“SALIB, MANIFESTASI TABIAT ALLAH”

December 19, 2013 - Loddy Lintong

PENDAHULUAN

Tabiat Allah dalam upacara Bait Suci. Kita sudah pelajari sebelumnya bahwa upacara keimamatan dalam Bait Suci di dunia maupun di surga intinya adalah pengampunan dosa. Dalam upacara Bait Suci duniawi pengampunan dosa diadakan melalui pelayanan imam (upacara harian untuk perorangan) dan imam besar (upacara tahunan untuk seluruh bangsa) dengan persembahan kurban binatang halal yang darahnya dipercikkan ke atas mezbah dan tutup pendamaian, di Bait Suci surgawi pengampunan dosa itu dilakukan melalui pelayanan Yesus Kristus selaku Imam Besar Agung untuk seluruh umat manusia dengan persembahan kurban darah-Nya sendiri.

Pelayanan keimamatan dalam Bait Suci ini merupakan pengejahwantahan dari tabiat Allah yang sesungguhnya, yaitu kasih tanpa syarat dan tak terbatas, sehingga memungkinkan manusia yang telah berdosa dengan melanggar Hukum Allah bisa diampuni dan diselamatkan. Sepanjang riwayat manusia di bumi ini Setan telah memutarbalikkan fakta tentang tabiat Allah untuk menipu manusia seolah-olah Allah itu kejam dan keras. Pemutarbalikkan fakta tentang tabiat Allah yang sejati ini sudah menjadi “senjata” setan sejak permulaan dunia ini untuk menipu manusia dan sekaligus menuduh Allah. Tetapi salib Kristus adalah manifestasi dari tabiat Allah dan menjadi bukti yang tak terbantahkan tentang kasih Allah.

Pertentangan kosmik (konflik berdimensi alam semesta, antara kebenaran Allah dan kepalsuan Setan) berpusat pada isu perihal tabiat Allah, yakni kasih. Tetapi kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai “kurban pengganti manusia” dan pelayanan keimamatan Kristus di Bait Suci surgawi adalah jawaban telak terhadap tuduhan palsu Setan. Mungkin iblis tidak pernah menyangka bahwa Allah bersungguh-sungguh hendak “mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Itulah sebabnya dia berusaha untuk menggagalkan rencana penebusan itu melalui Herodes yang hendak membunuh bayi Yesus (Mat. 2:16), bahkan melalui Petrus (Mrk. 8:33) dan murid-murid-Nya (Luk. 22:49-50) yang tidak mengerti missi Yesus di dunia ini.

“Inti dari pertikaian ini ialah Bait Suci yang, seperti telah kita lihat, menyajikan suatu tema berulang yang berlangsung dari awal hingga akhir dari riwayat keselamatan: Penebusan umat manusia melalui kematian Yesus. Jika dipahami dengan tepat, pekabaran Bait Suci juga membantu untuk menggambarkan tabiat Allah yang telah diserang Setan sejak Peperangan Besar dimulai pertama kali di surga” [alinea kedua].

Minggu, 15 Desember
KEJATUHAN LUSIFER (Pemberontakan di Bait Suci surgawi)

Kedudukan Lusifer di surga. Alkitab menyebutkan tentang dua kelas malaikat yang berbeda, yaitu serafim dan kerub. Dalam PL, kata “serafim” (jamak; tunggal: “seraf”) terdapat dalam tujuh ayat dengan makna yang berbeda sama sekali. Dalam bahasa Ibrani, שָׂרָף, saraf, dapat berarti ular berapi (=berbisa) atau juga makhluk mulia (=malaikat), berasal dari akar kata yang berarti “membakar” atau “bernyala-nyala” (Strong, H8313). Kata Ibrani seraf dalam pengertian sebagai “ular berbisa” digunakan dalam Bilangan 21:6, 8; Ulangan 8:15; Yesaya 14:29 dan 30:6. Sedangkan kata seraf yang merujuk kepada malaikat terdapat hanya dalam Yesaya 6:2, 6 yang menggambarkan penampilan fisik malaikat serafim dengan enam sayap (2 sayap menutupi muka, 2 sayap menutupi kaki, dan 2 sayap untuk terbang).

