SURGA UNTUK ORANG-ORANG BIASA

 

 

PENDAHULUAN

 

Jangan memandang muka. Banyak orang senang berada dekat dengan orang yang dianggap penting. Sebagaimana kita tahu, ukuran sekuler untuk orang “penting” adalah dari kalangan pejabat, berpangkat, terkenal, kaya, dan sebagainya. Sangat mudah untuk mengenali orang-orang penting menurut ukuran duniawi seperti itu. Bisa dibayangkan bagaimana sambutan jemaat kalau satu orang penting sekonyong-konyong muncul di gereja kita dalam acara kebaktian. Disediakan tempat duduk khusus di deretan paling depan, didampingi, diajak ngobrol, dan sebagainya. Wajar.

 

Kalau dikunjungi oleh orang-orang penting saja sudah begitu membanggakan, apalagi kalau di antara jemaat kita sendiri ada anggota-anggota dari kalangan orang penting. Karena itu kita sangat senang jika berhasil menarik jiwa dari “golongan atas,” seolah-olah merasa jiwa-jiwa seperti itu lebih berkualitas dibanding jiwa-jiwa dari kalangan orang kebanyakan. Saya teringat seorang pendeta yang secara terbuka mengungkapkan kebanggaannya melihat halaman gereja yang bertebaran dengan mobil-mobil mewah milik para anggota jemaat. Untuk ukuran di tanah air pada tahun 1980-an, ketika banyak orang masih mengandalkan kendaraan umum seperti angkutan kota (angkot) sebagai moda transportasi keluarga, banyaknya mobil pribadi parkir di halaman menunjukkan bahwa gereja itu “berkelas.”

 

“Tidak demikian dengan Yesus yang melihat kesia-siaan dan kehampaan dari kebesaran dan kehormatan duniawi. Bahkan, dalam banyak kasus, orang-orang yang sangat sukses–seperti kaum Farisi yang kedudukannya menyenangkan, golongan Saduki yang kaya, dan bangsawan Romawi–itulah yang paling menyusahkan Dia. Sebaliknya, orang-orang ‘biasa’–para tukang kayu, nelayan, petani, ibu rumahtangga, gembala, serdadu, dan hamba–yang pada umumnya mengerumuni dan menerima Dia” [alinea kedua].

 

Pemuridan yang diajarkan Yesus Kristus tidak mengenal diskriminasi dalam bentuk dan manifestasi apapun, karena dalam pemandangan Allah semua manusia adalah sederajat dan sama-sama adalah calon warga surga, “sebab Allah tidak memandang muka” (Gal. 2:6). Tetapi mata manusiawi kita terlalu gampang untuk menjadi silau melihat jiwa-jiwa yang kelihatannya memiliki atribut-atribut kesuksesan duniawi, akibatnya kita mudah terjebak ke dalam sikap memandang muka. “Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka” (Ef. 6:9).

 

Minggu, 2 Februari

BERTUMBUH DALAM KESEDERHANAAN (Permulaan yang Rendah Hati)

 

Hidup sebagai orang miskin. Pernahkah anda bertanya-tanya, apa sebabnya Allah menghendaki Yesus Kristus lahir dari orangtua yang miskin seperti Yusuf dan Maria, bukan dari keluarga kaya atau bangsawan supaya menyediakan latar belakang yang lebih berpengaruh di mata masyarakat? Tentu saja Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana bukan karena sasaran utama dari missi keselamatan-Nya adalah orang-orang miskin dan rakyat jelata saja, sehingga dengan menjadi orang miskin Yesus akan lebih mudah menjangkau dan diterima di kalangan orang-orang biasa. Injil keselamatan Kristus mengandung kuasa ilahi dan tidak membutuhkan penguatan bersifat duniawi apapun agar diterima oleh manusia.

