“SERUAN-SERUAN DARI BAIT SUCI”

Sabat Petang, 21 Desember
PENDAHULUAN

Kehidupan Kristiani. Clive Staples Lewis atau C.S. Lewis (1898-1963), cendekiawan Inggris kelahiran Irlandia yang dinobatkan sebagai salah seorang penulis paling berpengaruh di abad ke-20, berkata: “Kalau anda menginginkan satu agama yang membuat anda benar-benar merasa nyaman, pasti saya tidak akan menganjurkan Kekristenan untuk anda.” Kekristenan seringkali memang “tidak nyaman” bagi orang-orang yang ingin menikmati hidup. Sebab menjadi orang Kristen sejati itu berarti harus mau menjalani suatu kehidupan penuh pengorbanan dan penyangkalan diri, sebagaimana yang diteladankan Kristus bagi kita. Kekristenan juga bukan sekadar agama atau semata-mata dogma teologis, tetapi Kekristenan adalah sebuah gaya hidup. Menjadi orang Kristen berarti menjadi seorang yang memiliki hati baru, yaitu hati yang sudah disucikan dan mengandung tekad baru.

Orang Kristen tulen yaitu dia yang sudah membuktikan ajaran Yesus Kristus, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Artinya, kehidupan Kristiani itu tidak hanya terpusat pada kebutuhan akan hal-hal jasmani dan fana, tapi lebih penting lagi ialah keperluan akan hal-hal rohani dan baka. Orang Kristen dapat bertahan hidup karena ketiga hal ini, “yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1Kor. 13:13).

“Di seluruh kitab Ibrani, bagian-bagian tentang iman Kristen silih berganti dengan bagian-bagian tentang kehidupan Kristen. Dengan kata lain, teologia itu memiliki maksud-maksud yang praktis. Hal ‘apa’ dari iman menuntun kepada ‘bagaimana’ menghidupkan iman itu. Dalam kitab Ibrani, sesudah penulisnya melukiskan gambaran teologis yang agung tentang Kristus sebagai Persembahan Kurban dan Imam Besar (Ibr. 7:1-10:18), dia mendorong dan mendesak umat percaya untuk hidup sesuai dengan maksud-maksud dari kebenaran-kebenaran ini. Seruan-seruan ini khususnya tampak dalam Ibrani 10:19-25” [alinea pertama].

Kata-kata bersifat ajakan “Marilah kita…” yang beberapa kali kita temukan dalam ayat-ayat ini menunjukkan betapa penulis surat kepada orang-orang Kristen Ibrani itu sangat mendorong para pembacanya untuk melakukan hal-hal sebagaimana diutarakannya pada bagian sesudah kata-kata ajakan itu. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan yang aktif dan progresif dalam perbuatan kebajikan dan kesempurnaan rohani.

Minggu, 22 Desember
KRISTUS PEMBUKA JALAN (Jalan Masuk ke Bait Suci Surgawi)

Jalan masuk ke istana surgawi. Salah satu tempat yang paling dijaga ketat dan tidak sembarang orang boleh masuk adalah istana presiden, sehingga banyak orang sangat bangga kalau bisa sekali saja masuk ke sana. Tetapi seorang teman sesumbar bahwa dia bebas masuk-keluar istana presiden. Suatu hari dia datang ke kantor saya di Jakarta untuk mengajak ke istana, tetapi saya menolak dengan alasan tidak ada keperluan atau urusan ke istana. Saya juga katakan kepadanya bahwa saya sudah beberapa kali datang ke Istana Merdeka dan bertemu dengan beberapa presiden dalam berbagai acara resmi, bahkan bersalaman dengan presiden dan muncul dalam berita sore di televisi. Meski kesempatan seperti itu langka, saya tidak merasa sudah menjadi orang yang istimewa. Namun kawan yang satu ini agak berbeda, dia bebas datang ke istana karena bersahabat dengan seorang pejabat tinggi negara pada masa itu, dan untuk urusan bisnis maka dia mempunyai akses (jalan masuk) ke lingkungan istana.

