Prof. Sumanto Al Qurtubi: Antara “Ajaran Islam” dan “Budaya Arab”

how to wear hijab for long face

Saya perhatikan dengan seksama sepertinya banyak kaum Muslim (juga non-Muslim) yang bingung membedakan antara ajaran Islam dan tradisi atau kebudayaan Arab. Padahal itu gampang sekali segampang mencari “warteg” (Warung Tegal) atau “wardang” (Warung Padang) di Jakarta, atau KFC/McD di Saudi. Tapi baiklah saya beri “clue” sedikit saja, selebihnya silakan Anda belajar sendiri dan membaca sendiri sebanyak-banyaknya buku-buku dan tulisan-tulisan berkualitas biar cakrawala dan wawasan kita semakin mengsamudra, tidak sempit seperti “lubang hidung.”

Begini, kalau “ajaran Islam” ya berarti eksklusif dipraktekkan umat Islam saja dong seperti salat wajib yang lima kali sehari itu, puasa wajib yang sebulan itu, haji yang wajib setahun sekali itu, tauhid yang meng-Esa-kan Tuhan itu, dlsb. Meskipun sebetulnya, secara substansial apa yang kemudian “ditahbiskan” sebagai “ajaran Islam” itu juga bukan “eksklusif Islam” karena semua itu berasal dari ajaran-ajaran umat agama sebelumnya, khususnya Yahudi dan Kristen tapi juga agama-agama suku Arab.

Ajaran-ajaran atau norma agama pra-Islam itu kemudian ada yang diserap apa adanya (misalnya pengharaman daging babi yang sudah lama diajarkan dalam Kitab Yahudi), tapi ada pula yang “dimodifikasi” (sembahyang, haji, puasa, dll, termasuk dalam kategori ini). Bahkan ajaran paling fundamenal dalam Islam, yaitu “tauhid” atau penegasan tentang ke-Esa-an Tuhan, juga bukan monopoli Islam saja. Ada banyak agama pra-Islam yang menerapkan sistem monoteisme ini, bukan hanya Yahudi dan Kristen saja tapi juga Zoroastrianisme, Mandaeisme, Sabianisme, dlsb.

Lalu, yang tradisi atau kebudayaan Arab seperti apa? Gampang, kalau apa yang oleh umat Islam klaim sebagai “ajaran, norma atau kebudayaan Islam” itu ternyata kok dipraktekkan oleh umat non-Muslim Arab berarti itu tradisi dan kebudayaan Arab. Contohnya hijab, jenggot, jubah, dlsb. Seperti yang sudah sering saya sampaikan, berjubah dan berjenggot juga dipraktekkan oleh masyarakat Arab non-Muslim. Demikian pula dengan tradisi berhijab yang juga dipraktekkan oleh Arab non-Muslimah. Demikian pula “Bahasa Arab” yang juga dipraktekkan oleh masyarakat Arab, apapun agama mereka.

[Baca- KH. Said Aqil Siradj: “Jika Agama Tak Boleh Campur Budaya, Shalat Jangan Pakai Pakaian”]

Singkatnya, hijab, jubah dan jenggot ini sudah menjadi “shared cultures” di antara masyarakat Arab, baik Muslim/Muslimah maupun bukan. Bahkan bukan hanya masyarakat Arab saja tetapi juga masyarakat dari etnis lain yang tinggal di kawasan Timur Tengah atau “Middle Eastern”. Tentu saja dalam perkembangannya, karena satu dan lain hal, tidak semua masyarakat Arab / Timur Tengah ini, baik Muslim maupun bukan, berjubah, berhijab, atau berjenggot. Bahwa dalam sejarahnya, ada tradisi dan kebudayaan Arab itu yang kemudian “diislamkan” (menjadi bagian dari norma Islam) memang iya. Memang dalam sejarah perkembangan agama-agama di dunia ini, ada banyak budaya yang diagamakan, adapula banyak norma-norma agama yang dibudayakan.

Umat Islam sah-sah saja mengatakan berjubah dan berjenggot itu dalam rangka “nyunah Nabi” sama sahnya dengan pengikut agama lain yang berjubah, berjenggot, dan berhijab yang juga mengklaim mengikuti sunah para pendahulu agama-agama mereka. Nabi Muhammad SAW kan “orang Arab” jadi ya wajar kalau beliau juga mempraktekkan kebudayaan Arab itu. Coba bayangkan kalau beliau itu orang Jawa, kira-kira pakaian apa yang akan beliau kenakan? Kira-kira busana macam apa yang akan beliau anjurkan untuk dikenakan kaum Muslimah? Selamat berefleksi dan berkontemplasi…

Leave a Reply