dipatuk ular. Anak Allah, yaitu Mesias, harus turun ke dunia ini dan hidup sebagai manusia supaya Setan bisa menyerang-Nya, sebuah serangan yang tidak mematikan. Dalam pada itu, kedatangan Mesias ke dunia ini adalah untuk menghancurkan Setan di wilayah yang dikuasainya dengan meremukkan kepalanya, sebuah pukulan yang mematikan. Itulah injil, kabar baik bagi manusia tetapi kabar buruk bagi iblis.

“Memang harus demikian. Lagi pula, apakah maksud dari injil, apalah ‘kabar baik’ itu jika tidak ada penghakiman, tidak ada penghukuman yang harus dihindari? Konsep sesungguhnya dari ‘injil’ mengandung konsep penghukuman, suatu penghukuman yang tidak harus kita hadapi. Itulah ‘kabar baik’!” [alinea kedua: empat kalimat terakhir].

Injil, tema seluruh Alkitab. Injil, yaitu Kabar Baik bagi manusia, dicetuskan dalam kitab Kejadian dan digenapkan dalam kitab Wahyu. Bahkan, injil adalah tema dari seluruh isi Alkitab. Injil juga selalu ditampilkan bersama “rekan imbangan” (counterpart) di dalam Kitabsuci. Dalam kitab Wahyu, sebagaimana disaksikan oleh Yohanes Pewahyu, malaikat yang terbang di langit dan mengumumkan tentang penghakiman itu memegang injil dalam tangannya. Malaikat itu mengkhotbah injil dan sekaligus mengumumkan penghakiman, menandakan bahwa bagi manusia hanya ada dua pilihan: menerima injil atau menghadapi penghukuman.

“Dengan demikian, dasar dari pekabaran kita tentang kebenaran masa kini haruslah kasih karunia, kabar baik bahwa meskipun kita layak dihukum kita masih dapat diampuni, disucikan, dan dibenarkan melalui Yesus. Tanpa injil nasib kita akan sama dengan nasib ular itu dan keturunannya, bukan nasib perempuan itu dan keturunannya. Dan, cukup mencengangkan, berita besar ini bahkan muncul di Eden, dalam kata-kata deklaratif Allah yang pertama kepada dunia yang telah jatuh” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Ketika Setan mendengar perkataan, ‘Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya,’ dia tahu bahwa manusia akan diberi kuasa untuk melawan godaan-godaannya…Adam dan Hawa sudah menyerah pada godaan-godaannya, dan keturunan mereka akan merasakan kedahsyatan serangan-serangannya. Tetapi mereka tidak akan dibiarkan tanpa penolong…Ada permusuhan antara umat manusia yang sudah jatuh dengan Setan, hanya selama manusia menempatkan dirinya di pihak Allah dan berserah pada penurutan hukum Yehovah. Ini memberikan kepadanya kuasa untuk menahan serangan-serangan Setan. Melalui pengorbanan Kristus maka manusia disanggupkan untuk menurut” (Ellen G. White, Review and Herald, 3 Mei 1906).

Apa yang kita pelajari tentang injil dan penghakiman?
1. Penghakiman dan injil (=kabar baik bahwa ada penebusan dan keselamatan di dalam Kristus) adalah tema Alkitab yang selalu muncul bersama-sama, kadang penghakiman dan kerap pula injil yang disebutkan lebih dulu. Kita bisa menemukannya di seluruh Alkitab karena penghakiman dan injil selalu berkumandang sepanjang zaman.
2. Penghakiman dan injil disajikan bersama-sama oleh karena itulah dua pilihan yang selalu dihadapkan kepada manusia, menerima injil dan selamat atau menghadapi penghakiman dan binasa. Allah tidak dapat memaksakan manusia untuk memilih salah satu karena menghormati hak kebebasan memilih manusia yang dikaruniakan-Nya.
3. Memilih injil akan menempatkan kita pada posisi berada dalam perlindungan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, suatu keadaan yang bukan saja menjanjikan penebusan dosa dan keselamatan tetapi juga kekuatan untuk mengalahkan godaan iblis.

Jumat, 8 Februari
PENUTUP

Pengharapan itu ada. Kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa adalah malapetaka yang harus ditanggung oleh seluruh umat manusia bahkan oleh bumi yang terkutuk. Dosa terjadi karena manusia mendengarkan penipuan Setan dan menggunakan kebebasan memilih mereka secara salah. Itu sudah dialami oleh pasangan manusia pertama di Taman Eden, dan keadaan yang sama akan terus dihadapi oleh setiap manusia sampai hari kematiannya atau hingga riwayat dunia ini berakhir.

“Kejatuhan nenek moyang kita yang pertama, dengan seluruh malapetaka yang diakibatkannya, dituduhkannya ke atas Khalik, menyebabkan manusia memandang Allah sebagai sumber dosa, penderitaan, dan maut. Yesus harus menyingkap tabir penipuan ini” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Meskipun nenek moyang umat manusia itu sudah tertipu dan berdosa, Allah di dalam kasih dan keadilan-Nya telah menyediakan solusi (=jalan penyelesaian) atas dosa melalui kematian penebusan Anak Tunggal-Nya sebagai Mesias yang berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus. Hanya dengan demikian ada pengharapan bagi manusia berdosa untuk ditebus dan diselamatkan. Inilah kabar baik atau Injil yang dicanangkan Allah di Taman Eden itu (Kej. 3:15), dan yang terus berkumandang di seluruh Alkitab.

“Kalimat ini, yang diucapkan dalam pemeriksaan orangtua pertama kita itu, bagi mereka adalah sebuah janji. Sebelum mereka mendengar tentang duri dan onak, tentang kerja keras dan penderitaan yang harus menjadi bagian mereka, atau tentang debu kepada apa mereka harus kembali, mereka mendengarkan kata-kata yang tidak bisa gagal memberi mereka harapan. Segala yang telah hilang oleh menyerah kepada Setan dapat diperoleh kembali melalui Kristus” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Berdasarkan pengharapan akan janji ini, disertai penyerahan kepada kuasa Kristus yang sudah menang itu, anda dan saya mampu mengalahkan dosa dengan menolak godaan-godaan berupa kesenangan dunia yang tidak putus-putusnya ditawarkan Setan dan antek-anteknya kepada kita. Tujuan Setan ialah agar kita lebih mencintai dunia ini dengan kepelesirannya, daripada mengasihi Kristus dengan penebusan-Nya itu. Oleh penyerahan diri dan angan-angan hati kepada Allah, niscaya kita dapat memilih keselamatan kekal yang jauh lebih berharga.

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yoh. 2:15-17).

(Oleh Loddy Lintong/California, 7 Februari 2013

Leave a Reply