“TERPELIHARA DI DALAM TUHAN”

March 9, 2013 - Loddy Lintong

by Loddy Lintong on Thursday, 21 February 2013 at 19:30 ·

Sabat Petang, 16 Februari
PENDAHULUAN

Kebergantungan kepada Tuhan. Cornelia ten Boom (1892-1983) adalah seorang Kristen yang saleh dan telah berjasa menolong banyak orang Yahudi di Negeri Belanda meloloskan diri dari perburuan oleh pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Pengalamannya dalam missi yang sangat berbahaya itu dituangkannya ke dalam sebuah buku berjudul The Hiding Place (Tempat Persembunyian) yang tersohor itu. Adalah Cornelia, biasa disapa Corrie, yang pernah berkata, “Jangan sekali-kali merasa takut untuk mempercayakan masa depan yang tidak diketahui kepada Allah yang kita ketahui.”

Hidup di atas dunia yang terkutuk oleh dosa ini penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran; salah satu kekhawatiran terbesar bagi manusia ialah perihal masa depannya. Berbagai aspek kehidupan masa depan yang dikhawatirkan itu termasuk: pendidikan, pekerjaan, jodoh, perkawinan, kesehatan, keuangan, keamanan, dan sebagainya. Masalahnya, tidak ada satu hal di dunia ini yang pasti. Bahkan, kita sering mendengar orang berkata tentang kepastian: “Yang pasti adalah ketidakpastian!”

Dalam keadaan seperti ini, ketika hal yang dapat dipastikan tentang hari esok adalah ketidakpastian, sikap yang paling bijak dan dapat dipertanggungjawabkan ialah berserah dan berharap pada Allah. Kebergantungan kepada Tuhan tidak akan mengecewakan kita oleh sebab Allah itu maha kuasa dan maha pengasih. Seperti perkataan rasul Paulus yang menjadi ayat inti pelajaran pekan ini, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19).

“Di alam semesta ini tidak ada yang muncul secara mandiri tanpa Tuhan. Dia menciptakan segala sesuatu yang telah tercipta. ‘Segala sesuatu dijadikan oleh dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.’ (1Yoh. 1:3). Tidak hanya itu, tetapi Dialah yang memelihara semuanya. Bahkan lebih mencengangkan lagi, Dia yang menciptakan dan memelihara semua itu adalah Dia yang telah disalibkan karena kita” [alinea kedua].

Kalau Allah sudah merelakan Anak-Nya yang Tunggal mati di kayu salib untuk menebus manusia yang telah berdosa, dan kalau Kristus sendiri sudah bersedia mengorbankan Diri-Nya demi keselamatan manusia, adakah hal lain yang tidak akan diberikan-Nya kepada kita? Sekarang, terserah kepada kita masing-masing, apakah mau berharap dan bergantung kepada-Nya atau tidak.

Minggu, 17 Februari
KRISTUS, PENOPANG HIDUP KITA (Sang Pemelihara)

Allah dan alam. Hubungan Allah dengan alam semesta adalah sebagai Pencipta dan ciptaan, dengan demikian keduanya merupakan dua entitas yang berbeda. Alam adalah karya ciptaan Allah, seperti halnya sebuah lukisan adalah karya ciptaan dari seorang pelukis. Sebagaimana dalam setiap lukisan melekat ciri-ciri sifat dari sang pelukis, begitu pula ciri-ciri sifat Sang Pencipta tercermin dalam alam ciptaan-Nya. Misalnya, ciri-ciri keagungan, estetika, keharmonisan, kesempurnaan, dan sebagainya. Kita dapat mengapresiasi keindahan sebuah karya seni sebagai ungkapan kekaguman terhadap sang seniman, namun kita tentu mengerti bahwa karya seni itu tidak setara nilainya dengan seniman itu sendiri. Lukisan itu ada oleh karena sebelumnya sudah ada pelukisnya. Kita pun bisa mengagumi alam sebagai ciptaan Allah, tetapi kekaguman terhadap alam itu tidak dapat menggantikan pemujaan kita terhadap Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta. Allah lebih berkuasa dari alam ini, oleh sebab sebelum ada alam semesta sudah ada Allah selaku Pencipta.

Meskipun saya menggunakan analogi tentang lukisan dan pelukisnya untuk sekadar menggambarkan hubungan antara Sang Pencipta dengan alam ciptaan-Nya, tentu saja ada perbedaan hakiki antara keduanya. Seorang pelukis profesional membuat lukisan untuk kemudian dipamerkan dan dijual, atau dengan kata lain lukisan-lukisan itu adalah produk yang mengandung nilai ekonomis bagi si pelukis oleh sebab dia mencari nafkah dengan cara itu. Dalam hal ini hubungan antara si pelukis dengan lukisan-lukisannya berhenti dan terputus sama sekali manakala lukisan-lukisan itu telah dibeli dan menjadi milik para kolektor. Ada pula pelukis yang melukis karena hobi lalu karya-karyanya itu disimpan untuk dikagumi sendiri, atau dipertunjukkan kepada orang-orang lain oleh mana si pelukis merasakan kepuasan batin setiap kali sebuah pujian terlontar dari orang-orang yang menyukai lukisannya. Dalam hal ini si pelukis biasanya akan terus berkarya supaya kepuasan batinnya selalu “diperbarui” melalui lukisan-lukisannya yang baru.

