SUATUPUN TIDAK ADA YANG HARAM!” BENARKAH DEMIKIAN?

image

Satu lagi pernyataan rasul Paulus yang menurut pendapat beberapa kalangan adalah penyataan yang kontroversial (menjadi pertentangan) ialah yang terdapat di dalam 1Timotius 4:4. Pernyataan tersebut berbunyi sebagai berikut: “Karena semua ciptaan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur”.

Dikatakan kontroversial karena pernyataan ini kemudian mempunyai pengertian yang bervariasi, atau ditafsirkan bervariasi, bahkan terkesan penafsirannya saling bertolak belakang satu dengan yang lain di antara berbagai denominasi Kristen dewasa ini. Ada yang mengatakan bahwa pernyataan ini adalah bukti bahwa Allah, melalui Paulus, telah membatalkan peraturan haram dan tidak haram yang pernah diilhamkan-Nya kepada para nabi-Nya untuk umat-Nya, yang terdapat di dalam Alkitab, seperti yang terdapat di dalam kitab Imamat 11:1-47, Ulangan 14:3-21, Yesaya 65 dan 66, dan kitab-kitab lainnya.

Sebahagian orang berpendapat bahwa pernyataan Paulus di atas tidak berhubungan dengan isi dari Imamat 11 dan Uangan 14, sementara sebahagian orang yang lain menjadi bingung lantas mempersalahkan rasul Tuhan ini oleh sebab pernyataannya itu, dengan mengatakan bahwa “tulisan Pauluslah yang telah membuat dunia kekristenan menjadi kacau balau.” Tetapi bukankah Paulus mengakui bahwa semua yang ditulisnya itu berdasarkan wahyu yang telah diberikan oleh Dia yang memanggilnya? (baca Efesus 3:1-4). Lebih jauh rasul Petrus memberikan kesaksian bahwa semua yang ditulis oleh Paulus adalah berdasarkan hikmat yang diberikan kepadanya (baca 2 Petrus 3:15). Untuk tidak mempersalahkan siapa-siapa, marilah kita mendalami pernyataan ini.

A. Pada Zaman Nabi Nuh

Kita telah mengetahui bersama kisah nabi Nuh dan bahteranya. Nabi Tuhan ini menggunakan waktu sekitar seratus duapuluh tahun berkhotbah memberikan amaran kepada orang-orang di sekitarnya tentang dahsyatnya bahaya Air Bah yang akan melanda dunia. Segera sebelum air bah melanda dunia, Allah berfirman kepada nabi Nuh agar membawa serta binatang-binatang ke dalam bahtera untuk mempertahankan populasinya. Kepada Nuh diperintahkan agar dari segala jenis binatang yangTIDAK HARAM (halal) harus diambil tujuh pasang, tetapi binatang yang HARAM satu pasang(Kejadian 7:1,2). Pertanyaan yang timbul ialah, dari mana Nuh dapat membedakan antara binatang yang haram dari yang halal, sementara identitasnya tidak dinyatakan sebelumnya kepadanya? Bukankah tidak kita dapati ciri-ciri yang membedakan binatang-binatang ini pada fasal-fasal sebelumnya dari kitab Kejadian? Tetapi bukankah Nuh dapat melakukan tepat sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan kepadanya?

Satu hal penting yang harus diketahui ialah bahwa pada zaman Adam dan Hawa orang belum mengenal tulis menulis, dan bahwa firman Allah yang diterima oleh Adam dan Hawa, diceriterakan secara lisan dari satu orang kepada orang yang lain, dari satu generasi kepada generasi yang lainnya, sampai kepada Nuh yang hidup pada generasi ke sepuluh dari Adam,[1] sehingga ia dapat dengan mudah membedakannya (antara binatang yang haram dan yang halal). Sebagai bukti, ketika air bah surut, Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera, mendirikan mezbah bagi Tuhan, dan mempersembahkan korban bakaran sebagai ucapan syukur kepada-Nya. Persembahan korban bakaran pada waktu itu adalah dari segala jenis binatang yang halal (baca Kejadian 8:20). Jadi, walaupun kata haram dan tidak haram baru kita dapati pada saat Allah memerintahkan kepada Nuh untuk membawa serta binatang ke dalam bahtera, Adam bersama anak cucunya sebelum Nuh telah mengetahui peraturan ini.

Oleh karena merosotnya kwalitas manusia akibat dosa, termasuk daya ingat, maka Allah kemudian menyuruh nabi Musa mencatatnya kembali dengan tujuan untuk melestarikan peraturan tersebut dalam dua dari lima buah kitabnya, yaitu kitab Imamat dan kitab Ulangan.

B. Suatupun Tidak Ada Yang Haram (1 Timotius 4:4)

Ini adalah pernyataan Paulus kepada Timotius yang tujuannya untuk mencegah masuknya ajaran sesat ke dalam gereja, karena di Efesus, tempat Timotius melayani sebagai “Pendeta,” muncul ajaran yang men-discredit-kan Injil (baca 1 Timotius 4:1-5). Ajaran ini menurut Paulus, melarang orang kawin, dan melarang orang makan makanan yang diciptakan oleh Allah (baca ayat 3), yang kemudian dilanjutkannya dengan kata-kata: “karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram …” (ayat 4). Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan pernyataannya itu? Untuk jelasnya marilah kita menggali lebih dalam firman Tuhan ini untuk mendapatkan penjelasan yang benar.

1. Semua ciptaan Allah, baik. Setelah Allah menciptakan dunia serta segala isinya, Ia “melihat segala yang telah dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (baca Kejadian 1:31). Hal ini mencakup seluruh unsur yang telah dijadikan-Nya dari yang tidak ada menjadi ada.

Perlu diingat bahwa pernyataan Paulus kepada Timotius, “karena semua yang diciptakan Allah itu baik …” tidak menunjuk kepada seluruh unsur ciptaan Allah yang sungguh amat baik itu. Pernyataan tersebut menunjuk kepada makanan yang diciptakan oleh Allah. Untuk jelasnya, izinkan saya menggunakan kata-kata: “semua makanan yang diciptakan oleh Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur.” Hal ini benar menurut konteks, karena Paulus ingin menekankan bahayanya ajaran sesat yang melarang orang makan makanan yang diciptakan oleh Allah. Untuk jelasnya marilah kita membaca bahagian sebelumnya dari pernyataan Paulus:

“Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan oleh Allah …” (ayat 1-3)

Maksud dan tujuan Paulus dalam memberikan pernyataan di atas ialah agar Timotius dapat memberikan pengajaran dan penggembalaan secara benar dan sehat kepada warga gereja di Efesus, sekaligus memagari mereka dari ajaran sesat tersebut. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah, apa saja dari ciptaan Allah yang adalah makanan? Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini marilah kita kembali ke kitab Kejadian.

