Terang Menembusi Kegelapan

April 24, 2013 - Ellen G. White

Pekerjaan Allah di dunia ini dari zaman ke zaman memberikan suatu kesamaan yang menarik perhatian dalam setiap pembaharuan besar atau pergerakan agama. Prinsip perlakuan Allah kepada manusia tetap sama. Pergerakan penting dewasa ini mempunyai kesejajarannya dengan masa-masa yang lalu, dan pengalaman gereja pada zaman dahulu memberikan pelayanan penting bagi zaman kita sekarang ini.
Tidak ada kebenaran yang lebih jelas diajarkan di dalam Alkitab daripada oleh Roh Kudus-Nya terutama menuntun hamba-hamba-Nya di atas dunia ini di dalam pergerakan besar untuk memajukan pekerjaan penyelamatan. Manusia adalah alat di tangan Allah, yang digunakan-Nya untuk mencapai tujuan-tujuan pengasihan dan kemurahan-Nya. Masing-masing orang mempunyai bagian sendiri untuk dilakukan. Kepada setiap orang dikaruniakan sejumlah terang, yang disesuaikan dengan kebutuhan waktunya, dan cukup untuk menyanggupkannya melakukan pekerjaan yang telah diserahkan Allah kepadanya. Tetapi tak seorangpun, betapapun ia dihormati oleh surga, pernah memperoleh pengertian sepenuhnya mengenai rencana keselamatan, atau bahkan menghargai sepenuhnya rencana keselamatan, atau bahkan menghargai sepenuhnya maksud ilahi dalam pekerjaan pada zamannya. Manusia tidak mengerti sepenuhnya apa yang akan dicapai Allah dalam pekerjaan yang diberikan-Nya kepada mereka untuk dilakukan. Mereka tidak mengerti pekabaran dalam segala bentuknya yang mereka ucapkan dalam nama-Nya.
“Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya lamgit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” “Bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana.” (Ayub 11:7; Yes. 55:8,9; 46:9,10).
Bahkan nabi yang mendapat penerangan khusus Roh Suci tidak sepenuhnya mengerti makna wahyu yang diberikan kepada manusia. Arti wahyu itu akan diungkapkan dari zaman ke zaman, pada waktu umat Allah memerlukan petunjuk yang ada di dalamnya.
Petrus, penulis keselamatan yang membawa keselamatan kepada terang melalui Injil, berkata, “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diperuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi, melayani kamu.” (1 Pet. 1:10-12).
Namun, walaupun para nabi tidak diberi pengertian sepenuhnya perkara-perkara yang dinyatakan kepada mereka, mereka dengan sungguh-sungguh mencari untuk memperoleh semua terang yang dikehendaki Allah untuk dinyatakan. Mereka “mencari dan meneliti dengan rajin,” “meneliti saat yang mana, atau yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus yang ada dalam mereka dimuliakan.” Betapa menjadi satu pelajaran bagi umat Allah pada zaman Kekristenan, karena nubuatan-nubuatan ini diberikan kepada hamba-hamba-Nya untuk keuntungan mereka.! “Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu.” Saksikanlah umat-umat kudus Allah pada waktu mereka “mencari dan meneliti dengan tajin” mengenai wahyu yang diberikan kepada mereka bagi generasi yang akan datang yang belum lahir. Bandingkanlah semangat mereka yang saleh dengan sifat acuh tak acuh umat-umat pada zaman kemudian memperlakukan karunia surga ini. Betapa suatu teguran bagi pecinta keselamatan, pecinta keduniawian dan kesenangannya, yang acuh tak acuh, yang puas hanya menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan itu tidak bisa dimengerti.