 

Fakta bahwa orangtua Yesus hanya sanggup menyediakan “sepasang burung tekukur dan dua ekor anak merpati” (Luk. 2:24) sebagai persembahan penyerahan anak atas kelahiran Yesus, suatu bentuk persembahan paling murah yang ditentukan oleh Kitabsuci orang Ibrani (Im. 12:8), menunjukkan kemiskinan keluarga Yesus. Tampaknya hadiah-hadiah berharga yang dulu dipersembahkan oleh orang-orang majus dari Timur (Mat. 2:11) sudah habis untuk bekal hidup ketika mereka harus melarikan diri ke Mesir karena Herodes hendak membunuh bayi Yesus (Mat. 2:13-15). Seperti yang Yesus katakan kepada seorang ahli Taurat yang ingin mengikuti Yesus ke mana saja, bahwa bantal untuk tidur pun Dia tidak punya (Mat. 8:19-20).

 

“Tekukur dan merpati dapat menggantikan karena keadaan yang sederhana. Jadi sejak awal–dari kelahiran-Nya di palungan sampai persembahan yang diberikan oleh orangtua-Nya–Yesus digambarkan sebagai sudah menanggung kemanusiaan-Nya dalam keluarga orang ‘biasa’ dan miskin” [alinea kedua:dua kalimat pertama].

 

Kemiskinan yang membawa hikmah. Sewaktu memuji kedermawanan jemaat di Korintus yang dengan murah hati membawa persembahan bagi pekerjaan injil, rasul Paulus menulis: “Sebab kalian mengetahui betul bahwa kita sangat dikasihi oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Ia kaya, tetapi Ia membuat diri-Nya menjadi miskin untuk kepentinganmu, supaya dengan kemiskinan-Nya itu, kalian menjadi kaya” (2Kor. 8:9, BIMK; huruf miring ditambahkan). Seperti pernah saya katakan, penjelmaan Yesus bersifat totalitas, termasuk hidup sebagai orang miskin di atas dunia ini padahal Ia datang dari istana surga dan menguasai seluruh alam semesta.

 

Sebagaimana Kristus membungkus keilahian-Nya dengan kemanusiaan, demikianlah Ia membungkus kekayaan-Nya dengan kemiskinan. Sebagaimana dengan menjadi seperti manusia Yesus tidak kehilangan keilahian-Nya, dengan menjadi miskin Ia tidak kehilangan kekayaan-Nya. Tidak seperti orang-orang kaya yang sangat takut kalau menjadi miskin, Yesus rela hidup di dunia ini sebagai orang miskin tanpa merasa takut akan kehilangan kekayaan-Nya.

 

Pena inspirasi menulis: “Kristus melewatkan rumah-rumah orang kaya, istana-istana bangsawan, kedudukan-kedudukan terpelajar yang masyur, dan menjadikan Nazaret yang gelap dan hina sebagai rumah-Nya. Kehidupan-Nya, dari permulaan sampai akhir, adalah sebuah kehidupan kerendahan hati dan sederhana. Kemiskinan menjadi kudus oleh hidup-Nya yang miskin. Ia tidak akan mengenakan kemuliaan sikap yang bakal menghalangi pria dan wanita, serendah apapun, untuk datang ke dalam hadirat-Nya dan mendengar pengajaran-Nya” (Ellen G. White, Signs of the Times, 7 Juni 1905; huruf tebal ditambahkan).

 

Apa yang kita pelajari tentang kehidupan Yesus yang diawali dalam kemiskinan?

1. Sekiranya Yesus dalam penjelamaan-Nya telah dilahirkan sebagai orang kaya atau dalam keluarga bangsawan, rakyat jelata dan orang-orang biasa akan sulit mendekati-Nya. Mungkin Yesus hanya akan berkhotbah di ruang utama kaabah Yerusalem, di istana, atau di rumah-rumah orang kaya yang tertutup untuk umum.

2. Hidup Kristus yang miskin justeru membawa hikmah bagi semua manusia, khususnya masyarakat kalangan bawah yang lebih memerlukan pelayanan-Nya. Yesus bahkan menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin yang tulus seperti ditunjukkan-Nya terhadap persembahan seorang perempuan janda (Mrk. 12:41-44).

