“SABAT, HARI PERAYAAN PENCIPTAAN”

by Loddy Lintong

Sabat Petang, 9 Maret
PENDAHULUAN

Penciptaan diperingati. Sebagaimana telah kita pelajari terdahulu, dan yang ditekankan berulang-ulang, pemeliharaan Sabat hari ketujuh bukanlah sebuah perintah yang dikhususkan untuk orang Yahudi saja. Memang, perintah tentang perhentian dan pengudusan Sabat hari ketujuh juga termasuk dalam hukum upacara agama yang bersifat eksklusif diturunkan Allah kepada orang Israel melalui nabi Musa di bukit Sinai. Tetapi itu lebih sebagai penegasan kembali atas pentingnya pemeliharaan Sabat hari ketujuh dalam pekan, dan tidak berarti bahwa perintah itu hanya untuk mereka saja.

Selain dalam hukum upacara keagamaan yang khas itu, hukum Sabat juga termasuk di dalam Sepuluh Perintah Allah yang bersifat universil, untuk semua orang, oleh sebab “hari Sabat diadakan untuk manusia…” (Mrk. 2:27). Allah berhenti, memberkati, dan menguduskan hari Sabat, yaitu hari ketujuh dalam minggu penciptaan, karena Ia telah menyelesaikan pekerjaan penciptaan itu (Kej. 2:2-3). Dengan demikian, hari Sabat adalah sebagai hari peringatan penciptaan.

“Kejadian 2 menyanggah anggapan umum bahwa hari ketujuh adalah ‘Sabat orang Yahudi.’ Mengapa? Karena Allah ‘memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya’ sejak di Eden, sebelum Kejatuhan dan tentu saja sebelum ada orang Yahudi. Tambahan lagi, hari Sabat adalah sebuah peringatan bagi penciptaan seluruh umat manusia (bukan hanya orang Yahudi), dan dengan demikian semua umat manusia seharusnya menikmati berkat-berkat hari Sabat” [alinea kedua dan ketiga].

Pena inspirasi menulis: “Sabat tidak dimaksudkan untuk menjadi waktu kemalasan yang sia-sia. Hukum melarang pekerjaan duniawi pada hari perhentian Tuhan; kerja keras untuk mencari nafkah harus berhenti; tidak ada pekerjaan untuk kesenangan duniawi ataupun keuntungan dibenarkan pada hari itu; tetapi sebagaimana Allah berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya, dan berhenti pada hari Sabat dan memberkatinya, demikian juga manusia harus meninggalkan pekerjaannya sehari-hari lalu mengkhususkan jam-jam yang kudus itu untuk istirahat yang sehat, untuk beribadah, dan untuk perbuatan-perbuatan yang suci” (Ellen G. White, The Desire of Ages, hlm. 207).

Minggu, 10 Maret
“PRASASTI PENCIPTAAN” (Penciptaan dan Sabat Hari Ketujuh)

Kekudusannya tetap. Sabat hari ketujuh, bersama-sama dengan Pernikahan, disahkan Allah di Taman Eden dan menjadi bagian tak terpisahkan dari penciptaan itu sendiri. Jadi, Sabat hari ketujuh dan Perkawinan adalah dua lembaga yang sama tuanya dengan umur bumi ini. Kelembagaan Hari Sabat dan Perkawinan juga dikukuhkan Allah sebelum kesucian Taman Eden dicemari oleh dosa, jadi keduanya adalah produk dari suatu masa kekudusan. Bumi dan segala isinya termasuk manusia juga produk dari masa kekudusan, tetapi bedanya manusia beserta bumi dan isinya yang lain sudah terkena kutukan Allah (Kej. 3:17-19), sedangkan Hari Sabat dan Perkawinan tidak termasuk dalam kutukan itu. Selama dunia ini ada dan selama ada kehidupan di bumi ini, Sabat dan Perkawinan tetap menjadi anugerah ilahi yang suci dan mendatangkan berkat surgawi bagi manusia yang menghormatinya.

Pena inspirasi menulis: “Hari Sabat dan keluarga sama-sama dilembagakan di Eden, dan sesuai maksud Allah keduanya terpaut bersama tanpa dapat dipisahkan. Dibandingkan dengan hari yang lain, pada hari ini lebih mungkin bagi kita untuk mengamalkan kehidupan di Eden…Hari perhentian Allah yang suci sudah diadakan untuk manusia, dan perbuatan kemurahan hati sangat sesuai dengan maksudnya. Membantu orang yang menderita dan menghibur yang berduka adalah pekerjaan kasih yang menghormati hari kudus Allah” (Ellen G. White, The Faith I Live By, hlm. 36).

