Peran Perempuan dalam Pelayanan

Sebuah perusahaan yang bernama Fortune 500 membuka lowongan untuk posisi Marketing Director yang baru. Dan setelah memeriksa ribuan surat pelamar, mereka memutuskan untuk memanggil 3 kandidat terbaik. Kandidat pertama dipanggil untuk melakukan interview dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, “Berapa dua ditambah dua?” Ia pun terkejut mendengarkan pertanyaan tersebut dan bertanya-tanya apakah pertanyaan ini adalah pertanyaan jebakan. Namun pada akhirnya ia menjawab, “Empat.” Kemudian pemimpin perusahaan mengucapkan terimakasih dan mengantarnya kedepan pintu. Kandidat berikutnya juga menerima pertanyaan yang sama, “Berapa dua ditambah dua?” Setelah berpikir beberapa saat ia menjawab, “menurut perhitungan statis, jawabannya terdapat diantara nomor 3 dan nomor 5.” Walaupun jawaban ini lebih membuat kagum pemimpin perusahaan, ia mengucapkan terimakasihdan mengantarnya ke depan pintu. Akhirnya kandidat terakhir melakukan interview dan di berikan pertanyaan yang sama. “Berapa dua ditambah dua?” Tampa ragu ia menjawab, “Anda mau jawabannya berapa?” kemudian dia diterima dan mendapatkan posisi itu.

Dalam budaya masa kini, didalam dunia bisnis, kejujuran adalah suatu hal yang langka. Nilai kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat sering ditentukan oleh kepopularitasan atau permainan politik dibanding dengan kebenaran yang sebenarnya. Hal ini bukan lah sesuatu yang di ajarkan Alkitab untuk kita lakukan, walaupun pelajaran ini merupakan pelajaran yang sensitif untuk dipelajari.

Ketika kita mengetahui bahwa 60% dari umat Kristen adalah wanita, kebenaran dan tren dapat berubah-ubah ketika membahas tentang pentahbisan perempuan. Pertanyaan-pertanyaan tentang peran wanita di dalam gereja, apakah mereka dapat menjadi seorang pendeta atau penatua di dalam gereja menjadi topik perdebatan yang serius didalam banyak gereja. Kedua sisi memiliki argument yang sangat kuat. Untuk itu saya ingin membahas topik ini bukan hanya dengan penuh kehati-hatian, tetapi yang paling terpenting adalah dengan berdoa dan kerendahan hati.

Meletakkan Dasar

Sebuah diskusi tentang hubungan alkitab, laki-laki dan perempuan di saat ini dapat membawa kepada pintu yang terbuka terhadap emosi dan interpretasi yang salah tentang pelajaran Alkitab. Itulah sebabnya saya ingin meletakkan dasar bagaimana kita dapat menyingkapi masalah ini bersama-sama. Masing-masing kita harus bertanya; Apa pendapat saya tentang Alkitab? Apakah ini adalah perkataan Tuhan atau hanya berisi pikiran manusia? Apakah ia berisi sesuatu yang salah? Jika iya, apakah saya dapat menguraikan kesalahan-kesalahan tersebut dari apa yang benar?

Sebagai contoh, banyak yang menyatakan bahwa Alkitab tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan didalam gereja dan didalam keluarga, dengan membuang pernyataan tegas dari surat-surat Paulus bahkan dengan tampa memiliki alasan yang jelas. Mereka menyatakan bahwa Paulus telah melakukan kesalahan. Namun dengan bukti apakah mereka memberikan kesimpulan tersebut?

Pertanyaan lain yang semua orang Kristen harus tanyakan adalah: Jika Alkitab mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan saya, apakah saya akan tetap mengikutinya? Itulah sebabnya, apakah pada akhirnya kita sebagai individu yang memutuskan kebenaran?Jika kita menganggap diri kita sebagai pencipta kebenaran, maka kita menempatkan diri kita didalam jalan yang berbahaya.Sebagai orang Kristen, kita harus menolak untuk jatuh kepada “naluri/perasaan”. Karna perasaan dan sistem nilai dunia dapat mempengaruhi pemikiran kita untuk terpengaruh dalam kebiasaan-kebiasan yang tidak alkitabiah.

Tentu saja, yang menjadi dasar bagi orang-orang Kristen seperti yang Yesus katakan adalah; jika kita mengasihi Dia, kita akan menuruti Dia. Kita harus berdiri pada kebenaran yang Tuhan sudah tunjukkan kepada kita melalui firman-Nya. Itulah sebabnya saya menuliskan buku ini berdasarkan prinsip-prinsip yang terdapat pada:

1. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

2. Ketika umat-umat Tuhan tidak setia kepadanya, maka akan berakibatkan hal yang baruk terjadi.

Jika kedua prinsip ini kita jaga, maka saya pastikan bahwa kita akan menuju kepada kesimpulan yang sifatnya Alkitabiah terhadap semua perselisihan doktrinal diantara umat-umat yang mengasihi Allah.

Keluarga dan Gereja

Pada akhir penciptaan, Tuhan tidak hanya mendirikan hari sabat (Kej 2:1-3) tetapi juga mendirikan rumah tangga/keluarga (Kej 2:18, 21-24). Dan pada masa-masa akhir kita akan melihat bahwa setan tidak hanya menyerang orang-orang yang didapati tetap setia terhadap hari sabat, tetapi akan menyerang hubungan yang paling intim diantara manusia; yaitu keluarga. Bahkan pada kenyataannya, peperangan tersebut sudah dimulai.