Kelompok malaikat yang kedua adalah kerub, berasal dari kata Ibrani כְּרוּב, keruv, yang berarti makhluk suci dan merujuk kepada “malaikat” (Strong, H3742). Dalam PL kata kerub (jamak; tunggal: “kerubim”) digunakan sebanyak 91 kali dalam 66 ayat, 27 kali penggunaan dalam bentuk tunggal dan 64 kali bentuk jamak. Dalam Alkitab kerub ditampilkan sebagai malaikat penjaga, misalnya yang menjaga Taman Eden sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan diusir keluar dari taman itu (Kej. 3:24), dan yang menjaga “tutup pendamaian” di mana terdapat tabut perjanjian yang disimpan di bilik mahakudus Bait Suci zaman Musa (Kel. 25:19-22; 37:7-9), dari mana Allah biasa berbicara kepada Musa (Bil. 7:89). Kitabsuci juga menyebutkan bahwa Allah “bertakhta di atas kerubim” (2Sam. 6:2), dan digambarkan bahwa Allah “mengendarai kerub” (2Sam. 22:11; Mzm. 80:2; 99:1). Dalam kitab Yehezkiel disebutkan bahwa Lusifer diberi tempat “dekat kerub yang berjaga” (Yeh. 28:14), yaitu takhta Allah, yang menandakan bahwa tadinya dia memiliki kedudukan sangat tinggi dan terhormat.

“Setelah menggambarkan kemegahan yang tiada taranya dari kerub, ayat itu berlanjut kepada kejatuhan moralnya. Kemuliaannya merasuk otaknya. Keelokannya membuat hatinya sombong, keagungannya merusak kearifannya, dan ‘dagang’nya–mungkin merujuk kepada fitnahannya terhadap tabiat Allah serta menggerakkan pemberontakan–menjadikan dia jahat” [alinea ketiga].

Deskripsi tentang Setan. Yehezkiel 28:12-17 (tentang raja Tirus) dan Yesaya 14:12-15 (tentang raja Babel) merupakan dua pasal yang mengandung “deskripsi alegoris” mengenai Lusifer yang tercampak menjadi Setan. Meskipun begitu para peneliti Alkitab masih belum sepaham bahwa ayat-ayat dalam dua pasal dari kitab yang berbeda ini memang bertutur perihal Setan, sebagian menganggap keduanya berbicara tentang dua orang raja dunia zaman purba yang penampilan fisik serta ketinggian hati mereka dapat diumpamakan seperti keelokan dan kesombongan Lusifer.

Berdasarkan prinsip hermenetika (metode penafsiran, khususnya ayat-ayat Alkitab), penafsiran demikian sering disebut sebagai “prinsip referensi ganda” (the principle of double reference), yaitu penafsiran primer atau langsung atas apa yang tersurat dan penafsiran sekunder atau tidak langsung atas apa yang tersirat. Contohnya seperti kata-kata dalam Hosea 11:1 yang secara primer dan langsung berbicara mengenai Israel sebagai satu bangsa, tetapi kata-kata yang sama dalam Matius 2:15 secara sekunder dan tidak langsung bertutur tentang Yesus Kristus. Contoh lainnya adalah dalam Ulangan 18:15 yang secara primer dan langsung adalah mengenai Yosua, tetapi ketika kata-kata yang sama digunakan dalam Kisah 3:22-23 maka perkataan itu secara sekunder dan tidak langsung merujuk kepada Yesus Kristus.

Dalam Yehezkiel 28:12-14 tertulis: “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya” (huruf miring ditambahkan). Tentu saja kata-kata ini tidak cocok untuk diterapkan secara primer dan eksklusif kepada raja Tirus sebab dia tidak pernah berada di Taman Eden, permata-permata itu tidak secara khusus disediakan baginya pada hari penciptaan, dan dia tidak ditempatkan dekat malaikat kerub apalagi di gunung kudus (=takhta) Allah.