“Prasasti penciptaan.” Penuturan di awal kitab Kejadian pasal 2 secara tegas mengaitkan Sabat hari ketujuh dengan penciptaan. Versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan dua ayat pertama itu lebih sesuai dengan naskah aslinya, “Maka selesailah penciptaan seluruh alam semesta. Pada hari yang ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya itu, lalu Ia beristirahat” (ay. 2-3, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata asli (Ibrani) yang diterjemahkan dengan selesai dan menyelesaikan dalam kalimat-kalimat ini adalah כָּלָה, kalah, sebuah kata-kerja yang juga berarti disempurnakan. “Dalam ayat-ayat ini kita tidak dibiarkan dalam keragu-raguan tentang hari atau mengacu kepada apa itu sebenarnya, dan bahwa enam hari Penciptaan itulah yang mendahului hari yang ketujuh” [alinea kedua: kalimat terakhir].

Dengan kata lain, karena segala sesuatu yang hendak diciptakan itu sudah diselesaikan, maka pada hari yang ketujuh Allah meresmikan penciptaan-Nya dengan satu hari perhentian. Jadi, hari Sabat adalah ibarat sebuah “prasasti” yang menandakan bahwa pekerjaan penciptaan sudah resmi terselesaikan. Sabat hari ketujuh dalam pekan adalah bagian yang integral dan tak terpisahkan dari minggu penciptaan, oleh sebab Penciptaan diakhiri dan disempurnakan dengan hari Sabat. Perhentian pada hari Sabat setiap minggu akan selalu mengacu kepada pekerjaan penciptaan Allah tersebut, sebagai hari peringatan penciptaan. Dengan kita berhenti dan menguduskan hari Sabat menjadi tanda akan pengakuan kita bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta ini.

Tempat perhentian. Kekerasan hati dan ketidakpercayaan yang ditunjukkan oleh bangsa Israel secara berulang-ulang selama pengembaraan mereka di padang belantara, meskipun setiap hari mereka menyaksikan kebaikan pemeliharaan Tuhan, telah membuat kesabaran Allah atas umat pilihan itu habis. Akibatnya, dari sekitar 2 juta orang yang keluar dari Mesir menuju ke Kanaan hanya 2 orang saja yang diizinkan masuk ke tanah perjanjian itu, yakni Yosua dan Kaleb, selebihnya yang masuk ke tanah perjanjian adalah generasi muda di bawah usia 40 tahun, yaitu mereka yang lahir dalam perjalanan pengembaraan itu (Bil. 14:22-24, 29-30; Yeh. 20:38).

Seperti yang disebutkan dalam syair pemazmur, “Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku'” (Mzm. 95:11; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani untuk tempat perhentian dalam ayat ini adalah מְנוּחָה, mĕnuwchah (dilafalkan: menukhah), sebuah kata-benda feminin yang juga dapat berarti tenang (Mzm. 23:2) atau menenangkan (2Sam. 14:17). Dalam PL kata ini dipakai untuk merujuk tempat perhentian atau kesentosaan duniawi, termasuk negeri perjanjian Kanaan (Kej. 49:15, Ul. 12:9, Yes. 32:18).

Hari perhentian. Penulis kitab Ibrani mengutip pemazmur ketika menulis, “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku” (Ibr. 4:3; huruf miring ditambahkan). Kata Grika untuk tempat perhentian di sini adalah κατάπαυσις, katapausis, kata-benda feminin yang bisa pula berarti mengistirahatkan atau memberi perhentian. Dalam PB kata ini hanya digunakan sebanyak 9 kali dalam 8 ayat, yaitu sekali dalam Kis. 7:49 sedang selebihnya dalam kitab Ibrani pasal 3 dan 4. Dalam Ibr. 3:11,18 dan 4:3, 5 kata ini secara spesifik berbicara perihal hukuman Allah terhadap generasi tua bangsa Israel (generasi yang meninggalkan negeri perhambaan Mesir) yang tidak memperoleh “tempat perhentian” yang dijanjikan pada nenek moyang mereka, yaitu di tanah perjanjian Kanaan.