Setiap orang Kristen mempunyai akses ke istana yang jauh lebih mulia dari istana dunia, yaitu menghampiri Allah di Bait Suci surgawi. Bahkan kita bukan saja memiliki jalan masuk ke sana, tetapi kita bisa “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” (Ibr. 4:16), sebab “Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita” (Ibr. 6:20), dan “oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah” (Ibr. 10:19-21).

“Ayat-ayat itu memastikan kita bahwa jiwa kita mempunyai satu jangkar, Yesus Kristus, yang berada tepat di hadirat Allah (Ibr. 4:14-16; 6:19, 20). Jaminan bagi kita ialah bahwa Kristus beroleh jalan masuk sepenuhnya kepada Allah sesudah Ia dilantik sebagai Imam Besar surgawi (Ibr. 6:20). Pada saat pelantikan, Kristus duduk di takhta surgawi, suatu gambaran yang menunjukkan status-Nya sebagai raja (Why. 3:21)” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Persekutuan dengan Allah. Alkitab mengatakan bahwa sesudah Yesus mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir kepada murid-murid, “terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk. 16:19). Dalam terjemahan versi lain ayat ini berbunyi, “Setelah Tuhan Yesus berbicara dengan mereka, Ia diangkat ke surga. Di sana Ia memerintah bersama dengan Allah” (BIMK). Dalam gaya bahasa yang lain, dokter Lukas menulis, “Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa” (Luk. 22:69). Dengan duduk di sebelah kanan Allah itu sama dengan Yesus Kristus sebagai “tangan kanan” Allah. Dalam posisi-Nya yang sangat penting itulah Kristus telah mengikatkan hubungan antara umat-Nya dengan Allah Bapa.

“Kabar baik bagi kita ialah bahwa Wakil kita berada di hadirat Bapa. Bukan sekadar imam duniawi yang dirinya sendiri berdosa dan melayani demi kita. Kita mempunyai Imam yang lebih baik. Tak ada yang memisahkan Bapa dari Anak itu. Karena Kristus adalah sempurna dan tidak berdosa, maka tidak perlu ada tirai yang menghalangi kekudusan Allah dari Yesus, Imam Besar kita (Ibr. 10:20)” [alinea kedua].

Lalu, apa maknanya bagi kita atas persekutuan dengan Allah? Itu berarti kita dapat memohon kepada Allah Bapa untuk segala keperluan jasmaniah kita, dan terutama kebutuhan rohaniah. Sebagaimana tertulis, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:16).

Apa yang kita pelajari tentang jalan masuk ke Bait Suci surgawi?
1. Terkadang, dalam kenaifan sebagai manusia, kita merasa sangat bangga dapat masuk ke istana duniawi tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita memiliki akses ke istana surgawi di mana Allah yang Mahakuasa bertakhta. Umat Tuhan mempunyai kesempatan istimewa ini dan mesti memanfaatkannya secara maksimal.
2. Jalan masuk ke Bait Suci surgawi dimungkinkan oleh karena Yesus Kristus berada di sana dan menjadi Imam Besar Agung bahkan sebagai Kepala dari Rumah Allah itu. Sebagai Raja, Kristus duduk di sebelah kanan takhta Allah untuk memerintah bersama Allah.
3. Berkat posisi-Nya yang mulia di surga itu, Kristus telah mempersatukan umat-Nya dengan Allah Bapa. Dengan demikian sebagai umat percaya kita semua dapat menghampiri “takhta kasih karunia” itu untuk memohon berkat dan rahmat serta pertolongan pada waktunya.