Begitu juga, meskipun pada awalnya Yesaya pasal 14 berbicara tentang raja Babel, namun pada ayat 12-15 penuturannya beralih kepada Lusifer (“Bintang Timur” atau “Putra Fajar”) yaitu Setan. “Sementara ayat 12 dan 13 merupakan kalimat-kalimat dalam bentuk lampau, ayat 15 tiba-tiba berubah kepada bentuk yang akan datang. Perubahan dalam soal waktu ini menandakan bahwa mula-mula ada kejatuhan dari surga ke bumi (Yes. 14:12) dan bahwa akan ada kejatuhan kedua, dari bumi ke shĕ’owl (liang kubur), suatu waktu yang akan datang (Yes. 14:15). Ini tidak merujuk kepada raja Babel; gantinya, hal ini jelas merujuk kepada Lusifer” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pemberontakan Lusifer di surga?
1. Sebelum kejatuhannya Lusifer memiliki kedudukan yang tinggi, mungkin pemimpin dari kelompok malaikat kerub yang menaungi takhta Allah. Setelah pemberontakannya dia dicampakkan ke Bumi ini dan berubah menjadi Setan yang telah mengakibatkan kejatuhan Adam dan Hawa.
2. Kedudukan atau jabatan hampir selalu mendatangkan kesombongan, bahkan memicu ambisi untuk meraih posisi yang lebih tinggi lagi. Kesombongan raja Tirus dan raja Babel merupakan gambaran dari ciri tabiat Lusifer sebagaimana digambarkan dalam Yehezkiel 28 dan Yesaya 14.
3. Bercermin pada kejatuhan Lusifer, serta kehancuran raja Tirus dan raja Babel, kita bisa menarik pelajaran bahwa jabatan yang tinggi dan kekayaan serta keelokan penampilan dapat menjerumuskan seseorang sampai kepada tingkat yang sangat rendah dan memalukan.

Senin, 16 Desember
FITNAH ATAS TABIAT ALLAH (Tuduhan-tuduhan)

Fitnahan Setan. Tatkala menggoda Hawa di Taman Eden, setan yang menyaru seperti ular itu berkata, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1; huruf miring ditambahkan). Bayangkanlah nenek moyang pertama manusia itu ditempatkan di sebuah taman yang penuh pohon buah-buahan, tetapi mereka tidak boleh memakannya! Meskipun kita bisa menyebut perkataan setan itu sebagai “pernyataan jebakan” untuk memancing reaksi Hawa, kenyataannya dalam pertanyaan bersifat pernyataan tersebut terkandung tuduhan terhadap “kekejaman” Allah, bukan?

Menanggapi tuduhan si ular Hawa membela Tuhan dengan berusaha “memperbaiki” perkataan setan itu, “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi…” (ay 2; huruf miring ditambahkan). Tentu saja setan yang cerdik itu sudah mengantisipasi jawaban ini, sebab dia pasti sudah menguping perintah Allah sebelumnya kepada Adam, suami perempuan itu (Kej. 2:17). Perhatikan kata-kata ular berikut ini yang bersifat tuduhan palsu akan tabiat Allah: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4-5; huruf miring ditambahkan). Padahal yang ingin “menjadi seperti Allah” adalah setan sendiri (Yes. 14:13-14).

“Kejatuhan Adam dan Hawa mendudukkan Setan untuk sementara di takhta dunia ini. Beberapa ayat memberi kesan bahwa Setan telah mendapatkan jalan masuk ke istana surgawi lagi, tetapi sekarang sebagai ‘penguasa dunia ini’ (Yoh. 12:31), sebagai dia yang menguasai bumi tapi tidak memilikinya, lebih seperti seorang pencuri” [alinea kedua].

Mempertanyakan keadilan Allah. Penderitaan hidup merupakan faktor utama seseorang meragukan kasih Allah, dan itulah yang digunakan secara maksimal oleh Setan terhadap Ayub. Namun di sisi lain penderitaan hidup juga sering digunakan Allah untuk menguji kesetiaan dan ketabahan umat-Nya, sebagaimana hal itu berlaku bagi Ayub itu juga berlaku bagi kita sekarang. Dalam kasus Ayub, masalahnya bukanlah soal kehilangan harta kekayaan atau jiwa anak-anaknya maupun kesehatan fisik dirinya, tetapi ini adalah masalah teologis. Pengalaman Ayub sering menjadi pengalaman kita juga dalam tingkat kedahsyatan yang berbeda-beda, dan setiap orang yang mengalami penderitaan hidup selalu akan bertanya-tanya: Mengapa Tuhan membiarkan kita mengalami hal ini? Apakah Allah benar-benar mengasihi kita? Bagi kita yang mengetahui akhir dari kisah Ayub mungkin mudah untuk menjawab bahwa Allah memang kasih adanya, tetapi lain persoalannya kalau kita sendiri yang mengalaminya dan tidak tahu apa akhir dari kesusahan hidup ini. Melalui penderitaan hidup Setan mempengaruhi pikiran manusia untuk mempertanyakan tabiat Allah.

