‘SURGA’ DI ATAS BUMI

Sabat Petang, 5 Oktober
PENDAHULUAN

Bait Suci dan keselamatan manusia. Ada beberapa hal dalam kehidupan manusia sering dijuluki orang sebagai “surga dunia” yang pada intinya menyangkut kesenangan dan kenikmatan hidup. Tetapi “surga” yang dimaksudkan oleh ungkapan itu sesungguhnya jauh berbeda dengan apa yang Tuhan pernah tunjukkan kepada kita manusia, baik melalui peribadatan dalam Bait Suci untuk bangsa Israel purba, maupun melalui kehidupan serta kematian Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah bagi seluruh umat manusia. Persepsi manusia tentang surga memang seringkali berbeda dari apa yang Tuhan maksudkan mengenai surga yang Ia ingin nyatakan kepada kita.

“Allah menciptakan Taman Eden sebagai simbol Bait Suci. Bait Suci surgawi dan fungsinya dalam keselamatan telah digambarkan dalam Kemah Kudus duniawi dan bangunan yang lebih besar dari kaabah-kaabah bangsa Israel…Tentu saja di dalam Yesus kaabah itu telah diwujudkan dalam sosok seorang manusia. Dan pada akhirnya kaabah surgawi itu akan turun ke dunia baru” [alinea kedua dan ketiga].

Seperti telah kita bahas pekan lalu, surga adalah tempat kediaman Allah dan segenap makhluk surgawi. Takhta surga adalah tempat dari mana Allah memerintah dan sekaligus menghakimi seluruh jagad raya. Takhta Allah adalah titik pusat surga di mana aktivitas pelayanan para malaikat dipusatkan. Berbicara tentang surga adalah berbicara tentang takhta Allah, segala hal yang lain mengenai surga adalah manfaat dan kebaikan tentang surga. Namun betapa sering pikiran kita hanya terfokus pada kesenangan surga yang tiada taranya itu, tetapi melupakan bahwa surga adalah juga pusat pemerintahan alam semesta. Sama halnya bila kita mengaitkan kota Jakarta hanya dengan pusat hiburan seperti “Taman Ria” dan “Dunia Fantasi” di Ancol maupun dengan pusat-pusat perbelanjaannya yang megah dan nyaman, tetapi lupa bahwa di Jakarta juga terdapat Istana Merdeka di mana presiden sebagai kepala negara memerintah sekitar 250 juta rakyat Indonesia yang tersebar di 17.000 lebih pulau-pulau di seantero Nusantara.

Surga adalah juga tempat di mana terdapat Bait Suci asli di mana kasih karunia Allah terhadap manusia berdosa dijalankan dalam arti yang sesungguhnya, setelah sebelumnya hal itu diperagakan secara simbolik dalam ibadah-ibadah di Bait Suci duniawi di lingkungan bangsa Israel purba. Titik pusat dari Bait Suci duniawi itu adalah pada “tutup pendamaian” dari Tabut Perjanjian di bilik maha suci yang melambangkan hadirat Allah. Mengenai hal itu Alkitab menulis, “Di atas Peti itu terdapat dua Kerub, yaitu makhluk bersayap yang melambangkan kehadiran Allah. Sayap dari kedua makhluk itu terkembang di atas tutup Peti, yaitu tempat pengampunan dosa. Tetapi semuanya itu tidak dapat diterangkan sekarang secara terperinci” (Ibr. 9:5, BIMK).

Pena inspirasi menulis: “Bait Suci atau kaabah Allah di dunia adalah contoh dari yang asli di Surga. Semua upacara hukum Yahudi bersifat nubuatan, misteri yang khas dalam rencana penebusan. Ritus dan upacara hukum itu diberikan oleh Kristus sendiri yang, terbungkus dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari, adalah pemimpin umat Israel; dan hukum ini harus diperlakukan dengan sangat hormat karena hukum itu suci” (Ellen G. White, Signs of the Times, 29 Juli 1886).

