Tak Ada Ruang untuk Menyombongkan Diri

August 14, 2013 - Ellen G. White

Lalu kataku: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Yesaya 6:5.

Mereka yang mengalami pengudusan Alkitab akan memanifestasikan roh kerendahan hati. Seperti Musa, mereka telah memandang keagungan kekudusan yang dahsyat dan mereka melihat kehinaan mereka sendiri tidak sesuai dengan kemurnian dan kesempurnaan yang mulia dari Yang Mahabesar. 235.1
Nabi Daniel adalah teladan pengudusan yang benar. Seluruh hidupnya diisi dengan pelayanan yang luhur untuk Tuhannya. Dia adalah “orang yang dikasihi” (Dan. 10:11) oleh Surga. Namun walaupun berhak menyatakan dirinya sebagai murni dan suci, nabi yang dihormati ini menyamakan dirinya sendiri dengan orang Israel yang sungguh berdosa karena dia memohon kepada Allah untuk kepentingan umatNya: “… sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapanMu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayangMu yang berlimpah-limpah.” “Kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.” Dia menyatakan: “Aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku…..” (Dan. 9:18, 15, 20). 235.2
Ketika Ayub mendengar suara Tuhan keluar dari angin puyuh, dia menyerukan: “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:6). Ketika Yesaya melihat kemuliaan Tuhan dan mendengar kerubim berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam,” sehingga ia berseru, “Celakalah aku! Aku binasa! (Yesaya 6:3, 5). Paulus, setelah dia dibawa ke langit ketiga dan mendengar perkara-perkara yang mustahil bagi seorang manusia untuk dibicarakan, mengatakan dirinya sendiri sebagai “yang paling hina di antara segala orang kudus” (2 Korintus 12:2-4, margin; Eph. 3:8). Adalah murid yang dikasihi Tuhan, Yohannes, yang bersandar di dada Yesus dan menyaksikan kemuliaanNya, yang jatuh seperti orang mati di bawah kaki malaikat sebagaimana dikisahkan dalam kitab Wahyu 1:17. 235.3
Tidak bisa ada peninggian diri, kesombongan yang mengklaim diri bebas dari dosa bagi mereka yang berjalan di bawah bayang-bayang salib Kalvari. Mereka merasa bahwa dosa merekalah yang menyebabkan penderitaan yang menghancurkan hati Putera Allah, dan pemikiran ini akan menuntun mereka kepada kehinaan diri. Mereka yang hidup sangat dekat dengan Yesus dapat membedakan dengan sangat jelas kelemahan dan keberdosaan manusia, dan harapan mereka satu-satunya adalah di dalam jasa Sang Juruselamat yang telah disalibkan dan telah bangkit. 235.4

August 15 – No Room for Boasting
Then said I, Woe is me! for I am undone; because I am a man of unclean lips, and I dwell in the midst of a people of unclean lips; for mine eyes have seen the King, the Lord of hosts. Isa. 6:5.
Those who experience the sanctification of the Bible will manifest a spirit of humility. Like Moses, they have had a view of the awful majesty of holiness, and they see their own unworthiness in contrast with the purity and exalted perfection of the Infinite One. 235.1
The prophet Daniel was an example of true sanctification. His long life was filled up with noble service for his Master. He was a man “greatly beloved” (Dan. 10:11) of Heaven. Yet instead of claiming to be pure and holy, this honoured prophet identified himself with the really sinful of Israel as he pleaded before God in behalf of his people: “We do not present our supplications before thee for our righteousness, but for thy great mercies.” “We have sinned, we have done wickedly.” He declares: “I was speaking, and praying, and confessing my sin and the sin of my people. . . . “(Dan. 9:18, 15, 20). 235.2
When Job heard the voice of the Lord out of the whirlwind, he exclaimed: “I abhor myself, and repent in dust and ashes” (Job 42:6). It was when Isaiah saw the glory of the Lord, and heard the cherubim crying, “Holy, holy, holy, is the Lord of hosts,” that he cried out, “Woe is me! for I am undone” (Isa. 6:3, 5). Paul, after he was caught up into the third heaven and heard things which it was not possible for a man to utter, speaks of himself as “less than the least of all saints” (2 Cor. 12:2-4, margin; Eph. 3:8). It was the beloved John, who leaned on Jesus’ breast and beheld His glory, that fell as one dead before the feet of the angel (Rev. 1:17). 235.3
There can be no self-exaltation, no boastful claim to freedom from sin, on the part of those who walk in the shadow of Calvary’s cross. They feel that it was their sin which caused the agony that broke the heart of the Son of God, and this thought will lead them to self-abasement. Those who live nearest to Jesus discern most clearly the frailty and sinfulness of humanity, and their only hope is in the merit of a crucified and risen Saviour. 235.4

Leave a Reply