Senin, 23 Desember
SYARAT MENGHAMPIRI ALLAH (Bersih dan Tulus)

Ajakan. Dalam pelajaran kemarin (Minggu, 22 Desember) kita sudah pelajari bahwa melalui Yesus Kristus semua orang percaya memiliki akses untuk menghampiri Allah di Bait Suci surgawi atau takhta surga. Sementara hal ini menjadi suatu privilese (=kesempatan istimewa) bagi setiap orang Kristen, ada beberapa “syarat” yang harus dipenuhi untuk bisa datang dan diterima oleh Allah. Kitabsuci mengatakan, “Sebab itu, marilah kita mendekati Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh; dengan hati yang sudah disucikan dari perasaan bersalah, dan dengan tubuh yang sudah dibersihkan dengan air yang murni” (Ibr. 10:22, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Kata Grika προσέρχομαι, proserchomai, yang diterjemahkan dengan “marilah kita” dalam ayat di atas, merupakan kata bentukan dari dua kata dasar, pros (=mendekat) danerchomai (datang). Secara harfiah kata kerja ini artinya “datang mendekat” tetapi secara konotatif (=arti tambahan) juga dapat bermakna “dengan persetujuan” (Strong, G4334). Kata yang terdapat sebanyak 89 kali dalam 85 ayat PB ini umumnya digunakan untuk menerangkan seseorang maupun sekelompok orang yang menghadap tokoh atau pribadi yang dihormati, tetapi kebanyakan digunakan untuk menerangkan manusia yang datang kepada Tuhan. Penggunaan sebanyak 7 kali di seluruh kitab Ibrani semuanya merujuk kepada ajakan untuk datang menghadap Allah atau kediaman Allah.

Ketulusan. Syarat pertama untuk datang menghadap Allah ialah dengan “hati yang tulus.” Kata Grika yang diterjemahkan dengan “tulus” dalam ayat di atas, ἀληθινός, alēthinos, dalam hal ini berarti dengan kesungguh-sungguhan, terbuka, dan tanpa menutup-nutupi sesuatu yang tersimpan di dalam hati. Kata sifat alēthinos merupakan bentukan dari kata dasar alēthēs, sebuah kata negatif yang terdiri atas kata imbuhan a (=tanpa) dan lêthô (=menyembunyikan), dan dalam bahasa Grika kata ini berarti “tidak ada yang disembunyikan” atau tidak menyembunyikan apapun.

Keteguhan iman. Syarat kedua adalah “iman yang teguh.” Kata Grika yang digunakan dalam ayat ini, πληροφορία, plērophoria, adalah sebuah kata benda feminin yang artinya “penuh kepastian” atau “keyakinan yang sangat pasti.” Kata ini berasal dari kata dasar plērophoreō yang terdiri atas dua akar kata, plērēs (=penuh; lengkap atau sempurna) dan phoreō (=membawa atau memikul). Kata ini hanya digunakan sebanyak 4 kali dalam empat ayat PB, dua di antaranya dalam kitab Ibrani. Dikaitkan dengan iman (Grika: πίστις, pistis), maka “iman yang teguh” maksudnya adalah “suatu keyakinan penuh yang tak berkeputusan.”

Hati yang disucikan. Syarat ketiga ialah “hati yang sudah disucikan.” Versi TB menerjemahkan frase (=bagian kalimat) ini dengan hati yang “telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat.” Kata Grika yang diterjemahkan dengan “dibersihkan” di sini adalah ῥαντίζω, rhantizō, sebuah kata kerja yang secara harfiah artinya “memercik” dengan maksud untuk membersihkan. Di seluruh PB, kata ini hanya terdapat dalam kitab Ibrani yang digunakan sebanyak 5 kali dalam empat ayat, dua kali dalam pasal 10 (ay. 22) dan tiga kali dalam pasal 9 (ay. 13, 19, 21), semuanya dalam bentuk lampau (perfect tense). Jadi, orang yang hendak menghampiri Allah hatinya harus disucikan lebih dulu, yaitu dibersihkan dari unsur-unsur kepalsuan dan kemunafikan.

