PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH

PENDAHULUAN

Doktrin dasar. Kalau bukan karena percaya bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan bahwa Allah menciptakan manusia untuk suatu maksud, maka sia-sialah membaca Alkitab. Sebab pada hakikatnya, seluruh doktrin di dalam Alkitab semuanya bertumpu pada Penciptaan.

Setan, dengan keberhasilannya menipu Adam dan Hawa, bukan saja telah menodai Penciptaan tapi juga sudah merusak maksud dan tujuan penciptaan. Namun, syukur kepada Allah, oleh kasih-Nya yang tak terselami itu penciptaan dapat dikembalikan kepada tujuannya semula, yaitu untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Melalui korban penebusan Yesus Kristus, maksud penciptaan itu dipulihkan sesuai dengan tujuan semula.

“Pekan ini kita akan melihat berbagai referensi yang menunjuk kembali kepada catatan kitab Kejadian dan memperlihatkan bagaimana penulis-penulis Alkitab lainnya memahami hal itu sebagai suatu penggambaran harfiah tentang asal-usul manusia” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Pikiran dan tangan ilahi telah memelihara selama berabad-abad catatan penciptaan dalam kemurniannya. Hanya firman Allah saja yang memberikan kepada kita catatan otentik tentang penciptaan dunia kita ini. Firman ini harus menjadi pokok pelajaran utama di sekolah-sekolah kita. Di dalamnya kita bisa belajar besarnya biaya penebusan kita yang ditanggung oleh Dia yang dari permulaannya setara dengan Bapa, dan yang mengorbankan hidup-Nya agar satu umat boleh berdiri di hadapan-Nya ditebus dari segala keduniawian dan diperbarui dalam citra Allah” (Ellen G. White, Counsels to Parents, Teachers and Students, hlm. 13, 14).

Minggu, 20 januari
PENCIPTAAN BERLANJUT (Penciptaan Dalam Kejadian 2)

Penciptaan manusia. Sementara kisah penciptaan dalam Kejadian pasal 1 lebih pada uraian kronologi, yaitu apa yang Allah ciptakan sejak hari pertama hingga hari keenam serta apa yang dilakukan-Nya pada hari ketujuh, kisah penciptaan dalam Kejadian pasal 2 lebih menekankan pada rincian tentang penciptaan manusia yang dilakukan Allah pada hari keenam itu. Fakta bahwa Alkitab perlu memberi penjelasan yang lebih terinci perihal bagaimana Adam dan Hawa diciptakan menunjukkan bahwa penciptaan manusia adalah istimewa. Manusia adalah “mahkota penciptaan” oleh karena demi manusia itulah Allah telah menciptakan langit dan bumi.

Kata Ibrani untuk manusia adalah אָדָם, ‘adam, seperti yang digunakan antara lain dalam Kej. 1:26, 27 serta Kej. 2:5 (orang) dan Kej. 2:7. Jadi, sebenarnya Adam bukanlah nama panggilan yang diberikan kepada manusia pertama itu. Tetapi dalam penuturan selanjutnya kita menemukan bahwa penggunaan kata “Adam” sebagai nama sapaan dimulai sejak Kej. 4:25 dalam versi bahasa Indonesia TB, sementara dalam versi King James nama panggilan itu sudah digunakan lebih awal, yaitu sejak Kej. 2:19.

Sedangkan kata Ibrani untuk perempuan adalah אִשָּׁה, ‘ishshah, dan pertama kali digunakan dalam Kej. 2:22. Menurut penuturan Musa, penulis kitab Kejadian, adalah Adam sendiri yang memberi nama “Hawa” kepada istrinya. “Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup” (Kej. 3:20). Kata Ibrani untuk Hawa dalam ayat ini adalah חַוָּה, Chavvah, yang juga digunakan dalam Kej. 4:1. Di seluruh PL, kata “Hawa” hanya digunakan sebanyak dua kali, yaitu pada kedua ayat dalam Kejadian 3 dan 4 tersebut.

Laki-laki dan perempuan. Ketika orang-orang Farisi di Yudea mencobai Yesus dengan mengajukan isu perceraian, Yesus menjawab mereka dengan mengutip riwayat penciptaan manusia dalam kitab Kejadian.
“Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:4, 6).

