“PENGHAKIMAN PRA-KEDATANGAN KEDUA KALI”

December 2, 2013 - Loddy Lintong

Sabat Petang, 23 November
PENDAHULUAN

Sebuah kabar baik. Seperti yang kita pelajari dalam pelajaran pekan lalu, rencana keselamatan yang dimulai di surga akan diselesaikan juga di surga. Setelah menyelesaikan “tahap penebusan” di dunia ini dengan mati di kayu salib sebagai Kurban pengganti, Yesus kembali ke surga untuk melaksanakan “tahap pembelaan” atau “tahap pendamaian” di hadapan Allah dalam Bait Suci surgawi. Di surga Yesus saat ini bertindak selaku “Pengantara” umat-Nya dengan Allah Bapa dalam suatu konsep yang serupa dengan tindakan seorang imam besar pada Hari Pendamaian di Bait Suci duniawi pada zaman Musa dan Israel purba. Karena waktunya berlangsung pada zaman akhir ini maka pelayanan keimamatan yang sedang Yesus Kristus lakukan di surga itu disebut juga sebagai “Hari Pendamaian Eskatologis.”

Istilah “Hari Pendamaian” adalah kata dalam Alkitab versi Terjemahan Baru (TB) yang dalam versi Terjemahan Lama (TL) disebut “Hari Gafirat” sebagai terjemahan dari kata Ibrani “Yom Kippur” atau “Day of Atonement” dalam bahasa Inggris. Mengapa harus ada “pendamaian” dan dengan siapa kita “diperdamaikan”? Pelajaran pekan lalu menjelaskan bahwa manusia sudah berdosa oleh melawan perintah atau Hukum Allah (1Yoh. 3:4), dan dosa juga membuat manusia lebih suka mengikuti “keinginan daging” atau kecenderungan lahiriah sehingga membuat kita “berseteru” dengan Allah (Rm. 8:7), dosa itu pun menyebabkan manusia jadi bersahabat dengan dunia dan dengan demikian bermusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Kematian Yesus di bumi ini adalah dasar bagi pengampunan dosa manusia, dan pelayanan keimamatan Yesus di surga adalah jalan pendamaian antara manusia dengan Allah.

Oleh karena dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum Allah yang abadi, maka pengampunan atas dosa manusia itu juga harus berdasarkan hukum. Dalam konteks inilah Yesus Kristus juga bertindak selaku “Pembela” umat-Nya di depan Hukum Allah dan di hadapan Allah sendiri (Rm. 8:34), yaitu pembelaan yang didasarkan atas pengorbanan-Nya di kayu salib demi umat manusia (Rm. 5:10). Dalam konteks perseteruan antara manusia dengan Allah maka Yesus adalah Pengantara kita; dalam konteks penghakiman atas manusia maka Yesus adalah Pembela kita.

“Sementara kita belajar, kita akan melihat bahwa penghakiman itu adalah kabar baik karena Tuhan Allah kita bekerja demi umat-Nya. Ia menghakimi atas nama mereka di hadapan alam semesta yang sedang memperhatikan, dan membolehkan mereka masuk ke dalam kerajaan Kristus yang kekal, puncak seluruh pengharapan mereka sebagai pengikut-pengikut Tuhan” [alinea terakhir].

Minggu, 24 November
HARI PENDAMAIAN DALAM KITAB DANIEL (Khayal dan Penghakiman)

Kerajaan-kerajaan dalam sejarah dunia. Seperti yang kita tahu, nubuatan dalam Daniel 7 bertutur tentang kebangkitan empat kerajaan yang menguasai dunia pada zaman purba. Empat kerajaan itu berturut-turut adalah Babilonia yang diibaratkan dengan singa bersayap rajawali (ay. 4), Medo-Persia sebagai gabungan dua kerajaan yang dilukiskan sebagai beruang yang sedang menggigit tiga potong tulang (ay. 5), Grika atau Yunani purba yang dilambangkan dengan macan tutul berkepala empat dan bersayap empat (ay. 6), dan Romawi yang digambarkan sebagai seekor binatang yang “menakutkan, dahsyat, dan sangat kuat” dan berbeda dari binatang-binatang sebelumnya serta memiliki sepuluh tanduk (ay. 7). Nubuatan ini paralel dengan nubuatan dalam Daniel 2 yang menampilkan kerajaan-kerajaan tersebut menurut kemasyuran kekayaannya berupa jenis-jenis logam berbeda dalam sosok sebuah patung. Penggambaran kerajaan-kerajaan dunia itu dalam pasal 2 muncul dalam mimpi Nebukadnezar, raja Babel, sedangkan dalam pasal 7 muncul dalam penglihatan nabi Daniel sendiri. Kerajaan-kerajaan dalam kitab Daniel ini merupakan penguasa-penguasa dunia pasca Israel, atau sesudah kehancuran Israel maupun Yehuda sebagai kerajaan yang berdaulat.

