Sekeping Uang Perak

January 30, 2014 - Maxwel Kapitan

Seorang  gadis kecil mempoleh sekeping uang logam perak yang diberikan oleh  
ayahnya. Dia sangat senang dan bahagia, karena itu adalah uang  pertamanya. Ia
sangat menyayangi uang logam perak itu, dijaga baik-baik,  disimpannya dalam tas
saku beludru yang selalu tergantung di lehernya.Bila malam, selalu tas beludru itu digenggamnya  erat-erat seakan banyak sekali
pencuri yang selalu mengintai logamnya.  Bangun pagi, hal pertama yang
dilakukannya adalah mengambil minyak dan  memoles logam peraknya agar tampak
bersinar.

Setiap  ada kesempatan, uang logam itu selalu ia pamerkan kepada setiap
teman-temannya, logam perak itu adalah harta paling berharga miliknya.  Tak
ternilai, tak akan di tukarkan dengan apapun, dan akan dijaganya  seumur
hidupnya. Begitu janjinya di dalam hati.

Pada  suatu kesempatan, gadis kecil ini berjalan mengelilingi pertokoan.
Dilihatnya seorang pria muda seusianya membawa sekeping logam seperti  miliknya.
Hanya warna yang membedakannya. Sang pria muda itu memiliki  logam yang berwarna
kuning mengkilap.

“Wow,  logam emas!” katanya dalam hati. “Aku harus memilikinya,” pikir sang
gadis kecil. Dihampirinya sang pria muda, “Boleh ku tukar logam perak ku  dengan
logam mu?” tanya nya kepada si pria.

“Apa  kamu yakin mau menukarlogam perak mu dengan punya ku?” kata si pria
memastikan. Si gadis kecil diam
sejenak, ia berpikir, ini  logam kesayangannya, apa akan ku tukar ya. Tetapi
cahaya silau yang  terpantul dari logam milik si pria muda membuyarkan
lamunannya. “Iya,  akan ku tukar!”

Demikianlah sekarang sang gadis  kecil miliki logam yang berwarna kuning
mengkilap yang ia peroleh  dengan menukarkan logam perak kesayangannya.
Diletakkanlah dalam logam  barunya dalam tas beludrunya, dan dibawa pulang.
Dengan bangga gadis  kecil menunjukan logam barunya kepada teman-temannya,
tetapi
semua  berkata logam perak miliknya yang lama lebih bagus.

Ia  menjadi marah. Si gadis kecil pulang ke rumah, dan memperlihatkan logam
barunya kepada si ayah, si ayah bilang bukan keputusan yang bijak  menukarkan
logam kesayangannya dengan logam barunya itu. Si gadis kecil  bertambah kesal.

Ia mengurung diri di kamar,  dan memperhatikan logam barunya. Ini logam emas,
warnanya kuning  mengkilap, bersinar lebih indah dari pada logam perak ku yang
lama.  harganya pasti lebih mahal. Pasti lebih berharga. Dengan meyakinkan
dirinya sendiri, sang gadis tertidur pulas.

Hari  berganti hari, si gadis sudah beberapa hari tidak membuka tas  beludrunya.
Ketika ia teringat akan tas beludrunya, ia membuka dan  mengeluarkan uang logam
yang terdapat di dalamnya. Diperhatikan logam  barunya. Lalu si gadis mengambil
minyak untuk menggosok logamnya. Tak  lama si gadis mengambil kain lap. Entah
mengapa dengan agak panik si  gadis mengambil tisue. Ia terus menggosok logamnya
dengan minyak dan  lap, kemudian menggosoknya lagi dengan tissue.

Melihat  tingkah anaknya, si ayah menghampiri si gadis kecil dan bertanya: “Ada
apa gadis manis ayah, kok tampak bingung?”

Dengan  mata berlinang air mata yang hampir tertumpah, si gadis berkata “Ayah,
logam baru ku tampak kusam, tampak hitam, tidak bisa bersih dengan  minyak, dan
lap yang biasa. Semakin ku gosok, ia semakin kusam.”
Dengan  menghela nafas panjang, sang ayah berkata dengan tenang: “Gadis kecil
ayah yang manis, kamu tahu logam yang ayah beri kepada mu logam apa?”  tanya
sang ayah.

“Tahu, logam perak kan ya?”
“Betul,  lalu kamu tahu ini logam apa?

“Ini logam emas  yang seharusnya lebih berkilau indah dan mahal dari pada logam
perak  kesayangan ku itu kan yah?”

Sang ayah berkata  dengan sabar, “Benar ini tampak seperti logam emas, tetapi
ini bukan  logam emas anakku. Ini adalah logam tembaga. Ia tampak seperti emas,
tetapi tidak seindah emas, bahkan tidak seindah perak yang ayah  berikan.”

Mengertilah si gadis kecil mengapa  semua teman-teman dan ayahnya dari semula
berkata logam perak  kesayangannya lebih indah. Menyesalah si gadis kecil.
Kemudian ia  berusaha mencari pria muda yang menukar logam perak miliknya,
bahkan ia  membawa beberapa boneka kesayangannya untuk ditebus dan ditukarkan
kembali dengan logam perak miliknya. tetapi ia tidak menemukan anak  laki-laki
itu lagi.

Sering kali kita tidak  mengetahui, tidak menyadari betapa berharganya apa yang
kita miliki saat  ini. Apapun itu, orang-orang yang kita sayangi dan yang
menyayangi  kita, benda, waktu, kesempatan, atau apapun itu. Sering kali kita
membuat kita memandang rendah apa yang kita miliki saat ini.

Rumput  tetangga terlihat lebih hijau. Sering kita terpikat oleh silaunya
pantulan cahaya milik orang lain. Padahal hal yang terlihat belum tentu  seindah
nampaknya. Sering kita melihat orang lain nampak lebih bahagia,  kekasih orang
lain lebih tampan/cantik, atau apa saja, sehingga kita  lupa bersyukur atas apa
yang kita punya.

Kita  sering menukar harta kita yang paling berharga dengan sesuatu yang
membuat kita terpukau, tetapi hal itu hanya sesaat. Ketika kita kemudian
menyadarinya, kita sudah melakukan kesalahan. Kita menyesal. tetapi  belum tentu
sesuatu itu bisa diperbaiki dengan mudah. Konsekuensi pasti  ada. Kita harus
lebih berupaya memperbaiki kesalahan kita.

Bersyukurlah,  berpikir dengan bijak, hargai mereka yang menyayangi, sayangi
mereka  yang kau sayangi. (TDmail)

“Mengucap syukurlah  dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di
dalam Kristus  Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Salam
Maxwel Kapitan

Leave a Reply