Tetapi khusus pada tiga ayat lain dalam Ibrani 4, kata ini merujuk kepada waktu perhentian, yaitu hari perhentian Sabat hari ketujuh: “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga” (ay. 9-11; huruf miring ditambahkan). “Ini adalah suatu referensi Perjanjian Baru yang jelas terhadap kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian, dan itu memberi bukti tambahan bagi kebenaran historis tentang penciptaan dalam enam hari yang diikuti dengan satu hari perhentian” [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan dan Sabat hari ketujuh?
1. Hari Sabat adalah satu dari dua lembaga yang dikukuhkan Allah di Taman Eden ketika belum ada dosa, lainnya adalah Perkawinan. Meskipun kemudian manusia serta bumi dan segala isinya dikutuk Allah akibat dosa, hari Sabat dan Perkawinan tetap suci.
2. Fakta bahwa Allah menyediakan satu hari lagi setelah pekerjaan penciptaan-Nya rampung dalam enam hari, yaitu Sabat hari ketujuh, menunjukkan bahwa hari Sabat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan. Bahkan, hari Sabat adalah ibarat “prasasti” atau tanda peresmian atas penciptaan.
3. Kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah telah diberikan tanah perjanjian Kanaan sebagai “tempat perhentian” bagi mereka setelah lebih 400 ratus tahun hidup dalam perhambaan di Mesir. Namun, selain tempat, mereka juga membutuhkan “hari perhentian” dari pekerjaan sehari-hari.

Senin, 11 Maret
SABAT SEBAGAI PERINGATAN (Perhentian Sabat yang Kaya Makna)

Peringatan pembebasan. Bagi bangsa Israel, Sabat sebagai hari perhentian bukan saja hari ketujuh dalam pekan, sebab menurut kalender Ibrani (ha’luach ha’ivri) terdapat 64 hari Sabat dalam setahun yang mereka harus hormati dengan cara berhenti dari segala pekerjaan. Di samping Sabat hari ketujuh setiap pekan (52 hari Sabat dalam tahun kalender internasional), orang Yahudi juga memperingati 12 hari Sabat lainnya sebagai hari raya yang harus disucikan (baca Kel. 12:1-6; 14-16; dan Im. 23:1-8). Karena itu bisa terjadi dalam satu minggu yang sama menurut kalender internasional (kalender Gregorian) orang Yahudi memelihara lebih dari satu hari Sabat, yaitu Sabat mingguan dan Sabat tahunan, yang sama-sama ditandai dengan berhenti dari semua rutinitas.

Sabat (Ibrani: שַׁבָּת, Shabbath) artinya “hari perhentian” yaitu berhenti dari pekerjaan sehari-hari. Dalam hukum agama Yahudi, “bekerja” (Ibrani: melakhah; jamak, melakhoth) mengandung makna yang luas. Dalam Mishnah, kitab yang menghimpun tradisi ajaran lisan orang Yahudi yang menjadi dasar kitab Talmud, terdapat tidak kurang dari 39 “jenis pekerjaan” yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabat, termasuk hal-hal yang bersifat ketrampilan tangan seperti menulis (dua kata atau lebih) dan menyalakan api. Menempuh jarak tertentu dengan berjalan kaki juga dilarang karena jika badan mengeluarkan keringat dianggap sama dengan bekerja. Kegiatan-kegiatan ini baru boleh dilakukan sesudah diadakan upacara tradisional tutup Sabat yang disebut havdalah (“perpisahan”), yaitu meninggalkan hari Sabat dan menyambut minggu bekerja pada hari Sabtu petang setelah terlihat tiga bintang di langit yang menandakan siang sudah berlalu dan malam menjelang.

Hukum Sabat tercatat dalam Keluaran 20:8-11 sebagai perintah keempat dari Sepuluh Perintah. Hukum ini kemudian ditekankan lagi oleh Musa dalam Ulangan 5:12-14, dengan tambahan penjelasan: “Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (ay. 15). Walaupun Sepuluh Perintah sebagai hukum moral berlaku secara universil untuk semua orang, namun bagi bangsa Israel ada “alasan tambahan” untuk mengingatkan mereka apabila nanti sudah berada di tanah perjanjian dan umat yang tadinya budak itu akan diberkati dengan kemakmuran sehingga mereka sendiri akan memiliki budak-budak. Dalam konteks ini, perhentian Sabat hari ketujuh dapat sekaligus menjadi hari pembebasan dari kewajiban untuk bekerja bagi para budak mereka itu.

“Di sini Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka harus memelihara Sabat, dan dia menyatakan bahwa mereka harus melakukan ini karena Allah telah melepaskan mereka dari Mesir. Ayat-ayat ini tidak mengatakan apa-apa tentang enam hari Penciptaan atau perihal Sabat sebagai perhentian Allah. Gantinya, penekanannya di sini adalah pada Keselamatan, pada pembebasan, pada Penebusan, dan dalam hal ini penebusan dari Mesir, sebuah simbol Penebusan sejati yang kita miliki dalam Yesus (baca 1Kor. 10:1-3)” [alinea pertama].