Tubuh yang dibersihkan. Syarat keempat yaitu “tubuh yang sudah dibersihkan dengan air yang murni.” Kata Grika untuk “air yang murni” dalam ayat ini adalah ὕδωρ καθαρός, hydōr katharos. Kata benda ὕδωρ, hydōr, merujuk kepada air dalam arti kata yang sebenarnya. Sedangkan kata sifat καθαρός, katharos, secara fisik artinya “bersih atau murni” dan secara etika juga berarti “bebas dari kepalsuan” atau “tidak ternoda dengan kesalahan apapun.” Dikaitkan dengan upacara di Bait Suci, air merupakan bagian dari ritual pembasuhan yang tidak boleh tidak harus dilakukan oleh para imam yang melayani sehingga perlu disediakan sebuah bejana berisi air di halaman Bait Suci (Kel. 30:18-21). Dalam arti kiasan, sesuai dengan konteks dalam Ibrani 10:22 ini, tubuh yang telah dibersihkan dengan air yang murni berkonotasi dengan pengudusan diri secara paripurna (menyeluruh).

Apa yang kita pelajari tentang syarat-syarat menghampiri Allah dalam Ibrani 10:22?
1. Sesungguhnya Allah dapat didekati oleh manusia yang berdosa, sebab itu kita diajak agar tidak sungkan-sungkan datang kepada-Nya. Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).
2. Menghampiri Allah harus dengan “hati yang tulus dan iman yang teguh.” Ini masalah niat dan keyakinan untuk datang kepada-Nya. Kata rasul Yakobus, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” (Yak. 4:8).
3. Menghampiri Allah harus dengan persiapan hati dan jiwa, menyadari bahwa manusia tak mungkin menyembunyikan isi hatinya dari Allah. Hati nurani kita harus dimurnikan dulu sebelum datang kepada-Nya, seperti rasul Paulus. “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” (Kis. 24:16).

Selasa, 24 Desember
BERANI KARENA PERCAYA (Iman: Yakinlah)

Iman yang memberanikan. Penulis kitab Ibrani berkata, “Nah, Saudara-saudara, oleh kematian Yesus itu kita sekarang berani memasuki Ruang Mahasuci. Yesus sudah membuka suatu jalan yang baru untuk kita, yaitu jalan yang memberi kehidupan. Jalan itu melalui gorden, yaitu tubuh Yesus sendiri” (Ibr. 10:19-20, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata Grika untuk “berani” dalam ayat ini (versi TB menerjemahkannya: “penuh keberanian”) adalah παρρησία, parrēsia, sebuah kata benda feminin yang secara harfiah artinya “kebebasan berbicara” yaitu berbicara secara terbuka dan apa adanya. Dalam pengertian tambahan kata ini juga berarti “rasa percaya yang bebas dari rasa takut” atau juga “keberanian yang menggebu-gebu.” Orang Yunani purba menggunakan istilah parrēsia untuk hak bicara di hadapan umum, yaitu “berkata-kata dengan terus terang” seperti yang dimaksudkan oleh Paulus (Kis. 2:29), atau “berbicara terus terang” seperti yang Yesus katakan (Yoh. 18:20).

Berdasarkan pada kebiasaan dalam pemakaian istilah tersebut yang dikaitkan dengan tradisi berbicara atau berkata-kata, maka “keberanian” yang dimaksudkan di sini adalah keberanian untuk berbicara dengan Allah melalui doa. Seperti dikatakan oleh rasul Yohanes, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1Yoh. 5:14; huruf miring ditambahkan). Kita berani berdoa kepada Tuhan oleh sebab kita mempunyai keyakinan yang besar bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita! Kita berani untuk berbicara dengan Tuhan karena kita sangat percaya bahwa Allah memahami keadaan kita dan Dia mengasihi kita!