Walaupun pikiran manusia fana ini tidak mampu untuk memahami hal-hal Yang Kekal, atau mengerti sepenuhnya pelaksanaan rencana-Nya, namun sering hal itu disebabkan oleh beberapa kesalahan atau kelalaian di pihak sendiri, yang membuat tidak mampu memahami pekabaran-pekabaran Surga. Tidak jarang pikiran orang-orang, bahkan pikiran hamba-hamba Allah, dibutakan oleh pendapat-pendapat, tradisi-tradisi dan ajaran-ajaran palsu manusia, sehingga mereka hanya mampu menangkap sebagian saja perkara-perkara besar yang Ia sudah nyatakan dalam firman-Nya. Demikianlah halnya dengan murid-murid Kristus, walaupun pada waktu Juru Selamat ada bersama mereka secara pribadi. Pikiran mereka telah diilhami oleh konsep populer mengenai Mesias sebagai raja dunia, yang akan mengangkat Israel ke takhta kekaisaran universal, dan mereka tidak bisa mengerti arti kata-kata-Nya yang memberitahukan penderitaan dan kematian-Nya.
Kristus sendiri telah mengutus mereka dengan pekabaran, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mark. 1:15). Pekabaran ini didasarkan atas nubuatan nabi Daniel pada Daniel 9. Yang enam puluh sembilan kali tujuh masa telah dinyatakan oleh malaikat berlanjut kepada “Mesias Raja,” dan dengan harapan besar dan sukacita murid-murid itu mengharapkan terbentuknya kerajaan Mesias di Yerusalem, untuk memerintah seluruh dunia.
Mereka mengkhotbahkan pekabaran yang telah diberikan Kristus kepada mereka, walaupun mereka salah mengerti maknanya. Walaupun pengumuman mereka terdapat dalam Daniel 9:25, mereka tidak melihat pada ayat berikutnya di fatsal yang sama bahwa Mesias akan disingkirkan. Sejak mereka lahir telah terbentuk di dalam hati mereka suatu harapan kemuliaan kekaisaran dunia, dan hal ini membutakan pengertian mereka kepada tanda-tanda nubuatan dan kepada perkataan Kristus.
Mereka melaksanakan tugas mereka untuk menyatakan kepada bangsa Yahudi undangan kasih karunia, dan kemudian pada saat mereka mengharapkan melihat Tuhan mereka naik takhta menduduki takhta Daud, mereka melihat Dia ditangkap bagaikan penjahat, dicambuk, dicemooh dan dikutuk, dan memikul salib Golgota. Betapa putus asa, kecewa dan sedih hati murid-murid itu selama hari-hari Tuhan mereka tidur di dalam kubur.
Kristus telah datang pada waktu yang tepat dan dengan cara yang telah diramalkan oleh nubuatan. Kesaksian Alkitab telah digenapi dalam setiap rincian pelauanan-Nya. Ia telah mengkhotbahkan kabar keselamatan, dan “kata-kata-Nya berkuasa.” Hati para pendengar-Nya telah menyaksikan bahwa Ia datang dari Surga. Firman dan Roh Allah menguatkan tugas ilahi Anak-Nya.
Murid-murid itu masih tetap bergantung kepada kasih sayang yang tidak padam kepada Tuhan mereka. Dan kesedihan mereka, mereka tidak mengingat kata-kata Kristus yang menunjukkan kepada mereka penderitaan dan kematian-Nya. Jika Yesus orang Nasaret itu adalah Mesias yang sejati, mengapa mereka harus terjerumus ke dalam kesedihan dan kekecewaan? Inilah pertanyaan yang menyiksa batin mereka sementara Juru Selamat terbaring dalam kubur-Nya selama jam-jam hari Sabat yang penuh keputusasaan itu, yaitu antara kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.
Walaupun malam gelap kesedihan menutupi pengikut-pengikut Yesus ini, namun mereka tidak ditinggalkan. Nabi berkata, “Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, Tuhan akan menjadi terangku, . . . . Dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang sehingga aku mengalami keadilan-Nya.” “Maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang dalam gelap terbit terang bagi orang benar.” “Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan kulaksanakan.” (Mika 7:8,9; Maz. 139:12; 112:4; Yes. 42:16).