Peringatan pengudusan. Dua kali, melalui dua nabi berbeda dan dalam waktu yang berbeda, pesan yang sama tentang maksud pemeliharaan Sabat sebagai peringatan atas pengudusan yang dilakukan Allah atas umat-Nya itu disampaikan. Kepada Musa, pesan-Nya, “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu” (Kel. 31:13; huruf miring ditambahkan). Kepada Yehezkiel, firman-Nya: “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka” (Yeh. 20:12; huruf miring ditambahkan). Jadi, selain untuk mengingat pembebasan yang Allah berikan kepada umat-Nya, hari Sabat juga dimaksudkan untuk mengingat pengudusan yang Allah lakukan atas umat-Nya.

Sementara pemeliharaan Sabat hari ketujuh adalah untuk merayakan penciptaan yang Allah lakukan, pemeliharaan hari Sabat juga sebagai pengingat akan tiga perkara yang Allah lakukan terhadap umat-Nya melalui Yesus Kristus: penebusan, penyelamatan, dan pengudusan. Intinya, perintah agar memelihara hari Sabat adalah untuk peringatan, yaitu mengingat semua perbuatan Allah bagi manusia. “Kita memelihara Sabat hari yang ketujuh sebagai pengakuan atas fakta bahwa Allah menciptakan dalam enam hari dan berhenti pada hari ketujuh. Kita juga memelihara Sabat hari ketujuh karena Allah adalah yang menebus kita, menyelamatkan kita di dalam Kristus. Dan juga Dia itulah yang menguduskan kita, yang juga hanya datang dari daya cipta Allah (baca Mzm. 51:10; 2Kor. 5:17)” [alinea keempat: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang berbagai makna hari Sabat?
1. Hukum hari Sabat diadakan sebagai peringatan akan berbagai hal yang Allah telah lakukan bagi manusia. Khusus bagi bangsa Yahudi sebagai umat pilihan, ditambahkan juga hari-hari Sabat lainnya yang bersifat eksklusif untuk diperingati hanya oleh mereka.
2. Sabat hari ketujuh yang bersifat universil memiliki keistimewaan, yaitu sebagai peringatan akan Penciptaan yang telah Allah lakukan. Itulah sebabnya perayaan “Sabat hari ketujuh” ini tercantum sebagai salah satu hukum dalam Sepuluh Perintah Allah bagi seluruh manusia.
3. Semua hukum tentang hari Sabat berfungsi sebagai pengingat bagi kita. Untuk mengingat bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta, dan bahwa Dia saja yang dapat menebus, menyelamatkan, serta menguduskan manusia untuk menjadi umat-Nya.

Selasa, 12 Maret
KRISTUS, TUHAN ATAS HARI SABAT (Yesus dan Hari Sabat)

Insiden ladang gandum. Peristiwa di ladang gandum tampaknya merupakan kejadian tersendiri di hari yang lain, bukan pada hari yang sama ketika Yesus dan murid-murid bekerja menyembuhkan banyak orang di Kapernaum dan di tepi danau serta bertamu ke rumah Lewi, seorang pemungut cukai, sebagaimana yang dituturkan dalam Markus 2:1-22. Episode yang spesifik ini tercatat mulai ayat 23, demikian: “Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum” (ay. 23; huruf miring ditambahkan).

Rupanya pada hari Sabat itu sebagian dari orang-orang Farisi sedang berjalan mengikuti rombongan Yesus, tapi bukan untuk mendengarkan khotbah-Nya melainkan untuk memata-matai demi mencari kesalahan Yesus. Benar saja, ketika melewati sebuah ladang gandum murid-murid-Nya berjalan sembari tangan mereka meraih bulir-bulir gandum untuk dimakan. Yesus sendiri tidak berbuat demikian, namun itu sudah cukup bagi orang-orang Farisi untuk menuding Dia. Mereka tidak bisa mempersalahkan murid-murid yang telah memetik gandum dari ladang orang, sebab hukum Musa membolehkan hal itu sejauh tidak menggunakan sabit (Ul. 23:25). Jadi, orang-orang Farisi itu hanya mempersoalkan waktu yang tidak tepat. Kata mereka, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (ay. 24).