Setiap kemenangan iblis didalam peperangan terhadap rumah tangga pada akhirnya akan tercermin di dalam gereja. Kelangsungan masyarakat dan gereja sangat ditentukan oleh kesatuan keluarga. Dan dalam kesatuan ini, dengan melihat kepada Firman Tuhan dan hari penciptaan, kita akan menemukan dasar kebenaran, yaitu: laki-laki adalah ayah, dan perempuan adalah ibu.

Dan kalau kita melihat lebih lanjut, laki-laki dan perempuan adalah setara sebagai manusia, tetapi masing-masing memiliki keunikan sebagai ciptaan. Bukan hanya berbeda secara jenis kelamin, tetapi hampir semua aspek sifat dasar juga berbeda. Saya percaya bahwa semua perbedaan ini harus terlihat, dipertahankan, dan bahkan ditekankan dalam segala sesuatu, seperti bagaimana cara berjalan, berbicara, bekerja, dan berpakaian. Laki-laki haruslah tidak mencoba menjadi perempuan, dan perempuan haruslah tidak mencoba untuk menjadi laki-laki.Sekarang saya bukanlah seorang sovinis laki-laki (seorang yang secara agresif membela laki-laki). Saya mencuci baju, saya mengganti popok dan merapikan tempat tidur. Di tahun 1970-an, ibu saya dulunya adalah seorang pemimpin kebebasan perempuan (yang sekarang dikenal sebagai gerakan feminis) di Amerika utara. Beliau adalah seorang yang sangat tegas dan lantang. Bahkan ada sebuah album yang semua lagunya ia tulis yang isinya dikhususkan untuk kebebasan perempuan. Dan sama seperti beliau, saya sangat setuju bahwa perempuan harus dibayar dengan sama dengan laki-laki ketika melakukan pekerjaan yang sama.

Namun ibu saya meninggalkan pergerakan tersebut karna terjadi perubahan pada pergerakan tersebut. Ia melihat pergerakan feminis menjadi seperti seorang perempuan marah yang ingin menjadi sama seperti laki-laki, bukan untuk mendapatkan penghargaan yang benar sebagai seorang perempuan. Dan sekarang gerakan ini, walaupun dalam bentuk yang lebih halus memasukkan rencananya ke dalam gereja-gereja dengan tingkat kesuksesan yang mengejutkan.Tentu saja, pengaruh ini ke dunia sudah saya duga. Dan bagaimanapun juga, bila hal ini masuk kedalam tubuh Kristus dengan bersembunyi di dalam sebuah kata yang disebut sebagai “kemajuan”, sering sekali ini menjadi tanda bahwa ada masalah yang sangat serius terjadi.

Pergerakan ini terjadi didalam gereja kita karna sebagian dari umat Kristen yang sebenarnya memiliki kesungguh-sungguhan dalam menjangkau dunia terhadap berita keselamatan secara naif meningkatkan pengaruh mereka dengan mengambil filosofi dunia yang terkenal. Dalam upaya untuk melawan ketidakadilan terhadap perempuan di sepanjang zaman, mereka membiarkan gerakan feminis ini menekan gereja untuk memberikan hak suara dan upah yang sama seperti cara perfikir unisex.

Dan dengan menggantikan politik yang benar dengan teori filsafat sosial yang tidak benar sebagai penuntun mereka, mereka secara tidak sengaja sedang menghapus setiap perbedaan laki-laki dan perempuan yang terdapat dalam Alkitab. Sering sekali ketika sebuah organisasi berencana untuk memperbaiki beberapa peraturan yang salah, justru mengoreksi lebih dari yang diperlukan sehingga terdapat adanya penyimpangan dari yang dikoreksi.Saya takut hal ini terjadi didalam gereja, dimana gereja memiliki kebutuhan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk mengunakan karunia mereka dalam pelayanan.Sayangnya hal ini telah diwujudkan oleh sebagian orang menjadi sebuah masalah dimana perempuan berkeinginan untuk ditahbiskan sebagai seorang pendeta atau penatua gereja.

Ketika Laki-laki Gagal Memimpin

Saya harus jelaskan bahwa hal ini tidak terjadi hanya karna gerakan feminis liberal. Pada kenyataannya, adanya ketidakpedulian atau kemalasan laki-laki di dalam gerejalah yang lebih mengakibatkan hal ini terjadi. Mereka gagal untuk menunjukkan peranan mereka sebagai seorang pemimpin yang kuat, penuh kasih, dan memiliki hati seperti seorang hamba. Sebagai hasilnya, perempuan secara pelan-pelan masuk kedalam tempat yang kosong itu.

Bahkan Yesaya 3: 1- 12 menunjukkan gagasan yang serius tentang skenario ini. “aku akan mengangkat pemuda-pemuda menjadi pemimpin mereka, dan anak-anak akan memerintah atas mereka. …. Adapun umat-Ku, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya.Hai umat-Ku, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan!”