Di Taman Eden, segera setelah manusia diciptakan, kepada Adam dan Hawa Allah berfirman: “Lihatlah Aku memberikan segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji; itulah yang akan menjadi makananmu” (Kejadian 1:29). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah berfirman kepada Adam: “Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makanan bagimu” (baca Kejadian 3:17, 18). Setelah peristiwa air bah, Allah mengizinkan manusia memakan daging binatang, tetapi daging binatang yang “tidak haram,” atau yang halal, atau yang merupakan makanan, sementara yang “haram,” berarti bukanlah merupakan makanan, karena Tuhan melarang untuk dimakan. Dikatakan makanan karena diizinkan oleh Allah untuk dimakan, sedangkan yang “haram,” bukanlah merupakan makanan, karena Tuhan melarang untuk memakannya. Ada dari antara kita yang oleh karena ketidaktahuan, tetapi mungkin juga dari antara kita yang oleh karena dorongan kedagingan yang serakah, kemudian mengatakan, “tidak mungkin Allah melarang manusia untuk jangan makan yang enak-enak.” Sangat disayangkan karena ada orang yang bermaksud baik untuk membagikan firman Allah tetapi tidak mengajarkan yang sebenarnya kepada sesamanya, malahan justru sebaliknya mengatakan bahwa “Allah telah mengizinkan manusia untuk memakan segala yang hidup dan bergerak,” dengan berpijak pada kitab Kejadian 9:3, yang berbunyi: “Segala sesuatu yang bergerak, yang hidup akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.”

Jika Nuh menafsirkannya sesuai dengan maksud di atas, tentu saja ia telah menyembelih dan makan semua jenis binatang, termasuk yang haram. Tetapi Nuh tidak melakukan demikian karena konteks pemahamannya waktu itu tidak demikian. Buktinya binatang haram masih ada hingga kini. Secara sepintas, kelihatannya pernyataan “segala sesuatu yang bergerak, yang hidup akan menjadi makananmu” bertentangan dengan peraturan Allah tentang haram dan tidak haram yang telah ditetapkan oleh Allah sejak semula kepada Adam dan Hawa di Taman Eden, jika kita menafsirkannya sesuai dengan selera kita. Kata-kata “segala yang bergerak, yang hidup,” dalam pengertian umum(dapat berarti) menunjuk kepada segala makhluk hidup yang bergerak, dan tentunya termasuk kita, manusia. Dengan pemahaman bahwa segala sesuatu yang hidup, yang bergerak, dapat dimakan, maka tentu kita tidak akan dipersalahkan memakan daging sesama manusia. Tetapi bukankah Allah melarang pembunuhan terhadap sesama manusia? Hal penting yang perlu disadari oleh kita manusia, ialah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita, dan itu tidak pernah berubah (Yakobus 1:17). Namun oleh karena ketidakteguhan iman serta ketidakpahaman akan firman Allah maka penyimpangan terhadap firman-Nya tidak dapat dielakkan, yang oleh rasul Petrus dikatakan “memutarbalikkan,” yang tentunya menjadi kebinasaan, bukan saja kepada yang memutarbalikkannya, tetapi juga kepada mereka yang menerima paham yang salah, yaitu yang telah diputarbalikkan (baca 2 Petrus 3:16) Pernyataan “segala sesuatu yang bergerak, yang hidup akan menjadi makananmu,” tidak bertujuan untuk mengizinkan manusia memakan semua jenis binatang. Anak kalimat “segala yang bergerak, yang hidup (“every moving things that lives {NKJV}, everything that lives and moves {NIV},” dengan jelas justru melarang memakan binatang yang telah mati tanpa disembeli atau yang dibunuh oleh binatang lain, atau mati dengan cara lain yang tidak wajar (bangkai). Hal ini kemudian ditekankan kembali oleh Allah kepada nabi Musa di dalam kitab Keluaran 22:31 dan Imamat 22:8. Sifat Allah yang tidak berubah tidak mengizinkan manusia untuk menafsirkan pernyataan di atas sebagai izin untuk menyembelih dan memakan segala yang hidup, yang bergerak.

Maksud Allah kepada Nuh ialah binatang yang telah ditentukan halal oleh Allah, yang masih hidup, lalu disembelih, itulah yang menjadi makanan. Hanya daging yang masih ada nyawa, yaitu darahnya, jangan dimakan.

2. Tidak Ada Yang Haram. Dapat dipastikan bahwa kata “suatupun tidak ada yang haram” cukup kuat untuk membuat banyak orang tersandung dan jatuh jika tidak mempunyai pengertian yang jelas. Untuk menghindari kebingungan, marilah kita membandingkan beberapa versi Alkitab untuk menolong kita memahami apa sebenarnya arti dari kata tersebut:

a) “καί ούδέν άπόβλητον” {“and no to be thrown away”} (TheGreek NewTetament )

b) “and nothing is to be refused” (NKJV)

c) “and nothing is to be rejected” (NIV)

d) “dan satupun tidak patut terbuang” (LAI, Alkitab Terjemahan Lama, 1968)

Latar belakang pernyataan ini ialah Timotius menjadi Pendeta di Efesus. Jemaat Tuhan di kota ini digoncang oleh ajaran sesat, yaitu Gnostic dan Ascetic. Penganut Gnostic melarang orang kawin, karena menganut paham bahwa semua benda adalah jahat, termasuk tubuh, maka semua keinginan dijauhkan dan disangkal. Menurut mereka, perkawinan merupakan perbuatan dosa, dan itulah sebabnya mereka melarang orang kawin. Sedangkan penganut Ascetic (petapa) menolak secara total makanan jasmani sebagai tuntutan penyembahan ritual, suatu upayauntuk mencapai kesempurnaan batin dengan cara mengasingkan diri di tempat yang sunyi.[5] Pada bahagian ini Paulus sedang memberikan pengarahan dan bimbingan kepada Timotius untuk melindungi jemaat dari ajaran sesat ini. Di sini, Paulus menekankan bahwa pernikahan adalah pemberian Allah yang kudus, dan semua makanan yang diciptakan oleh Allah suatupun tidak ada yang haram atau patut terbuang. Para petapa mengajarkan bahwa untuk alasan ritual, mereka menganggap penolakan total terhadap makanan tertentu demi kenikmatan rohani. Pantangan terhadap makanan tertentu pada hari-hari raya agama tertentu juga, termasuk yang diamarkan oleh Paulus. Sehubungan dengan ajaran sesat ini, Paulus menekankan kepada Timotius agar menjauhkan tahyul dan dongeng-dongeng nenek tua (baca 1 Timotius 4:7).

