“REFORMASI: MEMPERBAIKI HUBUNGAN YANG RUSAK”

Sabat Petang, 14 September
PENDAHULUAN

Hubungan horisontal dan vertikal. Kita sering mendengar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Disebut “makhluk sosial” oleh karena manusia tercipta dengan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan karena sebagai sesama manusia kita saling membutuhkan. Pada mulanya Allah telah menciptakan manusia itu sepasang, dua insan berbeda jenis, laki-laki dan perempuan, sebab “tidak baik manusia hidup sendirian” (Kej. 2:18, BIMK). Jadi, Allah sendiri yang membuat manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan untuk saling bergaul dan menjalin hubungan-hubungan antar pribadi secara horisontal.

Adalah John Donne (1572-1631), seorang pujangga Inggris, yang menulis: “No man is an island, entire of itself; every man is a piece of the continent, a part of the main…” (Meditation XVII, Devotion upon Emergent Occasions; 1624). Terjemahan bebasnya: “Tak ada manusia bagai sebuah pulau, sepenuhnya sendiri; tiap manusia adalah sepenggal dari benua, satu bagian dari induk.” Frase pertama itu, “No man is an island,” kemudian sering dikutip orang dan menjadi kian populer sebagai sebuah ungkapan tentang kodrat manusia yang tidak dapat hidup sendiri layaknya sebuah pulau yang mandiri. Bagi kita yang percaya pada teori penciptaan, setiap pulau pada mulanya adalah bagian dari daratan luas yang menyatu, dan tidak ada pulau yang terpisah-pisah. Pendek kata, demikian maksud dari sang pujangga, tidak ada manusia yang hidup dan mati bagi dirinya sendiri.

Sebagai manusia kita tidak hanya menjalin hubungan horisontal dengan sesama kita, tetapi kita juga menjalin hubungan vertikal dengan Tuhan. Sementara hubungan antar sesama manusia didasarkan atas prinsip saling membutuhkan, hubungan kita dengan Tuhan didasarkan pada fakta bahwa kita memerlukan Tuhan. Manusia memerlukan Allah oleh karena Dialah “yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi…Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis. 17:23-24).

Dalam hal ini, Roh Kudus bekerja di dalam hati manusia untuk mempengaruhi mereka di dalam membangun dan memelihara hubungan-hubungan horisontal dan vertikal tersebut. “Gerakan-gerakan Roh Kudus mencakup membawa orang-orang lebih dekat kepada Allah dan kepada satu sama lain. Termasuk juga meruntuhkan penghalang-penghalang dalam hubungan kita dengan Allah dan meruntuhkan penghalang-penghalang hubungan kita dengan satu sama lain. Pendeknya, pertunjukan terbesar dari kuasa injil bukanlah apa yang gereja katakan melainkan bagaimana gereja itu hidup” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Agama didirikan atas kasih kepada Allah, yang juga menuntun kepada mengasihi satu sama lain. Itu penuh dengan rasa bersyukur, kerendahan hati, panjang sabar. Itu adalah pengorbanan diri, kesabaran, kemurahan hati, dan pengampunan. Kasih itu menguduskan seluruh kehidupan dan memperluas pengaruhnya meliputi orang-orang lain. Mereka yang mengasihi Allah tidak dapat menyimpan kebencian atau kedengkian. Bilamana prinsip surgawi dari kasih yang abadi itu memenuhi hati, hal itu akan meluber sampai kepada orang-orang lain, bukan saja karena kebaikan diterima oleh mereka tetapi karena kasih adalah prinsip perbuatan dan mengubah tabiat, menguasai dorongan-dorongan hati, mengendalikan hawa nafsu, menaklukkan perseteruan, dan meningkatkan kasih sayang” (Ellen G. White, The Youth’s Instructor, 23 Desember 1897).

*(Judul asli: “Reformation: Healing Broken Relationship”)

Minggu, 15 September
SIKAP KEDEWASAAN (Dari Keretakan Kepada Persahabatan)

Pengalaman rasul-rasul. Pertikaian dapat terjadi kapan saja di antara siapa saja dan oleh penyebab apa saja. Tidak terkecuali di kalangan rasul-rasul dalam Alkitab, yaitu para penganjur injil di abad permulaan. Setelah beberapa waktu tinggal di Antiokhia, Paulus teringat kepada jemat-jemaat di kota-kota lain di mana dia dan Barnabas pernah menginjil, lalu mengajak koleganya itu untuk melawat mereka. “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka” (Kis. 15:36). Ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki hati seorang gembala yang peduli pada kesejahteraan rohani domba-dombanya. Barnabas menyambut ajakan tersebut dan ingin mengajak Yohanes Markus (ay. 37), tetapi ide ini ditentang keras oleh Paulus yang kecewa terhadap anak muda itu karena telah meninggalkan rombongan sewaktu mereka berada di Pamfilia dan kembali ke Yerusalem (Kis. 13:13).

