“SALIB KRISTUS, PENGORBANAN TIADA TARA”

“KRISTUS, KURBAN KITA”

Arti sebuah pengorbanan. Salah satu kata yang paling sedap didengar karena mengandung sifat yang mulia, adalah “pengorbanan.” Kata ini menyiratkan keluhuran budi bila dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Seseorang yang “berkorban” berarti rela melepaskan sesuatu yang dimilikinya demi kepentingan orang lain, jadi pada prinsipnya pengorbanan itu adalah kesediaan untuk menderita kehilangan atau kerugian hal tertentu. Maka, adalah suatu hal yang ganjil jika ada orang yang mau berkorban tapi tidak ingin merugi. Kalau begitu, apa maknanya “berkorban”?

Kisah seorang paderi bernama Maximilian Kolbe yang rela menyediakan dirinya untuk menggantikan tempat seorang Yahudi yang menghadapi kekejaman Nazi pada PD II mungkin bisa membuka cakrawala tentang makna dari “berkorban.” Terlahir dengan nama Rajmund Kolbe, 8 Januari 1894, di Zduńska Wola, Polandia, anak yang berayahkan seorang Jerman dan beribukan seorang Polandia ini tergolong pintar. Pada tahun 1915, dalam usia 21 tahun, dia berhasil meraih gelar doktor filsafat dari Pontifical Gregorian University di Roma, sebuah universitas paling terkemuka di lingkungan Gereja Katolik. Empat tahun kemudian dia menggondol gelar doktornya yang kedua di bidang teologi dari Pontifical University di St. Bonaventura, sebuah universitas bergengsi lainnya, setahun setelah ditahbiskan menjadi imam pada umur 24 tahun dan menggunakan nama Maximilian Maria Kolbe. Karir pelayanan membawanya ke Jepang sebagai missionaris di mana dia mendirikan biara di pinggiran kota Nagasaki. Kembali ke Polandia, Kolbe mendirikan biara di kota Niepokalanów yang secara bergelombang telah menjadi tempat persembunyian ribuan warga Polandia dan Yahudi yang meluputkan diri dari kekejaman tentara Nazi Jerman.

Bulan Februari 1941, Gestapo, polisi Nazi Jerman yang terkenal dengan kebengisannya, menangkap Kolbe dan menjebloskannya ke penjara setempat sebelum kemudian dipindahkan ke penjara Auschwitz pada tanggal 21 Mei. Suatu hari di bulan Juli tahun 1941 seorang tahanan dari barak di mana Kolbe disekap itu lenyap. Sekalipun tahanan yang kabur itu belakangan ditemukan sudah menjadi mayat setelah tenggelam di jamban, komandan “SS” (polisi rahasia Nazi yang sangat kejam) dengan marah mengambil 10 orang tahanan dari barak yang sama itu dan memindahkannya ke Blok 13 yang terkenal sebagai tempat penyiksaan hingga mati kelaparan, salah satunya adalah Franciszek Gajowniczek yang sejak awal terus menangis mengiba-iba karena teringat akan keluarganya. Kolbe yang tersentuh hatinya lalu menawarkan diri sebagai pengganti pria malang itu. Sesudah tiga minggu dari kesepuluh orang itu hanya tersisa empat orang yang masih hidup, termasuk Kolbe, yang akhirnya disuntik mati dengan asam karbolik.

Untuk mengenang kehidupan dan pelayanannya, pada tanggal 10 Oktober 1982 Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan gelar sebagai “syuhada” (martir) kepada Maximilian Kolbe dalam suatu upacara di Vatikan yang dihadiri oleh Franciszek Gajowniczek, lelaki sesama tahanan yang nyawanya telah diselamatkan Kolbe 41 tahun silam itu. Dengan statusnya itu sang paderi menjadi salah seorang yang dinobatkan sebagai syuhada pada abad ke-20 yang patungnya menghiasi bagian atas dari pintu gerbang barat katidral Santo Petrus di Westminster Abbey, London.