Pengumuman yang telah disampaikan oleh murid-murid dalam nama Tuhan adalah benar, dan peristiwa-peristiwa yang diramalkan benar terjadi. “Waktunya telah digenapi, kerajaan Allah sudah dekat,” adalah pekabaran mereka. Pada waktu berakhirnya “waktu itu,” — yang enam puluh sembilan kali tujuh masa dari Daniel 9, yang berlanjut sampai kepada Mesias, Yang Diurapi” — Kristus telah menerima pengurapan Roh, setelah Ia dibaptiskan oleh Yohanes di Sungai Yordan. Dan “Kerajaan Allah” yang mereka nyatakan sudah dekat telah didirikan oleh kematian Kristus. Kerajaan itu tidak seperti yang mereka ajarkan dan yakini, suatu kerajaan duniawi. Atau juga bukan kerajaan kekal yang akan datang yang akan didirikan bilamana “pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi;” bahwa kerajaan kekal dimana “segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka.” (Dan. 7:27). Sebagaimana digunakan di dalam Alkitab, sebutan “kerajaan Allah” digunakan untuk menyatakan baik kerajaan kasih karunia maupun kerajaan kemuliaan. Kerajaan kasih karunia dimunculkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Iberani. Setelah menunjuk kepada Kristus, pengantara yang penuh kasihan yang “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,” rasul itu berkata, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” (Iberani 4:16). Takhta kasih karunia melambangkan kerajaan kasih karunia; karena adanya takhta menyatakan adanya kerajaan. Dalam banyak perumpamaan-Nya, Kristus menggunakan sebutan “kerajaan surga” untuk menyatakan pekerjaan kasih karunia ilahi atas hati manusia.
Demikian juga takhta kemuliaan menyatakan kerajaan kemuliaan. Dan kerajaan inilah yang disebut dalam kata-kata Juru Selamat, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa dikumpulkan di hadapan-Nya.” (Mat. 25:31,32). Kerajaan ini masih akan datang. Kerajaan ini tidak akan didirikan sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali.
Kerajaan kasih karunia didirikan segera setelah kejatuhan manusia, pada waktu rencana dibuat untuk menebus umat manusia yang sudah berdosa. Kerajaan itu ada dalam rencana dan janji Allah. Dan melalui iman, manusia dapat menjadi warganya. Tetapi kerajaan itu belum betul-betul didirikan sebelum kematian Kristus. Bahkan sebenarnya setelah memasuki misi-Nya di dunia ini, Juru Selamat, karena merasa letih dengan kekerasan hati dan pendurhakaan manusia, dapat menarik diri dari pengorbanan di Golgota. Di taman Getsemane cawan penderitaan gemetar dalam tangan-Nya. Sebenarnya Ia bahkan dapat menghapus keringat darah dari dahi-Nya, dan membiarkan umat manusia yang berdosa itu binasa dalam kejahatannya. Seandainya Ia berbuat demikian, maka tidak akan ada penebusan bagi manusia yang sudah jatuh itu. Akan tetapi bilamana Juru Selamat menyerahkan hidup-Nya, dan dengan hembusan nafas-Nya Ia berseru, “Sudah selesai,” barulah kegenapan rencana penebusan dipastikan. Janji keselamatan yang diberikan kepada pasangan di taman Eden (Firdaus) diratifikasi. Kerajaan kasih karunia, yang sebelumnya ada oleh karena janji Allah, sekarang didirikan.
Dengan demikian kematian Kristuslah peristiwa yang dianggap oleh murid-murid sebagai kebinasaan terakhir pengharapan mereka — adalah yang membuat kerajaan kasih karunia itu pasti selama-lamanya. Sementara kematian itu membawa kekecewaan berat bagi mereka, itu adalah suatu klimaks bahwa iman mereka telah tepat. Peristiwa yang telah membawa dukacita dan keputusasaan bagi mereka adalah yang membuka pintu pengharapan kepada setiap anak Adam, dan di dalam mana berpusat kehidupan masa datang dan kebahagiaan kekal semua umat Allah yang pada segala zaman.
