SEPULUH PERINTAH ALLAH – STANDARD ALLAH BAGI MANUSIA DALAM BERTINGKAH LAKU

September 19, 2012 - Alfred E. Boling

Oleh Alfred E. Boling

Kebanyakan orang Kristen dari berbagai denominasi mempunyai kesan bahwa adalah legalist, karena memelihara Hukum Allah adalah suatu hal yang penting untuk memperoleh keselamatan.  Pertanyaan:  Apa sikap MAHK terhadap hukum, dan bagaimana pandangan MAHK sehubungan dengan posisi Protestant sepanjang sejarah?

Posisi MAHK sehubungan dengan Sepuluh Perintah Allah dijelaskan di dalam “Fundamental Beliefs of  Sevnth-day Adventist,” seksi 6, sebagai berikut:   “Kehendak allah sehubungan dengan petunjuk morl dipadukan di dalam hukumNya, yaitu Sepuluh Perintah; dan bahwa hal ini adalah g moral yang tertinggi, perintah yang tidak dapat berobah, yang mengikat setiap manusia, tanpa dibatasi oleh usia (Keluaran 20:1-17).”

Sepuluh Perintah yang diucapkan oleh Allah sendiri dari gunung Siani berbeda dari Perintah Allah lainnya yang terdapat di dalam Alkitab.  Perintah itu sendiri merupakan bukti terbaik dari kehendak dan sifatNya.  Manusia yang bermoral tentu menyetujui perintah, dan adalah tidak mungkin bagi seorang Kriaten yang diterangi oleh Roh Kudus, untuk membayangkan kondsi atau keadaan, bahwa Allah adalah tetap Allah, dan manusia adalah makhluk moral, sehingga Perintah Allah tidak dapat berlaku secara efektif di antara kedua oknum ini.

Gambaran yang benar ialah bahwa Perintah Moral lebih dari sekedar Undang-Undang resmi.  Perintah itu adalah salinan dari Tabiat Allah.  Seorang Theolog dari Gereja Baptis, A.H. Strong,  mengatakan: “Perintah Allah, secara sederhana adalah pernyataan sifat Allah dalam bentuk syarat moral, dan suatu pernyataan yang penting dri sifat itu tampak dari keberadaan makhluk moral (Mazmur 19:7; bandingkan dengan ayat 1).  Terhadap Perintah ini, semua orang membrikan kesaksian.  Bahkan hati nuruani dari para penyembah berhalapun memberikan kesaksian tentang hal ini (Roma 2;14, 15).  Mereka yang memiliki Perintah tertulis melihat perintah dasar ini sebagai pedoman (Roma 7:14; 8:4).  Penjelmaan yang sempurna dari Perintah ini dapat dilihat hanya di dalam Yesus Kristus (Roma 10:4; Pilipi 3:8, 9”.  

Salah seorang Pioneer MAHK,  Ellen Gould Harmon, yang lebih dikenal dengan nama Ellen G. White mengekspresikan kebenaran ini dengan gaya yang sama: “Perintah Allah sama sucinya dengan Allah.  Perintah itu adalah pernyataan kehendakNya, sebuah salinan tentang sifatNya, pernyataan tentang kasih dan hikmat Tuhan.  Keharmonisan ciptaan tergantung pada kesempurnaan yang serasi dari semua ciptaan … kepada hukum Pencipta.”  

“Keindahan tabiat Illahi dari Kristus,  tentang siapa yang termulia dan paling lemah lembut di antara manusia, hanya satu pantulan; tentang orang itu Salomo menulis setelah mendapat ilham Roh Allah,bahwa Dia adalah yang termulia di antara selaksa orang,  … segala yang ada padanya menarik” (Kidung Agung 5:10-16);  raja Daud melihatNya dalam penglihatan nubuat, dan berkata:   “Engkau yang terelok dari antara anak-anak manusia (Mazmur 45:2); Yesus, citra yang jelas dari Bapa, cahaya dari kemuliaanNya; Penebus yang menyangkal diri, sepanjang penjelmaanNya yang penuh kasih di atas dunia adalah suatu gambaran hidup dari sifat Perintah Allah.  Di dalam kehidupanNya dinyatakan bahwa kasih yang lahir dari sorga, prinsip-prinsip menyerupai Yesus, mendasari hukum-hukum kejujuran abadi.”  