Dapat dipastikan bahwa Paulus tidak mengajarkan suatu doktrin baru dengan tujuan untuk menghapus peraturan Allah tentang binatang yang haram dan haram. Ia justru membekali Timotius untuk menggembalakan dan memagari jemaat dari pengaruh ajaran para penyesat, dengan menekankan betapa kudusnya pernikahan dan pentingnya makanan yang diciptakan oleh Allah. Makanan yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang patut terbuang. Baik makanan maupun pernikahan adalah bagian dari rencana Allah bagi manusia sejak di Taman Eden.

C. Apa Yang Halal Jangan Diharamkan (Kisah Para Rasul 10:13-15)

Saat itu Petrus sedang lapar, dan sangat membutuhkan makanan. Sementara makanan disediakan, tiba-tiba “rohnya diliputi kuasa Ilahi.” Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah ke tanah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya. Di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung. Kedengaranlah olehnya suara berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah, dan makanlah!” Petrus menolak dengan mengatakan “tidak,” karena dia “belum pernah memakan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk yang kedua kalinya suara berkata: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal itu terjadi sampai tiga kali, dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Ayat ini telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang karena mereka menafsirkannya sebagai pembatalan atas peraturan Allah tentang haram halal. Mengingat Pertrus sedang lapar dan ingin makan, betapa sering para pembaca tergoda untuk menafsirkannya sebagai suatu pernyataan resmi dari Allah bahwa apa yang selama ini (oleh Perjanjian Lama) dinyatakan haram, tidak boleh lagi dinyatakan haram (di era Perjanjian Baru). Tetapi bukanlah demikian maksud Allah bagi Petrus, dan bagi umat manusia di zaman ini. Sesungguhnya Allah menggunakan kondisi Petrus yang sedang lapar untuk menggambarkan kelaparan rohani yang terjadi di antara bangsa yang bukan Yahudi, seperti halnya Kornelius, Perwira besar itu. Alkitab mengatakan bahwa “Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu” (ayat 17). Nampaknya rasul Tuhan ini tidak (belum) mengerti arti penglihatan dan suara yang mengatakan “apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh engaku nyatakan haram,” sebelum utusan Kornelius menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Petrus. Rasul Tuhan ini belum mempelajari dengan cermat bahwa perbedaan di antara orang Yahudi dengan orang yang bukan Yahudi sesungguhnya telah ditiadakan di dalam Kristus (Galatia 2:11-14). Sekalipun penglihatan itu diberikan dalam situasi saat Petrus sedang dalam keadaan lapar, pernyataan Allah dalam penglihatan itu bukanlah bermakna literal, tetapi bermakna lambang; itu bukanlah berarti menghalalkan (perintah untuk memakan) binatang yang haram, tetapi itu mengenai manusia – mengenai orang-orang yang bukan Yahudi yang perlu di-Injili – mengenai jiwa-jiwa manusia dari segala bangsa di seluruh penjuru dunia yang berada dalam keadaan kelaparan rohani, sebagaimana yang dialami oleh Petrus pada waktu itu. Petrus akhirnya mengerti maksud Tuhan dan berkata kepada Kornelius:

“Kamu tahu betapa kerasnya larangan orang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka, tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak keberatan ketika aku dipanggil lalu datang kemari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku” (ayat 28, 29).

Orang yang bukan Yahudi yang biasanya dianggap najis oleh orang Yahudi,[8] sedang menantikan pelayanan rohani dari rasul Tuhan ini. Itulah sebabnya Petrus yang adalah orang Yahudi ini tidak lagi merasa ragu untuk melayani mereka karena dia tidak lagi menganggap mereka najis. Petrus telah menafsirkan penglihatan itu secara benar dan jelas, dan bahwa penglihatan tersebut sedikitpun tidak menunjuk kepada makanan.

Pernyataan yang didengar oleh Petrus dalam penglihatan yang mengatakan: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” itu artinya ialah bahwa Tuhan menghendaki agar orang Yunani (orang kafir) yang tadinya dijauhi oleh orang Yahudi karena dinggap najis, sekarang harus di-Injili, dan Petrus harus pergi untuk itu.

Satu hal yang mengingatkan kepada kita secara tidak langsung bahwa peraturan Allah tentang binatang yang haram dan yang halal tetap berlaku ialah ketika Petrus menolak dengan mengatakan: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram atau tidak athir” (ayat 14).

D. Yang Keluar Dari Mulut Yang Menajiskan?

Pernyataan Yesus yang satu ini tidak hanya membingungkan para murid-Nya, tetapi juga membingungkan kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Pernyataan itu terdapat di dalam kitab Injil Matius 15:11 dan Markus 7:15. Bunyinya sebagai berikut:

“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11).

“Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Markus 7:15).

Beberapa orang sering menggunakan ayat di atas sebagai dasar argumentasi dengan mengatakan bahwa segala sesuatu boleh dimakan asal tidak dimuntahkan. Karena, menurut mereka, “makanan yang telah dimakan dan kemudian dimuntahkan kembali itulah yang haram.” Sangat sering pernyataan Yesus di atas ditafsirkan sebagai pembatalan terhadap peraturan haram dan halal yang terdapat di dalam Imamat 11 dan Ulangan 14. Tafsiran seperti ini tidak Alkitabiah dan cenderung hanya untuk menunjang selerah kedagingan manusia.

Ketika membaca Alkitab, kita harus memperhatikan konteks pembahasan melalui membacanya berulang kali. Dengan demikian maksud yang tertuang di dalam konteks tersebut dapat dimengerti dengan baik, sekaligus menghindari sedapat mungkin kesalahan atau penyimpangan penafsiran terhadap Alkitab.