Minggu, 6 Oktober
TAMAN EDEN SEBAGAI BAIT SUCI (“Bait Suci” Pertama di Bumi)

Ciri-ciri Bait Suci di Eden. Persepsi tentang Taman Eden sebagai Bait Suci bagi banyak di antara kita barangkali merupakan ide baru. Tetapi penyusun pelajaran SS ini melontarkan gagasannya tentang hal itu dengan menyodorkan kepada kita ayat-ayat Alkitab untuk mendukung gagasannya yang cukup menarik untuk ditelaah. “Pelajar-pelajar Alkitab telah mencermati bahwa banyak ciri-ciri dari Taman Eden yang cocok dengan bait-bait suci Israel di kemudian hari, menunjukkan bahwa Eden adalah ‘kaabah’ simbolik pertama di bumi” [alinea pertama: kalimat pertama].

Ada tujuh bagian “persamaan” yang diutarakan sebagai pembanding antara keadaan-keadaan yang berkaitan dengan Taman Eden dan dengan Bait Suci bangsa Israel purba. Meskipun tidak ada konfirmasi apapun dalam Alkitab mengenai kesejajaran antara keadaan di Taman Eden dengan keadaan di Bait Suci Israel purba, dan karena itu hal tersebut bukan menjadi bagian dari doktrin gereja yang baku, sekadar pengayaan pemahaman yang bersifat terbatas mungkin kita dapat menerimanya sebagai sebuah gagasan orisinal dari penyusun pelajaran SS ini. Pastinya, Bait Suci dan semua perabot perlengkapannya beserta dengan segala ritual upacara yang dijalankan di dalamnya dimaksudkan sebagai gambaran yang melambangkan rencana keselamatan Allah atas manusia berdosa. Di Taman Eden kehadiran Allah secara nyata diungkapkan (Kej. 3:8-10), di Bait Suci duniawi hadirat Allah secara simbolik ditunjukkan (Kel. 25:8, 22; 33:9-10).

Pena inspirasi menulis: “Di Eden bekerja setiap hari memberikan kepada Adam dan Hawa kesehatan dan kegembiraan, dan pasangan yang berbahagia itu menyambut dengan sukacita kunjungan-kunjungan Pencipta mereka, sementara dalam sejuknya hari Ia berjalan dan bercakap-cakap dengan mereka. Tiap-tiap hari Allah mengajarkan kepada mereka pelajaran-pelajaran-Nya” (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 17, hlm. 351).

Kediaman Allah di bumi. Cukup menarik bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya beserta cakrawala yang membungkusnya dalam 6 hari (Kej. 1:31; 2:1-2), tetapi memerlukan 40 hari bagi Allah hanya untuk memberi petunjuk-petunjuk kepada Musa tentang pembangunan Bait Suci dengan segala perlengkapan dan upacara-upacaranya (Kel. 24:18). Alkitab juga hanya menggunakan dua pasal untuk mencatat tentang penciptaan (Kej. 1-2), tetapi menghabiskan enam pasal untuk menuturkan perihal Bait Suci (Kel. 25-30). Bait Suci dengan segala upacara-upacaranya sangat penting sehingga harus diatur secara sangat terinci, sebab itulah “tempat kediaman Allah” di dunia ini.

Pada waktu Musa memimpin umat Allah yang besar itu keluar dari tanah perhambaan Mesir menuju ke tanah perjanjian Kanaan, nabi besar itu memohon agar hadirat Allah menyertai mereka. Beberapa saat sebelum Musa hendak menerima Sepuluh Perintah untuk kedua kalinya–setelah yang pertama hancur berkeping-keping karena dilemparkannya dalam amarah atas perbuatan bangsa Israel yang menyembah berhala di kaki gunung Sinai (Kel. 32:19)–dia memohon kepada Allah sambil sujud menyembah: “Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu” (Kel. 34:9; huruf miring ditambahkan). Kehadiran Allah di tengah bangsa Israel itu adalah atas permintaan Musa, tetapi pembangunan Bait Suci itu adalah atas inisiatif Allah dan dibuat menurut rancangan-Nya sendiri.