Penglihatan atau khayal nabi Daniel, baik dalam pasal 2 maupun pasal 7, keduanya meliputi rentang waktu yang sangat panjang, bahkan sampai pada zaman akhir. Meskipun keempat kerajaan tersebut berawal dari kerajaan Babilon atau Babel (605-539 SM), kerajaan Medo-Persia (539-331 SM), kerajaan Yunani purba (331-168 SM) sampai dengan kerajaan Romawi (168 SM-351 TM), tetapi pasca kedaulatan dari kerajaan keempat itu Daniel melihat kelanjutan kekuasaan dunia yang terbagi menjadi sepuluh kerajaan seperti dilambangkan dengan sepuluh tanduk di kepala binatang keempat tersebut. Kesepuluh kerajaan yang muncul sekitar tahun 476 TM (Tarikh Masehi atau AD) itu kekuasaannya meliputi wilayah Eropa yang kemudian menjadi cikal-bakal dari negara-negara Eropa sekarang ini.

“Sesudah Daniel melihat empat binatang itu, dia memperhatikan tanduk lain tumbuh di antara tanduk-tanduk binatang keempat itu. ‘Tanduk kecil’ ini menjadi musuh utama Allah dan orang-orang kudus-Nya. Lalu sekonyong-konyong perhatian Daniel beralih dari bumi yang gelap kepada suasana penghakiman yang terang-benderang di ruangan takhta surga (Dan. 7:9-14)” [alinea kesatu].

“Yang Lanjut Usianya.” Nubuatan Daniel 7 menjadi salah satu bukti alkitabiah yang penting perihal adanya penghakiman (atau “pengadilan”) di surga yang berlangsung sesudah keruntuhan kerajaan keempat–kerajaan Romawi–atau pada zaman “tanduk kecil” berkuasa di dunia. “Tanduk kecil” yang melambangkan Kepausan (negara Vatikan) ini telah menggunakan kekuasaannya untuk menindas umat Tuhan selama “satu masa dan dua masa dan setengah masa” yang secara keseluruhan meliputi kurun waktu selama 1260 tahun (ay. 25). Masa penganiayaan yang dikenal sebagai “zaman kegelapan” karena terjadinya pemberangusan Kitabsuci ini juga disebutkan dalam Wahyu 12:14, yang secara paralel menubuatkan masa penganiayaan umat Tuhan yang dilambangkan sebagai “perempuan yang melahirkan Anak laki-laki” oleh “naga” yang melambangkan Iblis (Why. 12:13).

Dalam penglihatan Daniel, pada pengadilan surgawi itu bertindak sebagai Hakim adalah sosok “Yang Lanjut Usianya” dan digambarkan bahwa “pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba” (Dan. 7:9). Istilah ini merupakan terjemahan dari bahasa Aram, bahasa asli Daniel pasal 7, וְעַתִּ֥יק יוֹמִ֖ין, wə‘attîq yōwmîn, yang merujuk kepada pribadi Allah sendiri. Makna dari “lanjut usia” di sini bukan dalam pengertian penampilan fisik tetapi menggambarkan kekekalan Allah. Sementara Yesus Kristus sendiri dilukiskan sebagai “anak manusia” yang dibungkus awan datang kepada “Yang Lanjut Usia” itu (ay. 13).