Akan halnya Yosua, sepintas lalu yang dituduh oleh Setan adalah sang imam besar yang memang jelas-jelas “mengenakan pakaian kotor” (Za. 3:3) ketika tampil di hadapan Allah. Pakaian kotor itu identik dengan kehidupan yang berlumur dosa sehingga Yosua tidak layak untuk melayani Dia. Namun dengan membiarkan Yosua dengan kehidupannya yang najis itu berdiri di hadapan Allah sebenarnya Setan sedang menuding Allah seolah-olah tidak adil. Tetapi malaikat Tuhan membela, “Kiranya TUHAN menghukum engkau hai Setan! Kiranya TUHAN yang menyayangi Yerusalem menghukum engkau. Orang ini bagaikan puntung kayu yang ditarik dari nyala api” (ay. 2, BIMK; huruf miring ditambahkan). Sebagai “puntung kayu” yang ditarik dari nyala api, Yosua adalah seorang diselamatkan Tuhan ketika dia seharusnya binasa. Sesuai dengan namanya, שָׂטָן, setan, artinya “musuh” atau “yang melawan.”

“Namun dalam kedua kasus isu sebenarnya adalah keadilan Allah. Pertanyaan di balik semua tuduhan itu adalah apakah Allah adil dan benar dalam tindakan-tindakan-Nya. Tabiat Allah sedang diuji. Apakah adil bila Allah menyelamatkan orang berdosa? Apakah Allah benar ketika Ia menyatakan orang yang tidak benar itu sebagai orang benar? Jika Ia adil, Ia harus menghukum orang yang tidak benar; jika Ia berkemurahan, Ia harus mengampuni mereka. Bagaimana bisa Allah melakukan kedua-duanya?” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Setan dan tuduhan-tuduhannya?
1. Sebagian orang harus membuat tuduhan karena tugas (sebagai profesi), sebagian lagi melontarkan tuduhan karena suka mempersalahkan (sebagai tabiat). Bagi Setan itu adalah stigmatisasi, sebagai “pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why. 12:10).
2. Setan bukan saja penuduh tapi juga pemfitnah. Dia memfitnah Allah dengan memutarbalikkan fakta untuk menipu Hawa sehingga memakan buah larangan dan berdosa. Apa yang mungkin tidak diperhitungkan oleh Setan ialah bahwa kasih Allah dapat membungkam tuduhan dan fitnahannya, seperti contoh kasus imam besar Yosua.
3. Setan menuduh anda dan saya dengan mengungkit masa lalu kita, tetapi dalam rahmat-Nya Tuhan menyelamatkan anda dan saya dengan memandang masa depan kita. Apabila Setan mengingatkan anda akan masa lalu anda, peringatkan dia akan masa depannya!

Selasa, 17 Desember
DILEMA YANG TERPECAHKAN (Pembenaran di Salib)

Kasih dan keadilan Allah. Sebagaimana yang pernah kita pelajari dulu, Allah itu kasih (Yoh. 3:26; 1Yoh. 4:8, 16) dan adil (Ul. 32:4; Rm. 9:14), dua sifat yang saling melekat dan tak terpisahkan. Mustahil Allah mengorbankan kasih-Nya demi menjaga keadilan-Nya, dan sebaliknya Allah juga tidak mungkin melepaskan keadilan-Nya demi mempertahankan kasih-Nya. Maka ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, dan dengan demikian seluruh umat manusia keturunan mereka juga jadi berdosa, Setan seakan mendapat kesempatan emas untuk menguji tabiat Allah. Dosa manusia bisa saja menjadi tantangan bagi Allah, tetapi dosa bukan suatu dilema bagi Allah yang mahakuasa.

Allah telah merancang jalan keluar atas dosa manusia, sebuah pemecahan tanpa mengorbankan kasih dan keadilan-Nya. Kasih Allah dinyatakan dengan mengutus Putra-Nya untuk menjadi “solusi” bagi penebusan dosa manusia. Rasul Yohanes menulis, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh. 4:10; huruf miring ditambahkan). Dalam kata-kata rasul Paulus: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Rm. 3:23-25; huruf miring ditambahkan).