“Alasan dan obyek keberanian kita ialah bahwa kita mempunyai seorang Imam Besar di surga melalui siapa kita dapat memiliki jalan masuk ke hadirat Allah. Jalan masuk ini tidak terbatas dan tidak dihalangi oleh apapun kecuali diri kita sendiri dan pilihan-pilihan kita yang salah. Pada kita ada undangan terbuka untuk datang ke dalam Bait Suci surgawi” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Dasar keberanian kita. Dalam kitab Ibrani, istilah keberanian selalu dikaitkan dengan iman. Jadi, iman adalah dasar dari keberanian kita untuk menghampiri Allah, dan iman yang dimaksudkan itu adalah iman yang bertahan “sampai kepada akhirnya” (Ibr. 3:6, 14; 6:11). Dengan kata lain, selama iman kita teguh maka keberanian itu akan tetap ada pada kita, tetapi manakala iman kita menjadi luntur keberanian pun akan luluh dari diri kita. Sesungguhnya, memelihara iman itu sangat penting bagi setiap orang Kristen dan semua umat percaya, sebab pada saat kita kehilangan iman saat itulah kita berhenti menjadi orang Kristen dan umat percaya.

Dari manakah datangnya iman? Ini sebuah pertanyaan yang penting sehubungan dengan “usaha” kita untuk memelihara iman sebagai esensi dari keberanian Kristen. Kitabsuci mengatakan bahwa iman itu “dikaruniakan Allah” kepada kita masing-masing (Rm. 12:3), dan bahwa Yesus “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:2). Itulah sebabnya murid-murid berkata kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5).

“Ada dua cara untuk memperoleh keberanian Kristiani dan memeliharanya dalam iman. Pertama melalui iman itu sendiri (Ef. 3:12), kedua melalui pelayanan Kristiani yang setia bagi orang lain (1Tim. 3:13). Kedua aspek ini perlu dan penting. Dalam kitab Ibrani pun kepastian iman dan nasihat untuk membuktikan diri sebagai orang Kristen berjalan bergandengan tangan. Kehidupan Kristen tidak pernah terlepas dari iman Kristen” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang iman dan keberanian menghampiri Allah?
1. Keberanian kita sebagai umat percaya untuk datang ke hadirat Allah melalui doa ialah karena darah Kristus telah membuka jalan itu. Melalui Kristus kita jadi berani untuk mengungkapkan seluruh isi hati kita kepada Allah Bapa, dan percaya bahwa Allah akan mengabulkan permintaan doa kita.
2. Iman adalah dasar dari keberanian kita untuk menghampiri Allah, dan mustahil seseorang datang ke hadapan Allah kalau dia tidak beriman. Kata Yesus, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk. 11:24).
3. Iman adalah sebuah karunia dari Allah kepada manusia, dan Yesus adalah penyempurna iman itu. Karena itu Yesus juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh. 14:1). Iman tak dapat dipisahkan dari Allah dan Kristus.

Rabu, 25 Desember
ORANG KRISTEN SEJATI TIDAK GOYAH (Pengharapan: Jadilah Tabah dan Teguh)

Pantang menyerah. Rasul Paulus menggambarkan kehidupannya sebagai orang Kristen dengan begitu mengesankan dalam suratnya kepada Timotius, seorang pemuda yang disebutnya sebagai “anak” dalam pelayanan injil. Tulis sang rasul, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Kehidupan Kristen memang tepat untuk diibaratkan sebagai sebuah perlombaan, dalam hal ini adalah perlombaan iman. Kepada jemaat di Filipi sang rasul bersaksi bagaimana dia berjuang untuk meraih cita-cita imannya dengan menulis, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:13-14).

