“SURGA, PUSAT PEMERINTAHAN ALAM SEMESTA”

PELAJARAN KE-I; 5 Oktober 2013
“BAIT SUCI SURGAWI”*

Sabat Petang, 28 September
PENDAHULUAN

Tempat kediaman Allah. Di mana Allah tinggal? Sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban yang tidak sederhana. Alkitab mengajarkan bahwa surga adalah tempat kediaman Allah (1Raj. 8:49; Mat. 6:9), dan hal itu disaksikan oleh Stefanus tatkala dia memperoleh pengalaman teofania (Kis. 7:55-56). Tetapi Firman Tuhan juga mengatakan bahwa Allah mempunyai tempat tinggal di dunia ini, yaitu di dalam tubuh kita (1Kor. 3:16; Ef. 2:22). Tentu saja hal ini harus dipahami secara kiasan, yang dalam hal ini untuk menekankan pentingnya menjaga kekudusan tubuh kita. Apabila Allah ada di hati maka kita tidak akan memikirkan dan melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya.

Seperti telah kita pelajari beberapa waktu yang lalu, Alkitab menyebutkan tentang tiga lapisan langit. Langit yang pertama adalah cakrawala yang membungkus Bumi tempat burung-burung beterbangan (Kej. 1:14; Kej. 7:11-12) dan lapisan atmosfir termasuk awan hujan (Kej. 8:2; Ul. 28:12). Langit kedua adalah ruang angkasa di mana terdapat galaksi dan bintang-bintang (Ul. 17:3; Yer. 8:2; Mzm. 19:2). Sedangkan langit ketiga, yaitu “langit yang mengatasi segala langit” (Ul. 10:14), adalah surga tempat kediaman Allah (Kej. 28:17; Ul. 26:15; 1Raj. 8:30, 43; 1Raj. 22:19; Mzm. 2:4; Mat. 6:9-10; Mrk. 11:25).

Tatkala bangsa Israel purba keluar dari Mesir dalam perjalanan menuju ke tanah perjanjian Kanaan, Allah memerintahkan Musa untuk membangun sebuah Kemah Pertemuan, “supaya Aku diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8-9), sebab “di sana Aku akan bertemu dengan kamu…Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel” (Kel. 29:42-46). Sampai empat ratus tahun kemudian setelah keturunan bangsa itu bermukim di Kanaan, hingga pada masa pemerintahan raja Daud, Kemah Pertemuan (terkadang disebut Kemah Suci) yang ditempatkan di Gibeon itu masih tetap digunakan (1Taw. 21:29-30). Jadi, Allah juga tinggal di Bait Suci yang dibangun manusia di dunia ini.

Sementara sebagian orang mempertanyakan apakah eksistensi Bait Suci di surga itu nyata secara fisik atau hanya kiasan, kita mengetahui dari Alkitab bahwa Musa membuat Kemah Pertemuan ataupun Kemah Suci di padang belantara itu berdasarkan petunjuk Allah dan meniru model “yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya” (Kel. 25:9). Tujuan mendirikannya adalah untuk memperagakan rencana keselamatan manusia melalui sistem penebusan dosa. “Ketika Allah menetapkan Bait Suci di bumi, Ia menggunakannya sebagai sebuah sarana pengajaran. Bait Suci bangsa Israel beserta upacara-upacaranya menggambarkan kebenaran-kebenaran penting tentang penebusan, tentang tabiat Allah, dan tentang penentuan akhir dari dosa” [Kata Pengantar, alinea kedua].

Adalah gagasan Daud untuk membangun Bait Suci permanen yang diutarakannya kepada nabi Natan. Sang raja merasa tidak enak hati karena tinggal di istana megah tetapi Tabut Perjanjian berisi Sepuluh Hukum yang menjadi tanda hadirat Allah hanya diletakkan di sebuah tempat darurat. “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda,” katanya (2Sam. 7:2). Allah menanggapi ide ini dengan menyatakan bahwa Dia tidak pernah meminta siapapun untuk mendirikan tempat tinggal megah (ay. 6-7). Tuhan tidak keberatan atas rencana pembangunan tempat kudus itu, tetapi bukan Daud yang membangunnya. Kepada Salomo, putranya, Daud menjelaskan alasan mengapa Tuhan tidak memperkenankan dia melaksanakannya idenya itu karena dia telah banyak menumpahkan darah dalam berbagai peperangan (1Taw. 22:7-10).