“Sejak dari mulanya Allah tidak meninggalkan keraguan bahwa Ia akan mematahkan tuduhan-tuduhan Setan dan mempertunjukkan kasih dan keadilan-Nya yang terutama. Keadilan-Nya menuntut bahwa harus ada ganjaran hukuman untuk dosa manusia. Kasih-Nya berusaha memulihkan umat manusia ke dalam persekutuan dengan-Nya. Bagaimana Allah dapat mewujudkan keduanya?” [alinea pertama].

Salib Kristus sebagai solusi. Kematian Yesus Kristus di kayu salib bukan saja menjadi solusi atas dosa manusia, tetapi salib itu juga adalah cara Allah untuk membela keadilan dan kasih-Nya. Melalui kematian Yesus itu dosa manusia mendapatkan ganjaran hukum, dan melalui kematian Yesus pula manusia yang berdosa beroleh kesempatan untuk diselamatkan. Dalam gaya bahasa puitis pemazmur menulis: “Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:10-11).

“Tabiat kasih dan keadilan Allah telah dinyatakan dalam manifestasi yang sepenuhnya pada kematian Kristus. Allah mengasihi kita dan mengutus Putra-Nya untuk menjadi persembahan kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yoh. 4:10; Yoh. 3:16). Oleh membayar dalam diri-Nya hukuman karena pelanggaran hukum itu, Allah menunjukkan keadilan-Nya: tuntutan hukum harus dipenuhi, dan itu adalah di salib tapi dalam diri Yesus” [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang kasih dan keadilan Allah di salib Kristus?
1. Kasih dan keadilan Allah adalah seperti dua sisi dari satu mata uang, keduanya saling melekat dan tak terpisahkan. Keberdosaan anda dan saya tidak menempatkan Allah dalam posisi dilematis, sebaliknya Allah menjadikan penanganan dosa manusia untuk mempertegas tabiat-Nya.
2. Pada salib Kristus keadilan Allah dipertahankan oleh pelaksanaan hukuman atas dosa melalui kematian Yesus, dan pada salib Kristus juga kasih Allah dinyatakan melalui kematian Yesus yang memperdamaikan manusia berdosa dengan Allah.
3. Dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1Yoh. 3:4), dan pelanggaran hukum Allah adalah sikap permusuhan terhadap Allah (Rm. 8:7), tetapi salib Kristus memulihkan hubungan itu sehingga kita diperdamaikan dengan Allah (Rm. 5:10).

Rabu, 18 Desember
KEADILAN ALLAH TERPELIHARA (Pembenaran Dalam Penghakiman)

Allah, Hakim yang adil. Sementara kasih Allah ingin menyelamatkan semua manusia berdosa, penyelamatan itu harus dilakukan berdasarkan keadilan-Nya. Allah mempunyai sarana untuk penyelamatan yang adil, yaitu melalui penghakiman. Sebagian besar orang Kristen mengesampingkan “prosedur” penghakiman Allah dan menganggap bahwa setiap orang yang percaya pasti selamat berdasarkan doktrin “sola fide” (hanya oleh iman saja). Tetapi kalau berbicara soal percaya, Setan sendiri juga percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Penebus. Buktinya dia berusaha hendak membunuh Yesus ketika masih bayi melalui raja Herodes (Mat. 2:12-13), dan belakangan dia berupaya menggoda Yesus demi menggagalkan missi Kristus di dunia ini (Mat. 4:1-11). Bahkan, setan-setan pernah mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 3:11; 5:6-9). Mungkin kita bisa mengatakan bahwa “kepercayaan” Setan terhadap keilahian Kristus itu hanya sekadar pengetahuan yang dimilikinya, bukan sebagai iman yang dihidupkannya. Tapi Setan memang tidak mungkin beriman kepada Kristus yang adalah musuh bebuyutannya, dan lebih mustahil lagi bahwa Setan mau menurut kepada Kristus, sedangkan iman harus disertai dengan penurutan (Yak. 2:22, 24).