“Pemandangan penghakiman adalah inti dari seluruh penglihatan dan melibatkan dua tokoh kunci, Yang Lanjut Usianya dan Anak Manusia. Malaikat-malaikat juga hadir menyaksikan penghakiman itu…Hari Pendamaian berfungsi sebagai latar tipologis yang paling alamiah bagi pemandangan Bait Suci surgawi ini. Bahkan, digambarkan seolah-olah Imam Besar surgawi itu datang bersalut awan dupa kepada Yang Lanjut Usia itu. Dalam Daniel 7:10, ‘kitab-kitab dibuka.’ Kitab-kitab memainkan peran penting dalam penghakiman surgawi” [alinea kedua: dua kalimat pertama; alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang penglihatan nabi Daniel mengenai suasana penghakiman di surga?
1. Penglihatan Daniel ini menjadi bukti alkitabiah yang mendukung doktrin penghakiman pada zaman akhir yang berlangsung di surga, yaitu pemeriksaan terhadap perbuatan dan kelakuan manusia sebagaimana terekam dalam kitab catatan surgawi, dengan Hukum Allah sebagai patokan.
2. Sesuai dengan urutan penglihatan nabi Daniel, penghakiman di surga itu berlangsung seusai kekuasaan dari empat kerajaan purba dan pada masa “tanduk kecil” itu tampil sebagai sebuah kekuasaan politik dan agama, atau tepatnya sesudah 1260 tahun masa penganiayaan oleh “tanduk kecil” itu.
3. Tampilnya Yesus Kristus yang digambarkan sebagai “Anak Manusia” yang bersalut awan, melukiskan tugas seorang Imam Besar yang membawa dupa berupa doa-doa umat percaya, menunjukkan bahwa pemandangan itu adalah suasana penghakiman atas umat Allah yang percaya kepada Kristus.

Senin, 25 November
PROSEDUR PEMERIKSAAN (Pola Penghakiman)

Asas keadilan dan keterbukaan. Sesuai dengan sifat Allah yang adil, sebelum vonis dijatuhkan lebih dulu dilakukan pemeriksaan. Dalam kasus pelanggaran perintah Allah oleh Adam dan Hawa di Taman Eden, yaitu memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah yang telah melarang mereka untuk tidak memakannya (Kel. 2:16-17), pemeriksaan dalam bentuk “proses verbal” juga dilakukan dengan menghadirkan ketiga pelaku yang terlibat (Kej. 3:8-20). Pemeriksaan saksi-saksi tidak diperlukan tapi diganti dengan pemeriksaan silang di mana para terdakwa dihadapkan langsung, tahap penyelidikan dan penyidikan dilaksanakan secara simultan. Dalam “gelar perkara” tersebut Allah juga memenuhi asas keadilan dan keterbukaan.

Sang nabi mencatat, “Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab” (Dan. 7:10). Kitab-kitab apa itu? Alkitab menyebutkan tentang kitab yang tersimpan di surga, yaitu “kitab kehidupan” (Mzm. 69:29; Why. 3:5, 8; 17:8; 20:15; 21:27), “kitab kehidupan Anak Domba” (Why. 13:8; 20:12), dan “kitab peringatan” (Mal. 3:16). Namun, kalimat-kalimat “Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan” (Why. 20:12; huruf miring ditambahkan) mengisyaratkan bahwa ada kitab-kitab lain di samping “kitab kehidupan.” Antara lain adalah “kitab-Ku” (kitab Allah) seperti yang disebutkan dalam Kel. 32:33. Selain itu, ada pula yang disebut “gulungan kitab” yang termaterai yang hanya bisa dibuka oleh Yesus (Why. 5:1, 5) dan juga “gulungan kitab kecil yang terbuka” di tangan malaikat perkasa yang turun dari surga (Why. 10:1-2).

“Dalam cara ini, bilamana Allah mengumumkan keputusan–apakah itu keselamatan atau pehukuman–para pemerhati diyakinkan bahwa tindakan Allah adalah yang terbaik. Inilah alasan sebenarnya mengapa penghakiman surgawi dalam Daniel 7 melibatkan kitab-kitab. Kitab-kitab itu bukan untuk kepentingan Allah supaya Ia bisa mengingatnya dengan mudah, melainkan bagi manfaat makhluk-makhluk surgawi di sekeliling-Nya yang, tidak seperti Allah, tidak mengetahui segala perkara” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Keputusan diumumkan. Tentu saja hal paling menarik dan yang ditunggu-tunggu dari sebuah proses pengadilan adalah vonis dari hakim, apalagi dalam penghakiman di surga yang Hakimnya adalah Allah sendiri. Daniel menulis, “Kemudian Dia yang hidup kekal itu datang lalu memberi keputusan yang membenarkan umat Allah Yang Mahatinggi.Masanya telah tiba mereka menerima kuasa untuk memerintah” (Dan. 7:22, BIMK; huruf miring ditambahkan). Jadi, setelah semua kitab dibuka dan pemeriksaan dilakukan, Hakim yang Maha Adil itu memutuskan bahwa umat Allah itu “dibenarkan” sehingga bebas dari hukuman, bahkan dianugerahi dengan kuasa untuk memerintah. Bukan berarti dalam kitab-kitab surgawi itu tercatat bahwa semua umat Tuhan menurut hukum dan tidak melakukan pelanggaran apapun, bahkan sebaliknya banyak “catatan kelam” pada nama-nama semua umat Tuhan itu, akan tetapi Yesus Kristus sudah menanggung segala kesalahan mereka karena beriman kepada-Nya sehingga “memperoleh pembebasan dari segala dosa” (Kis. 13:38-39).