 

Untuk memperoleh pengrtian yang yang benar secara lengkap tentang apa yang Allah maksudkan melalui PerintahNya, orang Kristen harus berbalik kepada Kristus.  Dia yang memberikan kesanggupan kepada jiwa yang baru lahir untuk mulai menghidupkan kehidupan yang baru.  Hal ini adalah merupakan bukti bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam hatinya, dan karena orang percaya, karena kepatuhannya, maka ia menghidupkan prinsip tabiat Allah di dalam hati dan tabiatnya.

 

Posisi MAHK berkenaan dengan hubungan antara Sepuluh Perintah Allah dengan keselamatan dinyatakan di dalam Fundamental Belief of Seventh-day Adventist, seksi ke 8, yang berbunyi sebagi berikut:

“Sepuluh Perintah menunjuk kepad dosa, dan hukumannya ialah maut.  Perintah itu sendiri tidak dapat menyelamatkan orang berdosa dari dosanya, juga tidak dapat membernya kuasa untuk mencegahnya dari berbuat dosa.  Dalam kasih dan anugerahNya yang tidak terbatas, Allah menyediakan satu cara yang olehnya penyelamatan manusia dari dosa dapat dilaksanakan.  Ia menyediakan pengganti, yaitu Kristus yang benar, untuk mati sebagai pengganti manusia, membuat “diriNya berdosa untuk kita, … agar kita dapat dibuat benar oleh Allah di dalam Dia” (II Korentus 5:21).  Bahwa seorang dibenarkan bukan oleh penurutan akan Perintah Allah, tetapi oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.  Oleh menerima Kristus, manusia didamaikan dengan Allah, dibenarkan oleh darahNya dari dosa masa lalu, dan menyelamatkan mereka dari kuasa dosa melalalui tinggalnya Kristus di dalam hatinya.  Dalam hal ini Injil menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16).  Pengalaman ini ditempah oleh agen Illahi, yaitu Roh Kudus, yang meyakinkan tentang bahaya dosa dan menuntun kepada Penanggung dosa, bahwa orang percaya dapat masuk ke dalam hubungan Perjanjian Baru, di mana hukum Allah tertulis di dalam hati mereka, dan melalui kuasa yang memungkinkan, Kristus tinggal di dalam dia, hidupnya dituntun kepada persesuaian dengan perintah Allah.  Kehormatan semata-mata milik Kristus (I Yohanes 2:1; 3:4;  Roma 3:20; 5:8-10; 7:7; Efesus 2:8-10; 3: 17; Galatia 2:20; Ibrani 8:8-12).  

 

Posisi MAHK ini  sangat serasi dengan apa yang diajarkan sepanjang sejarah pengakuan iman dari waktu ke waktu, sebagaimana dicatat dalam sejarah.  Berikut ini beberapa catatan sejarah pengakuan iman:

  1.  The Waldensian Catechism, katekismus orang-orang Waldensi yang diterbitkan pada tahun 1500 dan The Conenfession of Waldenses, pengakuan iman orang-orang Waldensi yang diterbitkan pada tahun 1655.  Keduanya menyebutkan bahwa Sepuluh Perintah Allah dan Doa Tuhan Yesus sebagai “dasar iman dan kesetiaan kami.”  Selanjutnya, dikatakan bahwa “Iman yang hidup ialah percaya kepada Allah, dan maksud dari hal itu ialah mencintaiNya dan menuruti perintahNya.”
  2.  Luthter’s Small Catechism, katekismus Martin Luther yang kecil yang diterbitkan pada tahun 1529, kutipan tentang Sepuluh Perintah Allah, menyebutkan:  “Kita harus mencintai dan percaya kepadaNya, dan secara gembira menuruti PerintahNya …”  
  3.  The Heidelberg Catechism, katekismus Heidelberg yang diterbitkan pada hatun 1563, merupakan symbol-simbol reformasi yang paling popular dan pertama kali “ditanamkan” di daratan Amerika di antara gereja-gereja reformasi Belanda dan Jerman , setelah beberapa seri pertanyaan tentnang Sepuluh Perintah, menyatakan bahwa Sepuluh Perintah dengan tegas memerintahkan kepada kita bahwa kita harus “lebih bersungguh-sungguh mencari pengampunan dosa dan kebenaran di dalam Kristus;” dan “menjadi lebih diubahkan kepada keserupaan dengan gambar Allah.”
  4. The (Lutheran) Formula of Concord,  Formula Concord dari kaum Lutheran yang diterbitkan pada tahun 1576, mengatakan bahwa orang-orang Kristen harus bebas dari “kutuk” dan “ketidakleluasan” hukum, tetapi bukan dari hukum itu sendiri.  Pada Sepuluh Perintah Allah ini orang Kristen bertindak sebagai pengantara siang dan malam, dan “terus menerus melatih diri sendiri dalam menuruti Perintah ini.” Perintah ini mengecam “kepalsuan dan kejahatan” dari konsep yang mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah bukanlah standard orang Kristen.
  5. The Soctch Confession of Faith, Pengakuan Iman Scotch, yang diterbitkan pada tahun 1540, pada artikel XV, menekaknkan kesempurnaan Perintah itu dan ketidaksempurnaan manusia.
  6. The Westminster shorter Catechism, Katekismus Westminster yang diterbitkan pada tahun 1647, diadopsi oleh gereja Scotland pada tahun 1648, oleh Sinode Presbiterian New York dan Philadelphia pada tahun 1788, dan hampir oleh semua kaum Calvinist, Presbiterian, dan gereja-gereja congregational.  Katekismus ini digunakan secara lebih luas daripada yang lainnya, kecuali katekismus Luther yang kecil dan katekismus Heidelberg.  Katekismus ini menyatakan bahwa Sepuluh Perintah, atau Hukum Moral, menyatakan kewajiban yang Allah kehendaki dari manusia.  Dan ditambahkan bahwa “kita terikat untuk menuruti seluruh kehendakNya
  7.  The Yew Hamshire Baptist Cofession, Pengakuan Iman Gereja Baptist New Hamshire yang diterbitkan pada tahun 1833, diterima di Negara-negara bahagian Utara dan Barat Amerika Serikat.  Artikel XII dari Katekismus ini, yang berjudul “Keharmonisan Hukum Dan Injil,” menyatakan bahwa Perintah Allah adalah “aturan kekal dan tidak dapat berubah dari keperintahan moral Allah, dan oleh karena itu, kita, melalui Pengantara kita, memperoleh “kesenggupan untuk menuruti hukum kudus,” sebagaimana penurutan kepada Injil.

Selanjutnya, MAHK mempunyai pemahaman yang sama dengan ribuan orang dari denominasi Kristen lainnya, termasuk di dalamnya, seperti John Calvin, John Wesley, Spurgeon, Clarke, Dwight L. Moody, G. Campbell Morgan, Henry Clay Trumbull, Billy Graham.  Mereka semua ini percaya kepada keabsahan dan kekekalan Hukum Moral Allah, yaitu Sepuluh Perintah Allah, dan kepercayaan mereka itu terbukti melalui pernyataan mereka berikut ini:

8. John Calvin – Aturan yang kekal bagi kehidupan:  Kita tidak haus mengira bahwa kedatangan Yesus sudah membebaskan kita dari otoritas hukum; karena Perintah itu merupakan adalah aturan kekal bagi kehidupan dari seorang yang beriman dan hidup suci, dan tentunya hukum adalah susuatu yang tidak dapat berobah sebagaimana keadilan Allah (yang tidak dapat berobah) yang kesatuannya tatap dan sama. – Commentary on a Harmony of the Evangelist (1845), vol. I, hal. 277.

9. John Wesley – Tetap Berlaku:  Tetapi Hukum Moral terdapat di dalam Sepuluh Perintah, dan dilaksanakan oleh para nabi, Ia tidak meniadakannya.  Itu bukan dirancang untuk ditiadakan oleh kedatangannya, walau hanya untuk bahagian tertentu.  Ini adalah Hukum yang tidak pernah ditiadakan yang “murni, tanpa cacat dan cela sebagaimana saksi yang setia di Sorga.”  Moral berdiri pada suatu dasar yang sama sekali berbeda dari hukum tatacara upacara ibadah …  setiap bahagian dari hukum ini harus terus berlaku pada setiap manusia, dan pada setiap zaman; sebagaiman juga tidak tergantung pada waktu dan tempat, atau keadaan tertentu yang dapat mengubah, tetapi tergantung pada sifat Allah, dan sifat manusia, dan hubungan yang tidak dapat berubah satu dengan yang lain.  – Sermon on Several Occations, vol. I, hal. 221, 222.