Pemazmur menyatakan bahwa “Allah adalah Hakim yang adil” (Mzm. 7:12; 9:5). Pernyataan ini dipertegas lagi oleh rasul Paulus (2Tim. 4:8), juga oleh malaikat serta mezbah (Why. 16:5, 7), dan oleh penduduk surga (Why. 19:2) sebagaimana disaksikan oleh rasul Yohanes. Fakta bahwa Allah disebut “Hakim yang adil” berkaitan dengan pelaksanaan dan keputusan penghakiman atas manusia pada “hari penghakiman” (Mat. 12:36; 2Ptr. 2:4, 9; 1Yoh. 4:17). Sesungguhnya, penghakiman diperlukan dalam menetapkan siapa orang-orang yang layak untuk diselamatkan (=masuk surga) dan mana yang patut untuk dibinasakan (=masuk neraka). Melalui prosedur penghakiman ini keadilan Allah terpelihara dan kasih Allah dipertahankan.

“Akan tetapi, penghakiman itu bukan hanya untuk kita. Penghakiman itu juga bertujuan untuk membenarkan Allah di hadapan alam semesta…Tabiat Allah akan dinyatakan dalam penghakiman-Nya. Apa yang telah dimengerti oleh Abraham pada akhirnya akan menjadi nyata kepada seluruh umat manusia: ‘Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?’ (Kej. 18:25). Tahapan-tahapan penghakiman yang berbeda, dengan pemeriksaan kitab-kitab yang terbuka, memastikan bahwa para malaikat (dalam penghakiman pra kedatangan kedua) dan orang-orang benar (dalam penghakiman pada masa seribu tahun) dapat membuktikan dan memastikan ulang bahwa Allah itu adil dalam perlakuan-Nya terhadap umat manusia dan bahwa Ia sudah menunjukkan kemurahan dalam setiap kasus” [alinea kesatu: kalimat terakhir; alinea kedua].

Kristus ditinggikan. Pada akhirnya, penghakiman itu tidak saja untuk mengagungkan tabiat Allah–yaitu: kasih yang berkeadilan, dan adil yang berpengasihan–tetapi juga untuk meninggikan Yesus Kristus atas pelayanan-Nya, mulai dari kematian penebusan-Nya di dunia ini hingga pembelaan-Nya dalam penghakiman surgawi dan pendamaian-Nya di Bait Suci surgawi. Semasa hidup-Nya di bumi ini Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:7-8). Ketaatan Kristus mengemban missi penyelamatan manusia dari Allah Bapa itulah yang membuat Dia dianugerahi dengan kekuasaan dan ditinggikan sehingga “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (ay. 10-11).

Manusia bisa saja meremehkan Yesus Kristus dan menolak kematian penebusan-Nya, tetapi itu tidak berpengaruh apapun terhadap manfaat dari penebusan pada manusia dan terhadap kenyataan bahwa Allah kelak akan menyelamatkan manusia yang percaya kepada injil Yesus Kristus. Seperti kata rasul Paulus, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah…Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1Kor. 1:18, 21).

“Pada akhirnya, semua akan mengakui keadilan Allah dalam meninggikan Kristus sebagai Tuhan. Dengan cara ini seluruh ciptaan akan mengakui tabiat Allah, yang telah menjadi inti dari Pertentangan Besar itu, yaitu adil dan setia. Bahkan Setan, si musuh besar Kristus, akan mengakui keadilan Allah dan tunduk pada keunggulan Kristus” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang pengakuan akan keadilan penghakiman Allah?
1. Kasih Allah menuntut penyelamatan manusia, tetapi keadilan menuntut penyelamatan itu dilakukan melalui proses penghakiman. Penghakiman Allah itu bukan untuk mempersulit keselamatan manusia tetapi untuk memelihara tabiat Allah yang adil.
2. Kematian Yesus adalah “dasar hukum” dari keselamatan manusia, penghakiman ialah “dasar moral” bagi penyelamatan itu. Ketika Allah melaksanakan penghakiman, keselamatan manusia menjadi hasil dari “tindakan yang benar dengan cara yang benar” (do the right things and do the things right).
3. Sesudah kematian-Nya Yesus diangkat ke surga “lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk. 16:19). Ini sesuai dengan pernyataan Yesus sendiri (Mat. 26:64) dan kemudian disaksikan oleh Stefanus dalam suatu pengalaman teofania (Kis. 7:55-56). Allah menghargai dengan cara yang istimewa atas pengorbanan Putra-Nya.