Sebenarnya orang-orang Farisi itu bukan tidak tahu tentang penciptaan manusia, tetapi mereka sedang tidak tertarik soal penciptaan laki-laki dan perempuan dan perkawinan antara dua jender yang berbeda sebagaimana ditentukan Allah sejak mulanya. Namun, Yesus hendak menekankan kepada mereka bahwa semua doktrin dalam Kitabsuci, termasuk ajaran tentang perkawinan yang sehat serta hakikat dari perkawinan itu sendiri, semua itu bertumpu pada Penciptaan dan tujuan dari penciptaan itu. Allah telah menciptakan manusia, Adam dan Hawa, sebagai dua insan yang berlainan jenis kelamin, adalah untuk menjadi suami-istri dalam sebuah ikatan perkawinan. Perkataan Yesus, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Mat. 19:5) itu adalah kutipan langsung dan identik dengan firman Allah sendiri dalam Kej. 2:24.

“Menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi tentang perceraian, Yesus mengutip dari Kejadian 1:27 dan 2:24, menujukkan bahwa Dia menilai kedua ayat itu sedang membahas peristiwa sejarah yang sama, yaitu Penciptaan dunia dan manusia. Berapa banyak bukti lagi yang kita perlukan bahwa Kejadian 1 dan 2 merupakan catatan Penciptaan yang selaras, doktrin dan pengajaran yang membentuk dasar dari eksistensi dan tujuan kita” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang Penciptaan dalam Kejadian 2?
1. Penciptaan dalam kitab Kejadian pasal 2 merupakan rincian dari satu segmen dalam minggu penciptaan, yaitu tentang penciptaan manusia. Dari semula, penciptaan manusia adalah dasar motivasi Allah dalam menciptakan langit dan bumi.
2. Manusia adalah “mahkota penciptaan” oleh karena manusia adalah makhluk yang direncanakan Allah untuk memenuhi Bumi yang diciptakan-Nya (Kej. 1:28; Yes. 45:18). Penciptaan Taman Eden sebagai “rumah taman” khusus bagi Adam dan Hawa membuktikan perilaku istimewa terhadap manusia yang dikodratkan untuk menguasai dan memerintah makhluk-makhluk ciptaan lainnya.
3. Penciptaan manusia dalam dua jender berbeda, laki-laki dan perempuan, adalah sesuai dengan maksud Allah agar melalui perkawinan manusia akan bertambah banyak. Dengan demikian, kelahiran di luar pernikahan yang sah bukanlah maksud Allah dan tidak selaras dengan tujuan Penciptaan.

Senin, 21 Januari
PUISI BERTEMA PENCIPTAAN (Penciptaan Dalam Mazmur)

Syair-syair penciptaan. Mazmur 8 adalah sebuah gubahan syair yang memuja manusia. Meski manusia itu makhluk yang “kecil” jika dibandingkan dengan keagungan alam semesta ini, namun kedudukan manusia di alam ini tidak dapat disepelekan. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (ay. 5-7). Ayat-ayat berikutnya lebih tegas lagi menyebutkan mengenai hewan-hewan darat dan air dan udara yang berada di bawah kekuasaan manusia. Tentu saja ide ini diperoleh pemazmur dalam riwayat penciptaan (Kej. 1:26).

Lebih jauh dalam Mazmur 104 kita menemukan syair-syair yang paralel dengan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Dalam gubahan ini kita melihat bahwa pemazmur menjadikan tema penciptaan sebagai landasan pemujaannya terhadap Allah sebagai Pencipta. Bahkan, kita juga dapat merasakan nuansa pengaturan ekosistem dalam puisi ini.

“Perhatikan bagaimana rangkaian topik mazmur yang tampaknya digubah untuk mengikuti rangkaian topik dari Kejadian 1. Penggambaran puitis secara gamblang disajikan di seluruh ayat-ayat, dan pekabarannya jelas mencakup kuasa, hikmat dan kebaikan Allah serta ketergantungan semua ciptaan itu kepada Sang Pencipta. Tidak ada petunjuk apapun dalam mazmur ini bahwa catatan kitab Kejadian tidak untuk dipahami secara harfiah” [alinea pertama].