“Betapa pun mengharukannya, pengorbanan Kolbe itu hanyalah sebuah bayangan dari Dia yang rela mengambil tempat kita, suatu tindakan yang dilambangkan dalam upacara di Bait Suci. Perjanjian Baru menyamakan Yesus dengan dua aspek utama dari sistem upacara kurban Perjanjian Lama: Ia adalah kurban kita (Ibrani 9-10), dan Ia adalah Imam Besar kita (Ibrani 5-10)” [alinea kedua].

Minggu, 10 November
PENDERITAAN MESIAS DINUBUATKAN (Yesus Dalam Yesaya 53)

Mati untuk manusia. Disebutkan bahwa tindakan Maximilian Kolbe yang rela menggantikan tempat Franciszek Gajowniczek itu cukup mencengangkan bagi polisi Nazi Jerman, tetapi itu tidak bisa menyamai ketakjuban Setan terhadap tindakan Yesus Kristus yang rela memikul salib di mana Anak Allah itu mati menggantikan manusia. “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi–demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami” (Yes. 52:14-15).

Kitab Yesaya pasal 53 dimulai dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?” (ay. 1; huruf miring ditambahkan). Adapun “berita” yang dimaksud di sini adalah kabar mencengangkan perihal Anak Allah yang bersedia merendahkan diri-Nya menjadi seperti manusia, bahkan “begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi” sebagaimana disebutkan pada ayat terakhir pasal 52 itu. Di sini sang nabi seperti sedang menubuatkan dua hal: ketidakpercayaan manusia terhadap kematian Yesus sebagai Mesias, dan ketidakpercayaan manusia akan keselamatan yang disediakan-Nya.

“Yesaya 52:13 hingga 53:12 merupakan sebuah gambaran yang mantap tentang kematian Kristus bagi dosa-dosa dunia. Beberapa aspek dalam serangkaian ayat-ayat ini memberi bukti nyata bahwa kematian Yesus adalah pendamaian dalam bentuk pertukaran hukuman, yang artinya bahwa Ia menanggung hukuman yang sepatutnya untuk orang lain dan benar-benar mati sebagai Pengganti bagi mereka” [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Menggenapi nubuatan. Yesaya 53 bertutur tentang Yesus Kristus sebagai Mesias yang bakal menjadi “kurban pengganti” (“vicarious sacrifice” atau “penal substitution”) bagi manusia. Tetapi, percaya atau tidak, banyak teolog Kristen dan pakar Perjanjian Lama yang berpendapat bahwa nubuatan Yesaya 53 ini bukan tentang Mesias, melainkan perihal bangsa Israel. Argumentasi mereka antara lain adalah pada anak kalimat “kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?” dalam ayat 1, yang menurut mereka jika hal itu diterapkan pada diri Yesus maka frase tersebut akan terkesan di luar konteks. Pendapat seperti itu seiring dengan teori Yudaisme yang mengajarkan bahwa “hamba yang menderita” dalam pasal ini merujuk kepada bangsa Israel yang terpuruk dan dihinakan, tapi kemudian akan bangkit dan berjaya kembali. Mereka menuding ajaran bahwa Yesaya 53 berbicara tentang Yesus Kristus adalah sebuah doktrin anti-Semitik (menaruh prasangka dan kebencian terhadap orang Yahudi).

Tetapi ayat-ayat dalam beberapa kitab Perjanjian Baru dengan tegas membuktikan bahwa Yesaya 53 merujuk kepada Yesus Kristus. Misalnya perkataan Yesus sendiri dalam Lukas 22:37, yang mengutip Yesaya 53:12, “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” Begitu pula kisah tentang seorang pejabat kerajaan Etiopia yang dalam perjalanan pulang sedang membaca gulungan kitab
nabi Yesaya dan sampai pada bagian “Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian” (Yes. 53:7), tepat pada saat yang bersamaan Filipus yang diutus Roh itu mengejarnya dan sempat mendengarkan bacaan itu lalu menerangkan kepadanya bahwa nubuatan itu bertutur tentang Yesus Kristus (Kis. 8:35). Bahkan tulisan rasul Petrus lebih tegas lagi, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1Ptr. 2:24; huruf miring ditambahkan). Kalimat terakhir ini jelas-jelas mengutip Yesaya 53:5.