“Taman Eden disebut ‘taman Tuhan’ (Yes. 51:3, Yeh. 28:13, 31:9). Itulah tempat kediaman Allah di atas bumi, tempat di mana nenek moyang kita yang pertama dimaksudkan untuk beribadah dan berhubungan dengan Dia. Itu sebabnya, kehilangan terbesar dari Kejatuhan bukanlah pengusiran Adam dan Hawa dari Taman itu melainkan kehilangan mereka untuk berada dalam hadirat Allah yang langsung” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang tempat kediaman Allah yang pertama di bumi ini?
1. Dalam beberapa hal tertentu mungkin kita dapat menemukan persamaan antara Taman Eden dengan Bait Suci bangsa Israel purba sebagai tempat kediaman Allah di atas bumi ini. Ide teologisnya ialah bahwa Allah selalu ingin tinggal bersama manusia dalam cara apapun yang dikehendaki-Nya.
2. Di Taman Eden setiap hari Allah datang mengunjungi Adam dan Hawa. Ketika mereka jatuh ke dalam dosa dan terusir dari Taman itu, Allah tidak pernah jauh dari mereka. Dosa telah menghalangi manusia untuk berada langsung di dekat hadirat Allah, tetapi kasih karunia mendekatkan Allah kepada manusia.
3. Bait Suci adalah ide dan rancangan Allah untuk berada dekat dengan manusia sebagai pengganti Taman Eden yang telah diangkat ke surga. Bahkan tubuh kita, jika dijaga kekudusannya, dapat menjadi “bait suci” di mana Allah bisa tinggal bersama kita.

Senin, 7 Oktober
CONTOH MODEL BAIT SUCI (Gambaran Dari Aslinya)

Replika Bait Suci surgawi. Allah memerintahkan Musa untuk membuat Bait Suci–disebut juga sebagai Kemah Suci atau juga Kemah Pertemuan–di dunia ketika bangsa Israel masih dalam perjalanan di padang gurun. Secara fisik, bangunan maupun isinya itu “sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya” (Kel. 25:9). Sebagaimana kita pelajari, baik rancang-bangun maupun perlengkapan di dalamnya harus dibuat “semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan” kepada Musa di atas gunung Sinai (ay. 40). Bahkan belakangan setelah Kemah Suci itu sudah digunakan dan bilamana rombongan bangsa itu hendak berangkat meneruskan perjalanan dari satu tempat persinggahan, cara bongkar-pasang dan pengangkutannya pun diatur secara terperinci (Bil. 4:31-32). Ini menunjukkan betapa penanganan Kemah Suci itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat sesuai instruksi dari Allah sendiri.

Kemah Suci di padang gurun itu sangat sederhana dan serba darurat jika dibandingkan dengan Kaabah Salomo yang permanen dan jauh lebih besar serta jauh lebih indah. Namun demikian, Kemah Suci buatan Musa memiliki beberapa keistimewaan penting yang tidak dipunyai Kaabah Salomo: (1) Kemah Suci buatan Musa dibuat atas gagasan dan prakarsa Allah sendiri; Kaabah Salomo dibangun atas ide dan inisiatif manusia, yakni raja Daud. (2). Arsitek Kemah Suci buatan Musa adalah Allah sendiri; arsitek Kaabah Salomo adalah manusia, raja Salomo. (3). Kemah Suci buatan Musa merupakan replika dari Kemah Suci asli di surga; Kaabah Salomo adalah hasil rekayasa manusia semata, Salomo bersama Huram Abi (suruhan raja Hiram dari Tirus) dan tukang-tukangnya.

Namun demikian, terlepas dari kenyataan bahwa Kemah Suci Musa lebih istimewa dari Kaabah Salomo, pelayanan di dalam kedua Bait Suci itu sama-sama “adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga” (Ibr. 8:5); dan “barang-barang yang melambangkan hal-hal yang di surga, perlu disucikan…sebab Kristus tidak masuk ke Ruang Suci buatan manusia, yang hanya melambangkan Ruang Suci yang sebenarnya. Kristus masuk ke surga sendiri; di sana Ia sekarang menghadap Allah untuk kepentingan kita” (Ibr. 9:23-24, BIMK). Pelayanan dalam Bait Suci manapun yang dibangun di atas dunia ini hanyalah gambaran dari pelayanan sesungguhnya yang dilakukan Kristus di surga.