Ada hal yang melatarbelakangi pernyataan Yesus di atas. Ceriteranya demikian, ada serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid Yesus makan dengan tangan najis, karena tidak membasuh tangan terlebih dahulu. Mereka kemudian bertanya kepada Yesus: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan najis?” (Markus 7:5). Sebagaimana orang Yahudi lainnya, orang Farisi tidak akan makan kalau tidak membasuh tangan terlebih dahulu. Ada cara khusus untuk membasuh tangan sebelum makan. Mereka yang makan tanpa membasuh tangan terlebih dahulu dianggap najis (baca Markus 7:2). Hal ini karena mereka berpegang pada adat istiadat. Yesus menjawab mereka dengan mengutip tulisan nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran ayang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang kepada adat istiadat manusia” (Markus 7:6-8). Yesus melanjutkan perkataan-Nya kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat kamu sendiri”(ayat 9). Jika kita membaca deretan ayat-ayat selanjutnya, kita akan dapati bahwa Yesus mengetahui kebiasaan orang-orang ini, yaitu demi adat istiadat, mereka tidak menuruti perintah Allah. Allah berfirman: “Hormatilah ayah dan ibumu! Siapa yang mengutuki ayah atau ibunya harus mati.” Permasalahan yang diangkat oleh Yesus ialah bahwa mereka tidak memberikan perhatian atau memelihara orang tua mereka yang sudah lanjut usia dengan cara yang wajar, tetapi mereka malah mengatakan bahwa “apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban – yaitu persembahan kepada Allah… Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu.” Yesus melanjutkan, “dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” Menurut catatan Markus, setelah Yesus mengatakan demikian kepada mereka, Ia kemudian memanggil orang banyak yang hadir di situ dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (ayat 15, 16). Setelah mengatakan demikian Yesus masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak. Tampaknya para murid sendiri tidak memahami perkataan Guru mereka, sehingga mereka datang kepada Yesus dan berkata kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” (Matius 15:12).

Perkataan Yesus ini tidak saja menjadi batu sandungan bagi orang Farisi, tetapi telah juga menjadi batu sandungan bagi kebanyakan orang yang mengaku percaya kepada Allah dan beriman kepada Yesus Kristus.

Yesus kemudian menanggapi para murid-Nya dengan jawaban yang sangat tepat mengeni permasalahan yang sedang terjadi pada saat itu di kalangan orang-orang Farisi dengan mengatakan bahwa “setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang” (Matius 15:13, 14).

Para murid masih juga belum mengerti pernyataan Yesus itu, sehingga mereka kemudian bermohon kepada Gurunya dengan berkata:

“Jelaskan kepada kami perumpamaan itu.” Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang msuk ke dalam mulut turun ke dalam perut dan dibuang di jamban? Tetapi yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran yang jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang”” (Matius 15:15-20;baca juga Markus 7:15-23).

Berdasarkan ayat-ayat Alkitab ini jelaslah kiranya bahwa konteks Matius 15:1-20 dan Markus 7:1-30 tidak sedikitpun berbicara tentang peraturan haram dan halal, apalagi membatalkannaya. Dengan demikian, jika ada orang yang dengan sengaja mengarahkan ayat-ayat di atas sebagai pembatalan terhadap peraturan Allah tentang haram dan halal, berarti ia telah mengabaikan maksud sesungguhnya yang terkandung di dalam konteks ini secara keseluruhan.

Pokok pembicaraan antara Yesus dengan orang-orang Farisi bukanlah mengenai haram atau halal, atau makanan atau bukan makanan, tetapi mengenai makan dengan tidak membasuh tangan terlebih dahulu – apakah membasuh tangan secara adat istiadat (keagamaan) atau tidak,[9] serta kata-kata kasar dan hujat yang keluar dari mulut, yang menajiskan orang. Allah yang kita sembah adalah Allah yang maha adil, maha kasih, maha sempurna, maha agung, maha mulia, dan seterusnya. Karena kasih-Nya kepada kita manusia, sehingga Ia menjelma menjadi manusia, hidup di tengah-tengah manusia, mengajar manusia kepada kebenaran, bahkan mati untuk menebus manusia dari dosa. Karena kesempurnaan Allah maka peraturan-Nya tetap untuk selama-lamanya dan tidak berobah-obah. Jika Allah membatalkan suatu peraturan yang telah ditetapkan-Nya jauh sebelumnya, hal itu justru menujukkan ketidaksempurnaan-Nya. Peraturan tentang haram dan halal telah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Itulah sebabnya, jika ada yang mengajarkan bahwa Allah telah membatalkan peraturan ini, berarti mengajarkan ketidak sempurnaan Allah.

Makanan Dan Bukan Makanan

Telah dikatakan sebelumnya bahwa ciptaan Allah itu sangat banyak, dan semuanya itu berguna untuk kehidupan manusia. Dari semua ciptaan Allah itu ada yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan ada yang tidak. Yang dapat dikonsumsi adalah makanan, sedangkan yang tidak dapat dikonsumsi, adalah bukan makanan. Demikian juga dengan binatang-binatang. Ada yang dapat dikonsumsi, ada pula yang tidak dapat dikonsumsi. Yang dapat dikonsumsi, tentu adalah makanan, dan Allah menyebutnya dengan kata T I D A K H A R A M, atau “halal.” Sedangkan yang tidak dapat dikonsumsi, tentu saja bukanlah makanan, dan Allah menyebutnya dengan kata H A R A M (baca Kejadian 7:1-3). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa serta keturunannya mengadakan korban sembelihan untuk mengampunan dosa (Kejadian 4:2-4), yang melambangkan Kristus yang akan datang mengorbankan diri-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Hewan yang digunakan sebagai korban adalah jenis hewan yang halal. Sepanjang perjalanan sejarah hewan korban dalam praktek ibadah sejak zaman nabi Adam datang kepada Nuh, zaman nabi Musa dan orang Israel, orang Yahudi zaman Yesus, hingga orang Israel sekarang ini, hewan yang halal yang digunakan sebagai korban.

Jenis hewan apa saja yang halal, yang adalah makanan, dan jenis hewan apa saja yang haram, yang bukan merupakan makanan? Hal ini penting untuk diketahui, karena dengan mengetahui jenis binatang yang halal dan yang haram, kita dapat membuat pilihan dengan benar, sehingga tidak menajiskan tubuh yang adalah kaabah Allah. Tuhan berfirman:

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:44, 45).

Allah memberikan ciri yang jelas dari setiap binatang yang halal dan yang haram. Alkitab membagi semua binatang dalam setiap kelompok, menyebutkan ciri-ciri, kemudian nama binatang, untuk menolong para pembaca memahami dengan baik. Berikut ini adalah daftar dari jenis, ciri, dan nama binatang yang haram dan yang tidak haram atau halal:

Binatang yang berkaki empat: (Imamat 11:3-8; Ulangan 14:3-8)
Yang tidak haram, ciri-cirinya sebagai berikut:

Memamah biak dan berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang
Contoh:Kambing, sapi, domba, kerbau, rusa, dll.