“Kiasan-kiasan Perjanjian Baru atas Yesaya 53 membuktikan tanpa ragu bahwa Yesus Kristus menggenapi nubuatan ini. Bahkan Ia mengidentifikasikan Diri-Nya sendiri sebagai orang yang digambarkan di situ (Luk. 22:37). Kristus menaruh dosa-dosa kita ke atas Diri-Nya supaya kita bisa diampuni dan diubahkan” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang nubuatan perihal Yesus Kristus dalam Yesaya 53?
1. Dalam dunia di mana masyarakatnya secara umum cinta diri, tindakan seseorang yang mau berkorban sampai mati demi orang lain itu sungguh mencengangkan. Yesus juga telah berbuat hal yang sama bagi semua manusia, dan kita semua harus meneladani roh pengorbanan Kristus dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda.
2. Yesaya pasal 53 sudah sejak lama diklaim oleh ajaran Yudaisme sebagai sebuah nubuatan tentang bangsa Israel, bukan tentang Yesus Kristus sebagai Mesias. Sama halnya dengan nubuatan dalam Ulangan 18:15-19 pernah diklaim golongan tertentu sebagai nubuatan tentang nabi mereka, bukan tentang Yesus Kristus.
3. Banyak orang yang belajar Alkitab bukan untuk menemukan mutiara-mutiara kebenarannya melainkan untuk mencari kesalahan, atau setidaknya membuat penafsiran yang membela kepentingan golongannya sendiri meski berbeda dari maksud yang sebenarnya. Tetapi Alkitab selalu dapat membela kebenarannya sendiri.

Senin, 11 November
MENGAPA YESUS HARUS MATI? (Pengganti yang Memadai)

Kematian yang tak terelakkan. Dalam rencana keselamatan Allah, kematian Yesus adalah hal yang tak terhindarkan oleh karena “upah dosa adalah maut” (Rm. 6:23). Maut yang dimaksudkan di sini adalah kematian yang kekal atau kebinasaan. Yesus harus mati untuk menggantikan kematian kekal yang seharusnya menimpa manusia, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kematian Yesus di kayu salib bukan untuk menghindarkan manusia dari kematian sekarang ini sebagai dampak dari kondisi alami tubuh kita yang telah merosot akibat dosa, melainkan menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal oleh api neraka.

Kematian Yesus adalah kematian yang dikehendaki oleh Allah sendiri sebagai bagian dari rencana keselamatan yang dicanangkan-Nya di Taman Eden. “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (Ibr. 2:9; huruf miring ditambahkan). Yesus yang tidak berdosa itu harus “mengalami maut bagi semua manusia” artinya mati sebagai pengganti manusia, dan itu adalah “kasih karunia Allah.” Tidak perlu menghujat para pemuka agama di Yerusalem dan orang Yahudi, atau mempersalahkan Pilatus dan prajurit-prajurit Romawi atas kematian Yesus, sebab kita tahu bahwa kematian-Nya adalah atas kehendak Allah sendiri.

“Yesus mati bagi orang berdosa. Ia tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15) sehingga ketika Ia memberikan hidup-Nya sebagai sebuah persembahan kurban Ia tidak mati karena dosa-Nya sendiri…Dalam istilah sederhananya, demi agar umat manusia diselamatkan, Yesus harus mati. Tidak ada cara lain” [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Kematian yang dikehendaki Yesus. Kejatuhan Adam dan Hawa mungkin sangat mengejutkan bagi para malaikat surga, tetapi apa yang lebih mengejutkan lagi bagi mereka ialah keputusan Allah untuk menyelamatkan Adam dan Hawa beserta keturunan mereka dengan mengorbankan Putra-Nya yang tunggal itu (Yoh. 3:16). Namun, apakah Yesus “dikorbankan” dalam skenario ini? Jawabnya: Tidak! Sebab “dikorbankan” mengandung arti dijadikan korban tidak atas pengetahuan dan keinginan korban yang bersangkutan, sedangkan kematian Yesus di kayu salib adalah atas pilihan-Nya sendiri dan dijalani-Nya dengan sadar.