“Kitabsuci itu jelas: Bait Suci surgawi adalah sebuah tempat yang nyata, dan dari padanya kita dapat mempelajari kebenaran-kebenaran mengenai tabiat dan pekerjaan Allah kita. Maka fokus dari pelajaran pekan ini ialah Bait Suci surgawi serta apa yang Allah sedang lakukan di sana bagi kita, oleh karena apa yang Ia sedang lakukan di Bait Suci itu sesungguhnya adalah untuk kita” [alinea terakhir].

*(Judul asli: The Heavenly Sanctuary)

Minggu, 29 September
HADIRAT ALLAH (Tempat Kediaman Allah)

Allah hadir di mana-mana. Tiga kodrat Allah adalah maha kuasa (omnipotent), maha mengetahui (omniscient), dan hadir di mana-mana (omnipresent). Kodrat yang ketiga, yaitu kehadiran Allah di segala tempat pada waktu yang bersamaan, dapat terjadi sekalipun Allah itu esa (Ul. 6:4; 1Tim. 2:5). Sebagian orang memahami kodrat Allah yang bisa berada di mana-mana itu dengan mengaitkan pernyataan Kitabsuci bahwa “Allah itu Roh” (Yoh. 4:24). Tetapi jangan lupa bahwa Allah memiliki sosok fisik dari mana Adam memperoleh bentuk lahiriahnya (Kej. 1:26), bahkan Allah mempunyai wajah, kaki dan tangan (Kel. 33:20-23), memiliki mata untuk melihat (Mzm. 11:4) dan telinga untuk mendengar (Yes. 59:2).

Raja Daud mengungkapkan ketidakberdayaannya untuk bersembunyi dari hadapan Allah ketika dia berkata, “Ke mana aku dapat pergi agar luput dari kuasa-Mu? Ke mana aku dapat lari menjauh dari hadapan-Mu? Jika aku naik ke langit, Engkau ada di sana, jika aku tidur di alam maut, di situ pun Engkau ada. Jika aku terbang lewat ufuk timur atau berdiam di ujung barat yang paling jauh, di sana pun Engkau menolong aku; di sana juga tangan-Mu membimbing aku. Jika aku minta supaya gelap menyelubungi aku, dan terang di sekelilingku menjadi malam, maka kegelapan itu pun tidak gelap bagi-Mu; malam itu terang seperti siang, dan gelap itu seperti terang” (Mzm. 139:7-12, BIMK).

“Melengkapi sifat Allah yang hadir di mana-mana itu adalah keberadaan-Nya yang abadi. Allah tidak ada awal maupun akhir (Mzm. 90:2). Dia sudah ada selamanya dan akan selamanya ada (Yud. 1:25)” [alinea kedua].

Hadirat umum dan khusus. Dalam khotbah diatas bukit (Matius 5-7) Yesus berkata, “Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah” (Mat. 5:34). Yesus juga menyatakan bahwa surga adalah tempat tinggal Allah Bapa (ay. 45). Selanjutnya, di seluruh PB terdapat belasan ayat yang mempertegas surga sebagai tempat kediaman Allah. Pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam PL, antara lain dalam 1Raja-raja 8:49 dan Mazmur 102:20. Bahkan Ayub berseru, “Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya!” (Ay. 22:12). Nabi Tuhan ini sedang berbicara tentang langit ketiga yang berada di atas langit kedua yang bertaburan bintang itu. Allah sendiri menyatakan melalui nabi Yesaya, “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku…” (Yes. 66:1).

Sekalipun Allah bertakhta dan bertempat tinggal di surga, yaitu sebuah tempat yang terletak di langit ketiga, kehadiran-Nya juga ada di mana saja di seluruh alam semesta. Seperti pernyataan-Nya sendiri, “Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN” (Yer. 23:23-24). Seperti kata Salomo, “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Ams. 15:3).