Allah menciptakan alam semesta–termasuk Bumi dan segala isinya–bukan untuk diperdagangkan atau dipamerkan demi pujian supaya hati-Nya senang. Allah mencipta atas dasar kasih, khususnya terhadap manusia kepada siapa Dia ingin mencurahkan rasa kasih-Nya. Itu sebabnya, sebagai Pencipta, Allah mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Melalui Yesus Kristus, Allah sudah menciptakan segala sesuatu di alam ini dan terus mempertahankan hubungan pemeliharaan-Nya itu. Seperti kata rasa Paulus, “Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah terlebih dahulu ada. Dan karena Dialah juga maka segala sesuatu berada pada tempatnya masing-masing” (Kol. 1:16, 17, BIMK).

“Implikasinya di sini ialah bahwa Yesus terus memelihara keberadaan alam semesta oleh kuasa-Nya. Alam semesta tidak berdiri sendiri; keberadaannya bergantung pada pengamalan kehendak ilahi secara terus-menerus…Juga, Allah tidak berada di dalam ciptaan dan senantiasa menciptakannya, seperti dalam teori-teori palsu panteisme (Allah dan alam adalah hal yang sama), atau panenteisme (Allah mendiami alam semesta seolah-olah itu adalah tubuh-Nya sendiri). Allah sama sekali tidak bergantung pada alam semesta. Dia terpisah dari alam semesta” [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea kedua: tiga kalimat pertama].

Hubungan dengan Yesus. Suatu kali telah terjadi pertentangan pendapat yang cukup hangat di jemaat Korintus, yaitu antara orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Orang-orang Kristen non-Yahudi (yaitu orang-orang kafir yang mempunyai akar budaya penyembahan dewa-dewa) melihat bahwa orang-orang Kristen dari kaum Yahudi (yang secara tradisional tidak percaya adanya dewa atau ilah) telah memakan daging yang dipersembahkan kepada dewa-dewa, khususnya dewa Zeus, sebuah tradisi kepercayaan yang lazim di kalangan bangsa-bangsa kafir. Berdasarkan latar belakang kekafiran ini orang Kristen non-Yahudi di Korintus menganggap bahwa daging dan makanan yang sudah dipersembahkan kepada dewa-dewa itu sudah tercemar dan dianggap haram, sedangkan bagi logika orang Kristen Yahudi yang menganggap bahwa dewa-dewa adalah omong kosong maka daging itu tetap bersih dan layak dimakan. Rasul Paulus menengahi perselisihan tersebut dengan terlebih dulu mengkritik “kesombongan sikap” kaum Yahudi (1Kor. 8:1, 2), kemudian menjelaskan tentang keesaaan Allah dan Tuhan (ay. 4, 5).

Dalam konteks inilah rasul Paulus menegaskan, “Tetapi bagi kita, Allah hanya satu. Ia Bapa yang menciptakan segala sesuatu. Untuk Dialah kita hidup. Dan Tuhan hanya satu juga, yaitu Yesus Kristus. Melalui Dia segala sesuatu diciptakan, dan karena Dialah maka kita hidup” (ay. 6, BIMK; huruf miring ditambahkan). Dalam ayat ini Paulus tidak bermaksud untuk membedakan kedudukan antara Bapa, yang disebutnya sebagai Allah (θεός, theos), dengan Yesus Kristus, yang disebutnya sebagai Tuhan (κύριος, kurios). Sang rasul sedang membedakan antara dua Oknum ilahi itu sebagai dua pribadi yang berlainan.

Pada kesempatan lain, ketika berorasi di “Bukit Mars” kota Atena, rasul Paulus mengutip dan membenarkan pandangan filsuf-filsuf kota itu sekaligus menegaskan tentang kebergantungan manusia pada Allah. Katanya, “Seperti yang dikatakan orang, ‘Kita hidup dan bergerak dan berada di dunia ini karena kekuasaan Dia.’ Sama juga dengan yang dikatakan oleh beberapa penyairmu. Mereka berkata, ‘Kita semua adalah anak-anak-Nya'” (Kis. 17:28, BIMK). Kalimat-kalimat itu dikutip dari ucapan Epimenides dari pulau Kreta (600 SM) dan Aratus (310-240 SM), dua filsuf-penyair yang dihormati warga Atena, karena kedua pernyataan tersebut mencerminkan pengajaran iman Kristiani yang digunakannya sebagai pendekatan psikologis untuk membangun keyakinan para pendengarnya.