“Tindakan memetik gandum sementara seseorang sedang melewati sebuah ladang bukanlah suatu masalah, karena aturan masyarakat mengizinkan hal ini. Makanan adalah kebutuhan, dan sangat bisa diterima bagi murid-murid itu untuk meringankan rasa lapar mereka dengan memakan apa yang mereka temukan sambil berjalan. Masalahnya adalah bahwa para pemimpin agama itu menganggap peraturan perayaan Sabat yang mereka buat sendiri itu lebih penting daripada kebutuhan manusia” [alinea pertama: kalimat kedua hingga keempat].

Untuk apa hari Sabat diadakan. Yesus membela tindakan murid-murid itu oleh menyamakannya dengan tindakan Daud yang mengambil “roti kudus” dari rumah imam Ahimelekh di kota Nob yang sebenarnya adalah roti yang dipajang di bait Tuhan dan pantang dimakan (1Sam. 21:1-6). Raja Daud sangat dihormati oleh segenap bangsa Israel sepanjang zaman, bahkan hingga sekarang ini, dan orang-orang Farisi itu tidak berani mengambil risiko untuk mempersoalkan perbuatan Daud tersebut. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk membuat sebuah pernyataan yang sangat penting dan mendasar perihal hari Sabat, ketika Dia berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk. 2:27-28).

Peristiwa di ladang gandum ini mengandung sebuah pelajaran penting bagi kita dewasa ini. Disadari atau tidak, banyak di antara kita yang memiliki roh Farisi, mengikut Yesus bukan dengan niat yang benar tetapi hanya untuk mencari-cari kesalahan murid-murid Yesus yang lain. Tidak sedikit yang menjadikan hukum Sabat sebagai jerat untuk menuding orang lain yang tidak memeliharanya dengan sempurna menurut standar mereka sendiri. Memang, kelemahan manusia tidak boleh dijadikan maaf untuk tidak menguduskan hari Sabat secara benar sesuai perintah Tuhan, tetapi anda dan saya tidak mendapat mandat untuk menghakimi orang lain yang masih bergumul dalam hal pengudusan hari Sabat. Jika Kristus sendiri yang adalah Tuhan atas hari Sabat tidak merasa terusik oleh perbuatan murid-murid itu, mengapa orang-orang lain harus merasa tersinggung?

“Teladan Yesus tidak saja menunjukkan bahwa hari Sabat tetap sebagai sesuatu yang harus ditaati, tapi juga memperlihatkan kepada kita bahwa hari Sabat harus dipelihara. Dan satu hal yang dapat kita lihat dengan jelas dari keteladanan-Nya ialah bahwa pekerjaan yang dilakukan pada hari Sabat untuk membantu meringankan penderitaan manusia tidaklah melanggar hari Sabat. Sebaliknya, keteladanan-Nya menunjukkan bahwa berbuat baik bagi orang lain adalah cara yang tepat dalam hal bagaimana hari Sabat itu harus dipelihara” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus dan hari Sabat?
1. Hari Sabat diadakan untuk kepentingan manusia, maka segala hal yang berujung pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia dapat dilakukan pada hari Sabat. Apa yang tidak dapat dilakukan pada hari Sabat ialah perbuatan-perbuatan yang bermuara pada kepentingan pribadi dan pemanjaan diri sendiri.
2. Pemeliharaan hari Sabat dapat menjadi kontroversi karena dua pandangan yang berlawanan: pemeliharaan Sabat yang terlalu ekstrem atau, sebaliknya, tidak percaya soal hari Sabat. Dalam pengalaman Yesus hal pertama yang dihadapi, dalam pengalaman kita mungkin kedua-duanya (di luar ditentang, di dalam dikritik).
3. Semangat Yesus sedikit pun tidak menjadi kendur oleh kritikan-kritikan atas apa yang Dia lakukan pada hari Sabat demi kebaikan manusia. Anda dan saya dapat meniru keteladanan-Nya itu di tempat kita masing-masing, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

Rabu, 13 Maret
HARI SABAT SEBAGAI PENENTU (Sabat dan Hari-hari Terakhir)

Mereka yang tidak percaya. Para pengejek ada di mana-mana, dari zaman dulu. Anda tahu mengapa orang-orang jadi pengejek? Karena ketidakmengertian–ada pihak yang menolak untuk mengerti apa yang dipahami oleh pihak lain, sekali pun itu adalah kebenaran. Menurut rasul Petrus, para pengejek pada akhir zaman adalah orang-orang yang tidak menghargai agama atau “yang hidup menurut hawa nafsunya” (2Ptr. 3:3), mereka yang tidak percaya pada kedatangan Yesus kedua kali (ay. 4) maupun perihal penciptaan (ay. 5) dan adanya neraka (ay. 7). Mereka mengira bahwa “segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (ay. 4, bag. akhir). “Namun perhatikan bagaimana Petrus menghubungkan penolakan mereka akan kedatangan Kristus kedua kali dengan penolakan mereka akan kisah Penciptaan (ditambah juga dengan Air Bah). Penolakan terhadap yang satu menuntun kepada penolakan terhadap yang lainnya!” [alinea kedua].