Berdasarkan ayat-ayat di atas kita mengetahui bahwa surga merupakan tempat kediaman Allah yang resmi, tetapi sebagai pemilik dan penguasa alam semesta Allah dapat berada di mana saja di seantero jagad raya ini. “Akan tetapi ada perbedaan antara ‘hadirat umum’ Allah dengan ‘hadirat khusus’-Nya. Pada umumnya Allah hadir di mana-mana; namun Ia memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam suatu cara yang istimewa di surga dan, sebagai akan kita lihat, di dalam Bait Suci surgawi” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang tempat kediaman Allah dan hadirat Allah?
1. Allah bersemayam di surga, tetapi hadirat-Nya ada di mana saja di seluruh alam semesta. Kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan-Nya. Sebaliknya, kebodohan dan keterbatasan manusia tidak dapat memahami kodrat Allah.
2. Surga sebagai tempat kediaman dan takhta Allah merupakan juga pusat pemerintahan alam semesta. Dari surga Allah mengamat-amati manusia di Bumi ini dan menghakimi mereka, dari surga pula Allah mengendalikan seluruh peredaran benda-benda angkasa. Dalam kepintarannya manusia bisa mengamati luar angkasa, tetapi tidak bisa memahaminya menurut pemikiran Allah.
3. Istilah “hadirat umum” dan “hadirat khusus” dalam pelajaran hari ini hanyalah kesimpulan dari penyusun pelajaran SS dalam usahanya untuk menjelaskan tentang kodrat Allah yang bisa hadir di mana-mana pada waktu yang sama. Kita tidak menemukan istilah teologis yang baku tentang hal itu.

Senin, 30 September
PEMERINTAHAN ALLAH (Ruang Takhta)

Kedaulatan Allah. Kekuasaan adalah dasar dari pemerintahan, tanpa kekuasaan tak ada yang dapat memerintah. Takhta identik dengan kekuasaan dan kedaulatan. Pemazmur mengatakan bahwa “Allah adalah Raja seluruh bumi” sehingga semua manusia wajib memuji Dia (Mzm. 47:6-9), yang memiliki kemegahan dan kekuatan abadi (Mzm. 93:1-2), bertakhta di surga dan “berkuasa atas segala sesuatu” (Mzm. 103:19). Tentu saja penyebutan Allah sebagai Raja di sini berdasarkan paradigma tentang raja-raja zaman dulu yang memiliki kekuasaan mutlak, bukan karena Allah sendiri yang ingin diri-Nya diproklamirkan sebagai Raja. Allah adalah Pencipta, dan sebagai Pencipta maka Allah memiliki kekuasaan atas segala ciptaan-Nya, tanpa harus bergelar Raja.

Perhatikan bahwa raja Daud menyebut Allah berkuasa “atas” segala sesuatu, bukan “dalam” segala sesuatu. Ini mengartikan bahwa Allah lebih tinggi dari segala sesuatu, dan dengan kekuasaan-Nya itu Allah memerintah dan mengatur “segala sesuatu.” Kedaulatan Allah itu nyata, jadi kekuasaan-Nya pun nyata. Kerajaan dan kekuasaan Allah bukan sekadar gambaran yang tertuang dalam kata-kata, melainkan hal yang nyata. Seperti kata Paulus, “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa” (1Kor. 4:20).

“Beberapa penglihatan tentang takhta surgawi terdapat dalam Alkitab. Kebanyakan menggambarkan tentang majelis surgawi dengan Allah sebagai Raja. Cukup menarik bahwa kebanyakan dari penglihatan-penglihatan itu berkaitan dengan urusan-urusan manusia, biasanya menampilkan Allah yang sedang bertindak atau berbicara demi orang-orang benar…Takhta Allah yang dikukuhkan di surga memiliki beberapa arti tambahan. Salah satunya ialah bahwa Allah itu mandiri dan lebih tinggi dari segala yang lain di alam semesta” [alinea pertama dan ketiga].

Kebenaran dan keadilan. Setiap pemerintahan di dunia ini mempunyai azas yang menjadi dasar negara. Republik Indonesia sebagai negara berdaulat memiliki Pancasila sebagai azas negara, sebuah dasar pemerintahan yang ditetapkan oleh para pendiri republik ini dan yang telah berkali-kali terbukti kesaktiannya dalam mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang besar dan majemuk ini ketika dihadang oleh berbagai kemelut. Kerajaan Allah juga mempunyai azas pemerintahan, yaitu “keadilan dan hukum” (Mzm. 89:15; 97:2).

Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “keadilan” dalam kedua ayat ini adalah צֶדֶק, tsedeq, sebuah kata benda maskulin yang bisa berarti “keadilan” atau juga “kebenaran”; sedangkan “hukum” di sini adalah dari kata מִשְׁפָּט, mishpat, kata benda maskulin yang berarti “penghakiman” atau “keadilan” dan juga “peraturan.” Alkitab KJV menerjemahkan kedua kata ini dengan “righteousness and judgment” (kebenaran dan penghakiman), sedangkan Today’s English Version (TEV) menerjemahkannya dengan “righteousness and justice” (kebenaran dan keadilan).

“Pemerintahan Allah mencakup kebenaran dan keadilan selain juga kasih dan kejujuran. Sifat-sifat moral ini menerangkan bagaimana Dia bertindak dalam dunia manusia dan menegaskan posisi-Nya di seluruh jagad raya. Sifat-sifat ini, yang membentuk pemerintahan-Nya, sama seperti sifat-sifat yang Dia ingin agar umat-Nya wujudkan dalam kehidupan mereka (Mi. 6:8, bandingkan dengan Yes. 59:14), dan merupakan kesempatan istimewa yang suci untuk kita lakukan” [alinea keempat].

Apa yang kita pelajari tentang pemerintahan Allah?
1. Kedaulatan pemerintahan Allah meliputi seluruh jagad raya, karena itu Allah berkuasa atas segala sesuatu di bumi dan seluruh alam semesta. Kekuasaan Allah berdasarkan kepemilikan-Nya melalui penciptaan, sehingga pemerintahan Allah tidak mengenal kepemilikan privat dalam hal apapun di luar diri-Nya.
2. Kekuasaan Allah yang berlaku “atas segala sesuatu” menandakan bahwa kekuasaan-Nya bersifat mutlak dan menyeluruh. Tidak ada sepenggal bagian dalam wujud apapun di alam ini yang tidak termasuk dalam genggaman kekuasaan-Nya, mencakup kekuasaan atas ruang dan waktu.
3. Dengan kekuasaan dan kedaulatan yang tidak ada batasnya itu, Allah menjalankan pemerintahan-Nya berazaskan “kebenaran dan keadilan.” Sulit dimengerti kalau ada seorang manusia di muka bumi ini–apapun jabatannya–yang menjalankan kekuasaannya yang hanya bersifat sementara dan terbatas itu secara otoriter tanpa mengindahkan kebenaran dan keadilan.

Selasa, 1 Oktober
ALLAH YANG DISEMBAH (Ibadah di Surga)

Pemandangan takhta Allah. Wahyu pasal 4 dimulai dengan penjelasan ini: “Sesudah itu saya mendapat penglihatan lagi. Saya melihat sebuah pintu terbuka di surga. Kemudian terdengar lagi suara yang pada mulanya sudah berbicara kepada saya seperti bunyi trompet. Suara itu berkata, ‘Mari naik ke sini. Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang akan terjadi nanti.’ Langsung saja saya dikuasai Roh Allah. Lalu saya melihat di surga ada sebuah takhta, dan ada seseorang duduk di takhta itu” (ay. 1-2, BIMK).

Pasal 4 dan 5 merupakan pekabaran bagian ketiga dari kitab Wahyu, setelah bagian pertama berbicara tentang Yesus di Antara Tujuh Jemaat (1:9-20) dan bagian kedua perihal Surat kepada Tujuh Jemaat (pasal 2 & 3). Bagian ketiga ini bertutur tentang Takhta di Surga (pasal 4), Tujuh Gulungan Kitab Bermaterai (5:1-5), dan Anak Domba yang tersembelih (5:6-14). Sesuai keterangan Yohanes Pewahyu, penulisnya, penglihatan yang disaksikannya ini menyingkapkan tentang peristiwa-peristiwa “yang akan terjadi nanti.” Penglihatan atau khayal Yohanes Pewahyu, yaitu Yohanes murid Yesus, ini mirip dengan pengalaman teofania (=memandang Allah atau takhta Allah) yang dialami oleh nabi Yesaya (Yes. 6:1-8) dan nabi Yehezkiel (Yeh. 1:26-28) ketika menyaksikan pemandangan takhta Allah di surga.