Sebelum kematian-Nya, Yesus pernah berkata, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku” (Yoh. 10:17-18; huruf miring ditambahkan). Tatkala berada dalam keadaan kemanusiaan, bergumul sendirian dalam dinginnya Taman Getsemane yang sunyi pada tengah malam itu, Yesus yang mulai merasakan sengatan maut yang mengerikan itu berseru kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:42). Yesus sudah memutuskan untuk menjalani kematian itu sehingga rela datang ke dunia yang dikuasai Setan ini dan menjelma sebagai manusia biasa, Ia akan menjalani missi-Nya sampai tuntas!

“Mengapa patut bagi Allah untuk membiarkan Yesus menderita? Konteks dalam Ibrani 2:14-18 menunjukkan bahwa kematian Yesus itu perlu untuk melepaskan anak-anak Allah dari perhambaan maut, dari Iblis, dari rasa takut akan kematian, dan untuk melayakkan Yesus menjadi ‘Imam Agung yang setia dan berbelaskasihan’ (BIMK)” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang kematian Yesus sebagai “kurban pengganti” yang memadai?
1. Mengapa Yesus harus mati? Pertama, karena hukum Allah menuntut kematian atas dosa (Kej. 2:17, Rm. 6:23); kedua, karena kematian Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah kasih karunia Allah (Ibr. 2:9), dan Yesus dalam kasih-Nya juga rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan manusia itu (Yoh. 10:17).
2. Kematian Yesus adalah sebuah anugerah terbesar yang surga pernah berikan kepada dunia yang berdosa, sebuah jalan dengan mana manusia berdosa dapat beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Sebagai sebuah anugerah, keselamatan itu adalah pilihan bagi manusia. Tak seorang pun selamat karena terpaksa (2Ptr. 1:10).
3. Kematian Yesus sebagai “kurban pengganti” bagi manusia itu memenuhi syarat dan memadai, “sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9), “lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal. 4:4), namun tidak berdosa.

Selasa, 12 November
DISELAMATKAN OLEH DARAH (Darah Kristus)

Darah dalam riwayat manusia. Darah yang pertama kali tercurah ke bumi adalah darah binatang ketika Allah mengambil kulitnya untuk dijadikan pakaian dan mengenakannya kepada Adam dan Hawa di Taman Eden (Kej. 3:21). Bahasa asli PL yang diterjemahkan dengan “pakaian dari kulit binatang” dalam ayat ini adalah כֻּתֹּנֶת עוֹר, kĕthoneth ‘owr. Dalam bahasa Ibrani, ‘owr adalah sebuah katabenda maskulin yang artinya “kulit” dan dalam hal ini bisa diartikan sebagai “kulit binatang” ataupun “kulit manusia” (Strong, H5785). Contoh lain dari pengggunaan kata ini sebagai “kulit binatang” misalnya pada cerita tentang Ribka yang memakaikan kulit anak kambing ke tangan dan leher Yakub untuk mengelabui Ishak yang sudah rabun itu demi mendapatkan berkat hak kesulungan (Kej. 27:16), sedangkan penggunaan kata ini sebagai “kulit manusia” ialah ketika menerangkan tentang kulit wajah Musa yang bercahaya setelah berbicara dengan Tuhan di atas gunung (Kej. 34:29). Dalam peristiwa di Taman Eden itu kata ‘owr tentu saja merujuk kepada “kulit binatang” karena benda itu dipakaikan ke badan Adam dan Hawa yang telanjang, dan waktu itu hanya mereka berdua saja manusia yang ada di bumi ini.

Segera setelah pasangan manusia pertama itu berdosa karena melanggar perintah Allah dengan cara memakan buah larangan (Kej. 3:1-6), Allah yang maha kasih itu telah memulai tindakan penyelamatan manusia dengan mengorbankan seekor binatang–tidak disebutkan apa jenis hewan itu–untuk mengambil kulitnya demi kepentingan manusia. Sejak Taman Eden sampai bangsa Israel purba bermukim di tanah perjanjian Kanaan, darah binatang selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penyembahan manusia kepada Allah. Alkitab menyaksikan, “Memang menurut hukum agama Yahudi, hampir segala sesuatu disucikan dengan darah; dan dosa hanya bisa diampuni kalau ada penumpahan darah” (Ibr. 9:22, BIMK). Kata “darah” (Grika: αἷμα, haima) digunakan berkali-kali dalam kitab Ibrani untuk menekankan tentang darah Yesus sebagai satu-satunya persembahan kurban agar manusia “mendapat kelepasan yang kekal” (Ibr. 9:12) dan “untuk menguduskan umat-Nya” (Ibr. 13:12).