Orang-orang ateis menuduh agama sebagai “opium” (obat bius) yang membius manusia sehingga tidak terlalu memikirkan kehidupan yang sekarang, bahkan sebagian dari mereka menuding agama adalah “pembodohan” terhadap manusia. Memang banyak dari antara mereka itu adalah orang-orang cerdas, pemikir-pemikir terkenal, dan figur publik. Tetapi ada seorang Kristen yang menjawab cercaan itu dengan sangat bijak, katanya: “Lebih baik sekarang ini saya hidup seakan-akan Allah itu ada kemudian saya mati dan mendapati Allah itu tidak ada, daripada sekarang ini saya hidup seolah-olah tidak ada Allah kemudian saya mati dan mendapati Allah itu ada!”

Malaikat pertama yang disaksikan Yohanes Pewahyu terbang di tengah langit sambil membawa injil itu berseru, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (Why. 14:7). Alasan untuk takut dan memuliakan Allah adalah karena penghakiman yang disertai dengan pehukuman itu sudah tiba, dan alasan untuk menyembah Allah oleh karena Dia adalah Sang Pencipta langit dan bumi. Kaum ateis boleh saja tidak percaya bahwa ada Allah yang menghakimi manusia, tetapi anda percaya atau tidak percaya penghakiman Allah itu pasti terjadi. “Para pengejek itu salah. Penghakiman akan datang, dan kita dipanggil untuk menyembah Dia yang ‘menciptakan langit dan bumi dan laut’ serta segala sesuatu yang lain” [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Mereka yang menyembah. Pada akhirnya semua manusia yang hidup di hari-hari terakhir dunia ini akan terbagi ke dalam dua kelompok: mereka yang menyembah Allah Pencipta dan mereka yang menyembah “binatang dan patungnya” itu (Why. 14:9). Sementara orang-orang yang menyembah Allah Pencipta terus memelihara Sabat hari ketujuh meskipun menghadapi penganiayaan itu akan “ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu” untuk diselamatkan (ay. 4), orang-orang yang menyembah binatang dan patungnya dengan cara menerima tanda di dahi atau tangan itu “akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba” (ay. 10).

Pena inspirasi menulis: “Pemeliharaan Sabat hari ketujuh akan menjadi ujian terbesar pada hari-hari terakhir. Itu akan menjadi garis demarkasi antara orang yang melayani Allah dengan orang yang tidak melayani Dia. Oleh memelihara kesucian hari ini kita mengakui di hadapan alam semesta bahwa kita menyembah Dia yang oleh kuasa-Nya telah menciptakan dunia ini” (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 12, hlm. 214).

“Allah memanggil umat manusia untuk menyembah Dia sebagai Pencipta, dan kita tidak akan menemukan dalam Alkitab sesuatu yang sepenuhnya menunjuk kepada-Nya sebagai Pencipta seperti halnya Sabat hari ketujuh. Maka tidaklah heran bahwa kita melihat hari Sabat adalah tanda asli dari Allah sebagai Pencipta yang menjadi sangat penting di hari-hari terakhir” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang peran hari Sabat di hari-hari terakhir?
1. Pada hari-hari terakhir riwayat dunia ini, beberapa waktu sebelum kedatangan Yesus kedua kali, hukum tentang pemeliharaan hari Sabat akan memainkan peran penting. Manusia akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu mereka yang memelihara Sabat hari ketujuh dan mereka yang tidak.
2. Pemeliharaan hukum Sabat hari ketujuh akan menjadi tanda yang membedakan antara orang-orang yang menyembah Allah Pencipta dengan orang-orang yang menyembah “binatang dan patungnya” (Setan dan kepausan), dengan segala risikonya.
3. Seruan tiga malaikat dalam Wahyu 14 ditujukan kepada setiap orang yang hidup di zaman akhir, khususnya kepada mereka yang tidak percaya adanya Allah Pencipta maupun mereka yang sedang menyembah kuasa selain dari Allah Pencipta.