Dulu saya pernah memiliki sebuah gambar poster cukup besar yang menampilkan seorang atlet maraton sedang berlomba dalam suatu laga mancanegara. Pada bagian bawah poster itu terukir kata-kata yang tercetak dengan ukuran dan warna mencolok: A winner never quits, a quitter never wins (Seorang pemenang tidak pernah menyerah, seorang yang menyerah tidak pernah menang). Sebagai seorang penggemar olahraga yang dulu sering ikut bertanding, saya mengerti bagaimana rasanya menang dan kalah dalam pertandingan di nomor perorangan. Kekalahan bisa diakibatkan oleh faktor teknis dan non-teknis, dan pada cabang olahraga yang banyak menggunakan tenaga maka faktor teknis yang sering menyebabkan kekalahan adalah stamina (=daya tahan). Sedangkan faktor non-teknis yang acapkali mengakibatkan kegagalan adalah mentalitas (=sikap mental) sehingga kehilangan konsentrasi dan daya juang lalu menyerah. Dalam perlombaan rohani faktor-faktor serupa itu–stamina iman dan mentalitas rohani–juga dapat mengendurkan semangat, kehilangan determinasi, akhirnya menyerah.

Penulis kitab Ibrani menasihati orang Kristen agar “teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan” kita (Ibr. 3:6), dan “teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (ay. 14). Sebagai umat Tuhan kita harus “teguh berpegang pada pengakuan iman kita” (Ibr. 4:14), agar kita bisa “beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita” (Ibr. 6:18), dan oleh karena itu “marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita” (Ibr. 10:23). Sesungguhnya, “keteguhan iman” adalah kata kunci dari kehidupan Kristiani yang berhasil dan menang.

“Semua istilah-istilah ini, dalam suatu pengertian yang obyektif, merujuk kepada keyakinan Kristen. Kita dapat melakukan perkara-perkara ini karena pengharapan kita bukan pada diri kita melainkan di dalam Yesus dan apa yang Ia telah lakukan bagi kita. Di saat kita lupa pada kebenaran penting itu, kita pasti akan kehilangan keyakinan” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Allah itu setia. Allah yang memanggil kita ke dalam persekutuan dengan Kristus adalah setia (1Kor. 1:9) dan menepati janji (1Tes. 5:24), bahkan ketidaksetiaan umat-Nya tidak membatalkan kesetiaan Allah (Rm. 3:3-4). Kesetiaan-Nya ditunjukan, misalnya, dalam mengizinkan cobaan-cobaan yang melanda hidup kita itu tidak melampaui kekuatan kita, malah “Ia akan memberikan jalan keluar” agar kita “dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13). Pemazmur mengatakan bahwa kesetiaan Allah itu berada di sekeliling diri-Nya (Mzm. 89:9), bahkan kesetiaan-Nya “sampai ke awan-awan” (Mzm. 108:5), sehingga Daud berani mendesak agar Allah menjawab permohonannya demi kesetiaan-Nya (Mzm. 143:1).

“Kesetiaan Allah tidak tergoyahkan. Sekalipun ‘jika kita tidak setia, Dia tetap setia; karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya’ (2Tim. 2:13). Ketidaksetiaan atau ketidakpercayaan kita tak akan mengubah maksud Allah bagi kita. Janji-janji-Nya tetap tak terguncangkan oleh kemerosotan moral kita. Janji-janji itu masih akan tersedia untuk kita karena kesetiaan adalah bagian dari sifat ilahi” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang alasan kita untuk tetap tabah dan teguh?
1. Ketabahan dan ketetapan hati adalah faktor-faktor penting dalam kehidupan manusia yang penuh tantangan, termasuk dalam bidang olahraga. Dalam kehidupan rohani, ketabahan hati dan keteguhan iman menjadi faktor penentu antara keberhasilan dan kegagalan mencapai garis akhir.
2. Kehidupan Kristiani sejati adalah kehidupan yang pantang menyerah, selama kita teguh berpegang pada iman kita terhadap janji-janji Allah. Dalam kehidupan orang Kristen “keteguhan iman” merupakan kata kunci untuk tetap bertahan di tengah pergumulan di dunia ini.
3. Dasar untuk kita tetap tabah dan teguh berjangkar pada sifat Allah yang setia, yaitu setia pada janji-janji dan sabda-Nya. Kesetiaan Allah tidak ditentukan oleh kesetiaan manusia, bahkan ketidaksetiaan umat-Nya tidak membatalkan kesetiaan Allah. Ini merupakan sebuah kabar baik.