Yang haram, ciri-cirinya sebagai berikut:

Yamg memamah biak tetapi tidak berkuku belah, yang berkuku belah tetapi tidak memamah biak, serta yang tidak memamah biak dan tidak berkuku belah.
Contoh:Babi, Kuda, Kelinci, pelanduk, unta, serta binatang-binatang lain yang mempunyai ciri yang sama.
Binatang yang hidup di dalam air Imamat 11:9-12; Ulangan 14:9, 10)
Yang tidak haram Ciri-cirinya sebagai berikut:

Yang bersisik dan yang bersirip
Contoh:Ikan mujair, ikan karper, ikan kakap, ikan cakalang, serta jenis ikan lain yang mempunyi ciri yang sama.

Yang haram, ciri-cirinya sebagai berikut:
Yang tidak bersisik dan tidak bersirip, yang bersisik tetapi tidak bersirip, yang bersisip tetapi tidak bersisik.
ü Contoh: Udang, (bersisik tetapi tidak bersirip), Ikan lele, belut, cumi-cumi, gurita, kepiting, serta binatang air jenis lain yang mempunyai ciri yang sama.

Jenis unggas (Imamat 11:13-19; Ulangan 14:11-20)
Yang tidak haram, Ciri-cirinya sebagai berikut:
Jenis unggas yang bukan pemakan bangkai
ü Contoh: ayam, burung merpati, burung puyuh, burung tekukur, burung perkutut, burung dara, angsa, itik, bebek, dll.

Yang haram, ciri-cirinya sebagai berikut:
Jenis unggas pemakan bangkai, dll
ü Contoh: Semua jenis burung bangau, semua jenis burung elang, semua jenis burung gagak, semua jenis burung hantu, semua jenis kelelawar, serta setiap jenis burung yang mempunyai ciri dan sifat yang sama.

Binatang yang merayap, dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya(Imamat 11:20-23; Ulangan 14:19)
Yang tidak haram, ciri-cirinya sebagai berikut:
Yang mempunyai paha untuk melompat
ü Contoh: Semua jenis belalang

Yang haram, Ciri-cirinya sebagai berikut:
Yang tidak mempunyai paha untuk melompat
ü Contoh: Kecoa, kumbang tanah, kumbang bangkai, dan jenis seranngga yang mempunyai ciri yang sama.

Segala binatang yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram (Imamat 11:27, 28). –
ü Contoh: Monyet, orang utan, anjing, kucing, panda, dll.

Segala binatang yang merayap dan yang berkeriapan di atas bumi haram adanya. (Imamat 11:29-38)
ü Contoh: Tikus, katak, landak, biawak, bengkarung, siput, bunglon, cecak, tokek, dan binatang lain yang mempunyai ciri yang sama.

Segala binatang merayap dengan perut dan berjalan dengan keempat kakinya dan berkaki banyak haram adanya. (Imamat 11:41-43)
ü Contoh: Ular, lipan, segala jenis reptil, dan berbagai jenis binatang lain yang mempunyai ciri yang sama.

Ini adalah salah satu bukti bahwa Allah serius dengan hal-hal yang kudus, dan mencintai umat yang kudus. Selain semua yang bukan makanan yang dilarang oleh Allah untuk dikonsumsi oleh umat-Nya, Ia juga mengingatkan kepada umat-Nya untuk tidak makan bangkai (Imamat 11:39, 40; Ulangan 14:21). Allah yang kudus menginginkan suatu umat yang kudus, dan Ia ingin agar umat-Nya menguduskan diri dengan tidak mengkonsumsi segala sesuatu yang bukan makanan.

Terkadang kita tergoda untuk beranggapan bahwa peraturan tentang haram dan halal ini hanya untuk orang Israel saja. Anggapan seperti ini tidak Alkitabiah. Peraturan tentang haram dan halal, tidak diperuntukkan hanya kepada orang Israel saja, karena Henokh yang hidup pada generasi kesepuluh dari Adam telah mengetahui peraturan ini jauh sebelum Ibrahim, Ishak, dan Yakub lahir. Jika peraturan itu kemudian diberikan kepada Musa, pemimpin umat Israel itu, tujuannya adalah sebagai pengulangan, dan bukan hanya untuk orang Israel saja, tetapi untuk umat manusia sepanjang zaman.

Firman Tuhan kepada kita melalui nabi-Nya yang satu ini sangat baik untuk menjadi bahan renungan bagi setiap umat Tuhan. Firman Tuhan itu berbunyi sebagai berikut:

“Imam-imamnya memperkosa hukum Taurat-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, mereka tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, mereka menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Demikianlah Aku dinajiskan di tengah-tengah mereka” (Yehezkiel 22:26).

Sebagai orang Kristen, kadang kita tergoda untuk membedakan identitas Kristen dari Yahudi dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab. Pernah seorang berkata kepada sekelompok orang yang sedang meneliti ajaran dan kepercayaan Kristen bahwa “syarat untuk menjadi Kristen ialah harus memakan daging babi dan binatang-binatang haram lainnya,” dengan dalih: “karena Yesus sudah mati untuk menebus manusia dari dosa, maka tidak ada lagi yang perlu diharamkan.” Pernyataan seperti ini tidak berdasarkan Alkitab, dan tidak ada satupun ayat Alkitab yang menopang ide seperti ini. Yesus datang ke dunia ini untuk mengajar dan menuntun manusia kembali kepada penurutan akan kehendak dan printah Allah, dan bukan untuk menuntun manusia kepada pelanggaran akan kehendak dan perintah-Nya. Ia datang ke dunia untuk menebus manusia dari dosa, dan bukan untuk menebus binatang yang haram menjadi halal untuk dimakan.

Kerajaan Allah Adalah Soal Kebenaran! (Roma 14:17)

Adalah sangat menarik mempelajari firman Tuhan, jika memang kita benar-benar ingin mendalaminya. Ayat yang menarik untuk digali sehubungan dengan konteks ini ialah pernyataan Paulus dalam Roma 14:17, 18. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal lebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barang siapa melayanani Kristus dengan cara ini, ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia.”

