Persepsi baru terhadap Yesus Kristus

why-is-jesus-christ-important-in-my-life-main-1138511

(Pasal 2 dari buku “Exploding the Israel Deception).

Pada pasal ini, kita akan mulai menekan tombol yang akan meledakkan “Israel Deception (Penipuan tentang Israel)”. Hampir 800 tahun telah lewat sejak jaman nabi Hosea. Akhirnya, jam nubuatan surga berdentang 12 kali. Maka “lahirlah Yesus di Betlehem Yudea pada jaman raja Herodes.” Matius 2:1. Karena raja Herodes merasa terancam oleh bayi yang baru lahir ini yang dia anggap berpotensi merebut tahtanya, dia mengirimkan tentaranya untuk “membunuh semua anak di bawah 2 tahun yang berada di Betlehem.” Matius 2:16. Namun Allah telah memperingatkan Yusuf sebelum pembunuhan terjadi. “Lihat, malaikat Tuhan menampakkan diri pada Yusuf dalam sebuah mimpi, dan berkata, Bangun, dan bawa anak ini beserta ibunya, dan menyingkirlah ke Mesir, dan tinggallah di sana sampai Tuhan berfirman lagi” Aayat 13. Maka keluarga Yusuf bangkit dan “berangkat ke Mesir” ayat 14.

Kalimat berikutnya setelah Matius 2:14 adalah seperti bom atom dalam pengertian terhadap nubuatan. Dibawah inspirasi Roh Kudus, Matius menulis bahwa Yusuf, Maria dan Yesus menetap di Mesir “sampai Herodes mati: sesuai dengan penggenapan dari apa yang dikatakan Tuhan melalui nabiNya, yang berkata “Dari Mesir Kupanggil AnakKu” ayat 15. Sadarkah Saudara apa yang kita baca? Matius sedang mengutip Hosea 11:1, yang menurut konteks historis, menunjuk kepada bangsa Israel yang dipanggil keluar dari Mesir pada jaman Musa. Namun di sini penulis Alkitab mengambil ayat tersebut dan menyatakannya “digenapi” oleh Yesus Kristus! Di sini Matius mulai mengungkapkan sebuah prinsip yang dia kembangkan dalam keseluruhan bukunya. Rasul Paulus juga mengajarkan prinsip yang sama, seperti yang akan kita lihat nanti.
Ingat, pertama kali nama “Israel” digunakan dalam Alkitab, adalah nama rohani yang diberikan kepada satu orang, yaitu Yakub (Kejadian 32:28). Nama itu berhubungan dengan kemenangan rohani dari Yakub. Meskipun begitu pada permulaan Perjanjian Baru, nama yang sama telah diaplikasikan juga kepada satu Orang, Yang Menang, yaitu Yesus Kristus.
Ada paralelisasi yang ajaib antara sejarah Israel dan sejarah Yesus Kristus. Dalam sejarah Ibrani, seorang bernama Yusuf mendapat mimpi dan kemudian pergi ke Mesir. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan Yusuf yang lainnya yang juga mendapat mimpi dan kemudian pergi ke Mesir. Ketika Tuhan memanggil Israel keluar dari Mesir, Dia menyebut bangsa tersebut “anak-Ku” Keluaran 4:22. Ketika Yesus keluar dari Mesir, Tuhan berkata, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku”. Ketika bangsa Israel meninggalkan Mesir, bangsa tersebut menyebrangi Laut Merah. Mereka “dibaptis di laut tersebut” I Korintus 10:2. Dalam pasal 3 kitab Matius, kita membaca Yesus dibaptis di sungai Yordan “untuk menggenapi kehendak Allah” Ayat 15. Kemudian Allah memanggil Yesus, “AnakKu yang Kukasihi” Ayat 17.

Setelah Israel melewati Laut Merah, mereka menghabiskan 40 tahun di padang belantara. Segera setelah Yesus dibaptis di sungai Yordan, Dia “dituntun oleh Roh ke padang gurun” untuk 40 hari (matius 4:1,2). Pada akhir ke 40 hari, Yesus menghadapi godaan Setan yang mengutip tiga ayat dari Alkitab. Semua ayat tersebut adalah dari kitab Ulangan, kitab yang Tuhan berikan pada bangsa israel pada akhir dari 40 tahun di padang belantara! Apa artinya ini? Itu berarti, dalam kitab Matius, Yesus mengulangi sejarah dari bangsa Israel, tahap demi tahap, dan mendapatkan kemenangan di tempat di mana bangsa Israel jatuh. Dia menjadi Israel yang baru, Putra Allah, Manusia yang menang dan mengalahkan semua dosa.