Kamis, 14 Maret
MEMUJI PEKERJAAN ALLAH (Sebuah Mazmur untuk Hari Sabat)

Mazmur 92. Sebagian komentator Alkitab mengomentari judul Mazmur 92 yang berbunyi “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat” (ay. 1) sebagai sesuatu yang “tidak lazim” (Nelson’s Compact Bible Commentary, hlm. 400). Siapa penggubah mazmur ini juga masih diperdebatkan oleh para komentator, sebagian menganggap penulisnya adalah Musa dan yang lain Daud. Bahkan para penulis Yahudi menyebut penggubah mazmur ini adalah Adam, “sebuah nyanyian atau pujian yang diucapkan oleh manusia pertama untuk hari Sabat” sebagaimana terdapat dalam Targum (uraian atau tafsiran Kitabsuci Ibrani dalam bahasa Aram purba). Tetapi John Gill (1697-1771), pakar Alkitab dan teolog Inggris, dan juga beberapa penyelidik Alkitab lainnya, menyanggah pendapat tersebut oleh karena alat-alat musik termasuk “kecapi” (ay. 4) baru dikenal setelah Yubal (Kej. 4:21), dan pada waktu Adam baru diciptakan belum ada manusia lain sebagai “orang-orang fasik” (ay. 8).

Banyak komentator yakin bahwa Mazmur 92 adalah gubahan Daud, “pemazmur yang disenangi di Israel” (2Sam. 23:1), tapi yang pasti mazmur ini lazim dinyanyikan oleh keluarga-keluarga orang Yahudi sebagai lagu penutup pada upacara tradisional menyambut datangnya hari Sabat (kabbalat shabbat). “Pemazmur jelas mengenal Tuhan, tahu seperti apa Tuhan itu, tahu apa yang Tuhan telah lakukan, dan tahu apa yang Tuhan akan lakukan suatu hari nanti. Untuk alasan-alasan inilah maka dia mengekspresikan sukacita seperti yang dilakukannya itu” [alinea pertama].

Penghakiman dinyatakan. Mazmur 92 (versi bahasa Indonesia terdiri atas 16 ayat, tapi versi bahasa Inggris hanya 15 ayat karena ayat 1 dan 2 digabungkan) dapat dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama (ay. 1-4) berisi seruan untuk memuji Allah, khususnya pada hari Sabat; bagian kedua (ay. 5-7) adalah alasan untuk memuji Dia, yaitu karena pekerjaan penciptaan yang telah dilakukan-Nya, sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang bodoh; bagian ketiga (ay. 8-10) keyakinan bahwa orang-orang jahat atau orang fasik yang memusuhi Allah akan dikalahkan bahkan dipunahkan, tetapi Allah akan tetap abadi di tempat-Nya yang tinggi; bagian keempat (ay. 11-16) Allah akan meninggikan orang-orang benar di hadapan musuh-musuh mereka, dan akan terus bertumbuh subur serta berbuah lebat sampai tua untuk memberitakan keadilan Tuhan.

Perihal orang-orang jahat, yaitu mereka yang memusuhi Allah dan memusuhi orang-orang benar, ke atas mereka akan berlaku penghakiman Allah. Dalam versi Bahasa Indonesia Masa Kini disebutkan, “Boleh jadi orang durhaka tumbuh subur seperti rumput, dan orang jahat bertambah kaya dan makmur; namun mereka akan dibinasakan sama sekali, sebab Engkau, TUHAN, berkuasa selama-lamanya” (ay. 8-9, BIMK). “Dan juga, perhatikan tema penghakiman di sini. Dalam Alkitab, penghakiman Allah bukan hanya terhadap orang jahat tetapi juga demi kepentingan orang-orang benar (baca Dan. 7:20-28). Kedua aspek penghakiman ini juga diungkapkan dalam mazmur ini” [alinea keempat: tiga kalimat pertama].

Memanfaatkan hari Sabat. Tujuan dari diadakannya hari Sabat adalah demi kebaikan manusia, hal ini sudah berulang-ulang ditegaskan dalam Alkitab. Allah tidak pernah dan tidak butuh istirahat, oleh sebab itu Dia tidak memerlukan hari Sabat seperti manusia membutuhkannya. Justeru hari Sabat diadakan untuk menjadi media khusus melalui mana Allah mencurahkan berkat istimewa bagi manusia, dan sebagai sambutan kita atas berkat istimewa itu kita memanfaatkan pemberian hari Sabat untuk merenungkan kebesaran dan kebaikan Sang Pencipta.

