Rahasia Bait Suci: 10 Hukum Allah

Banyak orang Kristen saat ini yang mengabaikan 10 hukum Allah. Mereka katakan bahwa 10 hukum Allah itu telah dipalangkan di kayu salib. Di Amerika Serikat sendiri, 10 hukum Allah telah dikesampingkan seiring dengan dipinggirkannya “Tuhan” dalam semua akitivitas sekuler masyarakat. Akibatnya, dekadensi moralpun terjadi dimana-mana, penembakan-penembakan dan pembunuhan menjadi santapan berita setiap pagi. Sebenarnya, pengabaian terhadap 10 hukum Allah ini disebabkan oleh karena orang tidak mengerti hubungan antara 10 hukum dengan salib/anak domba Allah yang telah mati di kayu salib karena dosa itu sendiri. Mari kita lihat korelasinya.

Oleh karena dosa, manusia terpisahkan dari Allah. Manusia yang seharusnya hidup kekal, sekarang bukan saja harus mengalami banyak sekali penderitaan, namun mereka harus mati selama-lamanya. Yesus menentang akan hal itu, manusia yang sangat dikasihi-Nya oleh karena merupakan ciptaan-Nya sendiri, harus diselamatkan. Oleh karena itu Yesus kemudian memutuskan untuk datang ke dunia ini, Dia rela mati untuk menghapuskan akibat dari dosa, yaitu kematian kekal agar manusia bisa kembali mendapatkan kehidupan yang kekal. Sebelum Dia datang ke dunia dan mati di kayu salib, Yesus memerintahkan diadakannya upacara korban, dimulai sejak dari Adam dan Hawa hingga nanti kedatangan-Nya.

Upacara korban domba penghapus dosa yang diperintahkan-Nya itu dilakukan untuk melambangkan kematian-Nya kelak di kayu salib.  Bangsa Israel kemudian diperintahkan untuk membuat Kemah Suci sebagai tempat dimana upacara pengorbanan itu secara formal dilaksanakan. Dosa orang Israel akan dihapuskan bilamana mereka mengadakan korban bagi-Nya. Hewan yang mereka korbankan melambangkan Yesus yang akan mati di kayu salib.  Dengan menyembelih hewan, orang Israel akan memikirkan betapa kejinya dosa itu, sehingga tidak akan melakukannya lagi.

Dalam 1 Johanes 3:4 dikatakan ”Dosa adalah pelanggaran 10 hukum Allah”.  Roma 7:7 Yakub 2:11,12. Jadi bilamana orang Israel melanggar akan 10 hukum Allah, maka mereka harus membawa korban ke kemah suci, meletakkan tangan mereka diatas kepala hewan itu, lalu menyembelihnya. Sebelum disembelih, kepala hewan akan diarahkan kepada 10 hukum Allah yang disimpan dalam tabut perjanjian di tempat yang maha kusus, didalam kemah suci tersebut. Jadi inilah sebetulnya arti daripada upacara korban pada perjanjan lama.

Upacara korban dalam perjanjian lama merupakan awal dari rangkaian upacara dalam kemah suci di dunia yang harus dilakukan agar dosa-dosa mereka boleh dihapuskan. Dengan kata lain, semua upacara dalam kemah suci menunjuk kepada Yesus yang menjadi anak Domba sejati yang akan mati di kayu salib agar semua orang/bukan cuma orang Israel , bisa bebas dari akibat dosa yaitu kebinasaan kekal dan beroleh pengampunan sehingga boleh diselamatkan dan hidup kekal. Dosa disini adalah pelanggaran terhadap 10 hukum Allah yang tersimpan dalam tabut perjajian yang berada di tempa t yang maha kudus. Yesus mati di kayu salib oleh karena 10 hukum telah dilanggar oleh umat manusia. Oleh sebab itu Yohanes melihat ada tabut perjanjian dalam bait surgawi, dimana 10 hukum Allah disimpan (Ibrani 11:19).

Didalam kemah suci di dunia, ada 10 hukum Allah yang disimpan dalam tabut perjanjian dalam tempat yang maha kudus. Hal ini kita tau oleh karena Ibrani 8:5 yang mengatakan bahwa kemah suci di perjanjian lama adalah gambaran dan bayangan dari kemah sejati di surga dimana Yesus melayani sebagai Imam Besar, mengantarai umat-umat Allah, membentengi umat-umat Allah dengan kebenaran-Nya agar boleh menang dalam cobaan-cobaan setan dan tidak berdosa melanggar 10 hukum Allah dalam perjalanan Iman mereka.

Jelas sekali bahwa 10 hukum Allah tidak dipalangkan di kayu salib oleh karena tujuan salib adalah untuk menghapuskan resiko pelanggaran 10 hukum Allah yaitu maut yang kekal. Apakah orang Israel, ketika menyembelih hewan untuk mendapatkan pengampunan serta merta menghapuskan 10 hukum? Jelas sekali tidak sebab 10 hukum itu terus berada dalam tabut perjajian dalam kemah suci. Namun yang dipalangkan adalah hukum yang mengharuskan orang Israel mengorbankan domba oleh karena Anak Domba sejati telah mati di kayu salib. 10 Hukum Allah yang ditulis sendiri dengan jari tangan Allah tetap kekal dan tampak oleh Yohanes tempat dimana 10 hukum itu disimpan dalam tabut perjanjian di Kemah Suci sejati, dimana Yesus melayani sebagai Imam Besar di Sorga, yang dibuat oleh Allah sendiri.

10 hukum yang dilanggar menjadi alasan mengapa hewan harus dikorbankan oleh bangsa Israel. 10 hukum yang dilanggar oleh manusia yang menyebabkan Yesus harus mati di kayu salib. Hukum korbanlah yang dipalangkan oleh karena hukum ini menyangkut prosedur upacara pengorbanan domba yang merupakan lambang kematian Yesus. Bilamana Yesus sudah mati, otomatis hukum prosedurnya yang mengacu kepada pengorbanan Yesus pun gugur. Tidak perlu lagi membawa hewan untuk dikorbankan bilama kita berbuat dosa, cukup dengan berdoa kepada Yesus yang telah menjadi korban sejati!

Esensi dosa sebagai pelanggaran 10 hukum tentu tetap berlaku. Ini jelas terlihat pada wahyu yang diperoleh Yohanes (Ibrani 8:1,2), dimana Yesus masih melayani di kemah suci sejati sebagai Imam Besar di sorga, demi untuk memberikan pengampunan bagi umat-uma tAllah yang mau benar benar bertobat dan tidak mau lagi berbuat dosa atau melanggar 10 hukum Allah. Keberadaan 10 hukum Allah, yang merupakan acuan pelanggaran manusia, tetap disimpan dalam tabut perjanjian dalam kemah sejati di sorga, seperti yang telah dilihat oleh Yohanes (Ibrani 11:19). Inilah rahasia bait suci yang kita tunggu. Inilah pekabaran bait suci yang memperjelas, yang mengukuhkan, yang memisahkan pengertian yang benar dan yang salah, yang menerangi kebenaran dan menelanjangi kepalsuan.

Leave a Reply