“Upacara darah menjadi ciri dari sistem persembahan kurban bangsa Israel untuk menggambarkan kebenaran penting bahwa tanpa darah kita tidak akan memiliki peluang apapun untuk diampuni dari dosa-dosa kita dan untuk masuk ke dalam hadirat Allah. Darah adalah satu-satunya cara untuk menerima kemurahan Allah dan memperoleh persekutuan dengan Dia” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Kuasa darah Yesus. Alkitab PB menerangkan tentang apa yang sudah dilakukan oleh darah Yesus bagi manusia. Berikut ini 20 ayat yang menyebutkan hal-hal apa saja yang telah dihasilkan oleh kuasa darah Yesus:

1. Untuk pengampunan dosa (Mat. 26:28).
2. Untuk memberi kehidupan (Yoh. 6:53).
3. Untuk membuat Dia tinggal di dalam kita, dan kita di dalam Dia (Yoh. 6:56).
4. Untuk memperoleh jemaat-Nya (Kis. 20:28).
5. Untuk menjadi jalan pendamaian oleh iman (Rm. 3:25).
6. Untuk membenarkan kita (Rm. 5:9).
7. Untuk memungkinkan kita beroleh penebusan, pengampunan dosa (Ef. 1:7; 1Ptr. 1:18-19; Kol. 1:14).
8. Untuk mendekatkan kita dengan Allah (Ef. 2:13).
9. Untuk mendamaikan kita dengan Bapa (Kol. 1:20).
10. Untuk membebaskan kita selama-lamanya (Ibr. 9:12, BIMK).
11. Untuk membersihkan hati nurani kita (Ibr. 9:14).
12. Untuk membuat kita berani memasuki tempat kudus (Ibr. 10:19).
13. Untuk menjadi Pengantara yang bersuara lebih nyaring daripada darah Habel (Ibr. 12:24).
14. Untuk menguduskan kita (Ibr. 13:12).
15. Untuk memperlengkapi kita dalam melakukan kehendak-Nya (Ibr. 13:20-21).
16. Untuk menyucikan kita dari segala kejahatan (1Yoh. 1:9).
17. Untuk melepaskan kita dari dosa (Why. 1:5).
18. Untuk membeli seluruh umat manusia bagi Allah (Why. 5:9).
19. Untuk membasuh jubah tabiat kita (Why. 7:14).
20. Untuk mengalahkan Setan (Why. 12:10-11).

“Darah Kristus yang ditumpahkan itu secara menakjubkan memiliki banyak fungsi. Darah Kristus menghasilkan Penebusan kekal, menyediakan penyucian dari dosa, menyediakan pengampunan, pengudusan, dan menjadi dasar bagi kebangkitan…Tertumpahnya darah Kristus dan pengaruh-pengaruhnya adalah bukti yang jelas bahwa kematian Kristus itu bersifat pengganti, artinya bahwa Ia mengambil alih hukuman yang selayaknya untuk kita” [alinea kedua: dua kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kuasa darah Kristus?
1. Kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden telah mengakibatkan terjadinya penumpahan darah binatang, dan sejak itu darah telah menjadi bagian utama dari ritual penyembahan manusia kepada Allah. Darah binatang yang tidak bersalah itu melambangkan darah Yesus Kristus, kurban yang tidak berdosa untuk menutupi dosa manusia.
2. Peribadatan umat Tuhan di zaman PL selalu melibatkan darah, yaitu darah binatang, sebagai pelajaran rohani yang tidak putus-putusnya diajarkan kepada manusia tentang tercurahnya darah Kristus. Meskipun di zaman PL upacara kurban itu hanya sebagai lambang, tapi dosa dari mereka yang menjalankan ibadah itu betul-betul diampuni.
3. Darah Yesus Kristus yang secara harfiah benar-benar tercurah di kayu salib memiliki efek yang beragam terhadap kehidupan manusia, tetapi yang terutama ialah bahwa darah Kristus itu secara harfiah sesungguhnya membersihkan dosa-dosa manusia dan menyediakan pengampunan serta keselamatan bagi kita.