Tujuan anugerah kekal sedang mencapai kegenapannya bahkan melalui kekecewaan murid-murid itu. Sementara hati mereka dimenangkan oleh kasih karunia ilahi dan kuasa pengajaran-Nya, yang “berkata-kata seperti yang belum pernah seorangpun berkata-kata,” namun kasih mereka kepada Yesus bagaikan percampuran emas murni dengan logam campuran kesombongan dunia dan ambisi-ambisi yang mementingkan diri. Bahkan dalam ruangan Paskah pada saat khidmat pada waktu Guru mereka bersiap memasuki bayang-bayang Getsemane, ada “pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar diantara mereka.” (Lukas 22:24). Penglihatan atau visi mereka dipenuhi oleh takhta, mahkota, dan penderitaan taman Getsemane, gedung pengadilan dan salib Golgota. Adalah kesombongan hati mereka, kehausan mereka terhadap kemuliaan duniawi, yang menuntun mereka bergantung begitu kuat kepada ajaran-ajaran palsu zaman mereka, dan membiarkan kata-kata Juru Selamat berlalu tanpa diperhatikan, yang menunjukkan sifat kerajaan-Nya yang benar, dan menunjuk ke depan kepada penderitaan dan kematian-Nya. Dan kesalahan-kesalahan ini mengakibatkan datangnya pencobaan — tajam tetapi diperlukan — yang diizinkan demi perbaikan mereka. Walaupun murid-murid itu salah mengerti arti pekabaran mereka, dan telah gagal menyadari harapan-harapan mereka, namun mereka telah mengkhotbahkan amaran yang diberikan Allah kepada mereka, dan Tuhan akan menghargai iman mereka dan menghormati penurutan mereka. Kepada mereka dipercayakan pekerjaan penyiaran ke seluruh bangsa kabar Injil mulia Tuhan mereka yang telah bangkit. Untuk persiapan kepada pekerjaan inilah sehingga pengalaman yang tampaknya pahit bagi mereka diizinkan datang.
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di jalan ke Emmaus, dan “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari Kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”(Luk. 24:27). Hati para murid itu digerakkan. Iman mereka dinyalakan. Mereka “dilahirkan kembali kepada pengharapan yang hidup,” bahkan sebelum Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka. Ia bermaksud memberi terang kepada pengertian mereka dan menggantungkan iman mereka kepada “perkataan nubuatan yang lebih teguh.” Ia rindu agar kebenaran berakar kuat di dalam pikiran mereka, bukan saja karena didukung oleh kesaksian pribadi-Nya, tetapi juga karena penyataan yang tidak diragukan yang diberikan dengan lambang dan bayangan hukum, dan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama. Sangat perlu bagi pengikut Kristus untuk memiliki iman yang berdasarkan pengetahuan, bukan saja demi kepentingan mereka, tetapi agar mereka dapat membawa pengetahuan mengenai Kristus kepada dunia ini. Dan sebagai langkah pertama untuk memberikan pengetahuan ini, Yesus mengarahkan murid-murid-Nya kepada “buku Musa dan nabi-nabi.” Demikianlah kesaksian yang diberikan oleh Juru Selamat yang bangkit itu mengenai nilai pentingnya Alkitab Perjanjian Lama.