Setelah menyembuhkan banyak orang, Yesus “memperingatkan mereka untuk tidak memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain: Hal ini menggenapi apa yang dikatakan nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Matius 12:18-20. Di sini Matius melakukan yang sama seperti dengan Hosea 11:1. Dia mengutip Yesaya 42:1-3, yang menurut konteks aslinya menunjuk kepada “hamba” Allah yang adalah “Israel hambaKu.”. Yesaya 41:8. Sekali lagi, dibawah inspirasi Roh Kudus , penulis dari buku pertama Perjanjian Baru ini menyatakan bahwa Yesaya 42:1-3 telah “digenapi” oleh “hamba” Allah, yaitu Yesus Kristus!

Dalam Mzmur 80:8, Israel disebut “pokok (pohon)anggur”. Begitupun Yesus menyatakan diriNya “Akulah pokok anggur yang benar” Yohanes 15;1. Allah menunjuk kepada bangsa Israel sebagai “anakKu, anak-Ku yang sulung” Keluaran 4:22. Namun begitu rasul Paulus kemudian menyebut Yesus Kristus “yang sulung dari segala ciptaan” Kolose 1:15. Nabi Yesaya menyebut Israel sebagai “benih dari Abraham” Yesaya 41:8. Meskipun begitu Paulus menulis “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus.” Galatia 3:16.

Teks terakhir adalah yang terjelas dan paling “meledakkan” dari semua! Dalam Perjanjian Lama, Tuhan secara pasti menyatakan “Israel adalah keturunan Abraham” Yesaya 41:8. Tapi disini Paulus Paulus menulis bahwa keturunan Abraham yang dimaksudkan bukanlah “banyak orang” tetapi hanya “satu orang”, yaitu Kristus. Dengan demikian kita menemukan bahwa dalam Perjanjian Baru, apa yang semula diaplikasikan kepada bangsa Israel, sekarang diaplikasikan kepada Yesus Kristus. Sang Mesias sekarang menjadi “benih”. Itu berarti, Yesus Kristus adalah Israel!

Masih ada yang lainnya. Dalam kitab Kejadian dan Keluaran, nama “Israel” tidak hanya menunjukkan satu orang yang menjadi pemenang, yaitu Yakub, tetapi juga kepada keturunannya, yang menjadi bangsa Israel. Prinsip yang sama juga diungkapkan Perjanjian Baru. Segera setelah kalimat yang menyatakan bahwa Yesus adalah “keturunan” yang dimaksud, Paulus kemudian memberitahukan pertobatan kepada orang-orang dari bangsa lain (bukan Yahudi), “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” Galatia 3:29. Dengan begitu dalam Perjanjian Baru, nama Israel tidak hanya diaplikasikan kepada Satu Orang Pemenang, Keturunan Yang Sejati, Yesus Kristus, tetapi juga kepada mereka yang didalam Kristus. Mereka yang mempercayai Kristus menjadi bagian dari “keturunan” tersebut. Dengan kata lain, umat Kristen yang benar adalah sekarang “Israel rohani milik Allah”.

Allah membuat suatu perjanjian dengan 12 suku Israel di kaki Gunung Sinai. Korban-korban binatang dipersembahkan. Kemudian “Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” Keluaran 24:8. Pada akhir dari pelayananNya, Yesus Kristus membuat suatu perjanjian yang baru dengan 12 rasul di ruang atas dari bukit Sion. Sebelum mempersembahkan diriNya sebagai Korban yang agung, Tuhan kita menyatakan, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Matius 26:28. Apa artinya ini? Artinya dalam Yesus Kristus, Keturunan yang Sejati, sedang mengadakan suatu Perjanjian yang Baru dengan Israel yang Baru pula!
Detik-detik berlalu. Fakta-fakta mendasar dari Perjanjian Baru ini akan memberikan ledakan yang nyata saat kita nanti mempelajari apa yang diajarkan kitab Wahyu mengenai Israel, Bait Allah, Babilon dan Armagedon.

Sumber: Dianweb.org

Leave a Reply