3. Yesus terbiasa dengan lingkungan miskin seperti di Betania (dalam bahasa Aram berarti “gubuk derita”), di rumah penderita kusta bernama Simon (Mrk. 14:3), tempat di mana Dia sering beristirahat dan mengasingkan diri (Mat. 21:17; Mrk. 11:11). Keakraban Yesus dengan kemiskinan membuat kemiskinan itu hal yang sakral.

 

Senin, 3 Februari

YESUS MENGUBAH SITUASI (Mengubah yang “Biasa”)

 

Merasa seperti orang miskin. Seseorang pernah membuat kategori manusia berdasarkan status sosial-ekonomi seperti ini: Orang yang miskin dan jelata setiap hari bertanya, Besok mau makan apa? Orang yang berkecukupan dan punya jabatan setiap hari bertanya, Besok mau makan di mana? Orang yang kaya dan berkedudukan tinggi setiap hari bertanya, Besok mau makan dengan siapa? Orang yang kaya raya dan berkuasa setiap hari bertanya, Besok mau makan siapa? Tentu saja penggolongan tersebut bersifat satiris (menyindir) meski berdasarkan pengamatan empiris (pengalaman) seringkali ada benarnya.

 

Sebagai manusia seutuhnya yang memiliki cipta, rasa dan karsa (kesanggupan akal, perasaan, dan kemauan; kerap disebut Tridaya) setiap orang mempunyai hasrat-hasrat alami yang umum dan sama. Namun kebersamaan hasrat itu tampaknya lebih terbuka di kalangan “masyarakat bawah” yang miskin dan sederhana cara berpikirnya ketimbang di antara “masyarakat atas” yang kaya dan berpikiran kompleks. Masyarakat dari strata sosial bawah ini–dalam sosiologi disebut kaum proletar–lazimnya memiliki ikatan emosional yang kuat, berbeda dengan masyarakat dari strata sosial atas–sering disebut kaum borjuis–yang biasanya lebih tertutup dan berpikiran individualistik karena mampu mandiri.

 

“Orang-orang ‘biasa’ mempunyai kesamaan keinginan-keinginan jasmani, emosi, dan sosial yang alamiah. Mereka menginginkan makanan jasmani, pengakuan pribadi, dan persahabatan. Yesus mengerti ciri-ciri sifat ini dan menempatkan diri-Nya dalam situasi-situasi sosial yang menyediakan peluang untuk menjangkau orang-orang melalui keinginan-keinginan bersama ini” [alinea pertama].

 

Kepedulian Yesus terhadap kekurangan. Pesta kawin di Kana, Galilea di mana Yesus dan murid-murid hadir dan mengadakan mujizat-Nya yang pertama itu tampaknya bukan sebuah pesta kalangan miskin, terbukti dari banyaknya undangan yang datang termasuk tamu-tamu dari kampung lain sehingga persediaan minuman anggur habis. Mungkin itu kesalahan perhitungan pihak katering, atau karena keluarga pengantin menyebarkan undangan lebih banyak dari hidangan yang disediakan. Pada zaman itu minuman anggur merupakan sajian utama dari sebuah pesta kawin, maka kekurangan persediaan minuman anggur adalah sebuah social faux pas (baca: fau pa), yaitu “musibah sosial” yang sangat memalukan.

 

Perlu dicatat bahwa Yesus secara “terpaksa” mengadakan mujizat perdana untuk mengubah air biasa menjadi minuman anggur, yang lezat pula. “Saat-Ku belum tiba,” kata Yesus (Yoh. 2:4). Meskipun waktu-Nya belum sampai untuk melakukan mujizat, Yesus tidak terlalu kaku terhadap timeline dan tidak peduli dengan keadaan yang mendesak. Karena rasa belas kasihan-Nya terhadap keluarga pengantin yang akan memikul aib sepanjang hidup kalau sampai tamu-tamu tidak kebagian air anggur untuk bisa minum sampai puas, maka Yesus “melanggar jadwal” dan mengadakan mujizat itu. Di sini kita melihat kepedulian Yesus yang tinggi terhadap kekurangan dan kebutuhan manusia yang mendesak. Bagi para tamu di pesta kawin ini minuman anggur hanyalah untuk kepuasan selera, tetapi bagi keluarga pengantin suguhan minuman itu penting sebab dapat mengakibatkan masalah psikologis berkepanjangan jika tidak tertanggulangi.

