Tentang Sabat

September 5, 2013 - Ellen G. White

Mari kita renungkan firman Tuhan dalam Alkitab, yang mengingatkan kita akan pentingya menyucikan Sabat dari segala perkara duniawi !

Keluaran 31:12-17 =
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati. Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal. Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat. ”

Yehezkiel 20:19-20 =
“Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

Ibrani 4: 9-13 =
Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Tulisan Roh Nubuat tentang fokus pembicaraan kita pada hari Sabat :

Upon whom should our speech be focused on the Sabbath?
“When you are speaking of your hope in God, of Jesus and of his soon coming, and of the beauties of the New Earth, you are not speaking your own words. Of these things you may freely speak on the Sabbath. On six days you may talk of business matters, and lay plans that are necessary; but the Sabbath is holy time, and all worldly thoughts must, on that day, be dismissed from the mind. The blessing of God will then rest upon you, and you will have the sweet consolations of his Spirit, and you will also have confidence when you approach the throne of grace.” The Youth’s Instructor, February 1, 1853.

Tentang siapa seharusnya pembicaraan kita difokuskan pada hari Sabat?
“Bilamana engkau sedang membicarakan pengharapanmu akan Allah, akan Yesus dan kedatangan-Nya yang segera, dan akan keindahan-keindahan Dunia Baru, maka engkau tidaklah membicarakan kata-katamu sendiri. Akan hal-hal ini engkau boleh berbicara secara bebas pada hari Sabat. Dalam enam hari engkau boleh membicarakan urusan-urusan bisnis, dan menyusun rencana-rencana yang perlu; akan tetapi Sabat adalah waktu yang suci, dan segala pikiran-pikiran duniawi, haruslah, pada hari itu, disingkirkan dari pikiran. Berkat dari Allah kemudian akan tinggal atas dirimu, dan engkau akan memiliki penghiburan yang indah yang berasal dari Roh-Nya, dan engkau juga akan memiliki keyakinan ketika engkau mendekati takhta karunia itu.” The Youth’s Instructor, 1 Pebruari 1853. Sumber :

Saudara-Saudari yang terkasih, Alkitab dan Roh Nubuat telah menunjukkan kepada kita bahwa Sabat harus dikuduskan bagi Tuhan. Sabat itu suci, suci dari segala urusan duniawi, termasuk acara-acara kenegaraan maupun kebangsaan.
Tentang kemerdekaan yang dikaruniakan Kristus? Baiklah kita ingat bahwa kita dimerdekakan dari dosa oleh Yesus Kristus itu tidak ada kaitannya dengan hari kemerdekaan 17 Agustus. Karunia itu berlaku bukan hanya untuk orang Indonesia, tetapi bagi seluruh manusia.

Leave a Reply