 

10. G. Campbell Morgan – Penurutan Oleh Iman:  Hal itu dapat terjadi bilamana kasih karunia Allah menyanggupkan manusia untuk memelihara hukum, sehingga mereka bebas dari hukum; sebagaimana orang-orang yang bermoral yang hidup menurut hukum Negara dan tidk dihukum.  Allah tidak mengesampingkan Hukum, tetapi sebaliknya Ia mempunyai cara oleh mana mnusia dapat hidup sesuai dengan hukum, sehingga bebas dari tuntutan hukum.  – The Ten Commandments, (1901), hal. 23.

11.  Spurgeon – Hukum Allah Adalah kekal: Kesalahan sangat besar telah dibuat berkenaan dengan hukum.  Beberapa waktu yang lalu ada sekelompok orang dari antara kita yang menegaskan bahwa Hukum itu sama sekali telah dihapuskan dan telah dibatalkan, dan mereka mengajarkan secara terbuka bahwa orang percaya tidak terikat untuk melakukan Hukum Moral sebagai aturan hidup mereka.  Betapa orang yang telah berdosa sanggup berdiri dalam keadaan tanpa dosa.  Dari kelompok anti nomianism ini kiranya Tuhan Allah menjauhkan kami … HUKUM ALLAH HARUSLAH KEKAL.  Tidak ada pembatalah atau penghapusan atas Hukum, dan tidak ada juga amandemen terhadapnya.

Beberapa orang berkata kepada saya, “Anda dapat melihat, bahwa sebagai ganti dari Sepuluh Perintah Allah, kita telah menerima dua perintah, yaitu jauh lebih mudah.”  Saya menjawab bahwa pembacaan hukum yang tidak  terdapat di dalam daftar adalah lebih mudah.  Sebagaimana suatu ucapan menyatakan kemauan pikiran dan apa yang dialami.  Kedua Hukum itu meliputi Sepuluh Hukum secara lebih lengkap, dan itu tidak boleh dianggap sebagai penghapusan bahagian tertentu dari Sepuluh Hukum …

Untuk meunjukkan bahwa Ia tidak pernah bermaksud untuk membatalkan Hukum, Tuhan kita Yesus Kristus telah menanggungkan semua tuntutan Hukum kepada diriNya sendiri.  Di dalam diriNya terdapat suatu sifat yang secara sempurna serasi dengan Hukum Allah dan sebagaimana sifatNya, demikian juga hidupNya.  Ia dapat berkata, “siapakah dari antara kalian yang meyakinkan saya tentang dosa?”  Dan lagi, saya telah memelihara perintah Bapa dan tinggal di dalam kasihNya.” …

Melalui kematianNya, Ia telah mempertahankan kehormatan kepemerintahan moral Allah, dan membuat Hukum menjadi penuh kasih karunia melalui Dia.  Ketika Pemberi Hukum itu sendiri tunduk kepada Hukum,  Ketika Raja yang berkuasa sendiri menanggung hukuman yang sangat berat sebagai tuntutan Hukum, kemudian kemuliaan Allah diletakkan di atas takhta supaya seluruh dunia yang sedang bertanya-tanya akan kagum dan takjup akan hal ini.  Jika telah terbukti dengan sangat jelas bahwa Yesus taat kepada Hukum, bahkan sampai mati, Ia tentunnya tidak datang untuk menghapus atau membatalkan Hukum.  Jika demikian siapa yang melakukannya?  Jika Ia meneguhkan hukum, siapa yang melakukannya?

Hukum itu secara absolut adalah sempurna, dan tidak ada yang dapat menambah atau menguranginya.  “Sebab barang siapa yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bahagian dari padanya ia bersalah terhadap seluruhnya.”  Jika tidak ada satu bahagianpun dari Hukum itu yang harus dibatalkan, maka berarti itu harus tetap teguh, dan teguh untuk selamanya.  – The Perpetuity of the Law of God, diterbitkan di Spurgeon Expository Encyclopedia, oleh Baker.