 

Sebagaimana Yesus sudah mengubah air biasa menjadi minuman anggur yang paling lezat, demikianlah Yesus telah dan akan selalu mengubah “orang-orang biasa” di mata dunia menjadi orang-orang yang luar biasa dalam pemandangan surga. “Yesus sangat sering mencari orang-orang yang dianggap orang biasa karena kekurangan sumberdaya pribadi, mereka disiapkan untuk bergantung sepenuhnya pada Allah demi keberhasilan mereka…Namun ingat, mereka adalah orang-orang biasa–para petani, nelayan, tukang kayu, gembala, tukang keramik, ibu rumahtangga, hamba–yang telah diubah menjadi saksi-saksi yang luar biasa bagi Kristus” [alinea terakhir: kalimat pertama dan kalimat terakhir].

 

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang mengubah orang biasa menjadi luar biasa?

1. Kemiskinan hampir selalu diidentikkan dengan kebodohan, orang-orang “biasa” yang lemah dan karena ketidakberdayaan mereka sering dimanfaatkan bahkan “dimangsa” oleh orang-orang yang nasibnya lebih beruntung. Tetapi kepada orang-orang biasa itulah Yesus menunjukkan kepedulian-Nya.

2. Allah tidak menilai manusia berdasarkan kekayaan maupun kepintaran mereka, tetapi Tuhan menilai manusia menurut ketulusan hati mereka. Allah lebih peduli kepada orang-orang biasa yang berhati tulus dan menunjukkan kebaikan-Nya kepada mereka.

3. Sebagaimana Tuhan memperlakukan umat-Nya dengan tidak memandang muka, umat-Nya pun harus memperlakukan sesamanya tanpa memandang muka. “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran” (Yak. 2:9).

 

Selasa, 4 Februari

YESUS MEMILIH ORANG BIASA (Panggilan Kepada Nelayan yang Penuh Kekurangan)

 

Berubah oleh pengalaman rohani. Petrus adalah murid Yesus yang temperamental dan spontanitas, namun dia berhati tulus dan terbuka. Petrus yang nama aslinya Simon adalah saudara dari Andreas, seorang yang tadinya adalah murid dari Yohanes Pembaptis tapi kemudian menjadi pengikut Kristus ketika Yesus memanggil kedua bersaudara ini sewaktu mereka sedang menjala ikan di danau Galilea (Mat. 4:18-20). Belakangan Yesus mengubah nama Simon menjadi Kefas, sebuah nama yang dalam bahasa Aram artinya “batu karang.” Dalam bahasa Grika, kata untuk “batu” atau “batu karang” ialah Πέτρος, Petros. Satu-satunya orang yang bernama Petrus dalam Alkitab adalah murid terdekat Yesus ini.

 

“Dalam Perjanjian Baru, Petrus menonjol sebagai seorang yang paling berpengaruh di antara semua murid-murid. Bahkan, pada akhirnya dia menjadi orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Ini berbicara perihal mengubah ‘orang biasa’ menjadi orang yang luar biasa!” [alinea pertama].

 

Mengapa Petrus yang hanya seorang nelayan biasa bisa berubah menjadi seorang yang paling berpengaruh? Bukan karena Petrus adalah seorang yang berpembawaan karismatik dan berjiwa pemimpin, melainkan karena dia telah berubah melalui pengalaman rohaninya bersama Yesus, di antaranya melalui pelajaran berharga ketika sedang menjala ikan di danau Genesaret. Malam itu tak satupun ikan yang berhasil ditangkap meski mereka sudah bekerja semalaman, dan berdasarkan pengalaman berarti malam itu bukan waktu yang tepat untuk mencari ikan. Mereka sudah kembali ke tepi danau dan bersiap hendak pulang ketika Yesus muncul dan menyuruh mereka mendorong perahu kembali ke tengah danau. Meskipun sempat membantah tapi akhirnya dia turuti juga kata Gurunya itu, dan kita tahu hasilnya berlimpah secara mencengangkan.