Betapa besar perubahan yang terjadi di dalam hati murid-murid itu pada waktu mereka sekali lagi melihat wajah Guru mereka yang penuh kasih sayang. (Luk. 24:32). Dalam arti yang lebih lengkap dan lebih sempurna daripada sebelumnya, mereka sudah “menemukan Dia, yang telah dituliskan Musa di dalam taurat dan kitab nabi-nabi.” Ketidakpastian, kesedihan yang mendalam, keputusasaan diganti dengan kepastian yang sempurna dan iman yang cerah. Betapa mengagumkan bahwa setelah kenaikan Yesus, murid-murid “tetap tinggal di dalam kaabah memuji-muji dan memuja Allah.” Orang-orang yang hanya mengetahui kematian Juru Selamat yang memalukan mengharap akan melihat wajah murid-murid yang dipenuhi oleh kesedihan, kebingungan dan kekalahan, tetapi mereka melihat kegembiraan dan kemenangan. Betapa persiapan matang telah diterima oleh murid-murid ini bagi tugas-tigas di hadapan mereka! Mereka telah melewati cobaan yang paling berat yang mungkin mereka alami, dan melihat bagaimana firman Allah telah memberikan kemenangan, pada waktu penglihatan manusia tidak lagi memberikan harapan. Sejak waktu itu, apakah yang dapat mengecilkan dan melemahkan iman mereka?, atau mendinginkan kehangatan kasih mereka? Dalam kesedihan yang paling dalam mereka mempunyai “penghiburan yang kuat,” “dorongan yang kuat,” suatu pengharapan yang bagaikan “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.” (Iberani 6:18,19). Mereka telah menjadi saksi kepada hikmat dan kuasa Allah, dan mereka “yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk yang lain tidak dapat memisahkan” mereka dari “kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” “Tetapi dalam semuanya itu,” kata mereka, ” kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:38,39,37). “Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” (1 Pet. 1:25). Dan “siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit dan yang juga duduk di sebelah kanan Allah,yang malah menjadi pembela bagi kita?” (Roma 8:34).
Tuhan berkata, “Dan umat-Ku tidak akan menjai malu lagi untuk selama-lamanya.” (Yoel 2:26). “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi ada sorak sorai.” (Maz. 30:6). Bilamana pada waktu hari kebangkitan-Nya murid-murid itu bertemu dengan Juru Selamat, hati mereka terbakar mendengar firman-Nya. Bilamana mereka melihat kepala, kaki dan tangan yang telah memar dan luka-luka karena mereka, bilamana sebelum kenaikan-Nya, Yesus menuntun mereka ke luar sampai ke Batania, dan mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka, Ia menyuruh mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” dan Ia menambahkan, “Dan ketahuilah Aku menyertai kami senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mark. 16:15; Mat. 28:20). Bilamana pada hari Pentakosta, Penghibur yang dijanjikan itu turun, dan kuasa dari atas diberikan, dan jiwa orang-orang percaya digerakkan dengan kesadaran kehadiran Tuhan mereka yang telah naik — kemudian, walaupun seperti Dia, jalan mereka menuju pengorbanan dan mati syahid, akankah mereka menukarkan pelayanan Injil kasih karunia-Nya dan “mahkota kebenaran” yang akan diterima kedatangan-Nya dengan kemuliaan takhta dunia yang telah menjadi harapan mereka pada permulaan kerasulan mereka? Ia yang “sanggup melakukan lebih banyak dari yang kita minta atau pikirkan,” telah mengaruniakan kepada mereka yang bersekutu di dalam penderitaan-Nya, persekutuan sukacita-Nya, — sukacita “membawa banyak anak Allah kepada kemuliaan,” sukacita yang tidak terkatakan, “satu kemuliaan besar yang abadi,” yang mengenai hal ini Rasul Paulus berkata, “penderitaan kita yang hanya sementara,” dan “tidak layak dibandingkan.”
Pengalaman murid-murid yang mengabarkan “Injil kerajaan” pada kedatangan Kristus yang pertama, ada persamaannya dengan pengalaman mereka yang memberitakan pekabaran kedatangan-Nya yang kedua kali. Pada waktu murid-murid itu pergi ke luar mengabarkan “waktunya sudah digenapi, kerajaan Allah sudah dekat,” demikian juga Miller dan rekan-rekannya mengabarkan bahwa masa nubuatan terpanjang dan terakhir yang dinyatakan di dalam Alkitab sudah hampir berakhir, bahwa pengadilan sudah dekat, dan kerajaan kekal akan segera mulai. Pemberitaan murid-murid yang berhubungan dengan waktu didasarkan atas tujuh puluh kali tujuh masa yang terdapat dalam Daniel 9. Pekabaran yang dikabarkan Miller dan rekan-rekannya mengumumkan akhir dari 2300 hari dari Daniel 8:14 dimana yang tujuh puluh kali tujuh masa itu adalah bagian daripadanya. Pemberitaan masing-masing didasarkan atas penggenapan berbagai bagian dari masa nubuatan besar yang sama.