“Kita bergantung pada kuasa pemeliharaan Allah, saat demi saat, hari demi hari. Karena kasih-Nyalah kita terus ada dan sanggup berbuat dan juga menjalin hubungan-hubungan. Dalam suatu cara yang istimewa hal ini khususnya benar bagi mereka yang telah menyerahkan diri kepada Allah dan yang, seperti Paulus jelaskan, ‘ada di dalam Kristus’ (2Kor. 5:17, Ef. 2:10; Perhatikan hal-hal yang merujuk kepada penciptaan dalam ayat-ayat ini). Hal itu juga benar bahwa mereka yang menolak keselamatan sekalipun, eksistensi mereka tetap bergantung pada kuasa pemeliharaan Allah” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kuasa pemeliharaan Allah melalui Kristus?
1. Allah selaku Pencipta alam semesta harus dibedakan dengan alam yang diciptakan-Nya itu. Sebagai Pencipta, ada ciri-ciri sifat Allah di alam ciptaan-Nya, tetapi penyembahan kita kepada Allah tidak dapat digantikan dengan pemujaan terhadap alam ciptaan-Nya.
2. Sebagai Pencipta alam semesta, termasuk bumi dan manusia serta makhluk-makhluk yang mendiami bumi ini, Allah tidak pernah sesaatpun menghentikan hubungan pemeliharaan-Nya. Bahkan, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa hubungan pemeliharaan itu semakin erat dan ditingkatkan, melalui penebusan oleh Yesus Kristus.
3. Kebergantungan manusia pada kuasa pemeliharaan Allah disebabkan oleh dua hal utama: kasih Allah yang tidak berkeputusan dan kebutuhan manusia yang terus-menerus. Perasaan seolah-olah kita tidak membutuhkan pemeliharaan Allah itu bukanlah fakta, tetapi asumsi–sebuah pandangan yang menyesatkan!

Senin, 18 Februari
PEMELIHARAAN YANG BERKELANJUTAN (Pemberi yang Murah Hati)

Kebutuhan pokok dan selera makan. Untuk mempertahankan kehidupannya setiap makhluk hidup membutuhkan makanan, dan untuk itu ada mekanisme dalam sistem tubuh kita untuk berusaha mengisi perut. Tapi keinginan untuk makan tidak hanya terdorong oleh rasa lapar sebagai bahasa tubuh, tapi Allah juga menanamkan selera makan yang menggerakkan kita berikhtiar menemukan makanan yang akan memuaskan rasa lapar dan sekaligus lezat. Hal ini berlaku bagi manusia maupun hewan. Itulah sebabnya waktu makan selalu terasa menyenangkan dan merupakan salah satu aktivitas pribadi yang tak ingin diganggu, dan orang yang sedang lapar biasanya amat sensitif. Secara naluri, hewan pada umumnya juga menjadi sangat defensif dan pemarah bila merasa terusik saat makan.

Allah dalam hikmat-Nya telah menyediakan suplai makanan yang berlimpah dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing makhluk ciptaan, dan sejak permulaan manusia dikodratkan sebagai makhluk vegetaris (nabatiwan), begitu juga hewan (herbivora). Bagi manusia tersedia buah-buahan dan biji-bijian (Kej. 1:29), bagi satwa disediakan tumbuhan hijau seperti rumput dan dedaunan (ay. 30). Jadi, meskipun sama-sama vegetaris tapi segmen makanan untuk manusia berbeda dari hewan. Pola makan vegetaris itu terus terpelihara hingga setelah kejatuhan dalam dosa. Pola makan manusia berubah pasca prahara air bah pada zaman Nuh tatkala Tuhan menambahkan daging “dari segala yang bergerak, yang hidup” ke dalam menu makanan (Kej. 9:3), kecuali darah binatang (ay. 4).

“Tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan biji-bijian adalah makanan yang dipilih untuk manusia dan hewan. Tidak pernah disebutkan soal memangsa atau bersaing memperebutkan sumber makanan. Sang Pemelihara yang murah hati itu membuat banyak makanan bagi setiap orang untuk menikmatinya tanpa perlu kekerasan” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Perubahan pola makan. Tentu dapat dibayangkan pertama kalinya Nuh dan keluarganya yang seumur hidup mereka hanya makan buah-buahan dan biji-bijian (tanpa perlu mengolah atau memasaknya), tiba-tiba harus menyembelih hewan yang masih hidup sebagai makanan yang pastinya harus dimasak dulu. Ini adalah semacam “culture shock” (kejutan budaya) bagi istri Nuh dan ketujuh orang lainnya dalam keluarga itu. Tetapi Allah dalam hikmat-Nya tentu sudah menanamkan selera makan yang baru dalam diri manusia sebelum mengizinkan mereka makan daging, oleh sebab ketiadaan bahan makanan nabati setelah bumi hancur-lebur, supaya mereka tidak mual saat pertama kali menyantap daging binatang. Belakangan, seperti yang kita saksikan, selera makan yang baru itu bahkan sudah semakin dominan sehingga mengalahkan selera asli yang membuat manusia dan hewan jadi saling memangsa.

Pada kesempatan ini saya ingin beranjak sedikit lebih jauh perihal makanan halal dan haram. Satu hal yang menarik bahwa sebelum Allah mengizinkan manusia–dimulai dari generasi Nuh dan seterusnya–untuk makan daging binatang, Tuhan lebih dulu telah menentukan mana binatang-binatang yang dagingnya halal serta boleh dimakan dan mana binatang-binatang yang dagingnya haram dan tidak boleh dimakan. Beberapa saat sebelum Nuh dan keluarganya diperintahkan masuk ke dalam bahtera, Allah menyuruhnya untuk lebih dulu mengembarkasi berbagai binatang yang dagingnya halal masing-masing sebanyak tujuh pasang, sedangkan binatang-binatang yang dagingnya haram hanya satu pasang (Kej. 7:2, 3). Jadi, soal halal dan haram yang menyangkut daging binatang bukan perintah khusus untuk orang Yahudi saja yang baru eksis sekitar 400 tahun kemudian, tetapi hal itu sudah ditetapkan Allah sejak 10 generasi sebelum Abraham sebagai leluhur pertama bangsa Yahudi! (Baca silsilah dalam Kej. 11:10-32).