Karena Barnabas bersikeras untuk mengajak Yohanes Markus sementara Paulus bersikukuh menentangnya, maka di antara kedua rasul itu terjadi sebuah “perselisihan yang tajam” (Kis. 15:39). Akhirnya, kedua pihak menempuh jalan keluar dengan sikap “sepakat untuk tidak sepakat.” Rombongan perlawatan terpecah dua, dengan Paulus yang ditemani Silas berangkat sendiri dan Barnabas yang ditemani Yohanes Markus mengambil jalan lain. Sebagian komentator Alkitab berpendapat bahwa ketegangan kedua tokoh tersebut sedikit-banyak didorong oleh kepribadian masing-masing yang berbeda. Paulus yang keras langsung mengambil kesimpulan bahwa Yohanes Markus adalah seorang yang tidak dapat diandalkan, sedangkan Barnabas yang lebih perasa ingin memberi kesempatan kedua bagi anak muda yang adalah keponakannya itu (Kol. 4:10). Tindakan Barnabas yang bijaksana itu membuahkan hasil, Yohanes Markus ternyata adalah penginjil yang dapat diandalkan. Belakangan Paulus sendiri memberi dukungan kepadanya dengan menyebut namanya dalam surat-suratnya (2Tim. 4:11; Filemon 24; Kol. 4:10). Kita tidak tahu apakah Yohanes Markus atau Paulus yang berubah, atau kedua-duanya telah berubah.

“Sekalipun Allah menggunakan orang-orang ini, persoalan di antara mereka perlu pemecahan. Sang rasul, yang mengkhotbahkan kasih karunia, perlu mengulurkan kasih karunia itu kepada seorang penginjil muda yang telah mengecewakan dirinya. Rasul dari pengampunan perlu mengampuni. Yohanes Markus telah bertumbuh dalam pendidikan yang menguatkan dari Barnabas, dan pada akhirnya hati Paulus tampaknya terjamah oleh perubahan-perubahan itu” [alinea ketiga].

Belajar dari pengalaman. Sementara pertikaian yang tajam antara Paulus dan Barnabas itu sangat disayangkan, tidak disangsikan bahwa masing-masing telah bersikap dan bertindak atas suatu keyakinan yang murni. Mungkin Paulus terlalu cepat memvonis, sementara Barnabas adalah seorang pemimpin yang cukup jeli melihat potensi dalam diri Yohanes Markus. Tetapi apa yang kita lihat di sini adalah ketegasan bersikap dari para pemimpin untuk membela pendirian masing-masing, dan hal itu telah memberi pengaruh positif kepada Yohanes Markus sebagai generasi penerus. Di satu pihak ketegasan penolakan Paulus terhadap dirinya menjadi pemicu untuk membuktikan bahwa dia bisa berubah, di pihak lain kesempatan kedua yang Barnabas berikan menjadi pendorong untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Para pemimpin harus tegas dan tulus, sedangkan para pekerja harus mawas diri (instrospeksi) dan berpikiran dewasa.

Dari perspektif kepemimpinan kita juga bisa belajar dari pengalaman ini, betapa perlunya untuk saling mengisi di antara para pemimpin pekerjaan Tuhan. Bayangkanlah kalau semua pemimpin keras seperti Paulus dan pembantu-pembantunya hanya ikut-ikutan dalam sikap “angkat telor” supaya disukai bos, jemaat akan kehilangan pelayanan seorang pemuda yang potensial seperti Yohanes Markus. Kesuksesan Paulus antara lain adalah karena dia dibantu dan didukung oleh rekan-rekan sekerja yang berkepala dingin dan bijaksana seperti Barnabas yang menyadari bahwa kaderisasi adalah mutlak. Perbedaan pendapat dalam pekerjaan Tuhan adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang dapat terjadi, namun kedewasaan berpikir dapat melahirkan jalan keluar yang tetap menghormati pendirian masing-masing. Selain itu, hal yang penting juga adalah sikap lapang dada yang ditunjukkan oleh Yohanes Markus yang tidak ingin mengail di air keruh, karena tujuan utamanya adalah menjadi penginjil bagi Tuhan.