Simaklah dua kutipan hasil goresan pena inspirasi berikut ini: “Adalah sementara manusia masih tinggal di bumi ini maka pekerjaan penghakiman pemeriksaan itu berlangsung di pengadilan surga. Kehidupan dari semua yang mengaku pengikut-pengikut-Nya lewat dalam pemeriksaan di hadapan Allah. Semuanya diperiksa menurut catatan kitab-kitab surgawi, dan sesuai dengan perbuatannya nasib masing-masing ditentukan untuk selamanya” (Ellen G. White, Christ’s Object Lessons, hlm. 310).

“Dalam tahun 1844 Imam Besar Agung kita memasuki tempat mahakudus Bait Suci surgawi untuk memulai pekerjaan penghakiman pemeriksaan. Kasus-kasus dari orang benar yang sudah mati lewat dalam pemeriksaan di hadapan Allah. Bilamana pekerjaan itu selesai, penghakiman diumumkan atas orang-orang yang hidup. Betapa berharganya, dan alangkah pentingnya, saat-saat yang khidmat ini!” (Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 125).

Apa yang kita pelajari tentang suasana pengadilan surgawi itu?
1. Keadilan Allah menuntut penghakiman yang adil dan terbuka. Hal itu ditandai oleh pemeriksaan kitab-kitab catatan surgawi yang memuat segala perbuatan manusia yang pernah hidup di atas bumi ini. Dalam penglihatan Daniel pasal 7, penghakiman itu berlangsung atas orang saleh dan umat percaya.
2. Dibukanya kitab-kitab surgawi yang memuat berbagai “catatan kelam” umat percaya justeru membuat pengorbanan Yesus Kristus sebagai Kurban yang dipersembahkan demi keselamatan manusia itu jadi tampak semakin mencolok dalam kemilau kemuliaan.
3. Keputusan Allah yang membenarkan orang saleh dan umat percaya, yang hukuman atas pelanggaran dan dosa-dosa mereka telah ditanggungkan kepada Yesus Kristus, adalah kenyataan akhir dari Injil (“kabar baik”) yang kita kumandangkan kepada dunia.

Selasa, 26 November
WAKTUNYA ADALAH SEKARANG (Masa Penghakiman)

Kekuasaan tanduk kecil. Sesuai dengan urutan penuturan dalam kitab Daniel pasal 7, waktu penghakiman yang dilihatnya dalam khayal itu terjadi pada masa kekuasaan “tanduk kecil” dari binatang keempat. Bahkan, ketika kerajaan kecil yang kebangkitannya menggusur tiga tanduk lainnya itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sementara beberapa teori berusaha mengaburkan pengidentifikasian tanduk kecil dengan kepausan, fakta-fakta sejarah dengan gamblang mengindikasikan kepausan sebagai sebuah kekuasaan yang cocok dengan deskripsi tentang tanduk kecil dalam Daniel 7.

Sebelum abad ke-8 kekuasaan paus hanya terbatas pada urusan-urusan gereja saja, tetapi menjelang pertengahan abad itu paus mulai menuntut wilayah kekuasaan sehingga mengubah kepausan menjadi satu badan politik-gerejawi (politico-ecclesiastical organism). Pada tahun 755 seorang penguasa Prancis bernama Pepin (dijuluki “Pepin Muda” atau “Pepin si Pendek” yang adalah ayah dari Charlemagne) telah menganugerahkan kepada Paus Stefanus III kekuasaan atas Ravenna. Menyusul pada tahun 774 Charlemagne (juga disebut “Charles yang Agung”), raja Prancis, menaklukkan kerajaan kaum Lombards lalu menyerahkannya kepada Paus Adrianus I. Lalu pada tahun 817 Louis I (bergelar “Louis yang Saleh”), putra dari Charlemagne, memberikan Roma kepada Paus Paskalis I. Pada tahun 1073 sewaktu kardinal Hildebrand dari Sovana diangkat menjadi paus dengan nama resmi Paus Gregorius VII, dia menegaskan bahwa paus Roma bukan lagi sekadar kepala gereja sedunia tetapi juga penguasa dunia. Sekarang ini di hampir setiap negara di dunia terdapat perwakilan resmi setingkat kedutaan besar dari apa yang menamakan diri “Takhta Suci” atau Vatikan. (Sumber: christiancourier.com, dll).