Makanan Taman Eden. Alkitab mencatat, “Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” (Kej. 2:8-9). Eden adalah rumah-taman bagi Adam dan Hawa sejak mereka diciptakan, dan di dalam lingkungan tempat tinggal pasangan manusia pertama itu penuh dengan berbagai pohon buah-buahan sebagai persediaan makanan bagi nenek moyang umat manusia itu. Tetapi tentu saja bukan hanya di Taman Eden yang dipenuhi dengan sumber bahan makanan, melainkan juga di seluruh daratan bumi di luar taman itu.

“Dia bukan hanya menyediakan makanan berlimpah di seluruh bumi, tetapi Dia telah menyiapkan sebuah Taman khusus untuk Adam dan Hawa dengan pohon-pohon yang menyenangkan mata dan baik untuk dimakan (lihat Kej. 2:9). Taman itu, dengan keindahannya dan keanekaragaman makanannya, merupakan persediaan dari kasih dan rahmat Allah yang berkelimpahan. Itu adalah pemberian kasih karunia oleh karena Adam dan Hawa tidak melakukan apa pun untuk memperolehnya, tapi itu diberikan dengan cuma-cuma dan disediakan dengan limpah” [alinea ketiga: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Allah sebagai pemberi yang murah hati?
1. Allah bukan saja menciptakan manusia tetapi juga menyediakan tempat tinggal bagi mereka, dan di dalam lingkungan tempat tinggal itu telah disiapkan makanan yang berlimpah. Buah-buahan adalah bahan makanan nabati yang dirancang bagi manusia sebagai makanan asli.
2. “Berkelimpahan” adalah ciri khas persediaan Allah untuk kebutuhan manusia, baik dalam hal makanan maupun kasih karunia. Sebagaimana bunyi ayat inti pelajaran pekan ini, bahwa dalam memenuhi segala keperluan manusia selalu Allah menyediakannya dengan limpah “menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.”
3. Bahan makanan hewani, yang terdiri dari daging binatang halal, adalah bentuk persediaan Allah bagi manusia sebagai suplemen dalam keadaan darurat ketika suplai makanan nabati tidak tersedia dengan cukup. Ketentuan tentang makanan halal dan haram ditetapkan untuk semua manusia, bukan aturan khusus bagi orang Yahudi.

Selasa, 19 Februari
MEMAHAMI PENDERITAAN (Alam Jahat)

Di manakah Allah? Selama dua pekan pertama bulan Februari ini perhatian masyarakat California Selatan tersita oleh berita serangkaian penyerangan terhadap polisi yang dilancarkan oleh Christopher Dorner, mantan anggota polisi Los Angeles (LAPD) dan bekas marinir. Dorner telah menghebohkan seluruh Amerika, mungkin juga dunia, karena lewat “manifesto” pada akun pribadinya di Facebook mengungkapkan bahwa serangan itu sebagai balas dendam setelah dipecat dari LAPD pada 2009. Selama aksinya dia telah membunuh dua warga sipil (anak perempuan pensiunan perwira polisi bersama pacarnya), menewaskan dua petugas polisi dan mencederai dua lainnya. Belakangan pelaku ditemukan bunuh diri dan tubuhnya hangus terbakar bersama bungalow tempatnya bersembunyi di daerah wisata Big Bear yang bersalju tebal, menyusul tembak-menembak dengan ratusan polisi yang mengepungnya. Senin pekan lalu telah berlangsung upacara pemakaman untuk korbannya yang pertama dari kalangan polisi, yaitu Michael Crain, 34, anggota kepolisian Riverside. Upacara yang dihadiri oleh seluruh korps kepolisian setempat serta masyarakat dan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV lokal, diawali dengan “celebration of life” untuk mengenang almarhum. Ada dua pembicaraan yang bagi saya sangat berkesan: pertama, kesaksian salah seorang sobat lamanya; kedua, eulogy oleh pendeta dari Community Church Riverside di mana acara diadakan.

Sobat almarhum itu berkisah tentang kebiasaan mereka makan siang bersama di kantin sekolah setiap hari sejak SMP hingga SMA. Donat coklat adalah bagian yang tak pernah absen dari menu makan siang Michael. Suatu hari si sobat membawa seorang gadis yang diperkenalkannya sebagai pacar, yang meski tidak begitu disukai oleh Michael namun diterima bergabung untuk makan siang bersama setiap hari. Karena selalu mentraktir gadis itu terpaksa sang sobat harus berbagi jatah uang makannya yang waktu itu sebesar $3. Melihat itu Michael lalu menawarkan $1,5 yang disebutnya sebagai uang ekstra supaya temannya bisa makan dengan cukup, dan “uang ekstra” tersebut selalu ada setiap kali mereka makan siang. Sementara itu donat coklat kesayangan Michael menghilang dari menu makan siangnya, dan saat ditanya dia hanya berkilah mau mencoba pola makan sehat tanpa donat. Hal ini berlangsung selama lebih dari satu tahun, setiap hari, sampai sobatnya itu putus dari pacarnya. Bersamaan dengan perginya gadis itu, sehingga si sobat tidak lagi memerlukan sumbangan $1,5 untuk makan siang, donat coklat mulai muncul lagi di piring Michael. Rupanya, selama setahun lebih Michael telah berkorban tidak menikmati makanan kesukaannya itu agar sahabatnya bisa makan siang dengan kenyang. Kesaksian yang dituturkan dengan suara tersendat-sendat ini membuat hadirin terharu.