“Penglihatan tentang ruang takhta di surga adalah sebuah penglihatan tentang Bait Suci surgawi. Hal ini menjadi jelas dari bahasa yang mengacu kepada sistem keagamaan Ibrani…Semua ayat-ayat ini menunjuk ke belakang kepada upacara ibadah Perjanjian Lama yang berpusat di seputar Bait Suci duniawi” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Yesus, Anak Domba yang disembelih. Tokoh sentral dari kitab Wahyu adalah Yesus Kristus, yaitu Anak Allah yang telah mati untuk penebusan dosa manusia sehingga dijuluki sebagai Anak Domba. Istilah “Anak Domba” merujuk kepada upacara pokok di Bait Suci dalam peribadatan bangsa Israel purba, sejak di tengah perjalanan di padang gurun sampai setelah bermukim di tanah perjanjian Kanaan, yaitu upacara mengorbankan seekor anak domba yang tidak bercacat sebagai ritual yang melambangkan kematian Anak Allah yang dijadikan kurban Penebus dosa manusia.

“Akhirnya, Anak Domba yang disembelih dari Wahyu 5 tentu saja mengacu kepada kematian pengorbanan Kristus. Kristus, Anak Domba itu, adalah satu-satunya pengantara dari keselamatan ilahi dan dianggap layak oleh karena kemenangan-nya (Why. 5:5), pengorbanan-Nya (Why. 5:9, 12), dan keilahian-Nya (Why. 5:13)…Apa yang kita lihat dalam dua pasal ini, yang berpusat di sekitar takhta Allah, adalah suatu gambaran dari pekerjaan Allah bagi keselamatan umat manusia” [alinea kedua dan alinea keempat kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Allah tidak menyayangkan Putra-Nya sendiri, tetapi menyerahkan Dia kepada kematian karena pemberontakan kita dan meninggikan Dia kembali demi pembenaran kita. Melalui Kristus kita bisa menyampaikan permohonan-permohonan kita di takhta kasih karunia. Melalui Dia, seperti kita yang tidak layak, kita bisa memperoleh semua berkat rohani. Apakah kita datang kepada-Nya, supaya kita boleh memiliki hidup?” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 5, hlm. 221).

Apa yang kita pelajari tentang peribadatan di surga?
1. Suasana di sekitar takhta Allah adalah suasana penyembahan. Yohanes Pewahyu menyaksikan suasana surgawi ini ketika dia memperoleh penglihatan yang dituangkannya dalam kitab Wahyu, khususnya pasal 4 dan 5. Menyembah Allah adalah tema utama dari peribadatan, di dunia maupun di surga.
2. Dalam penglihatan tersebut Yohanes melihat di tengah-tengah takhta Allah itu berdiri “seekor Anak Domba seperti telah disembelih” (Why. 5:6). Perkataan ini mengingatkan kita akan dua kali pernyataan Yohanes Pembaptis saat melihat Yesus, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29, 36).
3. Penyembahan kepada Allah dapat dilakukan secara jasmaniah dalam suatu upacara ibadah yang khidmat, dapat juga dilakukan secara rohaniah ketika kita mengangkat hati dan memuji Dia di tengah kesibukan pribadi sehari-hari. Menyembah Allah harus didasarkan pada kesadaran pribadi setiap umat Tuhan.

Rabu, 2 Oktober
ALLAH YANG MENGHAKIMI (Ruang Pengadilan)

Takhta pengadilan. Kitabsuci menerangkan bahwa Allah memiliki berbagai kapasitas dalam berurusan dengan manusia, salah satunya adalah sebagai Hakim yang adil (Mzm. 7:12; 9:5; 2Tim. 4:8). Selaku Hakim, “mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia…dan Ia mengasihi keadilan” (Mzm. 11:4, 7), karena itu “berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi” (Hab. 2:20). Di seluruh Alkitab terdapat 76 ayat yang menyebutkan Allah adalah hakim. Sebagai Hakim, “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya” (Pkh. 3:17), dan Dia juga akan “menghakimi orang yang hidup dan yang mati” (2Tim. 4:1).