“Baik dalam khayal dan dalam tafsiran suci, penghakiman menyusul sebagai respon Allah terhadap kesombongan tanduk kecil dan berpuncak pada pengalihan kerajaan kepada orang kudus Allah. Alkitab melukiskan penghakiman itu terjadi pada waktu ketika kekuasaan tanduk kecil itu masih ada (Dan. 7:8-9)” [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Mengapa penghakiman diperlukan. Doktrin tentang penghakiman sebelum kedatangan Yesus kedua kali (pre-advent judgment), atau sering juga disebut penghakiman pemeriksaan (investigative judgment), masih menjadi pertentangan di antara umat Kristen. Sebagian besar percaya bahwa hanya ada satu kali penghakiman atas manusia yang akan berlangsung pada saat kedatangan Yesus kedua kali atau sesudah orang saleh berada di surga, yaitu penghakiman atas orang jahat. Banyak yang menuding bahwa ajaran ini sebagai upaya untuk “menyelamatkan muka” dari sebagian pengikut William Miller atas kegagalan ramalan tentang kedatangan Yesus kedua kali dalam tahun 1844. Salah satu alasan dari mereka yang menolak adanya penghakiman atas orang benar sebelum kedatangan kedua kali itu didasarkan pada tulisan rasul Paulus, “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” (2Tim. 2:19). Kalau Tuhan sudah tahu siapa saja umat-Nya, untuk apa ada penghakiman lagi atas mereka? Tampaknya Paulus mengutip ide ini dari perkataan Musa kepada Korah yang memberontak, “Besok pagi Tuhan akan memberitahukan siapa kepunyaan-Nya” (Bil. 16:5).

Tetapi keadilan Allah berlaku atas semua manusia. Kalau sebagian orang akan diselamatkan apa alasannya, dan jika sebagian orang yang lain akan dibinasakan apa alasannya. Meskipun Yesus Kristus mati untuk menebus semua manusia sepanjang zaman, keselamatan itu sendiri bersifat pilihan pribadi seseorang dan bukan paksaan. Allah mengasihi semua manusia dan ingin semuanya selamat (1Tim. 2:3-4), tetapi sementara keselamatan itu adalah kasih karunia Allah bagi semua orang namun mereka yang ingin selamat harus bertobat (2Ptr. 3:9) supaya dosanya dihapuskan (Kis. 3:19). Untuk menentukan siapa saja yang sudah bertobat, dan dengan demikian akan diselamatkan, maka penghakiman sebelum kedatangan Yesus kedua kali ini diperlukan. Rasul Petrus menulis, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” (1Ptr. 4:17; huruf miring ditambahkan).

“Tentu saja Allah kita yang mahatahu itu sepenuhnya mengetahui siapakah umat-Nya. Ia tidak memerlukan suatu penghakiman untuk menentukan siapa yang akan diselamatkan. Namun, penghakiman sebelum kedatangan kedua kali menunjukkan bahwa Hakim itu adil dalam menyelamatkan umat-Nya. Makhluk-makhluk surgawi memerlukan kepastian bahwa orang-orang saleh itu aman untuk selamat” [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang masa penghakiman atas orang benar?
1. Waktu penghakiman (atas umat percaya) berlangsung bertepatan dengan masa kekuasaan “tanduk kecil” dalam Daniel 7, dan tanduk kecil itu adalah kuasa kepausan. Meskipun kekuasaan itu sudah dimilikinya sejak abad ke-8, pengaruhnya lebih mendunia pada zaman ini.
2. Penghakiman atas umat Tuhan dilakukan secara perorangan dan ditentukan berdasarkan fakta apakah saat namanya diperika di surga orang itu dalam keadaan bertobat atau tidak. Tak seorang pun mengetahui kapan waktu penghakimannya, karena itu kita harus senantiasa “bertobat” dan “berjaga-jaga” (Why. 3:3).
3. Allah mengetahui siapa orang-orang yang menjadi “kepunyaan-Nya” dan yang akan diselamatkan, tetapi penghakiman diperlukan demi asas keadilan untuk disaksikan oleh penduduk surga dan alam semesta bahwa “Allah tidak memandang muka” (Gal. 2:6; Ef. 6:9).