Pendeta yang menyampaikan eulogy (khotbah penghiburan yang bersifat memuji almarhum) memulai dengan menyingkapkan tentang sebuah pertanyaan yang sering diajukan kepadanya sebagai pendeta, dan yang tidak dapat dijawabnya dengan sempurna. Pertanyaan itu adalah: Di manakah Allah ketika suatu bencana dan kejahatan menimpa salah seorang anak Tuhan yang baik dan saleh? Terhadap pertanyaan yang sulit ini pendeta tersebut mengaku hanya dapat mengatakan seperti ini: Allah itu selalu ada, Dia tidak ke mana-mana ataupun tertidur saat malapetaka dan peristiwa kejahatan terjadi, tetapi dalam hikmat-Nya yang tak terselami oleh manusia terkadang Dia membiarkan kejadian itu menimpa salah satu dari anak-anak-Nya yang dikasihi. Sebagai manusia, termasuk umat percaya, kita memiliki hak kebebasan memilih dengan mana kita dapat merespon sesuatu bencana yang melanda hidup kita. Lalu dia menandaskan: “Anda dapat menghadapi bencana itu dengan terus percaya bahwa Allah tetap memegang kendali dan kuasa pemeliharaan-Nya tidak pernah meninggalkan kita, atau anda bisa berhenti percaya kepada-Nya dan meninggalkan Dia!”

Pengalaman Ayub. Mengeluh adalah bagian dari kehidupan manusia, tidak terkecuali umat Tuhan maupun para hamba-Nya. Musa, Elia, Daud, Yeremia, Ayub–sekadar menyebutkan nama–semuanya adalah nabi-nabi yang pernah mengeluh. Persoalannya, seberapa jauh dan luasnya pengeluhan itu mempengaruhi iman kita. Ayub mengeluh bukan saja oleh penderitaan fisik dan mental, karena penyakit yang menyiksa tubuhnya dan kematian anak-anaknya, tetapi juga penderitaan batin yang diakibatkan oleh celoteh istrinya serta tudingan tak berdasar dari sahabat-sahabatnya.

Penderitaan Ayub, sebagaimana kita tahu latar belakangnya, merupakan bagian dari skenario “pertentangan besar” (great controversy) antara kebaikan dan kejahatan. Begitu pula dengan berbagai bencana yang menimpa umat manusia, itu pun tidak terlepas dari pertentangan besar tersebut. “Siapa pun yang pernah membaca kitab Ayub mungkin akan mendapatkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kitab ini mengungkapkan kebenaran-kebenaran penting perihal pertentangan besar (baca juga Why. 12:12), yang membantu untuk membentuk suatu latar belakang yang penting bagi kita bahkan untuk mulai mengerti eksistensi kejahatan. Akan tetapi, skenario pertentangan besar itu tidak menjelaskan setiap contoh kejahatan” [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

Teodisi. Setiap kali terjadi kemalangan, apalagi jika kemalangan itu menimpa orang yang percaya kepada Tuhan, kita selalu mengajukan pertanyaan yang bersifat menggugat: Mengapa? Namun, adalah suatu kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa selama kita masih hidup di dunia–tempat berlangsungnya pertentangan besar antara Kristus dan Setan, setidaknya untuk sementara ini–tidak bisa tidak anda dan saya selalu menghadapi risiko menjadi korban kebengisan iblis. Terjadinya malapetaka tidak berarti bahwa janji perlindungan Tuhan itu sudah ditarik, dan merajalelanya kejahatan bukan pertanda bahwa kemahakuasaan Allah tidak lagi efektif. Karakteristik Allah sebagai yang maha kuasa (omnipotent), maha mengetahui (omniscient), maha pemurah (omnibenevolent) dan ada di mana-mana (omnipresent) adalah tetap dan tidak pernah berubah. Tetapi terlepas dari sifat-sifat Allah tersebut, timbulnya penderitaan dan bekerjanya kekuatan alam jahat (natural evil) di dunia ini adalah sebuah keniscyaan–sebab terkadang Allah mengizinkan itu terjadi.

Pemahaman tentang hal ini disebut teodisi (Inggris: theodicy), sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jerman bernama Gottfried Leibniz (1646-1716) melalui bukunya berjudul Théodicée yang terbit tahun 1710. Kamus Merriam-Webster mengartikan theodicy adalah “membela kebaikan dan kemahakuasaan Allah di tengah adanya kejahatan.” Tetapi definisi yang lebih menarik diberikan oleh Jeffry Zurheide dalam bukunya When Faith is Tested (Ketika Iman Diuji), Minneapolis: Fortress Press, 1997; yakni teodisi adalah “sebuah konsep yang dirancang untuk membenarkan secara rasional cara-cara Allah di hadapan kejahatan dan penderitaan.” Secara umum, maksud dari gagasan teodisi ialah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana mungkin Allah yang suci dan mengasihi itu, yang mengendalikan segala hal, membiarkan kejahatan terjadi?” (Dari berbagai sumber.)