“Bilamana Allah menghakimi ruang takhta berubah menjadi ruang pengadilan, dan takhta surgawi menjadi kursi pengadilan. Ia yang bertakhta itu adalah Dia yang menghakimi (lihat Mzm. 9:4-8), sebuah konsep yang dikenal di Timur Dekat purba di mana raja-raja sering berfungsi juga sebagai para hakim…Perpaduan klasik dari ruang takhta dan pengadilan muncul dalam Daniel 7:9-14 (ayat-ayat penting yang akan kita pelajari nanti). Sekali lagi, pengadilan terdiri atas dua jalinan: keputusan membenarkan orang saleh dan vonis hukuman bagi musuh-musuh Allah” [alinea kedua dan alinea ketiga: dua kalimat terakhir].

Menantikan waktu Allah. Kitab Habakuk diawali dengan catatan tentang kegundahan sang nabi terhadap maraknya kejahatan dan ketidakadilan, tapi naga-naganya Allah seperti tidak peduli. “Ya TUHAN, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan? Kapan Engkau akan mendengar dan menyelamatkan kami dari penindasan? Mengapa Kau biarkan aku melihat begitu banyak kejahatan? Masakan Engkau tahan melihat begitu banyak pelanggaran?…Hukum diremehkan dan keadilan tak pernah ditegakkan. Orang jahat menjadi unggul atas orang yang jujur, maka keadilan diputarbalikkan” (Hab. 1:2-4, BIMK). Kegundahan ini sama seperti yang dikeluhkan oleh pemazmur, “Ya Tuhan, sampai kapan orang jahat bergembira? Sampai kapan, ya Tuhan?” (Mzm. 94:3, BIMK).

Apakah pengeluhan seperti ini akrab dengan keseharian anda? Allah bukan tidak mengetahui semua itu, sebab sebagai Hakim yang adil Allah mencermati segala gerak-gerik manusia dan apa yang terjadi di bumi. Menanggapi kegundahan Habakuk itu Allah berfirman: “Ukirlah dengan jelas pada kepingan tanah liat, apa yang Kunyatakan kepadamu, supaya dapat dibaca dengan mudah. Catatlah itu, sebab sekarang belum waktunya. Tetapi saat itu segera tiba, dan apa yang Kunyatakan kepadamu pasti akan terjadi. Meskipun tampaknya masih lama, tetapi tunggu saja! Saat itu pasti akan datang dan tak akan ditunda” (Hab. 2:2-3, BIMK).

Kitab Habakuk diakhiri dengan satu pekabaran penting untuk semua manusia pada segala zaman: “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Hab. 2:20). Kutipan ayat ini sering kita lihat terpampang di depan mimbar gereja untuk mengingatkan jemaat agar takzim di dalam rumah Tuhan. Namun, sesuai dengan konteksnya tentang penghakiman, makna dari pesan ini sesungguhnya adalah untuk mengingatkan umat Tuhan supaya bersabar. Allah ada di dalam Bait-Nya, tempat yang sewaktu-waktu dapat menjadi ruang pengadilan untuk menghakimi manusia. Berdiam dirilah dan jangan mengeluh.

“Tempat di mana Allah menyatakan hadirat-Nya yang istimewa dan di mana Dia disembah oleh makhluk-makhluk surgawi adalah tempat yang sama di mana Dia menjalankan penghakiman yang adil terhadap semua manusia: Bait Suci di surga. Allah itu adil, dan semua keraguan kita perihal keadilan akan terjawab dalam waktu Allah, bukan waktu kita” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang ruang pengadilan Allah di surga?
1. Allah adalah Raja semesta alam, Dia jugalah Hakim yang adil atas seluruh manusia. Takhta Allah adalah takhta kerajaan dan sekaligus juga kursi pengadilan, dari tempat mana Allah memerintah dan menghakimi. Sebagai Hakim yang adil, Allah membenarkan orang benar dan menghukum orang jahat (Ams. 11:21;
2. Keluhan manusia: “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat” (Pkh. 8:11). Tanggapan Allah: “Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran” (Mzm. 75:3). Allah bekerja dalam jadwal-Nya sendiri.
3. Pengadilan Allah berlaku di seantero dunia ini, terhadap segenap manusia sepanjang zaman. Tidak ada sejengkal tanah pun di Bumi ini yang luput dari penghakiman Allah. “Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya” (1Taw. 16:14; Mzm. 105:7).