Seperti murid-murid yang pertama, Wm. Miller dan rekan-rekannya tidak mengerti dengan sepenuhnya makna pekabaran yang mereka kabarkan. Kesalahan-kesalahan yang telah lama ada di dalam gereja mencegah mereka tiba pada suatu interpretasi yang tepat mengenai hal-hal penting di dalam nubuatan. Itulah sebabnya, walaupun mereka mengabarkan pekabaran yang Allah telah serahkan kepada mereka untuk disampaikan kepada dunia ini, namun oleh karena salah pengertian mengenai artinya, mereka menderita kekecewaan.
Dalam menerangkan Daniel 8:14, “Sampai lewat 2300 petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar,” Miller, sebagaimana sudah disebutkan, menerima pandangan umum yang lazim bahwa dunia ini adalah tempat kudus itu dan ia percaya bahwa pemulihan tempat kudus menggambarkan pembersihan dunia ini dengan api pada kedatangan Tuhan. Itulah sebabnya bilamana ia menemukan bahwa akhir dari 2300 hari itu dengan pasti dinubuatkan atau diberitahukan, ia menyimpulkan bahwa ini menyatakan kedatangan Kristus kedua kali. Kesalahannya adalah sebagai akibat dari penerimaannya pada pandangan populer atau pandangan umum ,mengenai tempat kudus itu.
Dalam upacara kaabah, yang menjadi bayangan pengorbanan dan keimamatan Kristus, pemulihan tempat kudus adalah upacara terakhir yang dilaksanakan oleh imam besar dalam pelayanan tahunan. Itu adalah pekerjaan penutup penyucian atau hari grafirat — yaitu pembersihan atau penghapusan dosa dari Israel. Hal itu menggambarkan atau melambangkan pekerjaan penutup dalam pelayanan Imam Besar kita di Surga, dalam pembersihan atau penghapusan dosa-dosa umat-Nya, yang dicatat dalam buku catatan Surga. Upacara ini meliputi pekerjaan pemeriksaan, pekerjaan pengadilan, dan segera disusul oleh kedatangan Kristus di atas awan dengan kuasa dan kemuliaan besar, karena kalau Ia datang setiap kasus telah diputuskan. Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” (Wah. 22:12). Pekerjaan penghakiman inilah yang mendahului kedatangan kedua kali, yaitu yang diumumkan dalam pekabaran malaikat yang pertama dari Wahyu 14:7, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya.”
Mereka yang mengumumkan amaran ini memberikan pekabaran yang tepat pada waktu yang tepat. Tetapi sebagaimana murid-murid yang dahulu menyatakan, “Waktunya sudah genap, dan kerajaan ALLah sudah dekat,” yang didasarkan atas nubuatan Daniel 9, sebagaimana mereka gagal mengerti bahwa kematian Mesias telah diramalkan dalam buku yang sama, demikianlah Miller dan rekan-rekannya memberitakan pekabaran yang didasarkan atas Daniel 8:14 dan Wahyu 14:7, dan gagal melihat masih ada pekabaran lain yang dinyatakan di dalam Wahyu 14, yang juga harus diberikan sebelum kedatangan Tuhan. Sebagaimana murid-murid salah dalam hal kerajaan yang akan didirikan pada akhir masa tujuh puluh kali tujuh masa, demikianlah orang-orang Advent salah dalam hal peristiwa yang akan terjadi pada akhir 2300 hari. Dalam kedua kasus ini ada penerimaan atau keterikatan kepada kesalahan umum atau populer yang membutakan pikiran kepada kebenaran. Kedua golongan ini memenuhi kehendak Allah dalam menyampaikan pekabaran yang Ia ingin agar diberikan, dan keduanya melalui kekurangmengertinya akan pekabaran itu telah menderita kekecewaan.