“Kitabsuci dengan jelas mengajarkan bahwa Musa tidak menciptakan kemah suci tetapi membangunnya menurut petunjuk ilahi yang telah dia terima di atas gunung (Kel. 26:30, 27:8, Bil. 8:4). Bait suci di bumi harus dibangun menurut ‘contoh’ (Kel. 25:9, 40). Kata Ibrani untuk ‘contoh’ (tabnit) menyatakan gagasan dari satu model atau duplikat; jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa Musa sudah melihat semacam contoh miniatur yang melambangkan bait suci surgawi dan bahwa model ini berlaku sebagai pola untuk bait suci duniawi” [alinea pertama].

Hubungan tipologis Bait Suci surgawi dan duniawi. Berdasarkan apa yang kita pelajari di atas, terdapat suatu hubungan erat antara Bait Suci surgawi dengan Bait Suci duniawi yang dibangun oleh Musa, karena keduanya dibangun atas inisiatif Allah dengan kesamaan bentuk dan pola secara presisionis. Hubungan ini disebut “hubungan tipologis” atau hubungan yang bersifat sama dan sebangun. Bahkan, tidak hanya fisik bangunannya yang sama, tetapi juga pelayanan di dalamnya adalah sama. Bedanya, pelayanan dalam Bait Suci di dunia merupakan bayangan (anti-type) dari pelayanan sesungguhnya (type) dalam Bait Suci di surga.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang menarik adalah: Apakah Bait Suci di surga itu juga berbentuk seperti kemah atau tenda yang dibangun dengan sistem “knock-down” untuk memudahkan bongkar-pasangnya, seperti yang disaksikan dan ditiru oleh Musa? Kalau memang Bait Suci di surga bentuknya sama dan sebangun dengan Bait Suci di dunia seperti yang dibangun oleh Musa itu, mengapa demikian? Mungkinkah di dalam kerajaan surga ada bangunan darurat seperti kemah atau tenda? Semua pertanyaan ini memerlukan penyelidikan lebih mendalam dengan hati dan pikiran yang terbuka luas bagi tuntunan Roh Kudus, untuk mengetahui makna sesungguhnya dari Bait Suci surgawi itu.

“Hubungan antara keduanya disebut tipologi. Tipologi adalah sebuah bayangan rancangan ilahi yang menyangkut dua realitas sejarah yang cocok, disebut tipe (asli) dan anti-tipe (duplikat). Karena kecocokan itu dari yang asli kepada yang duplikat, kita bisa melihat dalam kitab Ibrani bahwa model surgawi yang Musa telah lihat itu disebut sebagai ‘asli’ atau ‘contoh’ (Ibr. 8:5) sedangkan Bait Suci duniawi itu sebagai ‘gambaran’ atau ‘duplikat’ (Ibr. 9:24). Kebenaran ini menyajikan lebih banyak bukti bahwa Bait Suci di surga sudah ada lebih dulu daripada Bait Suci di dunia. Sebagai umat MAHK, kita berpijak pada dasar alkitabiah yang kukuh apabila kita menekankan kenyataan fisik dari Bait Suci surgawi” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Bait Suci di surga sebagai contoh Bait Suci di dunia?
1. Bait Suci yang dibangun Musa adalah rancangan Allah dengan maksud untuk memperagakan pelayanan keimamatan Yesus dalam Bait Suci surgawi. Tujuan pemeragaan itu adalah untuk mengajarkan umat Israel khususnya, dan umat manusia pada umumnya, tentang penebusan dan pengampunan dosa.
2. Hubungan tipologis (sama dan sebangun) dari Bait Suci di surga dan di bumi utamanya adalah pada fungsi dari keduanya, bukan semata-mata pada rancang-bangun fisiknya. Bait Suci surgawi maupun duniawi sama-sama merupakan wahana di mana pelayanan keimamatan diselenggarakan.
3. Keberadaan Bait Suci di surga, dan pelayanan keimamatan Yesus secara harfiah, bukan untuk diperdebatkan. Esensi teologis dari doktrin tentang hal itulah yang lebih penting untuk dipahami, yaitu bahwa Yesus Kristus saat ini sedang menjalankan peran sebagai Imam Besar demi membela umat-Nya (Ibr. 4:14-15; 8:1-2).