Kitab Mazmur merupakan kumpulan puisi yang banyak mengangkat tema penciptaan atau pun pemujaan alam. Selain dua pasal di atas, banyak pula ayat-ayat yang bertebaran di berbagai pasal lainnya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan penciptaan maupun pujian terhadap Allah sebagai Pencipta. Barangkali salah satu penyebabnya karena Daud, kontributor utama dari kitab Mazmur, memiliki latar belakang pengalaman hidup yang akrab dengan alam tatkala dia sebagai seorang remaja bertugas menjadi penggembala ternak ayahnya yang membuatnya lebih banyak hidup di alam terbuka. Selain itu, ketika bersama para pengikutnya terpaksa melarikan diri dari raja Saul yang hendak membunuhnya, banyak waktu yang dihabiskannya di padang dan hutan-hutan yang memberinya kesempatan untuk menyaksikan keagungan langit di malam hari.

Pena inspirasi menulis: “Sang nabi, dalam kata-kata yang penuh semangat, membesarkan Allah dalam pekerjaan penciptaan-Nya: ‘Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?’ ‘Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!'” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 377).

Apa yang kita pelajari tentang Penciptaan dalam kitab Mazmur?
1. Kalau kitab Kejadian menguraikan penciptaan sebagai sebuah catatan kronologi yang bersifat historis, kitab Mazmur menyajikan penciptaan dalam rangkaian syair yang puitis, tapi keduanya menujukkan keserasian dalam pengungkapan.
2. Sebagaimana dalam kitab Kejadian, dalam kitab Mazmur penuturan tentang penciptaan juga menempatkan manusia sebagai puncak penciptaan Allah. Dalam gubahan puisi yang mengangkat tema tentang penciptaan, selalu manusia digambarkan sebagai ciptaan yang paling mulia.
3. Satu-satunya hal yang membedakan antara penuturan tentang penciptaan dalam kitab Kejadian dengan kitab Mamzur ialah bahwa pemazmur menggunakan pekerjaan penciptaan itu untuk memuji Allah. Memang tujuan penulisan kedua kitab ini sangat berbeda, yang satu menyodorkan pengetahuan yang lain menawarkan gagasan.

Selasa, 22 Januari
PENGAKUAN DARI BALIK TRAGEDI (Penciptaan Dalam Kitab Ayub)

Allah menjawab Ayub. Kisah Ayub adalah sebuah misteri tentang hubungan Allah dengan umat-Nya. Belum ada kesepakatan di antara para penyelidik Alkitab tentang siapa penulis kitab Ayub dan kapan ditulis. Beberapa nama, selain Ayub sendiri, disebut-sebut sebagai kemungkinan penulisnya, di antaranya Salomo dan Musa. Namun yang pasti ialah kitab Ayub adalah sebuah karya kesusasteraan yang mengangkat sebuah kisah nyata perihal tokoh bernama Ayub, seorang yang setia kepada Allah, yang atas perkenan Allah dibiarkan untuk mengalami penderitaan hidup di tengah lingkungan masyarakat yang percaya bahwa kesusahan adalah hukuman Allah terhadap orang yang berbuat dosa dan tidak setia.

Merasa tidak bersalah, Ayub menantang tudingan teman-temannya dan meminta keadilan Allah. “Tetapi aku, aku hendak berbicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah,” katanya (Ay. 13:3). “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya. Itulah yang menyelamatkan aku; tetapi orang fasik tidak akan menghadap kepada-Nya. Dengarkanlah baik-baik perkataanku, perhatikanlah keteranganku. Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar” (ay. 15-18).

“Maka dari dalam badai Tuhan menjawab Ayub” (Ay. 38:1). Selanjutnya, Allah mencecar Ayub dengan fakta-fakta penciptaan yang tak bisa disangkal. Kita tahu bahwa Ayub tidak menyadari kalau dia mengalami penderitaan itu sebagai “korban eksperimen” Setan yang hendak menguji kesetiaannya terhadap Allah. Tapi mengapa Allah menanggapi pengeluhan Ayub dengan mengungkit soal penciptaan? “Penting untuk mengingat konteks kitab Ayub. Tragedi besar melanda, dan Ayub berjuang untuk memahami bagaimana hal ini bisa terjadi padanya, seorang pengikut Allah yang setia. Dalam pasa 38 hingga pasal 41, Tuhan terus berbicara tentang kuasa penciptaan-Nya, semuanya untuk menanggapi pertanyaan pedih Ayub” [alinea pertama].