Ketika menulis surat kepada orang-orang Kristen di Roma, salah satu dari sekian banyak nasehat yang diberikan oleh rasul Tuhan ini ialah mengenai perbedaan pendapat soal makanan dan hari-hari raya khusus.[11]

Di Roma, sebagaimana juga di jemaat-jemaat lainnya pada awal pertumbuhan gereja, warga jemaat “terdiri dari orang-orang Yahudi, orang-orang Yunani, dan orang-orang bukan Yahudi lainnya.”[12] Pada saat itu permasalahan yang dihadapi oleh gereja di roma ialah ada godaan dari luar terhadap warga gereja serta kecenderungan warga gereja untuk bersikap fanatik yang berguna.

Godaan terhadapa warga gereja yang datang dari luar ialah bahwa sering orang percaya ini membeli daging yang dijual di pasar setelah terlebih dahulu dipersembahkan kepada berhala. Daging binatang yang akan dijual di pasar terlebih dahulu dipersembahkan kepada berhala melalui upacara tertentu yang dilakukan oleh imam kafir di kuil-kuil berhala, barulah kemudian dijual di pasar.[13] Hal ini menimbulkan tanda tanaya di antra warga gereja. Bolehkah membeli daging atau makanan seperti ini untuk dimakan? Tidak salahkah mengkonsimsi makanan seperti ini jika kita bertamu di rumah sahabat orang kafir?[14] Tanda tanya ini berkembang dari mulut ke mulut, khususnya mereka dari kelompok yang berlatarbelakang Yahudi.

Di lain pihak, mereka ini, warga gereja dari latarbelakang Yahudi, walau sudah menjadi pengikut Kristus, mereka masih terus merayakan hari-hari raya Yahudi.[15] Hal ini menjadi tanda tanya di dalam perkumpulan umat percaya, khususnya di antara mereka yang dari latarbelakang Yunani dan yang lainnya.

Kedua persoalan yang merupakan potensi conflict ini berkembang di antara umat pilihan Tuhan di jemaat Roma. Paulus mendengar tentang permasalahan ini, sehingga ia kemudian menulis surat kepada mereka. Dalam surat ini Paulus berbicara kepada orang-orang percaya dari kedua kubuh. “Ia menguraikan kesimpulan doctrin (ajaran) yang telah dipikirkan secara umum,”[16] termasuk pentingnya toleransi di dalam jemaat, di antara orang-orang yang hati muraninya kuat, dan juga yang hati nuraninya lemah. Adalah merupakan harapan Paulus agr mereka saling menghargai satu dengan yang lain.

Paulus kemudian berkata:

“Yang seorang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lmah imannaya hanaya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, jaanganlah menghakimi orang orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu” (Roma 14:2, 3).

Pada contek ini, Paulus tidak berbicara tentang daging binatang yang haram dan yang tidak haram; ia tidak memberi kesan bahwa daging binatang yang tidak boleh dimakan (yang dilarang di dalam PL) telah diizinkan oleh Allah untuk dimakan. “Yang seorang yakin ia boleh makan segala jenis makanan” menunjuk kepada daging binatang yang yang halal (yang adalah makanan) yang telah dipersembahkan kepada berhala (atau juga jenis makanan yang lainnya). Hal ini jelas kerika Paulus melanjutkan:

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Janganlah engkau merusak pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetrapi celakalah orang, jila oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu” (Roma 14:19-21).

Hal yang sama terjadi di jemaat Korintus, dan Paulus secara tegas mengatakan bahwa “Tidak ada berhala di dunia ini dan tidak ada Allah lain dari Allah yang esa” (1 Korintus 8:4). Walaupun demikian, ia tidak mau menjadi batu sandungan terhadap saudara-saudara yang lemah iman (“lemah hati nuraninya). Itulah sebabnya ia mengambil tekad untuk tidak lagi mau makan daging, dengan berkata:

“Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (1 Korentus 8:13)

Kepada jemaat di Roma, di Korintus, dan juga kepada kita yang hidup sekarang ini bahwa makanan(termasuk daging) yang dipersembahkan kepada berhala) tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Tidak ada kerugian apapun kalau kita tidak makan, dan tidak ada keuntungan sedikitpun kalau kita makan. Tetapi jangan kebebasan kita lantas menjadi batu sandungan bagi saudara kita yang lemah iman (baca 1 Korintus 8:8, 9)

Permasalahan yang dialami hampir di semua jemaat pada waktu itu juga termasuk yang dibicarakan(dibahas) pada sidang (konsili) di Yerusalem, yang kemudian menghasilkan keputusan sebagai berikut:

Menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala
Menjauhkan diri dari makan darah
Menjauhkan diri dari makan daging binatang yang mati tercekik (tanpa disembelih terelebih dahulu)
Menjauhkan diri dari percabulan (baca: Kisah Para Rasul 15:20; 21:25).
Dengan demikian, Roma 14:1-23 tidak sedikitpun mengizinkan kita, umat Kristen, umat kepunyaan Allah, untuk mengkonsumsi daging binatang yang haram.

Kesimpulan

Dari seluruh ciptaan Allah yang luar biasa banyaknya itu, ada hal-hal yang dapat dikonsumsi oleh umat-Nya, ada yang yang tidak untuk dikonsumsi. Yang dapat dikonsumsi itu ialah makanan, sedangkan yang tidak untuk dikonsumsi ialah yang bukan makanan. Yang Allah katakan secara khusus tentang haram dan halal ialah segala jenis bintang ciptaan-Nya (Kejadian 7:1,2). Kita boleh membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, dan secara pasti tidak akan kita dapati perintah untuk memakan segala jenis binatang. Allah sangat mencintai manusia ciptaan-Nya sehingga Ia menyediakan makanan yang terbaik bagi kita, dengan tujuan agar makanan yang kita makan itu tidak mencemari tubuh kita yang adalah kaabah-Nya. Bukankah kita telah mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus kepada Tuhan? Tuhan ingin agar persembahan yang hidup ini tetap berkenan kepada-Nya, dan tentunya tetap dalam keadaan kudus, sebagaimana telah dikuduskan-Nya. Adalah merupakan rencana Setan sejak semula untuk menyesatkan manusia, dan ia terus bekerja untuk mewujudkan rencananya tersebut, sehingga ia telah menuntun manusia kepada pelanggaran terhadap perintah dan peraturan Tuhan, termasuk peraturan tentang yang haram dan yang halal, sehingga sekarang ini tidak dapat disangkal bahwa ulat, ular, biawak, cacing, babi, kerang, bekicot, tikus, dan bahkan kecoa, telah menjadi santapan manusia.