Selasa, 8 Oktober
BAIT SUCI DI ANTARA MANUSIA (Yesus Sebagai Bait Suci)

Janji Allah dipenuhi. Rasul Yohanes menulis, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). “Firman” di sini merujuk kepada Yesus Kristus, sesuai dengan apa yang dimaksudkan di awal pasal ini (ay. 1-3). Kata “diam” (BIMK: tinggal) menyatakan bahwa Yesus Kristus, Anak Tunggal Bapa, sudah datang untuk tinggal bersama manusia. Kehadiran-Nya di antara manusia mewakili Allah Bapa, sama seperti Bait Suci itu juga mewakili hadirat Allah di tengah manusia. Yesus juga membawa “kemuliaan” Allah sebagaimana Bait Suci itu juga menghadirkan kemuliaan Allah, walaupun bukan secara fisik oleh karena Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7). Kemuliaan Allah yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus adalah melalui tabiat-Nya.

“Salah satu tema dalam injil Yohanes ialah bahwa dengan Yesus, ‘Bait Suci’ yang lebih baik itu sudah datang. Perumpamaan kemah kudus telah digunakan seawal dalam Yohanes 1:14…Jadi, ketika Kristus datang ke bumi sebagai seorang manusia, Ia memenuhi janji Bait Suci Allah untuk tinggal di antara umat-Nya” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir]

Penyamaan tubuh dan diri Yesus Kristus sebagai “Bait Suci” dinyatakan-Nya sendiri ketika Dia berkata, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali…tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (Yoh. 2:19, 21). Hal ini telah digenapi pada waktu Yesus bangkit dari kubur pada hari Minggu pagi setelah tiga hari (Mat. 12:40; 28:1).

Yesus sebagai Bait Suci. Alkitab menulis, “Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia–artinya yang tidak termasuk ciptaan ini–dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri” (Ibr. 9:11-12; huruf miring ditambahkan). Versi BIMK menerjemahkan kata “lebih besar” dalam ayat ini dengan “lebih agung” yang menegaskan makna dari kata “besar” bukan dalam pengertian ukuran melainkan keagungan (Grika: meizōn).

Bangunan fisik dari Bait Suci yang dibangun Musa di padang belantara itu dikelilingi oleh pagar yang pada bagian depannya terdapat pintu gerbang dengan empat tiang yang dihiasi dengan kain berwarna ungu tua dan ungu muda serta pintalan kain linen berwarna-warni (Kel. 26:36; 27:16; 40:33). Yesus menyatakan: “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 10:9; 14:6). Bait Suci itu melambangkan hadirat Allah, pintu masuknya melambangkan Yesus Kristus.

Pena inspirasi menulis: “Kristus adalah dasar dan jiwa dari Bait Suci itu. Penyaliban-Nya pada hakikatnya akan melenyapkan itu oleh sebab upacara-upacaranya merupakan bayangan dari kurban Anak Allah di kemudian hari. Upacara-upacara itu merujuk kepada keasliannya yang agung, yaitu Kristus sendiri. Bilamana orang Yahudi hendak melaksanakan maksud mereka yang jahat itu, dan melakukan apa yang mereka rencanakan terhadap-Nya, sejak hari itu hingga seterusnya persembahan-persembahan kurban dan upacara-upacara yang terkait dengan hal itu akan menjadi tidak bernilai dalam pemandangan Allah, karena bayangan akan bertemu dengan aslinya dalam persembahan yang sempurna dari Anak Allah” (Ellen G. White, Spirit of Prophecy, jld. 2, hlm. 122).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus sebagai Bait Suci?
1. Sebagaimana Bait Suci melambangkan hadirat Allah di atas bumi ini, demikianlah Yesus melambangkan kehadiran Allah di dunia ini. Secara fisik Bait Suci itu dihiasi dengan kemegahan untuk melambangkan keagungan Allah, dalam diri Yesus keagungan Allah ditampilkan dalam tabiat Kristus yang sempurna dan mulia.
2. Yesus adalah “Bait Suci” yang lebih baik dan lebih agung daripada Bait Suci yang dibangun oleh Musa maupun Salomo, karena Dialah yang dilambangkan oleh upacara-upacara di dalam Bait Suci itu. Kematian dan kebangkitan Yesus menyempurnakan dan menyudahi semua upacara bayangan itu.
3. Pada zaman Israel purba, umat itu datang beribadah kepada Allah di Bait Suci dengan memasuki pelatarannya melalui pintu. Yesus Kristus adalah pintu masuk kepada Bapa untuk memperoleh keselamatan. Kehadiran Yesus di dunia ini menyediakan “jalan masuk” kepada kasih karunia dan kepada Allah (Rm. 5:2; Ef. 3:12).