Kuasa Allah yang mutlak. Penciptaan alam semesta adalah bukti nyata dan kasat mata dari kuasa Allah yang mutlak dan tak terbatas. Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi dari kehampaan (ex nihilo) dan yang mengendalikan seluruh penghuni langit serta mengatur bumi dan cakrawala, sama sekali tidak terikat oleh apapun di alam ini. Allah yang berkuasa secara mutlak itu membuat tindakan-Nya tidak dapat dibatasi oleh ciptaan-Nya, apalagi oleh seorang Ayub. Dengan kata lain, jika Allah ingin melakukan sesuatu terhadap salah satu ciptaan-Nya, siapa yang berani mempertanyakan tindakan-Nya itu? Itulah inti dari tanggapan Allah terhadap Ayub.

Dalam melakukan sesuatu tindakan terhadap manusia, Allah membandingkan Diri-Nya seperti tukang tembikar terhadap tanah liat yang akan dijadikan periuk. “Manakah yang lebih penting, tukang periuk atau tanah liat? Mungkinkah yang dibuat berkata kepada pembuatnya, “Bukan engkau yang membuat aku”? Atau dapatkah benda itu berkata kepadanya, “Engkau tak bisa apa-apa”? (Yes. 29:16, BIMK). Selanjutnya, Tuhan bersabda lagi, “Celakalah orang yang berbantah dengan Penciptanya; ia seperti periuk yang melawan orang yang membuatnya. Apakah tanah liat bertanya kepada tukang periuk, “Engkau sedang apa?” Apakah periuk mengeluh bahwa pembuatnya tidak mempunyai keahlian?” (Yes. 45:9, BIMK).

Syukurlah, akhirnya Ayub pun sadar akan keteledorannya. Setelah Tuhan selesai berbicara, Ayub dengan takzim berkata, “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa Engkau Mahakuasa; Engkau sanggup melakukan apa saja. Engkau bertanya mengapa aku berani meragukan hikmat-Mu padahal aku sendiri tidak tahu menahu. Aku bicara tentang hal-hal yang tidak kumengerti, tentang hal-hal yang terlalu ajaib bagiku ini. Engkau menyuruh aku mendengarkan ketika Engkau bicara, dan memberi jawaban bila Engkau bertanya. Dahulu, pengetahuanku tentang Engkau hanya kudengar dari orang saja, tetapi sekarang kukenal Engkau dengan berhadapan muka. Oleh sebab itu aku malu mengingat segala perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (Ay. 42:1-6, BIMK; huruf miring ditambahkan).

“Ketidakmampuan Ayub untuk menjelaskan keistimewaan penciptaan menuntun dia untuk mengakui kebesaran Allah dan mempercayai-Nya, tidak peduli apapun yang telah terjadi. Kita juga mendapati diri kita tidak sanggup untuk menjawab banyak pertanyaan tentang Penciptaan, dan teladan Ayub harus mendorong kita untuk percaya pada Allah apa pun yang terjadi. Banyak pertanyaan tentang segala hal dalam hidup ini akan tetap tak terjawab, setidaknya untuk sekarang. Kita akan memiliki suatu masa kekekalan untuk mendapatkan penjelasan-penjelasan atas apa yang sekarang tampaknya tidak dapat dimengerti” [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan dalam kitab Ayub?
1. Dalam kitab Mazmur, kuasa penciptaan Allah diakui dan dipuja oleh pemazmur; dalam kitab Ayub kuasa penciptaan itu diutarakan oleh Allah sendiri. Dalam kitab Kejadian, Musa sebagai penulis yang menguraikan kisah penciptaan itu, dalam kitab Ayub riwayat penciptaan dituturkan oleh Allah sendiri.
2. Sebagai Pencipta yang kuasa-Nya tak terbatas, Allah dapat berbuat apa saja terhadap diri dan kehidupan kita tanpa persetujuan kita. Manusia di tangan Allah hanyalah seperti tanah liat di tangan tukang periuk, pasrah tanpa kuasa untuk protes. Kita hanya bisa berserah dan percaya pada hikmat dan kuasa Allah.
3. Semangat orang Kristen sejati tersirat dalam syair berikut ini: “Jadilah Tuhan, kehendak-Mu! Engkaulah Khalik, aku debu. Jadikan aku sesuka-Mu, aku menunggu di kaki-Mu…Jadilah Tuhan, kehendak-Mu! Brikanlah aku iman teguh! Penuhi aku dengan Roh-Mu, Hiduplah Engkau dalam aku!” (LS 84).