“Meskipun rincian perdamaian Paulus dengan Yohanes Markus mungkin kurang lengkap, catatan alkitabiah itu jelas. Yohanes Markus menjadi salah seorang teman sang rasul yang terpercaya…Pelayanan Paulus telah diperkaya oleh penginjil muda ini yang jelas-jelas sudah dia ampuni. Penghalang di antara mereka diruntuhkan dan mereka sanggup bekerjasama dalam pekerjaan injil” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Yohanes Markus pernah ditolak oleh Paulus sebagai tidak layak menemani dia oleh karena ketika bantuannya dibutuhkan dia telah meninggalkan sang rasul dan pulang ke rumah. Dia sudah melihat bahwa, sebagai rekan Paulus, kehidupannya harus terus-menerus bekerja keras, bergairah, dan menyangkal diri; dan dia menginginkan jalan yang lebih ringan. Hal ini membuat sang rasul merasa bahwa dia tidak bisa dipercaya, dan keputusan itu menyebabkan perselisihan tidak menyenangkan antara Paulus dan Barnabas. Sejak itu Yohanes Markus belajar suatu pelajaran yang kita semua harus pelajari, bahwa tuntutan Allah berada di atas segala yang lain” (Ellen G. White, Sketches From the Life of Paul, hlm. 282).

Apa yang kita pelajari tentang penyelesaian perselisihan Paulus dan Barnabas?
1. Perselisihan dalam pekerjaan Tuhan adalah hal yang tak terelakkan, karena faktor manusiawi. Pada tingkat jemaat perselisihan bisa terjadi sebagai “limbah” dari dinamika, misalnya pemilihan pengurus jemaat, kegiatan KKR, pembangunan gereja, dan lain-lain. Satu-satunya penyelesaian atas perselisihan adalah rekonsiliasi.
2. Pada tingkat kepemimpinan perselisihan dapat terjadi karena soal kebijakan dan sikap. Selama seorang pemimpin berpijak pada kebenaran dan ketulusan hati, ada jalan keluar yang terhormat. Perselihan jadi memalukan kalau penyebabnya adalah kecurangan (di pihak pemimpin) dan ambisi (di pihak yang dipimpin).
3. Yohanes Markus adalah lambang dari pekerja dan generasi muda yang sedang belajar untuk menjadi pelayan Tuhan yang handal. Dia bisa saja tersinggung dengan sikap Paulus yang menolak dirinya dan berpotensi untuk menjadi provokator yang memperuncing pertikaian Paulus dan Barnabas. Tapi Yohanes Markus bersikap dewasa.

Senin, 16 September
PEMULIHAN HUBUNGAN (Dari Budak Menjadi Anak)

Pentingnya suatu hubungan. Sifat kebapakan Paulus sangat berpengaruh dalam diri Onesimus, budak yang melarikan diri dari majikannya. Pada zaman dulu sangsi bagi seorang budak yang melarikan diri adalah hukuman mati, dengan cara apapun yang dikehendaki oleh sang majikan. Beruntung bagi Onesimus, majikannya yang bernama Filemon sudah bertobat menjadi seorang Kristen berkat penginjilan Paulus. Bahkan rumahnya sering dijadikan sebagai tempat perbaktian, dan fakta bahwa sang rasul menyebut dirinya sebagai “teman sekerja kami” (Fil. 1) menunjukkan bahwa Filemon juga rajin menginjil.

Tidak ada catatan mengapa Onesimus melarikan diri dari Filemon. Mungkin dulu majikannya itu terlalu keras memperlakukannya sehingga dia tidak tahan. Setelah bertobat dan menjadi orang Kristen, Filemon berubah menjadi seorang yang lebih lemah lembut. Sang rasul ingin hubungan mereka pulih. Dia menyurati Filemon dengan pesan agar mau menerima kembali Onesimus yang juga sudah menjadi seorang Kristen. “Hubungan itu penting bagi Paulus. Sang rasul tahu bahwa hubungan yang putus mengganggu pertumbuhan kerohanian. Filemon adalah seorang pemimpin jemaat di Kolose. Kalau dia menyimpan kekesalan terhadap Onesimus, hal itu akan mewarnai kesaksian Kristianinya” [aline akedua].

Prinsip dari sebuah hubungan. Paulus telah menjalin hubungan pribadi yang baik dengan Filemon yang kaya, dan sekarang sang rasul juga membina hubungan yang baik dengan Onesimus yang miskin. Prinsip pertama yang kita lihat diterapkan oleh Paulus dalam kedua hubungan itu ialah prinsip kesetaraan sebagai sesama anak-anak Tuhan. Hubungan Paulus dengan Filemon dan dengan Onesimus adalah gambaran dari hubungan antara pendeta sebagai pemimpin dan gembala jemaat dengan para anggota jemaat. Dapatkah seorang pemimpin gereja pada dewasa ini membina hubungan dalam prinsip kesetaraan ketika dia berhubungan dengan para anggota di jemaat, tanpa pandang buluh, apakah dia orang kaya dan terhormat atau dia orang miskin dan bersahaja?