Rabu, 27 November
HASIL PENGHAKIMAN (Bila Penghakiman Berakhir)

Pahala bagi umat Tuhan. Setelah dalam penglihatannya Daniel menyaksikan kelakuan “tanduk kecil” yang menggelisahkan dan juga penghakiman yang dipimpin oleh Allah (disebut “Yang Lanjut Usianya”) itu, perhatian sang nabi kemudian tertuju pada pemandangan yang berlangsung secara silih berganti. Pertama-tama adalah pemahkotaan Kristus. “Ia diberi kehormatan dan kekuasaan sebagai raja, sehingga orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya akan bertahan selama-lamanya, pemerintahannya tidak akan digulingkan” (Dan. 7:14, BIMK). Kemudian, setelah diselingi dengan penjelasan mengenai keempat binatang dan kelakuan tanduk kecil itu, sang nabi melaporkan tentang keputusan Hakim yang maha adil itu atas orang-orang kudus yaitu mereka yang lolos dari penghakiman. “Kemudian Dia yang hidup kekal itu datang lalu memberi keputusan yang membenarkan umat Allah Yang Mahatinggi. Masanya telah tiba mereka menerima kuasa untuk memerintah” (ay. 22, BIMK).

Selanjutnya sang nabi mengisyaratkan adanya pengadilan atau prosedur penghakiman tahap kedua, kali ini atas “tanduk kecil” dan orang jahat lainnya. Pada penghakiman tahap kedua ini bukan lagi “Yang Lanjut Usianya” itu yang menjadi Hakim yang mengadili, melainkan “Anak Manusia” (sebutan untuk Yesus Kristus) yang didampingi oleh orang-orang kudus yang baru saja ditetapkan keselamatan mereka pada penghakiman tahap pertama itu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yesus sendiri bahwa Bapa “telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” bahkan “Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi” (Yoh. 5:22, 27), dan seperti kata rasul Paulus bahwa “orang-orang kudus akan menghakimi dunia” bahkan “malaikat-malaikat” jahat (1Kor. 6:2-3). Akan halnya tanduk kecil itu Daniel melaporkan, “Lalu pengadilan surga akan bersidang dan mencabut kekuasaannya serta menghancurkan dia sampai musnah. Kuasa dan kebesaran segala kerajaan di bumi akan diberikan kepada umat Allah Yang Mahatinggi. Kuasa mereka untuk memerintah tak akan berakhir dan semua penguasa di bumi akan mengabdi mereka dengan taat” (ay. 26-27, BIMK).

“Ketika Anak Manusia meneria kerajaan-Nya, Ia mengajak orang-orang kudus bergabung dengan Dia. Kerajaan-Nya adalah kerajaan mereka juga (Dan. 7:27). Penghakiman ini membawa kepada suatu waktu bilamana Raja dari kerajaan yang kekal itu bersatu kembali dengan rakyat-Nya. Inilah pahala terbesar mereka dan Dia” [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Harapan yang terpenuhi. Penghakiman tahap pertama, yaitu penghakiman pra-kedatangan Yesus kedua kali, memisahkan orang-orang saleh sejati dari orang-orang yang hanya sekadar mengaku sebagai umat Tuhan tetapi tidak bertobat dari cara hidup mereka yang serupa dengan dunia. Meskipun orang-orang saleh yang akhirnya diselamatkan itu selama hidupnya di dunia ini sering pula meniru gaya hidup duniawi dan berbuat hal-hal yang melanggar perintah Allah, namun mereka selalu memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk bertobat dan berubah. Maka Allah yang “menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita” (1Taw. 28:9) serta “yang menguji batin” (Yer. 17:10) dan “menyelidiki hati nurani” (Rm. 8:27) itu akan mengampuni kesalahan dan dosa mereka atas jasa pengantaraan Yesus Kristus, Imam Besar Agung itu.

“Penghakiman pra-kedatangan kedua kali menghasilkan pemenuhan pengharapan Allah maupun umat percaya. Kehendak Allah ialah menyelamatkan umat-Nya dan meniadakan dosa sambil menghilangkan keraguan tentang kasih dan keadilan-Nya…Dengan demikian penghakiman itu menjadi jaminan bagi suatu hubungan yang kekal dan saling mempercayai antara Allah dengan ciptaan-Nya” [alinea keenam: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Melalui karya penebusan Kristus pemerintahan Allah tetap adil. Dia Yang Mahakuasa jadi dikenal sebagai Allah kasih. Tuduhan-tuduhan Setan terbantah, dan tabiatnya terungkap. Pemberontakan tidak pernah bisa timbul lagi. Dosa tidak pernah dapat lagi masuk di alam semesta. Selama masa kekekalan semuanya aman dari kemurtadan. Oleh kasih penyangkalan diri penduduk bumi dan surga terikat kepada Khalik mereka dalam ikatan-ikatan persatuan yang tak dapat dilepaskan” (Ellen G. White,Maranatha, hlm. 372).