Rabu, 9 Oktober
JEMAAT ADALAH HABITAT ALLAH (Gereja Sebagai Bait Suci)

Jemaat sebagai Bait Suci. Sementara upacara-upacara seperti yang dipraktikkan dalam Bait Suci zaman dulu tidak diperlukan lagi, oleh karena kematian Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah sudah menggenapi upacara-upacara bayangan itu, Allah sendiri tetap rindu untuk tinggal atau berdiam di antara umat-Nya. Sebagai orang Kristen, bilamana berbicara tentang “rumah Tuhan” pikiran kita serta merta terpikir tentang gereja. Namun, konsep alkitabiah tentang gereja bukanlah bangunannya melainkan jemaatnya, yaitu orang-orangnya. Rasul Petrus berkata, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1Ptr. 2:5).

“Setelah kenaikan Kristus ke surga dan penahbisan-Nya sebagai Imam Besar di Bait Suci di sana, kaabah di bumi tidak lagi memiliki sesuatu maksud yang nyata dalam rencana keselamatan (baca Mat. 27:50, 51). Namun demikian, Allah masih berupaya untuk tinggal di antara umat-Nya di bumi, yang sekarang ini dimungkinkan melalui Roh Kudus. Rasul-rasul menggunakan gambaran kaabah itu untuk menyampaikan kebenaran ini” [alinea pertama].

Rasul Paulus menulis: “Sebab itu, kalian bukan lagi termasuk orang asing atau orang luar. Kalian sekarang adalah sama-sama warga umat Allah. Kalian adalah anggota-anggota keluarga Allah. Kalian pun dibangun di atas dasar yang diletakkan oleh rasul-rasul dan nabi-nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu yang terutama. Ialah yang menyusun seluruh bangunan itu menjadi Rumah Allah yang khusus untuk Tuhan. Karena hidup bersatu dengan Kristus, kalian juga sedang dibangun bersama orang-orang lain menjadi sebuah rumah untuk Allah; di situ Allah tinggal dengan Roh-Nya” (Ef. 2:19-22, BIMK).

Tanggungjawab sebagai Bait Suci. Sebagai umat Tuhan, yang telah diubahkan dari manusia lama menjadi manusia baru (Ef. 4:21-24), sadar atau tidak kita telah menerima bahwa diri kita ini adalah Bait Suci. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor. 3:16-17). Penerapannya bisa secara kelompok sebagai jemaat, bisa juga secara perorangan sebagai pribadi. Artinya, sebagai jemaat maupun sebagai pribadi, kita semua menjadi habitat Allah di bumi ini di mana Dia tinggal melalui Roh Kudus-Nya.

“Pada waktu yang sama, jemaat itu bukan saja bait Allah tapi juga suatu keimamatan yang kudus (1Ptr. 2:5, 9). Tidak disangsikan, dengan kesempatan istimewa seperti ini ada tanggungjawab-tanggungjawab penting. Alangkah pentingnya agar kita menyerahkan hidup kita dalam iman dan penurutan kepada Tuhan yang telah memberikan kepada kita sedemikian banyak, dan yang karena itu meminta banyak pula dari kita” [alinea terakhir].