Prinsip kedua dari sebuah hubungan, sebagaimana tercermin dalam surat Paulus, adalahprinsip saling menghargai. Tulis sang rasul menyangkut Onesimus: “Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela” (ay. 13-14). Sebenarnya Paulus tidak bermaksud menahan Onesimus untuk melayani dirinya, tetapi dalam kata-kata tersebut kita menangkap pesan terselubung bahwa kalau Filemon tidak mau menerima kembali Onesimus, mungkin karena masih kesal terhadapnya, Paulus ingin budak itu dikirim kembali kepadanya. Sebagai seorang intelektual Paulus menggunakan pendekatan psikologis untuk menunjukkan rasa hormat kepada keluarga Filemon.

Sebelumnya, Paulus telah memuji Filemon, “karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus” (ay. 5). Bagian kalimat “aku mendengar” di sini merupakan sebuah ungkapan pujian secara halus dengan meyakinkan Filemon bahwa kasih dan imannya sudah menjadi buah bibir. Secara psikologis, seorang yang merasa tersanjung lebih mudah untuk “dipancing” kebaikannya. Faktanya, Onesimus telah diterima kembali dengan baik dan dipercayakan untuk aktif dalam pelayanan injil (Kol. 4:9).

Pendekatan itu penting. Perhatikan, salam pembukaan dalam surat Paulus kepada Filemon agak berbeda dengan salam pembukaan yang lazim disampaikan sang rasul ketika dia menyurat kepada jemaat-jemaat maupun kepada pribadi-pribadi sebagaimana terdapat dalam PB. Dari sejumlah 13 surat yang ditulisnya, 9 di antaranya dimulai dengan penyebutan dirinya sebagai “rasul.” Namun dalam surat kepada Filemon ini Paulus menyebut dirinya sebagai seorang “teman” (ay. 1). Dalam surat itu sang rasul juga menyapa Apfia, istri Filemon, sebagai “saudara perempuan” dalam pengertian sebagai sesama orang Kristen. Terhadap Arkhipus, mungkin seorang kerabat dekat keluarga Filemon, sang rasul menyapanya sebagai “teman seperjuangan” (ay. 2). Sesuai tradisi pada zaman itu, Apfia sebagai nyonya rumah adalah penanggungjawab dalam urusan rumahtangga yang berperan penting dalam mengatur tugas-tugas para budak.

“Paulus sudah mengetahui bahwa budak-budak yang melarikan diri harapan masa depannya tipis. Mereka dapat tertangkap kapan saja. Mereka sudah ditakdirkan untuk hidup melarat dan miskin. Tapi sekarang, sebagai saudara di dalam Kristus dan pekerja sukarela dari Filemon, Onesimus bisa memiliki masa depan yang luar biasa…Pemulihan suatu hubungan yang rusak dapat menciptakan suatu perbedaan dramatik dalam kehidupannya” [alinea terakhir: empat kalimat pertama dan kalimat keenam].

Apa yang kita pelajari tentang pentingnya pemulihan hubungan?
1. Berdasarkan pengalaman, faktor kedekatan hubungan berperan penting dalam pekerjaan Tuhan dan penginjilan. Pelaksanaan KKR, pembangunan gereja, kegiatan pelayanan masyarakat, dan sebagainya dapat berhasil jika didahului dengan pembinaan hubungan yang baik dengan masyarakat.
2. Hubungan yang baik di antara para pekerja injil dan pelayan Tuhan, sebagai pribadi maupun kelompok, juga memainkan peran penting dalam mencapai sukses. Hubungan yang baik harus didasarkan pada prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan tidak memandang muka. Hubungan yang sehat itu tulus dan jujur.
3. Suatu hubungan bisa saja retak karena berbagai sebab, tetapi dengan pendekatan yang bijaksana selalu ada jalan untuk pemulihan hubungan. Orang Kristen sejati harus dapat memainkan peran sebagai pendamai, bukan sebaliknya. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9).