Tampaknya bahwa ketika laki-laki gagal dalam memimpin seperti seharusnya terjadi, sebagai konsekuensinya perempuan dan anak-anak akan mengisi kekosongan tersebut. Hal ini sering menghasilakan sesuatu yang buruk, seperti kisah Ratu Izebel, seorang yang merebut kekuasaan suaminya (1 Raja-raja 18, 19, dan 21). Selagi memiliki kekuasaan, ia dengan hebat menganiaya nabi-nabi Allah. Tidak lama setelah itu, putrinya Atalya mengambil takhta pemerintahan Yehuda, dan enam tahun pemerintahannya ditandai dengan pertumpahan darah dan kekacauan (2 Raja-raja 11: 1-16).

Seorang penulis Kristen bernama E.G. White menuliskan, “Kebutuhan terbesar dunia ialah kebutuhan akan manusia yang tidak dapat diperjual belikan, manusia yang di dalam hati sanubarinya adalah setia dan jujur, manusia yang tidak takut menyebut dosa sebagai dosa, manusia yang kata hatinya setia kepada tugas seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke kutub, manusia yang mau berdiri untuk kebenaran walau langit runtuh sekalipun.”1

Ketika manusia memenuhi pesan ini, mereka akan kuat secara rohani dan menurut kepada Tuhan, dan akan menerima curahan berkat. Namun ketika manusia tidak menurut kepada Tuhan dan tidak kuat secara spiritual, entah karna mereka lemah, malas, atau penakut, Tuhan akan menghakimi mereka dengan membiarkan hal-hal yang tidak wajar dan tidak diinginkan terjadi sebagai gantinya.

Kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa Tuhan secara jelas telah memutuskan laki-laki sebagai orang yang tepat dalam memimpin rumah tangga, gereja, dan masyarakat. Arti kata suami (dalam bahasa inggris: Husband) artinya adalah House (rumah) – Band (pengikat) atau Pengikat-Keluarga. Laki-laki adalah kepala rumah tangga dan pengikat seluruh keluarganya bersama-sama dalam kasih Kristus.

Kasih Tuhan Sama Bagi Pria dan Wanita

Sebelum kita lanjutkan, kita harus mengerti sebuah hal. Nilai seorang pria dan seorang wanita adalah sama di mata Tuhan. “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28). Setiap manusia, terlepas dari kewarganegaraannya, kelas, atau jenis kelaminnya, adalah sama. Tanah yang berada di bawah kayu salib berada pada tingkat yang sama – wanita sama pentingnya seperti pria. Hal ini sangat jelas dalam kehidupan dan pelayanan Yesus beserta para rasul.
Misalnya, Yesus mengajar perempuan secara langsung, dan juga di layani oleh mereka.”Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.” (Lihat Lukas 10:38-42) Ia juga didukung secara finansial oleh perempuan (Lukas 8: 3), dan perempuan juga termasuk di antara yang pertama menerima Injil (Kis 16:14, 15).

Namun fakta bahwa pria dan wanita memiliki hak yang sama dan kesempatan kepada keselamatan yang sama tidak berarti meniadakan kepatuhan terhadap kepemimpinan di dalam rumah atau gereja. Benar bahwa Yesus dan Bapa adalah sama, namun Yesus tunduk kepada otoritas Bapa. “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”(1 Korintus 11: 3).

Tentu saja laki-laki harus bertanggung jawab dalam memimpin di rumah dan digereja, tegas bila diperlukan namun selalu murah hati. Kolose 3:19 mengatakan, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Bila kita mempelajari kalimat “janganlah berlaku kasar terhadap dia”, saya dapat menyimpulkan bahwa laki-laki tidak boleh memperlakukan istrinya dengan kasar karna akan menimbukan kepahitan bagi istri mereka.

Selain itu, di Amerika, “hak yang sama” tidak meniadakan otoritas atau kepemimpinan para pemimpin masyarakat. Kita mungkin memiliki hak-hak sipil yang sama dengan polisi, namun kita diharapkan untuk tetap tunduk kepada otoritas mereka. Demikian juga, kesetaraan dalam keselamatan, tidak meniadakan sistem Allah terhadap kepemimpinan laki-laki di rumah dan gereja. “Anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan karna haruslah demikian.” (Efesus 6:1).

Memang benar bahwa terlalu lama laki-laki salah memahami peran yang tepat dari perempuan di dalam gereja, dan sering memperlakukan mereka sebagai orang Kristen kelas dua. Oleh sebab itu, banyak wanita yang berbakat telah meninggalkan tempat dimana mereka sebenarnya dapat menggunakan talenta mereka.Mungkin karna keadaan yang tidak adil ini mengapa banyak wanita Kristen bereaksi dengan mengikuti “tren yang berlaku” di dunia, dan akhirnya menginginkan hal-hal yang Tuhan larang.

Faktanya adalah bahwa perdebatan tentang peran perempuan dalam gereja telah berayun terlalu jauh di masing-masing arah. Tapi di mana manusia gagal, Allah menjanjikan kemenangan, perdamaian, dan pemulihan. Itu sebabnya kedua belah pihak dalam perdebatan ini perlu mencari kebijaksanaan dan bimbingan dari Firman Tuhan untuk tumbuh dalam kesatuan iman.

Akhirnya, dalam mempertimbangkan peran perempuan dalam gereja, ingatlah ide yang lebih luas dari pelayanan itu sendiri. Ada perbedaan peran dalam gereja yang tidak diperdebatkan. (Lihat Korintus 12:1) Kita tidak mendengar argumen bahwa seorang pria yang berbakat dalam mengajar lebih berharga dari seorang pria yang berbakat dalam memberikan nasehat. Secara alami tubuh memiliki anggota-anggota yang berbeda dalam melakukan peran yang berbeda, namun masing-masing anggota adalah sama pentingnya. Berbeda bukan berarti lebih baik atau lebih buruk.