12.  Billy Graham – Tetap dan Tidak Berobah: Kata “Hukum’ digunakan oleh penulis Perjanjian Baru dalam dua maksud.  Kadang kala kata itu menunjuk kepada hukum upacara Perjanjian Lama, yang berhubungan dengan hal-hal ritual dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan makanan dan minuman dan hal-hal lain untuk jenis kegiatan itu.  Dari hukum ini, orang Kristen sesungguhnya bebas.  Tetapi Perjanjian Baru juga berbicara tentang Hukum Moral, yang mana itu tetap, dan tabiat Allah yang tidak berobah itu secara ringkas terdapat di dalam Sepuluh Perintah.  Associated Press dispatch,Chicago Tribune Syndicate.

 

13. Dwight L. Moody – Hukum Yang Kekal:  Dituruti Dengan Kasih Di Dalam Hati:  Pertanyaan untuk masing-masing kita ialah:  apakah kita menuruti (Perintah-Perintah) itu?  Jika Allah ingin membebani kita dengan Hukum, adakah didapati kemauan atau penolakan?  Apakah kit memelihara hukum dengan sungguh-sungguh?  Apakah kita mengasihi Allah dengan segenap hati?  Apakah kita menunjukkan kepadaNya suatu penurutan dengan kemauan yang sungguh-sungguh?

 

Sepuluh Perintah Allah itu bukanlah suatu daftar lainnya, tetapi itu adalah suatu kesatuan hukum.  Jika saya bergantung di udara sengan satu untaian        rantai dengan sepuluh mata rantai, dan saya memutuskan salah satu mata rantai, saya pasti jatuh, sama pastinya dengan memutuskan sepuluh mata rantai.  Jika saya dilarang untuk pergi keluar pagar, tidak ada bedanya dengan saya pergi merusak pagar dan pergi keluar.  “Sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bahagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”  Rantai emas penurutan akan rusak jika satu mata rantainya hilang…”

 

Untuk seribu lima ratus tahun manusia berada di bawah hukum dan tidak ada yang sanggup untuk melakukan tuntutan hukum.  Kristus datang dan menunjukkan bahwa perintah-perintah itu penting, lebih dari sekedar daftar yang tertulis; dan dapatkah seorang berkata bahwa ia telah sanggup menuruti perintah-perintah itu oleh kekuatan dan kesanggupannya sendiri?

 

Saya boleh mengira bahwa anda berkata kepada diri sendiri.  “Jika kita akan dihakimi oleh Hukum ini, bagaimana kita dapat diselamatkan?  Hampir setiap bahagian dari hukum itu telah kita hancurkan di dalam roh, jika bukan dalam bentuk Perintah yang tertulis.”  Saya seolah-olah mendengar anda berkata:  “Saya khawatir jika tuan Moody sudah siap untuk ditimbang?  Apakah ia meletakkan ujian – ujian itu pada dirinya?”

 

Dengan segala kerendahan hati saya menjawab bahwa jika Allah memerintahkan saya untuk melangkah ke timbangan sekarang ini juga, saya siap.

 

“Apa!” anda berkata, bukankah anda telah melanggar hukum?”  Ya, benar bahwa saya telah melanggar.  Tadinya  saya adalah orang berdosa di hadapan Allah, sebagaimana anda, tetapi empat puluh tahun yang lalu saya telah mengakui kesalahan saya di hadapanNya.  Dengan menangis saya memohon kasih karunia, dan Ia telahmengampuni saya.  Jika saya melangkah nenuju timbangan untuk ditimbang, Putra Allah telah berjanji untuk bersama dengan saya.  Saya tidak akan berani melangkah kesana tanpa Dia.  Jika saya ditimbang, betapa cepatnya segala beban akan lenyap.

 

Kristus memelihara Hukum.  Jika Ia pernah melanggar Hukum, pasti Ia telah mati untuk diriNya sendiri sebagai akibat dari pelanggaran itu; tetapi Ia adalah Anak Domba Allah tanpa cacat dan noda, kemenanganNya dari maut akan menjadi bahagian kita, karena Ia telah mati ganti kita.