Selasa, 17 September
SEMANGAT UNTUK SALING MELENGKAPI (Dari Pembanding Menjadi Pelengkap)

Untuk kebersamaan, bukan persaingan. Jemaat Korintus di zaman rasul-rasul, sebagai sebuah jemaat besar di lingkungan kota besar, menghadapi persoalan-persoalan kerohanian yang serius. Masalah perilaku seksual, pertikaian antar pribadi dan kelompok di dalam jemaat, bahkan menyombongkan karunia rohani. Sebagian orang menyebut dirinya pengikut Paulus dan lainnya pengikut Apolos, sehingga Paulus perlu menegaskan bahwa dirinya hanya menanam dan Apolos yang menyiram, tetapi yang menumbuhkan benih Kekristenan itu adalah Allah sendiri (1Kor. 3:6-7). Paulus juga menasihati mereka agar tidak mempersoalkan perbedaan-perbedaan karunia rohani di jemaat, oleh sebab “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama…tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1Kor. 12:7, 11).

Selain itu, tampaknya ada pula persaingan di dalam jemaat menyangkut keberhasilan penginjilan. Banyak dari mereka yang memuji diri sendiri atas keberhasilan dalam penginjilan dengan membandingkan apa yang dicapai oleh orang lain. “Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!” kata Paulus (2Kor. 10:12). Kita senang melihat bahwa belakangan ini begitu banyak kelompok maupun perorangan yang mengadakan KKR di tanah air. Puji Tuhan! Sebagai anggota jemaat yang tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan KKR seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara yang lain itu, kita patut berbangga dengan usaha dan hasil-hasil yang mereka capai. Tetapi biarlah orang-orang lain yang membanggakan pekerjaan mereka itu, jangan mereka sendiri yang membanggakan penginjilan yang dlakukan oleh diri sendiri!

“Allah memanggil kita untuk bekerjasama, bukan berkompetisi. Masing-masing orang percaya dikaruniakan oleh Allah untuk bekerjasama dalam melayani tubuh Kristus dan melayani masyarakat (1Kor. 12:11). Tidak ada karunia yang lebih besar atau lebih kecil. Semua itu perlu dalam jemaat Kristus (1Kor. 12:18-23). Karunia-karunia kita yang Allah berikan itu bukan untuk pameran yang cinta diri. Karunia-karunia itu diberikan oleh Roh Kudus bagi pelayanan” [alinea ketiga].

Jangan suka membandingkan. Salah satu sifat manusia yang lumrah adalah suka membanding-bandingkan, dalam hal apa saja. Dorongan untuk membanding-bandingkan itu berasal dari naluri persaingan yang mungkin bersifat bawaan, atau juga akibat pengalaman masa kecil ketika kita “dipanas-panasi” oleh lingkungan (orangtua, keluarga, teman, atau guru) dengan maksud supaya kita bisa berprestasi lebih baik lagi dan tidak kalah dari orang lain. Sementara cara mendorong seperti itu baik untuk memacu semangat, terkadang “limbah” dari dorongan semangat yang berlebihan itu bisa terbawa sampai dewasa. Apalagi kalau lingkungan di mana kita berinteraksi sehari-hari juga sarat dengan suasana persaingan sehingga memaksa kita untuk menjadi lebih unggul, atau sedikitnya bisa memiliki hal-hal yang serba melebihi daripada orang lain.

“Semua perbandingan dengan orang lain itu tidak bijasakana, sebab perbandingan-perbandingan itu akan membuat kita merasa kecewa atau sombong. Kalau kita mengaggap orang lain jauh ‘lebih unggul’ dari kita, kita akan merasa putus asa bila kita membandingkan diri kita dengan mereka. Kalau kita mengira pekerjaan kita bagi Kristus lebih efektif daripada pekerjaan orang lain, kita akan merasa bangga. Kedua sikap ini melumpuhkan efektivitas kita bagi Kristus. Sementara kita bekerja di dalam lingkup pengaruh yang Kristus telah berikan kepada kita, kita akan mendapatkan sukacita dan kepuasan dalam kesaksian kita untuk Kristus. Pekerjaan-pekerjaan kita akan melengkapi usaha-usaha dari para anggota yang lain, dan gereja Kristus akan membuat kemajuan besar bagi kerajaan itu” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Karunia-karunia yang berbeda diberikan kepada orang-orang yang berbeda, supaya para pekerja bisa merasakan kebutuhan mereka akan satu sama lain. Allah mengaruniakan karunia-karunia ini dan semuanya digunakan dalam pelayanan-Nya, bukan untuk mengagungkan pemiliknya, bukan untuk meninggikan manusia, melainkan untuk meninggikan Penebus dunia. Karunia-karunia itu harus digunakan demi kebaikan seluruh umat manusia oleh menyatakan kebenaran, bukan untuk bersaksi bagi kepalsuan” (Ellen G. White, Signs of the Times, 15 Maret 1910).