Dan ketika kita memperlajari lebih lanjut pelajaran ini, harap diperhatikan bahwa buku ini tidak dirancang untuk menjadi studi menyeluruh tentang masalah pentahbisan perempuan. Buku ini tidak akanmenguraikan setiap argumen tunggal mengenai perempuan sebagai pendeta atau penatua gereja. Sebaliknya, buku ini adalah presentasi sederhana tentang “Beginilah firman Tuhan,” yang harus selalu menjadi panduan kita dalam menentukan kebenaran didalam setiap masalah.

Pada Mulanya

Mari kita mulai dengan Penciptaan. Dapat dikatakan bahwa Allah menciptakan ciptaan dengan urutan nilai dan kompleksitas mereka. Pertama, Dia menciptakan elemen dasar bumi, air, dan udara; kemudian, Dia menciptakantumbuh-tumbuhan dan benda-benda penerang. BerikutnyaDia menciptakan burung-burung dan ikan, kemudian makhluk darat.

Akhirnya, Tuhan menciptakan manusia, dansebagai tindakan penutup penciptaan, Ia menciptakan seorang wanita. Melalui hal ini kita bisa mengartikan bahwa perempuan adalah makhluk yang paling indah dan kompleks di planet ini. Perempuan bahkan cenderung hidup lebih lama dan menggunakan otak mereka lebih seimbang dibandingkan laki-laki.

Perhatikan bahwa Tuhan tidak menciptakan laki-laki pertama dan wanita pertama dengan cara yang sama. Dia menciptakan laki-laki dari debu, tapi ia membuat wanita itu dari tulang rusuk laki-laki (Kejadian 2:21, 22). Tuhan memberi nama bagi pria itu, dan pria itu memberi nama bagi wanita itu. “Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku: dia akan disebut Perempuan, karena ia diambil dari laki-laki” (Kejadian 2:23; lihat juga Kejadian 3:20). Jadi proses ciptaan Allah itu sendiri menunjukkan perbedaan yang sangat berbeda antara pria dan wanita.

Kemudian setelah dosa masuk kedalam gambar itu, Tuhan menetapkan sebuah sistem otoritas untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Ini adalah sebuah sistem di mana laki-laki akan memimpin. “Kepada wanita Dia mengatakan … keinginan-Mu akan suami-Mu, dan ia akan memerintah atas engkau” (Kejadian 3:16). Kata memerintah di sini berarti “untuk dapat memutuskan, atau memiliki kekuasaan.”

Adalah penting untuk tidak terburu-buru melewatkan ayat ini karena beberapa orang berpendapat bahwa ayat-ayat tentang peran kepemimpinan laki-laki merujuk kepada budaya yang didominasi oleh laki-laki. Tetapi perhatikan perintah dalam Kejadian 3:16, bahwa perintah ini datang langsung dari Allah. Ia tidak datang dari Musa, Raja Daud, Petrus, Yohanes, atau bahkan Paulus. Tuhan sendirilah yang mengucapkannya.

Ada yang mengatakan bahwa kita harus mengabaikan ayat-ayat ini karna hal tersebut didasari oleh tradisi timur kuno yang sudah tidak berlaku lagi pada saat ini, seperti undang-undang perbudakan dan poligami yang terjadi pada zaman Alkitab. Memang benar undang-undang perbudakan dan poligami sudah tidak berlaku, tetapi Tuhan tidak pernah memerintahkan manusia untuk memiliki budak atau memiliki beberapa istri. Sebaliknya, seperti kata Yesus, hal itu terjadi karena “… ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu” (Markus 10: 5).

Kita juga perlu memahami bahwa peran pendukung perempuan didirikan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. (Lihat 1 Korintus 11: 7-9). Hawa diciptakan untuk menjadi “penolong” Adam (Kejadian 2:18). Jadi sejak awal Penciptaan, peran seorang wanita adalah untuk mendukung suaminya.

Perempuan didalam Gereja

Sekarang mari kita masuk ke dalam bagian yang kontroversial tapi akan memberikan pencerahan tentang perempuan didalam gereja. Paulus menulis, “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci , tanpa marah dan tanpa perselisihan. Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.

Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan. “(1 Timotius 2: 8-15).

Di sini kita menemukan Paulus menasihati Timotius muda tentang pergerakan gereja yang tepat, dengan menawarkan panduan praktis untuk penataan gereja dan dalam memilih petugas gereja sesuai kualifikasi untuk setiap posisi.

Paulus juga membahas tentang pakaian perempuan, meminta mereka untuk menghindari munculnya sifat keduniawian dengan berpakaian sopan dan berfokus pada kepatuhan, karena “baju mencolok, di masa lalu, kadang-kadang dapat menunjukkan tanda bahwa ia adalah seorang wanita telah melepaskan moralnya dan merdeka dari suaminya.” 2 Tentu saja, prinsip ajaran-ajaran umum diterima oleh sebagian besar gereja-gereja, tetapi apa yang Paulus tulis selanjutnya sering menimbulkan kegemparan yang serius.