 

Mungkin dalam hatinya Petrus menggerutu, saya sudah lelah melaut sepanjang malam, dan jala-jalanya sekarang sudah dicuci dan dibereskan, apa gunanya berlayar ke tengah danau lagi yang sudah pasti tidak akan ada hasilnya? Dalam soal menangkap ikan, Yesus yang berlatar belakang anak tukang kayu ini tahu apa dibandingkan dengan saya yang sejak muda berpengalaman sebagai nelayan? Barangkali dia menuruti kata Yesus hanya untuk menunjukkan bahwa usaha ini akan sia-sia (Luk. 5:5). Tetapi apa yang terjadi membuktikan bahwa Yesus sungguh Anak Allah, bukan sekadar anak tukang kayu yang miskin. Dalam ketakjubannya, Petrus akhirnya berkata kepada Yesus: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (ay. 8).

 

Dipanggil dan diubahkan. Selain sebagai mantan nelayan, kita tidak tahu apa-apa lagi mengenai latar belakang sosial Petrus. Namun latar belakang tidak penting bilamana seseorang menerima panggilan Yesus untuk mengikut Dia, sebab Yesus akan mengubah seseorang yang dipanggil untuk disiapkan dan diperlengkapi bagi pekerjaan-Nya. Ketika Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya dan meminta informasi dari mereka tentang penilaian masyarakat tentang siapakah diri-Nya, semua menyatakan sesuai dengan apa yang mereka dengar. Namun tatkala Yesus meminta pendapat dari murid-murid itu sendiri mengenai diri-Nya, sementara yang lain masih dalam keragu-raguan, Petrus langsung menjawab dengan tandas: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Tetapi bukan ketegasan Petrus yang Yesus puji, melainkan keterbukaan hatinya yang mau mendengar bisikan Roh Allah. Kata Yesus kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (ay. 17).

 

“Tidak disangsikan bahwa Yesus menghabiskan banyak waktu dengan Petrus, dan Petrus memiliki banyak pengalaman yang dahsyat dengan Dia. Meskipun hanya seorang nelayanbiasa dengan banyak kesalahan, melalui waktunya bersama Yesus, Petrus diubahkan secara radikal–bahkan sesudah berbuat beberapa kesalahan yang memilukan, termasuk menyangkal Yesus tiga kali persis seperti yang Yesus katakan sebelumnya” [alinea kedua].

 

Apa yang kita pelajari tentang Petrus dan perubahannya?

1. Seperti Petrus, banyak orang mungkin dilahirkan dengan ciri-ciri tabiat seorang pemimpin. Tegas, berani, berpendirian, karismatik, dan tanggap. Tetapi dalam pelayanan pekerjaan Tuhan semua sifat-sifat itu hanya berguna sebagai pendukung, pemimpin rohani adalah seorang yang telah diubahkan oleh Tuhan.

2. Perubahan dalam diri Petrus bukan hasil pendidikan seminari, tapi hasil pengalaman rohani yang dialami dari hari ke hari bersama Yesus. Allah memanggil orang-orang biasa untuk diubahkan melalui proses pembelajaran dalam pelatihan iman dan kerendahan hati.

3. Yesus adalah Guru dan Teladan umat-Nya sepanjang zaman. Yesus sudah menjadi Guru dan Teladan bagi murid-murid-Nya pada zaman dulu secara pribadi, Dia juga tetap menjadi Guru dan Teladan anda dan saya sebagai murid-murid pada masa kini. Sebagaimana Yesus sudah mengubah Petrus dkk, Dia juga ingin mengubah kita.