 

Kristus adalah akhir dari Hukum untuk kebenaran setiap orang percaya.  Kita adalah benar di hadapan Allah, karena kebenaran Allah, melalui iman di dalam Kristus Yesus, diberikan kepada semua yang percaya.

 

Jika kasih Allah terpancar ke dalam hatimu, maka engkau akan disanggupkan untuk memenuhi Hukum.  – Weighed and Wanting, hal. 119-124.

Beberapa tahun salah satu seri artikel diterbitkan di Moody Bible Institute Monthly, dengan judul, “Apakah orang Krissten dibebaskan dari Hukum?  Penulis seri artikel ini berkata di dalam artikelnya yang pertama, “Mari kita lihat sekarang bagaimana Hukum Moral ditegaskan, diperluas, dan dilaksanakan secara dinci di dalam Perjanjian Baru.”  Ia, penulis ini kemudian menunjukkan bagaimana Kristus dan para rasul bersikap:

 

Sangat jauh dari maksud membatalkan bahagian tertentu dari Sepuluh Perintah, Ia (Kristus) mempertegas bahwa marah, atau kata-kata pesas, melanggar hukum ke enam, dan berahi, melanggar hukum yang ketujuh (Matius 5:21, 22, 27, 28).

 

Ajaran para rasul berdasarkan ilham dari Allah melalui Roh Kudus justru lebih tegas dan bersungguh-sungguh sesuai dengan tujuan dan maksud dari Hukum Moral.  –Moody Bible Institute Monthly, October, 1933.

 

Jika suami setia kepada pasangnnya, maka itu berarti ia bebas dari hukum ketujuh dari Sepuluh Perintah Allah.  Tetapi bukan hanya hukum ketujuh, tetapi seluruh bahagian dari Perintah itu.  Pertanyaan yang penting untuk diajukan ialah, apakah menjadi legalist bila seorang suami setia kepada istrinya setelah mereka mengadakan sumpah setia di hadapan Tuhan pada upacara pernikahan kudus?  Jika hal ini tidaklah legalist, mengapa kebanyakan orang mempunyai kesan bahwa MAHK telah menjadi legalist, ketika sebagai gereja, oleh karena percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mereka menyatakan kesetiaan kepada Tuhan dan Juruselamat melalui penurutan akan HukumNya?

 

Kepercayaan MAHK semata-mata berdasarkan Alkitab, dan tentunya tidak bertentangan dengan posisi Protestan dari masa ke masa.  Adalah benar bahwa jika ada orang yang mengajarkan bahwa Hukum Allah sudah tidak berlaku lagi, itu adalah ajaran yang baru, yang jauh dari maksud Allah memberikan HukumNya kepada manusia.

 

Kehidupan yang dibenarkan adalah kehidupan yang secara sadar, oleh kuasa Illahi, mau menuruti dan menghidupkan Sepuluh perintah Allah, yaitu “hukum yang memerdekakan.”

 

Sebagaimana dalam kehidupan keseharian di tengah masyarakat kita membutuhkan hukum, bukan saja berfungsi untuk mengatur ketentraman masyarakat, tetapi juga hukum menolong kita untuk berlaku benar dan tetap benar, Tuhan memberikan HukumNya kepada kita untuk maksud yang sama, yaitu sebagai aturan standar bagi manusia dalam bertingkah laku agar identitas kita sebagi “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah”  tetap terpelihara. Ingat bahwa Sepulu Hukum Allah bukanlah “Juruselamat,” artinya, kita bukan diselamatkan oleh karena menuruti Sepuluh Perintah Allah, tetapi oleh karena kita telah diselamatkan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, untuk membenarkan dan melayakkan kita sebagai umat Allah, maka untuk mempertahankan pembenaran dan kelayakan itu maka kita wajib menuruti Allah melalui menuruti Sepuluh PerintahNya.

 

Semoga oleh pertolongan Tuhan, kita dapat mengerti penjelasan yang sangat sederhana ini, dan oleh pertolongan dari sumber kuasa yang sama pula, kita didorong untuk membuktikan rasa cinta sekaligus menunjukkan rasa hormat kita kepada Tuhan, Pencipta, dan Penebus kita, melalui menuruti PerintahNya.  A m i n.

SEPULU

› tags: 10 / perintah Allah /

Leave a Reply