Kamis, 3 Oktober
KESELAMATAN DARI BAIT SUCI (Tempat Keselamatan)

Pelayanan keimamatan Kristus. Setelah menyelesaikan seluruh missi-Nya di atas dunia ini, Yesus kembali ke surga “lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk. 16:19). Ini sesuai dengan apa yang Yesus sendiri katakan sebelumnya di hadapan imam besar yang mengadili-Nya (Mat. 26:64; Luk. 22:69), dan yang kemudian disaksikan oleh Stefanus saat mendapat penglihatan teofania (Kis. 7:55-56). Posisi “sebelah kanan” adalah posisi pendelegasian otoritas, atau posisi pelaksana kewenangan. Kedudukan ini diperoleh Yesus setelah seluruh “kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya” (1Ptr. 3:22), dan “segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya” (1Kor. 15:27).

Dengan duduk di sebelah kanan takhta Allah berarti Kristus berbagi kekuasaan untuk memerintah dan kewenangan untuk menghakimi dengan Allah. Tetapi di surga Yesus Kristus tidak hanya turut memerintah dan menghakimi bersama Allah, tetapi Dia “malah menjadi Pembela bagi kita” (Rm. 8:34). Justeru peran sebagai Pembela ini adalah unik dan hanya bisa dijalankan oleh Yesus sendiri oleh sebab Dialah yang sudah mati di kayu salib sebagai kurban penebus dosa manusia. Konfirmasi tentang peran Yesus sebagai Pembela ini ditemukan dalam kitab Ibrani: “Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia” (8:1-2).

“Kitab Ibrani mengajarkan bahwa Kristus sedang melayani di Bait Suci surgawi sebagai Imam Besar kita. Pekerjaan-Nya di sana terpusat pada keselamatan kita, karena Ia tampil ‘menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita’ (Ibr. 9:24). Ia bersimpati kepada kita, memberi kita jaminan bahwa kita tidak akan ditolak, tapi sebaliknya menerima rahmat dan kasih karunia (Ibr. 4:15-16) oleh karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita. Seperti dalam Bait Suci di bumi, Bait Suci di surga adalah tempat di mana ‘pendamaian’ diadakan untuk dosa-dosa umat percaya (Ibr. 2:17). Yesus yang mati demi kita adalah Dia yang sekarang melayani di surga ‘demi kita’ juga” [alinea pertama].

Perabot dalam Bait Suci. Dalam penglihatannya itu Yohanes Pewahyu melihat berbagai peralatan di dalam Bait Suci surgawi yang dikenalnya, yaitu perabot yang juga terdapat dalam Bait Suci di dunia. Benda-benda itu termasuk tujuh kaki dian dari emas (Why. 1:12), mezbah dengan sebuah pedupaan emas (8:3), dan tabut perjanjian (11:19). Sangat mungkin bahwa Bait Suci yang dilihat oleh Yohanes ini adalah Bait Suci yang sama seperti yang diperlihatkan kepada Musa di gunung Sinai dulu itu (Kel. 25:40). Bedanya, barangkali, adalah pada aktivitas di dalam Bait Suci itu yang tidak ditunjukkan kepada Musa.

“Ayat-ayat dalam pelajaran hari ini hanyalah beberapa tempat dalam kitab Wahyu di mana simbol-simbol Bait Suci itu muncul. Sesungguhnya, kebanyakan dari bagian-bagian utama dari kitab ini sering diawali dengan, atau mengandung, suatu pemandangan Bait Suci” [alinea kedua].

Pena inspirasi menulis: “Bait Suci dari perjanjian pertama terpasang oleh manusia, dibangun oleh Musa; yang ini dipasang oleh Tuhan, bukan manusia. Dalam Bait Suci itu imam-imam duniawi menjalankan upacara mereka; yang ini, Kristus, Imam Besar kita, melayani di sebelah kanan Allah. Satu Bait Suci di bumi, yang lainnya di surga” (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 413).