Rabu, 23 Januari
KESAKSIAN-KESAKSIAN LAIN (Penciptaan Dalam Tulisan Para Nabi)

Bumi habitat kita. Planet Bumi bukanlah yang terbesar dalam tatasurya kita, bahkan bukan planet yang paling indah. Tetapi kenyataan bahwa Bumi adalah planet yang Allah ciptakan untuk dihuni oleh manusia, umat ciptaan-Nya, membuat planet ini lebih istimewa daripada yang lain. “Akulah TUHAN yang menjadikan bumi, dan menciptakan manusia untuk mendiaminya…TUHANlah yang menciptakan langit, Dialah Allah! Dialah yang menjadikan dan membentuk bumi, membuatnya kokoh dan tetap berdiri. Ia tidak menjadikannya tempat yang sunyi sepi, tetapi tempat untuk didiami” (Yes. 45:12, 18, BIMK; huruf miring ditambahkan).

“Pikirkanlah beberapa keistimewaan bumi yang membuatnya menjadi satu tempat yang cocok bagi kehidupan manusia yang berbeda dibandingkan dengan planet-planet lain dalam tata surya kita…Bentangan suhu di bumi cocok untuk kehidupan di dunia ini, tidak seperti planet lain manapun dalam tata surya kita. Hal ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, termasuk jarak kita dari matahari, komposisi atmosfir kita, massa bumi dan kecepatan rotasinya yang menentukan panjangnya siang dan malam. Semua ciri-ciri ini, dan masih banyak lagi, menjadikan bumi satu-satunya planet yang cocok untuk menopang kehidupan” [alinea kedua: kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Tulisan nabi-nabi lain. Sementara sebagian orang berusaha untuk mencari pembuktian tentang penciptaan melalui ilmu pengetahuan, kita menemukan dukungan atas kisah penciptaan dalam kitab Kejadian 1 dan 2 dari para penulis Alkitab lainnya. Selain nabi Yesaya yang tulisannya telah kita kutip di atas, ada pula tulisan-tulisan para nabi lainnya seperti Yeremia, Amos, Zakaria dan rasul Yohanes yang menggunakan referensi dari penciptaan dalam kitab Kejadian. Mereka, para nabi dan rasul itu, hidup ratusan tahun sesudah Musa menulis kitab Kejadian dan empat kitab lainnya, namun tulisan-tulisan mereka selaras dengan kitab Kejadian ketika mereka berbicara mengenai penciptaan. Sekali lagi, ini memperkuat pandangan bahwa Alkitab dapat membuktikan dirinya sendiri.

“Renungkan secara mendalam dampak dari asal-usul kita dan mengapa memahami dampak-dampak itu secara tepat sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapa kita, mengapa kita berada di sini, dan apa yang bisa kita harapkan di dalam satu dunia yang pada hakikatnya tidak menawarkan pengharapan sama sekali” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Pada waktu diciptakan, Adam ditempatkan sebagai penguasa atas bumi ini. Tetapi oleh menyerah kepada penggodaan dia telah berada di bawah kuasa Setan. ‘Karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.’ 2Ptr. 2:19. Bilamana manusia menjadi tawanan Setan, kekuasaan yang dia pegang berpindah kepada penakluknya. Demikianlah Setan menjadi ‘ilah jahat yang menguasai dunia ini.’ 2Kor. 4:4, BIMK. Dia sudah merebut kekuasaan atas bumi ini yang semula diberikan kepada Adam. Tetapi Kristus, oleh pengorbanan-Nya membayar hukuman dosa, bukan saja menebus manusia tetapi juga memulihkan kekuasaan yang telah hilang dari padanya” (Ellen G. White, Patriarchs and Prophets, hlm. 67).