Bagi wanita, Paulus mengatakan, peran mereka dalam ibadah adalah untuk “berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.” Artinya, dalam sebuah pertemuan ibadah di gereja, seorang wanita harus tetap berdiam diri. Tetapi apa yang ia maksudkan dengan berdiam diri? Paulus menjelaskan, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki;” Jadi ini bukanlah mutlak berdiam diri, melainkan “tenang” dalam arti seperti yang dijelaskan yaitu -tanpa mengajar atau mengambil otoritas atas laki-laki. Pemahaman ini cocok dengan penuturan Paulus dalam 1 Korintus 11 yang menunjukkan bagaimana perempuan berpartisipasi didalam doa dan nubuatan di gereja mula-mula.

Pokok Permasalahan

Untuk memahami lebih baik tentang keterbatasan perempuan dalam pelayanan, kita perlu memperjelas apa artikata “mengajar” sebenarnya. Pertama, tentu saja hal ini berbicara tentang hal-hal spiritual di dalam gereja. Ayat/surat itu sendiri merupakan gambaran nyata yang memberikan petunjuk bagi gereja dan perilaku apa yang sesuai di dalamnya. Oleh sebab itu,ayat ini tidak menghalangi perempuan dari pekerjaan yang memberikan instruksi atau memerintah atas laki-laki di luar struktur gereja.

Namun mengingat penggunaanya dalam seluruh Alkitab, kata mengajar adalah “untuk memberikan penyebaran akan ajaran Yesus kristus secara hati-hati dan pernyataan yang berkuasa tentang kedendak Allah bagi orang yang percaya didalam terang ajaran tersebut.” 3

Itulah sebabnya, menurut Paulus, wanita tidak menggunakan kepemimpian keagamaan atas laki-laki. Hal ini tidak terbatas atas hubungan antara suami dan istri, melainkan mencakup semua hubungan pria-wanita di dalam gereja.

Pokok pikiran ini juga muncul dalam 1 Korintus 14: 34, 35 “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri,seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.”Dalam ayat ini, Paulus juga menceritakan wanita di Korintus untuk belajar dengan tenang. (Dalam hal ini, ia membahas tantang penilaian yang tepat dari nubuat).

Banyak yang memperdebatkan bahwa Paulus membatasi perempuan untuk mengajar laki-laki, dan hal tersebut didasarkan sepenuhnya oleh tradisi budaya yang tidak relevan pada zaman ini. Namun, meskipun penting untuk memahami latar belakang sejarah dan budaya dari setiap ajaran Alkitab, Paulus tidak membiarkan kita mengabaikan nasehat ini karna hal tersebut.

Mengapa? Setelah memberikan larangan, Paulus memberikan alasan yang kekal untuk itu. “Karena Adam yang pertama dijadikan , kemudian barulah Hawa” (1Timotius 2:13). Ayat ini menyatakan bahwa dasar ajaran Paulus merujuk secara langsung kepada penciptaan. Ia secara tegas menyatakan bahwa pria dan wanita diciptakan berbeda dan memiliki peran yang berbeda, bahkan dalam kondisi sebelum kejatuhan manusia. Oleh sebab itu, tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa ajaran ini adalah hanya ajaran untuk orang-orang Efesus di waktu dan tempat mereka sewaktu di dunia.

Kenyataannya, Paulus sering menuliskan tentang peran dan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, dalam Efesus 5 dan 6, ia meminta perempuan untuk tunduk kepada suami mereka dan pelayan untuk tunduk kepada tuan mereka. Tentu saja nasehat ini dilanjutkan Paulus dengan membicarakan tentang “manusia baru” di dalam Kristus (Efesus 4:23, 24). Manusia baru adalah manusia yang sudah dirubah sebagai orang yang mengerti pola ciptaan dan dapat hidup dengan kepatuhan terhadap Tuhan. Jadi Paulus tidak pernah menghapuskan tugas laki-laki dan perempuan. Tidak. Ia menjelaskan bahwa Kristus telah menghapuskan semua perbedaan yang berhubungan dengan nilai rohani: Masing-masing kita dibenarkan oleh iman dan sama-sama diberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah.

Tidak Hanya Perempuan

Beberapa orang menyarankan bahwa karena pada umumnya jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki di dalam gereja, maka peran kepemimpinan harus diberikan sesuai dengan jumlah terbanyak. Bila menggunakan alasan ini, maka anak-anak memiliki hak kepemimpinan terbesar bila dalam sebuah keluarga memiliki 3 orang anak.

Itulah sebabnya otoritas di dalam gereja tidak datang melalui jumlah suara terbanyak, melainkan dari Firman Allah, yang mana kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan sama dengan kepempinan Tuhan terhadap manusia (lihat 1 Korintus 11: 3).

Selain itu, istri harus rela mengakui kepemimpinan suami mereka. “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. “(Efesus 5:23, 24). Lihat juga Titus 2:4,5dan 1 Petrus 3:6 untuk melihat hubungan yang berpusat kepada Alkitab.