“Ayub tidak mengerti, dan demikian juga kita bilamana kita menghadapi kerugian karena bencana semacam itu. Meskipun Allah berbicara kepada Ayub, Dia tidak memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Ayub, juga Dia tidak menjelaskan penyebab dari apa yang terjadi. Dia hanya mengingatkan Ayub bahwa ada hal-hal di luar pengetahuannya, dan bahwa dia harus mempercayai Allah, yang dituruti oleh Ayub. Pengalaman kita seringkali mirip; kita mungkin tidak menerima suatu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Tetapi kisah Ayub memberi kita wawasan penting mengenai sifat kejahatan, dan itu menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukannya tidak menyadari akan pergumulan-pergumulan yang kita hadapi” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kekuatan alam jahat dan kuasa pengendalian Allah?
1. Bumi ini adalah medan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, ajang pertentangan besar antara Kristus dan Setan. Dalam keadaan dunia dipenuhi kekuatan alam jahat sesuatu malapetaka dapat saja menimpa umat Tuhan, bukan karena kuasa pemeliharaan Allah tidak efektif lagi tapi karena Allah mengizinkan itu terjadi–seperti pada riwayat Ayub.
2. Pelajaran dari kisah Ayub adalah: (a) orang benar bisa saja menderita, atas perkenan Tuhan; (b) Allah tahu kemampuan setiap orang, dan cobaan yang diizinkan-Nya tidak melebihi daya tahan orang itu; (c) hikmat Allah dan jalan-jalan-Nya tidak terselami oleh manusia; (d) Allah tetap berkuasa dan memegang kendali.
3. Daud menggubah Mazmur 23 yang amat populer itu, tapi dia juga menulis Mazmur 13. Daud bersaksi, “TUHAN, Engkau tak ada bandingnya! Engkau melepaskan yang lemah dari yang kuat, yang miskin dan sengsara dari penindasnya” (Mzm. 35:10, BIMK), tapi dia juga berseru, “Sampai kapan, ya TUHAN, sampai kapan Engkau hanya memandang saja?” (ay. 17).

Rabu, 20 Februari
ALLAH TETAP MEMEGANG KENDALI (Memerintah Ciptaan yang Sudah Rusak)

Cara Allah bekerja. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan tentang fenomena-fenomena alam, tetapi tidak dapat membuka pengertian kita untuk memahami cara kerja Allah. Murka Allah berada atas orang-orang yang berbuat kejahatan, tetapi kasih pemeliharaan-Nya tetap berlaku atas orang-orang jahat itu. Dia memberikan sinar matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang, yang berbuat baik maupun berbuat jahat. Allah memberkati orang-orang yang taat pada hukum-hukum-Nya, tetapi Dia juga mengasihi mereka yang melanggar perintah-perintah-Nya. Allah kita adalah seperti itu, dan tak seorang manusia pun berhak menggugat cara bekerja-Nya itu.

“Di balik layar, Allah secara aktif menyediakan kebutuhan-kebutuhan dari ciptaan-Nya. Mungkin kita tidak memahami jalan-jalan-Nya, tapi kita tahu Dia memegang kendali…Pada saat yang sama kita mungkin tidak menyadari bahwa Allah berada di balik layar, mengatur peristiwa-peristiwa menurut kehendak-Nya dan bermaksud bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan bekerja bersama-sama untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28)” [alinea pertama: kalimat ketiga dan keempat, serta kalimat terakhir].

Sesungguhnya Allah tidak berniat untuk sengaja membingungkan manusia dengan cara Dia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya terhadap bumi dan manusia yang menghuninya, tetapi kapasitas berpikir manusia yang terbatas itulah yang menghalangi kita untuk dapat mengerti jalan-jalan-Nya. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8, 9).

Fenomena alam dan mujizat. Pada penciptaan, Allah telah menjadikan segala sesuatu di Bumi ini dengan sempurna dan “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Allah tidak saja menciptakan benda-benda yang menghuni alam ini, tapi juga melengkapinya dengan hukum alam yang merupakan cara Sang Pencipta untuk mengendalikan segala sesuatu di alam ini tetap harmonis. Fenomena alam adalah peristiwa alamiah biasa yang berlangsung dalam koridor hukum alam yang baku dan tertata secara sistematis.

Dosa telah menyebabkan bumi ini jadi terkutuk dengan segala implikasinya terhadap keharmonisan tatanan alam. Sekarang ini kita semakin sering menyaksikan berbagai kejanggalan di alam, termasuk anomali cuaca yang menyebabkan perubahan iklim dengan akibat-akibatnya yang ekstrem terhadap manusia. Bumi adalah ciptaan yang telah dirusak oleh dosa, sehingga tadinya merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi makhluk hidup ciptaan Allah kini berubah menjadi tempat yang seringkali mengerikan untuk dihuni. Namun Allah tetap memegang kendali dan kuasa pemeliharaan-Nya terus bekerja mengendalikan ciptaan yang rusak ini. Dan salah satu cara Allah untuk mengatasi kekacauan alam ini adalah melalui mujizat sebagai manifestasi dari kuasa supra-alami yang dimiliki-Nya. Seperti pernah saya utarakan, mujizat bukanlah pembatalan hukum alam melainkan berlakunya hukum lain yang lebih tinggi.