 

Rabu, 5 Februari

ANDA DAN SAYA DI MATA TUHAN (Evaluasi Surgawi)

 

Tak ada perbedaan. Dalam bukunya berjudul De l’égalité des races humaines (Tentang kesetaraan ras manusia), terbit tahun 1885, Joseph Anténor Firmin (1850-1911), seorang politikus, pakar hukum, dan antropolog kelahiran Haiti, antara lain menulis: “Semua manusia dianugerahi dengan keunggulan-keunggulan yang sama dan kekurangan-kekurangan yang sama, tanpa perbedaan warna kulit atau bentuk anatomis. Semua ras adalah sederajat.” (hal. 450). Akibat terbitnya buku itu cendekiawan berkulit hitam ini sempat dikucilkan karena pada waktu itu pendapatnya dianggap terlalu radikal. Belakangan, sejalan dengan reformasi kemanusiaan yang ditandai dengan penghapusan perbudakan dan gerakan persamaan hak kulit berwarna di AS dan Eropa, publik mengakui kebenaran pandangannya.

 

Alkitab mencatat bahwa ketika Allah menciptakan manusia satu-satunya perbedaan adalah soal jender atau jenis kelamin, tetapi secara umum nenek moyang pertama manusia itu sama-sama menyandang rupa Allah. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Empat ribu tahun kemudian, di bawah tuntunan Roh Allah, rasul Petrus mengeluarkan pernyataan ini: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang” (Kis. 10:34-36; huruf miring ditambahkan).

 

“Tidak mengherankan, Yesus menjangkau massa dengan ilustrasi-ilustrasi biasa dan pembicaraan yang mudah. Tak ada dalam sikap-Nya yang menunjukkan bahwa ada seseorang yang dikecualikan dari perhatian-Nya. Para penggalang murid moderen juga harus berhati-hati agar tidak memberi kesan bahwa mereka memperlakukan sebagian orang lebih mulia daripada yang mereka lakukan pada orang-orang lain dalam hal jangkauan keluar” [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

 

Yesus mati bagi semua orang. Allah yang pada mulanya telah menciptakan manusia sama dan sederajat, Allah yang sama itulah yang mempedulikan semua manusia dengan perhatian yang sama. Di mata Allah manusia yang lebih berharga dari burung pipit itu kehidupannya dipelihara (Luk. 12:6-7), tetapi di mata Allah yang sama itu juga semua manusia yang berbuat dosa dan tidak bertobat akan dibinasakan (Luk. 13:1-5). Allah yang memelihara kehidupan burung-burung dan mendandani bungka bakung serta rumput di padang (Mat. 6:25-30), namun Allah itu juga tidak menyayangkan malaikat-malaikat sekalipun yang berbuat dosa dan melemparkan mereka ke neraka (2Ptr. 2:4).

 

Yesus menyerahkan diri-Nya dan mati sebagai Penebus untuk semua manusia tanpa peduli latar belakang, ras, dan status sosial mereka (1Tim. 4:10; 1Tim. 2:6). “Salib membuktikan, dalam cara yang tidak bisa kita coba pahami, ‘nilai yang tak terhingga’ (meminjam frase yang Ellen G. White banyak kali gunakan) dari setiap manusia, terlepas dari statusnya dalam kehidupan–sebuah status yang seringkali tidak lebih dari rekaan manusia berdasarkan konsep dan ciri yang tak berarti di surga, atau bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip surga itu sendiri” [alinea terakhir: kalimat terakhir].

 

Pena inspirasi menulis: “Yesus mempedulikan setiap orang seakan-akan tidak ada orang lain di muka bumi ini. Sebagai Tuhan, Ia menggunakan kuasa yang besar demi kita, sementara sebagai Saudara Sulung Ia merasakan segala dukacita kita. Pangeran surga itu tidak menjauhkan diri-Nya dari manusia yang hina dan berdosa. Kita tidak mempunyai seorang imam besar yang terlalu besar dan terlalu ditinggikan sehingga Ia tidak dapat memperhatikan kita atau bersimpati dengan kita, melainkan seorang yang dalam segala hal digoda sama seperti kita, namun tanpa dosa” (Ellen G. White, Testimonies for the Church,jld. 5, hlm. 346-347).

 

Apa yang kita pelajari tentang penilaian surga terhadap setiap manusia?