Paulus juga menunjukkan bahwa para penatua haruslah seorang suami, yaitu laki-laki. “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri” (1 Timotius 3: 2). (Perhatikan: Istilah uskup dan penatua yang dapat dipertukarkan.) “Paulus tidak mengatakan bahwa semua laki-laki dapat menjadi uskup. Bahkan seperti di dalam Perjanjian Lama, tidak semua anak Harun bisa menjadi imam. Kedudukan tersebut selalu memiliki tempat yang terbatas. Pemimpin Kekristenan, Paulus berbicara tentang haruslah ia didapati ‘tidak bersalah’ dan sudah menikah, ‘waspada, sadar, berperilaku baik, dll. Ada daftar persyaratan yang panjang yang akhirnya menyisihkan sebagian besar pria dan menyisakan sedikit yang memenuhi syarat.” Wanita bukanlah satu-satunya yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi penatua dan pendeta; begitu juga sebagian besar laki-laki!

Tentu saja, setiap orang Kristen, pria dan wanita, terpanggil untuk melayani di dalam beberapa bagian, tapi tidak semua bagian. “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus”(Efesus 4:11, 12).

Peran Perempuan di Gereja di dalam Alkitab

Lalu apakah peran perempuan dalam gereja Kristus? Alkitab sangat jelas menyatakan bahwa perempuan seharusnya terlibat secara penuh di dalam pelayanan. Dan tentu saja, salah satu kelemahan terbesar di dalam gereja adalah kurangnya pelayanan perempuan yang benar-benar terfokus pada Kristus dan pertumbuhan di dalam Firman.

Ditambah, di dalam Alkitab, perempuan ditunjukkan sebagai setara di dalam sifat pelayanan mereka. Beberapa contoh, seperti Debora, yang adalah seorang hakim Israel (Hakim-hakim 4:4); Hulda dan Hana, seorang nabiah (2 Tawarikh 34:22; Lukas 2:36); Priskila, yang aktif di dalam penginjilan (Kis 18:26); dan Febe, seorang diakones (Roma 16:1).

Perempuan juga memainkan peran penting dalam pelayanan Yesus dan memberikan pelayanan kepada Yesus (Matius 28:1-10; Lukas 8:3; 23:49; Yohanes 11:1-46; 12:1-8). Selanjutnya, tidak ada karunia rohani terbatas bagi laki-laki dalam daftar di Perjanjian Baru (1 Korintus 12: 27-31; Roma 12: 3-8; 1 Petrus 4: 8-11), dan wanita diperintahkan untuk membangun tubuh Kristus, dimana hal ini termasuk mengajar (Titus 2: 4) dan bernubuat (Kis 02:17, 18; 21: 9; 1 Korintus 11: 5).

Seperti yang kita lihat, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam gereja Tuhan sepanjang zaman. Dan hal tersebut belum berubah. Namun walaupun laki-laki dan perempuan sama-sama melayani Tuhan dengan cara yang signifikan, kita seharusnya tidak menyimpulkan bahwa Allah bermaksud membuat pria dan wanita untuk berada dalam kaspasitas yang sama.

Namun hanya karena 1 Timotius 2:12 dengan tegas mengajarkan bahwa seorang wanita tidak untuk mengajarkan laki-laki, perempuan tetap bebas untuk mengajar di banyak cara lain. Bahkan, wanita diperintahkan untuk menjelaskan Injil kepada semua orang, termasuk orang-orang yang hilang (Kis 18:26). Dalam gereja, perempuan mungkin mengajar perempuan dan anak-anak. Bersama laki-laki di dalam gereja, perempuan harus mendiskusikan hal-hal spiritual dengan cara yang menerangkan tetapi tidak dengan menyuruh (menunjukkan kekuasaan). Ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak dapat belajar dari perilaku wanita atau dari percakapannya dengan seorang wanita dan menerapkan apa yang mereka pelajari dalam hidupnya. Sebaliknya, artinya adalah bahwa tujuan wanita dalam berbicara dengan seorang pria tidak untuk menginstruksikan dia seperti yang seorang pemimpin lakukan.

Tentu saja, pembatasan Paulus tentang perempuan dalam mengajar dan otoritasnya atas laki-laki telah ditantang dengan beberapa cara lain. Beberapa mengatakan bahwa kata-katanya dalam 1 Timotius 2:12, “Aku tidak menyarankan,” adalah pernyataan pribadi, tapi bukan sesuatu untuk gereja pada umumnya.

Namun, hal ini dapat merusak otoritas kerasulan Paulus; ia sering berbicara sebagai orang pertama yang mengarahkan gereja (1 Timotius 2: 1, 8, 9). Beberapa orang yang lain bahkan berpendapat bahwa Paulus salah adanya, tetapi ini harus ditolak dengan alasan doktrin yang berlandaskan dari Alkitab (2 Timotius 3:16).

Meskipun kita dapat menyimpulkan bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi seorang pendeta atau penatua dalam gereja, adalah jelas bahwa wanita penting bagi gereja dan melakukan hal-hal yang penting di dalam gereja. Wanita yang memenuhi peran yang ditetapkan Tuhan bagi dirinya tidak kalah dengan cara apapun dengan seorang pria; melainkan dia akan bertindak sebagai seorang wanita yang saleh.

Sebuah Pengaruh Yang Kuat di Dalam Gereja

Meskipun jelas bahwa perempuan tidak menjadi pendeta atau penatua, karena hal itu akan menempatkan mereka dalam peran kepemimpinan atas laki-laki (1 Timotius 2: 11-14; 1 Korintus 14:34, 35), ada hal-hal lain yang wanita dapat dan harus lakukan. Pelayanan mereka dapat berkisar dalam dukungan, layanan, dan pelayanan untuk perempuan dan anak-anak.