Kamis, 26 Desember
MAKNA PERSEKUTUAN KRISTEN (Kasih: Saling Menguatkan)

Tantangan untuk peduli. Setiap orang Kristen menjadi bagian dari suatu persekutuan besar, yaitu sebagai “satu tubuh di dalam Kristus” (Rm. 12:5) di mana Kristus “adalah Kepala” (Ef. 4:15). Dalam konteks inilah maka kebersamaan di antara saudara-saudara seiman itu terbina, sehingga “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita” (1Kor. 12:26), menyadari bahwa kita semua adalah “tubuh Kristus” di mana “masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27).

Dengan latar belakang pengertian tersebut maka nasihat dalam Ibrani 10:24-25 ini menjadi relevan: “Dan hendaklah kita saling memperhatikan, supaya kita dapat saling memberi dorongan untuk mengasihi sesama dan melakukan hal-hal yang baik. Hendaklah kita tetap berkumpul bersama-sama, dan janganlah lalai seperti orang lain. Kita justru harus lebih setia saling menguatkan, sebab kita tahu bahwa tidak lama lagi Tuhan akan datang” (BIMK; huruf miring ditambahkan).

“Tantangan untuk saling mengasihi adalah satu komponen tradisional dari perilaku Kristiani (Yoh. 13:34-35; Gal. 5:13). Namun, saling mengasihi itu tidak terjadi dengan sendirinya. Tindakan ‘memperhatikan’ memberi kesan pertimbangan yang kental dan hati-hati. Kita didorong untuk memberi perhatian kepada sesama umat percaya dan berusaha bagaimana kita bisa mendorong mereka untuk mengasihi orang lain dan berbuat kebajikan. Sayangnya, lebih gampang untuk memancing dan menimbulkan kebencian orang lain ketimbang memacu mereka kepada kasih Kristiani, bukan?” [alinea kedua].

Peribadatan dan kebersamaan. Umat Kristen seyogianya adalah orang-orang yang taat beribadah, sebab peribadatan bersama menjadi salah satu sarana penting yang merekatkan sesama orang Kristen. Anda dapat merasakan hal itu di jemaat sebagai sekelompok umat, dalam kebaktian raya dari beberapa jemaat yang berkumpul dalam suatu kebaktian gabungan, bahkan dalam suatu kegiatan ibadah bersama gereja-gereja Kristen semisal Perayaan Natal Bersama seperti hari-hari ini. Perbedaan doktrin dan dogma tidak selayaknya menjadi tembok pemisah di antara sesama umat yang percaya kepada Kristus, sebab makna dari “satu tubuh, dan satu Roh” (Ef. 4:4) itu tidak hanya untuk kalangan sendiri dari satu jemaat atau satu denominasi (=sekte) saja, tetapi itu berlaku untuk seluruh umat Kristen. Prinsip Kekristenan ialah kebersamaan dalam persekutuan.

Tetapi satu hal yang menjadi alasan dari nasihat Kitabsuci untuk berkumpul bersama-sama ialah agar kita dapat mempraktikkan perbuatan kasih dan kebajikan di antara sesama umat percaya. Sebab kasih dan kebajikan adalah jiwa dari iman Kristiani, sebagaimana Yesus amanatkan kepada para pengikut-Nya dalam sebuah “perintah baru” supaya “semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35), dan selama ada kesempatan kita harus berbuat kebajikan “terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal. 6:10).