1. Pada mulanya Allah menciptakan manusia sederajat, dalam keserupaan dan kesempurnaan bentuk, tetapi dosa membuat manusia jadi berbeda-beda seperti sekarang. Sekalipun keadaan manusia beraneka ragam, Allah tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan keadaan jasmaniah mereka.

2. Yesus datang ke dunia ini untuk mati sebagai Penebus bagi semua manusia, karena itu Ia menghendaki injil keselamatan itu juga menjangkau semua orang agar seluruhnya mendapat kesempatan yang sama untuk bertobat dan selamat.

3. Allah tidak menilai manusia berdasarkan penampilan lahiriah seseorang, tetapi berdasarkan kesetiaan dan ketulusan hati. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7).

 

Kamis, 6 Februari

KESETARAAN MANUSIA (Sebuah Masyarakat Tanpa Kelas)

 

Dipersatukan oleh Injil Kristus. Dalam Kekristenan dikenal apa yang disebut “Egaliterianisme Kristen” atau paham kesetaraan alkitabiah (biblical equality), sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan sama dan sederajat dalam pemandangan Tuhan. (“Egaliter” adalah kata serapan dari bahasa Prancis, égal, artinya “sama” atau “sederajat.”) Kesetaraan di sini meliputi semua aspek, termasuk jender dan ras maupun kelas sosial, tetapi terutama kesetaraan dalam hal tanggungjawab untuk menggunakan setiap talenta dan karunia Tuhan demi kemuliaan Allah maupun dalam hal pelayanan bagi semua manusia tanpa pilih buluh. Salah satu dasar alkitabiah dari doktrin ini berpangkal pada ajaran Rasul Paulus dalam Galatia 3:26-28. Paham lainnya adalah “Komplementarianisme” yang mengajarkan bahwa sementara kita sebagai satu umat adalah sama dalam pemandangan Tuhan, masing-masing orang berbeda dalam hal talenta dan karunia sehingga dengan demikian memiliki tanggung jawab dan peran yang berbeda pula, namun semuanya saling melengkapi. Pandangan ini berdasarkan pada ajaran Rasul Paulus dalam 1Korintus 12:4-12.

 

Perbedaan-perbedaan acapkali menghasilkan berbagai prasangka di antara manusia, termasuk di kalangan umat percaya sekalipun. Perbedaan ras dan budaya sering menimbulkan sikap keunggulan, perbedaan tingkat sosial dan ekonomi kerap melahirkan rasa curiga, perbedaan tingkat pendidikan dan kecerdasan terkadang mengakibatkan salah pengertian, perbedaan jender banyak kali menumbuhkan cara berpikir yang dikotomis, dan sebagainya. Tetapi di dalam sifat Kristus kita dipersatukan dan tidak mengenal perbedaan. Seperti kata rasul Paulus, “Kalian semuanya sudah dibaptis atas nama Kristus, jadi kalian sudah menerima pada diri kalian sifat-sifat Kristus sendiri. Dalam hal ini tidak lagi diadakan perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, antara hamba dan orang bebas, antara laki-laki dan perempuan. Saudara semuanya satu karena Kristus Yesus” (Gal. 3:27-28, BIMK).

 

“Mungkin ciri yang secara sosial paling menarik dari Kekristenan primitif adalah tidak adanya perbedaan kelas. Tembok-tembok pemisah sudah diruntuhkan di bawah kepentingan injil. Orang biasa menang melalui Kristus. Kristus mengubah orang biasa menjadi orang yang luar biasa…Pada kenyataannya, masyarakat Kristen telah menjadi sebuah masyarakat tanpa kelas” [alinea pertama: empat kalimat pertama dan kalimat terakhir].

