Takhta Yang Dikelilingi Busur

November 14, 2013 - Ellen G. White

Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. Wahyu 4:2,3.

Dalam pelangi di atas takhta ada sebuah kesaksian abadi bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”……. (Yoh. 3:16) 326.1
Sebagaimana busur di awan itu dibentuk oleh gabungan sinar matahari dan air hujan, demikianlah pelangi mengitari takhta itu melambangkan kuasa yang berpadu atas belaskasih dan keadilan. Bukanlah keadilan saja yang harus dipelihara; sebab hal ini memudarkan kemuliaan pelangi perjanjian di atas takhta itu; manusia hanya bisa melihat sanksi dari hukum. Di mana tidak ada keadilan, maka tidak ada sanksi, tidak ada stabilitas pada pemerintahan Allah. Adalah percampuran dari penghakiman dan belaskasihan yang membuat keselamatan itu lengkap……. 326.2
Belaskasih mengundang kita untuk masuk melalui pintu-pintu gerbang itu ke dalam kota Allah, dan keadilan itu dipuaskan untuk selaras pada setiap jiwa yang patuh yang penuh dengan hak-hak istimewa sebagai seorang anggota keluarga kerajaan, seorang anak dari Raja surgawi. Jika kita bercacat dalam tabiat, kita tidak bisa melewati pintu-pintu gerbang yang telah dibuka oleh belaskasih itu kepada orang yang patuh; sebab keadilan berdiri pada pintu masuknya, dan menuntut kesucian di dalam diri semua orang yang mau melihat Allah. 326.3
Seandainya keadilan itu lenyap, dan andaikan adalah mungkin bagi belaskasih ilahi itu membuka pintu-pintu gerbang kepada seluruh umat manusia, tanpa tergantung akan tabiat, maka akan terjadi sebuah keadaan ketidakpuasan dan pemberontakan yang lebih buruk di surga daripada sebelum waktu Setan diusir. Damai, kebahagiaan, dan keharmonisan surga akan hancur. Perubahan dari bumi ke surga tidak akan mengubah tabiat manusia; kebahagiaan dari orang-orang tebusan di surga dihasilkan dari tabiat yang dibentuk dalam kehidupan ini seturut gambaran Kristus. Orang-orang kudus di surga akan terlebih dahulu menjadi orang-orang kudus di bumi. 326.4
Penyelamatan di mana Kristus telah membuat sebuah pengurbanan yang sedemikian rupa untuk meraih manusia adalah yang satu-satunya berharga; sebab itulah yang menyelamatkan dari dosa…….. Dengan demikian hukum Allah tidak dilemahkan oleh injil, melainkan kuasa dosa dipatahkan, dan tongkat belaskasihan itu diperpanjang untuk menjangkau pendosa yang bertobat….. Allah tidak akan pernah melupakan umatNya di dalam perjuangan mereka melawan kejahatan. Biarlah Yesus menjadi pokok pemikiran kita. 326.5

November 14 – The Bow-Circled Throne
Behold, a throne was set in heaven, and one sat on the throne. And he that sat was to look upon like a jasper and a sardine stone: and there was a rainbow round about the throne, in sight like unto an emerald. Rev. 4:2, 3.

In the rainbow above the throne is an everlasting testimony that “God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.” . . . 326.1
As the bow in the cloud is formed by the union of the sunlight and the shower, so the rainbow encircling the throne represents the combined power of mercy and justice. It is not justice alone that is to be maintained; for this would eclipse the glory of the rainbow of promise above the throne; men could see only the penalty of the law. Were there no justice, no penalty, there would be no stability to the government of God. It is the mingling of judgment and mercy that makes salvation complete. . . . 326.2
Mercy invites us to enter through the gates into the city of God, and justice is satisfied to accord to every obedient soul full privileges as a member of the royal family, a child of the heavenly King. If we were defective in character, we could not pass the gates that mercy has opened to the obedient; for justice stands at the entrance, and demands holiness in all who would see God. 326.3
Were justice extinct, and were it possible for divine mercy to open the gates to the whole race, irrespective of character, there would be a worse condition of disaffection and rebellion in heaven than before Satan was expelled. The peace, happiness, and harmony of heaven would be broken. The change from earth to heaven will not change men’s character; the happiness of the redeemed in heaven results from the character formed in this life after the image of Christ. The saints in heaven will first have been saints on earth. 326.4
The salvation that Christ made such a sacrifice to gain for man is that which is alone of value; for it is that which saves from sin. . . . Thus the law of God is not weakened by the gospel, but the power of sin is broken, and the sceptre of mercy is extended to the penitent sinner. . . . God will never forget His people in their struggle against evil. Let Jesus be our theme. 326.5

Leave a Reply