Contohnya, wanita dapat mengajar wanita lain. ” Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.”(Titus 2 : 3-5). Oleh karena itu, wanita Kristen yang dewasa dapat memuridkan wanita yang lebih muda, mengajarkan mereka untuk mengendalikan diri, untuk menjadi orang yang mengasihi suami mereka sendiri, untuk mengajarkan anak-anak mereka dengan bijaksana, untuk menahan diri dalam nafsu dan keinginan mereka, untuk menjadi sederhana, dan untuk menjadi tegak dalam karakter.

Selanjutnya, wanita harus melayani melalui Fiman kepada wanita lain. Dalam Kisah Para Rasul 21: 8-11, Penginjil Filipus, memiliki empat anak perempuan yang belum menikah dan melayani dengan cara ini. Sementara beberapa titik dari pasal ini dapat menjadi bukti bahwa perempuan dapat menjadi pendeta, namun konteksnya menunjukkan hal yang berbeda. Paulus tinggal dengan Filipus dan keluarganya dan dilayani oleh mereka, tetapi ketika Allah ingin mengungkapkan sesuatu kepada Paulus melalui nubuatan, Ia tidak menggunakan salah satu dari anak-anak perempuan Filipus. Dia menggunakan seorang nabi laki-laki dari kota lain untuk mengajar Paulus.

Perempuan juga bisa membagikan Injil dalam konteks pribadi. Misalnya, Priskila dan Akwila berbagi Injil dengan Apolos secara pribadi. Ini adalah usaha secara tim, tetapi jelas dari ayat ini bahwa Priskila mengambil bagian (Kisah Para Rasul 18:26). Saya percaya Alkitab menginjinkan wanita dapat membagikan Injil dengan seorang pria dalam pengaturan non-publik jika ada kesempatan, asalkan: 1) hal itu dilakukan dengan izin suami; 2) hal itu dilakukan secara berhati-hati; dan 3) hal itu dilakukan dengan cara yang menghindari munculnya kejahatan.

Perempuan juga harus terlibat dalam peran pendukug dalam pekerjaan gereja dan misionaris. Filipi 4: 2-3 mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.”

Pelayan-pelayan Gereja

Meskipun Tuhan telah memilih banyak wanita untuk melayani sebagai nabi sepanjang masa, Dia tidak pernah mengisyaratkan bahwa seorang wanita harus ditahbiskan sebagai imam. Pendeta dan penatua dalam Perjanjian Baru kira-kira setara dengan imam-imam Perjanjian Lama. Pendeta dan penatua memimpin dalam persekutuan di dalam Perjanjian Baru setara dengan yang mempersembahkan korban bakaran –dan peran itu dilakukan oleh seorang pria. Dan sementara dimana banyak imam adalah nabi, tidak ada nabi perempuan menjadi imam. Amram dan Yokhebed memiliki tiga anak – Miriam, Harun, dan Musa (Keluaran 7: 1; 5:20). Ketiga adalah nabi, tetapi hanya anak laki-laki yang menjadi imam.

Tentu saja, wanita telah memberikan peran penting dalam gereja sejak awal, namun pria diberikan tugas kepemimpinan gereja. Para rasul adalah laki-laki, gereja-gereja dimulai oleh laki-laki, Alkitab ditulis oleh laki-laki yang berada di bawah inspirasi, dan gereja-gereja dipimpin oleh laki-laki. Ini tidak berarti bahwa perempuan kurang mampu mengajar dibandingkan laki-laki; itu hanya berarti bahwa Tuhan menciptakan kita dengan cara ini. Mungkin dengan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memahami tujuan Allah dalam menciptakan struktur ini, kita akan menemukan kepuasan kekal – daripada mencoba untuk menemukannya dengan melawan ajaran Firman Allah.

Roma 16:1,2 mengatakan, “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.”

Arti kata hamba adalah diakonos dalam bahasa Yunani (dee-ak’-on-os). Secara harfiah berarti “untuk menjalankan tugas; petugas, seorang pelayan di meja atau dalam tugas-tugas melayani lainnya.” Kata untuk laki-laki, diakoneo(s) (dee-ak-on-eh’-o), muncul dalam Perjanjian Baru sekitar 68 kali dan diterjemahkan sebagai “melayani, menolong, mengelola” Hampir semua dari ayat itu tersebut menunjuk kata yang merujuk kepada pekerjaan diaken yang dapat dipegang hanya oleh laki-laki (1 Timotius 3: 8-13; Kisah para Rasul 6: 1-7). Saya membawa hal ini karena beberapa orang mengatakan bahwa Febe memegang jabatan sebagai diaken. Tidak. Dia adalah seorang hamba, membantu di sekitar gereja, dan dia seorang penolong (membantu, ramah atau memberi tumpangan) dengan banyak orang seperti Paul.

Dalam 1 Timotius 5: 9, 10, kita belajar, “Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan –pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.” Saya membawa kita ke bagian ini karena ayat ini memberikan kualifikasi untuk seorang janda yang dianggap mendapatkan dukungan secara rutin oleh gereja lokal. Dia memiliki riwayat pekerjaan baik, menjadi ibu yang setia, ramah terhadap orang asing, dan bersedia untuk melayani sesama orang Kristen dengan cara yang sederhana. Singkatnya, ia memiliki sejarah kerja rajin bagi Tuhan. Salah satu contohnya adalah Tabita atau Dorkas, yang ditemukan dalam Kisah Para Rasul 9. Dia membuat pakaian bagi banyak orang percaya; dia adalah seorang wanita dengan hati hamba sejati.