Rabu, 13 November
YESUS KRISTUS, KURBAN YANG SEMPURNA (Persembahan Kurban yang Tak Bercela)

Persyaratan kurban bakaran. Persembahan berupa hewan sebagai kurban bakaran dalam Perjanjian Lama adalah perintah dan kehendak Allah. Tidak sembarang hewan dapat dipersembahkan sebagai kurban bakaran, melainkan hanya binatang yang memenuhi beberapa persyaratan yang Allah sendiri tentukan. Binatang-binatang yang boleh dipersembahkan itu bisa berupa lembu, domba, atau kambing, bahkan burung untuk rakyat yang tidak mampu (Im. 1:17; 5:7-8). Kalau hewan kurban itu berupa lembu, jenis kelaminnya bisa jantan atau betina (Im. 3:1), kecuali untuk persembahan kurban atas dosa seorang imam harus lembu jantan muda (Im. 4:3), sedangkan jika untuk umat Israel pada umumnya haruslah domba jantan berumur setahun (Kel. 12:5).

Namun, sementara persembahan kurban itu memiliki berbagai alternatif, syarat utama dari semua binatang kurban itu adalah “tidak bercela.” Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “tidak bercela” di sini adalah תָּמִים, tamiym, dari akar kata תָּמַם, tamam, yang berarti “sempurna, utuh, dan sehat” (Strong, H8549). Persyaratan ini mengacu kepada pribadi Yesus Kristus, penjelmaan Anak Allah sebagai manusia biasa yang sempurna seutuhnya, jasmaniah dan rohaniah.

“Pemilihan hewan kurban menuntut perhatian yang besar. Seseorang tidak boleh mengambil binatang apa saja untuk persembahan; hewan itu harus memenuhi beberapa kriteria, tergantung pada jenis persembahan…Hal itu mengungkapkan ide bahwa sesuatu itu memenuhi standar yang setinggi mungkin. Hanya yang terbaik bisa disebut cukup baik” [alinea pertama; alinea kedua: kalimat terakhir].

Yesus Kristus, kurban yang sempurna. Yesus Kristus adalah sosok manusiawi dari Anak Allah, Oknum ilahi “yang telah menyatakan Diri-Nya dalam rupa manusia” (1Tim. 3:16; huruf miring ditambahkan), supaya dapat menjalani kematian sebagai Kurban yang sempurna untuk menyelamatkan manusia. Kesempurnaan Yesus bukanlah karena sifat keilahian-Nya, melainkan karena Ia juga “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita…telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Karena keadaan-Nya “yang saleh, tanpa salah, tanpa noda” (Ibr. 7:26), maka Yesus Kristus “yang telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat” (Ibr. 9:14) itu sudah membebaskan kita “dengan sesuatu yang sangat berharga; yaitu dengan diri Kristus sendiri, yang menjadi sebagai domba yang dikurbankan kepada Allah tanpa cacat atau cela” (1Ptr. 1:18-19).

“Yesus, ‘Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia’ (Yoh. 1:29), memenuhi secara sempurna kriteria Perjanjian Lama tentang persembahan kurban yang tak bercela. Hidup-Nya yang bersih menentukan Yesus sebagai sebuah persembahan kurban yang sempurna. Inilah jaminan keselamatan kita, karena hanya Dia yang tak berdosa dapat menanggung dosa kita untuk kita, dan kebenaran-Nya yang sempurna itulah yang membungkus kita, sekarang dan dalam penghakiman. Kebenaran itu adalah pengharapan keselamatan kita” [alinea keempat].