Allah kita adalah Allah yang teguh pada pendirian-Nya, sehingga Ia berfirman:

“Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semua akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN” (Yesaya 66:17).

Kepada nabi yang sama, nabi Yesaya, Allah berfirman kepada bangsa Israel:

“Aku telah berkenan petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku Telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri; suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata; yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka; … Sesungguhnya, telah ada tertulis di hadapan-Ku: Aku tidak akan tinggal diam, malah Aku akan mengadakan pembalasan, ya, pembalasan terhadap diri mereka,” (Yesaya 65:1-6).

Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada bangsa Israel, namun bangsa ini tidak setia kepada-Nya, malah membelakangi Dia. Kini Ia memilih kita dari berbagai penjuru dunia untuk menjadi umat-Nya. Ia ingin agar kita tetap setia kepada-Nya melalui ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya. Jika Allah mengatakan bahwa sesuatu itu haram, hal itu semata-mata demi kebaikan kita. Ia ingin agar secara fisik, mental, rohani, kita tetap sehat, sehingga Ia tinggal di dalam kita dan mengendalikan kita melalui Roh-Nya. Nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Korentus, dan tentu untuk kita juga yang hidup di zaman ini, berbunyi sebagai berikut:

“… Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan segala sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Tuhan” (1 Korentus 10:31).

Tuhan menginginkan agar umat tebusan-Nya mencintai Dia dengan tidak mencemari tubuh yang telah ditebus-Nya itu, tetapi sebaliknya patutlah kita mem persembahkan tubuh yang telah Ia tebus ini kepada-Nya sebagai suatu persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada-Nya dengan tidak memakan segala binatang haram serta menjijikkan. Sebagai umat yang telah ditebus dengan darah-Nya yang mahal, Ia ingin agar umat-Nya mengalami suatu pembaharuan budi, tidak serupa dengan dunia, tetapi sebaliknya, berbeda dari dunia, agar melalui umat tebusan-Nya ini nama Tuhan dimuliakan.

Ingat bahwa Tuhan ingin menggunakan kita sekalian untuk menjadi saluran berkat kebenaran kepada orang lain yang berada di sekitar kita.

Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita sekalian, dan oleh dorongan Roh Kudus-Nya kita dapat membuktikan kesetiaan kepada-Nya melalui menjaga tubuh kita yang telah dipersembahkan kepada-Nya ini agar tetap kudus, dengan tidak memakan semua yang haram, sebagai ungkapan rasa cinta kita kepada-Nya, sebagaimana Ia juga menginginkan agar kita tetap kudus, karena Ia adalah kudus, Amin.

Like this:
You must log in to post a comment.

21 thoughts on “SUATUPUN TIDAK ADA YANG HARAM!” BENARKAH DEMIKIAN?

  1. Banyak orang islam yang sesat mindset berpikirnya dalam hal cara menafsirkan Firman Allah dalam Alkitab yang kemudian diserap ke dalam Alquran.

    Sesungguhnya, tentang Haram dan Halal, keduanya itu adalah Perintah Tuhan yang mengajari cara-cara hidup terkait hal-hal yang najis (kenajisan) yang dapat merusak kekudusan hidup manusia dan kesehatan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan yang termulia.
    Dari kita Kejadian – Wahyu, Tuhan tetap konsisten memerintahkan supaya CARA manusia hidup tetap dalam kekudusan tubuh dan kesehatan tubuhnya sebagai tempat RohNya = Bait Allah.
    Namun yang paling pokok yang TUHAN perintahkan adalah supaya manusia hidup di dalam Kasih karunia Tuhan yaitu keselamatan jiwanya dan rohnya manusia itu. Dan itu semua hanya di dapat di dalam kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia maupun Juruselamat manusia seutuhnya.

    Firman Tuhan tidak pernah berobah dari dahulu kekal, sekarang dan sampai dengan selama-lamanya. Firman Tuhan itu telah menjadi daging, dan daging itu telah mati dan daging itu telah bangkit hidup kembali sebagai daging yang maha kudus = Roh, dan terangkat bertakhta di sorga.

    Jadi jangan ragu-ragu, bukalah hatimu dan terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu. Amin.

  2. Banyak orang islam yang sesat mindset berpikirnya dalam hal cara menafsirkan Firman Allah dalam Alkitab yang kemudian diserap ke dalam Alquran.

    Sesungguhnya, tentang Haram dan Halal, keduanya itu adalah Perintah Tuhan yang mengajari cara-cara hidup terkait hal-hal yang najis (kenajisan) yang dapat merusak kekudusan hidup manusia dan kesehatan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan yang termulia.
    Dari kita Kejadian – Wahyu, Tuhan tetap konsisten memerintahkan supaya CARA manusia hidup tetap dalam kekudusan dan kesehatan sebagai tempat RohNya = Bait Allah.
    Namun yang paling pokok yang TUHAN perintahkan adalah supaya manusia hidup di dalam Kasih karunia Tuhan yaitu keselamatan jiwanya dan rohnya manusia itu. Dan itu semua hanya di dapat di dalam kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia maupun Juruselamat manusia seutuhnya.

    Firman Tuhan tidak pernah berobah dari dahulu kekal, sekarang dan sampai dengan selama-lamanya. Friman Tuhan itu telah menjadi daging, dan daging itu telah mati dan daging itu telah bangkit hidup kembali sebagai daging yang maha kudus = Roh, dan terangkat bertakhta di sorga.
    Jadi jangan ragu-ragu, bukalah hatimu dan terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu. Amin.

  3. Jelas Kelinci itu memamah biak.
    Ini salah satu penjelasan Pakar Biologi Hewan: Dr. Waldo L. Schmitt, Kurator Kepala, Departemen Zoologi di Smithsonian Institution, Washington, D.C., dalam ulasan tentang temuan itu, —Awake!, 22 April 1951, hlm. 27, 28., menulis, ”Tampaknya tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran laporan berbagai peneliti bahwa kelinci biasanya menyimpan makanan yang separuh dicernakan dalam sekum dan bahwa makanan itu belakangan dicernakan kembali dan melewati jalur pencernaan untuk kedua kalinya (“mengunyah dan mencerna makanannya dua kali” = “memamah biak” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia).” Ia juga menyatakan bahwa hal itu menjelaskan mengapa ”kelinci memiliki sekum yang sangat besar apabila dibandingkan dengan kebanyakan mamalia lainnya”.