Apa yang Allah tuntut dari kita sebagai “Bait Suci” supaya Dia mau dan betah untuk mendiaminya? Melalui Putra-Nya Allah berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Apa yang dimaksud dengan “sempurna” (Grika: teleios) di sini? Sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan Yesus, rasul Paulus menguraikannya: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:1-2).

Apa yang kita pelajari tentang jemaat sebagai Bait Suci?
1. Allah tidak pernah sama sekali meninggalkan dunia ini, apalagi berpisah dari umat-Nya. Setelah Bait Suci sebagai tempat kediaman-Nya di bumi ini kehilangan relevansinya oleh kematian Yesus yang menggenapi upacara bayangan di Bait Suci zaman purba itu, Allah diam di tengah jemaat-Nya melalui Roh Kudus-Nya.
2. Jemaat Tuhan adalah “Bait Suci” hasil rancangan Allah, sama seperti Dia merancang Bait Suci di padang gurun itu. Jemaat adalah habitat Allah di bumi ini yang lebih agung dan sempurna sebab Yesus sendiri yang menjadi “batu penjuru” dari bangunan itu.
3. Sebagaimana pemeliharaan Bait Suci zaman dulu itu dilaksanakan dengan sangat cermat karena kekudusannya (Bil. 4:31-32), demikianlah Allah menghendaki agar Jemaat sebagai “Bait Suci” masa kini dipelihara dan dijaga kekudusannya dengan sungguh-sungguh (Kis. 20:28; Tit. 1:7-9).

Kamis, 10 Oktober
YERUSALEM BARU, BAIT SUCI YANG BARU (Ciptaan Baru)

Melayani di Bait Suci surgawi. Salah satu nubuatan penting tentang umat tebusan yang diselamatkan tercatat dalam Wahyu 7:15-17, bahwa “mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya…Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” Tentu saja di surga tidak ada malam, sehingga perkataan “siang malam” harus dimaknai sebagai “terus menerus.” Begitu juga, di surga tidak ada panas matahari yang terik dan air mata, tetapi kata-kata tersebut menggambarkan penderitaan yang mereka telah alami di dunia ini. Seperti dikatakan oleh salah seorang dari tua-tua itu kepada Yohanes Pewahyu: “Inilah orang-orang yang sudah dengan selamat melalui masa penganiayaan yang hebat. Mereka sudah mencuci jubah mereka dan membuatnya menjadi putih dengan darah Anak Domba itu” (ay. 14, BIMK).

Melayani Allah adalah tugas para malaikat, sebuah tugas yang khusus dan mulia; dengan melayani Allah umat tebusan yang selamat itu disejajarkan dengan malaikat-malaikat. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali mengejutkan apabila kita mengingat bahwa orang saleh yang telah mengikut Kristus akan turut mengadili bersama Yesus Kristus (Mat. 19:28), termasuk mengadili malaikat-malaikat jahat yang menjadi pengikut Lusifer dan terusir dari surga menjadi setan-setan. “Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat?” (1Kor. 6:3). Sebagaimana kita akan diberi kesempatan untuk menghakimi malaikat-malaikat jahat, kita pun akan beroleh kesempatan untuk melayani takhta Allah menggantikan malaikat-malaikat jahat itu.

“Di dunia baru, Bait Suci sekali lagi menjadi tempat hubungan yang sempurna di mana Allah dan umat tebusan bertemu. Itu menjamin tempat tinggal, perlindungan, dan penggenapan terakhir dari kehidupan dalam hadirat Allah dan Kristus-Nya. Dia yang pernah berdiam di antara manusia (Yoh. 1:14) sekarang membentangkan kemah ke atas orang-orang saleh-Nya supaya mereka boleh ‘berkemah’ di tempat-Nya” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Bersama Allah di Yerusalem Baru. Sesudah menulis tentang neraka dan Iblis beserta “kerajaan maut” yang dilemparkan ke dalamnya (pasal 20), tulisan Yohanes Pewahyu kemudian beralih kepada penglihatannya mengenai “langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga…” (Why. 21:1-2). Perihal langit dan bumi yang baru serta kota Yerusalem baru juga pernah disebutkan dalam tulisan nabi Yesaya, ketika dia mengutip perkataan Allah: “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan” (Yes. 65:17-18).