Alkitab mencatat berbagai fenomena alam yang “ajaib” ketika Allah memberlakukan hukum supra-alami yang lebih tinggi dari hukum alam. Antara lain adalah angin yang menyapu air dari seluruh permukaan bumi supaya bahtera Nuh tidak terus terapung dan bisa mendarat (Kej. 8:1), angin timur yang mendatangkan belalang untuk menutupi tanah Mesir sebagai hukuman Allah atas sikap Firaun yang keras kepala (Kel. 10:13), dan angin yang membawa burung-burung puyuh dari seberang laut untuk memenuhi keinginan bangsa Israel di gurun yang tiba-tiba rindu makan daging (Bil. 11:31).

Sebagaimana kita pelajari di sekolah, angin terjadi karena adanya perpindahan udara dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Itu fenomena alam yang normal. Tetapi dalam ketiga peristiwa yang tercatat dalam ayat-ayat di atas, bertiupnya angin bukan sebagai peristiwa alami melainkan kejadian supra-alami atau mujizat yang dalam hal ini adalah atas kehendak Allah. “Kita bisa menyebutnya ‘angin yang ditakdirkan’ (providential winds). Angin-angin tersebut terjadi pada waktu dan tempat-tempat tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Meskipun kelihatannya itu ‘alami’ namun ada Penyebab yang tak terlihat yang bekerja untuk tujuan dari kehendak-Nya sendiri, dengan menggunakan sifat-sifat dunia yang Dia ciptakan untuk mencapai tujuan-Nya sendiri” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Dalam peristiwa lainnya kuasa supra-alami Sang Pencipta juga berlaku, dalam hal ini untuk meyakinkan raja Hizkia yang ragu akan janji penyembuhannya. Melalui nabi Yesaya, Allah memenuhi tanda yang diinginkan Hizkia dengan membuat bayangan cahaya matahari mundur gantinya maju sepuluh langkah [=sepuluh derajat], sehingga pada hari itu waktunya jadi lebih panjang (2Raj. 20:9-11). “Apa yang mujizat ini dan yang lainnya hendak katakan kepada kita ialah bahwa ada banyak hal mengenai penciptaan dan tindakan-tindakan Allah dalam penciptaan-Nya yang jauh melampaui pengertian kita. Itulah sebabnya sangat penting agar kita datang kepada pengenalan pribadi akan Allah dan mengetahui sendiri kenyataan dari kasih-Nya. Dengan begitu kita belajar untuk mempercayai Dia tanpa peduli dengan semua yang kita tidak mengerti” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang cara Allah mengendalikan bumi sebagai ciptaan yang telah rusak?
1. Meski dunia ini sudah dirusak oleh dosa tapi Allah tetap mengasihi manusia yang hidup di dalamnya. Dia tidak pernah menghentikan sinar matahari dan hujan bagi orang-orang yang berbuat baik maupun yang berbuat jahat sekalipun.
2. Allah tetap bekerja mengendalikan alam ini dari “balik layar” supaya kehidupan di bumi ini tetap berlangsung. Pikiran manusia yang berdosa dan terbatas tidak dapat menyelami cara Allah bekerja (Rm. 11:33).
3. Untuk melaksanakan maksud-Nya, Allah dapat bekerja menurut hukum alam yang telah ditetapkan-Nya sejak penciptaan sebagai fenomena alam yang normal, namun sesekali pada waktu yang tepat Dia juga menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk mengadakan mujizat-mujizat.

Kamis, 21 Februari
ALLAH, PENCIPTA DAN PEMELIHARA (Pemberi Hidup Bagi Ciptaan yang Sudah Rusak)

Kebutuhan pokok manusia dipenuhi. Barangkali saya tergolong seorang penggemar alam yang sentimentil, terutama tatkala mengamati tingkah burung-burung kecil yang menghuni pohon-pohon cemara di belakang rumah. Dua kali sehari, saat fajar dan menjelang magrib, burung-burung itu menimbulkan keriuhan yang sedap didengar. Setelah selesai berdendang di pagi hari mereka akan turun ke tanah untuk sarapan sambil bermain. Negeri ini memang surga bagi burung-burung karena manusianya tidak segalak di tempat-tempat lain yang suka mengusik bahkan menyakiti makhluk lemah ini. Sambil memperhatikan burung-burung kecil itu makan terlintas dalam pikiran saya kata-kata Yesus dalam Matius 6:26. Burung-burung ini tidak menabur dan tidak menuai, tapi mereka tidak pernah kelaparan. Mungkin juga semua burung itu bisa makan dengan kenyang setiap hari oleh karena tidak ada di antara mereka yang terlalu serakah untuk menyimpan dan menumpuk makanan bagi diri sendiri!

Burung-burung kecil itu tidak berharga atau memiliki nilai ekonomis yang berarti, tetapi “sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah” (Luk. 12:6). Manusia tidak boleh khawatir, sebab kita lebih berharga dari burung-burung kecil itu (Mat. 10:31). Tidak selayaknya kita manusia merasa cemas akan kebutuhan-kebutuhan pokok kita, karena Bapa surgawi mengetahui bahwa kita memerlukan semua itu (Luk. 12:29, 30). Tetapi apa yang patut dicemaskan ialah jika keinginan akan kekayaan duniawi menggeser rasa kebutuhan kita akan firman Tuhan, sehingga “kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu” (Mrk. 4:19).