Apa yang kita pelajari tentang karunia-karunia rohani untuk saling melengkapi?
1. Kita hidup di tengah dunia yang sarat dengan persaingan, dan tanpa disadari roh persaingan itu terbawa masuk ke dalam lingkungan gereja dan pekerjaan Tuhan. Mentalitas persaingan itu membuat kita tergoda, bahkan terdorong, untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
2. Kompetisi adalah sebuah kata yang tidak sepantasnya terdapat dalam kamus Kristiani. Sebaik-baiknya pun kita hendak menerangkan makna dari kata “kompetisi” akan selalu disimpulkan dalam sebuah kata lain: bersaing. Orang Kristen tidak bersaing dengan sesamanya, namun kita berlomba dalam hal iman (Ibr. 12:1-2).
3. Gereja sebagai “tubuh Kristus” memiliki berbagai anggota tubuh yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, bukan saling berkompetisi. Allah memberikan karunia rohani kepada jemaat “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:12).

Rabu, 18 September
KEWAJIBAN SESAMA UMAT TUHAN (Dari Pergesekan Kepada Pengampunan)

Meminta maaf dan mengampuni. Sebagian orang percaya bahwa pergesekan adalah konsekuensi logis dari kedekatan. Dalam pengertian tertentu pandangan ini ada benarnya. Dua orang yang berada berjauhan tidak akan saling bersentuhan, apalagi bergesekan. Tetapi ketika dua orang itu berada dalam suatu ruangan yang dipenuhi oleh banyak orang yang terus bergerak, peluang untuk saling bergesekan menjadi sangat besar. Gereja adalah tempat berhimpun banyak orang yang datang ke salib Kristus, sangat mungkin untuk saling bergesekan. Apalagi di sebuah gereja yang sarat dengan aktivitas, pergesekan adalah sebuah keniscayaan. Mestinya setiap orang menyadari situasi ini supaya lebih toleran dan berhati lapang. Sedangkan di tengah kerumunan manusia dalam kemeriahan menonton konser musik orang bisa saling menginjak sembari tersenyum, mengapa di dalam jemaat tempat kerumunan orang-orang yang menikmati suasana eforia penebusan dan keselamatan, kita menjadi begitu sangar ketika sedikit saja tersentuh?

Normalnya, di dalam gereja atau dalam pekerjaan Tuhan, tidak banyak orang yang dengan sengaja mencari keributan dengan orang lain. Tetapi yang lebih banyak adalah orang-orang yang sangat sensitif dan terlalu mudah tersinggung. Keadaan bertambah runyam kalau ada provokator-provokator atau orang-orang yang gemar membuat sensasi. Tentu kita berharap bahwa orang-orang yang telah melukai perasaan orang lain–sengaja ataupun tidak, melalui perkataan ataupun sikap dan tindakan–agar berhati besar untuk meminta maaf; kita juga mendorong supaya orang-orang yang merasa telah disakiti hatinya untuk membuka pintu maaf seluas-luasnya. Dalam banyak kasus pergesekan terjadi hanya karena salah pengertian atau salah informasi, bukan kesengajaan untuk menyakiti hati. Sikap suka meminta maaf dan suka mengampuni adalah ciri tabiat serta nilai moral Kekristenan sejati.

Mengampuni seperti kita diampuni. Alasan utama mengapa orang Kristen harus mengampuni orang lain oleh karena Allah telah mengampuni kita dari segala dosa. Ketika anda mengampuni orang lain yang bersalah terhadap diri anda tidak berarti anda telah mengampuni dosa orang itu, sekiranya kesalahan tersebut begitu besarnya sehingga dapat dikategorikan sebagai dosa. Kesalahan di antara manusia adalah urusan manusia, pelanggaran terhadap hukum Allah adalah urusan si pelaku dengan Tuhan. Rasul Paulus berkata, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rm. 12:17-18).

“Kita dapat diperdamaikan dengan seseorang yang telah bersalah kepada kita oleh karena Kristus memperdamaikan kita kepada Diri-Nya ketika kita bersalah kepada-Nya. Kita dapat mengampuni oleh karena kita sudah diampuni. Kita dapat mengasihi oleh karena kita sudah dikasihi. Pengampunan adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk mengampuni tanpa peduli akan perbuatan dan sikap orang lain. Inilah roh Yesus yang sesungguhnya” [alinea terakhir: enam kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban begitu besar terhadap Kristus menempatkan kita di bawah kewajiban paling suci terhadap mereka untuk siapa Dia mati untuk menebus. Kita harus menunjukkan simpati yang sama terhadap mereka, belas kasihan yang lembut dan kasih yang tidak mementingkan diri yang sama sebagaimana Kristus telah tunjukkan terhadap kita…Sementara kita datang kepada Allah, inilah syarat yang menyambut kita di pintu gerbang, yaitu dengan menerima kemurahan dari Dia kita menyerahkan diri untuk menyatakan rahmat-Nya kepada orang lain” (Ellen G. White, God’s Amazing Grace, hlm. 328).