Kata “baru” pada ayat dalam kitab Wahyu di atas dalam bahasa aslinya (Grika) adalah καινός, kainos, sebuah kata sifat yang artinya “baru dibuat, segar” dan secara substansial berarti “jenis baru” atau “luar biasa.” Langit dan bumi yang menggantikan langit dan bumi pertama yang telah berlalu itu bukan saja lebih baru tapi juga lebih baik. Sama halnya dengan kota Yerusalem Baru, bukan hanya kebaruannya saja yang istimewa tapi juga keadaannya dan kesemarakannya. Kota Yerusalem yang lama dibangun oleh raja Daud dengan bahan-bahan yang fana dari bumi ini, sedangkan kota Yerusalem Baru dibuat oleh Allah sendiri dan berasal dari surga yang baka. Tetapi perbedaan paling pokok yang menjadikan kota Yerusalem Baru sangat istimewa ialah pada kenyataan bahwa di kota itulah Allah secara pribadi akan tinggal. “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka” (Why. 21:3).

“Yohanes tidak melihat Bait Suci di Yerusalem Baru (Why. 21:22), tetapi ini bukan berarti bahwa tidak ada Bait Suci. Malah, Yerusalem Baru itu sendirilah Bait Suci dan ‘kemah Allah’ (Why. 21:3)…Di dalam Bait Suci Allah, kita dapat tinggal dengan Dia dalam hubungan yang seerat mungkin (Why. 21:3, 7). Inilah tujuan dari keselamatan” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang langit dan bumi serta Yerusalem yang baru?
1. Umat tebusan Allah akan mendapat kesempatan istimewa di surga untuk melayani Allah terus menerus seperti malaikat, dan turut berpartisipasi dalam penghakiman atas orang jahat dan malaikat jahat. Mereka yang telah mengalami derita penganiayaan di dunia ini akan beroleh kesempatan untuk menghakimi para penganiaya mereka.
2. Keistimewaan terbesar dan terutama dari keselamatan ialah kesempatan untuk tinggal bersama Allah dalam arti kata yang sebenarnya. Sekarang ini Allah tinggal dalam diri kita melalui Roh-Nya, tetapi di Yerusalem Baru kita akan tinggal bersama Allah di dalam istana-Nya.
3. Yerusalem Baru adalah “ibu kita” (Ibr. 12:26), kerajaan surga adalah kewarganegaraan kita (Flp. 3:20), ke dalam kerajaan itulah Allah telah memanggil kita (1Tes. 2:12). Di dalam kerajaan itu penderitaan dan dukacita adalah masa lalu (Why. 21:4), itulah sebabnya “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22).

Jumat, 11 Oktober
PENUTUP

Tempat yang disediakan Kristus. Beberapa saat sebelum berpisah dari murid-murid-Nya, Yesus menguatkan hati mereka dengan berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh. 14:1-3).

Kata Grika yang diterjemahkan dengan “tempat tinggal” pada ayat di atas adalah μονή, monē, sebuah kata benda feminin yang dapat juga berarti “mendiami.” Di seluruh PB kata ini hanya digunakan sebanyak dua kali, yaitu dalam pasal yang sama dan keduanya sama-sama diucapkan oleh Yesus. Selain pada ayat 2 di atas, juga pada ayat 23: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (huruf miring ditambahkan; versi BIMK: tinggal).

“Kristus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka di rumah Bapa. Mereka yang menerima pengajaran firman Allah tidak akan bersikap masa bodoh sama sekali mengenai tempat tinggal surgawi…Bahasa manusia tidak cukup memadai untuk menjelaskan upah orang benar. Hal itu hanya dikenal oleh mereka yang memandangnya. Pikiran yang fana tidak dapat memahami kemuliaan Firdaus Allah” [kalimat kedua dan ketiga serta tiga kalimat terakhir].

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (1Tes. 4:16-18).

Leave a Reply