Namun Allah mencapai maksud kemurahan hati-Nya dalam mengizinkan amaran Penghakiman diberikan sebagaimana adanya. Hari yang besar itu sudah dekat, dan dalam pimpinan-Nya orang-orang dibawa kepada ujian waktu yang tentu untuk menyatakan kepada mereka apa yang ada dalam hati mereka. Pekabaran itu dibuat untuk menguji dan memurnikan jemaat itu. Mereka dituntun untuk melihat apakah kasih sayang mereka ditujukan kepada dunia ini atau kepada Kristus dan Surga. Mereka mengaku mengasihi Juru Selamat. Sekarang mereka harus membuktikan kasih mereka. Apakah mereka sudah bersedia meninggalkan harapan-harapan dan ambisi-ambisi duniawi, dan menyambut sukacita kedatangan Tuhan mereka? Pekabaran itu dirancang untuk menyanggupkan mereka untuk menilai keadaan kerohanian mereka yang sebenarnya. Pekabaran itu diberikan untuk membangunkan mereka untuk mencari Tuhan dengan pertobatan dan merendahkan diri.
Kekecewaan itu juga, walaupun itu sebagai akibat dari kekurangmengertian mereka akan pekabaran yang mereka kabarkan, harus dibuang untuk kebaikan. Kekecewaan itu menguji hati mereka yang mengaku menerima amaran itu. Dalam kekecewaan mereka, apakah mereka dengan buru-buru membuang pengalaman mereka dan menghilangkan keyakinan mereka kepada firman Allah? Atau apakah mereka, di dalam doa dan kerendahan hati, mau melihat dimana mereka gagal mengerti makna dari nubuatan itu? Berapa banyak yang telah dipindahkan dari rasa takut atau emosi dan kegembiraan? Berapa banyak yang setengah-setengah hati atau bimbang dan tidak percaya? Banyak orang mengaku rindu kepada kedatangan Tuhan. Pada waktu mereka diminta menanggung ejekan dan celaan dunia, dan ujian keterlambatan kedatangan Tuhan dan kekecewaan, apakah mereka akan meninggalkan iman mereka? Oleh karena mereka tidak dengan segera mengerti perlakuan Allah kepada mereka, apakah mereka akan mengesampingkan kebenaran yang didukung oleh kesaksian firman-Nya yang paling jelas?
Ujian ini akan menyatakan kekuatan mereka yang dengan iman yang sungguh-sungguh telah menuruti apa yang mereka percayai adalah pengajaran firman dan Roh Allah. Ujian itu akan mengajarkan kepada mereka bahayanya menerima teori-teori dan penafsiran manusia, gantinya membuat Alkitab itu sebagai penafsirnya sendiri. Bagi orang beriman, kebingungan dan kesusahan yang diakibatkan oleh kesalahan akan melakukan perbaikan yang diperlukan. Mereka akan dituntun kepada pelajaran yang lebih mendalam dan teliti mengenai kata-kata nubuatan. Mereka akan diajar untuk memeriksa lebih cermat dasar kepercayaan mereka, dan menolak segala sesuatu yang tidak terdapat di dalam Alkitab kebenaran, betapapun meluasnya diterima oleh dunia Kristen.
Kepada orang-orang percaya ini, sebagaimana dengan murid-murid yang pertama itu, yang pada saat pencobaan kelihatannya gelap dalam pengertiannya, akan dibuat jelas sesudah itu. Bilamana mereka harus melihat “akhir Tuhan,” mereka akan mengetahui bahwa walaupun pencobaan itu diakibatkan oleh kesalahan mereka, maksud kasih-Nya kepada mereka sedang digenapi dengan pasti. Mereka akan belajar dari pengalaman yang berbahagia bahwa Ia “sangat berbelas kasihan, dan dengan kemurahan yang lembut;” dan bahwa semua jalan-jalan-Nya “adalah kemurahan dan kebenaran bagi orang-orang yang berpegang kepada perjanjian-Nya dan kesaksian-kesaksian-Nya.”

Leave a Reply