Apa yang kita pelajari tentang meminta maaf dan memaafkan?
1. Menjadi orang Kristen berarti menjadi orang yang penyabar, sebab Yesus mengajarkan demikian. Bagaimana hendak mempraktikkan perintah Yesus “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:39), kalau baru bersentuhan saja anda langsung pasang kuda-kuda?
2. Setiap orang Kristen berkewajiban untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan. Ini merupakan dua sisi dari satu mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan. Memintaa maaf dan memaafkan sama-sama adalah perintah Tuhan kepada umat-Nya (Yak. 5:16; Kol. 3:13).
2. Panjang sabar dan suka mengampuni adalah ciri-ciri tabiat orang Kristen yang sejati, sebagaimana Yesus Kristus adalah panjang sabar dan suka mengampuni. Sebagai orang Kristen kita harus lebih sabar terhadap sesama (Ef. 4:2; Pkh. 7:9).

Kamis, 19 September
MENYELESAIKAN PERSELISIHAN SECARA KRISTIANI (Dari Dendam Menjadi Berbaikan)

Nasihat tiga langkah Kristus. Nasihat Yesus tentang cara penyelesaian sengketa antara dua orang seperti tercatat dalam Matius 18:15-17 sering disebut sebagai “Rancangan Penyelesaian Konflik Tiga Langkah” (3-Step Conflict Resolution Plan) yang merupakan prosedur standar di kalangan umat Kristiani. Setidaknya, teorinya begitu. Yesus berkata, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat. 18:15). Kata asli yang diterjemahkan sebagai “berbuat dosa” dalam ayat ini adalah ἁμαρτάνω, hamartanō, sebuah kata kerja yang artinya “berbuat salah” atau “melanggar” terhadap suatu peraturan, dan dalam pengertian tertentu termasuk melanggar hukum Allah. Tentu saja dalam konteks ini yang dimaksudkan ialah “mengganggu kenyamanan” orang lain, termasuk menyakiti perasaan. Bila hal itu terjadi orang yang merasa disakiti dan tidak menerima perbuatan itu harus menempuh langkah pertama, yaitu menegur secara empat mata. Hal ini terutama menyangkut perbuatan seseorang yang kita ketahui telah melanggar hukum Allah.

Kalau langkah pertama itu tidak berhasil menyelesaikan persoalan sebab si pelaku tetap bersikeras, maka langkah kedua yang dapat ditempuh adalah membawa “seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (ay. 16). Tampaknya langkah kedua dari Yesus ini didasarkan pada Hukum Taurat sebagaimana tertulis dalam Ulangan 19:15 tentang perlunya beberapa saksi atas sebuah perkara. Namun, meskipun anda yang membawa saksi-saksi bukan berarti mereka itu berpihak kepada anda, melainkan harus netral dan tidak terkesan seperti mengeroyok orang yang bersalah. Kesaksian mereka lebih untuk menyaksikan bahwa di pihak anda ada itikad untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan, bukan kesaksian sebagai bagian dari pembuktian atas materi perkara. Sampai pada tahap ini peluang untuk melokalisasi pertengkaran masih dapat terpelihara. Apabila upaya perdamaian ini tidak berhasil, “sampaikanlah soalnya kepada jemaat” (ay. 17).

“Kerinduan Yesus dalam memberi nasihat dalam Matius 18 ialah agar konflik itu terbatas dalam kelompok yang sekecil mungkin. Maksud-Nya ialah supaya dua orang yang terlibat itu menyelesaikan persoalan mereka sendiri…Sementara jumlah orang-orang yang terlibat dalam konflik antara dua pribadi itu meningkat, pertikaian yang lebih besar terjadi. Orang-orang akan memihak, dan garis pertempuran pun ditentukan. Tetapi bilamana orang-orang Kristen berusaha untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan mereka secara empat mata, dan di dalam semangat kasih Kristiani dan saling pengertian, suasana perdamaian pun tercipta” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat keempat hingga keenam].