Pena inspirasi menulis: “Melalui pengorbanan yang tak terbatas dan penderitaan yang tak terperikan maka Penebus kita telah menaruh penebusan itu dalam jangkauan kita. Dia sudah berada di dunia ini tanpa dihormati dan tak dikenal supaya melalui sikap merendahkan diri dan kerendahan hati-Nya yang ajaib itu Ia boleh mengangkat manusia untuk menerima kehormatan kekal dan sukacita abadi dalam kerajaan surga…Tak bersalah, namun mempersembahkan Diri-Nya sebagai pengganti bagi orang yang bersalah. Kesalahan dari setiap dosa menindih jiwa keilahian dari Sang Penebus dunia itu” (Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 321-322).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai kurban yang tak bercela?
1. Sempurna. Itulah persyaratan yang tak tergantikan untuk suatu persembahan kurban bakaran dalam ritual penebusan dosa di zaman PL, sebab Yesus Kristus, Anak Allah yang mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban, adalah juga sempurna.
2. Kesempurnaan pengorbanan Yesus Kristus diperoleh-Nya dalam pergumulan pribadi melawan dosa di dunia ini ketika Ia mengenakan rupa manusia, bukan kesempurnaan yang terlindung di balik jubah keilahian-Nya. Kesempurnaan adalah tuntutan yang tidak dapat dikompensasikan (=ditukar) ataupun dikompromikan (=ditawar).
3. Sebagai orang Kristen kita hidup di zaman PB yang tidak lagi menuntut persembahan kurban bakaran, gantinya adalah mempersembahkan diri kita sebagai kurban yang hidup. Persyaratannya tetap sama, karena itu kita harus berusaha untuk menjadi sempurna (2Kor. 13:11) sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).

Kamis, 14 November
KEMURTADAN DIAMARKAN (Suatu Bahaya Besar)

Amaran penting. Seseorang pernah berkata (mungkin sambil berseloroh!), bahwa ada tiga kejutan yang bisa dia dapatkan di surga: pertama, bertemu dengan orang-orang yang tidak disangka berada di surga; kedua, tidak menemukan orang-orang yang seharusnya ada di surga; ketiga, menemukan dirinya sendiri di surga. Kuncinya adalah pertobatan atau kemurtadan, dan keduanya adalah sebuah keniscayaan. Artinya, orang yang sangat berdosa bisa saja bertobat pada waktu yang tepat, dan orang yang saleh dapat saja murtad pada waktu yang tidak disangka-sangka. Bahkan, salah satu dari dua kemungkinan itu bisa pula terjadi pada diri anda dan saya. Alkitab mengamarkan tentang dua hal yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga, yaitu sudah bertobat tapi kemudian murtad, atau tidak pernah bertobat meskipun sudah mengetahui tentang penebusan dan keselamatan.

Amaran I: “Sebab, orang-orang yang sudah murtad, tidak mungkin dibimbing kembali. Mereka dahulu sudah berada di dalam terang dari Allah, dan sudah menikmati pemberian-Nya. Mereka sudah juga turut dikuasai oleh Roh Allah. Mereka tahu dari pengalaman mereka bahwa perkataan Allah itu baik, dan mereka sudah merasai karunia-karunia yang penuh kuasa dari zaman yang akan datang. Tetapi sesudah itu mereka murtad! Mana mungkin membimbing mereka kembali untuk bertobat lagi dari dosa-dosa mereka. Sebab mereka sedang menyalibkan lagi Anak Allah dan membuat Dia dihina di depan umum” (Ibr. 6:4-6, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Amaran II: “Sebab kalau berita yang benar dari Allah sudah disampaikan kepada kita, tetapi kita terus saja berbuat dosa dengan sengaja, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa kita. Satu-satunya yang ada untuk kita ialah menghadapi pengadilan Allah dan api kemarahan-Nya yang akan membakar habis orang-orang yang melawan Dia! Orang yang tidak mentaati hukum yang diberi oleh Musa, dihukum mati tanpa ampun, kalau atas kesaksian dua atau tiga orang, ia terbukti bersalah. Betapa lebih berat hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah. Orang itu menganggap hina darah perjanjian Allah, yakni kematian Kristus yang membersihkannya dari dosa. Ia menghina Roh pemberi rahmat. Kita tahu siapa Dia yang berkata, ‘Aku akan membalas! Aku akan menghukum!’ dan yang berkata, ‘Tuhan akan menghakimi umat-Nya.’ Alangkah ngerinya kalau jatuh ke tangan Allah Yang Hidup!” (Ibr. 10:26-31, BIMK; huruf miring ditambahkan).