Apa yang kita pelajari tentang akhir dari masa penghakiman di surga?
1. Pahala yang bakal diterima oleh orang-orang kudus Allah bukan saja keselamatan dan hidup kekal, tapi juga kesempatan istimewa untuk memerintah dan menghakimi bersama Kristus. Kewenangan ini akan digunakan pada penghakiman tahap kedua ketika umat Tuhan akan ikut menghakimi orang jahat.
2. Allah sangat rindu untuk menyelamatkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, mereka yang pernah hidup sejak permulaan hingga akhir riwayat dunia ini, tetapi sifat keadilan-Nya menuntut suatu proses penghakiman. Jadi, penghakiman pra kedatangan kedua kali adalah “penyaringan” orang-orang yang layak diselamatkan.
3. Penghakiman tahap pertama dan kedua secara bersama-sama akan membuktikan sifat Allah yang adil dan kasih. Pembenaran orang-orang percaya yang bertobat di satu sisi, dan pehukuman orang-orang jahat di sisi lain, sama-sama mempertegas kasih dan keadilan Allah.

Kamis, 28 November
KESELAMATAN DIPASTIKAN (Kepastian Tanggung Jawab)

Allah, Hakim yang adil. Penghakiman Allah atas orang benar dan atas orang jahat dampaknya berbeda, yang pertama menghasilkan keselamatan sedangkan yang terakhir menghasilkan kebinasaan. Tidak mungkin Allah menghakimi orang benar dan orang jahat dengan vonis yang sama. Ketika Abraham bertanya kepada Tuhan, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (Kej. 18:23; huruf miring ditambahkan), dia sedang merujuk kepada keponakannya, Lot dan keluarganya yang tinggal di Sodom. Bukan berarti bahwa Lot dan keluarganya itu sudah hidup menurut Hukum Allah sebab pada waktu itu Hukum Allah belum dinyatakan, tetapi Lot disebut orang benar karena seperti Abraham dia juga percaya kepada Allah. Sebab dengan percaya kepada Tuhan hal itu diperhitungkan sebagai kebenaran (Kej. 15:6).

Abraham juga percaya pada keadilan dan kasih Allah, itulah sebabnya dia berkata, “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej. 18:25). Daud pun percaya pada keadilan dan kasih Allah, itu sebabnya dia dengan berani berkata, “Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas” (Mzm. 7:9), “Hakimilah aku sesuai dengan keadilan-Mu, ya Tuhan Allahku” (Mzm. 35:24). Di dalam keadilan penghakiman-Nya itulah Allah telah membenarkan umat-Nya dan mengaruniakan kepada mereka hidup kekal.

“Pekerjaan Allah dalam penghakiman menegaskan kembali pengampunan kita dan memperkuat jaminan kita oleh membuat dosa-dosa kita tidak relevan lagi untuk selamanya. Penghakiman sesungguhnya merupakan manifestasi lain dari keselamatan yang menjadi milik kita. Penghakiman ini bukanlah waktu bilamana Allah memutuskan untuk menerima atau menolak kita; sebaliknya, inilah waktu ketika Allah menuntaskan pilihan kita apakah kita sungguh-sungguh menerima Dia atau tidak, sebuah pilihan yang ditunjukkan oleh perbuatan-perbuatan kita” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Rasa keadilan ilahi. Dalam teori ilmu hukum, “pengadilan” (Inggris: court; Belanda:rechtbank) itu berfungsi sebagai penyelenggara “peradilan” (Inggris: judiciary; Belanda:rechspraak). Tujuan diselenggarakannya pengadilan adalah untuk memutuskan suatu perkara dan memastikan bahwa sesuatu keputusan memiliki kepastian hukum tetap. Alkitab tidak memakai istilah “pengadilan” dalam memutuskan nasib manusia, tetapi menggunakan kata “penghakiman” (Inggris: judgment; Ibrani: מִשְׁפָּט, mishpat; Grika: κρίμα,krima) untuk “menghakimi” (Inggris: to judge; Ibrani: שָׁפַט, shafat; Grika: κρίνω, krinō) manusia. Namun, pada prinsipnya hasil yang hendak dicapai oleh keputusan dalam “penghakiman” alkitabiah itu senada dengan “pengadilan” sekuler, yaitu untuk memenuhi rasa keadilan. Bedanya, “rasa keadilan” duniawi itu bertumpu pada nilai-nilai manusiawi yang subyektif, sedangkan “rasa keadilan” surgawi berakar pada kasih dan kebenaran ilahi yang hakiki.