Pena inspirasi menulis: “Hari Sabat sudah diadakan untuk manusia untuk menjadi suatu berkat baginya oleh membebaskan pikirannya dari pekerjaan duniawi untuk merenungkan kebaikan dan kemuliaan Allah. Umat Allah perlu berhimpun untuk membicarakan tentang Dia, untuk bertukar pikiran dan gagasan tentang kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam firman-Nya, dan menyediakan sebagian waktu untuk melayangkan doa yang patut” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 583).

Apa yang kita pelajari tentang Mazmur 92 yang digubah khusus untuk hari Sabat?
1. Mazmur ini (syair untuk kidung pujian, nomor 92 dalam susunan Alkitab kita) adalah salah satu dari beberapa mazmur yang telah digubah khusus untuk hari Sabat. Penggubahnya mempersembahkan syair kidung ini untuk memuji Sang Pencipta yang telah mengadakan hari Sabat demi kepentingan manusia.
2. Selain pujian, dalam mazmur ini juga disebutkan tentang penghakiman Allah atas orang-orang jahat dan sekaligus pahala bagi orang-orang benar (saleh) pada akhir riwayat bumi yang berdosa ini.
3. Hari Sabat adalah hari untuk bersyukur dan bersukacita, apapun dan bagaimanapun situasi yang sedang kita hadapi. Hari Sabat adalah hari berkat, dan berhenti dari segala beban kesibukan sehari-hari adalah suatu nikmat dari Allah. Itulah sebabnya pada hari ini kita patut memuja nama-Nya.

Jumat, 15 Maret
PENUTUP

Bukan akibat “kecelakaan.” Dr. James Michaelson, seorang psikolog Kristen, kedatangan seorang pasien wanita di ruang praktiknya. Wanita muda yang hendak berkonsultasi ini sedang dibalut oleh rasa kesepian dan terbuang. Sementara wanita itu mengutarakan isi hati dan persoalan hidupnya, pikiran Dr. Michaelson justeru sedang teringat pada sebuah ayat yang berbunyi, “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita” (Mzm. 100:3). Ketika pasiennya selesai berbicara, sang psikolog diliputi oleh keraguan tentang nasihat apa yang harus diberikannya. “Saya pikir Tuhan ingin anda mengetahui sesuatu,” katanya selang beberapa saat. Lalu Dr. Michaelson membacakan ayat itu, “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah. Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita.” Dokter berhenti sejenak, lalu bertanya, “Apakah kata-kata itu berarti bagi anda?”

Tiba-tiba tangis wanita itu meledak, dan dia terus terisak selama beberapa saat. Sejurus kemudian, setelah berhasil menguasai diri, dia lalu berkisah perihal dirinya. “Saya tadi belum cerita kalau ibu saya sudah hamil sebelum menikah. Selama ini saya yakin bahwa keberadaan saya adalah suatu kesalahan, sebuah kecelakaan yang tidak direncanakan, dan bahwa bukan Tuhan yang menjadikan saya. Tetapi waktu dokter menyebutkan ayat itu, saya terus membayangkan bagaimana Tuhan membentuk diri saya dalam kandungan ibu saya.” Setelah terdiam sejenak, gadis itu berkata, “Sekarang saya tahu kalau Tuhan yang menciptakan saya, dan bahwa keberadaan saya di dunia ini bukan karena kesalahan. Terimakasih, dokter. Saya tidak akan pernah lupakan pengalaman saya hari ini.” (Sumber: http://bible.org/seriespage/crown-and-climax-creation-genesis-126-23).

“Dia yang menetapkan dunia-dunia gemerlapan di tempat yang tinggi dan dengan keahlian yang tajam mewarnai bunga-bunga di padang, yang memenuhi bumi dan langit dengan keajaiban kuasa-Nya, bilamana Ia hendak memahkotai pekerjaan-Nya dengan menempatkan seseorang untuk bertindak sebagai penguasa bumi yang elok ini, tidak lupa untuk menciptakan satu makhluk yang sepadan dengan tangan yang telah memberikan kehidupan kepadanya” [kalimat keenam].

“Engkau menciptakan setiap bagian badanku, dan membentuk aku dalam rahim ibuku. Aku memuji Engkau sebab aku sangat luar biasa! Segala perbuatan-Mu ajaib dan mengagumkan, aku benar-benar menyadarinya. Waktu tulang-tulangku dijadikan, dengan cermat dirangkaikan dalam rahim ibuku, sedang aku tumbuh di sana secara rahasia, aku tidak tersembunyi bagi-Mu. Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-harinya sudah ditentukan sebelum satu pun mulai” (Mzm. 139:13-16, BIMK).

Leave a Reply