“Bahaya yang nyata dari ketidakpedulian dan pengabaian ialah bahwa seringkali prosesnya tidak kentara dan amat bertahap. Peralihannya bisa saja tanpa disadari. Perlahan-lahan pekerjaan Kristus tidak cukup dihargai, serupa dengan kegagalan Esau untuk tidak lagi menghargai hak kesulungannya (Ibr. 12:15-17). Pengorbanan Kristus jangan sampai menjadi begitu lazim sehingga kita menganggapnya sebagai hal yang biasa saja” [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Setia sampai akhir. Sementara amaran terhadap orang yang sudah mendengar kebenaran Allah tapi tetap berkeras hati dan tidak mau bertobat itu sama dengan melecehkan Anak Allah dan menganggap hina darah perjanjian Allah, orang yang sudah mengenal terang Allah kemudian murtad itu disebut sebagai menyalibkan Yesus kembali dan tidak ada lagi kurban penebusan bagi mereka. Karena itu kesetiaan adalah penting.

Rasul Paulus menasihati: “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol. 2:6-7). Melalui tulisan rasul Yohanes, Allah mempertegas janji-Nya: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua” (Why. 2:10-11; huruf miring ditambahkan). Setia sampai mati, bukan setia sampai murtad!

Pena inspirasi menulis: “Mereka yang menolak Roh Allah dan menyebabkan-Nya pergi, tidak tahu seberapa jauh Setan akan menuntun mereka. Apabila Roh Kudus meninggalkan orang itu secara tak terasa dia akan melakukan hal-hal yang, dalam cahaya yang benar, pernah dianggapnya sebagai dosa. Kecuali dia memperhatikan amaran-amaran, dia akan menutupi dirinya dalam penipuan yang, seperti halnya Yudas, akan menyebabkan dia menjadi seorang pengkhianat dan buta” (Ellen G. White, Review and Herald, 12 Oktober 1897).

Apa yang kita pelajari tentang bahaya besar yang diamarkan oleh Kitabsuci?
1. Nasib manusia ditentukan oleh pilihan dari dua hal ini: bertobat atau murtad. Bertobat artinya menerima penebusan oleh darah Yesus, murtad berarti mencampakkan keselamatan yang sudah digenggam. Apapun pilihan anda dan saya itu pasti akan mengubah nasib akhir dari kehidupan kita.
2. Kesetiaan adalah sifat dari iman Kristiani; iman tanpa kesetiaan adalah sia-sia. Namun Yesus sendiri bertanya-tanya, “Tetapi apabila Anak Manusia datang, apakah masih ditemukan orang yang percaya kepada-Nya di bumi ini?” (Luk. 18:8, BIMK). Bagaimana respon anda dan saya terhadap apa yang Yesus sangsikan ini?
3. Kalau ada orang Kristen yang tidak selamat, itu ironi; kalau ada orang Advent yang tidak selamat, itu skandal. Betapa tidak? Sebagai orang Kristen kita seharusnya paling dekat dengan Yesus, dan sebagai orang Advent kita yang mengaku umat pilihan seharusnya paling duluan. Tetapi masalahnya, apakah anda dan saya akan terus setia dan memelihara kesempurnaan iman kita.

Jumat, 15 November
PENUTUP

Dasar pengharapan kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa “kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm. 8:24), yaitu pengharapan akan hidup kekal. “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1Kor. 15:19). Pengharapan harus didasarkan pada iman, itulah sebabnya kita “harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil” (Kol. 1:23).

“Tidak kurang dari kematian Kristus dapat membuat kasih-Nya mujarab bagi kita. Hanya karena kematian-Nya maka kita dapat memandang dengan sukacita pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Pengorbanan-Nya adalah pusat dari pengharapan kita. Di atas hal inilah kita harus mendasarkan iman kita” [alinea kedua].

“Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor. 1:7-8).

1 thought on ““SALIB KRISTUS, PENGORBANAN TIADA TARA”

  1. Terima kasih melalui artikel ini saya semakin dikuatkan diteguhkan atas kuasa salib Tuhan Yesus. Salib Tuhan Yesus Tiada Taranya. JBU all

Leave a Reply