Dalam kata-kata rasul Paulus: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus”(Rm. 3:25-26; huruf miring ditambahkan). Penghakiman Allah berlaku atas diri setiap manusia secara pribadi, dan berlaku atas orang baik maupun jahat. Seperti kata Paulus lagi: “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:10; huruf miring ditambahkan).

“Mengecualikan orang benar dari penghakiman bukanlah apa yang Alkitab ajarkan. Walaupun orang benar itu dibenarkan dalam penghakiman dan dosa-dosa mereka dihapuskan untuk selamanya, mengantisipasi penghakiman itu mendorong mereka untuk mengamalkan suatu kehidupan yang setia dan bertanggungjawab. Dengan demikian kepastian keselamatan itu disertai oleh daya pendorong bagi tingkah laku bermoral” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kepastian keselamatan dan tanggungjawab moral?
1. Allah menghakimi manusia secara adil, apakah terhadap orang “benar” maupun orang yang “tidak benar.” Di hadapan Allah, seseorang disebut “orang benar” oleh sebab dia percaya kepada Tuhan. Jadi, iman adalah garis yang memisahkan antara keselamatan dan kebinasaan.
2. Keadilan penghakiman Allah atas manusia ditunjukkan dengan akibat atau hasil keputusan dari penghakiman itu, apakah seseorang selamat atau binasa, sesuai dengan perbuatan dan sikap orang itu. Seseorang bisa saja banyak berbuat dosa, tetapi sikapnya terhadap tawaran pengampunan dosa dari Allah itulah yang menentukan.
3. Allah tidak pernah menganak-emaskan satu orang dan menganak-tirikan orang yang lain, sebab Allah tidak memandang muka. Obyektivitas penghakiman Allah semata-mata ditentukan oleh pilihan orang itu sendiri, dan pilihan itulah yang membuat dirinya layak atas keselamatan ataupun kebinasaan.

Jumat, 29 November
PENUTUP

Keberdosaan dan pertobatan. Alkitab mengatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:23), dan kalau ada orang yang mengaku bahwa dirinya tidak berdosa maka orang itu “menipu diri…dan kebenaran tidak ada di dalam diri” orang itu (1Yoh. 1:8). Setan tahu persis akan keberdosaan manusia, tetapi dia tidak tahu dengan persis pertobatan seseorang dan pengampunan Allah terhadap orang itu. Buktinya adalah ketika dia berusaha menghalangi Mikhael saat hendak membangkitkan Musa untuk diangkat ke surga (Yud. 1:9), dan juga mendakwa imam besar Yosua (Za. 3:1), karena Iblis tidak tahu kalau mereka ini sudah bertobat dan diampuni Allah. Setan akan selalu tampil sebagai pendakwa manusia, mungkin karena dia terlalu percaya diri dengan kehebatan penggodaannya, tetapi dia tidak terlalu memahami akan besarnya kasih dan kemurahan Allah.

“Setan mempunyai pengetahuan yang tepat akan dosa-dosa yang oleh penggodaannya dilakukan oleh umat Allah, dan dia mendesakkan tuduhan-tuduhannya terhadap mereka, dengan menyatakan bahwa oleh dosa-dosa mereka itu maka mereka telah kehilangan perlindungan ilahi, dan menyatakan bahwa dia berhak untuk membinasakan mereka…Tetapi meskipun para pengikut Kristus itu sudah berdosa, mereka belum menyerahkan diri mereka untuk dikendalikan oleh agen-agen Setan. Mereka sudah bertobat dari dosa-dosa mereka dan telah mencari Tuhan dalam kerendahan hati dan penyesalan, maka Pembela ilahi itu mengadakan pembelaan demi kepentingan mereka” [alinea kedua: kalimat pertama serta kalimat ketiga dan keempat].

Selama hidup di dunia ini umat Tuhan mungkin tidak akan pernah lepas dari dosa, namun pada waktu yang sama Yesus Kristus juga tidak akan pernah lepas dari umat-Nya. Masalahnya, apakah kita akan tetap berharap kepada-Nya yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Keberdosaan adalah sisi gelap dari kehidupan manusia, tetapi pertobatan adalah cahaya yang menghalau kegelapan itu, dan pengampunan Allah adalah sinar yang menerangi hidup kita.

“Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi” (2Kor. 1:10).

Leave a Reply