Apa yang kita pelajari tentang tulisan para nabi perihal penciptaan?
1. Tulisan nabi Yesaya merupakan salah satu referensi penting dalam PL yang menerangkan mengenai tujuan penciptaan bumi ini, yaitu untuk menjadi sebagai tempat hunian makhluk ciptaan Allah, khususnya manusia. Sebagai habitat hidup bumi diciptakan penuh dengan hal-hal yang diperlukan untuk menopang kehidupan.
2. Selain Yesaya, beberapa nabi dan rasul penulis Alkitab juga menulis hal-hal yang berhubungan dengan penciptaan dalam kitab Kejadian. Ini membuktikan bahwa ada keserasian dalam Alkitab mengenai penciptaan, baik prosesnya, tujuannya, dan produk-produknya.
3. Dosa telah membuat bumi ini terkutuk sehingga tempat yang semula menjadi lingkungan hidup yang nyaman dan aman bagi manusia kini bisa menjadi tempat yang mengerikan. Berbagai bencana alam menjadi akrab dengan kehidupan manusia. Tetapi kematian Yesus akan memulihkan kembali keadaan bumi ini kepada semula.

Kamis, 24 Januari
MERUJUK KEPADA ALLAH PENCIPTA (Penciptaan Dalam Perjanjian Baru)

Allah yang tidak dikenal. Paulus datang ke kota Atena di luar rencana. Dia belum lama berada di kota Berea ketika provokator-provokator Yahudi dari Tesalonika muncul di kota itu lalu menyewa preman-preman pasar untuk melakukan demo memprotes kehadiran Paulus sehingga sang rasul bergegas meninggalkan kota itu, berlayar dan mendarat di Atena. Kota Atena adalah sebuah kota perdagangan penting pada masa itu dan setiap kapal selalu mampir di situ, baik untuk bongkar-muat barang maupun embarkasi dan debarkasi penumpang. Tetapi tidak ada yang kebetulan dalam pimpinan Tuhan, rasul Paulus harus datang ke Atena untuk memberitakan tentang Allah yang tidak dikenal oleh masyarakat kota yang menjadi pusat ideologi dan peradaban dunia masa itu.

Sesuai dengan kebiasaan di kota itu, setiap orang yang memiliki sebuah ajaran atau ideologi dipersilakan untuk menyampaikannya dalam bentuk orasi di sebuah tempat yang khusus disediakan untuk itu, yaitu di Bukit Areopagus atau dikenal juga sebagai Bukit Mars. Di tempat ini filsuf-filsuf terkenal seperti Plato dan Sokrates juga pernah berorasi dan menyampaikan gagasan-gagasan mereka tentang kehidupan di hadapan badan pengurus dan masyarakat, dan di forum yang sama pula Paulus telah tampil. Ketika Paulus berbicara itu banyak hadirin yang sudah menjadi penganut dua ajaran yang populer waktu itu, yakni penganut faham Stoa dan faham Epikuros.

Pengikut ajaran Stoa adalah kaum yang menganut faham panteisme yang percaya bahwa Tuhan ada di dalam setiap benda, itulah sebabnya mereka mengajarakan manusia untuk hidup dalam keserasian dengan alam. Ajaran yang ditemukan oleh Zeno dari Citium (334-262 SM) ini juga mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan apapun atas alam semesta. Sedangkan pengikut Epikuros adalah kaum yang tidak percaya pada takhyul dan tidak percaya bahwa kehidupan di atas dunia ini ditentukan oleh suatu kuasa supra alami. Faham yang ditemukan oleh filsuf Yunani bernama Epikurus (341-270 SM) ini juga mengajarkan bahwa manusia dapat hidup bahagia dengan berbuat baik, oleh sebab kesenangan dan penderitaan adalah akibat dari pengaruh kebaikan dan kejahatan di alam ini. Meski mereka tidak menolak keberadaan Tuhan atau dewa namun tidak percaya bahwa dewa atau Tuhan itu berinteraksi dengan manusia di bumi sehingga bisa menghukum ataupun memberi pahala kepada manusia, dan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini adalah akibat dari pergerakan dan interaksi atom-atom yang mengisi ruang hampa.

“Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa,” Paulus memulai orasinya. (Kis. 17:22). Kemudian dia menyorot tulisan yang dilihatnya pada sebuah tempat pemujaan di kota itu yang ditujukan kepada “Allah yang tidak dikenal.” Katanya, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (ay. 23-25; huruf miring ditambahkan).