Setelah pangan (makanan), kebutuhan pokok manusia berikutnya adalah sandang (pakaian). Dalam kasus Adam dan Hawa, segera setelah berdosa karena memakan buah larangan, kebutuhan pokok mereka yang utama saat itu adalah pakaian. Bayangkan, perut kenyang dengan makanan berlimpah dan tinggal di tempat seindah Taman Eden, tetapi badan telanjang karena pakaian kemuliaan yang selama ini membungkus tubuh mereka sekonyong-konyong raib. Pakaian dari anyaman dedaunan buatan sendiri tidak dapat sepenuhnya menutupi rasa malu karena ketelanjangan mereka, tetapi Allah yang maha pemurah itu turun tangan langsung untuk membuatkan pakaian dari kulit binatang yang jauh lebih sempurna (Kej. 3:21).

“Dosa membawa suatu kebutuhan baru, kebutuhan akan pakaian. Adam dan Hawa berusaha menyediakan pakaian bagi diri mereka sendiri, tetapi daun ara tidak cukup memuaskan. Sesuatu yang lebih baik diperlukan, yang Allah sediakan berupa kulit…Intinya adalah bahwa Allah menyediakan kebutuhan mereka, meskipun mereka sudah jatuh ke dalam dosa. Ini adalah contoh lain dari kasih karunia Allah yang menyediakan bagi kita tanpa memandang ketidaklayakan kita” [alinea pertama: kalimat kedua hingga keempat, dan dua kalimat terakhir].

Jangan khawatir. Kalau ada kata-kata yang paling membesarkan hati dan sedap didengar ketika kita sedang dalam keadaan stres, panik, dan tertekan, maka perkataan itu adalah “Jangan khawatir.” Yesus mengucapkan kata-kata seperti itu ketika Dia berkhotbah kepada orang banyak yang berhimpun di kaki bukit, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Mat. 6:25; huruf miring ditambahkan).

“Ini adalah kata-kata yang sangat menghibur, dan kita perlu bergantung pada kata-kata itu dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran, terutama pada waktu penderitaan, kehilangan, dan kebutuhan yang besar. Yesus mati bagi kita, bukan untuk bunga-bunga bakung atau burung-burung. Kita bisa yakin akan kasih-Nya kepada kita, bagaimana pun keadaannya” [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

Ada perbedaan hakiki antara kata-kata menghibur yang diucapkan oleh manusia dengan kata-kata menguatkan yang Tuhan firmankan. Dalam perkataan Yesus yang bersifat menasihati itu termaktub juga janji dan tanggungjawab ilahi terhadap kelangsungan hidup manusia. Sementara kebutuhan pokok yang bersifat materi itu penting bagi kehidupan manusia di dunia ini, kebutuhan yang bersifat rohani harus ditempatkan lebih tinggi dan diprioritaskan. Sebagaimana Yesus menjawab Iblis ketika mencobai-Nya, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).

“Allah tidak menjajikan umat-Nya suatu kehidupan yang mewah tanpa kepedihan, tetapi Dia berjanji untuk menyediakan kebutuhan kita dan menguatkan kita sehingga kita bisa menanggulangi tantangan-tantangan kita. Kita tidak dapat melupakan begitu saja kenyataan dari pertentangan besar itu dan bahwa kita berada di dalam satu dunia yang telah jatuh” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Allah sebagai Pemelihara dan Pemberi hidup?
1. Dosa telah merusak ciptaan Allah, tetapi dalam keadaan begitu pun Allah tetap mempertahankan tanggungjawab-Nya sebagai Pemelihara dan Pemberi hidup. Bahkan terhadap makhluk-makhluk yang lemah dan tidak berharga seperti burung-burung kecil pun Dia adalah Pemelihara.
2. Manusia adalah makhluk ciptaan yang lebih penting dan paling berharga daripada semua ciptaan lainnya, dan juga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dari ciptaan lainnya. Allah menyediakan kebutuhan manusia ketika mereka masih suci maupun sesudah mereka jatuh ke dalam dosa.
3. Hidup di dunia berdosa, di tengah suasana pertentangan besar antara yang baik dan jahat, membuat kehidupan manusia rentan terhadap kesusahan dan penderitaan. Tetapi Tuhan berpesan agar “Jangan khawatir” sebab Dia adalah Pemelihara dan Pemberi hidup, terutama kehidupan di balik kematian.

Jumat, 22 Februari
PENUTUP

Kuasa Allah yang tak terbatas. Apa yang membuat janji pemeliharaan Allah dapat diandalkan serta pasti ialah karena kuasa-Nya dan hikmat-Nya yang tak terbatas. “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia” (1Kor. 1:25). Itulah sebabnya Allah menasihati kita agar jangan mengandalkan manusia, termasuk pada kemampuan diri sendiri, melainkan bergantung hanya kepada-Nya (Yer. 17:5, 7).

“Manusia menyangkal atau mengabaikan adanya Allah, mereka merasa dapat menerangkan segala sesuatu, sekalipun tentang cara bekerja Roh-Nya di dalam hati manusia; dan mereka tidak lagi menghormati nama-Nya atau gentar akan kuasa-Nya. Mereka tidak mempercayai hal-hal yang gaib, tidak mengerti hukum Allah atau kuasa-Nya yang tak terbatas untuk melaksanakan kehendak-Nya melalui hal-hal itu” [alinea pertama: kalimat ketiga dan keempat].

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu…Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (1Ptr. 5:7, 10).

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Rm. 11:33-34).

Leave a Reply