Kamis, 19 Desember
UMAT ALLAH DALAM SOROTAN (Tontonan Kosmis)

Mengemban reputasi Allah. Kepada jemaat di Korintus rasul Paulus menulis, “Saudara sendirilah surat pujian kami, yang tertulis di dalam hati kami dan yang dapat diketahui dan dibaca oleh setiap orang. Mereka sendiri dapat melihat bahwa Saudara merupakan surat yang ditulis Kristus, yang dikirim melalui kami. Surat itu ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup; bukan juga di atas batu tulis, tetapi pada hati manusia” (2Kor. 3:2-3, BIMK; huruf miring ditambahkan). Secara kontekstual, kata-kata ini merupakan suatu ungkapan pujian terhadap kehidupan rohani dari orang-orang Kristen di kota itu yang merupakan hasil penginjilannya. Sang rasul bukan hendak membanggakan diri atas kesuksesan penggembalaannya, tetapi seperti terungkap pada bagian berikutnya dia memberikan kredit atas keberhasilan itu kepada Tuhan (ay. 5, 6).

Namun apa yang tersirat dalam kata-kata pujian tersebut ialah adanya suatu tanggungjawab moral di pundak setiap orang Kristen sebagai “surat Kristus” yang mengemban reputasi Allah. Umat Kristen itu adalah “bangsa yang terpilih, imam-imam yang melayani raja, bangsa yang kudus, khusus untuk Allah, umat Allah sendiri” dan bahwa anda dan saya telah dipilih dan dipanggil Allah “keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya yang gemilang, dengan maksud supaya kalian menyebarkan berita tentang perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa” (1Ptr. 2:9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Dalam hal ini “menyebarkan berita” bukan terbatas pada berkhotbah dari atas mimbar atau kegiatan penginjilan lainnya, tetapi bahwa kehidupan kita sehari-hari yang disaksikan dunia itulah pemberitaan yang paling berdayaguna. Seperti peribahasa mengatakan, “tingkah laku berbicara lebih nyaring daripada kata-kata” (actions speak louder than words).

“Pada Khotbah di atas Bukit, Yesus mengucapkan perkataan yang luar biasa ini: ‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memulikan Bapamu yang di surga’ (Mat. 5:16). Dengan ini Ia menyatakan suatu prinsip yang walaupun mudah disalahpahami namun terlihat di seluruh Alkitab. Hal itu bertutur tentang bagaimana kita sebagai pengikut-pengikut Kristus dapat membawa kemuliaan ataupun kehinaan bagi Allah melalui perbuatan kita” [alinea kesatu].

Pengalaman Israel purba. Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah berdasarkan perjanjian yang mengikat antara Allah dengan Abraham. Tetapi perjalanan sejarah bangsa Israel purba terbukti merupakan riwayat kehidupan rohani bagaikan permainan roller coaster yang melaju naik-turun dan berkelok-kelok dengan sangat cepat seperti yang dapat kita saksikan di arena-arena rekreasi semacam Dunia Fantasi di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Terkadang kerohanian mereka berada begitu tinggi, sekonyong-konyong terhempas jauh ke bawah dalam tempo yang sangat cepat. Meskipun begitu Allah tidak jemu-jemunya memanggil mereka kembali untuk bertobat dan diberkati. Allah juga berkepentingan pada pertobatan umat-Nya supaya melalui kehidupan pertobatan mereka kekudusan-Nya dipulihkan.

Allah berfirman kepada bangsa itu: “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan…Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yeh. 36:23, 26-27; huruf miring ditambahkan). Kehidupan yang melanggar hukum Allah adalah kehidupan yang menajiskan kekudusan nama-Nya; kehidupan yang taat pada hukum Allah meninggikan nama-Nya. Hal itu berlaku bagi umat Tuhan sepanjang zaman, Israel jasmani zaman purba maupun “Israel rohani” zaman moderen!