 

Universalitas, bukan universalisme. Berkaitan dengan Kekristenan kita membedakan antara “universalitas” dengan “universalisme.” Universalisme Kristen adalah pandangan yang mengajarkan bahwa semua orang pasti selamat karena Allah yang maha kasih itu tidak akan tega membinasakan manusia, karena Yesus sudah mati di kayu salib untuk menebus dosa semua manusia, sebuah doktrin yang tidak berdasarkan pengajaran Alkitab yang seutuhnya. Sedangkan universalitas adalah suatu keadaan yang bersifat kesemestaan, atau kehadiran di mana-mana. Jadi, bilamana kita berbicara tentang “universalitas Kristen” itu berarti sebuah usaha untuk menghadirkan Kekristenan di mana-mana di seluruh muka bumi ini, yaitu program penginjilan semesta seperti yang kita telah dan sedang jalankan selama ini sebagai implementasi dari perintah Yesus dalam Matius 28:19-20 dan Markus 16:15-16.

 

Berdasarkan pandangan Kristen bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah, dan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus dan diselamatkan oleh iman, penginjilan semesta harus menjadi kepedulian setiap orang Kristen. Injil keselamatan harus dibagikan secara merata, dikumandangkan di segala tempat, dan menjangkau setiap orang tanpa membeda-bedakan kelas dan latar belakangnya.

 

Pena inspirasi menulis: “Tidak ada perbedaan atas dasar kebangsaan, ras, atau kasta yang diakui oleh Allah. Ia adalah Pencipta seluruh umat manusia. Semua orang adalah satu keluarga oleh penciptaan, dan semua adalah satu melalui penebusan. Kristus sudah datang untuk menghancurkan tiap dinding pemisah untuk membuka lebar setiap bagian bait suci supaya setiap jiwa bisa memperoleh jalan masuk yang bebas kepada Allah. Kasih-Nya begitu luas, begitu dalam, dan begitu penuh yang menembus ke mana-mana” (Ellen G. White, Christ’s Object Lessons, hlm. 386).

 

Apa yang kita pelajari tentang Kekristenan dan doktrin masyarakat tanpa kelas?

1. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama dan sederajat dalam pemandangan Tuhan, itulah sebabnya Kekristenan tidak mengenal atau mempraktikkan pembedaan manusia. Semangat kesetaraan ini harus kita praktikkan di dalam gereja lebih dulu, baru kita dapat mempraktikkannya di luar gereja.

2. Allah tidak mengenal perbedaan manusia, tetapi Ia menandai perbedaan kepribadian dan keunikan manusia. Sebagai orang Kristen kita mendukung kesederajatan manusia di mata Tuhan, tetapi kita pun mengakui perbedaan-perbedaan pendapat, sifat, watak, selera, talenta dan karunia setiap orang.

3. Kesetaraan tidak sama dengan penyamarataan. Sementara peluang untuk selamat adalah hak semua orang, keselamatan itu sendiri merupakan pilihan pribadi. Kita harus menginjil kepada semua orang di mana saja, tetapi kita tidak dapat paksakan dengan cara apapun dan terhadap siapapun untuk menerima injil.

 

Jumat, 7 Februari

PENUTUP

 

Penginjilan oleh semua orang Kristen. Sesaat sebelum kembali ke surga Yesus mengamanatkan kepada kesebelas murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia dan siarkanlah Kabar Baik dari Allah itu kepada seluruh umat manusia” (Mrk. 16:15, BIMK). Perintah itu sesungguhnya ditujukan juga kepada murid-murid-Nya di seluruh dunia pada setiap zaman, siapapun mereka. Penginjilan harus dilakukan kepada semua orang, oleh semua orang Kristen. Pemuridan untuk semua, dan semua untuk pemuridan.

 

“Pada penutupan pekerjaan injil ini ada ladang luas yang harus dikerjakan; dan lebih daripada sebelumnya, pekerjaan itu memerlukan pembantu-pembantu dari kalangan orang biasa…Banyak dari antara mereka ini hanya memiliki sedikit kesempatan memperoleh pendidikan; tetapi Kristus melihat dalam diri mereka kemampuan-kemampuan yang akan menyanggupkan mereka memenuhi maksud-Nya. Kalau mereka menyerahkan hati mereka kepada pekerjaan itu dan terus-menerus belajar, Ia akan melayakkan mereka untuk bekerja bagi Dia” [kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

 

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor. 1:27-29).

Leave a Reply