“Hal yang penting di sini ialah bahwa dalam kesaksiannya kepada para pemikir dan kaum intelektual kafir ini Paulus langsung beralih kepada argumentasi tentang Tuhan sebagai Pencipta segala sesuatu dan semua umat manusia. Paulus hanya memiliki sedikit kesamaan dengan orang-orang ini; maka dia langsung kepada kesamaan apa yang mereka miliki itu–fakta bahwa kesamaan itu ada–dan dari kenyataan yang tak terbantahkan itu dia berusaha membangun argumentasinya. Karena itu, kita melihat Penciptaan sekali lagi sebagai tema penting dalam Kitabsuci” [alinea kedua].

Tema penciptaan yang dimulai pada awal Alkitab terus diulang-ulangi sepanjang PL dan PB, bahkan sampai pada kitab terakhir. “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan,” kata ke-24 tua-tua dengan takzim (Why. 4:11). Demikianlah pula malaikat yang memegang kitab kecil dan berdiri dengan satu kaki di laut dan satu kaki di darat, bersaksi dan bersumpah demi Allah “yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya” (Why. 10:6).

Apa yang kita pelajari tentang tema penciptaan dalam ayat-ayat PB?
1. Pekabaran Paulus yang pertama kepada penduduk kota Atena bukan Injil, melainkan mengenai Penciptaan. Dengan pendekatan yang tepat, memanfaatkan keyakinan masyarakat akan suatu kuasa supra alami yang melampaui manusia, Paulus memperkenalkan mereka kepada Allah Pencipta langit dan bumi.
2. Setiap orang mengagumi dahsyatnya alam semesta, maka pembicaraan tentang terciptanya alam semesta selalu merupakan tema yang menarik untuk dibahas. Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta manusia akan menjadi pembuka jalan untuk meyakinkan seseorang tentang Allah sebagai Penebus manusia.
3. Penciptaan adalah tema seluruh Alkitab; keluarkanlah doktrin tentang Penciptaan dari Alkitab maka Kitabsuci itu akan kehilangan makna atas semua ajaran-ajaran lain di dalamnya. Tanpa penciptaan tidak ada penebusan, dan tanpa penebusan tidak ada keselamatan dan ciptaan baru.

Jumat, 25 Januari
PENUTUP

Asal-usul dan jatidiri. Bagaimana jika pada suatu hari anda dihubungi oleh sebuah kesultanan atau kerajaan yang memberitahukan tentang hasil penyelidikan yang membuktikan bahwa anda termasuk kerabat kerajaan itu, dengan demikian anda berhak menggunakan sebuah gelar keningratan dan berhak atas tunjangan serta warisan dari kerajaan itu? Sebaliknya, bagaimana jika anda diberitahu dengan bukti-bukti bahwa anda ternyata mempunyai hubungan keluarga yang dekat dengan seorang gembong teroris, dan karena itu mesti menjalani pemeriksaan di markas Densus 88? Kita bisa melihat di sini betapa asal-usul dan jatidiri seseorang sangat penting artinya dalam kehidupan orang itu.

Penciptaan bukan saja bertutur tentang asal-usul manusia, tapi penciptaan juga menjelaskan mengenai jatidiri manusia. Melalui penuturan Alkitab perihal penciptaan manusia, latar belakang dan tujuannya, anda dan saya seharusnya memiliki rasa percaya diri dan rasa bangga dengan eksistensi kita. Tetapi saya pasti tidak akan merasa senang kalau orang mengatakan bahwa keberadaan saya adalah hasil sebuah proses alami selama milyaran tahun dari sebuah organisme bersel tunggal yang tak jelas juntrungannya, tiba-tiba sekarang memiliki sosok seperti ini yang disebut manusia.

“Yang penting dalam hal ini ialah bahwa pandangan seseorang tentang asal-usul berdampak penting bagi pandangan seseorang itu tentang keadaan manusia dan jatidiri. Memahami asal-usul kita adalah sangat penting sehingga Allah telah menempatkannya sebagai subyek pertama dalam Alkitab, dan pekabaran Alkitab didasarkan pada kesejarahan kisah Penciptaan. Menyatakan bahwa kita dapat mempelajari sejarah yang sebenarnya dari dunia kita ini melalui ilmu pengetahuan adalah sama dengan menyatakan bahwa hal itu dapat dijelaskan tanpa mempertimbangkan sesuatu tindakan langsung oleh Allah, sebuah kesalahan yang sudah menuntun kepada kesalahan yang lebih banyak lagi” [alinea kedua].

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mzm. 8:4-7).

(Oleh Loddy Lintong/California, 24 Januari 2013)

Leave a Reply