“Pada waktu yang sama para pengikut Kristus di zaman Perjanjian Baru terpanggil menjadi ‘tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat, dan bagi manusia’ (1Kor. 4:9). Jadi, apa yang kita lakukan bukan hanya disaksikan oleh orang lain tapi juga oleh makhluk-makhluk surgawi yang cerdas. Kesaksian macam apa yang kita bawakan? Melalui kehidupan kita, kita bisa memberitakan ‘pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga’ (Ef. 3:10). Atau kehidupan kita dapat membawa hinaan dan nista pada nama Tuhan yang kita akui dan layani” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hubungan antara nama baik Tuhan dan kehidupan kita?
1. Pada setiap zaman Allah mempunyai satu umat yang diandalkan untuk menjaga nama baik-Nya di tengah dunia yang korup dan memelihara kekudusan-Nya di tengah kenajisan. Melalui perilaku hidup umat-Nya itu Allah ingin dunia mengenal Dia yang reputasi-Nya telah dirusak oleh Setan selama berabad-abad.
2. Sejak semula Allah menaruh kepercayaan pada manusia, itulah sebabnya Ia memberikan Taman Eden kepada Adam dan Hawa sebagai tempat tinggal, sampai mereka terbukti tidak dapat dipercaya. Allah juga mempercayakan kekudusan nama-Nya kepada umat Israel purba, sampai mereka terbukti gagal memeliharanya.
3. Kepada kita sebagai umat pilihan-Nya pada zaman ini Allah juga mempercayakan nama baik-Nya dan kekudusan-Nya agar dijaga dengan baik sampai Kristus datang kedua kali. Pertanyaan yang sama berulang: Apakah anda dan saya akan terbukti bisa dipercaya dan berhasil memeliharanya, atau juga gagal?

Jumat, 20 Desember
PENUTUP

Kristus mewakili Allah, kita mewakili Kristus. Berulang-ulang Yesus menyatakan bahwa Ia datang ke dunia ini karena diutus oleh Bapa-Nya dan dengan demikian mewakili Allah (Mrk. 9:37; Luk. 4:18; 10:16; Yoh. 4:34; 5:30, 36-37; 6:38-39, 44, 57; 7:29). Allah bukan saja mengutus Putra-Nya itu ke dunia ini tetapi juga dipercayakan untuk mewakili-Nya, dan berdasarkan wewenang itu Kristus kemudian mengangkat pengikut-pengikut-Nya untuk selanjutnya mewakili Dia kepada masyarakat dunia lainnya. Jadi, pada prinsipnya dengan mewakili Kristus anda dan saya juga mewakili Allah Bapa yang diwakili oleh Kristus itu. Itu sebabnya Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku” (Mat. 10:40).

Salah satu maksud utama Putra Allah diutus ke dunia ini dalam pribadi Yesus Kristus adalah untuk memperkenalkan Allah kepada dunia dan sekaligus memperbaiki reputasi-Nya yang telah diputarbalikkan oleh Setan dengan tujuan untuk menipu manusia, sebuah usaha yang telah dilakukannya pertama kali di Taman Eden dan sukses, dan yang akan terus dilakukan dengan semakin dahsyat terutama menjelang hari-hari terakhir. Tujuan untuk memperkenalkan tabiat Allah yang sesungguhnya kepada dunia dan memulihkan nama baik Sang Pencipta itulah yang diabaikan oleh banyak orang.

“Missi Kristus, yang begitu samar-samar dipahami dan nyaris tak dimengerti, yang memanggil Dia dari takhta Allah kepada misteri mezbah salib Golgota, akan semakin terbuka kepada pikiran dan akan nyata bahwa dalam pengorbanan Kristus terdapat sumber dan prinsip dari setiap missi lainnya dari kasih” [alinea terakhir].

Sementara dunia saat ini menghanyutkan sebagian dari kita ke dalam suasana perayaan Natal, ada baiknya kita memperdalam pemahaman kita tentang missi yang diemban Anak Allah ketika datang ke dunia ini dua ribuan tahun silam dalam sosok seorang Anak Manusia. Meskipun kita tidak percaya soal tanggal kelahiran-Nya tapi kita percaya bahwa Dia pernah lahir dan hidup di atas bumi ini, dan kita pun percaya bahwa kelahiran Yesus Kristus diutus oleh Allah. Kedatangan Anak Allah yang pertama membawa missi untuk menyingkapkan tabiat Allah yang sebenarnya, dan pada waktu yang sama membawa pesan damai dari surga kepada dunia yang berdosa.

“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol. 1:21-22).

Leave a Reply