  4. Sangat jelas bahwa hukum halal dan haram itu tetap berlaku,tetapi bagaimana kita hrs bersikap sementara sodara2 kita(sesama kristen) disekitar kita msh trus mengkomsumsi misalnya babi tanpa menghiraukan haram atau halal

  5. whuu..,, sangat pnjang. 🙂 dan sangat jelas sir 🙂
    saya baru tahu siapa yang menulis stelah saya sudah membaca.
    dan ternyata orang yang membabtis saya. lebih lega lagi rasanya.
    terima kasih untuk tulisannya sir,. sangat2 membntu untk bsa memahami ayat2 yg trlihat tumpang tindih pdahal sbenrnya tdak. 🙂

  6. Untuk para komentator mungkin ada yang belum tau bahwa tidak semua kristen yang seperti anda ungkapkan dan bayangkan…sebab ada pengikut kristus yang sejati yang memelihara semua Hukum Tuhan dalam Alkitab, tetap setia dan mengimani segala tulisan dalam Alkitab. Tentu yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab adalah para pelanggar ketetapan Tuhan, krn manusia bebas memilih apapun yg dia inginkan, mau taat atau tidak….tetapi terlepas dari maksud di atas…Alkitab tidak ditujukan untuk pembenaran akan apa yang dipikirkan manusia.

  7. intinya umat kristiani…tidak terlalu paham dengan isi dalam kitab suci mereka…

  8. Dalam soal makanan jawabnya ya! Pada prakteknya Semua ummat kristiani memakan apa saja yg dilarang oleh taurat di perjanjian lama.

  9. Cara beribadat Moses dan Yesus, bersujud dan berdoa, membasuh tangan dan kaki sebelum masuk rumah Tuhan.

    “Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan–seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” (Keluaran 40:31-32)

    “Maka Ia (Yesus) maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39); (Bilangan 20:6);(Kejadian 17:2-3).

    Ajaran ibadah Paulus, mari bernyanyi di Gereja!

    dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. (Efesus 5:19).

    Bacalah al kitabmu, yg langsung dari Sabda Yesus, dengan hati mencari kebenaran, jangan mengikuti ajaran yg bukan dari Yesus kangsung. Bukan dari pengakuan bahwa saya telah bertemu dengan Yesus dalam mimpi. Semoga Tuhan menunjukimu. Dalam ajaran Islam yg dikatakan ahli kitab, adalah yg mengikuti ajaran Yesus diatas, bukan ajaran Paulus.

  10. Pemaparan yg bagus, tetapi tidak sesuai dengan yg tertulis dalam al kitabmu. Kenyataannya semua hal di makan oleh ummat kristiani, tdk bersunat, meminum arak.
    Baca ini, bisa anda menyangkal ayat ayat ini? Kalau ada yg menyangkal ayat ini, berarti dalam al kitab, terdapat ayat ayat yg saling bertentasngan.

    . Yesus meneruskan hukum Taurat.
    Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

    Tentang Ajaran Yesus meneruskan hukum Taurat.
    a. Tidak boleh membuat patung, tapi gereja penuh patung.
    Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari perbudakan. JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN DI HADAPANKU. Jangan membuat bagimu PATUNG YG MENYERUPAI APAPUN yg ada di langit di atas, atau yg ada di bumi di bawah, atau yg ada di dalam air di bawah bumi. JANGAN SUJUD MENYEMBAH KEPADANYA ATAU BERIBADAH KEPADANYA(patung), sebab AKU TUHANMU,. ALLAHMU.(al kitab Keluaran 20 : 1-5)

    b. Yesus bersunat, tetapi tak satupun orang keristen bersunat.
    Dan ketika genap delapan hari dan ia harus di sunatkan, ia diberi nama Yesus .. ( Lukas 2:21).
    Abaraham dan ismail bersunat (Kejadian 17:23).
    “ Dan orang yang tidak disunat , yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kejadian 17:14)

    c. Dilarang makan babi, tapi semua ummat keristen makan babi.
    .. Haram semuanya itu basgimu, juga babi, karena memang berkuku belah (Ulangan 14:7-8).
    .. Demikian juga babi, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tdk memamah biak, haram itu bagimu(Imamat 11:7).

    d. Jangan minum arak, tetapi ummat kristen meminum arak.
    Janganlah engkau minum anggur, atau minuman keras, engkau serta anak anakmu .. (Imamat 10:9).
    Juga imamat 13:4.,

    Semua ayat ayat ini dari al kitab yg anda pegang ke gereja pada hari minggu, apa anda mau menyangkal ayat ayat yg tertulis dengan jelas ini?

  11. Hhhh … Baca ini.

    YESUS seorang utusan/Nabi
    – Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu satunya ALLAH yg benar, dan mengenal YESUS KRISTUS YANG ENGKAU UTUS ( Yohannes 17:3).
    – Tetapi ia berkata kepadaku:’Jangan berbuat mikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara saudaramu, para nabi dan semua mereka yg menuruti segala perkataan kitab ini (Wahyu 22:9).
    – Jawab Yesus kepada mereka, ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yg MENGUTUS AKU (Yohannes 7:16).
    – Aku kenal Dia (Allah), sebab aku datang dari dia dan Dialah yg mengutus aku (Yohannes 7:29).
    – Dan ketika ia masuk ke yerusalem, gemparlah seluruh kota itu, dan orang berkata:”siapakah orang ini?” Dan orang banyak menyahut :”inilah NABI YESUS dari Nazaret di galilea” (Matius 21:10-11).
    Yesus mengatakan Dia seorang utusan/Nabi, ummat kristiani bilang Dia Tuhan, mana yg benar?

  12. alhamdulillah telah turun agama terakhir yg menjelaskan yg remang yg samar,yg menyucikan nama Tuhan Allah,yg menyucikan nama para nabi,meluruskan pandangan dan mitos yg salah,yg menjunjung tinggi kemanusiaan,memuliakan wanita,mengangkat hak org miskin dan anak anak,menyambung tali silaturrahmi,yg dibawa oleh nabi yg suci muhammad dari tanah yg diberkahi arab,rahmat bagi seluruh alam,agama yg indah dan masukakal,suci lurus dan bersih dari tangan kotor manusia… Diturunkan menurut masalah,waktu,orang dan kasus yg tepat kontinyu selama 23 thn 2 bln 22 hari krglbhnya …sesuai dgn akalbudi teknologi masadepan dan ilmupengetahuan…al dienul islam semoga tercerahkan..amen.

Leave a Reply