Sebagai jalan terakhir. Pelibatan jemaat untuk penyelesaian suatu konflik perorangan harus menjadi jalan terakhir setelah upaya-upaya yang tulus untuk perdamaian menemui jalan buntu. Alkitab tidak menyarankan penyelesaian konflik di kalangan anggota jemaat diselesaikan pada ranah hukum duniawi. Hal ini pernah terjadi di jemaat Korintus, sehingga rasul Paulus menyurati mereka dengan kata-kata yang keras: “Sungguh memalukan! Tentu di antaramu ada seseorang yang cukup bijaksana untuk menyelesaikan perselisihan antara saudara-saudara yang sama-sama Kristen! Tetapi sebaliknya seorang Kristen pergi kepada orang bukan Kristen untuk mengadukan perkaranya terhadap saudaranya yang Kristen! Jangankan pergi berperkara pada orang bukan Kristen; adanya perselisihan-perselisihan di antaramu pun sudah merupakan suatu kekalahan bagimu. Lebih baik kalian diperlakukan tidak adil, atau dirugikan!” (1Kor. 6:5-7, BIMK).

“Ada kalanya semua usaha untuk menyelesaikan persoalan tidak berhasil. Dalam hal ini Yesus menyuruh kita untuk membawa masalahnya di hadapan jemaat…Tempat yang pantas untuk membawa persoalan, kalau dua langkah pertama tidak membantu mendamaikan kedua pihak, adalah majelis jemaat. Sekali lagi, maksud Kristus adalah perdamaian. Bukan untuk mempersalahkan salah satu pihak dan membebaskan pihak yang lain” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Sementara orang yang bersalah menerima teguran yang disampaikan dalam kasih Kristus, dan mengakui kesalahannya, memohon pengampunan dari Allah dan dari saudaranya, cahaya surga memenuhi hatinya. Perselisihan diakhiri; persahabatan dan kepercayaan dipulihkan. Minyak kasih menghilangkan rasa sakit yang diakibatkan oleh yang bersalah; Roh Allah mempertautkan hati dengan hati; dan ada lagu di surga untuk persatuan yang dihasilkan” (Ellen G. White, Gospel Workers, hlm. 500).

Apa yang kita pelajari tentang penyelesaian perselisihan secara Kristiani?
1. Pertengkaran dan perselisihan dapat terjadi di antara umat Tuhan, tetapi untuk itu Kristus sudah menyediakan langkah-langkah penyelesaian yang harus ditempuh. Penyelesaian secara Kristiani harus tetap menjaga martabat orang yang disakiti maupun orang yang bersalah.
2. Berbuat kesalahan itu manusiawi, dalam arti bahwa sebagai manusia tidak ada yang luput dari kesalahan. Kali ini seseorang berbuat salah, kali berikut orang lain yang berbuat salah. Sementara kesalahan tidak boleh dibiarkan, orang yang bersalah juga harus dikasihani.
3. Mengakui kesalahan adalah tindakan terhormat, bukan pertanda kelemahan. Bahkan, orang yang berani mengaku bersalah adalah orang yang rasa percaya dirinya kuat. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13).

Jumat, 20 September
PENUTUP

Jauhi persaingan. Hidup ini adalah sebuah perjuangan, jika anda tidak berjuang anda tidak akan bisa berhasil. Akan tetapi banyak orang terlanjur percaya bahwa perjuangan hidup itu melibatkan persaingan, kalau anda tidak mampu bersaing maka anda takkan berhasil. Persaingan hanya menyediakan dua pilihan: menang atau kalah. Seseorang yang terbiasa berpikir dalam prinsip menang dan kalah biasanya cenderung menilai segala sesuatu juga dari perspektif menang atau kalah.

Sebagai orang Kristen kita juga menerapkan prinsip menang atau kalah, namun bukan untuk menang atas orang lain tetapi dalam mengalahkan diri sendiri. Persaingan hidup orang Kristen adalah antara manusia jasmaniah dengan manusia rohaniah kita sendiri, antara keinginan daging dengan keinginan roh. Dalam hal persaingan dengan orang lain kita memilih untuk bersandar pada Kristus sebagai tempat perlindungan.

“Kalau kita berdiri pada hari besar Tuhan dengan Kristus sebagai tempat perlindungan kita, menara kita yang tinggi, kita harus menyingkirkan segala kedengkian, semua perselisihan demi keunggulan. Kita harus sama sekali membinasakan akar dari hal-hal yang tidak suci ini, supaya hal-hal itu tidak bertumbuh lagi dalam kehidupan” [alinea kedua: dua kalimat pertama].

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:31-32).

Leave a Reply