Merangkum Peran Kita

F. B. Meyer mengatakan, “Saya dulu berpikir bahwa berkat Allah berada di rak-rak yang bertumpukan satu dengan yang lain dan jika kita tumbuh lebih tinggi dalam karakter Kristen, maka semakin mudah kita bisa menjangkau berkat-berkat itu. Saya sekarang menemukan bahwa karunia Allah memang berada di dalam rak-rak yang bertumpukan satu dengan yang lain, namun bukanlah pertanyaan bagaimana bertumbuh lebih tinggi tetapi bagaimana membungkuk semakin rendah.” Ingatlah Maria Magdalena – yang puas dengan berlutut di kaki Yesus – dan menjadi orang pilihan untuk menjadi pertama yang melihat Yesus setelah kebangkitan-Nya dan mengabarkan kabar baik kepada orang lain (Yohanes 20:17).

Penyerahan adalah menempatkan diri sendiri di bawah otoritas orang lain. Ini adalah sebuah tindakan kerendahan hati, sesuatu yang pria maupun wanita harus latih lebih lagi di gereja kita. Di dalam gereja, Paulus mengajarkan bahwa perempuan harus tunduk pada otoritas laki-laki di gereja. Tapi ini tidak boleh menjadi alasan untuk menjadi tidak setara. Kristus tunduk kepada Bapa, namun Dia adalah sama dengan Bapa dalam nilai dan esensi. Oleh karena itu, penyerahan adalah tentang perintah, bukan nilai!

Pada saat yang sama, ada masalah yang luar biasa dengan mengabaikan pernyataan yang jelas dari Kitab Suci sehubungan dengan peran perempuan di dalam gereja. Orang Kristen yang mengesampingkan pernyataan jelas dari Kitab sebagai tradisi usang atau hanya merupakan kebiasaan setempat, sedang membangun fondasi di atas pasir yang bergoyang. Dan selanjutnya setiap kebenaran Alkitab lainnya akan berada dalam bahaya bergeser jauh, sehingga bahkan Perjamuan Tuhan, baptisan, dan pernikahan suatu hari akan menjadi tradisi kuno belaka yang tidak lagi berlaku untuk dunia saat ini. Kita seharusnya tidak merusak Kitab Suci begitu mudah.

Faktanya bahwa di dalam Alkitab tidak ada satu contoh dari seorang wanita yang ditahbiskan sebagai imam, pendeta, atau penatua. Tentu saja Yesus hanya pernah diurapi oleh laki-laki. Apakah Dia hanya mentaati kebiasaan populer saat itu? Yang benar adalah pada masa itu, sebagian besar agama pagan (penyembah berhala) memiliki imam perempuan. Selain itu, gagasan yang menyatakan bahwa Yesus membatasi dirinya untuk mengikuti adat istiadat ketika hidup didunia benar-benar tidak sesuai daengan ajaran-ajaran-Nya. Ia mengatakan,”Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (Matius 15:3). Yesus menyerahkan nyawa-Nya dalam membela kebenaran, terlepas dari tren populer saat itu. Kita harus selalu bersedia untuk melakukan hal yang sama.

Ketika Tuhan menjadikan wanita, hal itu menyempurnakan penciptaan-Nya. Jadi ini bukan tentang kehormatan atau harga diri atau status sosial kami sebelum manusia. Ini tentang mengikuti pengajaran yang jelas dari Alkitab. Menariknya, Alkitab menggunakan wanita sebagai simbol gereja-Nya yang berharga. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Dalam Alkitab, kita menemukan keberhasilan terbesar datang ke gereja ketika seorang perempuan dengan rendah hati memeluk perannya untuk melayani Kristus dalam menyelamatkan orang lain.

Sebelum dibabtis oleh Roh Kudus, para rasul berjuang untuk posisi yang lebih tinggi dan berdebat siapa yang lebih besar diantara mereka. Roh Kudus dicurahkan kepada mereka hanya setelah mereka merendahkan diri dan memutuskan untuk menerima panggilan Tuhan yang telah ditempatkan atas mereka. Saya tahu Tuhan ingin untuk mencurahkan Roh-Nya atas umat-Nya lagi, tapi pertama-tama kita harus berpaling dari ajaran dunia yang bersifat politis dan dengan pikiran Kristus dengan rendah hati untuk tunduk kepada ajaran yang jelas dari Firman-Nya.

Ucapan terimakasih khusus kepada Pdt. Richard O’fill untuk kontribusinya dalam memberikan pemahaman yang tidak ternilai untuk buku ini.

1. E. G. White, Education, p. 57.
2. Douglas Moo, “What Does It Mean Not to Teach or Have Authority Over Men? 1 Timothy 2:11–15” in Recovering Biblical Manhood and Womanhood, ed. John Piper and Wayne Grudem (Wheaton, Ill.: Crossway Books, 1991), p. 182.
3. Douglas Moo, ibid., p. 185.
4. S. Lawrence Maxwell, “One Chilling Word,” Adventists Affirm, Spring 1995, Vol. 9, No. 1, p. 41.

Leave a Reply