Apa yang kita pelajari tentang Bait Suci surgawi sebagai sumber keselamatan?
1. Kedatangan Anak Allah yang pertama ke dunia ini, dalam sosok Yesus Kristus, mempunyai missi utama untuk mati sebagai Anak Domba yang menjadi kurban penebusan dosa. Keberhasilan-Nya dalam missi ini melayakkan Yesus untuk menjalankan fungsi-Nya sebagai Imam Besar dalam Bait Suci surgawi.
2. Fungsi Imam Besar dalam Bait Suci sama dengan fungsi Pembela di ruang pengadilan surgawi, yaitu bertindak untuk dan atas nama manusia berdosa. Posisi yang istimewa dan unik ini dapat dijalankan oleh Yesus Kristus karena Dia sudah mati sebagai kurban penebusan dosa di kayu salib. Jadi, salib adalah “upacara penahbisan” Kristus sebelum Dia berhak menjalankan kedua fungsi itu.
3. Bait Suci di dunia dulu itu melambangkan hadirat Allah, dan upacara-upacara serta alat-alat perlengkapan dalam Bait Suci di dunia adalah simbol yang membayangkan kurban penebusan yang sudah terlaksana di Golgota. Kalau memang Bait Suci di surga itu ada secara fisik dan tetap dipertahankan keberadaannya, dengan segala upacara dan peralatannya, mungkin itu untuk menjadi semacam “monumen” penyelamatan manusia. Entahlah.

Jumat, 4 Oktober
PENUTUP

Membayangkan surga. Anda dan saya boleh mengembangkan imajinasi kita yang paling liar sekalipun untuk membayangkan keadaan di surga, tetapi itupun tidak dapat memberikan gambaran yang mendekati kenyataan yang sebenarnya tentang surga. Alkitab mengatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor. 2:9).

“Jadi anda boleh kembangkan imajinasi anda seluas mungkin, anda boleh mencoba kemampuan terbaik anda untuk memahami dan memikirkan bobot kemuliaan yang kekal itu, namun pengertian anda yang fana itu sampai lelah dan lesu berusaha tidak dapat memahaminya, karena ada suatu ketidakterbatasan di baliknya. Memerlukan seluruh masa kekekalan untuk menyingkapkan kemuliaan-kemuliaan itu dan mengeluarkan perbendaharaan yang berharga dari Firman Allah” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Surga tentu memiliki segala kesenangan untuk dinikmati oleh umat tebusan yang pikiran dan angan-angan hatinya sudah dimurnikan kepada keadaannya yang asli sebelum ada dosa, yaitu hal-hal yang tidak pernah kita temukan di dunia ini. Tetapi bukan karena semua kesenangan dan kenikmatan itu yang menjadi alasan utama saya sehingga rindu masuk surga, melainkan kerinduan saya adalah untuk bertemu Yesus muka dengan muka, serta melihat Allah yang selalu mengasihi saya tanpa syarat. Bagaimana dengan anda? Apa motif anda ingin masuk surga?

“I’ve a longing in my heart for Jesus, I’ve a longing in my heart to see His face; I am weary, oh so weary, of trav’ling here below, I’ve a longing in my heart for Him”/”Hatiku rindu kepada Yesus, hatiku rindu melihat muka-Nya; Oh, betapalah penat, aku hidup di dunia, hatiku rindu pada Yesus” (LS 313).

“Di dalam kota itu tidak terdapat sesuatu pun yang terkena kutuk Allah. Takhta Allah dan Anak Domba itu akan berada di dalam kota itu. Hamba-hamba-Nya akan berbakti kepada-Nya, dan melihat wajah-Nya. Nama-Nya akan ditulis di dahi mereka. Mereka tidak akan memerlukan lampu atau cahaya matahari, sebab malam tidak ada lagi, dan Tuhan Allah sendiri akan menerangi mereka. Maka mereka akan memerintah sebagai raja untuk selama-lamanya” (Why. 22:3-5, BIMK).

Leave a Reply