“Perilaku seperti itu semakin mendesak sementara hari kedatangan Kristus kian bertambah dekat. Pada permulaan Ibrani 10:19-25 penulisnya menasihati umat percaya untuk datang dekat kepada Allah dalam Bait Suci surgawi, dan pada bagian penutupnya dia mengingat mereka bahwa Hari Tuhan sudah dekat untuk mereka. Kedatangan Kristus harus selalu menjadi pendorong utama bagi perilaku orang Kristen” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kasih sebagai sikap saling menguatkan di antara umat Kristen?
1. Salah satu ciri utama dari kasih ialah kepedulian. Jika anda mengasihi sesama saudara seiman itu akan terlihat dari perhatian anda kepada mereka. Namun, perhatian dan kepedulian Kristen harus bersifat positif dan konstruktif (=membangun), bukan keusilan untuk mencari-cari kesalahan orang lain.
2. Sementara perhatian dan kepedulian ditunjukkan dalam kasih untuk saling menguatkan, hal itu harus dilakukan secara bijaksana dan berhati-hati. Teguran dan nasihat merupakan bagian dari perhatian dan kepedulian, jika dilakukan pada tempatnya itu akan menjadi “seperti buah apel emas di pinggan perak” (Ams. 25:11).
3. Orang Kristen dinasihati agar tidak meninggalkan perkumpulan-perkumpulan ibadah, sebab peribadatan adalah bagian tak terpisahkan dari Kekristenan. Itulah sebabnya dibangun gereja-gereja dan ditahbiskan jemaat-jemaat, supaya melalui acara-acara kebaktian yang diadakan maka kebersamaan akan terpupuk.

Jumat, 27 Desember
PENUTUP

Kristus, Pengantara kita. Bagi manusia berdosa, kedudukan Yesus Kristus yang paling penting di surga saat ini bukanlah Raja segala raja maupun sebagai tangan kanan Allah, melainkan Yesus sebagai Pengantara antara kita dengan Allah Bapa. Sebagai umat-Nya yang masih harus berjuang dalam kehidupan iman di dunia ini, di tengah gelombang serangan dan penipuan iblis dan kaki-tangannya yang menyebabkan kita sering jatuh, kita memerlukan Pengantara seperti Yesus yang sudah membuka pintu surga bagi kita sehingga anda dan saya sekarang memiliki jalan masuk kepada keselamatan dan berkat-berkat surgawi lainnya.

“Juruselamat ini harus menjadi Pengantara, berdiri di antara Yang Mahatinggi dan umat-Nya. Melalui ketentuan ini, satu jalan telah terbuka oleh mana orang berdosa yang bersalah boleh mendapatkan jalan masuk kepada Allah lewat pengantaraan orang lain. Orang berdosa tidak dapat datang secara pribadi dengan kesalahan yang ada padanya dan tanpa jasa yang lebih besar daripada yang dimilikinya sendiri. Hanya Kristus yang dapat membuka jalan, dengan mengadakan persembahan yang setara dengan tuntutan hukum ilahi” [alinea pertama: kalimat kedua hingga kelima].

Sebagaimana yang kita telah pelajari sepanjang pekan ini, bahkan selama triwulan terakhir tahun ini, pengantaraan yang diadakan oleh Yesus Kristus di Bait Suci surgawi maupun pembelaan-Nya dalam penghakiman pemeriksaan di hadapan Allah, seyogianya menjadi alasan yang kuat bagi setiap orang Kristen sejati untuk menghampiri takhta Allah dengan keberanian. Keberadaan Yesus di surga harus menjadi faktor pendorong untuk terus memelihara iman, pengharapan, dan kasih dari setiap umat percaya.

“Jadi, untuk saat ini ada tiga hal yang kita harus tetap lakukan: percaya, berharap dan saling mengasihi. Yang paling penting dari ketiganya itu ialah mengasihi orang-orang lain” (1Kor. 13:13, BIMK).

Leave a Reply